Kaskus

Story

kingmaestro1Avatar border
TS
kingmaestro1
Kacamata Si Anak Indigo (E. Praktek Lapangan)
Mungkin kita tak menyadari bahwa di sekeliling kita ada makhluk yang hidup berdampingan dengan kita. Dan kadang mungkin juga kita tak menyadari bahwa kita dan mereka hanya terpisah oleh batas yang tipis, setipis benang.
Bisakah kita berinteraksi dengan mereka? Bisakkah kita berteman dengan mereka?. Di thread ini ane akan menceritakan bagaimana seorang anak manusia berinterkasi dengan mereka.
Cerita ini berdasarkan pengalaman ane pribadi, di dalam penulisan thread ini tidak ada unsur paksaan untuk percaya atau tidak, thread ini ane tulis hanya untuk berbagi pengalaman semata.

INDEX
Prolog
Part 1
Part 2
Part 3
Part 4
Part 5
Part 6
Part 7
Part 8
Part 9
Part 10
Part 11
Part 12
Part 13
Part 14
Part 15
Part 16
Part 17
Part 18
Part 19
Part 20
Part 21
Part 22
Part 23
Part 24
Part 25
Part 26
Part 27
Part 28Part 29
30
Diubah oleh kingmaestro1 27-09-2021 10:31
hallohaAvatar border
sam.muellAvatar border
bebyzhaAvatar border
bebyzha dan 51 lainnya memberi reputasi
50
61.1K
630
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.9KThread53.5KAnggota
Tampilkan semua post
kingmaestro1Avatar border
TS
kingmaestro1
#286
Part 20
Pukul 02.00 dini hari usai shalat malam, gue mancarin aura gue ke segala penjuru rumah untuk memanggil makhluk yang menampakan diri di hadapan Andri dkk. Setengah jam gue mancarin aura tapi kaga ada satu makhluk pun yang datang ke gue. Gue coba pertajam pancaran aura itu dengan harapan bakal ada yang datang.
Usaha gue sia-sia kaga ada satu makhluk pun yang datang ke gue, kaga putus asa gue kembali nyoba memancarkan aura gue, dan lagi-lagi usaha gue gagal. Setelah ngelakuin percobaan sebanyak lima kali dan kesemuanya gagal, akhirnya gue nyerah untuk nyoba manggil makhluk yang menampakan wujudnya ke Andri dkk.
Rasa letih di badan menyerang gue dan termanifestasikan lewat mata yang minta untuk di pejamkan, gue lirik jam di dinding waktu menunjukkan pukul 03.45 dini hari. Masih ada beberapa waktu menjelang shubuh. Gue keluar dari kamar dan menuju kamar Clara untuk ngebangunin dia buat shalat malam.
**********
Pagi itu kami kaga ada yang ke kantor karena hari itu adalah hari minggu. Usai sarapan seperti biasa gue mulai dengan olahraga ringan, sekedar untuk ngejaga badan supaya tetap fit. Selesai olah tubuh gue duduk di teras sambil menunggu keringat kering. Clara datang ngebawain segelas jus tomat dan air mineral, setelah ngeletakin dua minuman itu di meja kecil yang ada di depan gue dia pun duduk di samping gue.
"Eh jangan deket-deket gue masih bau keringat" usir gue
"Trus masalahnya apa kak?"
"Ya cewek kan biasanya risih ama bau keringat"
"Yee itu kan cewek-cewek lain kalau Ara engga tuh"
"Apaan waktu kkn aja lu pernah ngusir Oky yang mau duduk di samping elu kan?"
"Ya lain lah kak itu kan Oky bukan kakak"
"Bedanya dimana? Sama-sama keringatan kan?"
"Ya kalo kakak kan special jadi mau keringat mau engga no problem buat Ara"
"Bisa aja lu"
"Kenapa kakak ga suka?"
"Iya gue kaga suka"
"Kenapa?"
"Ntar gue jadi kaga bisa jauh dari elu untuk satu detik aja"
"Iih kakak bisa aja" katanya sambil ngerebahin kepalanya di bahu gue.
*********
Setelah semuanya tidur, usai shalat malam gue kembali mencoba manggil makhluk yang pernah menampakan wujudnya di depan Andri dkk. Kembali gue pancarin aura dari gue, kali ini sedikit berbeda, aura yang gue pancarin adalah aura menantang. Lima belas menit gue mancarin aura, entah kenapa gue ngerasain sesuatu yang panas gue buka mata yang tadi terpejam. Aroma tajam menyerang hidung gue, bau ini seperti bau bangkai yang udah lama kependam.
Entah kenapa ada keinginan untuk ngeliat keluar rumah, gue pun melangkah menuju balkon dan setelah sampai gue ngeliat ke arah bawah dari atas balkon. Di halaman depan ada sekitar lebih dari satu makhluk halus, mereka berdiri di sepanjang pagar rumah bagian dalam. Gue amatin mereka satu persatu tapi kaga ada di antara mereka yang mirip seperti yang di ceritain Andri.
Heran juga gue kenapa mereka berkumpul di depan rumah
"Ngapain mereka di situ? Mau demo kali ya" batin gue.
Segera gue turun ke bawah dengan cara lompat dari balkon dan mendarat mulus di atas batu taman yang ada di dekat kolam, gue bisa mendarat dengan selamat berkat ilmu silat yang gue pelajari dulu.
"Eh pada ngapain nih teman-teman gue ngumpul di sini pada mau demo apa tawuran nih?"
Kaga ada jawaban apa-apa dari mereka, gue sadar gue lagi di remehin ama makhluk-makhluk itu karena penampakan gue yang dimata mereka hanyalah seorang manusia lemah yang masih ingusan sedangkan mereka jika di liat dari wujudnya udah berumur lebih dari dua puluh tahun.
"Gue tanya sekali lagi ngapain kalian ngumpul di sini?" kata gue mengulang pertanyaan dengan sedikit ngeluarin aura intimidasi ke mereka.
Salah satu dari mereka membuka suara
"Kami di sini karena kami merasakan aura yang menantang kami, lalu kami datangi ternyata aura itu berasal dari bocah seperti mu"
"Hohoho berasa tertantang ya kalian? Padahal gue bukan nantang kalian lho"
"Ada apa bocah seperti mu mengeluarkan aura yang menantang seperti itu?"
"Ada apa ya? Gue sih cuma mau ngundang penghuni rumah ini"
"Ada apa kamu mengundang Braja?"
"Oh jadi Braja ya namanya?"
"Ada urusan apa kamu sama yang mulia?" kali ini yang buka suara adalah makhluk yang berada di belakang gue
"Ga bermaksud apa-apa sih, cuma pengen tanya aja maksud dia nakut-nakutin temen-temen gue"
"Bocah seperti mu bisa apa jika yang mulia Braja datang?"
"Kaga bisa apa-apa sih, paling cuma bisa ngurung dia di dalam botol"
Saling pandanglah mereka mendengar omongan gue
"Jangan membual kamu, kamu hanyalah bocah ingusan ya meski kami sempat terkejut bocah kecil seperti mu bisa mengeluarkan aura semengerikan ini"
"Ya coba aja kalo emang kalian mau masuk ke dalam botol ini" kata gue sambil ngeluarin botol dari tempat persembunyiannya.
Kembali mereka saling pandang melihat kenyataan itu
"Baiklah kami akan pergi karena kami tidak mau mencari masalah"
"Gue kaga nyuruh kalian pergi, gue cuma minta kalian kasih tau gue gimana caranya bisa manggil Braja"
"Tidak ada cara memanggil dia, dia hanya akan datang ketika dia mau"
"Gimana caranya biar dia mau nemuin gue?"
"Urusan itu cuma yang mulia yang tahu"
Setelah berkata begitu rombongan itu pun membubarkan diri, kembali usaha gue nemuin kegagalan. Frustasi dengan itu semua kembali gue manggil Nawa Rendani. Tak lama kemudian dia dateng dengan senyuman manis seperti biasa.
"Ada apa Ari?"
"Lu bohong ama gue kan"
"Tentang apa?"
"Tentang cara manggil penunggu di sini"
"Tidak saya tidak bohong"
"Ga usah ga ngaku deh lu, lu bilang cara manggil penunggu rumah ini yang bernama Braja cukup memancarkan aura, gue udah ngeluarin semua aura gue tapi yang datang bukan dia tapi jin-jin aneh yang datang entah darimana dan mereka bilang kaga ada cara buat manggil Braja kecuali dia sendiri yang mau dan entah kenapa yang di datangi bukan gue tapi teman-teman gue" kata gue dengan sangat panjang kali lebar dan penuh emosi.
Nawa tampak menghela napas, lalu kemudian berkata.
"Maaf saya tidak cerita yang sesungguhnya, saya juga tidak menyangka kamu sepeduli itu terhadap teman mu"
"Gue kaga butuh permintaan maaf elu, yang gue mau elu cerita kegue sekarang juga"
"Baiklah saya akan cerita semuanya tanpa ada yang di tutup-tutupi lagi"
Bersambung......
MFriza85
bebyzha
hendra024
hendra024 dan 30 lainnya memberi reputasi
31
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.