Kaskus

Story

shirazy02Avatar border
TS
shirazy02
INDIGO
INDIGO

Hy, Guys! Jumpa lagi di thread terbaru. Kali ini, based on true story. Please, jangan nanya-nanya ini kisah siapa, jangan nebak-nebak apakah saya si anu, atau keppoin apapun itu. Semua demi kelancaran saya menulis, karena mood sangat mempengaruhi 😊 Terhitung sampai detik ini, saya masih suka menggantungkan cerita, karena begitu banyaknya ide cerita lain yang ingin saya tuangkan lewat aksara. By the way, ini tapi gak pake mikir, sih 😂 karena nulisnya ngalir gitu aja. Ada misterinya, ada sakit hatinya, ada asmaranya, banyak bakalan yang disajikan dalam ceritanya. Oh ya, saya sangat tidak menyukai silent reader, so ... beri react, rate, dan komentar, cendol-cendol jan lupa, karena saya tak akan mungkin melanjutkan cerita tanpa adanya respon atau peminat tulisan. Makasih sebelumnya! emoticon-Big Kiss

----
Spoiler for Indeks:


Part 1:

Berawal dari tahun 1997 yang bertepatan dengan Hari Lebaran. Setiap menjelang hari H, kami sekeluarga, yang terdiri dari aku, adik, serta kedua orangtua, selalu mengunjungi rumah nenek --ibu dari ayah-- yang berada di luar kota. Tujuannya tak lain, bersilaturahmi sekaligus merayakan Hari Raya bersama-sama. Kebetulan keluarga dari ayah adalah keluarga besar, oleh karena itu pasti selalu ramai suasana di rumah sana. Pada saat itu, aku masih duduk di bangku Sekolah Dasar, dan adikku kurang lebih berusia tiga tahun. Kita selalu menghabiskan waktu mudik sampai cutian ayah selesai, tentu juga ibu bisa bersantai memikirkan nasib sekolahku, sebab bertepatan juga dengan waktu liburan sekolah.

Tempat tinggal nenek ada di perbatasan salah satu profinsi Jawa. Dimana ketika kami berkendara dan sudah sampai di kotanya, maka kami masih harus menempuh jarak berkilo-kilo meter untuk tiba di lokasi. Sebenarnya kampungnya tak terlalu pelosok, tapi bagiku sangat primitif. Bangunan yang rata-rata masih berdinding papan kayu, lantai yang masih berupa tanah, pintu dan atap yang pendek, serta lampu penerangan di tiap-tiap rumah yang kebanyakan memakai cemprong. Aku beruntung nenekku sendiri memakai lampu petromaks di beberapa ruangan meski lantai rumahnya hanya berupa plesteran. Di saat aku benar-benar merasa takut saat menatap jalan pedesaan yang suram, aku bisa menyesuaikan terangnya cahaya dari pompa pada tuas di bagian bawah lampu petromaks, hingga sirna pula lah perasaan takut itu karena merasa aman.

Sebenarnya, aku tak pernah menyukai berada di sana. Selain karena daerah yang minim penerangan, untuk beli apa-apa juga lumayan jauh. Satu lagi pengalaman yang dulu-dulu ... setiap malam tidurku tak pernah bisa nyenyak. Di belakang rumah nenek ada barongan (kebun luas yang terdapat banyak pohon bambu dan semak belukar), dan suara-suara hewan malam begitu mendebarkan kala merasuk membran telinga.

Dari perasaan gak betahnya berkunjung di rumah nenek, ada juga rasa senang yang paling kunanti-nanti saat berada di sini, yaitu bertemu dengan Mbah Narti. Mbah Narti adalah adik dari nenekku. Ia tak mempunyai keturunan. Menurut cerita yang kudengar, ayahku dulu pernah dibantu dibesarkan olehnya sehingga bisa melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Ya, Mbah Narti adalah dukun bayi tersohor pada zamannya. Ia bisa dibilang orang yang sangat kaya sekampung. Rumahnya berbeda sendiri dari yang lain. Sudah bangunan tembok, sudah berubin, pun memiliki sawah luas dan ternak yang banyak. Kenapa aku suka dengannya? Karena ia paling antusias menyambut kedatanganku. Royal, dan doyan memijat. Setiap aku bertandang ke rumahnya, Mbah Narti selalu menyediakan alas untukku berbaring. Memijatnya juga lama sekali, dan selalu membuat ketagihan. Selain kerap memberi uang, jajanan satu kresek penuh selalu dibelikannya. Terkadang, jiwa tak bisa membohongi bila sayangku lebih besar terhadap Mbah Narti daripada nenek sendiri.

Karena keluarga besar dari berbagai kota bersamaan datang dan berkumpul di rumah nenek, keluargaku pun diminta Mbah Narti tidur di rumahnya. Tentu kami juga sudah biasa, karena ayah memang dari dulu dekat sekali padanya. Jadi, setiap malam kami bermalam di rumah Mbah Narti, paginya kami kembali ke rumah nenek. Kebetulan rumah mereka bersebelahan.

Ada sesuatu yang janggal kurasakan pada saat pertama kalinya aku bermalam. Entah kenapa, malam itu aku tak bisa tidur. Beruntung aku melihat Mbah Narti masih terjaga di depan TV, sedang menikmati teh dalam wadah besar. Oh, ya ... teh di daerah sana kalau bikin, asli pait. Tehnya langsung dimasukkan di wadah, diseduh bersamaan tanpa disaring. Jadi, banyak bulir yang ngambang gitu di atasnya. Kadang bisa tertelan juga kalau gak hati-hati minum.

Oke, lanjut! Malam itu, ketika hendak menemui Mbah Narti di depan, aku begitu syok menatap di kursi yang ada di sebelah siMbah. Ada seorang perempuan duduk di sana. Berkebaya merah, memakai jarik, dengan tudung transparan warna senada di kepala. Masih muda sepertinya, terlihat dari kulitnya yang sekilas kutatap masih kencang. Tatapan kami bertemu, dan dia langsung menyingkir dari tempat. Anehnya, menyingkirnya nggak keluar rumah, tapi masuk ke ruang tengah, dan tak pernah keluar lagi hingga tengah malam. Kebetulan aku begadang saat itu dengan Mbah Narti.

Perempuan itu pun sering kujumpai wara-wiri di kamar Mbah Narti pada malam-malam berikutnya. Terkadang ada anak perempuan, usianya sepertinya lebih dewasa dariku, suka mengintip dari balik gebyok (sebuah papan penyekat besar dan tinggi yang terbuat dari kayu jati, dulu digunakan sebagai pemisah antara ruang tamu dengan ruang tengah). Senyum-senyum menampakkan separuh wajahnya melihatku. Kukira mereka itu tetangga yang sering bertandang ke rumah, tapi setelah kutanyakan pada Mbah Narti, beliau menjawab, "Kuwi dulurmu! Cah wedok kuwi puterine." (itu saudaramu. Bocah perempuan itu anaknya)

Agak aneh, sih! Karena baru kali ini aku melihat saudara yang wajahnya seperti itu. Belum pernah kujumpai sebelumnya. Namun, aku teringat, ayah pernah bercerita jika punya saudara yang merantau di Kalimantan sana, dan jarang pulang. Mungkin saja itu saudara dari Kalimantan! Anehnya, saat aku bercerita pada ayah dan ibu, ayah menampik jika saudaranya di Kalimantan itu pulang. "Mungkin tetangga," ujar ayah datar. Nenekku pun menimpali, "Mbah Narti sekarang banyak ngelanturnya kalau ngomong, Nduk. Benar ayahmu, mungkin tetangga sedang main itu."

Aku yang memang masih polos, percaya-percaya saja dan tak pernah berpikiran jauh ....

Di suatu siang, saat aku bermain di rumah Mbah Narti seorang diri, entah kenapa tiba-tiba saja ia bicara ngelantur, "Mbah nelangsa, Nduk. Hidup seperti begini-begini saja. Punya apa-apa juga tak bahagia. Apalagi semenjak ditinggal Mbah kung, rasanya sudah malas hidup."

Kurang lebih seperti itu yang bisa kucerna perkataannya. Maklum, bahasa jawanya terlalu halus, kadang susah dimengerti. Apalagi pada saat itu aku masih kecil dan belum seberapa mengerti.

Lalu, setelah berkata begitu, ia membelai rambutku berkali-kali. Mencium juga. Ini yang paling malas saat bertemu Mbah Narti. Aku melihat susur di mulutnya saja sudah bergidik geli, apalagi di dekatkan ke wajah seperti itu.

Setelah puas melayangkan ciuman bertubi-tubi, Mbah Narti lalu masuk ke dalam, berpesan menyuruhku menunggu. Aku sendiri sedang asyik menonton TV. Oh ya, di rumah nenek tak ada TV, jadi aku selalu mainnya kemari jika ingin nonton. Terkadang, bisa bersamaan dengan Budhe dan keluarga ayah yang lainnya. Namun, kali ini aku nonton sendiri, karena keluarga sedang sibuk masak-masak besar.

Beberapa menit kemudian, Mbah Narti muncul sambil membawa sesuatu dalam bungkusan. Setelah dibuka, ternyata sebuah gelang dari tali yang ada jahitan kain kotak kecil warna hitam di tengahnya. Ia menyodorkannya padaku. Ingin menolak karena tak suka, tapi tangan tua itu terburu melingkarkan gelang itu ke tanganku. Kucoba pegang kain kotak hitam itu. Seperti ada batu kecil di dalamnya. Mbah Narti berpesan, agar jangan sampai aku membuka kain kotak hitam itu. Aku pun mengangguk saja.

"Iki gawe kenang-kenangan yo, Nduk? Sesuk yen simbah ra ono, kowe ben kelingan simbah terus," ujarnya lagi. Aku pun terdiam melihat gelang yang dikenakannya di tanganku. Aduh, benar-benar tak suka sekali!

Setelah berpamitan pulang, diam-diam kulepas gelang itu dari tanganku, menyimpannya dalam saku celana. Niat hati ingin kubuang, tapi takut Mbah Narti tahu. Aku khawatir kecewa, jadi kubawa saja. Mengingat, besok aku sekeluarga akan pulang. Rencananya akan kubuang gelang itu di tengah perjalanan.

Malamnya, entah kenapa, ibu melarangku tidur di rumah Mbah Narti. Rupanya, para keluarga besar sedang rame mengobrolkannya yang memang belakangan sering ngelantur. Kata mereka, Mbah Narti tengah pusing membagi hartanya pada sepupu-sepupu lain. "Aku ditawari sama Mbah Ti, kamu mau gak merawat sapi dan kambingku? Kalau mau rawat, ambil saja bawa pulang," tukas Budhe Rusni pada kami.

"Lalu, samean jawab apa?" tanya ayah penasaran.

"Ya kujawab, 'nggak ah. Nanti yang lain ngiri' ... trus dia jawab lagi, 'semua sudah kubagi. Hartaku masih banyak. Aku juga gak punya anak, aku khawatir besok kalau mati, semuanya ini gimana' ... gitu bilangnya."

"Nah, yang diomong mati-mati terus, sih!" seloroh Om Anang.

"Lah, kan? Tadi malah bilang, 'sesuk aku yen mati, omah iki openono, yo?" (besok kalau aku meninggal, rumah ini kamu rawat, ya!) Mbak Nanik membalas.

"Masa' bilang begitu?"

"Iya. Malah berkata, 'jatahku urip gari sedilut' ... gitu," sahut Mbak Nanik lagi.

Gara-gara obrolan malam yang unfaedah, kami semua saling takut, hingga tak pernah berani ketemu Mbah Narti keesokan harinya. Mungkin memang Mbah Narti sudah merasa. dan semua itu adalah pertanda ia mau pamit. Wallahu'alam, keesokan harinya, ketika fajar baru menyingsing, tetangga depan rumah yang biasanya disuruh mencarikan rumput Mbah Narti, berteriak-teriak menemui kami dengan wajah gugup.

"Mbah Narti terpeleset di kamr mandi! Mbah Narti terpeleset di kamar mandi!"

Sontak, kami semua kaget dan segera berhamburan melihat ke lokasi.

Oke, skip!

Di sini, aku akan mulai menceritakan keanehan yang terjadi semenjak pulang dari rumah nenek. Oh, ya ... aku lupa membuang gelang dari Mbah Narti saat perjalanan pulang. Aku juga nggak paham arti 'sikep' dalam istilah jawa pada saat itu. Sepeninggal Mbah Narti, semua keluarga saling ramai mencari sikep yang dimaksud. Katanya harus dibuang, paling tidak dibakar. Semua almari, kasur, dilingkap satu persatu demi mencari benda yang dimaksud. Tak pelak, mereka di antaranya saling menuduh satu sama lain karena tak ada yang mengaku. Mbah Narti memang pernah berpesan, bahwa 'jimat'-nya akan diberikan pada salah satu keturunan nenek. Banyak yang menuding ayah, karena ayah adalah satu-satunya kesayangan Mbah Narti. Oh ya, akibat dari semua ini, keluargaku pernah lama lost komunikasi sama keluarga yang lain. Sebenarnya mereka biasa-biasa saja, tapi yang paling menyebalkan dan tak terima adalah Pakdhe Kurdi.

Sebenarnya, apa alasan Pakdhe Kurdi begitu berambisi menanyakan barang tersebut?
Diubah oleh shirazy02 29-02-2020 14:20
nona212Avatar border
bukhoriganAvatar border
husnamutiaAvatar border
husnamutia dan 42 lainnya memberi reputasi
39
29.5K
238
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.7KThread52.2KAnggota
Tampilkan semua post
shirazy02Avatar border
TS
shirazy02
#58
Part 6
"Sekarang, Ustadz?" Ayah berseru lirih pada sosok tua yang sebelumnya memperkenalkan diri sebagai Pak Alim padaku.

"Ya kapan lagi? Dia sering dirasuki, bukan?" Sosok tua yang dipanggil Ustadz itu membalas datar, sambil memejamkan mata sesaat. Sementara aku sendiri hanya bisa melongo menatap beberapa orang di sekeliling yang saling sibuk sendiri. Ibu dan adik entah kemana setelah tadinya membantuku mengenakan mukena. Sedang ayah mulai beranjak, mengekor di belakang Mas Ilham. Mengambil karpet entah darimana, lantas membantu Mas Ilham menggelar karpet tersebut di ubin. Setelahnya, meletakkan sebuah rekal, lengkap beserta Al Qur'an kecil. Ayah kemudian meletakkan beberapa air mineral cup di sana, disusul dengan Mas Ilham yang meletakkan sebuah tasbih.

"Kita baca Al Fatihah dulu sebelum mulai mengaji." Ustadz Ilham bertutur sambil meraih tasbih yang berada di dekat rekal. Lalu, semua yang ada di sekeliling pun mulai membaca surat Al Fatihah. Termasuk aku, yang memang sebelumnya dipinta untuk mengikuti bacaannya. Bacaan itu terus diulang sebelas kali, yang kemudian dilanjutkan dengan bacaan Al Falaq. Awalnya terasa biasa. Sampai entah kenapa, lidah tiba-tiba kelu mengikuti hapalan. Rasa mual mulai terasa di pucuk kerongkongan. Dari situ, aku mulai memberhentikan bacaan. Air liur tahu-tahu menetes saja. Badan bergetar, sampai aku merasakan sebuah pergerakan kecil yang benar-benar dengan tak sadar aku melakukannya.

"Aduuuhh!" Aku spontan membungkukkan badan, mencium lantai, saat merasa bahuku tertekan. Berat, bahkan sakitnya merasuk ke dalam tulang belikat. Hawa yang teramat panas mulai kurasakan. Aku mengerang menahan sakit, sampai kuberanikan diri menoleh ke sang Ustadz. Tampak ia kembali mengoleskan minyak ke telapak tangannya, sambil meminta ayahku memijat bagian ubun-ubun.

"Pijat pelan saja, sambil tiup sesekali!" pesannya.

Saat ayah mulai memegang bagian kepala, pikiranku terbesit sosok-sosok yang menyeramkan yang belum pernah kuketahui sebelumnya. Muncul, hilang, lalu muncul lagi, dan lalu hilang lagi. Setiap ayah meniup ubun-ubun dari bawah ke atas, badanku terasa bergidik. Setelah itu, entah aku tak ingat apa-apa lagi.

Seperti orang yang baru siuman dari koma, tahu-tahu saat tersadar, kepalaku pening kembali. Lagi-lagi rasa mual menerpa. Kali ini aku melihat ibu di sampingku menangis sesenggukan.

"Ambilkan plastik, Ilham!" Perintah dari Ustadz Alim langsung membuat sang anak segera pergi.

"Kuat, Sinan! Lawan, dan muntahkan bila ingin muntah!" Kali ini Ustadz berkata padaku, seraya menyuruh ibu menepuk kecil leherku bagian belakang. Sejurus kemudian, Mas Ilham datang membawakan sebuah plastik hitam. "Hooooeeekkkk!!" aku pun menyambut plastik tersebut dengan muntahan macam air liur. Pening dan sangat lemas terasa. Aku benar-benar terasa tak berdaya.

Beberapa jam kemudian, saat aku merasa sedikit enakan ....

"Sinan, ini saya kembalikan, boleh?" Ustadz Ilham memperlihatkan sebuah batu kecil padaku. Batu yang kemarin!

"Jawab, Sinan! Batu itu bisa ikhlas pergi, jika kamu yang meminta sendiri. Karena kamu yang diwarisi!!" Nada bicara ayah begitu keras, seakan memaksaku mengiyakan ucapannya.

"Pak, Pak, mohon jangan dipengaruhi! Semua biar Sinan yang menjawab sendiri," seru sang ustadz. Lagi, beliau menatapku serius, sambil memberi pertanyaan yang sama. Entahlah, aku sedikit bimbang setelahnya. Mengingat karena batu itu, aku mempunyai teman baik seperti Farida, meski terkadang ia kerap jahil dan membuat emosi. Meski alam kita lain.

Tak terasa air mataku menetes. Kutatap wajah ayah dengan perasaan takut. Aku tahu ayah begitu marah, tapi aku juga bingung harus menjawab apa. Yang kupikirkan adalah, aku takut kehilangan seorang teman yang selalu ada setiap saat. Takut sekali.

"Sinan, pikirkan yang terbaik, Nak!" Bibir ibu bergetar saat kalimat itu meluncur ke dalam telinga. Ah, aku semakin tak kuasa lagi jika harus menjadi beban pikiran beliau.

Lama terdiam, akhirnya aku menganggukkan kepala juga. "Benar, Sinan? Kamu ikhlas?" Ustadz Ilham mempertanyakan lagi. "Iya, ikhlas. Saya tak butuh dia lagi," jawabku lirih.

Seperti cerita kedua orangtua, aku sering sekali bersikap aneh saat di rumah. Terkadang, bisa menjadi sangat dewasa. Suka bertutur pada ayah dan ibu, yang sama sekali penuturan itu tak lazim dihaturkan oleh anak seusiaku. Sering menimang sang adik dengan gendongan yang bisa kupakaikan sendiri (jaman dulu, gendongan gak ada yang instan, ya! Jadi terkesan aneh saja bila aku bisa mengikat gendongan sendiri), padahal sebelumnya mustahil untuk itu. Saat di-ruqyah pun, aku bersikap sangat berapi-api, dan kenyataan yang terjadi, ternyata tak hanya satu makhluk yang setiap hari mengawal keseharianku. Hanya saja, cuma beberapa yang berani menampakkan diri. Jin-jin tersebut sangat tak layak mendampingi, karena banyak diantaranya bersifat ingin menguasaiku. Terbukti, sering menjelma sebagai Mbah Ti, dan sering menemuiku di alam mimpi dengan berbagai perangai.

Demi merayakan kebebasan ini, orangtua berencana mengadakan pengajian dengan mengundang salah satu kyai kondang di daerahku. Alih-alih agar banyak yang mendatangi, mengingat nama keluarga sudah sangat tercemar karena issue pesugihan. Berhasil, rupanya banyak juga yang mendatangi. Dalam isi ceramah, sang Kyai juga menyertakan nasihat terhadap pentingnya Husnudzon dalam hidup bermasyarakat. Sedikit menyindir juga untuk kalangan yang senang termakan issue.

Mulai dari adanya pengajian itu, ibu mulai akrab kembali pada satu persatu tetangga. Tentunya kerabat juga sama. Ayah pun tampak sumringah kutatap. Ya, sedari datangnya gelang itu, hawa emosi selalu melingkupinya. Kini aku bisa bernapas lega karena semuanya.

"Sinan, sini!" Tiba-tiba, Pak Har --kakak dari ibu-- melambaikan tangan. Tak menunggu lama, lantas aku menghampiri. Belum sampai bertanya, Pak Har berkata lagi, "Sinan, kamu katanya punya merah delima, ya? Kamu kasihkan ke siapa sekarang?" tanyanya lirih.

"Nggak ada sudah," jawabku.

"Benar, kamu beri sama Pak Ustadz??"

Aku mengangguk kecil. Pak Har lalu menoleh ke kanan-kiri, sebelum akhirnya berbisik ke kuping, "Besok tak anter ke sana, ya? Kita ambil lagi. Daripada kamu kasihkan orang, kasihkan Pak Har saja. Pak Har juga mau, lho!"

Mendengar itu, aku bergeming. Sedangkan Pak Har kemudian merogoh saku celananya, mengeluarkan uang lima ribu rupiah, dan disodorkannya untukku. "Kuganti sama ini, ya? Besok ikut Pak Har, ya? Beli es krim dan jajan pake ini, dapet buanyak, lho!" rayunya lagi.

Karena aku polos, akhirnya kuterima juga uang itu. Pak Har sendiri tersenyum dengan girangnya. Beliau adalah penyuka akik. Seperti yang ia bilang, rencananya, batu itu akan disematkan pada cincin kuningannya. Tapi anehnya, beliau tak ingin semua ini diketahui oleh orangtuaku. Jadi dia menyuruhku untuk tetap diam sampai batu itu berhasil dibawanya.

Ah, entahlah ... pesona batu aneh itu memang sepertinya tiada habisnya.

(Rehat dulu, ya, Gaeess!) emoticon-Kiss
hendra024
forlano
kicquck
kicquck dan 22 lainnya memberi reputasi
23
Tutup
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.