- Beranda
- Stories from the Heart
INDIGO
...
TS
shirazy02
INDIGO

Hy, Guys! Jumpa lagi di thread terbaru. Kali ini, based on true story. Please, jangan nanya-nanya ini kisah siapa, jangan nebak-nebak apakah saya si anu, atau keppoin apapun itu. Semua demi kelancaran saya menulis, karena mood sangat mempengaruhi 😊 Terhitung sampai detik ini, saya masih suka menggantungkan cerita, karena begitu banyaknya ide cerita lain yang ingin saya tuangkan lewat aksara. By the way, ini tapi gak pake mikir, sih 😂 karena nulisnya ngalir gitu aja. Ada misterinya, ada sakit hatinya, ada asmaranya, banyak bakalan yang disajikan dalam ceritanya. Oh ya, saya sangat tidak menyukai silent reader, so ... beri react, rate, dan komentar, cendol-cendol jan lupa, karena saya tak akan mungkin melanjutkan cerita tanpa adanya respon atau peminat tulisan. Makasih sebelumnya!

----
Spoiler for Indeks:
Part 1:
Berawal dari tahun 1997 yang bertepatan dengan Hari Lebaran. Setiap menjelang hari H, kami sekeluarga, yang terdiri dari aku, adik, serta kedua orangtua, selalu mengunjungi rumah nenek --ibu dari ayah-- yang berada di luar kota. Tujuannya tak lain, bersilaturahmi sekaligus merayakan Hari Raya bersama-sama. Kebetulan keluarga dari ayah adalah keluarga besar, oleh karena itu pasti selalu ramai suasana di rumah sana. Pada saat itu, aku masih duduk di bangku Sekolah Dasar, dan adikku kurang lebih berusia tiga tahun. Kita selalu menghabiskan waktu mudik sampai cutian ayah selesai, tentu juga ibu bisa bersantai memikirkan nasib sekolahku, sebab bertepatan juga dengan waktu liburan sekolah.
Tempat tinggal nenek ada di perbatasan salah satu profinsi Jawa. Dimana ketika kami berkendara dan sudah sampai di kotanya, maka kami masih harus menempuh jarak berkilo-kilo meter untuk tiba di lokasi. Sebenarnya kampungnya tak terlalu pelosok, tapi bagiku sangat primitif. Bangunan yang rata-rata masih berdinding papan kayu, lantai yang masih berupa tanah, pintu dan atap yang pendek, serta lampu penerangan di tiap-tiap rumah yang kebanyakan memakai cemprong. Aku beruntung nenekku sendiri memakai lampu petromaks di beberapa ruangan meski lantai rumahnya hanya berupa plesteran. Di saat aku benar-benar merasa takut saat menatap jalan pedesaan yang suram, aku bisa menyesuaikan terangnya cahaya dari pompa pada tuas di bagian bawah lampu petromaks, hingga sirna pula lah perasaan takut itu karena merasa aman.
Sebenarnya, aku tak pernah menyukai berada di sana. Selain karena daerah yang minim penerangan, untuk beli apa-apa juga lumayan jauh. Satu lagi pengalaman yang dulu-dulu ... setiap malam tidurku tak pernah bisa nyenyak. Di belakang rumah nenek ada barongan (kebun luas yang terdapat banyak pohon bambu dan semak belukar), dan suara-suara hewan malam begitu mendebarkan kala merasuk membran telinga.
Dari perasaan gak betahnya berkunjung di rumah nenek, ada juga rasa senang yang paling kunanti-nanti saat berada di sini, yaitu bertemu dengan Mbah Narti. Mbah Narti adalah adik dari nenekku. Ia tak mempunyai keturunan. Menurut cerita yang kudengar, ayahku dulu pernah dibantu dibesarkan olehnya sehingga bisa melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Ya, Mbah Narti adalah dukun bayi tersohor pada zamannya. Ia bisa dibilang orang yang sangat kaya sekampung. Rumahnya berbeda sendiri dari yang lain. Sudah bangunan tembok, sudah berubin, pun memiliki sawah luas dan ternak yang banyak. Kenapa aku suka dengannya? Karena ia paling antusias menyambut kedatanganku. Royal, dan doyan memijat. Setiap aku bertandang ke rumahnya, Mbah Narti selalu menyediakan alas untukku berbaring. Memijatnya juga lama sekali, dan selalu membuat ketagihan. Selain kerap memberi uang, jajanan satu kresek penuh selalu dibelikannya. Terkadang, jiwa tak bisa membohongi bila sayangku lebih besar terhadap Mbah Narti daripada nenek sendiri.
Karena keluarga besar dari berbagai kota bersamaan datang dan berkumpul di rumah nenek, keluargaku pun diminta Mbah Narti tidur di rumahnya. Tentu kami juga sudah biasa, karena ayah memang dari dulu dekat sekali padanya. Jadi, setiap malam kami bermalam di rumah Mbah Narti, paginya kami kembali ke rumah nenek. Kebetulan rumah mereka bersebelahan.
Ada sesuatu yang janggal kurasakan pada saat pertama kalinya aku bermalam. Entah kenapa, malam itu aku tak bisa tidur. Beruntung aku melihat Mbah Narti masih terjaga di depan TV, sedang menikmati teh dalam wadah besar. Oh, ya ... teh di daerah sana kalau bikin, asli pait. Tehnya langsung dimasukkan di wadah, diseduh bersamaan tanpa disaring. Jadi, banyak bulir yang ngambang gitu di atasnya. Kadang bisa tertelan juga kalau gak hati-hati minum.
Oke, lanjut! Malam itu, ketika hendak menemui Mbah Narti di depan, aku begitu syok menatap di kursi yang ada di sebelah siMbah. Ada seorang perempuan duduk di sana. Berkebaya merah, memakai jarik, dengan tudung transparan warna senada di kepala. Masih muda sepertinya, terlihat dari kulitnya yang sekilas kutatap masih kencang. Tatapan kami bertemu, dan dia langsung menyingkir dari tempat. Anehnya, menyingkirnya nggak keluar rumah, tapi masuk ke ruang tengah, dan tak pernah keluar lagi hingga tengah malam. Kebetulan aku begadang saat itu dengan Mbah Narti.
Perempuan itu pun sering kujumpai wara-wiri di kamar Mbah Narti pada malam-malam berikutnya. Terkadang ada anak perempuan, usianya sepertinya lebih dewasa dariku, suka mengintip dari balik gebyok (sebuah papan penyekat besar dan tinggi yang terbuat dari kayu jati, dulu digunakan sebagai pemisah antara ruang tamu dengan ruang tengah). Senyum-senyum menampakkan separuh wajahnya melihatku. Kukira mereka itu tetangga yang sering bertandang ke rumah, tapi setelah kutanyakan pada Mbah Narti, beliau menjawab, "Kuwi dulurmu! Cah wedok kuwi puterine." (itu saudaramu. Bocah perempuan itu anaknya)
Agak aneh, sih! Karena baru kali ini aku melihat saudara yang wajahnya seperti itu. Belum pernah kujumpai sebelumnya. Namun, aku teringat, ayah pernah bercerita jika punya saudara yang merantau di Kalimantan sana, dan jarang pulang. Mungkin saja itu saudara dari Kalimantan! Anehnya, saat aku bercerita pada ayah dan ibu, ayah menampik jika saudaranya di Kalimantan itu pulang. "Mungkin tetangga," ujar ayah datar. Nenekku pun menimpali, "Mbah Narti sekarang banyak ngelanturnya kalau ngomong, Nduk. Benar ayahmu, mungkin tetangga sedang main itu."
Aku yang memang masih polos, percaya-percaya saja dan tak pernah berpikiran jauh ....
Di suatu siang, saat aku bermain di rumah Mbah Narti seorang diri, entah kenapa tiba-tiba saja ia bicara ngelantur, "Mbah nelangsa, Nduk. Hidup seperti begini-begini saja. Punya apa-apa juga tak bahagia. Apalagi semenjak ditinggal Mbah kung, rasanya sudah malas hidup."
Kurang lebih seperti itu yang bisa kucerna perkataannya. Maklum, bahasa jawanya terlalu halus, kadang susah dimengerti. Apalagi pada saat itu aku masih kecil dan belum seberapa mengerti.
Lalu, setelah berkata begitu, ia membelai rambutku berkali-kali. Mencium juga. Ini yang paling malas saat bertemu Mbah Narti. Aku melihat susur di mulutnya saja sudah bergidik geli, apalagi di dekatkan ke wajah seperti itu.
Setelah puas melayangkan ciuman bertubi-tubi, Mbah Narti lalu masuk ke dalam, berpesan menyuruhku menunggu. Aku sendiri sedang asyik menonton TV. Oh ya, di rumah nenek tak ada TV, jadi aku selalu mainnya kemari jika ingin nonton. Terkadang, bisa bersamaan dengan Budhe dan keluarga ayah yang lainnya. Namun, kali ini aku nonton sendiri, karena keluarga sedang sibuk masak-masak besar.
Beberapa menit kemudian, Mbah Narti muncul sambil membawa sesuatu dalam bungkusan. Setelah dibuka, ternyata sebuah gelang dari tali yang ada jahitan kain kotak kecil warna hitam di tengahnya. Ia menyodorkannya padaku. Ingin menolak karena tak suka, tapi tangan tua itu terburu melingkarkan gelang itu ke tanganku. Kucoba pegang kain kotak hitam itu. Seperti ada batu kecil di dalamnya. Mbah Narti berpesan, agar jangan sampai aku membuka kain kotak hitam itu. Aku pun mengangguk saja.
"Iki gawe kenang-kenangan yo, Nduk? Sesuk yen simbah ra ono, kowe ben kelingan simbah terus," ujarnya lagi. Aku pun terdiam melihat gelang yang dikenakannya di tanganku. Aduh, benar-benar tak suka sekali!
Setelah berpamitan pulang, diam-diam kulepas gelang itu dari tanganku, menyimpannya dalam saku celana. Niat hati ingin kubuang, tapi takut Mbah Narti tahu. Aku khawatir kecewa, jadi kubawa saja. Mengingat, besok aku sekeluarga akan pulang. Rencananya akan kubuang gelang itu di tengah perjalanan.
Malamnya, entah kenapa, ibu melarangku tidur di rumah Mbah Narti. Rupanya, para keluarga besar sedang rame mengobrolkannya yang memang belakangan sering ngelantur. Kata mereka, Mbah Narti tengah pusing membagi hartanya pada sepupu-sepupu lain. "Aku ditawari sama Mbah Ti, kamu mau gak merawat sapi dan kambingku? Kalau mau rawat, ambil saja bawa pulang," tukas Budhe Rusni pada kami.
"Lalu, samean jawab apa?" tanya ayah penasaran.
"Ya kujawab, 'nggak ah. Nanti yang lain ngiri' ... trus dia jawab lagi, 'semua sudah kubagi. Hartaku masih banyak. Aku juga gak punya anak, aku khawatir besok kalau mati, semuanya ini gimana' ... gitu bilangnya."
"Nah, yang diomong mati-mati terus, sih!" seloroh Om Anang.
"Lah, kan? Tadi malah bilang, 'sesuk aku yen mati, omah iki openono, yo?" (besok kalau aku meninggal, rumah ini kamu rawat, ya!) Mbak Nanik membalas.
"Masa' bilang begitu?"
"Iya. Malah berkata, 'jatahku urip gari sedilut' ... gitu," sahut Mbak Nanik lagi.
Gara-gara obrolan malam yang unfaedah, kami semua saling takut, hingga tak pernah berani ketemu Mbah Narti keesokan harinya. Mungkin memang Mbah Narti sudah merasa. dan semua itu adalah pertanda ia mau pamit. Wallahu'alam, keesokan harinya, ketika fajar baru menyingsing, tetangga depan rumah yang biasanya disuruh mencarikan rumput Mbah Narti, berteriak-teriak menemui kami dengan wajah gugup.
"Mbah Narti terpeleset di kamr mandi! Mbah Narti terpeleset di kamar mandi!"
Sontak, kami semua kaget dan segera berhamburan melihat ke lokasi.
Oke, skip!
Di sini, aku akan mulai menceritakan keanehan yang terjadi semenjak pulang dari rumah nenek. Oh, ya ... aku lupa membuang gelang dari Mbah Narti saat perjalanan pulang. Aku juga nggak paham arti 'sikep' dalam istilah jawa pada saat itu. Sepeninggal Mbah Narti, semua keluarga saling ramai mencari sikep yang dimaksud. Katanya harus dibuang, paling tidak dibakar. Semua almari, kasur, dilingkap satu persatu demi mencari benda yang dimaksud. Tak pelak, mereka di antaranya saling menuduh satu sama lain karena tak ada yang mengaku. Mbah Narti memang pernah berpesan, bahwa 'jimat'-nya akan diberikan pada salah satu keturunan nenek. Banyak yang menuding ayah, karena ayah adalah satu-satunya kesayangan Mbah Narti. Oh ya, akibat dari semua ini, keluargaku pernah lama lost komunikasi sama keluarga yang lain. Sebenarnya mereka biasa-biasa saja, tapi yang paling menyebalkan dan tak terima adalah Pakdhe Kurdi.
Sebenarnya, apa alasan Pakdhe Kurdi begitu berambisi menanyakan barang tersebut?
Diubah oleh shirazy02 29-02-2020 14:20
husnamutia dan 42 lainnya memberi reputasi
39
29.5K
238
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
shirazy02
#50
Part 5
Penasaran akhirnya membuatku menepis rasa takut. Terlebih ketika sorot pendar kemerahan yang tampak menyilaukan mata itu ... seakan menghipnotis, memintaku untuk mendekat dan segera menjamahnya. Perlahan, lalu kulangkahkan kaki, menghampiri. Semakin mendekat, cahaya itu kian redup. Aneh dan terkesan tak masuk akal, ketika tangan berhasil menggapai benda yang dimaksud, binar itu lenyap seketika. Di tanganku kini tergenggam sebuah batu kecil. Seperti kelereng, tapi lonjong. Ukurannya pun lebih mini dari itu. Untuk ukuran oval kurasa kurang sempurna, lebih condong tak beraturan.
Kesadaranku tiba-tiba terpental dalam sebuah bayang masa lalu. Sosok yang hanya tampak punggung. Kemudian beralih dengan gambaran sebuah tangan yang tengah merobek sesuatu dengan sebilah pisau kecil. Tak menunggu lama, sesuatu pun dikeluarkannya. Sebuah batu kecil, persis seperti di genggamanku! Batu itu keluar dari balik wadah tersebut bersama potongan bulu-bulu kasar nan tipis semacam serabut kelapa. Dengan jelas, wadah kain hitam dari gelang pemberian Mbah Ti itu dilemparnya. Dan dalam sekejap saja, gambaran itu lenyap dalam benak, membekaskan berbagai tanda tanya yang masih berkelibat dalam pikir.
'Ini sebenarnya apa?' batinku bergejolak. Bingung dan sedikit resah. Tiba-tiba, sebuah suara mengagetkanku kembali, "Itu milikmu, Nduk. Ambil dan bawa pulang!"
Sontak terkesiap. Hati berubah tak karuan rasanya kala mendengar seruan barusan. Tidak. Kali ini bukan suara yang tadi. Tak asing betul suara itu terdengar di telinga. Seperti suara Mbah Ti, tapi entahlah!
"Pulang, dan berikan wadah untuknya. Simpan, bawa kemana pun pergi. Jangan pernah takut, Nduk! Hanya itu yang mampu kuberi agar kamu selalu ingat padaku. Itu yang terbaik dari segala peninggalanku. Kamu akan terbiasa. Tak usah takut! Dengan itu, kamu akan selalu terjaga."
Tak berani menoleh ke sana- ke mari, pun tak berani bergerak dari tempat. Jangankan untuk pergi, sekadar mengerjap saja rasanya kaku. Aku benar-benar ingin menangis. Takut, tapi tak tahu harus berbuat apa.
"Sinan!!"
Ah, tidak. Kali ini suara itu seperti suara ayah. Ketakutanku semakin menjadi-jadi. Kupikir hidupku benar-benar apes karena selalu diganggu oleh sesuatu, ternyata derap kaki yang terdengar membuatku sedikit menepis ragu. Dari belakang, tangan Ayah dengan sigap membalikkan badan. Cucuran air mata menggenang kemudian. Tampak juga Farida tersenyum tak jauh di belakang ayah. Tangan gadis itu melambai, sedang pilihanku mengabai. Ayah lalu mendekap erat, sebelum akhirnya menggendong dan membawaku pergi. Orangtua lelakiku itu masih terdiam, tanpa sedikit pun muncul perkataan. Kami pun pergi, diiringi senandung kecil Farida dari belakang. Sementara tanganku masih pula menggenggam erat batu kecil berwarna merah yang tadi ....
***
Sesampainya di rumah, ayah masih tak berkata apa-apa. Ia hanya menyuruh ibu memberikan jajanan agar membuatku tenang, lalu pamit mengambil wudhu. Kemudian ibu mendudukkanku di pangkuannya. Wajah ibu sedemikian khawatirnya, sampai berkali-kali mencium, memeluk dan membelai rambutku. Ia ambil satu kresek penuh jajanan yang sepertinya sudah disiapkan sebelumnya. Lagi-lagi matanya terlihat sembab, ada kesedihan terpancar dari balik wajah sendunya.
Di balik kediaman kami, Farida tiba-tiba muncul dari balik buffet. Gadis itu begitu sumringah menatap makanan yang ada di depanku, sampai-sampai berjalan menghampiri.
"Jangan ambil!" sentakku, saat ia menjongkokkan badannya ke meja. Entah kenapa, aku sedikit kesal melihatnya dari tadi.
"S-siapa, Sinan?" Ibu bertanya, yang kemudian refleks membuatku gelagapan. Farida langsung menghilang dari hadapan.
"I-itu ...." Bicaraku terpotong saat ayah kembali menemui kami di ruang tengah. Kali ini, aku langsung diserang berbagai pertanyaan yang terlontar dari mulutnya. Ayah terlihat begitu tegas dan kaku. Kenapa bisa aku ada di sana? Kenapa berjalan sejauh itu? Kenapa harus memilih lewat perkebunan belakang yang jalanannya gelap nan suram, daripada lewat jalan depan yang terang? Dan lain sebagainya ....
"Lalu, kenapa ayah kepikiran lewat di sana, sedangkan mustahil anak kecil seperti Sinan harus melewati jalan itu?" Belum mendapatkan jawaban apapun dariku, berganti ibu yang akhirnya memberi pertanyaan pada ayah.
Ayah menarik napas panjang, lalu menjawab, "Dari pedagang bebek di depan itu. Dia tahu Sinan berjalan ke belakang rumah. Dipikirnya sedang melihat hantu tadi."
Mendengar itu, ibu semakin mendekapku erat. Mengelus lenganku berulang kali.
"Sinan, sekarang jawab ayah! Apa yang kamu perbuat di sana? Kamu bersama siapa tadi?"
Suara tinggi ayah benar-benar membuatku takut. Antara gugup dan juga bingung harus berkata. Mata tiba-tiba kembali berkunang. Seiring kemudian, mendadak pening.
"Sinan sepertinya tak sendirian sekarang. Ada anu ...." Ibu semakin mendekatkan dirinya pada ayah. Mata ayah pun tertuju pada ibu. "Anu, Yah ... sepertinya benar kata teman ayah yang pintar itu. Dia berteman dengan ...."
Pendengaranku berhenti sampai di situ, aku sudah tak ingat lagi kejadiannya. Karena sebelumnya kepala mendadak pening, badan dingin, seiring dengan rasa mual di kerongkongan yang tak sanggup keluar. Tahu-tahu, aku sudah berada di suatu tempat. Mataku tersadar manakala sebuah tepukan berkali mendarat ke bahu. Pembaringan yang berbeda dari biasanya. Di sampingku duduk ibu dan adik. Sedang ayah berdiri menatap. Sementara di depanku, dua sosok memakai baju koko putih, berpeci hitam, sama berdiri memandang, setelah sebelumnya menundukkan wajah. Yang satu tua, satunya seperti masih berumur seperempat abad.
"Ambilkan minum, Pak!" Sosok tua tersebut menuding beberapa tumpuk minuman cup dari nakas. Dengan cepat, ayah mengambilnya satu, menegakkan punggungku, lalu meminumkannya padaku.
Kedua orangtua pun pergi, setelah orang yang tadi menganggukkan kepalanya menatap mereka. Kini di dalam kamar yang luas ini, tinggal kami bertiga. Aku, serta kedua orang berbaju koko itu.
"Panggil saya Pak Alim. Ini putra saya, Ilham." Ia memperkenalkan diri sambil menunjuk putranya yang ada di sampingnya. Tak lama, kedua orangtuaku muncul kembali. Kali ini membawa sebuah mukena milikku sambil memintaku untuk memakainya.
"Tunggu apa? Ayo pakai!" Ayah sedikit membentakku sambil memelototkan matanya. Diakhiri dengan sebuah cubitan kecil ibu pada pinggangku.
Sedangkan orang tua bernama Pak Alim itu ... sedang membuka sesuatu dalam peti kecil. Sebuah minyak, yang kemudian dioleskannya pada kedua tangan serta telinganya.
Aku sendiri masih terheran di tempat. Sebenarnya aku ini mau diapakan?
to be continued 😂😂
Kesadaranku tiba-tiba terpental dalam sebuah bayang masa lalu. Sosok yang hanya tampak punggung. Kemudian beralih dengan gambaran sebuah tangan yang tengah merobek sesuatu dengan sebilah pisau kecil. Tak menunggu lama, sesuatu pun dikeluarkannya. Sebuah batu kecil, persis seperti di genggamanku! Batu itu keluar dari balik wadah tersebut bersama potongan bulu-bulu kasar nan tipis semacam serabut kelapa. Dengan jelas, wadah kain hitam dari gelang pemberian Mbah Ti itu dilemparnya. Dan dalam sekejap saja, gambaran itu lenyap dalam benak, membekaskan berbagai tanda tanya yang masih berkelibat dalam pikir.
'Ini sebenarnya apa?' batinku bergejolak. Bingung dan sedikit resah. Tiba-tiba, sebuah suara mengagetkanku kembali, "Itu milikmu, Nduk. Ambil dan bawa pulang!"
Sontak terkesiap. Hati berubah tak karuan rasanya kala mendengar seruan barusan. Tidak. Kali ini bukan suara yang tadi. Tak asing betul suara itu terdengar di telinga. Seperti suara Mbah Ti, tapi entahlah!
"Pulang, dan berikan wadah untuknya. Simpan, bawa kemana pun pergi. Jangan pernah takut, Nduk! Hanya itu yang mampu kuberi agar kamu selalu ingat padaku. Itu yang terbaik dari segala peninggalanku. Kamu akan terbiasa. Tak usah takut! Dengan itu, kamu akan selalu terjaga."
Tak berani menoleh ke sana- ke mari, pun tak berani bergerak dari tempat. Jangankan untuk pergi, sekadar mengerjap saja rasanya kaku. Aku benar-benar ingin menangis. Takut, tapi tak tahu harus berbuat apa.
"Sinan!!"
Ah, tidak. Kali ini suara itu seperti suara ayah. Ketakutanku semakin menjadi-jadi. Kupikir hidupku benar-benar apes karena selalu diganggu oleh sesuatu, ternyata derap kaki yang terdengar membuatku sedikit menepis ragu. Dari belakang, tangan Ayah dengan sigap membalikkan badan. Cucuran air mata menggenang kemudian. Tampak juga Farida tersenyum tak jauh di belakang ayah. Tangan gadis itu melambai, sedang pilihanku mengabai. Ayah lalu mendekap erat, sebelum akhirnya menggendong dan membawaku pergi. Orangtua lelakiku itu masih terdiam, tanpa sedikit pun muncul perkataan. Kami pun pergi, diiringi senandung kecil Farida dari belakang. Sementara tanganku masih pula menggenggam erat batu kecil berwarna merah yang tadi ....
***
Sesampainya di rumah, ayah masih tak berkata apa-apa. Ia hanya menyuruh ibu memberikan jajanan agar membuatku tenang, lalu pamit mengambil wudhu. Kemudian ibu mendudukkanku di pangkuannya. Wajah ibu sedemikian khawatirnya, sampai berkali-kali mencium, memeluk dan membelai rambutku. Ia ambil satu kresek penuh jajanan yang sepertinya sudah disiapkan sebelumnya. Lagi-lagi matanya terlihat sembab, ada kesedihan terpancar dari balik wajah sendunya.
Di balik kediaman kami, Farida tiba-tiba muncul dari balik buffet. Gadis itu begitu sumringah menatap makanan yang ada di depanku, sampai-sampai berjalan menghampiri.
"Jangan ambil!" sentakku, saat ia menjongkokkan badannya ke meja. Entah kenapa, aku sedikit kesal melihatnya dari tadi.
"S-siapa, Sinan?" Ibu bertanya, yang kemudian refleks membuatku gelagapan. Farida langsung menghilang dari hadapan.
"I-itu ...." Bicaraku terpotong saat ayah kembali menemui kami di ruang tengah. Kali ini, aku langsung diserang berbagai pertanyaan yang terlontar dari mulutnya. Ayah terlihat begitu tegas dan kaku. Kenapa bisa aku ada di sana? Kenapa berjalan sejauh itu? Kenapa harus memilih lewat perkebunan belakang yang jalanannya gelap nan suram, daripada lewat jalan depan yang terang? Dan lain sebagainya ....
"Lalu, kenapa ayah kepikiran lewat di sana, sedangkan mustahil anak kecil seperti Sinan harus melewati jalan itu?" Belum mendapatkan jawaban apapun dariku, berganti ibu yang akhirnya memberi pertanyaan pada ayah.
Ayah menarik napas panjang, lalu menjawab, "Dari pedagang bebek di depan itu. Dia tahu Sinan berjalan ke belakang rumah. Dipikirnya sedang melihat hantu tadi."
Mendengar itu, ibu semakin mendekapku erat. Mengelus lenganku berulang kali.
"Sinan, sekarang jawab ayah! Apa yang kamu perbuat di sana? Kamu bersama siapa tadi?"
Suara tinggi ayah benar-benar membuatku takut. Antara gugup dan juga bingung harus berkata. Mata tiba-tiba kembali berkunang. Seiring kemudian, mendadak pening.
"Sinan sepertinya tak sendirian sekarang. Ada anu ...." Ibu semakin mendekatkan dirinya pada ayah. Mata ayah pun tertuju pada ibu. "Anu, Yah ... sepertinya benar kata teman ayah yang pintar itu. Dia berteman dengan ...."
Pendengaranku berhenti sampai di situ, aku sudah tak ingat lagi kejadiannya. Karena sebelumnya kepala mendadak pening, badan dingin, seiring dengan rasa mual di kerongkongan yang tak sanggup keluar. Tahu-tahu, aku sudah berada di suatu tempat. Mataku tersadar manakala sebuah tepukan berkali mendarat ke bahu. Pembaringan yang berbeda dari biasanya. Di sampingku duduk ibu dan adik. Sedang ayah berdiri menatap. Sementara di depanku, dua sosok memakai baju koko putih, berpeci hitam, sama berdiri memandang, setelah sebelumnya menundukkan wajah. Yang satu tua, satunya seperti masih berumur seperempat abad.
"Ambilkan minum, Pak!" Sosok tua tersebut menuding beberapa tumpuk minuman cup dari nakas. Dengan cepat, ayah mengambilnya satu, menegakkan punggungku, lalu meminumkannya padaku.
Kedua orangtua pun pergi, setelah orang yang tadi menganggukkan kepalanya menatap mereka. Kini di dalam kamar yang luas ini, tinggal kami bertiga. Aku, serta kedua orang berbaju koko itu.
"Panggil saya Pak Alim. Ini putra saya, Ilham." Ia memperkenalkan diri sambil menunjuk putranya yang ada di sampingnya. Tak lama, kedua orangtuaku muncul kembali. Kali ini membawa sebuah mukena milikku sambil memintaku untuk memakainya.
"Tunggu apa? Ayo pakai!" Ayah sedikit membentakku sambil memelototkan matanya. Diakhiri dengan sebuah cubitan kecil ibu pada pinggangku.
Sedangkan orang tua bernama Pak Alim itu ... sedang membuka sesuatu dalam peti kecil. Sebuah minyak, yang kemudian dioleskannya pada kedua tangan serta telinganya.
Aku sendiri masih terheran di tempat. Sebenarnya aku ini mau diapakan?
to be continued 😂😂
kicquck dan 14 lainnya memberi reputasi
15
Tutup