Kaskus

Story

bayubiruuuuAvatar border
TS
bayubiruuuu
-JANUR KUNING- [Based On True Story] [TAMAT]
HAI GAN/SIS, MASIH DENGAN KISAH HOROR. KISAH SATU INI AKU TULIS DENGAN SEDIKIT BERHATI-HATI KARENA MENYANGKUT ORANG, KAMI TIDAK ADA BERMAKSUD APAPUN HANYA SEKEDAR BERBAGI SESUAI YANG DIALAMI NARASUMBER. AMBIL SISI BAIKNYA (HIKMAHNYA) SAJA DARI THREAD INI, BUANG SISI BURUKNYA…

 
* CERITA INI FAKTA APA ADANYA SESUAI DENGAN INGATAN NARSUM, PERCAYA BOLEH TIDAK PERCAYA SILAHKAN, TIDAK APA-APA LEBIH BAGUS.

* SESUAI PERATURAN YANG DIAMBIL DARI KISAH NYATA SEMUA TOKOH, WAKTU DAN TEMPAT KAMI SAMARKAN DEMI KEHIDUPAN, KENYAMANAN DAN PRIVASI NARASUMBER SERTA PARA TOKOH.

* DILARANG SARA, IKUTI ATURAN H2H, MOMOD DAN ADAT ISTIADAT YANG ADA DI FORUM TERCINTA KITA INI.

* SILAHKAN DIBACA KALAU BERMINAT SAJA, KARENA TIDAK ADA PAKSAAN UNTUK MEMBACA CERITA INI.

* KALAU DIRASA PENTING SILAHKAN LANGSUNG PM SAJA GAN/SIS

* KALAU ADA SALAH KETIK/TYPO MOHON MASUKANNYA DAN APRESIASINYA.




 


-JANUR KUNING- [Based On True Story] [TAMAT]




DAFTAR ISI


1.PERMULAAN

2. RUMAH DILEMBAH

3. KEBUN BARU

4. KEHIDUPANKU

5. AWAL BENCANA

6. TEROR

7. RUQYAH

8. BERJUBAH HITAM

9. RUMAH SAKIT

10. TUMBANG LAGI

11. KIAI ALWI DAN KUSDI

12. EKSISTENSI MEREKA

13. JANUR KUNING

14. HARU

15. DUKUN HITAM DAN PARA PENGHUNI RUMAH DILEMBAH

15. B, LANJUTAN

16. TERBUKANYA TABIR

17. POV HARUN [TAMAT]
Diubah oleh bayubiruuuu 25-06-2021 11:01
nyils46Avatar border
jenggalasunyiAvatar border
pras219Avatar border
pras219 dan 43 lainnya memberi reputasi
42
57.2K
560
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.8KAnggota
Tampilkan semua post
bayubiruuuuAvatar border
TS
bayubiruuuu
#247
12. Eksistensi Mereka

Pagi menjelang tapi masih buta, rumah dilembah masih tertutup kabut putih yang pekat, Hawa yang dingin masih menusuk tulang. Sesuai janji semalam Ayah dan pak Slamet dipagi hari setelah sarapan pergi mencari dukun atau sejenisnya, kini tinggalah aku sendirian dirumah. Selesai bersih – bersih sekeliling rumah, kegiatanku kembali menunggu mamak sama Niko yang masih terkapar. TV kunyalakan sebagai penghilang rasa jenuh, beberapa puluh menit selanjutnya gelas dibawah meja rak televisi bergerak kesamping kiri secara perlahan, pandangan mataku sebelumnya fokus pada layar TV kini beralih turun pada gelas yang mulai bergeser pelan…

Quote:


Gerakan itu terhenti diujung meja, badanku awalnya rebahan kini mulai duduk berjongkok mengamati fenomena aneh ini. Semua panca indraku mulai mengamati gelas yang kini tepat didepanku. Setelah kuamati lama gerakan gelas diatas meja televisi tak bergerak lagi, merasa capek menunggu akhirnya tubuhku kurebahkan kembali bersama mamak. Tapi selang beberapa jam setelah berhentinya gelas dan aku yang dalam posisi rebahan???

Quote:


Badan ini langsung berdiri serta berjalan penuh penasaran, rasa hati ingin melihat asal suara, sampai akhirnya dipintu kamar langkah ini terhenti. Kulihat jendela mamak masih bergoyang, seingatku jendela mamak pagi tadi belum kubuka. Anggapku dipagi itu mungkin ada maling atau perampok, dengan nyali yang setengah menciut. Aku pergi kedapur untuk mengambil senjata, tangan kananku dengan cepat merebut sebuah pisau dapur dari rak piring.

Saat kabut mulai hilang, Langkah kakiku perlahan dengan sendirinya berkeliling rumah mencari sesuatu. Aku mulai memeriksa tiap sudut rumah sampai memutar diluar rumah berulang kali. Terakhir masuk kedalam rumah, semua kamar kumasuki satu persatu, tapi semuanya keadaanya kosong dan sepi. Tak ada satupun manusia atau mahluk selain kami bertiga dirumah pagi itu. Akhirnya aku kembali keruang tengah, dan beberapa jam kemudian ayah datang. Ia memarkirkan motor diteras sedang pak Slamet langsung kembali pulang, ayah dengan langkah gontai masuk keruang tengah serta menghampiriku dengan membawa bungkusan plastik hitam ukuran sedang.

Quote:


Selanjutnya sesuai permintaan ayah, perlahan kutebar garam disekeliling rumah sampai garam itu habis. Dalam hati Alhamdulilah semoga tidak ada mahluk yang mengganggu kami lagi, dan berharap mamak serta Niko cepat pulih. Selesai menebar garam kuhampiri ayah diruang tamu, dengan nada serius kuceritakan kepada ayah kejadian yang baru terjadi dirumah, ia hanya mengatakan “Semoga mulai sekarang kita semua aman bang”. Selama satu minggu beberapa syarat yang dibawakan ayah untuk dikonsumsi mamak dan Niko tak mengubah keadaan apapun. Hanya gangguan dari mahluk halus dirumah saja yang mereda selama satu minggu, Sedangkan ayah malah menjadi sering keluar sama pak Slamet. Karena ayah tau mereka masih belum ada perubahan, entah ia usaha kemana saja aku sendiri tak tahu.

Tapi tidak dengan fakta yang ada dirumah, setelah kejadian selama satu minggu gangguan terhenti kini dirumah muncul kembali bahkan lebih sering. Mereka para mahluk astral yang entah dari mana terasa ingin menampakkan eksistensinya semua, kini bukan hanya sekedar bau amis dipagi hari dan busuk disore hari. Seperti disuatu hari yang sudah siang sekitar jam sebelas setelah ayah pergi dengan pak Slamet…kudengar dari dapur

Quote:


Suara itu membangkitkan aku untuk mendekati dapur, kulihat memang banyak berserakan piring-piring yang pecah dilantai. ‘Siapa juga siang-siang pada banting piring kayak gini pikirku’, saat aku melangkah didapur dan mulai membersihkannya tiba-tiba ada suara “pergi kau!!!” suara yang tak kuketahui dari mana sumbernya.

Spontan saat itu aku lari dan mengunci lagi pintu dapur dari ruang tengah. Aku langsung bergabung tidur tengkurap dengan Niko dan mamak dikamar tengah. Dalam posisi masih tengkurap suara bantingan piring kaca diganti dengan tangisan yang melengking…di siang hari!!! dalam kondisi ketakutan aku tetap tengkurap cukup lama dan kututup kepalaku dengan bantal, hal ini akhirnya juga membuatku sesak nafas. Disaat dadaku sesak parah kakiku ada tangan menyentuh “bang bangun bang, ini ayah?” Perintah ayah yang sudah berdiri dibelakangku

Setelah kusadari itu suaranya ayah, akhirnya aku berbalik dengan nafas yang masih berat nan sesak. ”Kenapa bang” Tanya ayah.

Quote:


Ayah yang mendengar keteranganku langsung kedapur. Ia sendiri tanpa pikir panjang memindah sementara peralatan dapur, dan sebagian bahan makanan keruang tengah. Aku yang masih takut dan letih akhirnya tertidur. Waktu tidur dalam beberapa jam telingaku mendengar…Kraaakkkk…kraaakkk….suara cakaran dari kamar Niko. Aku mengira ayah yang didalam kamar Niko tapi selang beberapa saat ayah keluar dari kamar mandi. “Ku kira ayah didalam kamar Niko?” Kataku

Quote:


Setelah itu aku langsung menuruti permintaan ayah, kegiatan mandi cepat kulaksanakan sore itu karena masih takut dan ingat betul didapur akan kejadian tadi siang.

Malam hari ketika aku bersama ayah sudah mau tidur diruang tengah, suara mulai terdengar dari kamar ayah”…glodak…glodak...glodak…”ayah mengira itu tikus, sehingga ayah yang tanggap langsung pergi kekamarnya. Setelah beberapa saat ia kembali tidur bersamaku. “Ada apa yah” Tanyaku yang tidur disampingnya.

Quote:


Jawab bohong ayah untuk meredam ketakutanku, padahal aku sendiri yakin itu bukan bukan suara hewan. Tapi aku tetap mengiyakan saja jawaban kepada ayah. Suara – suara seperti ini menjadi hal yang mulai sering terjadi dirumahku, tidak perduli waktu siang atau malam. Aku sendiri yang masih polos hanya bisa menanamkan rasa takut yang mendalam tiap hari dan was-was.

Kondisi semacam ini terus berlanjut hingga memasuki bulan ketiga, mereka berdua tetap setia pada sakitnya. Akupun tetap setia merawatnya, meski harus kutinggalkan bangku sekolah yang hampir lulus tahun itu. Selama itu ayah sudah berulang kali keluar rumah untuk mencari solusi atas kejadian yang menimpa kami. Tapi dari semua usaha ayah selalu belum membuahkan hasil atau bisa dibilang “gagal”, karena belum memberikan perubahan apapun pada mamak dan Niko.

Bulan ketiga diminggu pertama.
Malam hari yang sepi, lembah yang sudah tertutup kabut…aku yang sudah tertidur samar-samar mendengar lirih gesekan parang yang diseret sesorang dari luar memutari rumah kami. Aku hanya diam saja dalam posisi tidur, karena kutahu ini smeua mahluk setan yang sedang mengganguku. Selang beberapa jam setelah suara itu menghilang dari atap kamar ayah tiba-tiba…

Quote:


Sontak aku langsung berdiri dan berlari menuju kamar ayah, kunyalakan lampu kamar. Sinar bohlam lampu putih yang terang menyinari kamar ayah, mataku memandang dari ujung-keujung kamar tidak ada apapun. Semua benda dan letaknya masih tetap sama, tidak ada yang bergeser sedikitpun.

Quote:


Telingaku yang mendengar suara dari ruang tengah, telapak kakiku langsung berjalan menuju sumber suara tanpa mematikan bohlam putih kamar ayah lagi. “Kenapa yah?” Tanyaku sambil melihat muntahan ayah diremang cahaya ruang tengah. “Gak tau bang” Jawab ayah dengan bibir bergetar serta kepalanya mulai berkeringat.

Kuhidupkan sumber cahaya putih kamar tengah yaitu lampu utama untuk membersihkan muntahan ayah, Penglihatanku mendapati darah segar yang keluar dari mulut ayah. Sebagian sprei dan kasur yang menjadi bekas tempat tidur ayah menjadi merah hitam, serta bajunya mulai berbau amis.

Spotan aku kaget, saat itu juga aku langsung membopong ayah serta memindahkannya keruang tamu, kondisinya malam itu ayah sangat lemah. Aku baringkan ia dikursi panjang untuk sementara dengan bertujuan menenangkan beliau, selanjutnya kutinggalkan ayah di ruang tamu sendirian sebentar. aku yang panik kembali kedapur untuk mengambil air dan membuat minuman hangat diruang tengah. Sekembalinya dari dapur keruang tamu, diriku merawat ayah dengan hati-hati, setelah ia aku kembali keruang tengah.

Aku yang masih panik membersihkan bekas muntahan ayah dengan cepat serta mengganti spreinya. Saat kubawa sprei serta mau merendam bekas muntahan ayah disamping sumur, tiba-tiba diatas sumur sudah wanita dengan bayinya ini kembali muncul,,,ia tetap memakai baju putihnya yang lusuh memanjang, wajah yang pucat dan tangis sesenggukannya menatap bayi yang digendongnya. Tanpa bisa berkata apapun lagi, aku langsung lari kedepan menuju ruang tamu. Badanku langsung bersimpuh merapat kepada ayah yang terbaring dikursi,

Quote:


Sejak malam itu ayah ikut tergolek lemas dirumah, ia merasa tubuhnya panas terus meski besoknya sudah berobat kedokter. Akhirnya lambat laun ia ikut terbaring juga bertiga diruang tengah. Kini tinggallah aku satu-satunya yang masih sehat dikeluargaku. Tapi ayah masih bisa bicara, melihat dan sesekali berjalan tapi jalannya terbatas dirumah saja karena kondisi fisiknya yang lemah. Kegiatanku saat pagi menjadi bertambah untuk merawat ketiga anggota keluargaku, terkadang aku juga minta bantuan pak Slamet ketika ia berkunjung kerumahku.

Bulan ketiga diminggu pertama akhir, tepatnya hari sabtu. Malam yang tak pernah aku inginkan. Sehabis Isya’ saat aku duduk santai diteras sendirian mengusir kebosanan, kulihat Intan dari kejauhan keluar dari rumah depan sedang berpeluk mesra dan manja bersama Angga. Senyum bahagia mereka terlihat sangat terpancar dari keduanya. Beberapa menit kemudian dari kejauhan ia melihatku, spontan dengan cepat mereka berdua bergegas untuk pergi yang aku sendiri tak tahu kemana tujuannya.

Aku tetap hanya diam duduk termenung, tanpa berucap apapun. Tak sadar aku yang sendirian bengong meratapi nasib hidupku, hanya memainkan kedipan mata. Dengan pelan mata ini mulai mengeluarkan rembesan air yang tak kuminta. Tak sadar dari sampingku, ada tangan hangat meraih pipiku untuk menyeka rembesan air dengan pelan…

Quote:

Masih dalam suasana sesak didada langkah ini langsung masuk kedalam rumah bersama ayah, untuk menemani Niko yang masih belum bisa bicara dan memijit mamak serta ayah. Mataku yang sudah mengering hanya fokus melihat acara TV dirumah, hingga tak terasa waktu sudah tengah malam.

Saat mereka sudah tertidur semua dari halaman rumah, aku mendengar suara ada langkah anak kecil sedang bermain berlarian, seingatku tetangga terdekat disini cuma dua rumah dan tak punya anak kecil. Kalaupun ada anak yang bermain pasti siang hari tapi hal itu jarang terjadi dihalaman rumahku. Dengan hati yang masih sesak aku berjalan kejendela serta menyelingkap sedikit selambu ruang tamu untuk melihat siapa gerangan yang main di tengah malam ini.

Sesampainya dijendela depan, mataku langsung melihat pemandangan halaman rumah yang tertutup kabut tipis. Dari dalam kabut terlihat dua anak kecil berlari – lari kejar mengejar dihalaman rumah. Mereka berlarian memakai gaun putih yang indah tapi dengan rasa saling adu amarah, kuamati cukup lama kegiatan mereka tanpa rasa curiga. Tapi sekian lama anak – anak perempuan ini malah berlari mendekat kearahku, terlihat dari wajahnya pucat semua. Terus mereka bermain lagi berlarian beputar-putar diterasku. Diakhir permainan mereka yang saling mengejar, keduanya berlari kearahku tepat dijendela. Waktu kulihat mereka berdua menembus dinding rumah…disaat yang sama aku menunduk melihat badanku serta samping kanan-kiriku, ternyata anak-anak yang berlarian itu menghilang entah kemana.

Sejenak aku terdiam dan sadar bahwa anak-anak ini bukanlah manusia yang nyata, melihat keganjilan ini badanku berputar cepat berbalik arah kembali keruang tengah. Tapi sewaktu berjalan cepat menuju ruang tengah sekilas mataku melihat kekiri ada sosok tiga orang yang duduk dikursi ruang tamu dengan berwajah pucat serta tatapan kosong. Satu laki-laki, satu perempuan dan satu anak laki-laki ditengahnya. Dengan cepat aku berlari dan langsung mengunci pintu ruang tengah sebagai pembatas antara ruang tamu dan ruang tengah.

Quote:


Sampai dikasur ruang tengah dengan cepat badanku tengkurap meringkuk disamping ayah, tak sadar aku membangunkan ia yang sudah tidur.

Quote:

Malam itu akhirnya aku tertidur dalam dekapannya ayah, tapi tidur dalam ketakutan rasanya jantung mau copot. Selalu was-was ketika mereka mulai menampakkan eksistensinya dirumah. Subuh menjelang, akupun tidak seperti biasa. Hari itu aku cuma melaksanakan kewajiban dengan tayamum dan ritual wajib diruang tengah, jelas perasaan trauma berat yang kuhadapi malam itu. Selesai melaksanakan kewajiban bersama ayah, aku mau memasak tapi kulihat diujung ruang ini bahan makanan kami habis. Rencana pagi itu aku mau kepasar untuk beli bahan makanan. Kuhampiri ayah yang sedang duduk nonton TV...

Quote:

Suasana shok jelas yang ada dalam otakku dipagi hari, jiwa muda yang tadinya tak terima atas jawaban ayah, perlahan luluh dan menyerah karena keadaan sudah seperti ini. Dalam diam otak ini berpikir ulang, mau tak mau harus menerima kenyataan ini dan harus berpikir keras untuk bertahan hidup dirumah lembah. Tanpa pikir panjang lagi, dihari yang masih pagi aku langsung kerumah pak Slamet untuk minta bantuan, sukurnya ia baik hati dan mau membantu kami untuk beban masalah ekonomi.

bonita71
mincli69
sampeuk
sampeuk dan 21 lainnya memberi reputasi
22
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.