Kaskus

Story

RifanNazhifAvatar border
TS
RifanNazhif
Bukan Kumpulan Kisah Nyata Tapi Ada di Kehidupan Nyata
Bukan Kumpulan Kisah Nyata Tapi Ada di Kehidupan Nyata


Senja Di Bandara

Saya mencoba memberikan senyum terindah sambil mengulurkan tangan. Kau mencoba membalas, meski  sebatas ringisan. Hujan menggambar cahaya  menjadi suram. Senja yang muram. Hujan juga begitu terlatih memetakan gigil di pelupuk kaca.  Dingin menyelimuti seluruh calon penumpang pesawat di ruang tunggu ini.

Bunyi pengumuman bahwa pesawat merah itu akan delay sekitar setengah jam lalu, membuatku de javu. Si merah lagi, si merah lagi. Mengapa sih dia suka diberikan rapor merah yang memualkan? Saya mengumpat.
Tadi, sejak turun dari taksi, saya sudah membayangkan kasur empuk. Saya telah membasuh tubuh dengan air suam-suam kuku. Mungkin masih ada sisa minuman di kulkas. Tentu ditemani kripik, suasana dingin menjadi sedikit, yah, menyegarkan. Sembari berbaring di kasur sambil menggonta-ganti channel, waktunya berburu film yang paling romantis di akhir pekan ini.

Brengsek! Tapi setelah pengumuman delay, hidup saya seakan punah. Sebuah lagu melow dari headphone, saya yakin tak akan berhasil mendinginkan rasa. Malahan menambah banyak antrian gerutu dan gerutuan. Kalau ada Olympiade Gerutuan Tingkat Dunia, mungkin saya akan menjadi pemenangnya.

Saya mencoba membunuh suntuk sembari membaca novel dengan tebal 400 halaman, yang sudah tiga kali saya khatamkan. Tapi jujur, ada beberapa halaman yang saya lewatkan, karena akan mengganggu pikiran saya tentangmu. Artinya, saya tentu akan mengingatmu lebih dalam.

Dan syukurlah, setelah kita duduk berhadapan, saya seolah mendapat durian runtuh. Entah kenapa hati saya berorak riang. Saya harus meminta maaf kepada si merah. Perantaranya, saya harus menunggu tak pasti. Perantaranya pula sehingga saya bisa bertemu dirimu. Dengan sebuah senyum ringisan. Dengan menjaga image sambil menyembunyikan tangan di balik kantung blazer. Artinya, apakah kau risih menerima uluran tangan saya dengan telapak kasar karena tak ada perempuan yang merawatnya?

Saya ingat pertengkaran itu di awal retaknya hubungan kita. Kau membuyarkan gairah meja makan di malam itu. Kau bercerita tentang gadis mungil, berwajah manis, yang tak mempunyai ayah-ibu. Kau sudah menanyakan ke induk semangnya, dan dia setuju-setuju saja. Kau bertanya kepada gadis mungil itu. Kau akhirnya mendapat pelukan girang darinya. Katamu, tangis  tak terbendung. Kau pun setuju gadis mungil itu akan kita adopsi.

Dengar, bukan kita adopsi! Kau sendiri yang mau mengadopsinya. Saya  merasa terhina. Saya tahu setelah kecelakaan hebat di kilang minyak itu, membuat saya kehilangan kejantanan. Saya diultimatum dokter tak akan bisa memberikanmu kepuasan bathin. Dengan mengaposi si gadis mungil, apakah kau ingin menyindir, saya tak bisa memberimu anak? Shit!

Padahal sperma saya tak masalah. Kenapa kau tak pernah menanyakan saya bagaimana kalau kita mengikuti program bayi tabung di Singapura?

Oya, ternyata saya menemukan bukti  beberapa minggu kemudian. Bau parfum Bvlgary Man yang lengket di blousemu. Saya selalu marah-marah setelah itu. Saya tak pernah mau mendengar pertanyaanmu, apa sebenarnya masalah kita.

Dan bukti selanjutnya, saya melihatmu berulangkali dengan seorang lelaki tampan di beberapa restoran. Saya catat ada sekitar lima kali. Lagi-lagi kita bertambah sering ribut. Saya pun memutuskan kita pisah ranjang. Sebulan berselang pisah rumah. Setahun kemudian kita---sebenarnya saya yang ingin---berpisah untuk tak bertemu lagi. Bukankah itu lebih baik daripada kita seakan setumpuk bara dalam sekam, yang pada akhirnya akan menjelma api?

Sehingga berbulan lalu saya mendapat cerita dari teman akrabmu, bahwa lelaki yang sering bertemu dirimu adalah seorang dokter kandungan. Kau sebenarnya ingin bertanya banyak tentang seluk-beluk program bayi tabung. Dan mengenai parum itu, ya, Allah. Kenapa saya lupa kau adalah pemilik sebuah butik? Kau juga menjual parfum bermerk. Yah, saya sadar, terkadang sakit hati yang sengaja dibuat-buat, pada akhirnya membuat diri kalap. Jujur, saya waktu itu sangat kehilangan akal sehat.

Saya akhirnya tersentak. Ruang tunggu bandara mulai sepi. Kau pelan menepuk bahu saya. Saat itulah saya sadar, hanya seorang perempuan setengah tua yang saya lihat dari tadi. Saya menepuk kening dengan kesal. Ternyata kerinduan, apalagi dibarengi rasa bersalah, akan mempercepat kehilangan akal sehat. Dan saya semakin buta karena menginginkanmu.


---sekian---




Quote:


Quote:


Quote:
Diubah oleh RifanNazhif 08-01-2020 15:11
NadarNadzAvatar border
nona212Avatar border
User telah dihapus
User telah dihapus dan 14 lainnya memberi reputasi
15
2.2K
34
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.9KAnggota
Tampilkan semua post
RifanNazhifAvatar border
TS
RifanNazhif
#19
Ayah Mengajariku Pintar Marah
kaskus-image
sumber ilustrasi

Aku terbangun karena suara anak-anak ribut di depan rumah. Hari masih siang, tapi tidurku terhalang. Tadi malam aku bekerja shift malam. Ingin rasanya membentak anak-anak itu.

Aku mencari sendal dengan ujung jempol kaki. Melihat wajah kusut di cermin. Kurang tidur! Aku baru saja terlelap sekian menit. Ah, anak-anak itu.

Hampir saja aku membentak mereka, tapi urung. Aku melihat Anton di situ. Dia anakku yang bertubuh bongsor. Suka berseberangan denganku. Sering membantah. Hampir setiap hari dia ribut berebut ponsel, atau beragam lainnya dengan si bungsu.

Apa sih yang mereka bicarakan? Tak sadar, bukan membentak mereka, aku malah menguping.

“Ayahmu suka marah nggak?” Itu pertanyaan Anto kepada kawannya.

“Kadang-kadang. Kalau aku malas disuruh apa-apa, dia suka membentak. Tapi ketika tidak ada yang akan dikerjakan, dia lebih suka di belakang komputer. Atau sibuk bertelepon. Bila dia sedang senang, aku sering diajak jalan-jalan. Ayahmu suka marah nggak?”

“Enggak!”

“Asyik sekali! Aku ingin memiliki ayah yang demikian.”

Anton menghela napas. Dia melanjutkan, “Ayahku memang nggak pernah marah. Tapi sejak aku berumur empat tahun, dia mulai sering mengajariku agar pintar marah.”

“Maksudmu?”

Dan mulailah kenangan itu dikupasnya satu demi satu. Tentang seorang ayah yang pulang kerja hampir mirip banteng mengamuk. Si ayah menanyakan mana minumannya. Sementara seorang perempuan sedang menyuci pakaian di kamar mandi.

Si ayah marah-marah tak tahu aturan. Anton ada di antara mereka seakan kain gombal yang tak ada perasaan. Anton mungkin mulai berpikir, marah itu asyik. Si ayah berhasil perempuan itu menangis, ditambah sebuah engsel terlepas, hasil kesuksesannya memukul daun pintu.

“Pokoknya hampir tiap hari ayahku di rumah, kerjaannya marah-marah. Segala macam kata-kata jorok terbang dari mulutnya. Berbagai nama binatang berlompatan. Sejak itu aku mulai belajar bagaimana cara marah.” Mata Anton seakan tertawa bengis.

Dia merasa bersyukur karena akhirnya setelah berusia enam tahun, dia memperoleh adik baru berjenis kelamin perempuan. Dia pendam keinginan mempraktekkan cara marah hampir empat tahun. Artinya, saat itu adiknya mulai mengerti dengan orang yang sedang marah.

Maka ketika ayahnya marah-marah dengan perempuan itu sepulang kerja, timbul giliran Anton memarahi adiknya, sedangkan si ayah sedang tertidur. Segala upaya Anton lakukan. Dia selalu berusaha membuat keributan. Misalnya, dia meminta perempuan itu membuat semisal es susu. Maka dia katakan kepada adiknya, bahwa es susu itu bukan main lezatnya. Saat si adik merengek minta dibagi, mulailalah Anton marah-marah mengeluarkan kata-kata jorok dan seluruh nama penghuni kebun binatang.

Hasilmya, mulutnya mulai belajar bagaimana pedasnya cabe giling. Perempuan itu yang melakukannya. Dia meminta ampun, berjanji tak akan melakukannya. Tapi besok dan besoknya lagi, dia dengan senang mengulang lagi, meski gagang sapu mulai bisa bicara. Meski dia sering diisiolasi di kamar mandi. Alangkah nikmatnya!

Si ayah juga seakan tak tahu malu sering mengomel. Bahwa marah-marah itu tak baik. Temannya setan. Anton hanya bisa terseyum. Sungguh tak sopan melawan guru. Guru kencing berdiri, murid kencing berlari. Itu artinya marah yang dia punya, levelnya harus lebih tinggi dari level marah si ayah.

Rumah pun bagai kapal pecah oleh suara. Bising sekali setiap hari. Keributan yang memang diciptakan. Menciptakan amarah membara yang bisa membakar siapa saja.

Anton berdiri. “Asyik kan menjadi pemarah itu? Ayah berhasil mengajariku. Sekarang aku harus bekerja lagi.” Dia seakan tentara siap perang mendatangi seorang gadis kecil yang sedang bermain anak-anakan. Boneka-boneka berhamburan dia tendang. Suara tangis terdengar, diikuti lengkingan istriku dari dapur. Sementara aku hanya bisa terduduk lesu di depan cermin. Melihat wajah seorang lelaki; ayah yang gagal mendidik anakya.
-----


Diubah oleh RifanNazhif 08-01-2020 15:09
sempelbener
kucingkampung97
evihan92
evihan92 dan 5 lainnya memberi reputasi
6
Tutup
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.