Kaskus

Story

adivaazzahraAvatar border
TS
adivaazzahra
My Diary
My Diary
Sumber

Assalamu'alaikum sobat kaskuser. Kembali bareng Adiva di sini. Dalam thread kali ini, Adiva mau mencoba mengisi forum Stories from The Heart. Semoga sobat kaskuser suka dengan karya saya ya😇


My Diary

Part 1

***

Menjadi mahasiswa(i) adalah impian sebagian besar orang. Mengapa? Sebab di bangku kuliah akan ada banyak kisah-kisah menarik yang menanti kita. Juga tentang kisah pembuktian seorang anak kepada orang tuanya bahwa mereka bisa dan terkadang ada orang di sekitar lingkungan tempat tinggal yang seakan meremehkan kita. Sebab itulah sehingga jiwa-jiwa muda dalam diri terkadang beronta dan ingin melawan. Jalannya hanya satu, cukup dengan dibuktikan.

***

Nah, kenalin nih. Namanya Azzahra, dia adalah mahasiswa unik yang pernah kutemui di kampus. Mengapa unik? Iyalah, soalnya dia bertahan mencintai orang yang tidak tulus dengan dia padahal ada orang lain yang sedang menanti balasan perasaan darinya. Tapi bukan salah dia juga sih, secara dia tidak tahu bahwa ada seseorang yang sedang memendam perasaan kepadanya.

Dia berasal dari kota di seberang pulau sana. Kami telah bersama selama dua tahun belakangan. Orang yang menyukainya juga teman sekelas kami sendiri. Wah, seru ‘kan? Aku saja yang hanya sahabatnya di kelas terkadang dibuat tersenyum karena hal itu.

“Woi, masih mau bertahan sama dia? Apasih yang buat kamu bisa sampai segitunya buat bertahan sama dia?” tanyaku suatu ketika.

“Ya, karena aku ingin menemaninya berjuang dari nol,” jawabnya simpel.

“Yakin gak mau buka hati buat yang lain? Banyak laki-laki di luar sana yang suka sama kamu.”

“Ya, yakin gak yakin sih. Tapi ... aku kasih kesempatan dulu buat dia ngebuktiin apa yang dia ucapin ke aku.”

“Yaudah iya, terserah. Asal kamu tahu saja, berjuang sendirian itu melelahkan dan menyakitkan.”

Di kelasku, ada seorang laki-laki namanya Adrian, dia sudah menyukai Zahra sejak zaman masih MABA. Sedangkan sekarang kami sudah semester 5. Sudah lama bukan, dia memendam perasaannya? Aku salut sama si Adrian ini.

***

Aku teringat pada perkenalan awal kami saat masih MABA. Saat Zahra duduk di bangku-bangku pojokan kelas, si Adrian tiba-tiba datang dan duduk di dekatnya. Dia langsung berdiri dong ya karena merasa aneh duduk berdekatan dengan laki-laki asing. Padahal teman sekelas doang. Adrian pun langsung berkata seperti ini waktu itu,

“Wah, pengen kujadikan istri deh.”

“Yakin, bisa? Jangan ketinggian mengkhayalnya, Bro,” timpal Ridho sahabatnya.

“Iyalah. Lihat saja nanti,” jawabnya sangat yakin.

Aku tak tahu, apakah Zahra mendengar percakapan dua sejoli itu atau tidak. Tapi yang pasti bahwa aku mendengarnya dan tersenyum dibuatnya. Sekarang aku baru tahu bahwa saat itu, Adrian sengaja mencari perhatian kepada Zahra tetapi dia dicuekin.

Kasihan banget ya nasibnya. Tapi aku salut deh sama perjuangan Andra. Secara dia bisa memendam rasa sampai selama itu untuk satu orang wanita seperti Zahra ini yang punya tipe sangat cuek sama seseorang kalau di hatinya sudah ada nama yang bertahta.

***

Aku juga masih teringat dengan kejadian di mana dosen bahasa Inggris membagi mahasiswa menjadi 10 tim. Saat itu kami ditugaskan untuk membuat video wawancara dengan bule, kalian tahu bule ‘kan? Yah, orang asing.

Itu adalah tugas final alias tugas akhir semester. Nah, Adrian ketemu deh sama aku sama Zahra dalam satu tim. Kelihatannya dia tuh bahagia banget bisa satu tim sama wanita yang dipuja. Eaak, lebay dikit tak apalah.

“Ra, kita satu kelompok ‘kan ya. Nanti kirimkan saja teksnya yang harus dihapal apa, lewat Whatsapp."

“Oke, nanti dikirim kalau sudah jadi.”

“Tahu nomor Whatsapp-ku ‘kan?”

“Hehe, enggak tahu.”

“Nanti aku chat duluan.”

“Iya, oke.” Aku dan Zahra kemudian berlalu meninggalkan Adrian and the geng.

***

Di Pantai Losari

Ah, iya aku lupa. Tempat kami membuat video itu di sini. Di Pantai Losari, salah satu pantai yang ada di kota Makassar.

Sore itu, kami menghabiskan waktu bertiga untuk berjalan-jalan di sana sambil menikmati pemandangan dan tentunya mencari orang asing yang siap untuk diwawancarai. Sayangnya, hingga senja menampakkan diri, tak satu pun orang asing kami temui.

“Udah, ah. Pulang saja, berkumpul dengan yang lain di sana. Udah capek ini,” keluh Zahra.

“Iya, duluan saja ke sana. Nanti aku menyusul deh,” jawab Adrian. Kemudian Zahra menarik tanganku dan segera berlalu dari hadapan Adrian.

Sesampainya di tempat teman-teman berkumpul. Kami berdua memilih duduk di bangku-bangku yang tersedia. Teman-teman yang lain ada yang berdiri dan berpose di depan kamera.

Beberapa saat kemudian, ada teman yang membuka bungkus makanan dan membagikannya dengan teman-teman. Nah, pas giliran si Andra, dia tidak mau mengambil dan memberinya ke orang lain sebelum Zahra mengambilnya tapi sayangnya tawaran itu ditolak oleh Zahra. Akhirnya dia ditertawakan sama teman-teman yang lain.

“Zahra, nih ambil dulu. Pasti laper ‘kan?” tawar Adrian kepadanya sambil berjongkok ala-ala gitu. Tingkahnya itu membuat Zahra malu jadi pusat perhatian.

“Nggak, aku tidak lapar. Makan saja, kasih yang lain juga,” jawabnya sambil asik bermain ponsel. Ah, dasar si Zahra, kasian anak orang digituin.

“Baiklah, Tuan Putri,” katanya sambil tersenyum.

“Andai aku jadi Zahra, udah kuterima saja makanannya tadi. Kasian anak orang, malu gitu,” gumamku dalam hati.

“Udah sana, jangan bikin salting anak orang deh.” Akhirnya aku menegurnya.

Teman-teman yang lain pun sudah kembali asik berpose, berebut makanan yang tadi dan ada juga yang bercerita kepada ibu dosen bahwa belum menemukan orang asing yang bersedia diwawancarai kemudian meminta izin dan waktu untuk bisa kembali ke tempat tadi untuk mewawancarai turis.

Setelah mendapat persetujuan, ada yang memilih pulang saat dosennya juga pulang. Sebagian besar memilih melanjutkan perjalanan dan sempat mengambil gambar juga dengan teman sekelas.

Ah, ya. Aku melupakan sesuatu. Selama pencarian turis, si Adrian kerap kali bermanja-manja sama si Zahra. Mulai dari nyuruh bawain almamater sampai minta dibeliin makan juga.

***

Selepas tugas di Pantai Losari, setiap ada tugas kuliah, Adrian dan sobatnya selalu meminta bantuan Zahra untuk menyelesaikan tugasnya. Selalu ada alasan untuk menghubunginya, mulai dari alasan yang sangat klasik sampai yang mengada-ada.

Mulai dari minta tolong buatin tugas, minjam laptop, minjam uang, dan kadang juga bawain makanan. Sampai-sampai orang di kosnya Zahra ngira dia itu kekasihnya.

Suatu hari, malam-malam Adrian datang mencari Zahra.

“Ra, di bawah ada yang nyariin. Laki-laki, tinggi, ganteng, mungkin teman kelasmu atau fans,” teriak salah satu penghuni kos.

“Iya bentar,” jawabnya sambil bersiap keluar.

“Siapa yang bertamu malam-malam gini, Ra?” tanyaku penasaran.

“Aku tidak tahu, ayo temenin turun.”

Sesampainya di bawah ...

Bersambung

Nantikan kelanjutan karya absurd dariku ini ya kawan-kawan.🙃


Salam Manis

Adiva Azzahra

Gowa, 4 Januari 2020


Part 2
Part 3
Part 4
Part 5

Req Closed Thread TS : https://www.kaskus.co.id/show_post/5...157d34d/1236/-
Diubah oleh KS06 24-04-2020 10:25
lina.whAvatar border
NadarNadzAvatar border
nona212Avatar border
nona212 dan 18 lainnya memberi reputasi
17
2.3K
58
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.8KAnggota
Tampilkan semua post
adivaazzahraAvatar border
TS
adivaazzahra
#24
Part 3
Mereka terlihat akrab bagai keluarga yang baru dipertemukan oleh Allah setelah lama tak bertemu. Mereka berasal dari berbagai daerah dan tempat yang berbeda. Tak pernah terlintas dalam benak Zahra bahwa persahabatan yang mereka jalin, akan hancur dan berantakan suatu hari nanti.

Setelah Linda memutuskan untuk mengambil kamar kos bersama kakak lelakinya yang satu pondokan dengan Zahra. Masalah dimulai saat kakak laki-laki Linda mendekati Zahra. Katanya ingin menjalin komitmen dengannya, menjalani hubungan yang serius.

Kakaknya Linda:
Dek, biasanya kalau vocer habis, belinya di mana kalau di sini?
Zahra:
Enggak di mana-mana sih. Aku jual soalnya.

Kakaknya Linda:
Isikan dulu dong yang vocer di bawah. Ini mau habis tapi tidak tahu di mana belinya.
Zahra:
Siap. Sebentar ya.

Kakaknya Linda:
Oke, terima kasih ya, Dek.
Zahra:
Iya kak. Santai.

Kakaknya Linda:
Bayarnya nanti ya.
Zahra:
Iyalah, kak. Aku ‘kan masih di kampung. Tunggu pulang di kos dulu baru bisa bayar.


***

Zahra tidak tahu, jika itu hanya akal busuk yang digunakan oleh lelaki itu agar bisa terus-terus menggantungkan diri padanya. Ia terlalu polos sehingga dengan mudahnya ia terperangkap oleh janji-janji manis yang terlontar dari bibir Rangga.

Hari demi hari berlalu. Hubungan mereka semakin dekat dan terlihat akrab. Rangga kerap kali meminta dibelikan pulsa, vocer data dan sebagainya. Benar-benar menguras isi dompetnya. Hingga akhirnya Zahra memutuskan untuk bekerja paruh waktu.

“Katanya kamu kerja, ya, Ra,” tanyaku saat mendengar kabar jika Zahra bekerja sepulang kuliah.

“Iya. Lumayan buat mengisi waktu dan cari pengalaman juga.”

“Di sana kamu kerja sama siapa dan kerja apa?”

“Hanya kerja laundry, berdua doang di sana tapi nyaman kok tempatnya.”

“Oh yaudah deh kalau kamu nyaman, nanti ke tempat kerjanya bareng sama aku saja ya. Sekalian mau lihat tempat kerja kamu.”

“Iya, boleh.” Kami pun kembali melanjutkan menyimak kuliah hari ini hingga selesai.

***

Menjelang sebulan bekerja di tempat itu. Rangga kembali berkata pada Zahra bahwa dia butuh uang dan mau meminjam uang padanya. Sebab, kata dia Zahra punya uang tabungan. Padahal setahuku, uang itu untuk dibelikan _printer_ tetapi dia tak mau mendengarkan alasan dari Zahra.

Zahra akhirnya mengiyakan. Katanya, ini juga untuk membantu Linda. Katanya Linda minta dibelikan Hp ke kakaknya tetapi Rangga tidak cukup uang untuk membeli yang baru. Jadilah ia meminjam pada Zahra. Ia meminjam dengan janji akan membayar dan melunasi semuanya 3 bulan berikutnya.

“Nanti deh, aku lunasin di Bulan Maret.”

“Beneran diganti pas bulan itu ya? Ini uang buat aku tabung beli print dan buat perbaiki Hp aku juga.”

“Iya, nanti diganti. Takut amat sih.”

“Iyalah takut. Ini uang pertamaku dari hasil kerjaku sendiri.”

Mulai hari itu, setelah Zahra meminjamkan uang itu, ia kembali kehilangan kabar tentang Rangga. Ah, andai ia cepat mengetahui akal busuk Rangga. Ini semua tidak akan terjadi. Sebab, Rangga tidak menepati janjinya. Katanya bulan Maret akan melunasi semuanya.

Namun, hingga 6 bulan berikutnya justru Zahra harus selalu menangis saat ia kelaparan dan Rangga tak pernah peduli dengan hal itu. Ia selalu beralasan tak punya uang untuk menggantinya. Selain itu, Linda juga marah besar kepada Zahra karena masih selalu berhubungan dengan kakak lelakinya.

“Aku rasa, kakakku tidak pantas sama kamu. Dia bukan orang alim yang paham tentang agama,” bisiknya di telinga Zahra. Namun, ia diabaikan oleh Zahra.

“Vi, ini kumpulkan juga ya tugasku. Aku buru-buru soalnya. Pak bos sudah nelpon dari tadi,” seru Zahra kepada Vivi teman kelasnya.

“Iya, Ra,” jawab Vivi.

Hari itu adalah hari paling berat yang dialami olehnya. Sebab, semua temannya juga perlahan pergi. Entah apa yang membuat mereka pergi. Ini semua pasti ada sangkut pautnya dengan masalah yang ada antara dirinya, Linda dan kakak laki-laki Linda.

Tuhan, salahkah aku bila aku berniat untuk membantu orang lain?
Mengapa Engkau memberiku ujian seberat ini?
Di sini ... aku adalah korban,
Tapi, mengapa aku yang disalahkan?

Hariku sepi, tak ada teman tak ada sahabat
Dia yang dulu selalu berada di sisi
Kini juga enggan untuk menyapa,
Menanyakan kabar tentang hariku


Zahra mulai lelah dengan semuanya, hingga ia memutuskan untuk kembali membuka pertemanan dengan siapa saja di luar sana. Tak peduli itu lelaki sekali pun. Sebab ia merasa kesepian. Hubunganku dengannya juga menjadi renggang.

“Zahra, kamu kenapa?” tanyaku saat melihatnya tiduran di kelas seperti sedang menahan sakit.

Ya, Zahra sedang sakit. Beberapa waktu lalu aku sempat mengantarnya ke rumah sakit untuk periksa. Namun, aku tidak tahu pasti tentang sakit yang ia derita.

“Tidak,” jawabnya lalu kembali tidur seperti semula.

Aku tak tega melihatnya. Aku melihat ada kesakitan dan kesedihan di matanya. Sepulang kuliah aku memutuskan untuk menemaninya lagi ke tempat kerja sambil ingin menanyakan sesuatu.

Di Perjalanan

“Ra, kamu kenapa? Sekarang sudah tak pernah lagi cerita tentang ini itu sama aku.”

“Tidak, cuman lagi tidak punya bahan saja untuk bercerita.”

“Benar begitu?”

“Iya, ih bawel amat sih.”

***

Satu tahun ia lalui dengan sangat berat. Menyendiri, bermain Hp, bersosialisi dan berinteraksi dengan sahabat di dunia maya membuat hidupnya kembali bersemangat lagi. Ia mengikuti grup kepenulisan dan menjadi pengurus di sana.

Ia menikmati hari-harinya dengan mereka. Ia belajar bahwa tak ada luka yang tak dapat disembuhkan. Ia akan menulis untuk mencurahkan segala isi hatinya. Sebab, tak ada lagi tempat yang cocok untuk ia berbagi cerita tentang suka dan dukanya.

Ia mulai akrab dan berteman baik dengan bosnya di tempat kerja, dengan teman-teman dari bosnya dan juga dengan dua orang seniornya. Mereka semua adalah lelaki baik yang mau mengeluarkannya dari zona kesedihan dan kehancuran.

Ia justru meninggalkan semua teman dan organisasi yang ia ikuti. Meski di sana ia hanya akan bergaul dengan wanita saja. Ia terlalu kecewa sebab orang-orang itu terlalu ikut campur perihal privasi orang lain.

“Dek, percaya tidak kalau saya ini juga pernah berada di posisi kayak adek. Bahkan lebih parah dari adek.”

“Hem, maksudnya?”

“Dalam hidup ini tidak akan pernah kita terbebas dari masalah dan ujian, akan selalu ada tantangan yang menghampiri.”

“Hem, iya memang begitu.”

“Saya dulu, pernah jatuh sejatuh-jatuhnya. Tetapi, saya berusaha untuk mengambil hikmah karena semua yang kita alami itu, sudah ada yang atur. Jangan terlalu dipikirkan.”

“Iya juga sih.”

“Memang iya. Jalani saja dengan santai. Semuanya akan ada hikmahnya. Ini hanya tentang waktu saja.”

Bersambung ...
Diubah oleh adivaazzahra 10-01-2020 07:28
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.