Kaskus

Story

tiawittamiAvatar border
TS
tiawittami
BADAI SEBELUM PELANGI
BADAI SEBELUM PELANGI

1.Murid Baru


Namaku Zerina. Zerina Mia Hartalisya. Kepribadianku berubah sejak penghianatan itu terjadi. Ketika orang-orang yang selalu bersamaku, menjalani hari-hari bersamaku bahkan suka duka selalu bersamaku menghancurkan semuanya.

Ketika pacarmu yang sudah sangat manis denganmu dan sahabatmu yang selalu mendukungmu ternyata hanya berpura-pura baik padamu. Sakit bukan? Kemudian mereka bersama dan meninggalkanmu. Bagaimana rasanya? Sakit saja, kah? Atau ada perasaan lain?

Tidak hanya itu yang terjadi padaku, mereka bahkan merusak nama baikku, membuatku semakin tidak bisa bergerak, tidak ada yang percaya padaku. Mereka yang lain jadi takut padaku.

Namaku bukan lagi Zerina. Aku orang gila, yang gilanya bisa kambuh kapan saja. Orang-orang yang mendekatiku hanya ingin mengambil kesempatan tanpa kutahu apa tujuannya. Yang pasti mereka hanya menguntungkan diri mereka sendiri.

Astaga, kejam sekali hidup ini. Aku harus apa? Mati, kah? Atau terus menjalaninya? Kira-kira apa yang akan kudapat jika aku terus menjalani hidup. Ketulusan, kah? Aah tidak, ketulusan itu semu. Walau aku sangat ingin bertemu dengannya.

***

Kukira setelah aku lulus dan masuk ke sekolah baru semua itu akan lenyap, tapi ternyata tidak. Orang-orang bodoh itu terus mengingatnya bahkan mereka menyebarkan semuanya di sini. Tak mengapa, aku telah terbiasa dengan semua ini, bahkan jika aku harus seperti ini sampai akhir hidupku. Semua pikiran mereka dan semua yang mereka katakan, biarlah, aku terlalu lelah untuk peduli.

Aku suka duniaku, tak ada yang harus kusembunyikan sekarang. Aku tak perlu berpura-pura untuk mendapatkan yang aku inginkan, karena aku tak lagi menginginkannya.

Teman...

Makhluk apa itu? Aku tidak ingin mereka lagi. Mereka semua hidup dalam kepalsuan. Canda tawa itu akan terasa pahit jika kau tau akhirnya. Tak ada ketulusan di sini, semuanya berjalan karena kemauan masing-masing dari orang-orang itu. Aku tak pernah melihat ketulusan, mungkin dia semu, seperti apa dia? Aku jadi ingin bertemu dengannya.

***

Seperti biasa, aku menghabiskan waktu istirahat dengan duduk di atas rumput yang berseberangan dengan lapangan. Tempat ini nyaman, aku bisa bersandar sekaligus merasakan keteduhan pohon rindang ini. Berkali-kali aku melihat orang lewat yang memandangku aneh karena memilih duduk di sini, sedangkan banyak bangku taman yang disediakan sekolah untuk murid-muridnya, abaikan saja.

Kupasang earphone dan memutar lagu yang belakangan ini sering kudengarkan. Walau aku tak tau arti dari lagunya, tapi aku suka. Alunan nadanya membuat ketenanganku di atas level biasanya. Aku tetap berada di sini, sampai istirahat selesai.

Koridor kelas masih lumayan ramai oleh siswa-siswi yang ngobrol dan tertawa, padahal bel masuk sudah berbunyi. Seharusnya tadi aku menunggu beberapa menit setelah bel bunyi, baru berjalan masuk ke kelas, untuk menghindari perhatian mereka yang dari tadi melihatku sambil berbisik dengan teman masing-masing.

Abaikan ini Zerina, mereka hanya orang-orang bodoh yang tidak pandai memilih cerita.

Aku berhenti melangkah ketika sampai di depan pintu kelas, seorang perempuan yang sangat aku kenal itu menghalangi pintu masuk. Kutatap matanya dengan harapan agar dia tidak menghalangi jalanku, dia menatapku balik.

"Apa liat-liat!" katanya dengan suara yang bisa didengar siapa saja yang ada di situ.

"Minggir. Aku mau lewat." pintaku.

"Oo, mau lewat. Silahkan." Salsa menggeser tubuhnya memberiku jalan, dia tak lepas dari menatapku, membuatku tersandung kakinya karena aku pun tak lepas dari manatapnya balik.

Dia membuatku tersungkur di atas lantai dan sekarang aku jadi bahan tertawaan anak-anak di kelasku dan beberapa anak yang melihat dari pintu kelas. Aku marah, apalagi ketika dia menginjak earphone dan hpku yang juga ikut tersungkur bersamaku.

"Ah, sorry, gue gak liat. Sini gue bantu." Salsa mengulurkan tangannya padaku saat anak-anak itu memusatkan perhatiannya pada kami.

Dasar! Pandai sekali dia berpura-pura, aku tak bisa menahan diriku untuk memukul perempuan itu. Kuambil hp yang barusan dia injak dan kupakai untuk memukul kepalanya. Aku tak peduli jika hp ini rusak, yang penting kepala orang ini harus diberi pelajaran.

Salsa berteriak sambil menghalangi gerakanku lagi sampai akhirnya teman-teman bodohnya itu menghentikanku dan mendorongku menjauh dari Salsa.

"Lo gila, ya! Mukulin kepala orang!" teriak Icha sambil menatapku tajam.

"Lo gak papa, Sa?" Salsa menggelengkan kepalanya atas pertanyaan Dwi, "Gak waras!" teriaknya lagi padaku.

Mereka pergi setelah berhasil membuatku terlihat seperti penjahat sekarang. Anak-anak di kelasku pun tak ada yang berani bicara padaku. Mereka semua menghindar dan memberiku jalan menuju kursiku.

Aku kembali teringat bagaimana dulu aku memukul kepala Ana dengan penggaris besi hingga membuatnya berdarah. Aku tak tahu bagaimana jadinya jika anak-anak kelas ini menyaksikan itu, mungkin mereka akan menemui wali kelas dan bilang jika mereka ingin pindah kelas, tak ingin sekelas denganku. Tapi percayalah, kejadian itu bukan sepenuhnya salahku.

Aku duduk dan merapihkan buku pelajaran yang tadi belum sempat kubereskan karena aku biasa keluar duluan saat bel istirahat bunyi. Ya, itu ada alasannya, aku menghindari keramaian.

"Ternyata bener, ya. Gilanya bisa kambuh kapan aja."

"Sssstt."

Aku mendengar bisikan itu. Mereka melepaskan pandangannya dariku saat aku menatap ke arah mereka tajam. Aku jadi kesal, harusnya mereka bertanya dulu apa yang terjadi, bukan bicara dibelakangku.

Mulut-mulut itu memang sudah termakan gosip receh, mereka hanya mendengar cerita dari satu pihak dan langsung membenciku, mereka langsung menganggapku benaran gila hingga tak ada yang percaya padaku. Aku mengembuskan napas.

Tenang Zerina, kau tidak perlu kesal dan mencaci mereka. Mereka akan lebih menganggapmu gila jika kau lakukan itu.

***

Setelah melewati waktu yang sulit di sekolah hari ini, aku berniat mengunjungi tempat yang sudah lama tak kukunjungi.

Langkahku terhenti, kupandangi pohon seri yang sudah termakan usia itu. Tumbuh di halaman belakang rumah tua yang tidak dihuni, walaupun begitu pohon ini tetap tumbuh dan berbuah. Aku ingat, waktu kecil aku sering kemari, bermain bersama Ana, memanjat pohon ini untuk mengambil buah kecil bewarna merah yang rasanya sangat aku suka. Manis.

Ugh!

Aku mengusir memori itu, rasanya sakit jika menyadari yang terjadi sekarang. Kulepas tas punggung yang kukenakan dan menjatuhkannya ke atas rumput liar di situ. Dengan agak susah aku memanjat pohon, hingga akhirnya aku bisa duduk santai di dahannya sambil menikmati buahnya.

"Hm, seperti ini rasanya kehidupan remaja. Aku jadi ingin menjadi bocah lagi, tak peduli sedekil apa aku dulu. Aku mau bahagia tanpa merasakan sakitnya penghianatan."

Kumakan buah terakhir yang kudapat, lalu berniat mencari lagi. Sepertinya sudah habis, tidak, aku masih melihat satu di ujung dahan. Aku sudah hampir mendapatkannya, tapi seseorang menggagalkanku.

"Hei!" Suara itu mengejutkanku, hingga membuat kakiku kaget dan melesat dari dahan pohon.

"Aaaakh!"

Aku jatuh hingga membuat dengkul dan lenganku tergores patahan ranting-ranting kecil yang bertumpuk di situ.

"Kamu gak papa?" tanya orang yang membuatku terkejut.

Kutepis tangannya yang ingin menyentuhku. Tanpa menjawab pertanyaannya, aku langsung mengambil tas dan buru-buru pergi dari situ.

Jarak rumahku tidak jauh dari tempat itu dan aku sudah berada di rumah sekarang, membersihkan luka dengan alkohol. Untung saja dahan yang kupanjat tadi tidak tinggi dan aku tidak cidera parah. Kalau bukan karena pria tadi, aku mungkin tidak akan jatuh. Kenapa dia bisa ada di sana tiba-tiba.

"Huuh, dasar, harusnya orang itu menangkapku, tega sekali dia." Aku membuang kapas bekas lukaku ke dalam bak sampah.

"Kenapa kamu berharap? Memangnya kamu siapa? Kamu hanyalah orang gila yang gilanya bisa kambuh kapan saja." Aku menyalahi diriku sendiri di depan cermin wastafel.

Aku mengembus napas panjang setelah menyadari perbuatanku. Aku tidak boleh menghina diriku karena orang-orang menghinaku. Aku harus meyakini diriku, bukan meyakini ucapan mereka. Perasaanku mulai lagi, sesuatu yang membuatku tidak percaya diri adalah jika diriku mulai menghinaku. Aku selalu berusaha agar tidak seperti itu.

"Please.. I am not crazy.."

"I am not crazy.."

"I am not crazy.."

Suaraku hampir berbisik dan menjadi berbisik pada kalimat terakhir. Aku bangkit dan berdiri dari ringkukkanku, mengambil pil yang hampir menjadi makananku setiap hari. Aku sudah berusaha menghindarinya, tapi dia selalu saja memanggilku untuk memakannya.

Satu pil berhasil masuk ke mulutku. Pahit. Kuluruskan kakiku di atas kasur dan memejamkan mata, berusaha untuk melupakan hari ini, hingga aku terlelap.

***

Hari ini seperti biasa, jam istirahat di sekolah aku duduk di atas rumput di bawah pohon rindang yang biasa aku tempati.

Hari ini aku membawa headphone dan hp dengan layar retak-retak karena insiden kemarin. Tak masalah, setidaknya hp ini masih mengizinkanku mendengarkan lagu-lagunya.

Kudengar hari ini berita yang sedang hangat dibicarakan oleh cewek-cewek penggosip itu adalah masuknya murid baru. Pastinya karena murid baru itu cowok dan bisa dibilang ganteng menurut mereka. Kalau tidak seperti itu gak mungkin jadi berita hangat.

Mungkin aku satu-satunya wanita yang tidak peduli. Lagian untuk apa? Jika murid baru itu tau tentang diriku, dia juga pasti tidak akan mau berteman denganku.

Aku mengangkat buku bacaanku hingga menutupi wajah, sesuatu di kejauhan sana seolah mengganggu perasaanku. Anak-anak cowok itu pasti sedang membicarakanku. Lalu, aku merasakan kehadiran seseorang di depanku, sedang berdiri menghadapku. Aku menurunkan sedikit buku bacaan dan melihat ke arahnya. Dia melihatku, dengan cepat aku kembali mengangkat buku itu menutupi wajah.

"Hei." Dengan tangan kanannya dia menurunkan buku bacaan yang menutupi wajahku.

Sepertinya aku pernah melihatnya, dia orang yang membuatku jatuh dari pohon kemarin.

"Kamu cewek yang kemarin, kan?"

Aku tak menjawab dan yang terpenting yang harus kalian tau ternyata dia murid barunya.

"Arken." Dia menjulurkan tangan kanannya dan tersenyum padaku untuk berkenalan.

Aku telah berusaha untuk menerimanya, tapi kurasa itu percuma dan akan sia-sia. Dia akan membenciku dan menjauhiku, atau mungkin sekarang dia hanya mempermainkanku dan menjadikanku bahan lelucon karena kuyakin dia ada bersama rombongan cowok itu tadi.

Teett... Teett... Teett...

Akhirnya bel masuk berbunyi, aku berdiri dari duduk dan berjalan meninggalkannya di situ tanpa bicara apapun. Kudengar rombongan cowok di sana tertawa melihat Arken, cowok yang barusan memperkenalkan namanya padaku. Bukannya sudah kubilang, mereka hanya menjadikanku bahan lelucon. Apa itu yang disebut teman? Bukankah aku beruntung karena tidak memiliki teman seperti mereka? Yah, kurasa aku beruntung.

Bersambung


Index
2. Arken
3. Berteman
4. Psikis
5. Hariku
6. Masalahku
7. Wanita Bahagia
8. Wanita Bahagia 2
9. Pentas Seni
10. Pentas Seni 2
11. Memori
12. Reuni
13. Fungsi Hati
14. Hari Terakhir
15. Ana
16. Perasaan Rindu
17. Kematian Ana
18. Teror
Diubah oleh tiawittami 14-01-2020 19:21
someshitnessAvatar border
NadarNadzAvatar border
nona212Avatar border
nona212 dan 16 lainnya memberi reputasi
17
7.8K
90
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.9KThread•53.8KAnggota
Tampilkan semua post
tiawittamiAvatar border
TS
tiawittami
#76
14. Hari Terakhir
Pagi itu hari sabtu, aku sedang menyiram tanaman di halaman rumahku. Bunga-bunga itu kutanam baru-baru ini karena ada penyuluhan untuk menanam tumbuhan di komplek. Hal ini dilakukan sebagai bentuk penghijauan untuk mendukung udara yang bersih dan sehat, juga untuk menjaga keasrian dan keindahan di sekitar komplek.

Aku senang bisa ikut berpartisipasi dalam hal ini. Dengan begini, artinya aku membantu tanaman bunga itu untuk tumbuh dan hidup di halaman rumahku. Wanginya yang setiap hari memanjakan indra penciumanku membuatku merasa rileks. Kenapa tidak dari dulu saja, ya, aku melakukan hal ini. Aku tidak pernah terpikir tentang hal itu.

Aku melepas headphone dari telingaku dan menggantungkannya di leher. Aku sudah membeli hp tempo hari, jadi aku sudah tidak gagap teknologi lagi, hehe.

"Nanda." Kupanggil Nanda yang kebetulan berjalan melewati rumahku, tumben dia tidak naik motornya.

Dia menoleh ke arahku. "Pasti mau ke rumah Arken, tumben gak bawa motor?" tanyaku.

"Kamu sok tau banget, sih. Ngapain kamu nanya-nanya," katanya. Aku sudah sangat hapal bagaimana responnya itu.

Aku tersenyum saja. "Mau main ke rumahku?" tawarku. Padahal aku sudah tahu kalau dia tak akan mau.

"Gak!" katanya sambil melanjutkan langkah.

"Nanda." Aku memanggilnya lagi.

"Ish! Berapa kali aku bilang, jangan panggil-panggil nama aku. Kamu nyebelin banget, sih!" kesalnya. Dia menghentakkan kakinya dan melangkah lagi.

"Awas, Nan--"

Dan gedebuk! Aku menutup mataku, tak sanggup melihatnya. Dia terjatuh di aspal karena menabrak bak sampah di depan rumahku. Aku tak bisa menahan diriku untuk tertawa, kututup mulutku itu. Aku berlari menuju gerbang lalu membukanya dan berjalan mendekat ke arahnya untuk membantunya.

"Gak usah ke sini. Aku bisa bangun sendiri!" katanya melarangku mendekat. Tapi aku tetap saja mendekat. "Kamu budek, ya!" kesalnya.

"Aku cuma mau benerin ini, kok." Aku mengangkat bak sampah yang terjatuh di situ, untung saja sampahnya sudah di angkat oleh petugas, jadi tidak berserakan di jalan. "Kamu GR," kataku meledeknya.

Dia terlihat kesal kemudian berjalan dengan kesal juga. Aku tertawa melihatnya. "Gak usah ketawa-tawa!" Dia memperingatiku dan kembali melanjutkan jalannya.

Nanda, Nanda, ada-ada saja. Aku masuk kembali ke rumahku dan menutup gerbangnya. Kubereskan selang air yang tadi kupakai untuk menyiram bunga, lalu aku masuk ke dalam. Nanti saja, deh, aku ke rumah Arken, masih ada Nanda. Nanti malah kacau jadinya kalau kami berdua di sana.

Sore itu hujan turun, lumayan deras, cuacanya jadi dingin. Tapi untung saja malamnya sudah reda. Malam ini acara sweet seventeen-nya Salsa. Aku akan pergi ke sana bersama Arken.

Ddrrtt ddrrtt drrtt

Aku manaruh alat untuk menyosis rambut dan mematikannya. Kuangkat panggilan masuk dari Airi. "Halo, Airi, kenapa?"

Tak ada suara dari sana. Aku melihat layar hpku, memastikan apakah teleponnya masih tersambung.

"Halo," panggilku lagi.

Tut.

Dia malah mematikan sambungannya. Ada perlu apa, ya, Si Airi. Aku meletakkan kembali hpku di meja situ dan mendengar suara bel, itu pasti Arken. Dengan cepat aku turun dan membuka pintu.

"Hei,"

Arken memerhatikanku. "Rambutmu, keriting sebelah?" katanya.

Aku tertawa. "Aku belum selesai, masuk dulu," kataku.

"Iya."

Dia masuk. "Mana Chimy?" tanyanya.

"Panggil saja, biasanya dia suka nyelip-nyelip," kataku sambil berjalan kembali ke atas untuk menyelesaikan rambut ini.

Arken tertawa. "Nyelip-nyelip, emangnya upil." Aku ikut tertawa sebelum sampai di kamarku.

"Chimy." Arken mencarinya.

Aku menyelesaikan urusanku secepat yang kubisa. Harusnya kami sudah berangkat sekarang. Kuambil tas yang sudah kusiapkan lalu kumasukkan hp, dompet, dan undangan Salsa ke dalam situ. Aku turun dan mengambil sepatu di rak belakang. Arken sudah duduk bersama Chimy di sofa, dia sudah menemukan kucingku.

"Ayuk," ajakku. Aku sudah siap.

"Chimy gak dibawa?" tanya Arken.

"Kamu mau ke acara ulang tahun apa pentas hewan peliharaan?" tanyaku kembali atas pertanyaan anehnya itu.

Dia tertawa. "Kasihan dia sendirian."

"Ngga, dia udah biasa," kataku.

Arken menaruhnya di sofa, kami bergegas berangkat. Chimy terdengar mengeong-ngeong dari tempatnya. Sepertinya dia tak ingin Arken pergi, dasar Chimy, suka ngalem kalau sudah bertemu orang yang memanjakannya.

"Kamu ada janji sama orang?" tanya Arken.

"Sama kamu," jawabku sambil mengunci pintu rumahku.

"Selain aku?"

"Nggak ada, kenapa memangnya?" tanyaku heran.

"Aku liat tadi ada orang di sini. Kukira saudara kamu apa siapa gitu," katanya.

"Nggak, kok. Aku cuma sama Chimy di rumah."

Kami berjalan keluar gerbang menuju mobil Arken.

"Masa?" tanyanya.

"Iya, lah. Kamu, tuh, paling ngelindur, salah liat," ledekku.

"Orang Chimy duluan, geh, yang liat. Dia meong meong tadi," kata Arken yang terlihat seolah-olah dia serius.

Aku tertawa saja. "Iyalah meong meong, masa mbe mbe," kataku. Gantian sekarang aku yang meledeknya.

Dia ikut tertawa setelah menutup gerbang rukahku lalu menarik hidungku. "Dasar, orang aku serius," katanya. Namun aku tak menganggapnya serius.

***

Kami sudah sampai di cafe tempat dirayakannya hari jadi Salsa. Waw, ternyata dekornya indah sekali, ya. Juga ramai sekali teman-teman yang datang. Kami memakai dress code, untuk perempuan memakai baju pink kalem dan yang laki-lakinya memakai baju abu-abu.

Acaranya meriah, Salsa terlihat sangat cantik dengan gaunnya. Siapa coba yang tidak tertarik dengannya, mungkin cuma sedikit. Grup band Arken dan kawan-kawan yang sekarang memang terkenal dengan nama AFGAN dimintanya untuk membawakan lagu. Mereka memeriahkan acara dari awal sampai akhir.

"Kamu mau nyanyi?" tanya Arken saat kami sedang makan di sana.

Aku justru bergidik ngeri dengan tawarannya itu, aku menggeleng dengan senang hati. "Yang ada kabur semua orang-orang di sini kalo aku yang nyanyi," bisikku di telinganya.

Dia tertawa. "Ya, nggak, dong. Yuk," ajaknya lagi.

"Gak mau, ah," tolakku.

"Ayuk, dong." Dia merayu.

"Nggak."

"Mau."

"Nggaaaak."

"Maaaauu."

Aku diam sambil melihat wajahnya dengan cemberut. Dia malah tertawa. "Ayuk, pokoknya. Di rumah aja kamu nyanyi terus maksa-maksa aku main gitar."

"Itu, kan, di rumah," kataku.

"Di sini juga. Ayuk."

Aku menggeleng. Gantian dia yang melihatku sambil cemberut.

"Nanti kalo aku udah pergi ke AS, kita gak ketemu-ketemu, loh," ucapnya seketika membuatku terdiam.

Oh, iya. Aku hampir lupa tentang itu. Arken lolos seleksi beasiswa pertukaran antarbudaya AFS ke Amerika Serikat. Dia akan berangkat satu bulan lebih seminggu lagi. Padahal aku selalu berharap agar dia tak lolos seleksi. Bukannya apa, aku sedih saja kalau dia jauh-jauh dari sini. Tapi dia menasihatiku, katanya semuanya akan baik-baik saja.

Dia akan kembali jika masanya sudah tiba. Tapi bagiku tetap saja itu tidak sebaik-baik yang dia bicarakan. Jadi selama kelas dua nanti dia tidak akan sekolah di sini, dia akan berada di sana, tinggal di sana, dan sekolah di sana. Terus aku hanya bisa bertemunya via socmed. Itu pasti menyakitkan sekali, walau hanya satu tahun. Aku tak ingin membayangkannya sekarang.

"Yuk," ajaknya lagi.

Aku tak tahu lagi bagaimana cara mengelak. Ternyata begini rasanya kalau dipaksa, padahal aku sering memaksanya main gitar ketika di rumah.

Aku sudah duduk di kursi dengan mic yang berdiri di depanku. Arken juga sudah duduk dan siap dengan gitarnya. Aku tak yakin. Aku tak pernah berada di tempat seperti ini apalagi menjadi pusat perhatian seperti ini. Tahu, kan, gimana rasanya. Deg deg ser. Padahal kalau menurut orang lain ini hal biasa karena cuma dihadapan teman-teman. Tapi, sungguh ini sangat tidak biasa untukku.

"Buat teman-teman semuanya, semoga menikmati sebuah lagu yang satu ini, ya. Dan untuk Salsa khususnya, Happy sweet seventeen. Semoga diberikan umur yang bermanfaat."

"Aamiin."

Mereka yang sedang menikmati makan malamnya itu bertepuk tangan sesaat sebelum Arken mulai memetik senar-senar gitarnya, memainkan sebuah nada yang sering kudengar. Dia tersenyum padaku, aku berusaha melawan perasaan gugupku.

šŸŽ¶šŸŽ¶šŸŽ¶
Saat kutenggelam dalam sendu
Waktu pun enggan untuk berlalu
Kuberjanji tuk menutup pintu hatiku
Entah untuk siapa pun itu

šŸŽ¶šŸŽ¶šŸŽ¶
Semakin kulihat masa lalu
Semakin hatiku tak menentu
Tetapi satu sinar terangi jiwaku
Saat 'ku melihat senyummu

šŸŽ¶šŸŽ¶šŸŽ¶
Dan kau hadir
Merubah segalanya
Menjadi lebih indah
Kau bawa cintaku
Setinggi angkasa
Membuatku merasa sempurna
Dan membuatku utuh
Tuk menjalani hidup
Berdua denganmu selama-lamanya
Kaulah yang terbaik untukku

šŸŽ¶šŸŽ¶šŸŽ¶
Kini kuingin hentikan waktu
Bila kau berada di dekatku
Bunga cinta bermekaran dalam jiwaku
'Kan kupetik satu untukmu

šŸŽ¶šŸŽ¶šŸŽ¶šŸŽ¶
šŸŽ¶šŸŽ¶šŸŽ¶
šŸŽ¶šŸŽ¶
šŸŽ¶

Kupercayakan
Seluruh hatiku padamu
Kasihku, satu janjiku
Kaulah yang terakhir bagiku

šŸŽ¶

~Adera - Lebih Indah~

Arken ikut mengeluarkan suaranya untuk bait terakhir, dia bernyanyi bersamaku. Aku tak menyangka bisa melewatinya, rasanya bahagia sekali. Mereka yang mendengarkan pun memberi respon positif, membuat rasa gugupku itu lari terbirit-birit meninggalkanku. Aku merasa lega, ternyata suaraku tak seburuk pikiranku.

Orang-orang di sekitarku memujiku. Aku tak tahu apa mereka benar atau bohong, yang pasti aku merasa sedikit tenang saat itu. Ngobrol bersama mereka jadi terasa lebih hangat. Tapi walaupun begitu tetap saja, aku tidak sepenuhnya tenang. Mengingat tentang kepergian Arken nanti, aku harus bagaimana, ya.

Malam hampir larut, acara itu sudah selesai. Aku dan Arken sudah pulang dari sana. Aku mencoba untuk tidak memikirkan masalah itu. Aku tidak boleh seperti ini, Arken juga punya kehidupan sendiri, tidak mungkin aku memaksanya untuk tetap tinggal. Aku harap hal buruk tak akan terjadi padaku apalagi padanya.

Semesta, jaga dia baik-baik, ya. Jangan biarkan siapa pun menghalangi langkahnya ataupun mematahkan semangatnya. Dia orang paling baik yang pernah kutemui.

***

Waktu kembali berjalan, dan hari yang sebenarnya kuharap tak pernah sampai pun akhirnya tiba. Aku selalu ingin menghentikan waktu agar tak sampai pada hari ini. Tapi semuanya sudah hukum alam. Apa yang terjadi tidak akan pernah terlewat dan pasti terjadi.

Aku harus merelakannya, walau berat. Berat sekali, dia sudah seperti bagian dari hidupku, bagaimana mungkin sekarang dia pergi. Aku sudah terbiasa dengan kehadirannya, dan esok aku harus terbiasa tanpa hadirnya.

Ini hari terakhir aku bertemunya di tanah yang sama, udara yang sama, suasana yang sama, juga orang-orang yang sama. Esok takkan ada lagi itu. Aku harus tetap melanjutkan langkah meski tak selalu bersamanya. Mulai esok dan satu tahun ke depan kami berada di tanah yang berbeda meski tetap di bumi yang sama. Semoga alam selalu membawakan salam rindu antara aku dengannya. Jangan pernah bosan menjadi perantara kami, ya.

"Jangan pernah nangis, ya, selama aku nggak ada," kata Arken, dia menangkup kedua pipiku. "Aku gak mau orang lain gantiin posisi aku menghapus air matamu, termasuk bunda," katanya dengan senyum jahil itu. Ini terakhir kalinya dia menjahiliku. Aku mengangguk dan tersenyum padanya.

"Kamu gak mau bilang apa-apa sama aku?" tanyanya.

Aku tak tahu harus bilang apa. Di hatiku rasanya sedih sekali. Namun aku tak boleh menangis sekarang. Arken tak boleh melihatku menangis apalagi saat dia ingin meninggalkanku.

Aku menggenggam tangannya erat. "Jangan lupa sama aku, ya...." gumamku. Dia tersenyum sambil mengacak rambutku. Aku tak bisa mengentikan pikiranku yang selalu saja terpikir kalau dia akan memiliki banyak teman baru, orang-orang baru, dan suasana baru. Seseorang pasti bisa saja menggantikan posisiku dalam hidupnya. Aku tak seharusnya berpikir seperti itu dan menitikkan air mata sekarang.

"Zerlin..." Dia mengusap air mataku. "Aku gak mau liat kamu nangis, ya," katanya.

Aku mengangguk lambat. "Baik-baik, ya. Aku udah titip rindu ke seluruh penjuru kota ini. Kamu bisa datang kapan pun kamu mau ke tempat-tempat yang pernah kita kunjungi. Tunggu aku, ya." Arken seolah meyakinkanku kalau dia tak akan lama-lama. Ya, aku percaya.

Rombongan mereka akan pergi ke bandara bersama-sama. Aku dan bunda hanya bisa mengantarnya sampai sini, di sekolah yang menjadi pusat kumpul anak-anak yang lolos seleksi dan mewakili kota kami untuk mengambil beasiswa itu.

"Yaudah, ya. Jangan nakal," katanya mengingatkan. Aku tergelitik untuk senyum. Memangnya aku nakal, nggak kok.

Arken mendekat dan salim dengan bundanya. "Berangkat, ya. Nda. Jangan kangen," katanya meledek.

Bunda balik mengejek. "Eleh, malah seneng Bunda kalo kamu gak di rumah," katanya.

"Ya udah aku gak pulang-pulang," katanya gak mau kalah.

"Jangaaaaan," sambarku.

Mereka berdua tertawa. "Nggak, bercanda, kok," kata Arken.

"Gapapa, Lin. Sama Bunda aja," ucap bunda.

"Sama Arken juga," ucapku sendu.

"Iya, deh."

"Yaudah, sana, udah pada mau berangkat, tuh," kata Bunda pada Arken.

Arken melihat ke sana. "Yaudah, aku berangkat, ya."

Aku hanya bisa melihatnya yang semakin menjauh dan hilang termakan jarak, bunda merangkulku sambil menepuk-nepuk pundakku. Rasanya pedih sekali, dia benar-benar pergi.
jiyanq
jiyanq memberi reputasi
1
Ikuti KASKUS di
Ā© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.