Kaskus

Story

sandriaflowAvatar border
TS
sandriaflow
4Love: Tentang Patah Hati, Kesetiaan, Obsesi, dan Keteguhan Hati
4Love: Tentang Patah Hati, Kesetiaan, Obsesi, dan Keteguhan Hati


Quote:


Spoiler for Daftar Bab:


Diubah oleh sandriaflow 01-12-2020 19:11
santinorefre720Avatar border
blackjavapre354Avatar border
rizetamayosh295Avatar border
rizetamayosh295 dan 25 lainnya memberi reputasi
26
14.9K
134
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.7KThread52.7KAnggota
Tampilkan semua post
sandriaflowAvatar border
TS
sandriaflow
#59
Bab 21: Di Ujung Jalan
JOJO

Di depan layar laptop, Jojo termenung memikirkan banyak hal. Kepalanya buntu. Tak ada satupun ide yang masuk di kepalanya. Ia ingin menulis sesuatu, tapi memulai satu kata terasa sangat sulit baginya. Alhasil, sedari tadi ia hanya menatap draf kosong.

Kegelisahannya bukan tanpa alasan. Sudah seminggu ini Zulfa menghilang tanpa kabar. Perempuan itu tidak bisa dihubungi. Kalaupun ia mengirim pesan kepada Zulfa, pesan itu tidak pernah dibaca. Pasca bertemu dengan ibunya, sikap Zulfa mendadak berubah dan ia kini menjaga jarak dengan Jojo.

Ketika gelisah, Jojo selalu kembali ke habit lama. Dia mengurung diri di dalam kamar. Berkutat di depan laptopnya sembari menulis sesuatu untuk melampiaskan kegelisahannya. Diseduhnya secangkir kopi hitam tanpa gula. Lengkap juga dengan alunan musik Linkin Park yang penuh akan teriakan gila almarhum Chester Bennington.

Yang Jojo butuhkan hanyalah kabar. Ia merasa digantung oleh Zulfa tanpa kepastian. Melihat keadaan ini, hanya kemungkinan-kemungkinan terburuk yang terlintas di benak Jojo.

Kegelisahan Jojo akhirnya terjawab ketika Zulfa mengajaknya bertemu keesokan hari. Zulfa membiarkan Jojo untuk menentukan tempat mereka bertemu. Entah mengapa, firasat Jojo sangat tidak enak, seolah-olah ia merasa bahwa esok adalah hari terakhir dia bersama dengan Zulfa.

Ada satu tempat yang terlintas di benak Jojo. Tempat itu adalah tempat yang ingin mereka berdua kunjungi sejak beberapa waktu yang lalu. Ia ingin memberikan yang terbaik untuk Zulfa jika memang esok mereka harus berpisah.

****
Sejauh mata memandang, mereka berdua disuguhi hamparan daun-daun teh yang hijau nan menyegarkan mata. Jojo tahu, Zulfa sangat ingin sekali datang ke tempat ini. Namun, ia belum sempat mengajak Zulfa ke sini karena faktor kesibukan.

Berbeda dengan kemarin-kemarin, mata Zulfa kali ini tampak sayu. Mata yang sangat disukai Jojo itu mendadak hilang pancaran pesonanya. Jojo juga tahu kesedihan yang tergambar jelas pada gurat wajah Zulfa.

Mereka juga tampak saling diam tanpa berani memulai percakapan sedari tadi. Jojo pun memberanikan diri untuk bertanya.

“Aku tahu kamu sedih. Kamu pasti bingung dengan hubungan kita, kan?”

Zulfa mengangguk. Spontan, mata cantik itu tiba-tiba basah oleh air mata.

“Lho, kamu kenapa menangis? Aku baru tahu kalau kamu secengeng ini. Senyum, dong, cantikmu luntur lho kalau nangis,” Jojo mengeluarkan candaannya. Mendengar gombalan Jojo, Zulfa segera mengusap kedua matanya lalu mencubit pipi Jojo.
“Eh, sakit tau,” jawab Jojo spontan.
“Biarin. Kamu nakal soalnya,” balas Zulfa tersenyum. Lengkung yang sempat murung beberapa detik yang lalu akhirnya kembali ceria.
“Kita temenan aja, ya, Jo. Ibumu benar. Aku mungkin belum siap jika harus serius sama kamu. Toh, orang tuaku juga pengen aku pulang ke Makassar kalau nanti sudah lulus,”

Zulfa kemudian menceritakan sedikit tentang keluarganya. Ia sendiri merupakan anak kesayangan ibunya sehingga ia tidak bisa pergi jauh dari ibunya. Jojo hanya tersenyum mendengar kejujuran Zulfa, meskipun hatinya sebenarnya sesak. Akan tetapi, ia mencoba memahami keadaan mereka berdua saat ini.

“Tapi kamu harus selalu ingat, Zulfa, jika ada lelaki yang benar-benar tulus sayang sama kamu, walau akhirnya dia enggak bisa sama kamu,” ucap Jojo.

Selepas mengucapkan kalimat itu, Jojo memberikan sebuah bingkisan kepada Zulfa.

“Ini apa, Jo?”
“Aku mau kasih kamu sebuah buku. Itu adalah buku yang menjadi titik balik dalam hidupku. Buku itulah yang menginspirasiku untuk menjadi seorang penulis. Nanti kamu baca ya,”
“Makasih, Jo. Sebenarnya ada satu lagi yang pengen aku sampaikan ke kamu,”
“Ehm, kamu mau ngomong apa lagi?”
“Aku mau hijrah setelah ini, Jo. Aku ingin berubah menjadi lebih baik dari yang sekarang,”
“Wah, bagus dong kalau gitu. Aku dukung kamu, Zul. Yang penting, kamu istiqomah dengan jalan yang kamu pilih,”

Zulfa mengangguk. Tatap mata Zulfa terlihat bersinar kembali setelah mendengarkan kata-kata Jojo.

Tanpa terasa, mereka sudah jauh berkeliling. Tak lupa, mereka mengambil foto sebagai kenang-kenangan terakhir mereka. Mereka sepakat mengakiri hubungan mereka di tempat itu. Tak ada dendam atau benci di benak masing-masing. Yang ada hanyalah sebuah kenangan perpisahan yang manis dan tak akan bisa dilupakan oleh mereka berdua.

Kabar perpisahan itu pun juga sampai kepada ibu Jojo. Awalnya, ibu Jojo terkejut mendengar kabar yang begitu tiba-tiba itu. Namun, ibu Jojo merasa bahwa itu yang terbaik untuk mereka berdua. Jojo yakin bahwa suatu saat nanti dia dapat memberikan menantu yang terbaik untuk ibunya.

Selepas berpisah dengan Jojo, Zulfa pun mantap untuk berhijrah. Dia mulai menutup dirinya dengan hijab dan gamis serta rutin mengikuti kajian islami di kampusnya.

Entah mengapa, Jojo ikut senang melihat perubahan pada diri Zulfa. Ia yakin, Zulfa kelak akan menemukan pria yang lebih baik dari dirinya, yang lebih mampu menjaga dan menuntun Zulfa menuju pintu kebahagiaan.
coxi98
fransjabrik
fransjabrik dan coxi98 memberi reputasi
2
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.