- Beranda
- Stories from the Heart
Kisah-Kisah HOROR In My Life
...
TS
Richy211
Kisah-Kisah HOROR In My Life

Sumber: sini
Quote:
Hantu Pocong di Dalam Rumah

Sumber: link
Panggil saja anak kecil ini bernama Mery. Mery adalah anak bontot dari tiga bersaudara. Mery adalah sosok anak gadis yang masih kecil, imut seperti marmut berusia 5 tahun dan tentunya menggemaskan. Dia masih duduk di bangku TK( Taman kanak-kanak) di Central Java. Berhubung Mery masih kecil, tentu saja dia belum berani tidur di kamar sendirian. Oleh karena itu Mery bobonya satu ranjang dan satu ruangan kamar dengan ibunya.
Malam itu hawanya begitu dingin akibat hujan yang turun dengan lebat. Si kecil Mery ketakutan saat mendengar petir yang menggeleggar. Ia langsung mendekap ibunya erat.
Malam itu hawanya begitu dingin akibat hujan yang turun dengan lebat. Si kecil Mery ketakutan saat mendengar petir yang menggeleggar. Ia langsung mendekap ibunya erat.
"Ibuuuu.....!" Teriak Mery ketakutan.
"Sini Nak," kata Ibu seraya memeluk Mery dengan erat.
Tak lama kemudian Mery merajuk karena merasa mengantuk.
"Bu, aku ngantuk pengen bobo."
"Jangan lupa baca doa, ya?" kata Ibu dengan nada lembut.
"Baik, bu." Jawab Mery sambil berdoa dalam hati.
"Sini Nak," kata Ibu seraya memeluk Mery dengan erat.
Tak lama kemudian Mery merajuk karena merasa mengantuk.
"Bu, aku ngantuk pengen bobo."
"Jangan lupa baca doa, ya?" kata Ibu dengan nada lembut.
"Baik, bu." Jawab Mery sambil berdoa dalam hati.
Setelah berdoa Mery akhirnya tidur dengan pulas di samping ibunya.
Esok pagi menjelang dan adzan subuh berkumandang keras terdengar di rumah Mery.Tepatnya pukul 04.30 pagi Mery terbangun dari tidurnya. Ia kaget mendapati ibunya yang tidak ada di sampingnya. Masih dengan posisi terbaring di atas kasur, Si kecil Mery celingak-celinguk mencari ibunya dengan raut muka kebingungan. Matanya mengarah ke sekeliling tempat di sekitarnya. Hingga mata Mery kemudian tertuju pada sebuah cermin besar terbuat dari kayu berwarna hitam yang terpajang di tembok dekat kamar.
Tepat di bawah cermin besar itu, ia melihat penampakan hantu pocong. Hantu itu hanya terlihat sebagian saja, kira-kira dari bahu hingga ke kepala. Hantu pocong itu melihat ke arah Mery dengan durasi yang cukup lama kira-kira 5 menit. Hantu pocong dengan mata berwarna hitam legam dan kain kafan terikat di kepala sungguh menyeramkan.
Namun, karena masih kecil Mery tidak sadar dan tidak tahu bahwa itu adalah penampakan hantu pocong. Selang beberapa saat setelah melihat hantu tersebut, Mery kemudian menutup mukanya dengan bantal. Mungkin ia baru sadar bahwa yang dia lihat tampak menyeramkan dan membuatnya ketakutan sekali.
Meskipun ketakutan, tetapi Mery tidak berani berteriak dan saat ia membuka tutup bantal yang menutupi mukanya, hantu pocong itu sudah menghilang dari penglihatannya. Si kecil Mery tampak menghela nafas lega karena hantu pocong itu menghilang sekejap mata.
Setelah kejadian menyeramkan itu, saat pagi menjelang ia langsung bercerita kepada ibunya. Mendengar kisah seram dari bocah kecil usia 5 tahun, ibu sempat tidak percaya dan mengira bahwa dia mungkin hanya bermimpi saja. Namun, kejadian yang menyeramkan itu memang benar-benar dialami oleh si kecil Mery bukan hanya sekadar mimpi saja. Meskipun ibu merasa masih saja tidak percaya bahwa di rumah ini ada penampakan hantu yang mengerikan seperti itu.
"Entahlah." Ibu seolah masih tak percaya.
Esok pagi menjelang dan adzan subuh berkumandang keras terdengar di rumah Mery.Tepatnya pukul 04.30 pagi Mery terbangun dari tidurnya. Ia kaget mendapati ibunya yang tidak ada di sampingnya. Masih dengan posisi terbaring di atas kasur, Si kecil Mery celingak-celinguk mencari ibunya dengan raut muka kebingungan. Matanya mengarah ke sekeliling tempat di sekitarnya. Hingga mata Mery kemudian tertuju pada sebuah cermin besar terbuat dari kayu berwarna hitam yang terpajang di tembok dekat kamar.
Tepat di bawah cermin besar itu, ia melihat penampakan hantu pocong. Hantu itu hanya terlihat sebagian saja, kira-kira dari bahu hingga ke kepala. Hantu pocong itu melihat ke arah Mery dengan durasi yang cukup lama kira-kira 5 menit. Hantu pocong dengan mata berwarna hitam legam dan kain kafan terikat di kepala sungguh menyeramkan.
Namun, karena masih kecil Mery tidak sadar dan tidak tahu bahwa itu adalah penampakan hantu pocong. Selang beberapa saat setelah melihat hantu tersebut, Mery kemudian menutup mukanya dengan bantal. Mungkin ia baru sadar bahwa yang dia lihat tampak menyeramkan dan membuatnya ketakutan sekali.
Meskipun ketakutan, tetapi Mery tidak berani berteriak dan saat ia membuka tutup bantal yang menutupi mukanya, hantu pocong itu sudah menghilang dari penglihatannya. Si kecil Mery tampak menghela nafas lega karena hantu pocong itu menghilang sekejap mata.
Setelah kejadian menyeramkan itu, saat pagi menjelang ia langsung bercerita kepada ibunya. Mendengar kisah seram dari bocah kecil usia 5 tahun, ibu sempat tidak percaya dan mengira bahwa dia mungkin hanya bermimpi saja. Namun, kejadian yang menyeramkan itu memang benar-benar dialami oleh si kecil Mery bukan hanya sekadar mimpi saja. Meskipun ibu merasa masih saja tidak percaya bahwa di rumah ini ada penampakan hantu yang mengerikan seperti itu.
"Entahlah." Ibu seolah masih tak percaya.
Diubah oleh Richy211 04-01-2020 09:22
anakjahanam722 dan 14 lainnya memberi reputasi
15
8.6K
73
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
Richy211
#55
Permainan Horor Pemanggil Arwah Part 2 [TAMAT]

Sumber: sini
Setelah Kak Tina menjelaskan duduk permainan cara memanggil arwah tersebut, segera saja kami langsung memulainya. Dalam hati aku merasa antusias, tetapi ada rasa ketakutan juga. Ketakutan dalam diriku adalah bagaimana kalau arwah yang kami panggil itu benar-benar datang dan menampakkan wujudnya kepada kami bertiga.
Oh ya, rumah Kak Tina dan Kak Ani ini di sampingnya kebetulan ada lahan kosong milik saudara dekat kami juga, yang kebetulan ditanami banyak pepohonan. Salah satu pohon yang tumbuh tinggi menjulang adalah pohon kedondong. Kalau pohon itu berbuah, kami sering mengambil buahnya kalau pun tidak buah itu akan jatuh dengan sendirinya akibat diterpa angin.
Kami bermain di kamar belakang rumah Kak Tina dan Kak Ani yang terbilang agak menyeramkan. Suasana kamarnya agak gelap karena terbuat dari bilik bambu saja. Aku kembali meyakinkan Kak Tina dan Kak Ani apakah kita akan benar-benar melakukan permainan horor ini.
Oh ya, rumah Kak Tina dan Kak Ani ini di sampingnya kebetulan ada lahan kosong milik saudara dekat kami juga, yang kebetulan ditanami banyak pepohonan. Salah satu pohon yang tumbuh tinggi menjulang adalah pohon kedondong. Kalau pohon itu berbuah, kami sering mengambil buahnya kalau pun tidak buah itu akan jatuh dengan sendirinya akibat diterpa angin.
Kami bermain di kamar belakang rumah Kak Tina dan Kak Ani yang terbilang agak menyeramkan. Suasana kamarnya agak gelap karena terbuat dari bilik bambu saja. Aku kembali meyakinkan Kak Tina dan Kak Ani apakah kita akan benar-benar melakukan permainan horor ini.
"Kak, seriusan kita main jelangkungnya?" tanyaku sambil membantu Kak Tina menyiapkan kertas putih yang sudah ditulisi huruf dan angka seperti gambar di storysebelumnya.
"Tentu saja Ry, apakah kamu takut?" Kak Tina balik bertanya.
"Enggak juga sih, justru aku penasaran Kak." Sahutku.
Akhirnya permainan horor ini pun kami mulai. Aku, Kak Tina dan Kak Ani memegangi satu pensil secara bersamaan. Kemudian pensil itu kita arahkan tepat di atas kertas putih itu (mengambang). Kak Tina mulai membacakan mantra untuk memanggil arwah.
"Jelangkung jelangsat, Di sini ada pesta, Pesta kecil-kecilan,Jelangkung jelangsat, Datang tidak diundang, Pergi tidak diantar "
Kami bertiga mengucapkan mantra tersebut sebanyak 3x di dalam hati. Dan tiba-tiba saja pensil yang kami pegang dengan erat mulai bergerak. Namun, saat bermain jelangkung ini kami tidak boleh saling komunikasi dan harus konsentrasi penuh. Pasalnya, kalau tidak berkonsentrasi kami khawatir hantu yang nantinya muncul atau telah dipanggil konon bisa merasuki salah satu dari yang memainkan permainan horor ini. Nyatanya tak butuh waktu lama untuk memanggil arwah hantu itu. Tepat setelah kami bertiga membaca mantra sebanyak 3x, pensil kayu yang kami pegang dengan erat mendadak bergerak sendiri seolah mengikuti perintah si empunya.
Kemudian Kak Tina mulai bertanya.
Kemudian Kak Tina mulai bertanya.
"Apakah kamu ada di sini?"
Lalu, pensil yang kami pegang bergerak sendiri kembali dan mengarah ke kata YES pada kertas yang telah kami buat. Dan itu tandanya bahwa hantu itu sudah ada atau telah datang di sini. Masih tetap berkonsentrasi kami pun makin antusias dengan permainan horor ini. Selanjutnya Kak Ani pun ikutan bertanya.
"Siapa nama kamu?"
Pensil itu kembali bergerak sendiri dan mengarah ke huruf abjad perlahan demi perlahan hingga membentuk sebuah nama. Yang pertama dituju oleh pensil itu adalah huruf A, selanjutnya huruf V, I dan huruf terakhir adalah N. Kalau dirangkai berarti nama hantu itu adalah AVIN.
Karena aku juga ingin mencoba, dengan penuh keberanian akhirnya aku bertanya.
"Kamu laki-laki atau perempuan?" tanyaku juga.
Pensil itu kembali bergerak dan kembali menuliskan kata-kata yaitu LAKI-LAKI. Aku, Kak Ani dan Kak Tina seketika saling berpandangan. Antara percaya atau tidak, tetapi apa yang kami lakukan itu benar adanya.
Pertanyaan terakhir yang kami ajukan pada hantu itu adalah "Kenapa kamu meninggal?"
Kemudian pensil itu bergerak lagi mengarah pada huruf abjad T, E, R, P, E, L,E, S, E, T. Apabila huruf itu dirangkai menjadi kata TERPELESET, berarti arwah ini meninggal karena terpeleset.
Saat hari sudah mulai agak petang. Aku merasa permainan ini harus segera diakhiri karena aku tidak ingin hantu atau arwah yang kami panggil menampakan diri, terlebih lagi justru tidak mau pulang.
Saat hari sudah mulai agak petang. Aku merasa permainan ini harus segera diakhiri karena aku tidak ingin hantu atau arwah yang kami panggil menampakan diri, terlebih lagi justru tidak mau pulang.
Kak Tina pun berkata pada hantu itu.
"Rasanya kami sudah cukup bermain dengan kamu. Apakah kamu mau pergi?"
Pensil itu pun kembali bergerak dan untungnya ia mau pergi dengan menunjuk ke kata YES. Setelah kami menyelesaikan permainan horor ini bertiga aku masih saja belum percaya dengan apa yang telah kami lakukan itu. Namun, aku bisa menarik nafas lega karena hantu itu mau pulang ke tempat asalnya.
"Kak, apakah diantara kamu berdua yang telah menggerakan pensil tersebut?" tanyaku seolah masih tidak percaya.
"Enggak kok,"jawab Kak Tina dan Kak Ani kompak.
Hmmm, memang benar sih aku juga merasa tidak menggerakan pensil itu dan memang pensil itu nyatanya bergerak secara sendiri. Kemudian lebih mengerikan dan anehnya lagi pensil yang kami pegang itu terasa lebih berat, tidak seperti pensil kayu pada umumnya yang terasa ringan saat dipegang.
Karena hari makin gelap, aku meminta ijin untuk pulang ke rumah dan apa yang telah kami lakukan hari ini sungguh menjadi pengalaman yang sangat berkesan sekaligus juga menegangkan bagi bocah kecil sepertiku.
Karena hari makin gelap, aku meminta ijin untuk pulang ke rumah dan apa yang telah kami lakukan hari ini sungguh menjadi pengalaman yang sangat berkesan sekaligus juga menegangkan bagi bocah kecil sepertiku.
Diubah oleh Richy211 04-01-2020 19:32
perihbanget memberi reputasi
1
Tutup