- Beranda
- Stories from the Heart
Keris Telutas Jaja Laknat
...
TS
amriakhsan
Keris Telutas Jaja Laknat
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
PROLOG
i.
Kalau aku masih memiliki jiwa yang memang harus diteruskan maka ini adalah saatnya aku memiliki arti dimana aku kira diriku ini sebenarnya merasa sangatlah tidak berguna dan akan menjadi pengangguran terbesar sepanjang sejarah negara ini. Namun kali ini sesuatu hal yang selama ini ditutupi telah dibuka dan menjadikan diriku sangatlah bingung, kesal, dan juga mungkin sedikit rasa lega karena tidak lain dan tidak bukan adalah karena aku tidak hidup hanya untuk diriku. Namun diriku ada untuk hidup dengan membawa jiwa, kenangan, dan kisah masa lalu dan akan melanjutkannya untuk jiwa di masa mendatang.
Kali ini aku mendapatkan tugas yang harus dan memang ini akan menjadi peran utama pada perjalanan hidup baruku. Tugas yang sebenarnya tidak pernah kusangka dan menjelaskan pertanyaan-pertanyaan diriku di masa kecil.
Tugas yang menurutku sangat penting untuk keberlangsungan umat manusia, yang menjadikannya sebagai pembelajaran untuk masa depan. Tugas itu disebut dengan menulis.
ii.
Dito adalah saudaraku, pamannya membantuku dan membiayaiku dari masa aku kehilangan orang tuaku sejak SMP. Aku jarang sekali berbicara padanya dan mungkin kami bertemu baru kali ini sejak 4 tahun lalu,paling sering kami berinteraksi pada masa kecil. Itupun aku ingat waktu itu kami bertengkar hanya karena masalah sepele. Perbedaan yang sangat kulihat ketika saat aku masih bocah saat itu.
Wujud dirinya sekarang sudah layaknya menjadi gumpalan daging yang keras, dimana otot yang besar terlihat sangat tegas berada ada kedua tangannya yang mungkin agak terlalu besar dibanding badannya yang kekar, namun otot di dadanya tidak terlalu muncul dari kemejanya melebihi lengannya sendiri, seperti gorila tapi tidak gemuk. Hal yang biasa aku lihat saat menonton tinju. Ya, dia lebih terlihat seperti atlet tinju orang dengan pakaian kantoran biasa. Sulit bagiku untuk menggambarkan bagian fisik ototnya karena aku sendiri tidak memilikinya dan untuk bagian yang ini aku iri dengannya.
Dengan tubuh yang seperti itu ditambah lagi dengan wajahnya yang aku yakin tidak ada wanita yang menolaknya. Dengan wajah tampan berbentuk bulat agak lonjong, rambut 3 cm terpotong rapi tersisir ke belakang dengan pinggiran tipis, bagian rahang yang tegas dan tipis serta matanya yang bulat berbinar yang menampilkan dirinya sangat berenergi, menampilkan api pada dirinya. Bibir yang agak tipis membuatnya terlihat menjadi penarik wanita paling cepat jika melihat kesempurnaan yang ada pada tubuhnya dan wajahnya. Namun aku melihat sedikit detail noda sayatan yang cukup dalam pada wajahnya dari bagian pangkal hidung mancungnya lalu turun ke bagian bawah mata kanannya. Kalau yang satu ini aku sulit untuk memasukkannya sebagai bagian yang keren atau malah merusak wajahnya, atau malah menyempurnakannya.
Aku juga ingat bagian yang paling tidak bisa ditolak dari kesempurnaan semuanya adalah jumlah uang yang dimilikinya. Dengan pakaian yang tidak mewah dan sederhana namun rapi, sangat menipu jika hanya sekedar melihatnya berjalan di antara banyak orang orang kaya yang biasa kulihat. Permasalahannya adalah sifat aslinya yang menyebalkan, lebih tepatnya kesombongannya itu yang tidak bisa dihentikan. Hal juga menjadi alasan mengapa wajahnya selalu terlihat menampilkan kebanggaan namun disisi lain menampakan keseriusannya dalam banyak hal.
Salah satu kebanggannya yang nyata adalah bisa meneruskan perusahaan ayahnya yang sebenarnya aku sendiri tidak paham secara detail perusahaan apa ini. Namun yang pasti kuketahui adalah ini seperti perusahaan peralatan elektronik untuk medis. Disamping itu aku pernah mencuri dengar saat ayahnya menceritakan sebaran sahamnya pada banyak perusahaan besar di seluruh dunia. Benar benar akalku tidak akan masuk jika memiliki uang dan tanggung jawab sebanyak itu. Dari yang sudah kubilang sejak awal bahwa aku ini merasa masa depanku sudah habis, pasti aku tidak tahu harus berbuat apa dengan uang sebanyak itu.
Rumah dengan model layaknya keraton di kota luas ini kurasa sangatlah pas, ditambah halaman yang ia miliki sangatlah luas baik dari bagian halamannya yang hijau dan rindang ditumbuhi banyak pepohonan buah buahan hingga bagian belakang rumah yang dipenuhi tumbuh tumbuhan hias seperti bunga dan juga pohon beringin besar. Namun yang parah adalah bagian dalam rumahnya yang memiliki banyak cabang dan lorong dengan bentukan dan terlihat yang sama yaitu perempatan dengan kayu jati besar menghadap secara vertikal di bagian bawah dan anyaman rotan tebal di atasnya dengan ornamen elang berjambul kecil di sudut sudut rumah. Terburuknya yaitu yang tidak diberi tanda untuk masing masing ruangan sehingga banyak orang pasti bisa kebingungan dan tersasar di dalam sebuah rumah ini serta banyak ruangan kosong di dalamnya yang aku sendiri tidak paham kenapa banyak ruangan kosong padahal ia hanya tinggal dengan adik serta ayahnya.
Setelah perjalanan membingungkan dan berputar putar, tubuhku menyerah dan berakhir di sebuah balkon rumah, menghadap langsung ke depan pohon rindang dengan daun hijau panjang dan lurus namun ujungnya berkelok kelok, pasti ini daun pohon mangga, mataku berusaha mencari dan akhirnya terfokus dengan mangga kecil yang tumbuh di bagian dahan lain. Setelah menghirup beberapa udara yang tercampur baunya dari daun daun serta getah pohon, diriku sedang duduk di kursi panjang dari baja ringan yang dibentuk menyerupai batang kayu, sambil melihat dan memperhatikan pepohonan yang hijau yang membuat seluruh pandanganku menjadi kabur saat melihat, hal hal yang kurasa ini pernah aku membacanya di suatu buku, namun … satu satunya yang kuingat adalah … ingatanku buruk soal mengingat. Lalu disaat seluruh pandanganku sudah buyar dengan seluruh benda benda hijau di depanku, tubuhku bersandar dan melempar kedua lenganku ke bagian atas kursi, sekarang keduanya tingginya sejajar dengan kepalaku. Kemudian suara geser bergulir masuk ke telingaku, mengganggu relaksasiku.
Langkah sepatu dari kayu yang berhentakan dengan kayu menghasilkan bunyi ketukan yang khas. Sosok itu berdiri disampingku melihatku sudah tidak berdaya tergeletak diatas kursi tanpa bisa berbuat apa apa, kemudian sejenak mataku mencoba meraih seluruh tenaga yang ada untuk memfokuskan pandanganku kepada sosok besar yang seharusnya kusadari dari awal itu adalah Dito. Dia datang kepadaku dengan dagu sedikit dinaikan ke atas, serta kedua tangan besarnya masuk ke kantong celananya.
“Hey kenapa kau di sini tanpa bilang bilang,” kata Dito dengan suara yang sedikit bergemuruh.
“Aku awalnya ingin pergi menemuimu namun aku tidak tahu dimana ruangan kau, setelah itu aku mencoba untuk mencarinya sendiri dan akhirnya aku tersesat disini,” balasku sambil menyindir rumah sialannya ini.
Dito terkekeh, “Memangnya apa yang ingin kau tanyakan hah?” Ditambah gerakan melipat kedua tangannya.
“Toilet,” balasku singkat.
“Kau sekarang sedang menatap toilet yang luas, kenapa kau tidak kencing saja sekarang di rumput,” sahutnya.
“Iya ... iya terserahlah,” balasku tanpa memerdulikan perkataannya barusan dengan memalingkan wajahku ke arah dedaunan di pohon.
“Karena kau sudah ada dan datang kemari, aku memiliki satu tugas untuk dirimu,” katanya namun kali ini dia telah menurunkan dagunya dan melembutkan sedikit pandangannya.
“Sebenarnya aku lebih suka nganggur seperti ini. Tapi … baiklah, asalkan jangan ambigu.”
“Tidak tentu saja karena tugas ini akan melekat pada dirimu untuk selamanya mulai dari sekarang, lagi pula tugas ini hanya kau yang bisa melakukannya,” jawab Dito dengan nada pelan layaknya orang tua menceramahi anaknya.
“Tugas seperti apa itu sampai kau tidak bisa melakukannya sendiri,” balasku dengan heran sambil kembali menaruh wajahku kearahnya
“Aku menyuruhmu untuk menuliskan cerita tentang perjalanan hidupmu dari sekarang.”
“Untuk melamar kerja?”
“Bukan, tapi untuk menjadi penyambung kisah generasi kita bersaudara,” jawab Dito kali ini dengan nada cukup berat.
“Apa maksudmu dengan kita?”
“Diriku tidak ingin bercerita panjang lebar sekarang, kau akan paham nanti.”
“Eleh … sekarang kau seperti orang tua saja.”
Dito mulai memicingkan matanya dengan tatapan tidak menyenangkan.
“Aku masih tidak paham sama sekali maksud tugas ini,” balasku dengan heran.
“Aku tidak bisa memberi detailnya sekarang, namun kali ini kau cukup ceritakan perjalanan hidupmu dari waktu yang kau inginkan. Seperti sejak kau lulus SMA ataupun kuliahmu,” jelas Dito.
Mataku memalihkan pandangannya kesebuah pohon selama beberapa saat sambil memikirkan semua kata katanya barusan. “Oke, aku mulai sedikit paham dengan apa yang kau mau, cukup cerita saja kan?”
“Tentu, ini seharusnya menjadi tugas anak anak namun seperti yang kubilang tadi. Hanya kau yang bisa melakukannya,” jawab Dito kali ini dengan nada yang puas.
“Apa semua orang yang datang kesini harus menulis cerita mereka semua?” tanyaku lagi, dengan nada agak serius.
“Tidak … ini spesial khusus kau saja,” jawab Dito dengan memejamkan matanya dan menurunkan sedikit dagunya, seperti sedang menahan rasa kesal.
“Baiklah, jadi dimana aku bisa mulai tugas ini?”
Dito merogoh isi sakunya dan mengambil sebuah kartu. ”Ini kunci kamarmu, kau tinggal lurus saja dari pintu ini lalu belok kanan hingga ke pokok lorong. Disanalah kau bisa mulai kerjamu,” jelas Dito sambil tangan besarnya kembali masuk ke kantongnya memperbaiki isi saku kosongnya yang keluar.
Aku menarik nafas dalam dalam dan mengeluarkannya dengan perlahan. ”Hanya ini saja kan? Tidak ada batas waktu?” tiba tiba aku terhenti dan berfikir sejenak seperti layaknya membuat kesalahan tidak sengaja dengan menanyakan hal tersebut.
“Tenang saja ini bukan tugas kuliah, namun aku sarankan kau untuk cepat,” balas Dito dengan santai.
“Oke ... setelah kulihat tugas ini tidak terlalu menjengkelkan seperti perkiraanku,” balasku dengan senyum kecil muncul di samping bibirku.
Dito sejenak bergumam. “Mungkin kau belum tahu saja bocah betapa beratnya tugas ini,” Balas Dito kali ini dengan santai dan tidak seserius diawal.
“Sialan kau mengerjaiku.”
“Ini belum apa apa.” Ia lalu mengeluarkan tangannya dari sakunya sambil membalikan badannya dan berjalan perlahan pergi dengan suara hentakan sepatu yang cukup keras.
Aku sama sekali tidak paham apa tujuannya namun aku memang tidak tahu harus ngapain lagi. Aku menarik badanku ke posisi tegap dan mendorong tubuhku dengan memasang pondasi kedua lengan ke kursi dan mengambil tenaga berusaha naik, kemudian mencoba mengambil konsentrasi, berdiri tegak sambil membusungkan sedikit dadaku. Kakiku aku mengambil langkah dan berputar, masuk ke arah lorong yang tadi diberitahunya dan menuju kamarku untuk melakukan perintahnya tadi.
Diubah oleh amriakhsan 28-09-2020 00:15
aripinastiko612 dan 12 lainnya memberi reputasi
11
9K
67
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
amriakhsan
#3
BAB II Part 1 - Kebohongan
i.
Tidak ada yang bisa menandingi ketenangan dari hobiku yang satu ini, menikmati waktu luang bersama dengan secangkir teh hangat yang wangi melatinya masuk perlahan melalui hidungku hingga rasanya terasa sampai kerongkongan sebelum akhirnya seruput manisnya teh membasahi bibir dan lidahku yang terasa agak sedikit memberi rasa terbakar setelah mengambil seteguk cangkir. Setelah puas, ku letakkan cangkir teh di sebelah tumpukan buku yang tersusun rapi diatas meja kayu besar berwarna putih dan duduk menyender ke punggung kursi, merebah dan melepas lelah setelah semalaman kubaca hingga habis semua buku buku itu, kuharap tidak akan mudah hilang begitu saja di otakku. Aku melakukan hal ini karena Dito selalu menyuruhku mempelajari tentang beberapa sejarah serta buku tentang psikologis. Sempat beberapa kali aku mengambil kesempatan untuk menanyakan maksudnya, namun jawaban darinya hanyalah jawaban yang tidak pernah memuaskan rasa penasaranku.
Aku sudah menetap di kamarku sejak seminggu yang lalu dan mulai merasa familiar dengan semua lokasi rumah ini. Tidak jarang juga aku mendapatkan kesempatan untuk bertemu dengan adik perempuannya Dito yaitu Nadya. Dia adik kelasku saat di kampus, angkatan dia berbeda dua tahun dari angkatanku. yang satu satunya kutahu darinya adalah tingkahnya yang tidak bisa diam dan selalu terlihat menggemaskan, maka tak heran jika dia menjadi salah satu primadona di jurusanku. Kadang kami sering kedapatan bertemu dalam harian kuliah kami dan yang pasti kutahu saat dia bertemu denganku adalah dia tidak pernah lupa untuk menyapaku dan menanyakan kabarku, membuatku kadang merasa tidak nyaman karena tidak ada yang tahu kalau kami saudara dan gosip gosip bermunculan dari kawan kawanku.
Satu hal lagi yang kutahu adalah dia sangat suka warna hitam jika kulihat dari warna pakaian yang ia kenakan setiap harinya. Dengan kemeja berlengan pendek lalu menggunakan celana jeans panjang yang ditambah dengan rok dengan panjang hingga lututnya ditambah dengan sepatu kets yang selalu ia kenakan. Rambut yang terpotong pendek dengan poni di depan dan sedikit bervolume sampai di belakang leher yang masing ujung rambut belakangnya dibuat bergelombang. Wajah segitiga berpipi tipis dan padat berbeda sekali dengan penampilan kakaknya. Mata agak melebar dengan alis kotak lurus melengkung, hidung yang tajam disertai bibirnya yang mungil dengan pipi yang sedikit chubby dan saat senyum akan muncul wajah imutnya dengan gigi putihnya. Aku sangat yakin dia jauh mirip dengan ibunya dibandingkan wajah ayahnya jika ibunya masih hidup sampai sekarang.
Kali ini aku sedang melihat dia menikmati libur semester di halaman belakang rumah ini. di bawah bayang bayang pohon rindang dan besar. Nadya sedang jongkok diatas rerumputan hijau dengan dikelilingi kelinci kelinci gemuk berwarna putih di sekitarnya, dia menggenggam sayuran hijau peka yang agak layu, sepertinya dia sedang memberi makan kelinci dengan kangkung dan seledri. Sambil tangannya menyuapi kelinci tersebut satu persatu, namun kelinci kelinci kelaparan tersebut tidak begitu peduli dan saling berlomba lomba untuk mendapatkan makanan lebih dahulu.
Aku mengambil langkah perlahan agar tidak membuat kelinci tersebut lari ketakutan, sampai posisiku berada tidak jauh di belakang Nadya saat sedang tidak fokus mengarah kepadaku. Namun Nadya sepertinya menyadari keberadaanku dengan sedikit menolehkan ujung hidung serta tatapan matanya yang berputar setelah melihat diriku yang sedang berjalan mengendap endap di belakangnya.
“Jangan ganggu aku kalau sedang begini,” bisik Nadya dengan menggerakan ujung bibirnya.
“Aku ingin tau kemana kakakmu, dari kemarin aku tidak melihatnya,” balasku dengan nada yang biasa dan nampaknya kelinci kelinci tidak bermasalah dengan keberadaanku.
“Kau mencarinya? Ada urusan apa memangnya?” tanya Nadya kali ini memalingkan wajahnya, berfokus ke kelincinya.
“Aku ada urusan penting.”
“Aku tidak peduli.”
Tiba-tiba tepukan yang besar mendarat di bahuku membuatku sontak kaget dan mengeluarkan teriakan yang cukup kencang disambut dengan kelinci yang berlarian ke segala arah, menjauh dan menghilang di di rerumputan. Tidak berselang lama Nadya bangun dari posisi jongkoknya dan dari yang kulihat sepertinya dia menaruh kedua lengannya di samping pinggang dan mengepalkan kedua tangannya dengan sangat erat.
Nadya berteriak dengan sangat kencang dan nyaring selama beberapa detik hingga dia menurunkan nadanya dan langsung mengambil langkah maju sambil mengangkat pandangannya ke arahku. Lengannya terangkat dan mengambil jari telunjuknya yang di tangannya masih mengepal seledri, menodongkannya kearahku dan perlahan bergeser ke arah orang di belakangku dengan wajah yang sangat merah dan menunjukan barisan giginya yang terapatkan sambil menarik udara dari sela selanya, menghasilkan bunyi khas orang yang sudah kehabisan kesabarannya.
“Aku minta maaf Nadya, aku tid- ”
Wajahku langsung tersambar pukulan dari daun seledri di genggamannya yang secepat aku berkedip. Seketika itu aku langsung tidak berani untuk berkata apa apa lagi. lalu nadya mengambil langkah maju, melewatiku dan kali ini dia langsung melempar baskom berisi sayuran ke arah wajahnya hingga terpentok kencang sampai semua sayurannya berhamburan jatuh ke tanah dan tampak wajah Dito sudah pasrah dengan menutup matanya dan menerima seluruh amarah adiknya.
Lalu dari arah belakang saat langkah Nadya berjalan menginjak rumput dengan hentakannya. Suara pintu kayu bergeser dan langsung saja disambut dengan teriakan Nadya yang kali ini terdengar bahagia.
“Kak Ardi …” sahut Nadya dengan riang dan langsung berlari ke orang yang Nadya sebut itu.
Wajahku menoleh dan melihat Dito yang sedang memutar matanya dengan wajah lesu bersama lipatan tangannya yang selalu mengikatnya. Dito pun ikut berputar saat dia menyadari aku sedang memperhatikannya, aku pun mengambil langkah maju ke sampingnya dan kami berdua akhirnya memperhatikan lelaki yang lebih tinggi dari Nadya yang sepertinya dia sedang menghujaninya dengan banyak pertanyaan.
Badan besarnya yang bersender di daun pintu, menaruh perhatiannya penuh pada Nadya dengan wajah kotaknya yang terlihat tegas, matanya yang bulat dan teduh lalu alis kotaknya yang rapat dengan matanya menampakan keningnya yang lebar, hidung yang mancung dan bibirnya yang agak hitam dan brewok yang tercukur tipis dari bawah hidungnya sampai ujung rahangnya. Wajahnya masih menaruh perhatian pada Nadya dengan wajah datar dan sesekali dengan jawaban yang singkat dengan suara yang cukup berat.
“Siapa dia?” tanyaku.
“Dia akan menjadi gurumu,” jawab Dito.
“Maksudnya?” tanyaku dengan nada heran sambil melirik sedikit ke wajah Dito yang sedang memejamkan matanya dan menarik tangannya, menaruh ujung ujung jarinya ke keningnya dan memijatnya pelan pelan.
“Bagaimana ya aku menjelaskannya,” tangannya langsung menarik rambutnya ke belakang. “Dia akan menjadi gurumu dalam segala hal mulai dari sekarang. Dia yang akan melatihmu dan mengajarimu semua hal yang harus kau tahu dari dulu, pertanyaan pertanyaan yang mungkin kau dulu pernah tanyakan pada dirimu sendiri, takdirmu, segala hal tentang keluarga kita,” jelas Dito.
“Memangnya kau tahu takdirku?”
“Tidak, dia juga tidak tahu, tapi kau harus tahu semuanya yang harus kau tahu, bahkan tentang keluargamu sendiri.”
“Aku terlihat sedang memainkan game RPG disini dimana tokohnya lupa ingatan, tapi masalahnya aku tidak lupa apapun.”
“Ya begitulah jika kau memberi analogi seperti itu, tapi yang mesti kau pahami adalah tentang keluarga ini, keluarga kita.”
“Jadi semua ini masalah keluarga ya, aku sedikit tercerahkan mendengar kata katamu tadi.”
“Malam ini kau setelah makan malam, kita semua akan menjelaskannya kepadamu.”
“Menjelaskan tentang keluarga yang tidak jelas ini?”
“Ya begitulah kau menyebutnya,” jawab Dito melepas ikatan lengannya lalu menepuk pundakku. “Sebaiknya kau segera berkenalan dengannya dan akrab dengan dia. Biar kukasih tahu sesuatu yang membuatmu makin bingung, dia adalah kakakmu.”
“Hah … apaan?”
Dito langsung mengambil langkah maju tanpa menjelaskan apa apa lagi padaku dan dia langsung menarik kedua lengan Nadya dan mendorongnya masuk ke rumah, meninggalkan kami berdua yang sekarang. Aku menoleh padanya dan tidak berkata apa apa untuk sejenak, menunggu dia mengatakan sesuatu namun sampai beberapa detik aku jadi canggung karena dia tidak memberikan sepatah katapun dari wajahnya yang terdiam menatapku. Lalu seketika aku teringat dengan kata kata Dito tadi.
“Apa … maksud Dito tadi … kau itu kakakku?” tanyaku dengan wajah menyerngit.
Ekspresi wajahnya langsung seketika berubah, sedikit tersentak kaget dan dia mengetuk ngetuk keningnya sambil memejamkan matanya. “Apa kau percaya?” tanya pria itu sambil berhenti mengetuk keningnya dan membuka sedikit matanya.
“Aku tidak tahu.”
“Ya ada sedikit benarnya jika dia bilang begitu.”
Mataku terbelalak mendengar jawabannya. “Kau serius?”
Pria itu sedikit mengangguk sebelum akhirnya dia masuk kembali ke rumah dan menutup pintunya, meninggalkanku sendiri yang sibuk menjambak jambak rambutku dengan kedua tanganku. Tidak pernah aku dilanda kebingungan seperti ini sebelumnya seumur hidupku.
i.
Tidak ada yang bisa menandingi ketenangan dari hobiku yang satu ini, menikmati waktu luang bersama dengan secangkir teh hangat yang wangi melatinya masuk perlahan melalui hidungku hingga rasanya terasa sampai kerongkongan sebelum akhirnya seruput manisnya teh membasahi bibir dan lidahku yang terasa agak sedikit memberi rasa terbakar setelah mengambil seteguk cangkir. Setelah puas, ku letakkan cangkir teh di sebelah tumpukan buku yang tersusun rapi diatas meja kayu besar berwarna putih dan duduk menyender ke punggung kursi, merebah dan melepas lelah setelah semalaman kubaca hingga habis semua buku buku itu, kuharap tidak akan mudah hilang begitu saja di otakku. Aku melakukan hal ini karena Dito selalu menyuruhku mempelajari tentang beberapa sejarah serta buku tentang psikologis. Sempat beberapa kali aku mengambil kesempatan untuk menanyakan maksudnya, namun jawaban darinya hanyalah jawaban yang tidak pernah memuaskan rasa penasaranku.
Aku sudah menetap di kamarku sejak seminggu yang lalu dan mulai merasa familiar dengan semua lokasi rumah ini. Tidak jarang juga aku mendapatkan kesempatan untuk bertemu dengan adik perempuannya Dito yaitu Nadya. Dia adik kelasku saat di kampus, angkatan dia berbeda dua tahun dari angkatanku. yang satu satunya kutahu darinya adalah tingkahnya yang tidak bisa diam dan selalu terlihat menggemaskan, maka tak heran jika dia menjadi salah satu primadona di jurusanku. Kadang kami sering kedapatan bertemu dalam harian kuliah kami dan yang pasti kutahu saat dia bertemu denganku adalah dia tidak pernah lupa untuk menyapaku dan menanyakan kabarku, membuatku kadang merasa tidak nyaman karena tidak ada yang tahu kalau kami saudara dan gosip gosip bermunculan dari kawan kawanku.
Satu hal lagi yang kutahu adalah dia sangat suka warna hitam jika kulihat dari warna pakaian yang ia kenakan setiap harinya. Dengan kemeja berlengan pendek lalu menggunakan celana jeans panjang yang ditambah dengan rok dengan panjang hingga lututnya ditambah dengan sepatu kets yang selalu ia kenakan. Rambut yang terpotong pendek dengan poni di depan dan sedikit bervolume sampai di belakang leher yang masing ujung rambut belakangnya dibuat bergelombang. Wajah segitiga berpipi tipis dan padat berbeda sekali dengan penampilan kakaknya. Mata agak melebar dengan alis kotak lurus melengkung, hidung yang tajam disertai bibirnya yang mungil dengan pipi yang sedikit chubby dan saat senyum akan muncul wajah imutnya dengan gigi putihnya. Aku sangat yakin dia jauh mirip dengan ibunya dibandingkan wajah ayahnya jika ibunya masih hidup sampai sekarang.
Kali ini aku sedang melihat dia menikmati libur semester di halaman belakang rumah ini. di bawah bayang bayang pohon rindang dan besar. Nadya sedang jongkok diatas rerumputan hijau dengan dikelilingi kelinci kelinci gemuk berwarna putih di sekitarnya, dia menggenggam sayuran hijau peka yang agak layu, sepertinya dia sedang memberi makan kelinci dengan kangkung dan seledri. Sambil tangannya menyuapi kelinci tersebut satu persatu, namun kelinci kelinci kelaparan tersebut tidak begitu peduli dan saling berlomba lomba untuk mendapatkan makanan lebih dahulu.
Aku mengambil langkah perlahan agar tidak membuat kelinci tersebut lari ketakutan, sampai posisiku berada tidak jauh di belakang Nadya saat sedang tidak fokus mengarah kepadaku. Namun Nadya sepertinya menyadari keberadaanku dengan sedikit menolehkan ujung hidung serta tatapan matanya yang berputar setelah melihat diriku yang sedang berjalan mengendap endap di belakangnya.
“Jangan ganggu aku kalau sedang begini,” bisik Nadya dengan menggerakan ujung bibirnya.
“Aku ingin tau kemana kakakmu, dari kemarin aku tidak melihatnya,” balasku dengan nada yang biasa dan nampaknya kelinci kelinci tidak bermasalah dengan keberadaanku.
“Kau mencarinya? Ada urusan apa memangnya?” tanya Nadya kali ini memalingkan wajahnya, berfokus ke kelincinya.
“Aku ada urusan penting.”
“Aku tidak peduli.”
Tiba-tiba tepukan yang besar mendarat di bahuku membuatku sontak kaget dan mengeluarkan teriakan yang cukup kencang disambut dengan kelinci yang berlarian ke segala arah, menjauh dan menghilang di di rerumputan. Tidak berselang lama Nadya bangun dari posisi jongkoknya dan dari yang kulihat sepertinya dia menaruh kedua lengannya di samping pinggang dan mengepalkan kedua tangannya dengan sangat erat.
Nadya berteriak dengan sangat kencang dan nyaring selama beberapa detik hingga dia menurunkan nadanya dan langsung mengambil langkah maju sambil mengangkat pandangannya ke arahku. Lengannya terangkat dan mengambil jari telunjuknya yang di tangannya masih mengepal seledri, menodongkannya kearahku dan perlahan bergeser ke arah orang di belakangku dengan wajah yang sangat merah dan menunjukan barisan giginya yang terapatkan sambil menarik udara dari sela selanya, menghasilkan bunyi khas orang yang sudah kehabisan kesabarannya.
“Aku minta maaf Nadya, aku tid- ”
Wajahku langsung tersambar pukulan dari daun seledri di genggamannya yang secepat aku berkedip. Seketika itu aku langsung tidak berani untuk berkata apa apa lagi. lalu nadya mengambil langkah maju, melewatiku dan kali ini dia langsung melempar baskom berisi sayuran ke arah wajahnya hingga terpentok kencang sampai semua sayurannya berhamburan jatuh ke tanah dan tampak wajah Dito sudah pasrah dengan menutup matanya dan menerima seluruh amarah adiknya.
Lalu dari arah belakang saat langkah Nadya berjalan menginjak rumput dengan hentakannya. Suara pintu kayu bergeser dan langsung saja disambut dengan teriakan Nadya yang kali ini terdengar bahagia.
“Kak Ardi …” sahut Nadya dengan riang dan langsung berlari ke orang yang Nadya sebut itu.
Wajahku menoleh dan melihat Dito yang sedang memutar matanya dengan wajah lesu bersama lipatan tangannya yang selalu mengikatnya. Dito pun ikut berputar saat dia menyadari aku sedang memperhatikannya, aku pun mengambil langkah maju ke sampingnya dan kami berdua akhirnya memperhatikan lelaki yang lebih tinggi dari Nadya yang sepertinya dia sedang menghujaninya dengan banyak pertanyaan.
Badan besarnya yang bersender di daun pintu, menaruh perhatiannya penuh pada Nadya dengan wajah kotaknya yang terlihat tegas, matanya yang bulat dan teduh lalu alis kotaknya yang rapat dengan matanya menampakan keningnya yang lebar, hidung yang mancung dan bibirnya yang agak hitam dan brewok yang tercukur tipis dari bawah hidungnya sampai ujung rahangnya. Wajahnya masih menaruh perhatian pada Nadya dengan wajah datar dan sesekali dengan jawaban yang singkat dengan suara yang cukup berat.
“Siapa dia?” tanyaku.
“Dia akan menjadi gurumu,” jawab Dito.
“Maksudnya?” tanyaku dengan nada heran sambil melirik sedikit ke wajah Dito yang sedang memejamkan matanya dan menarik tangannya, menaruh ujung ujung jarinya ke keningnya dan memijatnya pelan pelan.
“Bagaimana ya aku menjelaskannya,” tangannya langsung menarik rambutnya ke belakang. “Dia akan menjadi gurumu dalam segala hal mulai dari sekarang. Dia yang akan melatihmu dan mengajarimu semua hal yang harus kau tahu dari dulu, pertanyaan pertanyaan yang mungkin kau dulu pernah tanyakan pada dirimu sendiri, takdirmu, segala hal tentang keluarga kita,” jelas Dito.
“Memangnya kau tahu takdirku?”
“Tidak, dia juga tidak tahu, tapi kau harus tahu semuanya yang harus kau tahu, bahkan tentang keluargamu sendiri.”
“Aku terlihat sedang memainkan game RPG disini dimana tokohnya lupa ingatan, tapi masalahnya aku tidak lupa apapun.”
“Ya begitulah jika kau memberi analogi seperti itu, tapi yang mesti kau pahami adalah tentang keluarga ini, keluarga kita.”
“Jadi semua ini masalah keluarga ya, aku sedikit tercerahkan mendengar kata katamu tadi.”
“Malam ini kau setelah makan malam, kita semua akan menjelaskannya kepadamu.”
“Menjelaskan tentang keluarga yang tidak jelas ini?”
“Ya begitulah kau menyebutnya,” jawab Dito melepas ikatan lengannya lalu menepuk pundakku. “Sebaiknya kau segera berkenalan dengannya dan akrab dengan dia. Biar kukasih tahu sesuatu yang membuatmu makin bingung, dia adalah kakakmu.”
“Hah … apaan?”
Dito langsung mengambil langkah maju tanpa menjelaskan apa apa lagi padaku dan dia langsung menarik kedua lengan Nadya dan mendorongnya masuk ke rumah, meninggalkan kami berdua yang sekarang. Aku menoleh padanya dan tidak berkata apa apa untuk sejenak, menunggu dia mengatakan sesuatu namun sampai beberapa detik aku jadi canggung karena dia tidak memberikan sepatah katapun dari wajahnya yang terdiam menatapku. Lalu seketika aku teringat dengan kata kata Dito tadi.
“Apa … maksud Dito tadi … kau itu kakakku?” tanyaku dengan wajah menyerngit.
Ekspresi wajahnya langsung seketika berubah, sedikit tersentak kaget dan dia mengetuk ngetuk keningnya sambil memejamkan matanya. “Apa kau percaya?” tanya pria itu sambil berhenti mengetuk keningnya dan membuka sedikit matanya.
“Aku tidak tahu.”
“Ya ada sedikit benarnya jika dia bilang begitu.”
Mataku terbelalak mendengar jawabannya. “Kau serius?”
Pria itu sedikit mengangguk sebelum akhirnya dia masuk kembali ke rumah dan menutup pintunya, meninggalkanku sendiri yang sibuk menjambak jambak rambutku dengan kedua tanganku. Tidak pernah aku dilanda kebingungan seperti ini sebelumnya seumur hidupku.
aripinastiko612 dan 3 lainnya memberi reputasi
4
