- Beranda
- Stories from the Heart
AKHIR PENANTIANKU (JILID IV _ 2.0) [TRUE STORY]
...
TS
dissymmon08
AKHIR PENANTIANKU (JILID IV _ 2.0) [TRUE STORY]
SELAMAT DATANG AGAN SISTA
Halo! 
Selamat berjumpa kembali dengan gue dalam rangka melanjutkan JILID IV kemarin yang gue akhiri di tengah alias Mid-season Finale. Udah berasa kayak cerita series bule The Walking Dead, Nancy Drew, etcyak? Hahaha. Karena berbagai pertimbangan, gue memutuskan untuk menyelesaikan di sana. Hapunten ya agan sista! Semoga agan sista bisa memahaminya...
Ga pernah gue lupa untuk selalu ngucapin terima kasih atas dukungan dan apresiasi agan sista selama ini! Makin hari, makin bikin semangat gue aja untuk terus melanjutkan cerita gue ini yang (kayaknya) masih panjang. Hehehe.
Masih melanjutkan tema cerita di JILID IV gue sebelumnya, insya Alloh di JILID IV 2.0 ini gue akan menjawab bagaimana kondisi ibu gue, bagaimana hubungan gue dengan Bang Firzy, bagaimana pendidikan gue, bagaimana pekerjaan gue, dan banyak puzzle-puzzle lainnya yang belum terjawab. Dengan semangat 'tak boleh ada kentang di antara kita' yang tak hentinya diucapkan oleh agan sista, insya Alloh juga gue akan melanjutkan sampai selesai (semoga tanpa hambatan) di thread gue yang ini.
Kembali lagi gue ingatkan gaya menulis gue yang penuh strong language, absurd-nya hidup gue dan (kayaknya masih akan) beberapa kali nyempil ++-nya, jadi gue masih ga akan melepas rating 18+ di cerita lanjutan gue kali ini. Gue berharap semoga agan sista tetap suka dan betah mantengin thread ane ini sampe selesai!
Dengan segala kerendahan hati gue yang belajar dari thread sebelumnya, kali ini gue memohon agan sista untuk membaca juga peraturan mengenai thread ini yang kayaknya banyak di-skip (karena dinilai ga penting), terutama mengenai kepentingan privasi dan spoiler. Semoga dengan kerja sama semuanya, membuat thread ini semakin bikin nyaman dan betah untuk jadi tempat nongkrong agan sista semuanya

Selamat berjumpa kembali dengan gue dalam rangka melanjutkan JILID IV kemarin yang gue akhiri di tengah alias Mid-season Finale. Udah berasa kayak cerita series bule The Walking Dead, Nancy Drew, etcyak? Hahaha. Karena berbagai pertimbangan, gue memutuskan untuk menyelesaikan di sana. Hapunten ya agan sista! Semoga agan sista bisa memahaminya...
Ga pernah gue lupa untuk selalu ngucapin terima kasih atas dukungan dan apresiasi agan sista selama ini! Makin hari, makin bikin semangat gue aja untuk terus melanjutkan cerita gue ini yang (kayaknya) masih panjang. Hehehe.
Masih melanjutkan tema cerita di JILID IV gue sebelumnya, insya Alloh di JILID IV 2.0 ini gue akan menjawab bagaimana kondisi ibu gue, bagaimana hubungan gue dengan Bang Firzy, bagaimana pendidikan gue, bagaimana pekerjaan gue, dan banyak puzzle-puzzle lainnya yang belum terjawab. Dengan semangat 'tak boleh ada kentang di antara kita' yang tak hentinya diucapkan oleh agan sista, insya Alloh juga gue akan melanjutkan sampai selesai (semoga tanpa hambatan) di thread gue yang ini.
Kembali lagi gue ingatkan gaya menulis gue yang penuh strong language, absurd-nya hidup gue dan (kayaknya masih akan) beberapa kali nyempil ++-nya, jadi gue masih ga akan melepas rating 18+ di cerita lanjutan gue kali ini. Gue berharap semoga agan sista tetap suka dan betah mantengin thread ane ini sampe selesai!

Dengan segala kerendahan hati gue yang belajar dari thread sebelumnya, kali ini gue memohon agan sista untuk membaca juga peraturan mengenai thread ini yang kayaknya banyak di-skip (karena dinilai ga penting), terutama mengenai kepentingan privasi dan spoiler. Semoga dengan kerja sama semuanya, membuat thread ini semakin bikin nyaman dan betah untuk jadi tempat nongkrong agan sista semuanya

![AKHIR PENANTIANKU (JILID IV _ 2.0) [TRUE STORY]](https://s.kaskus.id/images/2019/12/26/10712020_20191226010201.jpg)
Spoiler for AKHIR PENANTIANKU (THE SERIES):
Spoiler for INDEX:
Spoiler for MULUSTRASI:
Spoiler for PERATURAN:
Quote:
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 37 suara
Kepikiran untuk mulai post JILID I... Setuju kah?
Boleh juga Mi dicoba.
49%
Nanti aja, Mi.
51%
Diubah oleh dissymmon08 15-09-2020 12:11
padasw dan 90 lainnya memberi reputasi
85
170.9K
2.1K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
dissymmon08
#36
KISAH TENTANG F: PILIHAN (PART 01)
“Mi… Mama kamu koma.”
Gue duduk bengong di depan ruangan ICU. Gue cuman bisa liat nyokap gue tidur di dalam ruangan dengan selang yang entah berapa banyak itu dan yang bisa gue liat juga cuman suara mesin yang menunjukkan detak jantung nyokap gue. Nyokap gue koma dan detak jantungnya terus melemah. Dokter dan suster yang keluar dari ruangan ICU cuman bisa nyemangatin gue dan minta doa yang terbaik dari anaknya.
“Mama kamu ga pernah berenti manggil nama kamu sebelum dia koma tadi.”
Cuman itu yang diucap berulang kali oleh mereka. Sukses bikin gue berasa jadi anak paling durhaka di dunia, melebihi seorang Malin Kundang. Dimana gue pas nyokap gue nyariin gue? Harusnya gue selalu ada di sisinya bukan? Sekarang pas nyokap gue begini, gue bisa apa?
“ANJ*NG!” kata gue dalem hati sambil nangis lagi entah untuk yang keberapa kalinya malam itu.
Bokap gue lagi diminta istirahat di ruangan tempat nyokap rawat inap sebelumnya. Bokap pingsan pas nyokap dikabarin koma tadi. Bokap diangkut disana dan diminta untuk di sana sementara sampe kondisi bokap membaik. Bokap gue ga ada istirahatnya untuk ngejagain istrinya ini. Entah bokap gue inget makan atau minum apa ga. Yang bokap gue tau cuman bokap harus selalu ada di samping nyokap gue. Gue akhirnya di sini gantian nungguin nyokap gue ditemenin beberapa Om, Tante, dan sepupu gue.
Ga berasa hari udah lewat dini hari. Yang tersisa cuman gue dan Om gue. Sepupu dan Tante gue udah gue minta pulang. Gue ga enak mereka harus standbybegini padahal ini udah tanggung jawab gue dan bokap gue aja.
“Gini ya rasanya jadi anak tunggal… Saat kondisi keluarga lu begini, lu ga bisa sharing apapun dengan kakak atau adik lu. Lu cuman bisa ngandelin diri lu sendiri.” dan gue bersyukur punya keluarga kayak keluarga bokap gue yang tanpa pamrih terus ngebantu keluarga kecil gue ini.
Gue pengen banget terlelap saat itu. Tapi selalu ada rasa takut kalau gue bakalan ketinggalan setiap kesempatan gue untuk ngeliat nyokap lagi. Ga, gue ga suudzon kalau nyokap gue ga bisa bangun lagi. Tapi gue takut, entah kenapa rasa takut ini terus dateng setiap kali gue mau nutup mata gue untuk tidur. Kalian yang pernah di posisi gue, mungkin bisa mengerti.
Gue memutuskan untuk ambil wudhu dan coba Sholat Tahajud di ruang tunggu di samping ICU. Di sana keluarga para pasien istirahat. Gue habiskan waktu gue di sana untuk berserah diri kepada Alloh…
“Ya Alloh… Mungkin Emi bukan jadi anak terbaik untuk Mama dan Papa. Mungkin Emi bukan jadi anak sholehah yang mereka impikan. Mungkin kalau mereka tau gimana Emi yang sebenernya di luar sana, mereka mungkin bisa ngebenci Emi. Ya Alloh, kali ini Emi meminta kepada-Mu tolong beri kesembuhan pada Mama, ya Alloh… Tolong beri Mama kesempatan untuk kembali bersama kami di sini. Tolong beri Emi waktu lebih lama lagi untuk bisa peluk Mama. Tolong beri Emi waktu lebih lama untuk berbakti sama Mama. Tolong beri Emi waktu lebih lama untuk menemani Mama hingga Emi bisa membahagiakan mereka. Tolonglah ya Alloh…”
Doa yang terus menerus gue ucap saat itu tanpa hentinya. Hingga akhirnya gue ngerasa punggung gue panas dan gue ngedenger sekilas suara Mama manggil gue “Emi…”. Gue nengok ke samping gue ga ada siapapun. Ruangan di luar ruang tunggu ini gelap. Bahkan sekeliling gue semuanya tidur. Cuman gue yang terjaga saat itu.
“Mungkin cuman perasaan gue aja…” Gue rapihin peralatan sholat gue dan gue jalan ke depan ruangan ICU lagi. Om gue udah tertidur di depan bangku ruangan ICU. Gue duduk di samping Om gue.
Ruangan ICU saat malem begini emang ditutup seluruh jendela-nya. Gue ga bisa ngeliat nyokap gue. Tapi entah kenapa gue ngerasa lebih tenang dan lega banget saat itu. “Merem satu atau dua jam gapapa kali ya sambil nunggu Subuh?” kata gue dalem hati sambil cari posisi enak duduk di bangku.
“YA ALLOH!!!!”
Gue kaget dan kebangun mendadak. Gue ngedenger suara orang teriak. Gue langsung berdiri dan nengok ke arah kanan kiri gue. Pusing sih, keleyengan banget malah. Ya namanya orang lagi tidur pules terus mendadak kebangun berdiri gimana rasanya coba??? Gue panik denger suara orang teriak!
“YA ALLOH!!!” Gue nengok ke arah sumber suara. Itu suara bokap gue. Gue yakin banget. Di sana, bokap gue lagi sujud di depan ICU dengan dokter di sampingnya sedang ngerangkulnya.
Gue lari ke arah mereka. “Dok, kenapa, Dok???” tanya gue panik. Sumpah, gue ga mau ini bad news. Ya Alloh, gue ga kuat banget saat itu. Tangan gue gemeteran dan dingin.
“Ibu kamu udah sadarkan diri beberapa menit yang lalu… Sekarang kondisinya sudah mulai membaik, detak jantungnya terus menuju normal. Nanti saat sudah waktu kunjungan, silahkan lihat ya.” Dokternya menengok ke arah bokap gue yang sedang sujud sambil menangis. Beliau sujud syukur ternyata. Gue kira bokap gue nangis karena bad news.
“Ayah kamu tadi orang pertama yang kami kabari… Setelah ini coba Ayah kamu diajak ke ruangan dulu untuk istirahat. Begitu juga dengan kamu. Jam kunjungan masih sekitar 2 jam lagi…” kata Dokter dan beliau kembali masuk ke dalam ruangan.
Gue peluk bokap gue dan ngebopong bokap gue kembali ke ruangan rawat inap nyokap yang ada di gedung berbeda dengan ruangan ICU ini. “Pa, Mama pasti bisa sembuh kok, Pa…” Badan bokap gue gemeteran. Kalimat hamdalah ga berenti dia ucap di bibirnya. Bokap gue menggenggam tangan gue erat. Gue ga pernah nyangka seorang bokap gue yang setegar itu, bisa ada dikondisi begini. Bokap sayang banget sama nyokap gue.
“Terima kasih ya Alloh untuk hadiah yang engkau berikan untuk hamba-Mu ini…” kata gue dalem hati. Air mata sedikit demi sedikit mulai mengalir dari pojok mata gue. Entah berapa juta kalimat hamdalah perlu gue ucapkan saat itu untuk bersyukur dengan kondisi nyokap ini.
Gue kira siapa yang bakalan ngehubungin gue saat itu. Orang yang ga gue duga bakalan ngehubungin gue, Bang Firzy. Harusnya gue didampingi sama dia selama ini, tapi ga. Gue ngejalanin penantian gue menunggu nyokap gue terus membaik seorang diri. Gue cuman ditemenin sama keluarga besar gue, tanpa dia. Dan saat gue sangat amat butuh dia, dia malah ngehindar dari gue.
Sebenernya setiap hari dia terus ngehubungin gue dengan ingetin gue makan, istirahat, ibadah, dan segala macemnya. Tapi ga ada yang gue bales. Bahkan dia beberapa kali miskol gue, gue juga ga angkat. Kalau supportkayak begitu, udah banyak gue dapet dari temen-temen gue. Gue butuh support berbeda saat itu dari seorang Bang Firzy, keberadaan dia di sisi gue.
Gue cuman ngabarin dia sekali, saat nyokap gue udah sadarkan diri.
Ini hari kedua nyokap gue sadarkan diri dan sekarang nyokap gue udah pindah ke ruang rawat inap kembali. Tapi ruangan nyokap gue pindah ke ruangan yang lebih kecil dan berbagi dengan satu orang lainnya. Maklum, kalau nyokap gue harus pindah ke ruangan Kelas 1 kembali, keuangan keluarga kami mungkin ga bisa provide nyokap sampe selesai perawatan di rumah sakit saat itu.
Gue berniat ga ngebales chat dari Bang Firzy saat itu. Hati gue masih berat banget mau bales. Biar aja dia berusaha cari tau ada dimana nyokap gue saat itu. Sampe akhirnya gue ketemu sama dia di lobi rumah sakit. Di saat seperti ini, chemistry kami masih tetep terus ada di antara kami. “Emi…” kata dia manggil gue dan jalan ke arah gue.
Jujur ya, gue pun rindu sama dia. Gue pengen nangis di pelukannya. Gue pengen cerita dengan ngeluarin seluruh emosi yang gue rasain di hadapannya. Gue pengen mukulin dia karena dia ngecewain gue sebelumnya. Tapi gue ga bisa begitu. Buat apa? Gue ngerasa saat itu gue udah bisa jauh lebih kuat dan lebih tegar tanpa dia. Gue bisa bertahan ngejalanin semuanya sendiri, tanpa seorang Bang Firzy.
“Iya…”
“Chat aku ga nyampe?”
“Nyampe, cuman aku tadi lagi makan.”
“Kan bisa---- Hmm. Yaudah… Nyokap dimana ruangannya?” tanya Bang Firzy. Kayaknya gue tau dia mau ngomong apa sebelumnya. Kayaknya dia mau ngomelin gue karena gue sama sekali ga nge-chat dia selama gue makan. Gue jadi bikin dia nunggu lama dan ga jelas di lobi. Itu hal yang Bang Firzy benci banget, menunggu.
“Ikut gue aja.” kata gue tanpa basa basi sama dia. Gue ga kuat natap mata dia lama-lama. Masih berasa banget sakitnya dikecewain begitu sama dia.
Bang Firzy ngejar langkah kaki gue dan menggenggam tangan gue. “Maafin aku.” kata dia tanpa menatap gue. Gue kaget, gue nengok ke arah dia buat mastiin tadi itu permintaan maaf dari dia. “Sekarang ada aku, aku bakalan dampingin kamu terus…”
“Gue bisa selama ini ngejalaninnya sendiri kok. Santai aja.”
“Kalo bisa aku dampingin, kenapa harus terus sendiri?”
“Tapi kemaren gue ngejalanin semuanya bisa aja kok. SENDIRIAN, tanpa lu.”
“Sekarang udah ada aku, jadi kamu ga perlu sendiri lagi.”
“Ga perlu.”
“Tapi aku perlu kamu.”
“Halah anj*ng!” Gue ngelepas genggaman tangan Bang Firzy. “Jangan bikin perkara di rumah sakit begini? Lu kesini ikhlas ga sih? Mau ketemu nyokap gue atau mau sok ngejar gue lagi?”
“Mau jenguk nyokap kamu lah! Karena kamu ga perlu dikejar lagi, kan kamu MASIH pacar aku dan ga akan pernah kita pisah!” Bang Firzy agak tegesin omongan dia tapi dengan tetep ngejaga nada bicaranya. Saat itu kami lagi di koridor rumah sakit yang cukup rame. Kayaknya ga banyak orang yang sadar kalau kami lagi adu mulut saat itu.
“Ga pernah pisah? Bahkan akhir-akhir ini gue berpikir, apa kita PERNAH PACARAN dari awal???”
“EMIII!” teriak seseorang dari belakang gue. Saat gue nengok, di sana ada anak-anak Crocodile gue lengkap, tanpa terkecuali.
“Ga betah kan ada mereka? Lu pulang aja.” bisik gue ke Bang Firzy.
Gue lari ke arah mereka dan mereka meluk gue erat, tanpa Bimo. Bimo lebih milih nyamperin Bang Firzy dan salaman dengan dia. Entah mereka ngobrol apa saat itu.
Gue ngajak mereka semua untuk jalan ke ruangan nyokap gue. Untungnya ruangan rawat inap kali ini waktu kunjungnya lebih bebas daripada saat di ruangan rawat inap Kelas 1 sebelumnya. Gue jadi bisa ikut istirahat di sini dan banyak kerabat nyokap bahkan temen-temen gue yang akhirnya bisa dateng untuk jengukin nyokap gue di sini. Gue cukup kaget ngeliat Bang Firzy berusaha berbaur sama Crocodile dan ga pulang.
Anak-anak Crocodile udah beberapa kali nginep di rumah gue, jadi mereka bisa lebih santai dan akrab ngobrol sama bokap nyokap gue. Bokap gue pun dengan senang hati ceritain gimana perjuangan bokap gue ngerawat nyokap dari awal sampe ke nyokap bisa keluar dari ICU. So sweet banget deh pokoknya bokap gue pas ceritainnya.
“Semoga nanti kita punya suami yang bisa ngedampingin kita begitu ya… Bener-bener cinta sejati, ngedampingi dalam suka maupun duka. Ga yang pas istri sakit, malah meleng nyari janda!” celetuk Ratu yang disambut tawa dari semuanya. Bahkan pasien yang ada satu ruangan sama kamipun ikut tertawa.
Gue meng-aminkan omongan Ratu itu. Siapa yang ga pengen punya suami begitu? Ngerawat saat kita sakit, berdoa tanpa henti saat kita koma, dan mendampingi pemulihan kita saat kita ga berdaya. Tanpa SAMA SEKALI ngelirik perempuan lain yang kondisinya lebih beruntung daripada istrinya. Idaman banget kan? Entah gue bisa dapetin apa ga suatu saat nanti.
Obrolan kami berlanjut kesana kemari tanpa henti sampai waktu udah menunjukkan pukul 3 sore. Mereka udah ada di ruangan kurang lebih 2 jam. Kami takut ngeganggu waktu istirahat pasien di sebelah kami, walaupun beliau pulang malem ini sih. Tapi tetep aja kan, beliau tetep pasien. Udah mana beliau saat itu lebih sepuh umurnya daripada nyokap gue kan. Kita harus tetep tau sopan santun dalam bertamu walaupun ini di rumah sakit sekalipun.
Anak-anak Crocodile pamit pulang, kecuali Bang Firzy. Dia mau stay lebih lama katanya, buat dampingi gue. Padahal gue saat itu pengen kembali sendiri dan quality time dengan bokap nyokap gue.
“Emi, udah ada Pirji. Kamu pulang aja gih… Kan kata kamu, kamu mesti ngurus pindahan ke kosan baru belum lagi persiapan di Kampus buat seminar gitu-gitu. Udah gih, pulang bareng Pirji.” kata bokap gue sambil ngerangkul Bang Firzy.
“Iya, Om… Sekalian dia istirahat dulu. Kan selama di sini dia tidur di lantai kan ya, Om? Biar istirahat dulu.” Gue ngelirik sinis Bang Firzy. Dia tau gue tidur di lantai itu cuman dari cerita gue barusan di depan anak-anak. BUKAN karena gue ngabarin ke dia. Sumpah! Dia pinter banget ngambil hati bokap gue.
“Makasih ya, Pirji. Kamu lagi sibuk kerja udah nyempetin dateng kesini…” kata nyokap gue perlahan. Suara nyokap gue belum selantang dulu lagi, tapi gue bersyukur banget nyokap udah bisa ngomong lagi.
“Iya gapapa, Tante… Tante ga usah mikirin yang lain. Ga usah mikirin Emi juga. Insya Alloh saya jagain Emi-nya ya Tante…”
Gue nolak pulang saat itu. Kalaupun gue mau pulang, gue maunya sendiri. Ga sama Bang Firzy. Gue masih kesel banget banget sama dia saat itu. Tapi bokap dan nyokap gue maksa gue pulang sama Bang Firzy. Akhirnya kami pun tetep pulang.
Jalanan macet banget saat itu. Akhirnya gue dan Bang Firzy memutuskan untuk pulang ke kosannya Bang Firzy. Mungkin iya gue butuh istirahat saat itu. Badan gue mendadak berasa banget capenya. Apalagi perjalanan dari RS Gatot Subroto ke rumah gue naik motor itu ga cuman ditemuh 1 sampe 2 jam doangan udah sampe. Belum lagi macet di sana sini karena barengan orang pulang kerja. Hadeuuuh.
“Kok barang-barang lu di-packingjuga?” tanya gue saat gue ngeliat banyak kardus udah tersusun rapi di samping pintu kamar kosannya.
“Gue mau pindah ke rumah orang tua gue aja… Kalopun nanti gue harus nginep, gue nanti PGT aja di kosan lu ya?”
“Gue kan belum dapet kosan… Gimana bisa jadi PGT?” kata gue sambil simpen barang-barang gue di meja belajar dia yang udah kosong.
“Gue bantu cari besok sampe ketemu… Toh masih lama ini kan pindahannya? Awal bulan depan kan lu masuk kerja?” tanya Bang Firzy sambil mengganti baju dia.
“Iya sih…”
“Kita cari kosannya dari sekarang dan mulai pindah. Jadi, nanti pas lu udah mulai kerja di sana, lu udah di kosan baru dan gue udah bisa mulai jadi PGT di sana.” Saat gue mau ngejawab omongan Bang Firzy, mendadak dia meluk gue. “Udahan pura-pura-nya, Mi. Ayo nangis sini.” bisik Bang Firzy.
Gue awalnya nolak dipeluk sama dia. Gue berusaha ngedorong badan dia. Tapi kayaknya karena kondisi badan dan hati gue yang cape sama keadaan, gue terlalu lemah untuk ngelepas pelukan dia saat itu.
“Gue tau lu kuat, Mi… Gue yakin lu bisa ngejalanin semua masalah lu sendiri. Tapi kadang boleh kok cewek kayak lu buat istirahat sejenak. Bukan nunjukin kalau sebenernya lu itu cewek yang lemah. Cuman lu juga punya hak untuk bahagia…”
“Kenapa harus lu yang bikin gue sakit juga, Zy? Gue ga punya siapa-siapa lagi Zy buat gue curhatin. Gue ga punya siapa-siapa lagi buat sandaran selain bokap gue. Tapi kemaren gue harus kuat di depan bokap gue. Bokap gue lagi butuh supportdari gue dan gue harus bisa jadi anaknya yang kuat biar bokap gue ga nge-drop mentalnya. Gue harus lebih tegar di depan dia walopun gue pengen nangis kejer. Gue butuh support dari lu, lu kemana? Kenapa Zy? Lu kenapa begitu?”
“Maafin gue, Mi… Maaf.” kata dia tanpa kata-kata lain lagi.
Entah apa yang ada di pikiran dia saat itu. Tapi denger kata 'maaf' dari dia begitu aja cukup sedikit nenangin hati gue, entah kenapa. Gue udah ga bisa nahan lagi air mata gue. Gue nangis sejadi-jadinya saat itu. Tangisan dan perasaan yang selama ini gue tahan di dalam hati gue, akhirnya bisa dengan leganya gue keluarkan di depan Bang Firzy.
Gue masih sayang sama dia, tapi entah kenapa rasa sakit karena sikap dia pun masih tetep gue rasain. Rasanya gue ingin pisah, tapi entah kenapa selalu ada bisikan di diri gue kalau gue masih punya alasan untuk terus bertahan.
Ya, mungkin gue emang bodoh.
"Gue sayang banget sama lu, Mi..."
Gue duduk bengong di depan ruangan ICU. Gue cuman bisa liat nyokap gue tidur di dalam ruangan dengan selang yang entah berapa banyak itu dan yang bisa gue liat juga cuman suara mesin yang menunjukkan detak jantung nyokap gue. Nyokap gue koma dan detak jantungnya terus melemah. Dokter dan suster yang keluar dari ruangan ICU cuman bisa nyemangatin gue dan minta doa yang terbaik dari anaknya.
“Mama kamu ga pernah berenti manggil nama kamu sebelum dia koma tadi.”
Cuman itu yang diucap berulang kali oleh mereka. Sukses bikin gue berasa jadi anak paling durhaka di dunia, melebihi seorang Malin Kundang. Dimana gue pas nyokap gue nyariin gue? Harusnya gue selalu ada di sisinya bukan? Sekarang pas nyokap gue begini, gue bisa apa?
“ANJ*NG!” kata gue dalem hati sambil nangis lagi entah untuk yang keberapa kalinya malam itu.
Bokap gue lagi diminta istirahat di ruangan tempat nyokap rawat inap sebelumnya. Bokap pingsan pas nyokap dikabarin koma tadi. Bokap diangkut disana dan diminta untuk di sana sementara sampe kondisi bokap membaik. Bokap gue ga ada istirahatnya untuk ngejagain istrinya ini. Entah bokap gue inget makan atau minum apa ga. Yang bokap gue tau cuman bokap harus selalu ada di samping nyokap gue. Gue akhirnya di sini gantian nungguin nyokap gue ditemenin beberapa Om, Tante, dan sepupu gue.
Ga berasa hari udah lewat dini hari. Yang tersisa cuman gue dan Om gue. Sepupu dan Tante gue udah gue minta pulang. Gue ga enak mereka harus standbybegini padahal ini udah tanggung jawab gue dan bokap gue aja.
“Gini ya rasanya jadi anak tunggal… Saat kondisi keluarga lu begini, lu ga bisa sharing apapun dengan kakak atau adik lu. Lu cuman bisa ngandelin diri lu sendiri.” dan gue bersyukur punya keluarga kayak keluarga bokap gue yang tanpa pamrih terus ngebantu keluarga kecil gue ini.
Gue pengen banget terlelap saat itu. Tapi selalu ada rasa takut kalau gue bakalan ketinggalan setiap kesempatan gue untuk ngeliat nyokap lagi. Ga, gue ga suudzon kalau nyokap gue ga bisa bangun lagi. Tapi gue takut, entah kenapa rasa takut ini terus dateng setiap kali gue mau nutup mata gue untuk tidur. Kalian yang pernah di posisi gue, mungkin bisa mengerti.
Gue memutuskan untuk ambil wudhu dan coba Sholat Tahajud di ruang tunggu di samping ICU. Di sana keluarga para pasien istirahat. Gue habiskan waktu gue di sana untuk berserah diri kepada Alloh…
“Ya Alloh… Mungkin Emi bukan jadi anak terbaik untuk Mama dan Papa. Mungkin Emi bukan jadi anak sholehah yang mereka impikan. Mungkin kalau mereka tau gimana Emi yang sebenernya di luar sana, mereka mungkin bisa ngebenci Emi. Ya Alloh, kali ini Emi meminta kepada-Mu tolong beri kesembuhan pada Mama, ya Alloh… Tolong beri Mama kesempatan untuk kembali bersama kami di sini. Tolong beri Emi waktu lebih lama lagi untuk bisa peluk Mama. Tolong beri Emi waktu lebih lama untuk berbakti sama Mama. Tolong beri Emi waktu lebih lama untuk menemani Mama hingga Emi bisa membahagiakan mereka. Tolonglah ya Alloh…”
Doa yang terus menerus gue ucap saat itu tanpa hentinya. Hingga akhirnya gue ngerasa punggung gue panas dan gue ngedenger sekilas suara Mama manggil gue “Emi…”. Gue nengok ke samping gue ga ada siapapun. Ruangan di luar ruang tunggu ini gelap. Bahkan sekeliling gue semuanya tidur. Cuman gue yang terjaga saat itu.
“Mungkin cuman perasaan gue aja…” Gue rapihin peralatan sholat gue dan gue jalan ke depan ruangan ICU lagi. Om gue udah tertidur di depan bangku ruangan ICU. Gue duduk di samping Om gue.
Ruangan ICU saat malem begini emang ditutup seluruh jendela-nya. Gue ga bisa ngeliat nyokap gue. Tapi entah kenapa gue ngerasa lebih tenang dan lega banget saat itu. “Merem satu atau dua jam gapapa kali ya sambil nunggu Subuh?” kata gue dalem hati sambil cari posisi enak duduk di bangku.
XOXOXO
“YA ALLOH!!!!”
Gue kaget dan kebangun mendadak. Gue ngedenger suara orang teriak. Gue langsung berdiri dan nengok ke arah kanan kiri gue. Pusing sih, keleyengan banget malah. Ya namanya orang lagi tidur pules terus mendadak kebangun berdiri gimana rasanya coba??? Gue panik denger suara orang teriak!
“YA ALLOH!!!” Gue nengok ke arah sumber suara. Itu suara bokap gue. Gue yakin banget. Di sana, bokap gue lagi sujud di depan ICU dengan dokter di sampingnya sedang ngerangkulnya.
Gue lari ke arah mereka. “Dok, kenapa, Dok???” tanya gue panik. Sumpah, gue ga mau ini bad news. Ya Alloh, gue ga kuat banget saat itu. Tangan gue gemeteran dan dingin.
“Ibu kamu udah sadarkan diri beberapa menit yang lalu… Sekarang kondisinya sudah mulai membaik, detak jantungnya terus menuju normal. Nanti saat sudah waktu kunjungan, silahkan lihat ya.” Dokternya menengok ke arah bokap gue yang sedang sujud sambil menangis. Beliau sujud syukur ternyata. Gue kira bokap gue nangis karena bad news.
“Ayah kamu tadi orang pertama yang kami kabari… Setelah ini coba Ayah kamu diajak ke ruangan dulu untuk istirahat. Begitu juga dengan kamu. Jam kunjungan masih sekitar 2 jam lagi…” kata Dokter dan beliau kembali masuk ke dalam ruangan.
Gue peluk bokap gue dan ngebopong bokap gue kembali ke ruangan rawat inap nyokap yang ada di gedung berbeda dengan ruangan ICU ini. “Pa, Mama pasti bisa sembuh kok, Pa…” Badan bokap gue gemeteran. Kalimat hamdalah ga berenti dia ucap di bibirnya. Bokap gue menggenggam tangan gue erat. Gue ga pernah nyangka seorang bokap gue yang setegar itu, bisa ada dikondisi begini. Bokap sayang banget sama nyokap gue.
“Terima kasih ya Alloh untuk hadiah yang engkau berikan untuk hamba-Mu ini…” kata gue dalem hati. Air mata sedikit demi sedikit mulai mengalir dari pojok mata gue. Entah berapa juta kalimat hamdalah perlu gue ucapkan saat itu untuk bersyukur dengan kondisi nyokap ini.
XOXOXO
Quote:
Gue kira siapa yang bakalan ngehubungin gue saat itu. Orang yang ga gue duga bakalan ngehubungin gue, Bang Firzy. Harusnya gue didampingi sama dia selama ini, tapi ga. Gue ngejalanin penantian gue menunggu nyokap gue terus membaik seorang diri. Gue cuman ditemenin sama keluarga besar gue, tanpa dia. Dan saat gue sangat amat butuh dia, dia malah ngehindar dari gue.
Sebenernya setiap hari dia terus ngehubungin gue dengan ingetin gue makan, istirahat, ibadah, dan segala macemnya. Tapi ga ada yang gue bales. Bahkan dia beberapa kali miskol gue, gue juga ga angkat. Kalau supportkayak begitu, udah banyak gue dapet dari temen-temen gue. Gue butuh support berbeda saat itu dari seorang Bang Firzy, keberadaan dia di sisi gue.
Gue cuman ngabarin dia sekali, saat nyokap gue udah sadarkan diri.
Ini hari kedua nyokap gue sadarkan diri dan sekarang nyokap gue udah pindah ke ruang rawat inap kembali. Tapi ruangan nyokap gue pindah ke ruangan yang lebih kecil dan berbagi dengan satu orang lainnya. Maklum, kalau nyokap gue harus pindah ke ruangan Kelas 1 kembali, keuangan keluarga kami mungkin ga bisa provide nyokap sampe selesai perawatan di rumah sakit saat itu.
Gue berniat ga ngebales chat dari Bang Firzy saat itu. Hati gue masih berat banget mau bales. Biar aja dia berusaha cari tau ada dimana nyokap gue saat itu. Sampe akhirnya gue ketemu sama dia di lobi rumah sakit. Di saat seperti ini, chemistry kami masih tetep terus ada di antara kami. “Emi…” kata dia manggil gue dan jalan ke arah gue.
Jujur ya, gue pun rindu sama dia. Gue pengen nangis di pelukannya. Gue pengen cerita dengan ngeluarin seluruh emosi yang gue rasain di hadapannya. Gue pengen mukulin dia karena dia ngecewain gue sebelumnya. Tapi gue ga bisa begitu. Buat apa? Gue ngerasa saat itu gue udah bisa jauh lebih kuat dan lebih tegar tanpa dia. Gue bisa bertahan ngejalanin semuanya sendiri, tanpa seorang Bang Firzy.
“Iya…”
“Chat aku ga nyampe?”
“Nyampe, cuman aku tadi lagi makan.”
“Kan bisa---- Hmm. Yaudah… Nyokap dimana ruangannya?” tanya Bang Firzy. Kayaknya gue tau dia mau ngomong apa sebelumnya. Kayaknya dia mau ngomelin gue karena gue sama sekali ga nge-chat dia selama gue makan. Gue jadi bikin dia nunggu lama dan ga jelas di lobi. Itu hal yang Bang Firzy benci banget, menunggu.
“Ikut gue aja.” kata gue tanpa basa basi sama dia. Gue ga kuat natap mata dia lama-lama. Masih berasa banget sakitnya dikecewain begitu sama dia.
Bang Firzy ngejar langkah kaki gue dan menggenggam tangan gue. “Maafin aku.” kata dia tanpa menatap gue. Gue kaget, gue nengok ke arah dia buat mastiin tadi itu permintaan maaf dari dia. “Sekarang ada aku, aku bakalan dampingin kamu terus…”
“Gue bisa selama ini ngejalaninnya sendiri kok. Santai aja.”
“Kalo bisa aku dampingin, kenapa harus terus sendiri?”
“Tapi kemaren gue ngejalanin semuanya bisa aja kok. SENDIRIAN, tanpa lu.”
“Sekarang udah ada aku, jadi kamu ga perlu sendiri lagi.”
“Ga perlu.”
“Tapi aku perlu kamu.”
“Halah anj*ng!” Gue ngelepas genggaman tangan Bang Firzy. “Jangan bikin perkara di rumah sakit begini? Lu kesini ikhlas ga sih? Mau ketemu nyokap gue atau mau sok ngejar gue lagi?”
“Mau jenguk nyokap kamu lah! Karena kamu ga perlu dikejar lagi, kan kamu MASIH pacar aku dan ga akan pernah kita pisah!” Bang Firzy agak tegesin omongan dia tapi dengan tetep ngejaga nada bicaranya. Saat itu kami lagi di koridor rumah sakit yang cukup rame. Kayaknya ga banyak orang yang sadar kalau kami lagi adu mulut saat itu.
“Ga pernah pisah? Bahkan akhir-akhir ini gue berpikir, apa kita PERNAH PACARAN dari awal???”
“EMIII!” teriak seseorang dari belakang gue. Saat gue nengok, di sana ada anak-anak Crocodile gue lengkap, tanpa terkecuali.
“Ga betah kan ada mereka? Lu pulang aja.” bisik gue ke Bang Firzy.
Gue lari ke arah mereka dan mereka meluk gue erat, tanpa Bimo. Bimo lebih milih nyamperin Bang Firzy dan salaman dengan dia. Entah mereka ngobrol apa saat itu.
Gue ngajak mereka semua untuk jalan ke ruangan nyokap gue. Untungnya ruangan rawat inap kali ini waktu kunjungnya lebih bebas daripada saat di ruangan rawat inap Kelas 1 sebelumnya. Gue jadi bisa ikut istirahat di sini dan banyak kerabat nyokap bahkan temen-temen gue yang akhirnya bisa dateng untuk jengukin nyokap gue di sini. Gue cukup kaget ngeliat Bang Firzy berusaha berbaur sama Crocodile dan ga pulang.
Anak-anak Crocodile udah beberapa kali nginep di rumah gue, jadi mereka bisa lebih santai dan akrab ngobrol sama bokap nyokap gue. Bokap gue pun dengan senang hati ceritain gimana perjuangan bokap gue ngerawat nyokap dari awal sampe ke nyokap bisa keluar dari ICU. So sweet banget deh pokoknya bokap gue pas ceritainnya.
“Semoga nanti kita punya suami yang bisa ngedampingin kita begitu ya… Bener-bener cinta sejati, ngedampingi dalam suka maupun duka. Ga yang pas istri sakit, malah meleng nyari janda!” celetuk Ratu yang disambut tawa dari semuanya. Bahkan pasien yang ada satu ruangan sama kamipun ikut tertawa.
Gue meng-aminkan omongan Ratu itu. Siapa yang ga pengen punya suami begitu? Ngerawat saat kita sakit, berdoa tanpa henti saat kita koma, dan mendampingi pemulihan kita saat kita ga berdaya. Tanpa SAMA SEKALI ngelirik perempuan lain yang kondisinya lebih beruntung daripada istrinya. Idaman banget kan? Entah gue bisa dapetin apa ga suatu saat nanti.
Obrolan kami berlanjut kesana kemari tanpa henti sampai waktu udah menunjukkan pukul 3 sore. Mereka udah ada di ruangan kurang lebih 2 jam. Kami takut ngeganggu waktu istirahat pasien di sebelah kami, walaupun beliau pulang malem ini sih. Tapi tetep aja kan, beliau tetep pasien. Udah mana beliau saat itu lebih sepuh umurnya daripada nyokap gue kan. Kita harus tetep tau sopan santun dalam bertamu walaupun ini di rumah sakit sekalipun.
Anak-anak Crocodile pamit pulang, kecuali Bang Firzy. Dia mau stay lebih lama katanya, buat dampingi gue. Padahal gue saat itu pengen kembali sendiri dan quality time dengan bokap nyokap gue.
“Emi, udah ada Pirji. Kamu pulang aja gih… Kan kata kamu, kamu mesti ngurus pindahan ke kosan baru belum lagi persiapan di Kampus buat seminar gitu-gitu. Udah gih, pulang bareng Pirji.” kata bokap gue sambil ngerangkul Bang Firzy.
“Iya, Om… Sekalian dia istirahat dulu. Kan selama di sini dia tidur di lantai kan ya, Om? Biar istirahat dulu.” Gue ngelirik sinis Bang Firzy. Dia tau gue tidur di lantai itu cuman dari cerita gue barusan di depan anak-anak. BUKAN karena gue ngabarin ke dia. Sumpah! Dia pinter banget ngambil hati bokap gue.
“Makasih ya, Pirji. Kamu lagi sibuk kerja udah nyempetin dateng kesini…” kata nyokap gue perlahan. Suara nyokap gue belum selantang dulu lagi, tapi gue bersyukur banget nyokap udah bisa ngomong lagi.
“Iya gapapa, Tante… Tante ga usah mikirin yang lain. Ga usah mikirin Emi juga. Insya Alloh saya jagain Emi-nya ya Tante…”
Gue nolak pulang saat itu. Kalaupun gue mau pulang, gue maunya sendiri. Ga sama Bang Firzy. Gue masih kesel banget banget sama dia saat itu. Tapi bokap dan nyokap gue maksa gue pulang sama Bang Firzy. Akhirnya kami pun tetep pulang.
XOXOXO
Jalanan macet banget saat itu. Akhirnya gue dan Bang Firzy memutuskan untuk pulang ke kosannya Bang Firzy. Mungkin iya gue butuh istirahat saat itu. Badan gue mendadak berasa banget capenya. Apalagi perjalanan dari RS Gatot Subroto ke rumah gue naik motor itu ga cuman ditemuh 1 sampe 2 jam doangan udah sampe. Belum lagi macet di sana sini karena barengan orang pulang kerja. Hadeuuuh.
“Kok barang-barang lu di-packingjuga?” tanya gue saat gue ngeliat banyak kardus udah tersusun rapi di samping pintu kamar kosannya.
“Gue mau pindah ke rumah orang tua gue aja… Kalopun nanti gue harus nginep, gue nanti PGT aja di kosan lu ya?”
“Gue kan belum dapet kosan… Gimana bisa jadi PGT?” kata gue sambil simpen barang-barang gue di meja belajar dia yang udah kosong.
“Gue bantu cari besok sampe ketemu… Toh masih lama ini kan pindahannya? Awal bulan depan kan lu masuk kerja?” tanya Bang Firzy sambil mengganti baju dia.
“Iya sih…”
“Kita cari kosannya dari sekarang dan mulai pindah. Jadi, nanti pas lu udah mulai kerja di sana, lu udah di kosan baru dan gue udah bisa mulai jadi PGT di sana.” Saat gue mau ngejawab omongan Bang Firzy, mendadak dia meluk gue. “Udahan pura-pura-nya, Mi. Ayo nangis sini.” bisik Bang Firzy.
Gue awalnya nolak dipeluk sama dia. Gue berusaha ngedorong badan dia. Tapi kayaknya karena kondisi badan dan hati gue yang cape sama keadaan, gue terlalu lemah untuk ngelepas pelukan dia saat itu.
“Gue tau lu kuat, Mi… Gue yakin lu bisa ngejalanin semua masalah lu sendiri. Tapi kadang boleh kok cewek kayak lu buat istirahat sejenak. Bukan nunjukin kalau sebenernya lu itu cewek yang lemah. Cuman lu juga punya hak untuk bahagia…”
“Kenapa harus lu yang bikin gue sakit juga, Zy? Gue ga punya siapa-siapa lagi Zy buat gue curhatin. Gue ga punya siapa-siapa lagi buat sandaran selain bokap gue. Tapi kemaren gue harus kuat di depan bokap gue. Bokap gue lagi butuh supportdari gue dan gue harus bisa jadi anaknya yang kuat biar bokap gue ga nge-drop mentalnya. Gue harus lebih tegar di depan dia walopun gue pengen nangis kejer. Gue butuh support dari lu, lu kemana? Kenapa Zy? Lu kenapa begitu?”
“Maafin gue, Mi… Maaf.” kata dia tanpa kata-kata lain lagi.
Entah apa yang ada di pikiran dia saat itu. Tapi denger kata 'maaf' dari dia begitu aja cukup sedikit nenangin hati gue, entah kenapa. Gue udah ga bisa nahan lagi air mata gue. Gue nangis sejadi-jadinya saat itu. Tangisan dan perasaan yang selama ini gue tahan di dalam hati gue, akhirnya bisa dengan leganya gue keluarkan di depan Bang Firzy.
Gue masih sayang sama dia, tapi entah kenapa rasa sakit karena sikap dia pun masih tetep gue rasain. Rasanya gue ingin pisah, tapi entah kenapa selalu ada bisikan di diri gue kalau gue masih punya alasan untuk terus bertahan.
Ya, mungkin gue emang bodoh.
"Gue sayang banget sama lu, Mi..."
itkgid dan 39 lainnya memberi reputasi
40
Tutup
![AKHIR PENANTIANKU (JILID IV _ 2.0) [TRUE STORY]](https://s.kaskus.id/images/2019/10/10/10712020_20191010014133.jpg)

dan 

