- Beranda
- Stories from the Heart
PANGGILAN TENGAH MALAM
...
TS
agusmulyanti
PANGGILAN TENGAH MALAM
Spoiler for prolog:
***********
RULES :
- Ikuti perarturan SFTH
- Agan2 dan Sista bebas berkomentar, memberikan kritik dan saran yang membangun.
- Selama Kisah ini Ditulis, mohon untuk berkomentar seputar cerita.
- Dilarang meng-copas atau meng copy segala bentuk di dalam cerita ini tanpa seizin penulis
Index
Diubah oleh agusmulyanti 08-02-2020 17:25
bonita71 dan 15 lainnya memberi reputasi
16
12.8K
247
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•54.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
agusmulyanti
#41
Part - 18
Suster Rina masih belum sadarkan diri. Pisau yang dihujamkan Linggar telah merobek paru-parunya. Tubuhnya dipenuhi dengan selang-selang yang terhubung dengan mesin. Sahabat-sahabatnya bergantian menjaganya, mereka sangat menyayangi Rina dan tak ingin kehilangan dirinya.
"Siapa yang jaga Rina malam ini," tanya suster kepala.
"Gita sama Wulan bu," jawab Sinta, yang merupakan suster senior.
"Baiklah..hati-hati ya, dan jangan lupa perbanyak doa dan dzikir."
"Baik bu." Gita dan Wulan menjawab berbarengan.
---------------
Malam ini Wulan dan Gita yang bertugas menjaga Rina. Udara malam ini terasa dingin dan lembab, sementara angin bertiup sangat kencang di luar sana.
"Git !!, sepi banget ya malam ini, gak kayak biasanya."
"Iya..gua juga baru mau bilang gitu Lan. Jadi merinding gua. Elu nih bikin takut aja." Ujar Gita, sambil mendekat ke arah Wulan.
"Eh..Git, Rina cantik banget ya, cocok banget sama mas Linggar."
"Iya...mereka tuh pasangan yang pas, kayak Romeo dan Juliet, yang satu ganteng, satunya lagi cantik, iya kan?."
Baru selesai Gita berbicara, tiba-tiba tempat tidur Rina bergerak gerak dengan keras, seperti ada yang menggoyang goyangnya.
Brakk....brakkk...brakkk...brakkk
"Wulan...ada apa ini ?, kenapa tempat tidur Rina goyang-goyang gitu." Ujar Gita dengan rasa takut.
"Gak tau nih Git."
Tempat tidur itu berderak derak dengan kencang. Wulan dan Gita berhamburan keluar ruang ICU dengan rasa takut. Mereka berlari hingga nafas mereka terengah-engah.
"Ya Allah...kita ninggalin Rina sendiri Git."
"Iya..tapi aku takut Wulan." ujar Gita.
"Trus gimana sekarang ?,"
"Kita lapor dulu saja sama suster kepala," ujar Gita dengan nafas tersengal-sengal.
"Yaudah...ayo!!."
Karena panik, mereka gak melihat ada yang berdiri di hadapan mereka.
Brukkk, tubuh mereka menabrak seseorang.
"Aduh..ma..maaf mbak, kami gak sengaja."
Wanita itu hanya diam tak menjawab.
"Mbak gak apa-apa kan?, maaf ya mbak, kami buru-buru. Soalnya tadi kami takut banget."
"Takut apa ?," ujar wanita itu sambil membalikkan badannya.
Whuaaaaa
Gita dan Wulan tak sadarkan diri, tatkala wanita yang ada dihadapannya membalikkan badan, dan terlihatlah wajahnya yang rusak dan berlumuran darah.
--------------
Gita dan Wulan, terbangun tatkala suster kepala membaui mereka dengan minyak kayu putih. Aroma minyak kayu putih yang menyengat, membuat mereka sadar dan terbangun.
"Dimana ini ?, aduh kepalaku pusing!," ujar Wulan.
"Kami belom matikan?," timpal Gita.
Suster kepala tersenyum melihat tingkah dua anak buahnya. Dengan bijaksana dia menanyakan, mengapa mereka sampai pingsan, dan mengapa Rina mereka tinggalkan begitu saja.
Wulan dan Gita bercerita dengan runtut. Mereka merasa bersalah telah meninggalkan Rina sendirian di ruang ICU.
"Untung ada suster yang sedang lewat, dan memberitahu, hingga Rina tidak mengalami kejadian yang fatal.
"Maafkan kami bu, kami betul-betul minta maaf, kami salah." Ujar Gita dan Wulan dengan wajah tertunduk.
Suster kepala tersenyum dan mengijinkan mereka untuk pulang dan beristirahat. Sesudah kedua anak buahnya pergi, suster kepala terlihat menelepon seseorang. Pembicaraan mereka terlihat serius. Sesekali terdengar suster kepala mengucapkan istighfar sambil menarik nafas. Setelah menutup telponnya, lantas ia pergi ke ruang ICU, tempat dimana Rina di rawat.
"Siapa yang jaga Rina malam ini," tanya suster kepala.
"Gita sama Wulan bu," jawab Sinta, yang merupakan suster senior.
"Baiklah..hati-hati ya, dan jangan lupa perbanyak doa dan dzikir."
"Baik bu." Gita dan Wulan menjawab berbarengan.
---------------
Malam ini Wulan dan Gita yang bertugas menjaga Rina. Udara malam ini terasa dingin dan lembab, sementara angin bertiup sangat kencang di luar sana.
"Git !!, sepi banget ya malam ini, gak kayak biasanya."
"Iya..gua juga baru mau bilang gitu Lan. Jadi merinding gua. Elu nih bikin takut aja." Ujar Gita, sambil mendekat ke arah Wulan.
"Eh..Git, Rina cantik banget ya, cocok banget sama mas Linggar."
"Iya...mereka tuh pasangan yang pas, kayak Romeo dan Juliet, yang satu ganteng, satunya lagi cantik, iya kan?."
Baru selesai Gita berbicara, tiba-tiba tempat tidur Rina bergerak gerak dengan keras, seperti ada yang menggoyang goyangnya.
Brakk....brakkk...brakkk...brakkk
"Wulan...ada apa ini ?, kenapa tempat tidur Rina goyang-goyang gitu." Ujar Gita dengan rasa takut.
"Gak tau nih Git."
Tempat tidur itu berderak derak dengan kencang. Wulan dan Gita berhamburan keluar ruang ICU dengan rasa takut. Mereka berlari hingga nafas mereka terengah-engah.
"Ya Allah...kita ninggalin Rina sendiri Git."
"Iya..tapi aku takut Wulan." ujar Gita.
"Trus gimana sekarang ?,"
"Kita lapor dulu saja sama suster kepala," ujar Gita dengan nafas tersengal-sengal.
"Yaudah...ayo!!."
Karena panik, mereka gak melihat ada yang berdiri di hadapan mereka.
Brukkk, tubuh mereka menabrak seseorang.
"Aduh..ma..maaf mbak, kami gak sengaja."
Wanita itu hanya diam tak menjawab.
"Mbak gak apa-apa kan?, maaf ya mbak, kami buru-buru. Soalnya tadi kami takut banget."
"Takut apa ?," ujar wanita itu sambil membalikkan badannya.
Whuaaaaa
Gita dan Wulan tak sadarkan diri, tatkala wanita yang ada dihadapannya membalikkan badan, dan terlihatlah wajahnya yang rusak dan berlumuran darah.
--------------
Gita dan Wulan, terbangun tatkala suster kepala membaui mereka dengan minyak kayu putih. Aroma minyak kayu putih yang menyengat, membuat mereka sadar dan terbangun.
"Dimana ini ?, aduh kepalaku pusing!," ujar Wulan.
"Kami belom matikan?," timpal Gita.
Suster kepala tersenyum melihat tingkah dua anak buahnya. Dengan bijaksana dia menanyakan, mengapa mereka sampai pingsan, dan mengapa Rina mereka tinggalkan begitu saja.
Wulan dan Gita bercerita dengan runtut. Mereka merasa bersalah telah meninggalkan Rina sendirian di ruang ICU.
"Untung ada suster yang sedang lewat, dan memberitahu, hingga Rina tidak mengalami kejadian yang fatal.
"Maafkan kami bu, kami betul-betul minta maaf, kami salah." Ujar Gita dan Wulan dengan wajah tertunduk.
Suster kepala tersenyum dan mengijinkan mereka untuk pulang dan beristirahat. Sesudah kedua anak buahnya pergi, suster kepala terlihat menelepon seseorang. Pembicaraan mereka terlihat serius. Sesekali terdengar suster kepala mengucapkan istighfar sambil menarik nafas. Setelah menutup telponnya, lantas ia pergi ke ruang ICU, tempat dimana Rina di rawat.
disya1628 dan 13 lainnya memberi reputasi
14