- Beranda
- Stories from the Heart
PANGGILAN TENGAH MALAM
...
TS
agusmulyanti
PANGGILAN TENGAH MALAM
Spoiler for prolog:
***********
RULES :
- Ikuti perarturan SFTH
- Agan2 dan Sista bebas berkomentar, memberikan kritik dan saran yang membangun.
- Selama Kisah ini Ditulis, mohon untuk berkomentar seputar cerita.
- Dilarang meng-copas atau meng copy segala bentuk di dalam cerita ini tanpa seizin penulis
Index
Diubah oleh agusmulyanti 08-02-2020 17:25
bonita71 dan 15 lainnya memberi reputasi
16
12.8K
247
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
agusmulyanti
#31
Part - 15
Tiga hari sesudah insiden yang hampir merenggut nyawanya, Linggar diperbolehkan pulang. Bi Narti dan mas Tono, merapikan barang2 yang hendak dibawa pulang. Linggar duduk disudut ruangan sambil matanya mencari sosok yang selama ia sakit, selalu setia menemani dan merawatnya.
"Mas.. sudah siap !! ayo kita pulang!," bi Narti membuyarkan lamunannya
"Oh...iya bi, ayo!."
Linggar berjalan dibimbing mas Tono, pandangan matanya menyusuri setiap sudut yang dilaluinya. Terlihat raut wajah kecewa, menghiasi wajahnya. Bi Narti tersenyum-senyum, sambil berseloroh.
"Mas, suster Rina cantik ya, baik dan shalihah lagi."
"Apa sih bi?," ujar Linggar malu-malu, mengetahui isi hatinya terbaca bi Narti.
Lalu bi Narti, menoleh ke arah Linggar, dengan wajah serius.
"Eh mas..bibi setuju banget loh, kalau mas Linggar tuh jadian sama suster Rina, daripada sama ....," bi Narti menghentikan ucapannya, ada rasa takut, ketika hendak mengucapkan nama Ratih, entahlah nama itu seperti mempunyai aura magis yang membuat bulu kuduk merinding.
------------
Ketika memasuki pelataran parkir terlihat seorang gadis bergaun ungu, dengan hijab yang senada, berdiri disamping mobil, tangannya menggenggam buket mawar merah, terlihat cantik diterpa mentari pagi.
"Mas Linggar....mas !! lihat tuh !!, siapa yang berdiri disana?", suara bi Narti membuyarkan lamunan Linggar.
"MasyaAllah....cantiknya, kalau aku belum kimpoi, bisa jatuh cinta aku," timpal mas Tono.
Bi Narti mencubit pinggang mas Tono, mas Tono berteriak menahan sakit.
"Aduh !!, sakit bu."
"Awas ya !...macam-macam, gak tak kasih tidur dirumah nanti," ancam bi Narti.
"Oalah bu..bu, gitu aja koq cemburu." goda mas Tono.
Bi Narti tak menyahut, wajahnya yang sudah separuh baya terlihat lucu saat merajuk.
Linggar memandang suster Rina, yang sedang menunggunya, ia terpesona dengan kecantikkan gadis itu. Pandangannya seperti tak hendak lepas dari wajah suster Rina. Bi Narti yang melihat pemandangan itu, hanya tersenyum dan mencolek lengan mas Tono.
"Pagi mas Linggar, alhamdulillah sudah sembuh", ujar Rina, sambil memberikan buket bunga.
"Alhamdulillah suster, karena pertolongan suster juga, saya dapat cepat sembuh."
"Gak usah panggil suster mas, Rina saja," ujar suster Rina sambil tersipu, wajahnya yang nyaris sempurna, terlihat memerah menahan gelora asmara yang mulai bersemi.
ehm...ehm..ehm , mas Tono berdehem menggoda.
"Oh..iya suster..eh maaf dik Rina, kalau tidak keberatan maukah dik Rina, mengantar mas pulang?."
Suster Rina mengangguk sambil tersenyum. Lalu dibimbingnya tangan Linggar masuk ke dalam mobil.
"Hati-hati mas," ujar suster Rina.
Darah Linggar berdesir, saat lengan Rina membimbing dirinya masuk. Begitu dekat, hingga wangi tubuh gadis itu tercium jelas, harum.
Satu jam kemudian mobil memasuki halaman rumah, bi Inah tergopoh-gopoh menyambut majikan yang sudah ia anggap sebagai anak kandungnya sendiri.
"Loh...bibi. Kapan bibi datang?", ujar Linggar kaget, dipeluknya tubuh wanita yang sudah lanjut itu dengan gembira.
"Baru den, begitu dikabari bi Narti, bibi langsung pesen tiket kereta. Bibi khawatir sekali den."
"Gimana den ?, yang mana yang sakit?", bi Inah memburu Linggar dengan pertanyaan.
"Alhamdulillah, sudah baikan bi. Bibi gak usah khawatir, karena disamping ada bi Narti dan mas Tono, aku juga mendapat perawatan spesial dari suster cantik yang ada disamping aku ini bi." ujar Linggar senang.
Suster Rina, mencubit tangan Linggar manja. Aduhh..Linggar mengaduh sambil tersenyum.
"Eh...maaf mas, Rina gak sengaja."
"Gak apa-apa dik, lagi dong...hahaha," goda Linggar sambil tertawa.
Bi Inah, bi Narti dan mas Tono, tertawa bersama, mereka bahagia melihat kebersamaan Linggar dan Rina.
"Mas.. sudah siap !! ayo kita pulang!," bi Narti membuyarkan lamunannya
"Oh...iya bi, ayo!."
Linggar berjalan dibimbing mas Tono, pandangan matanya menyusuri setiap sudut yang dilaluinya. Terlihat raut wajah kecewa, menghiasi wajahnya. Bi Narti tersenyum-senyum, sambil berseloroh.
"Mas, suster Rina cantik ya, baik dan shalihah lagi."
"Apa sih bi?," ujar Linggar malu-malu, mengetahui isi hatinya terbaca bi Narti.
Lalu bi Narti, menoleh ke arah Linggar, dengan wajah serius.
"Eh mas..bibi setuju banget loh, kalau mas Linggar tuh jadian sama suster Rina, daripada sama ....," bi Narti menghentikan ucapannya, ada rasa takut, ketika hendak mengucapkan nama Ratih, entahlah nama itu seperti mempunyai aura magis yang membuat bulu kuduk merinding.
------------
Ketika memasuki pelataran parkir terlihat seorang gadis bergaun ungu, dengan hijab yang senada, berdiri disamping mobil, tangannya menggenggam buket mawar merah, terlihat cantik diterpa mentari pagi.
"Mas Linggar....mas !! lihat tuh !!, siapa yang berdiri disana?", suara bi Narti membuyarkan lamunan Linggar.
"MasyaAllah....cantiknya, kalau aku belum kimpoi, bisa jatuh cinta aku," timpal mas Tono.
Bi Narti mencubit pinggang mas Tono, mas Tono berteriak menahan sakit.
"Aduh !!, sakit bu."
"Awas ya !...macam-macam, gak tak kasih tidur dirumah nanti," ancam bi Narti.
"Oalah bu..bu, gitu aja koq cemburu." goda mas Tono.
Bi Narti tak menyahut, wajahnya yang sudah separuh baya terlihat lucu saat merajuk.
Linggar memandang suster Rina, yang sedang menunggunya, ia terpesona dengan kecantikkan gadis itu. Pandangannya seperti tak hendak lepas dari wajah suster Rina. Bi Narti yang melihat pemandangan itu, hanya tersenyum dan mencolek lengan mas Tono.
"Pagi mas Linggar, alhamdulillah sudah sembuh", ujar Rina, sambil memberikan buket bunga.
"Alhamdulillah suster, karena pertolongan suster juga, saya dapat cepat sembuh."
"Gak usah panggil suster mas, Rina saja," ujar suster Rina sambil tersipu, wajahnya yang nyaris sempurna, terlihat memerah menahan gelora asmara yang mulai bersemi.
ehm...ehm..ehm , mas Tono berdehem menggoda.
"Oh..iya suster..eh maaf dik Rina, kalau tidak keberatan maukah dik Rina, mengantar mas pulang?."
Suster Rina mengangguk sambil tersenyum. Lalu dibimbingnya tangan Linggar masuk ke dalam mobil.
"Hati-hati mas," ujar suster Rina.
Darah Linggar berdesir, saat lengan Rina membimbing dirinya masuk. Begitu dekat, hingga wangi tubuh gadis itu tercium jelas, harum.
Satu jam kemudian mobil memasuki halaman rumah, bi Inah tergopoh-gopoh menyambut majikan yang sudah ia anggap sebagai anak kandungnya sendiri.
"Loh...bibi. Kapan bibi datang?", ujar Linggar kaget, dipeluknya tubuh wanita yang sudah lanjut itu dengan gembira.
"Baru den, begitu dikabari bi Narti, bibi langsung pesen tiket kereta. Bibi khawatir sekali den."
"Gimana den ?, yang mana yang sakit?", bi Inah memburu Linggar dengan pertanyaan.
"Alhamdulillah, sudah baikan bi. Bibi gak usah khawatir, karena disamping ada bi Narti dan mas Tono, aku juga mendapat perawatan spesial dari suster cantik yang ada disamping aku ini bi." ujar Linggar senang.
Suster Rina, mencubit tangan Linggar manja. Aduhh..Linggar mengaduh sambil tersenyum.
"Eh...maaf mas, Rina gak sengaja."
"Gak apa-apa dik, lagi dong...hahaha," goda Linggar sambil tertawa.
Bi Inah, bi Narti dan mas Tono, tertawa bersama, mereka bahagia melihat kebersamaan Linggar dan Rina.
disya1628 dan 9 lainnya memberi reputasi
10