- Beranda
- Stories from the Heart
PANGGILAN TENGAH MALAM
...
TS
agusmulyanti
PANGGILAN TENGAH MALAM
Spoiler for prolog:
***********
RULES :
- Ikuti perarturan SFTH
- Agan2 dan Sista bebas berkomentar, memberikan kritik dan saran yang membangun.
- Selama Kisah ini Ditulis, mohon untuk berkomentar seputar cerita.
- Dilarang meng-copas atau meng copy segala bentuk di dalam cerita ini tanpa seizin penulis
Index
Diubah oleh agusmulyanti 08-02-2020 17:25
bonita71 dan 15 lainnya memberi reputasi
16
12.8K
247
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33KThread•54.3KAnggota
Tampilkan semua post
TS
agusmulyanti
#25
Part -14
Malam ini begitu sunyi, sudah sejak tadi hujan turun membasahi bumi. Derak suara pepohonan yang tertiup angin dan gemuruh angin yang berdesir, membuat orang enggan untuk keluar, walau hanya sesaat. Suster Rina, memasukan tangannya kedalam saku baju, menahan dingin yang kian menusuk. Malam ini ia mendapat tugas jaga malam. Entah mengapa sejak sore tadi perasaannya tidak enak, ditepisnya rasa itu dengan bersenandung kecil.
Malam kian larut saat Suster Rina berjalan menyusuri lorong rumah sakit, entah mengapa tiba-tiba bulu tengkuknya tiba2 meremang, dirapatkan jacket tebal yang menutup seragam dinasnya dan dipercepat langkahnya, mengusir rasa takut yang kian menyergap. Dipertigaan lorong terlihat seorang wanita bergaun putih sedang duduk seorang diri. Suster Rina menarik nafas lega, rasa takutnya sedikit sirna. Beberapa langkah sebelum tiba di tempat wanita itu duduk, suster Rina mencium aroma bunga melati yang sangat tajam, baunya begitu menyengat dan membuat suster Rina kembali dihinggapi rasa takut.
"Aduh..wanginya koq gini sih?, serem banget," gumamnya.
Ketika suster Rina berjalan melewati wanita itu, ia tak melihat raut wajahnya, karena wanita itu duduk membelakanginya. Lampu lorong yang temaram membuat ia tak dapat dengan jelas melihat siapa wanita berambut panjang itu. Baru beberapa langkah ia berjalan melewati wanita itu, terdengar suara lirih bernada marah.
"Jangan dekati calon suamiku!!"
Rina berpaling kearah wanita yang wajahnya tetap menunduk. Jantungnya mulai berdegup kencang, nafasnya kian memburu. Dipercepat langkahnya, hingga suara itu kembali terdengar, kali ini jelas sekali.
"Jangan kau ganggu calon suamiku!,"
Suster Rina berpaling, degup jantungnya semakin tak karuan, saat dilihatnya wanita itu tak ada lagi disana, tubuhnya bergetar hebat. Saat ia berbalik hendak meneruskan langkahnya, tubuhnya serasa membeku. Betapa terkejutnya ia, demi dilihatnya, wanita itu sudah berdiri dihadapannya, dengan sorot mata merah dan wajah dipenuhi dengan luka.
Suster Rina berlari tak tentu arah, tawa wanita itu pecah memenuhi angkasa..hihihihi.....hihihihi....hihihihihi.
Suster Rina terus berlari, meski langkahnya terasa berat, hingga tanpa sadar ia bertumbukan dengan pak Rudi, satpam rumah sakit.
"Ada apa mbak Rina?."
Suster Rina tidak bisa menjawab pertanyaan pak Rudi, mulutnya seperti terkunci, badannya sangat dingin dan menggigil. Pak Rudi lalu memapah suster Rina, dan membawanya ke ruang suster.
Suster yang berjaga malam itu berkerumun mengelilingi Rina yang masih menggigil, wajahnya pucat, dan jantungnya berdegup cepat. Mereka membaluri Rina dengan minyak kayu putih, dan memberinya minum, suster Rina diam tidak bergeming, ia masih belum bisa berbicara. Rasa takut yang teramat sangat membuatnya seperti sebuah patung es, diam dan membisu.
---------------
Tatkala ia sudah dapat mengendalikan emosinya, suster Rina, mulai dapat menjawab pertanyaan sahabat sahabatnya dan bercerita tentang kejadian yang menimpanya. Disepanjang cerita, ia kerap menangis, karena takut.
"Rin...maaf ya, aku mau tanya, kamu tau laki2-laki yang dimaksud wanita itu?."
"Aku gak tau kak, kan kakak tau, aku gak pernah berdekatan dengan laki laki, apalagi pacaran."
"Iya sih, kakak tau itu, tapi...kenapa ya wanita itu memburu kamu ?, pasti ada sesuatu Rin."
Sahabat-sahabatnya saling berpandangan, dengan tatapan penuh tanya. Mereka bingung, karena setau mereka suster Rina, adalah suster yang sangat alim, selalu ramah dan baik pada siapapun, tak pernah ada gosif yang tidak baik tentangnya. Suster Rina diam merenung, mencoba mereka-reka, apa yang sudah ia lakukan dan perbuat, yang tidak ia sadari hingga membuat hantu wanita itu mengejarnya.
"Apa mungkin ini ada kaitannya dengan mas Linggar ?," gumamnya.
"Apa Rin ?.. Linggar ?, maksud kamu, pemuda yang tempo hari tangannya terluka itu ?,"
Suster Rina mengangguk perlahan. Sahabatnya saling berpandangan dan seperti menyetujui terkaan suster Rina.
Malam kian larut saat Suster Rina berjalan menyusuri lorong rumah sakit, entah mengapa tiba-tiba bulu tengkuknya tiba2 meremang, dirapatkan jacket tebal yang menutup seragam dinasnya dan dipercepat langkahnya, mengusir rasa takut yang kian menyergap. Dipertigaan lorong terlihat seorang wanita bergaun putih sedang duduk seorang diri. Suster Rina menarik nafas lega, rasa takutnya sedikit sirna. Beberapa langkah sebelum tiba di tempat wanita itu duduk, suster Rina mencium aroma bunga melati yang sangat tajam, baunya begitu menyengat dan membuat suster Rina kembali dihinggapi rasa takut.
"Aduh..wanginya koq gini sih?, serem banget," gumamnya.
Ketika suster Rina berjalan melewati wanita itu, ia tak melihat raut wajahnya, karena wanita itu duduk membelakanginya. Lampu lorong yang temaram membuat ia tak dapat dengan jelas melihat siapa wanita berambut panjang itu. Baru beberapa langkah ia berjalan melewati wanita itu, terdengar suara lirih bernada marah.
"Jangan dekati calon suamiku!!"
Rina berpaling kearah wanita yang wajahnya tetap menunduk. Jantungnya mulai berdegup kencang, nafasnya kian memburu. Dipercepat langkahnya, hingga suara itu kembali terdengar, kali ini jelas sekali.
"Jangan kau ganggu calon suamiku!,"
Suster Rina berpaling, degup jantungnya semakin tak karuan, saat dilihatnya wanita itu tak ada lagi disana, tubuhnya bergetar hebat. Saat ia berbalik hendak meneruskan langkahnya, tubuhnya serasa membeku. Betapa terkejutnya ia, demi dilihatnya, wanita itu sudah berdiri dihadapannya, dengan sorot mata merah dan wajah dipenuhi dengan luka.
Suster Rina berlari tak tentu arah, tawa wanita itu pecah memenuhi angkasa..hihihihi.....hihihihi....hihihihihi.
Suster Rina terus berlari, meski langkahnya terasa berat, hingga tanpa sadar ia bertumbukan dengan pak Rudi, satpam rumah sakit.
"Ada apa mbak Rina?."
Suster Rina tidak bisa menjawab pertanyaan pak Rudi, mulutnya seperti terkunci, badannya sangat dingin dan menggigil. Pak Rudi lalu memapah suster Rina, dan membawanya ke ruang suster.
Suster yang berjaga malam itu berkerumun mengelilingi Rina yang masih menggigil, wajahnya pucat, dan jantungnya berdegup cepat. Mereka membaluri Rina dengan minyak kayu putih, dan memberinya minum, suster Rina diam tidak bergeming, ia masih belum bisa berbicara. Rasa takut yang teramat sangat membuatnya seperti sebuah patung es, diam dan membisu.
---------------
Tatkala ia sudah dapat mengendalikan emosinya, suster Rina, mulai dapat menjawab pertanyaan sahabat sahabatnya dan bercerita tentang kejadian yang menimpanya. Disepanjang cerita, ia kerap menangis, karena takut.
"Rin...maaf ya, aku mau tanya, kamu tau laki2-laki yang dimaksud wanita itu?."
"Aku gak tau kak, kan kakak tau, aku gak pernah berdekatan dengan laki laki, apalagi pacaran."
"Iya sih, kakak tau itu, tapi...kenapa ya wanita itu memburu kamu ?, pasti ada sesuatu Rin."
Sahabat-sahabatnya saling berpandangan, dengan tatapan penuh tanya. Mereka bingung, karena setau mereka suster Rina, adalah suster yang sangat alim, selalu ramah dan baik pada siapapun, tak pernah ada gosif yang tidak baik tentangnya. Suster Rina diam merenung, mencoba mereka-reka, apa yang sudah ia lakukan dan perbuat, yang tidak ia sadari hingga membuat hantu wanita itu mengejarnya.
"Apa mungkin ini ada kaitannya dengan mas Linggar ?," gumamnya.
"Apa Rin ?.. Linggar ?, maksud kamu, pemuda yang tempo hari tangannya terluka itu ?,"
Suster Rina mengangguk perlahan. Sahabatnya saling berpandangan dan seperti menyetujui terkaan suster Rina.
disya1628 dan 8 lainnya memberi reputasi
9