- Beranda
- Stories from the Heart
PANGGILAN TENGAH MALAM
...
TS
agusmulyanti
PANGGILAN TENGAH MALAM
Spoiler for prolog:
***********
RULES :
- Ikuti perarturan SFTH
- Agan2 dan Sista bebas berkomentar, memberikan kritik dan saran yang membangun.
- Selama Kisah ini Ditulis, mohon untuk berkomentar seputar cerita.
- Dilarang meng-copas atau meng copy segala bentuk di dalam cerita ini tanpa seizin penulis
Index
Diubah oleh agusmulyanti 08-02-2020 17:25
bonita71 dan 15 lainnya memberi reputasi
16
12.7K
247
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
agusmulyanti
#20
Part - 13
Cahaya matahari menerobos masuk lewat celah jendela, membangunkan Linggar yang tertidur di sudut kamar. Diregangkannya badannya, tiba tiba ia merasakan sakit di lengannya, terlihat darah segar memancar dari pergelangan tangannya, bajunnya sudah bersimbah darah.
"Arrkgh, Linggar mengerang kesakitan.
"Bi...bi Narti, tolong aku bi !!," suara Linggar terdengar parau.
Bi Narti yang mendengar panggilan Linggar, bergegas mendekat, dan alangkah terkejutnya ia, saat didapatinya tubuh Linggar bersimbah darah.
"Mas Linggar !!, ya Allah...mas Linggar, kenapa bisa begini ?," jerit bi Narti.
Bi Narti bingung harus berbuat apa, kepalanya pusing, melihat darah yang berceceran.
"Pak....!!, pak.....!!, tolong pak.....huhuhu....huhuhu." bi Narti menjerit memanggil mas Tono, sambil menangis histeris.
Mas Tono yang mendengar suara keributan, langsung berlari ke kamar Linggar. Kayu bakar yang sedang dipegangnya dibiarkan begitu saja.
"Ya Allah...ada apa ini bu?, koq bisa kayak gini?."
"Aku ndak ngerti pak, tolong mas Linggar pak...huhuhu...huhuhu."
Mas Tono memapah tubuh Linggar, dan dibaringkannya di tempat tidur.
Kita harus segera membawanya ke Puskesmas.
"Susah to pak, piye carane ?,"
"Yo wes, kalo gitu, aku yang kesana saja panggil dokter," ujar mas Tono, sambil berlari meraih kunci motor Linggar yang tergeletak di meja.
"Hati-hati pak, jangan lama-lama."
Mas Tono mengangguk, dan bergegas pergi. Tak berapa lama kemudiaan, ia sudah hadir bersama dengan dokter dan perawat Puskesmas.
"Kenapa ini bu?, kenapa bisa begini?"
"Saya ndak tau dok, saya lihat sudah begini", ujar bi Narti sambil menangis.
Dokter meminta perawat untuk menjahit tangan Linggar yang terluka, dan memasang selang infus, karena kondisi Linggar yang sangat lemah.
"Bu..suster Rina, nanti biar disini dulu, sampai kondisi pak Linggar membaik."
Bi Narti mengangguk, lalu mengantar suster Rina, ke kamar tamu.
"Alhamdulillah belum terlambat pak, nyawanya masih bisa diselamatkan." Ujar dokter ramah.
Bi Narti masih terlihat sesenggukan, meski dokter sudah menjahit tangan Linggar. Tapi kini ia bisa bernafas lega, karena Linggar sudah mendapat pertolongan. Linggar masih belum sadarkan diri, akibat pengaruh obat bius. Bi Narti terlihat masih terus berdoa di sebelahnya.
---------------
Menjelang tengah hari, Linggar baru membuka matanya. Terlihat wajahnya menyeringai, menahan sakit. Bi Narti mendekati Linggar, dan memberikan Linggar secangkir teh manis hangat.
"Arkh...sakit bi??", ujar Linggar lirih
"Mas Linggar terluka, tadi pak Dokter, baru saja menjahit luka mas Linggar," ujar bi Narti lembut.
----------------
Bi Narti menarik kursi dan duduk di dekat pembaringan Linggar.
"Ada apa to mas, kenapa sampai kayak gitu, bibi takut mas."
Linggar menceritakan semua yang dialaminya semalam. Bi Narti dan Pak Tono mendengarkan, sambil tak henti-hentinya mengucap istighfar.
--------‐--------
"Tadi malam Ratih datang, dan kami jalan bersama, kami berjalan menyusuri taman bunga yg begitu indah, sangat indah. Ratih mengenakan gaun putih, ia terlihat sangat cantik malam itu bi," ujar Linggar dengan mata berbinar.
"Tubuhnya yang semampai, dengan rambut panjang terurai, membuat mataku tak bisa berkedip memandangnya. Ratih memintaku untuk menikah dengannya. Sebagai tanda setuju, Ratih memintaku untuk menorehkan bilah bambu ke pergelangan tangan. Entah kenapa, aku seperti tak berdaya menolak permintaannya bi, ku goreskan bilah bambu itu ke pergelangan tanganku, darah mulai mengalir membasahi tanganku saat itu, aku limbung. Aku lihat Ratih begitu bahagia saat itu, dia memelukku dan berkata, "kita akan bersama selamanya". Dan setelah itu aku gak inget apa-apa lagi, hingga aku merasakan sakit dan berteriak."
"Ya Allah mas, untung masih bisa diselamatkan, kalau sampai terlambat, bibi gak tau harus bilang apa..huhu," ujar bi Narti sambil kembali menangis.
Pak Tono, berbisik di telinga istrinya. Dirinya pamit hendak menemui Kyai Amin. Bi Narti mengangguk dan mencium tangan suaminya.
--------------
Seorang perawat berhijab, menghampiri keduanya. Dengan lembut di sapa Linggar yang terbaring lemas. Selang infus dan tensi Linggar diperiksanya dengan cermat. Bi Narti pamit hendak shalat, dan menitipkan Linggar pada perawat cantik itu.
"Silahkan makan dulu mas, lalu minum obat ya ," suster itu menyodorkan makan siang kepada Linggar.
Linggar berusaha untuk duduk, tapi tubuhnya begitu lemas, hingga terjatuh. Suster Rina dengan sigap meraihnya, sesaat tubuh mereka bersentuhan, pandangan mata mereka bersirobak, suster Rina mengalihkan pandangannya, dan mulai menyuapi Linggar sambil sesekali terlihat wajahnya memerah.
"Arrkgh, Linggar mengerang kesakitan.
"Bi...bi Narti, tolong aku bi !!," suara Linggar terdengar parau.
Bi Narti yang mendengar panggilan Linggar, bergegas mendekat, dan alangkah terkejutnya ia, saat didapatinya tubuh Linggar bersimbah darah.
"Mas Linggar !!, ya Allah...mas Linggar, kenapa bisa begini ?," jerit bi Narti.
Bi Narti bingung harus berbuat apa, kepalanya pusing, melihat darah yang berceceran.
"Pak....!!, pak.....!!, tolong pak.....huhuhu....huhuhu." bi Narti menjerit memanggil mas Tono, sambil menangis histeris.
Mas Tono yang mendengar suara keributan, langsung berlari ke kamar Linggar. Kayu bakar yang sedang dipegangnya dibiarkan begitu saja.
"Ya Allah...ada apa ini bu?, koq bisa kayak gini?."
"Aku ndak ngerti pak, tolong mas Linggar pak...huhuhu...huhuhu."
Mas Tono memapah tubuh Linggar, dan dibaringkannya di tempat tidur.
Kita harus segera membawanya ke Puskesmas.
"Susah to pak, piye carane ?,"
"Yo wes, kalo gitu, aku yang kesana saja panggil dokter," ujar mas Tono, sambil berlari meraih kunci motor Linggar yang tergeletak di meja.
"Hati-hati pak, jangan lama-lama."
Mas Tono mengangguk, dan bergegas pergi. Tak berapa lama kemudiaan, ia sudah hadir bersama dengan dokter dan perawat Puskesmas.
"Kenapa ini bu?, kenapa bisa begini?"
"Saya ndak tau dok, saya lihat sudah begini", ujar bi Narti sambil menangis.
Dokter meminta perawat untuk menjahit tangan Linggar yang terluka, dan memasang selang infus, karena kondisi Linggar yang sangat lemah.
"Bu..suster Rina, nanti biar disini dulu, sampai kondisi pak Linggar membaik."
Bi Narti mengangguk, lalu mengantar suster Rina, ke kamar tamu.
"Alhamdulillah belum terlambat pak, nyawanya masih bisa diselamatkan." Ujar dokter ramah.
Bi Narti masih terlihat sesenggukan, meski dokter sudah menjahit tangan Linggar. Tapi kini ia bisa bernafas lega, karena Linggar sudah mendapat pertolongan. Linggar masih belum sadarkan diri, akibat pengaruh obat bius. Bi Narti terlihat masih terus berdoa di sebelahnya.
---------------
Menjelang tengah hari, Linggar baru membuka matanya. Terlihat wajahnya menyeringai, menahan sakit. Bi Narti mendekati Linggar, dan memberikan Linggar secangkir teh manis hangat.
"Arkh...sakit bi??", ujar Linggar lirih
"Mas Linggar terluka, tadi pak Dokter, baru saja menjahit luka mas Linggar," ujar bi Narti lembut.
----------------
Bi Narti menarik kursi dan duduk di dekat pembaringan Linggar.
"Ada apa to mas, kenapa sampai kayak gitu, bibi takut mas."
Linggar menceritakan semua yang dialaminya semalam. Bi Narti dan Pak Tono mendengarkan, sambil tak henti-hentinya mengucap istighfar.
--------‐--------
"Tadi malam Ratih datang, dan kami jalan bersama, kami berjalan menyusuri taman bunga yg begitu indah, sangat indah. Ratih mengenakan gaun putih, ia terlihat sangat cantik malam itu bi," ujar Linggar dengan mata berbinar.
"Tubuhnya yang semampai, dengan rambut panjang terurai, membuat mataku tak bisa berkedip memandangnya. Ratih memintaku untuk menikah dengannya. Sebagai tanda setuju, Ratih memintaku untuk menorehkan bilah bambu ke pergelangan tangan. Entah kenapa, aku seperti tak berdaya menolak permintaannya bi, ku goreskan bilah bambu itu ke pergelangan tanganku, darah mulai mengalir membasahi tanganku saat itu, aku limbung. Aku lihat Ratih begitu bahagia saat itu, dia memelukku dan berkata, "kita akan bersama selamanya". Dan setelah itu aku gak inget apa-apa lagi, hingga aku merasakan sakit dan berteriak."
"Ya Allah mas, untung masih bisa diselamatkan, kalau sampai terlambat, bibi gak tau harus bilang apa..huhu," ujar bi Narti sambil kembali menangis.
Pak Tono, berbisik di telinga istrinya. Dirinya pamit hendak menemui Kyai Amin. Bi Narti mengangguk dan mencium tangan suaminya.
--------------
Seorang perawat berhijab, menghampiri keduanya. Dengan lembut di sapa Linggar yang terbaring lemas. Selang infus dan tensi Linggar diperiksanya dengan cermat. Bi Narti pamit hendak shalat, dan menitipkan Linggar pada perawat cantik itu.
"Silahkan makan dulu mas, lalu minum obat ya ," suster itu menyodorkan makan siang kepada Linggar.
Linggar berusaha untuk duduk, tapi tubuhnya begitu lemas, hingga terjatuh. Suster Rina dengan sigap meraihnya, sesaat tubuh mereka bersentuhan, pandangan mata mereka bersirobak, suster Rina mengalihkan pandangannya, dan mulai menyuapi Linggar sambil sesekali terlihat wajahnya memerah.
Diubah oleh agusmulyanti 13-02-2020 11:13
disya1628 dan 11 lainnya memberi reputasi
12