Kaskus

Story

agusmulyantiAvatar border
TS
agusmulyanti
PANGGILAN TENGAH MALAM
Spoiler for prolog:

***********

RULES :

- Ikuti perarturan SFTH

- Agan2 dan Sista bebas berkomentar, memberikan kritik dan saran yang membangun.

- Selama Kisah ini Ditulis, mohon untuk berkomentar seputar cerita.

- Dilarang meng-copas atau meng copy segala bentuk di dalam cerita ini tanpa seizin penulis


Index


















Diubah oleh agusmulyanti 08-02-2020 17:25
nona212Avatar border
theoscusAvatar border
bonita71Avatar border
bonita71 dan 15 lainnya memberi reputasi
16
12.8K
247
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.9KThread53.6KAnggota
Tampilkan semua post
agusmulyantiAvatar border
TS
agusmulyanti
#18
Part - 11
Bi Narti memandangi Linggar, yang sedang sarapan. Perlahan dia mulai bertanya.

"Mas...maaf bibi mau tanya, semalam mas Linggar dari mana? Kenapa baju mas Linggar kotor sekali, penuh tanah...maaf ya mas, tanah itu seperti tanah kuburan", tanya bi Narti hati hati.

"Ah...masa sih bi, bibi becanda aja, aku tuh semalem ketemu teman bi, aku gak ke kuburan", ujar Linggar ringan.

Pertemuan dengan Ratih, membuat hati Linggar berbunga bunga, senyumnya begitu sumringah, dia tak memperdulikan orang orang disekelilingnya, yang terus memperhatikannya dengan heran. EGP katanya.

Sesekali dilirik jam yang melingkar ditangannya, jarum jam terasa begitu lambat berputar, sehingga kerap kali dia menggerutu. Hingga akhirnya jarum jam menunjuk angka 5. 

"Yess...akhirnya pulang juga,"sorak linggar dalam hati. 

Seperti remaja belasan tahun, yang baru jatuh cinta, Linggar berlari menuju halaman parkir, sepeda motor yang selalu setia mengantarnya, kemanapun dirinya pergi sudah menunggu untuk dibawa berselancar.

-------------

Setiba di rumah, Linggar bergegas mandi. Bi Narti yang menyapanya di gerbang depan, hanya geleng-geleng kepala, melihat tingkah Linggar yang tak biasanya.
Linggar, mematut matut wajahnya di cermin, sesekali dia bersiul dan bersenandung.  Bi Narti dari kejauhan memandangnya, dengan sorot mata penuh tanya.

Selepas maghrib, tidak seperti biasanya, Linggar pamit ke bi Narti. Bi Narti hendak bertanya, tapi Linggar, sudah terburu menghilang dikegelapan malam.

"Aku koq khawatir ya," gumam bi Narti.

Bi Narti menghampiri suaminya, dan menceritakan kejanggalan sikap Linggar, hatinya begitu gundah, sesekali ia menunjukan mimik muka yang begitu cemas.

"Sudahlah bu, itukan wajar, namanya juga anak muda. Ibu ini seperti gak pernah muda saja," ledek suaminya, sambil menghisap rokok kawung, yang baru saja dibuatnya.
"Ibu tau pak, ibu juga pernah muda, tapi ibu koq melihat kejanggalan dari hubungan ini."
"Janggal....janggal bagaimana maksud ibu?."
"Entahlah pak, hati kecil ibu, mengatakan bahwa ada sesuatu yg tidak beres."
"Tidak beres bagaimana maksud ibu?."
"Entahlah pak."
"Ah sudahlah bu, berdoa saja, mudah-mudahan tidak terjadi apa apa dengan mas Linggar."
"Iya pak, ibu juga berharap begitu."

Bi Narti mengangguk anggukkan kepalanya, mendengar kata suaminya.  Meski hatinya masih tak tenang, tapi kata kata suaminya sudah membuatnya sedikit bernafas lega.
Bi Narti merapikan gelas kopi, dan membawanya masuk kedalam rumah.
Belum lagi kakinya masuk kedalam rumah, terdengar seseorang berteriak memanggilnya.

"Bi....bi Narti!," Parjo tetangga sebelah rumah memanggilnya dengan terengah engah.
"Ada apa Jo?," bi Narti keluar menghampiri Parjo.

Parjo mengatur nafasnya yang sedikit  tersengal, kemudian diceritakan apa yang dilihatnya. Ia melihat Linggar sedang tertawa tawa dibawah rimbunnya pepohonan bambu, dan seperti sedang bercakap cakap dengan seseorang.

"Gitu ceritanya bi," ujar mas Parjo, mengakhiri ceritanya.

Bi Narti berlari memanggil suaminya. Mas Tono, suami bi Narti mengikuti istrinya menemui Parjo. Lalu terlihat keduanya bergegas pergi meninggalkan rumah.
MontanaRivera
forlano
disya1628
disya1628 dan 10 lainnya memberi reputasi
11
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.