- Beranda
- Stories from the Heart
PANGGILAN TENGAH MALAM
...
TS
agusmulyanti
PANGGILAN TENGAH MALAM
Spoiler for prolog:
***********
RULES :
- Ikuti perarturan SFTH
- Agan2 dan Sista bebas berkomentar, memberikan kritik dan saran yang membangun.
- Selama Kisah ini Ditulis, mohon untuk berkomentar seputar cerita.
- Dilarang meng-copas atau meng copy segala bentuk di dalam cerita ini tanpa seizin penulis
Index
Diubah oleh agusmulyanti 08-02-2020 17:25
bonita71 dan 15 lainnya memberi reputasi
16
12.7K
247
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
agusmulyanti
#7
Part - 6
Linggar merapikan kopernya dan bergegas memasukannya kedalam bagasi mobil online yang dipesannya.
Bi Inah membantu, mengangkat tas kecil miliknya, dan memberikannya sambil tersenyum.
"Bi...aku berangkat dulu ya, bibi hati-hati di rumah. Kalau bibi kesepian ajak ponakkan bibi nginap disini."
"Iya den, aden juga hati hati, jangan lupa jaga diri, jangan telat makan." ujar bi Ijah sambil menyeka matanya yang basah oleh air mata.
"Iya bi, aku berangkat dulu ya.".
Linggar menutup pintu mobil dan kendaraanpun melaju menuju stasiun.
Ketika Linggar sampai di Stasiun, kereta sudah hampir berangkat, Linggar bergegas mencari gerbong yang tertera di karcis yang dipegangnya. Linggar meletakan tas yang digenggamnya dan mulai menghempaskan pantatnya di kursi empuk kereta.
Letih sekali ia hari ini, belum sempat beristirahat tadi, karena kantor mengharuskannya untuk bertugas ditempat yang baru.
Semilir AC mengantarnya ke alam mimpi, sapaan halus seorang wanita menyadarkannya.
"Maaf mas", Gadis itu menggeser kepala Linggar dengan tangannya yang halus.
Ternyata kepala Linggar telah singgah dibahu gadia itu.
"Oh...maaf, maaf ya mbak saya gak sengaja".
"Gak apa-apa mas, mas kelihatan capek sekali," ujarnya lembut
"Oh ya...namaku Linggar", ujar Linggar sambil mengulurkan tangannya.
"Ratih," gadis itu menyebut namanya.
Merekapun terlibat dalam percakapan, menjelang adzan subuh, gadis itu pamit hendak ke belakang.
Hingga kereta memasuki Stasiun Malang gadis itu belum muncul juga.
"Kemana dia ?, ah sudahlah, mungkin sakit dia sakit perut."
Linggar bergegas meninggalkan stasiun dan langsung menuju rumah sewaan yang menjadi tempat tinggalnya selama di Malang.
Linggar bertemu dengan penjaga rumah, yang membukakan pintu dan yang nantinya akan membantu Linggar di rumah itu.
"Ini mas Linggar ya?."
"Iya bu, saya Linggar yang nanti akan tinggal disini."
"Silahkan masuk mas, saya Narti yang akan membantu mas, selama mas bertugas disini. Jadi mas kalau butuh apa apa, panggil saya saja ya", ujar bi Narti, sambil mengulurkan tangannya.
"Baik bi, terimakasih"
"Mari mas, bibi antar ke kamar."
Bi Narti membawa koper Linggar dengan cekatan, dan mengantar Linggar ke kamarnya.
"Ini kamarnya mas. Silahkan mas Linggar kalau mau mandi dan istirahat, bibi ke dapur dulu, buat kopi dan camilan."
"Iya bi, terimakasih."
Linggar berjalan memasuki kamar yang tertata rapi, sebuah jendela besar terbuka lebar, membuat harum bunga-bunga yang tumbuh di taman, memenuhi ruangan. Linggar menarik nafas dalam-dalam, udara segar terasa memenuhi rongga dadanya..hmm.
Perlahan ia berjalan ke kamar mandi dan mulai membasahi tubuhnya dengan air hangat yang memancur lembut dari shower. Tatkala ia keluar, dilihatnya secangkir coklat panas dan setangkup roti sudah tersedia di meja kecil.
Dihirup perlahan coklat hangat itu.
"Subhanallah...enak sekali coklat hangat buatan bi Narti ini, manisnya pas dan harum." Lalu diambilnya roti bakar yang ada di piring kecil dan mulai mengunyahnya. Terlihat ia begitu menikmati setiap kunyahan roti bakar itu.
Karena lelah, dibaringkannya tubuhnya di tempat tidur beralaskan seprei motif bunga, dan tak terasa iapun terlelap dalam tidur, dalam mimpi yang membuatnya tersenyum.
Jangan lupa cendolnya ya gan n sista..🤗
Bi Inah membantu, mengangkat tas kecil miliknya, dan memberikannya sambil tersenyum.
"Bi...aku berangkat dulu ya, bibi hati-hati di rumah. Kalau bibi kesepian ajak ponakkan bibi nginap disini."
"Iya den, aden juga hati hati, jangan lupa jaga diri, jangan telat makan." ujar bi Ijah sambil menyeka matanya yang basah oleh air mata.
"Iya bi, aku berangkat dulu ya.".
Linggar menutup pintu mobil dan kendaraanpun melaju menuju stasiun.
Ketika Linggar sampai di Stasiun, kereta sudah hampir berangkat, Linggar bergegas mencari gerbong yang tertera di karcis yang dipegangnya. Linggar meletakan tas yang digenggamnya dan mulai menghempaskan pantatnya di kursi empuk kereta.
Letih sekali ia hari ini, belum sempat beristirahat tadi, karena kantor mengharuskannya untuk bertugas ditempat yang baru.
Semilir AC mengantarnya ke alam mimpi, sapaan halus seorang wanita menyadarkannya.
"Maaf mas", Gadis itu menggeser kepala Linggar dengan tangannya yang halus.
Ternyata kepala Linggar telah singgah dibahu gadia itu.
"Oh...maaf, maaf ya mbak saya gak sengaja".
"Gak apa-apa mas, mas kelihatan capek sekali," ujarnya lembut
"Oh ya...namaku Linggar", ujar Linggar sambil mengulurkan tangannya.
"Ratih," gadis itu menyebut namanya.
Merekapun terlibat dalam percakapan, menjelang adzan subuh, gadis itu pamit hendak ke belakang.
Hingga kereta memasuki Stasiun Malang gadis itu belum muncul juga.
"Kemana dia ?, ah sudahlah, mungkin sakit dia sakit perut."
Linggar bergegas meninggalkan stasiun dan langsung menuju rumah sewaan yang menjadi tempat tinggalnya selama di Malang.
Linggar bertemu dengan penjaga rumah, yang membukakan pintu dan yang nantinya akan membantu Linggar di rumah itu.
"Ini mas Linggar ya?."
"Iya bu, saya Linggar yang nanti akan tinggal disini."
"Silahkan masuk mas, saya Narti yang akan membantu mas, selama mas bertugas disini. Jadi mas kalau butuh apa apa, panggil saya saja ya", ujar bi Narti, sambil mengulurkan tangannya.
"Baik bi, terimakasih"
"Mari mas, bibi antar ke kamar."
Bi Narti membawa koper Linggar dengan cekatan, dan mengantar Linggar ke kamarnya.
"Ini kamarnya mas. Silahkan mas Linggar kalau mau mandi dan istirahat, bibi ke dapur dulu, buat kopi dan camilan."
"Iya bi, terimakasih."
Linggar berjalan memasuki kamar yang tertata rapi, sebuah jendela besar terbuka lebar, membuat harum bunga-bunga yang tumbuh di taman, memenuhi ruangan. Linggar menarik nafas dalam-dalam, udara segar terasa memenuhi rongga dadanya..hmm.
Perlahan ia berjalan ke kamar mandi dan mulai membasahi tubuhnya dengan air hangat yang memancur lembut dari shower. Tatkala ia keluar, dilihatnya secangkir coklat panas dan setangkup roti sudah tersedia di meja kecil.
Dihirup perlahan coklat hangat itu.
"Subhanallah...enak sekali coklat hangat buatan bi Narti ini, manisnya pas dan harum." Lalu diambilnya roti bakar yang ada di piring kecil dan mulai mengunyahnya. Terlihat ia begitu menikmati setiap kunyahan roti bakar itu.
Karena lelah, dibaringkannya tubuhnya di tempat tidur beralaskan seprei motif bunga, dan tak terasa iapun terlelap dalam tidur, dalam mimpi yang membuatnya tersenyum.
Jangan lupa cendolnya ya gan n sista..🤗
Diubah oleh agusmulyanti 21-12-2019 11:18
disya1628 dan 15 lainnya memberi reputasi
16