Kaskus

Story

agusmulyantiAvatar border
TS
agusmulyanti
PANGGILAN TENGAH MALAM
Spoiler for prolog:

***********

RULES :

- Ikuti perarturan SFTH

- Agan2 dan Sista bebas berkomentar, memberikan kritik dan saran yang membangun.

- Selama Kisah ini Ditulis, mohon untuk berkomentar seputar cerita.

- Dilarang meng-copas atau meng copy segala bentuk di dalam cerita ini tanpa seizin penulis


Index


















Diubah oleh agusmulyanti 08-02-2020 17:25
nona212Avatar border
theoscusAvatar border
bonita71Avatar border
bonita71 dan 15 lainnya memberi reputasi
16
12.7K
247
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.8KAnggota
Tampilkan semua post
agusmulyantiAvatar border
TS
agusmulyanti
#4
Part - 4
Malam ini hujan tercurah dengan derasnya. Petir bersahut sahutan memecah langit. Linggar duduk terpaku, tatap matanya nanar menembus derasnya hujan.
Bi Inah yang sedari tadi sibuk menyulam, matanya sesekali mencuri pandang kearah Linggar.

"Den...dari tadi bibi lihat, aden murung, ada apa?."

Linggar berpaling kearah bi Inah, pandangannya dingin dan terlihat lelah.

"Entahlah bi, aku lelah sekali".
"Oh...yasudah istirahat saja den".
"Baiklah bi, aku kekamar dulu ya".

Linggar beranjak dari kursinya, meninggalkan bi Inah yang terus menatapnya.

"Den !!..Den Linggar !!,

Tiba-tiba mang Tatang masuk dari belakang. Linggar menoleh, dan dilihat mang Tatang sedang berlari kecil kearahnya.

"Ya..ada apa mang?."
"Anu den, malam ini mamang mau ijin keluar sebentar, mau ketempat saudara, tapi..itu juga jika aden mengijinkan."
"Loh koq mendadak sekali, ada apa mang ?."
"Itu den, ponakan mamang jatuh dari pohon, sekarang dirawat di rumah sakit".
"Astaghfirullah...terus bagaimana keadaannya mang."
"Katanya sih, harus di gift den."
"Oh...kalau gitu sebentar mang."

Linggar berjalan ke kamar, dan kembali dengan membawa amplop, lalu diserahkan ke mang Tatang.

"Pakailah ini mang, mungkin bisa sedikit membantu."
"Terimakasih den. Mamang jadi enggak enak nih, jadi merepotkan aden."
"Enggaklah mang, mamang kan udah aku anggap seperti keluarga aku.  Oh...iya mang, kalau pergi, jangan lupa pintu gerbangnya dikunci ya !!."

"Siyap den," ujar mang Tatang, sambil berpamitan.
"Bi inah, saya pergi dulu ya."
"Iya ..hati-hati di jalan, salam buat si kasep, jangan cengeng."

Mang Tatang mengangguk, lalu melangkah pergi dan hilang dibalik pintu.

----------

Linggar melangkah kekamarnya, dan langsung merebahkan tubuhnya di tempat tidur.
Di kejauhan terdengar deru motor mang Tatang menembus derasnya hujan.
Lamat lamat terdengar langkah kaki bi Inah, menuju kamarnya.

--------
Suasana rumah begitu sunyi, hanya gemuruh petir dan suara derasnya hujan yang terdengar memecah keheningan.
Linggar tak juga bisa memincingkan matanya, meski tubuhnya terasa lelah. Sesekali pandangannya tertuju kedaun jendela.

hmmm, terdengar ia menarik nafas panjang.

Saat fikirannya sedang menerawang, tiba-tiba lampu di kamarnya padam.

"Aduh !!, mati lampu lagi, dimana ya lilin yang kemarin aku beli ?."

Linggar beringsut dari pembaringannya, mencari lilin dilaci meja, dengan meraba raba, akhirnya tangannya menemukan dua buah lilin yang masih terbungkus rapi.
Akhir akhir ini, PLN sering kali memadamkan listrik, apalagi disaat hujan deras seperti ini.

Belum lagi lilin itu dihidupkan, tiba-tiba terdengar suara lirih, yang hampir hampir tak terdengar.

tolooong.....toloong aku

Linggar menoleh, jantungnya berdegup kencang, nafasnya tersengal sengal.

"Siapa kamu? Apa mau kamu? Kenapa kamu menggangguku?."

Samar samar, dibawah terpaan cahaya petir, terlihat sosok perempuan berdiri disudut kamar.
Wajahnya tak terlihat jelas, hanya suaranya yang parau terus menerus meminta tolong. Tubuh Linggar semakin bergetar, hingga tak sengaja tangannya menyentuh vas bunga.
brakkk , vas bunga hancur berantakan.

Bi Inah yang sedang berdzikir kaget mendengar suara itu, lalu berlari ke kamar Linggar, dan mengetuk pintu.

"Den !!, den Linggar !!, aden gak apa-apa ?."

Linggar membuka pintu, terlihat bi Inah berdiri dihadapannya, dengan lilin di tangan.

"Enggak bi, tadi waktu aku cari lilin, vas bunga kesenggol dan jatuh."

"Boleh bibi masuk den ?."

Linggar menganggukkan kepalanya. Bi Inah mengambil sapu dan mulai membersihkan pecahan vas bunga. Linggar melihat ke sudut ruangan, tapi disana sudah tak terlihat lagi sosok perempuan itu.
MontanaRivera
forlano
disya1628
disya1628 dan 10 lainnya memberi reputasi
11
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.