- Beranda
- Stories from the Heart
AKHIR PENANTIANKU (JILID IV) [18+] [TRUE STORY]
...
TS
dissymmon08
AKHIR PENANTIANKU (JILID IV) [18+] [TRUE STORY]
SELAMAT DATANG AGAN SISTA
Halo! 
Gue ucapkan terima kasih yang teramat sangat terhadap dukungan dan apresiasi agan sista untuk tulisan gue di JILID IIIsebelumnya. Setelah merenung dan mencoba membuka kembali memori lama gue, akhirnya gue mendapatkan khilal gue. Sekarang gue udah siap untuk menulis kelanjutannya, yaitu JILID IV!
Kali ini gue masih menceritakan tentang kisah cinta gue, yang pada cerita sebelumnya masih berkutat di Kampus. Gue yang di kisah kali ini sedang mendekati akhir perjuangan di Kampus pun akan menjalani tahap baru, dimana gue akan bertemu dengan dunia kerja dan dunia nyata. Bakalan banyak konflik di diri gue ini, ketika gue yang tengah mencari jati diri ini dihadapkan dengan kenyataan bahwa hidup itu benar-benar penuh lika liku. Saat kita salah memilih jalan, ga ada putar balik, kita harus terus menjalani dan menghadapinya seraya mencari solusi terbaik atas pilihan kita itu. Dan kesabaran menjadi kunci utama segalanya, buat gue.
Masih dengan gaya menulis gue yang penuh strong language, absurd-nya hidup gue, kebodohan gue dalam memilih keputusan, pengalaman hidup lain, dan beberapa kali akan nyempil ++-nya, jadi gue masih ga akan melepas rating 18+ di cerita gue kali ini. Mungkin akan ada beberapa penyesuaian penggunaan bahasa atau panggilan yang gue lakuin di sini, demi kenyamanan bersama. Semoga ga merusak ciri khas gue dalam menulis! Amiiin.
Dan gue berharap semoga agan sista tetap suka dan betah mantengin thread ane ini sampe selesai!
Oh iya, kalau misalnya agan sista belum baca cerita di JILID III atau mau refresh kembali cerita saat itu, monggo mampir ke LINK INI.

Gue ucapkan terima kasih yang teramat sangat terhadap dukungan dan apresiasi agan sista untuk tulisan gue di JILID IIIsebelumnya. Setelah merenung dan mencoba membuka kembali memori lama gue, akhirnya gue mendapatkan khilal gue. Sekarang gue udah siap untuk menulis kelanjutannya, yaitu JILID IV!
Kali ini gue masih menceritakan tentang kisah cinta gue, yang pada cerita sebelumnya masih berkutat di Kampus. Gue yang di kisah kali ini sedang mendekati akhir perjuangan di Kampus pun akan menjalani tahap baru, dimana gue akan bertemu dengan dunia kerja dan dunia nyata. Bakalan banyak konflik di diri gue ini, ketika gue yang tengah mencari jati diri ini dihadapkan dengan kenyataan bahwa hidup itu benar-benar penuh lika liku. Saat kita salah memilih jalan, ga ada putar balik, kita harus terus menjalani dan menghadapinya seraya mencari solusi terbaik atas pilihan kita itu. Dan kesabaran menjadi kunci utama segalanya, buat gue.
Masih dengan gaya menulis gue yang penuh strong language, absurd-nya hidup gue, kebodohan gue dalam memilih keputusan, pengalaman hidup lain, dan beberapa kali akan nyempil ++-nya, jadi gue masih ga akan melepas rating 18+ di cerita gue kali ini. Mungkin akan ada beberapa penyesuaian penggunaan bahasa atau panggilan yang gue lakuin di sini, demi kenyamanan bersama. Semoga ga merusak ciri khas gue dalam menulis! Amiiin.
Dan gue berharap semoga agan sista tetap suka dan betah mantengin thread ane ini sampe selesai!

Oh iya, kalau misalnya agan sista belum baca cerita di JILID III atau mau refresh kembali cerita saat itu, monggo mampir ke LINK INI.
![AKHIR PENANTIANKU (JILID IV) [18+] [TRUE STORY]](https://s.kaskus.id/images/2019/11/15/10712020_20191115112915.jpg)
Spoiler for INDEX:
Spoiler for MULUSTRASI:
HT @ STORY
Alhamdulillah berkat supportdari agan sista, thread ane ini jadi HT!
Terima kasih banyak ane ucapin buat agan sista yang udah setia nunggu update-an cerita-cerita ane.
Semoga tulisan ane bisa terus lebih baik dan bisa menyajikan cerita lebih seru buat dibaca agan sista!

Spoiler for PERATURAN:
Quote:
Diubah oleh dissymmon08 30-12-2019 07:57
ezzasuke dan 49 lainnya memberi reputasi
50
134.5K
1.6K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
dissymmon08
#1026
KISAH TENTANG F: INIKAH 'CINTA TERBAIK'? (PART 09)
Singkat cerita, gue udah menjalani internshipgue di kantor itu hampir 3 bulan. Banyak hal yang gue pelajari tentang bekerja. Baik lingkungan pertemanannya maupun pekerjaan itu sendiri. Selama internship, gue diajarkan ilmu kepemimpinan, bagaimana menumbuhan kepercayaan dengan orang baru, bagaimana menunjukkan kinerja kita yang sebenarnya, bagaimana mengetahui passion kita, dan sebagainya. Namanya juga magang, lebih banyak pelajarannya yang didapat.
Di internship ini gue juga dapet jobdesk, tapi gue hanya diminta untuk membantu bikin list yang akan dihubungi oleh tim Sales dan bagaimana membuat iklan melalui media promosi. Kadang, kalau posisi Sales ada yang kosong, gue ngebantu mereka untuk menghubungi Customer. Karena perusahaan baru merintis, banyak yang mengira perusahaan kami adalah penipuan. Istilah start-up saat itu masih dianggap remeh dan ga dilirik orang. Jadi, ya ga sekali dua kali gue ngerasain pernah dihina dina sama Customer yang ga percaya.
Di sini juga gue baru sadar, kalau gue lebih passion untuk segala hal dibalik layar. Bahkan gue berpikir kalau gue agak sedikit introvert. Kenapa? Karena gue agak takut saat gue harus menghubungi orang random, walopun pas conversation-nya udah dimulai, semuanya jadi biasa aja. Gue takut memulainya. Efeknya, penilaian internship gue untuk bagian Sales kurang banget.
Dilalahnya, selama gue internship ini, gue malah banyak banget ijin terkait pengurusn skripsi gue. Gue harus bolak balik Jakarta – Kampus. Bahkan dalam satu bulan bisa lebih dari 3 kali. Pak Sudrajat minta gue buat segera nyelesein skripsi gue. Setelah waktu untuk presensi ke Mexico gue udah lewat, gue beraniin diri juga untuk bimbingan ke Pak Adam.
Beliau sih awalnya agak menghindar dari gue, mungkin kesel karena mendadak gue ngilang. Tapi dia sadar, kalau dia yang menghindar terus dari gue, ya gue bisa minta bantuan ke Kemahasiswaan buat menghubungi dia. Bisa dia yang nantinya kena tegur karena dinilai menyusahkan mahasiswanya. Akhirnya Pak Adam pun kooperatif dan nurut aja sama hasil diskusi gue sama Pak Sudrajat. Ga banyak komen ini itu.
Ketika skripsi gue udah selesai dan gue harus draft ke Kemahasiswaan, eh Kemahasiswaan minta gue revisi skripsi gue yang kadang menambahkan poin di sana sini yang ga sesuai sama apa yang diminta sama Pak Sudrajat.
Belum lagi saat gue udah susah payah ke Kampus, mendadak dosen-dosen itu ada yang ngebatalin janji. Jadinya, presensi gue di kantor pun minus banget. Sebagus apapun kinerja gue, tetep aja presensi itu pun penting. Kesannya gue jadi sok sibuk dan main-main sama internship gue ini. Padahal kan yang masih kuliah atau yang masih skripsi-an ga gue cuma gue doangan. Tapi gue doangan yang kebanyakan ijin.
Di sisi lain, sejak gue tinggal bareng sama Bang Firzy, hubungan kami makin deket. Gue semakin kenal dia, baik minus dan plus-nya. Kami lebih banyak ngobrol dan diskusi tentang segala hal. Apalagi sejak gue kerja ini, gue jadi lebih banyaaaaaaaaak lagi cerita ke dia. Sepulang kerja, gue bisa cerita seluruh kegiatan gue dari pagi sampe malem ke dia. Gue cerita segala macem hal yang ngeselin sampe kocak selama sehari itu.
Dan sebaliknya, gue bakalan minta biasain untuk ngelakuin hal itu juga. Gue bakalan nanyain ‘How’s your day?’ setiap kali dia pulang kantor. Kebiasaan ini bikin dia pun mau ceritain segala kegiatan dia, kerjaan dia, bahkan rekan kantor dia. Gue jadi kebayang kehidupan kantor dia. Apalagi dia tau gue udah kerja, jadinya gue jadi lebih kebayang dan terbuka pikirannya sama apa yang dia ceritain. Lingkup bahasan kami ga melulu urusan kampus doangan.
Bang Firzy jadinya kayak candu buat dengerin cerita gue. Gue dilarang banget buat ga cerita apapun saat pulang ke kosan. Gue HARUS punya cerita. Aneh banget dia. Hahaha. Padahal, komunikasi kami via Whatsapp dan telepon ataupun media sosial lainnya tetep jalan lho sepanjang hari! Jangan dipikir karena kami udah tinggal bareng tapi komunikasi kami berenti gitu aja. Malah bikin makin intens.
Perbedaan saat itu, Bang Firzy jadi suka lebih telat pulang ke kosan. Dia yang biasanya suka tepat waktu demi ketemu gue lebih cepet, kadang dia harus ngelembur atau pulang tengah malem. Dia yang biasanya cuman weekend pulang ke rumah orang tua dia, kadang jadi harus weekdays pulang ke rumah orang tuanya dengan segala alesan. Gue masih berpikir, mungkin ini bukan karena gue tinggal bareng dia terus dia selalu nyari cara buat 'me time'. Tapi emang sebenernya kegiatan dia selama kerja kayak begini. Mungkin gue doangan yang baru tau. Entahlah.
Kemudian sesuatu terjadi di kantor gue…
“Emilya, bisa ikut ke ruangan saya dulu?” tanya Bu Andrea, Manager HRD.
Gue yang lagi kerja pun berentiin kerjaan gue saat itu. “Kenapa ya, Mbak?” bisik gue ke Mbak Ayu.
Mbak Ayu ini salah satu sohib gue selama gue jadi internship di sini. Walopun dia udah karyawan tetap, dia tetep mau temenan sama anak internship kayak gue. Soalnya akhirnya ada yang mau dengerin curhatan dia dan nerima kebiasaan dia dengerin lagu rock dan suka Juventus. Ya walopun gue emang ga tau banyak tentang Juventus, tapi seenggaknya kebayang apa yang diomongin sama dia karena Bang Firzy suka cerita tentang sepak bola. Hahaha. Kebetulan dia seumuran sama Bang Firzy. Jadi dia ngerasa bisa nyambung ngobrol sama gue karena pacar gue aja seumuran sama dia. Selain Mbak Ayu, gue punya beberapa sohib lainnya. Tapi gue paling deket cuman sama Mbak Ayu ini.
“Gue juga ga tau, Mi. Lu coba ikutin Bu Andrea aja. Bismillah… Semoga good news. Kali aja lu dibikin jadi pegawai tetap kayak gue. Kan seminggu lagi magang lu beres bukan?”
“Iya sih.”
“Buru, jangan bikin Bu Andrea nunggu.”
Gue jalan masuk ke dalam ruangan HRD itu. Ternyata gue ga dipanggil seorang diri. Ada beberapa anak internship lainnya yang kebetulan dipanggil juga sama kayak gue. Seinget gue, 4 orang kalau ga salah. Kami duduk berjejer di depan Bu Andrea, ga tau mau diapain.
“Terima kasih kalian semua udah mau meluangkan waktu bekerja kalian untuk ngobrol sebentar sama saya di sini…” dan Bu Andrea pun ngeluarin kertas dari laci mejanya sambil ngebahas kinerja kami masing-masing. Tapi disitu ada keanehan, beliau ga ngebahas sama sekali segala minus dari kami. Ini bukan evaluasi.
Gue mulai degdegan.
Setelah menyelesaikan pembahasan kinerja kami masing-masing. Bu Andrea terdiam sesaat. Beliau mengeluarkan amplop dari dalem laci dia dan diserahkan ke kami satu per satu.
“Saya sangat puas dengan kinerja kalian, tapi presensi kalian yang kurang dan dapat dibilang tidak disiplin membuat penilaian keseluruhan kalian minus banget. Jadi, dengan berat hati, kami memutuskan untuk tidak melanjutkan internship kalian dan juga tidak mengangkat kalian jadi karyawan tetap kami. Amplop yang tadi saya berikan, itu adalah surat pemberhentian internship kalian.”
Rasanya, gue kayak kesamber petir di siang bolong.
Tangan gue bergeter, dingin, keringetan, kaki gue kesemutan, dan segala macem penyakit kayaknya mendadak gue rasain. GUE DIPECAT! GUE BARU TIGA BULAN KERJA DAN DIPECAT. Gue ngerasa bener-bener ga bisa kerja. Kekhawatiran gue selama ini ga salah. Presensi gue yang jelek karena urusan kampus ngerusak penilaian kinerja gue!
Setelah itu, gue ga fokus lagi buat dengerin penjelasan Bu Andrea.
Gue hampir meneteskan air mata ke kertas yang lagi gue baca saat itu. Bahkan sebelah gue udah pada nangis semua. Gue masih nahan diri, soalnya di sini profesionalitas kita pun jadi bahan penilaian. Gue harus bisa terima dengan lapang dada. Ini konsekuensi dari gue karena gue sadar gue pun salah.
Kami dikasih waktu satu minggu buat handover pekerjaan kami ke tim dan persiapin diri untuk perpisahan dengan seluruh karyawan. Berat, banget. Apalagi Mbak Ayu yang tadinya ngerasa ga punya temen, mendadak sahabatan sama gue, eh ga lama mesti ditinggalin sama gue. Mbak Ayu orang yang paling ngerasa terpukul dengan kepergian gue. Tapi kami sharing media sosial kami, biar kami tetep bisa keep contact setelah gue pergi nanti.
Bang Firzy awalnya kesel sama kantor gue saat gue ceritain kalau gue dipecat. Dia minta gue buat ga perlu kasih kinerja baik selama sisa satu minggu itu. Tapi gue ngejaga profesionalitas gue dengan tetep kerja kayak biasa. Gue tau, Bang Firzy cuman ga suka aja gue ngerasa sedih. Dia terus ingetin gue buat jangan nyerah dan jadiin pembelajaran. Dia minta gue buat ambil hikmah dari kejadian ini.
Gue baru nganggur selama seminggu, tapi gue udah bosen. Skripsi gue udah sempurna juga. Tapi Kemahasiswaan jurusan gue tetep ga bisa-bisa gue temuin. Gue ga bisa ngejilid skripsi gue dan ngurus buat kelulusan gue kalau gue belum dapet-dapet tandatangan dari Kemahasiswaan gue itu.
Sumpah, gue berasa dikerjain banget sama beliau! Apalagi ngeliat satu per satu temen-temen sekelas gue udah mulai ngurus wisuda mereka dengan gampangnya. Bikin kesel banget. Bukan karena gue iri, karena yang bisa cepet dapet tandatangan beliau itu cuman cowok-cowok ganteng di kelas soalnya! Rese banget kan? Berasa berurusan sama emak-emak kegatelan sumpah!
Sambil nunggu kabar dari Kemahasiswaan gue, gue coba ngelamar kerja lagi. Tapi kali ini gue coba lowongan-lowongan yang disebar informasinya di Kampus. Gue ga nyari di internet dulu saat itu. Karena kebanyakan lowongan buat perbankan kalau informasi di Kampus tuh, tapi pada akhirnya tetep gue cobain juga. Walopun awalnya gue agak ragu, tapi demi gue ga nganggur, gue harus rela ngelepas ego gue. Gue ga mau nyusahin Bang Firzy kalau gue nganggur begini.
Dret. Dret. Dret.
Ada Whatsappmasuk di handphone gue. Gue berharap itu Whatsapp dari Kemahasiswaan atau temen sekelas gue yang lain. Tapi ternyata gue salah. Itu Whatsapp dari A Budi, sepupu gue.
Dan saat begini, ada jalan buat gue. Tapi kalau gue terima tawaran A Budi ini, gue mesti LDR dari Bang Firzy. Itu yang Bang Firzy ga mau. Berat banget pasti keputusan begitu di hubungan kami. Apalagi wacana keluarga gue pindah ke Bali ini juga masih belum jelas tapi seakan pengen direalisasikan segera. Nambah pikiran gue aja yang begini nih.
“Lagian bokap kenapa malah ngehubungin A Budi segala sih? Ga sabar amat nunggu gue dapet kerja lagi?” kata gue dalem hati.
Gue memutuskan ga ngerespon WhatsappA Budi itu. Soalnya dia sifatnya sama kayak Bang Firzy, temperamen. Dia takutnya malah jadi maksa gue. Gue yang ga enakan orangnya malah nanti berujung meng-iyakan dia lagi. Gue mau pikirin dulu semuanya. Gue masih yakin kalau gue masih bisa dapet kerja di Jakarta tanpa harus kerja di Bali.
“Assalamualaikum… Kamu apa kabar, Mi?”
“Waalaikumsalam, Ki… Alhamdulillah baik. Aki sendiri gimana?”
Ga ada angin, ga ada ujan. Kakek gue mendadak nelepon gue. Untungnya saat itu Bang Firzy udah berangkat ke kantor. Kalau Kakek gue denger suara Bang Firzy ada di ruangan yang sama dengan gue pagi-pagi begini, bisa mendadak dinikahin gue! Kan jadi enak! Hahaha.
“Alhamdulillah baik… Gimana kuliah kamu teh? Kok Aki belum dapet undangan wisuda?”
Gue tertohok dengan pertanyaan Aki itu. “Masa iya gue harus cerita kejadian di Kampus?”
“Halo? Emi?”
“Eh iya, Ki…”
“Aki nanya didiemin… Kata Papa kamu teh kamu sekarang udah kerja. Tapi kenapa ga dilulusin dulu kuliahnya?”
“Emi udah ga kerja lagi, Ki. Emi lagi cari kerjaan baru, tapi belum dapet panggilan.”
“Da atuh kenapa ga ngurus kuliahnya dulu… Skripsinya teh udah beres belum?”
“Udah, Ki…”
“Terus kenapa kamu ga wisuda-wisuda?”
“Soalnya Kemahasiswaan Emi susah banget ditemuin sama ngasih tanda tangan ke Emi…” kata gue agak merengek manja. Duuh kalau udah ngomong sama Kakek, gue pasti keluar deh manjanya. Apalagi kalau udah disuruh curhat karena dipaksa cerita sama Kakek.
“Ya atuh dikejarin, jangan malah ngurusin nyari kerja ajah atuh…”
“Ih Kemahasiswaan Emi yang kayaknya ngerjain Emi. Eminya kayak disusahin. Beberapa temen Emi ge ada yang begini juga…”
“Hmm. Yaudah atuh, kalo gitu… Aki doain deh dari sini biar kamu teh cepet dapet tandatangan dari Kemahasiswaan kamu, dilancarin buat ngurus wisuda, terus kamu cepet dapet kerja lagi… Yah? Mau?”
“Mau lah Aki, da aku mah kepengennya juga begitu.”
“Tah, Aki nanti kirim doa dari sinih…” kata Aki dengan logat sunda pisan.
Efek ngobrol sama Kakek, gue pun ikutan disunda-sundakan logatnya. Padahal selama gue sama Bang Firzy, logat gue udah mulai kejawa-jawaan. Tapi sebentar teleponan sama Kakek, gue langsung kesunda-sundaan. Susah emang ababil mah. Hahaha.
Kami melanjutkan obrolan kami ngalor ngidul tentang segala hal. Kakek gue emang paling tau kalau cucu-nya ini lagi kebingungan. Beliau tau aja cara ngehibur dan nenangin gue. Gue sayang banget sama Kakek gue ini. Beliau jadi satu-satunya sepuh yang tersisa. Kakek dari nyokap gue udah meninggal saat gue belum lahir, Nenek dari nyokap gue meninggal saat gue duduk di bangku SMA. Nenek dari bokap gue pun meninggal dari lama, saat gue masih di SD. Sisanya cuman Kakek gue ini. Dan gue lebih deket plus manja sama mereka daripada sama bokap nyokap gue sendiri.
“Emi sayang banget sama Aki…”
Ting. Ting. Ting.
Handphonegue mendadak rame di siang bolong. Ada Whatsapp dan email masuk bersamaan. Ya namanya pengangguran, handphone jadinya sepi mulu. Gue soalnya punya nada dering sendiri untuk notifikasi Bang Firzy dan dia kalau siang begini dia pasti lagi fokus sama kerjaannya sendiri. Palingan dia ngehubungin gue pas istirahat tiba.
Gue yang abis ngurus nyuci dan beberes sana sini pun segera bersihin tangan gue. Gue duduk di kasur sambil tiduran. “Siapa yak rame bener? Masa A Budi atau Aki lagi? Lagian Aki mana punya Whatsapp. Hahaha.”
Dan saat gue buka handphone gue, rasanya gue mau langsung berangkat ke rumah kakek gue!
“GUE BESOK DIMINTA KETEMU SAMA DOSEN DAN GUE JUGA DAPET PANGGILAN KERJA??? INI SERIUSAN BANGET GA SIH? YA ALLOH!!! ALHAMDULILLAH!!!!”
Gue sujud syukur sambil langsung nelpon Aki. Gue ngucapin makasih banyak banget buat doa dia beberapa hari yang lalu ternyata ampuh. BANGET! Ga ada yang bisa ngalahin doa tulus dari seorang kakek yang sayang sama cucu-nya ya kan? Hehehe. Tau gitu gue teleponan aja sama kakek gue dari kapan tau, paling dilancarin segala urusan gue. Sekalian minta dilancarin urusan jodoh juga. Hahaha. Wallahualam kalau yang begini ye kan? Tapi gue super duper seneng banget!
Ga lupa gue ngabarin bokap nyokap gue. Dan utamanya gue ngabarin Bang Firzy juga!
Gue juga segera siapin segala kebutuhan buat ke Kampus dan nyatet kapan gue wawancara gue. Si pengangguran ini mendadak jadi banyak acara soalnya! Hahaha.
Semua orang ngebales chat gue, kecuali Bang Firzy. Entah dia kemana sampe dia ga ada kabar begini. Padahal biasanya kalau udah jam istirahat, dia suka video call atau minimal Whatsapp gue. Tapi kali ini dia ga ngehubungin gue sama sekali. Aneh banget.
“Semoga dia ga aneh-aneh atau ga ada yang aneh-aneh terjadi sama dia.” kata gue dalem hati.
Toktoktok.
“Hah? Ada tamu siang-siang? Tumben amat. Ini kosan lho lagian. Siapa lagi yang tau alamat kosannya Bang Firzy emang?”
Gue buka pintu kamar kosan Bang Firzy perlahan dan agak ragu. “Iya sebentar…” kata gue. Dan gue kaget sama apa yang gue liat dihadapan gue. “Zy? Kamu kok udah pulang?”
“Sayang… Kantor aku collapse.”
Di internship ini gue juga dapet jobdesk, tapi gue hanya diminta untuk membantu bikin list yang akan dihubungi oleh tim Sales dan bagaimana membuat iklan melalui media promosi. Kadang, kalau posisi Sales ada yang kosong, gue ngebantu mereka untuk menghubungi Customer. Karena perusahaan baru merintis, banyak yang mengira perusahaan kami adalah penipuan. Istilah start-up saat itu masih dianggap remeh dan ga dilirik orang. Jadi, ya ga sekali dua kali gue ngerasain pernah dihina dina sama Customer yang ga percaya.
Di sini juga gue baru sadar, kalau gue lebih passion untuk segala hal dibalik layar. Bahkan gue berpikir kalau gue agak sedikit introvert. Kenapa? Karena gue agak takut saat gue harus menghubungi orang random, walopun pas conversation-nya udah dimulai, semuanya jadi biasa aja. Gue takut memulainya. Efeknya, penilaian internship gue untuk bagian Sales kurang banget.
Dilalahnya, selama gue internship ini, gue malah banyak banget ijin terkait pengurusn skripsi gue. Gue harus bolak balik Jakarta – Kampus. Bahkan dalam satu bulan bisa lebih dari 3 kali. Pak Sudrajat minta gue buat segera nyelesein skripsi gue. Setelah waktu untuk presensi ke Mexico gue udah lewat, gue beraniin diri juga untuk bimbingan ke Pak Adam.
Beliau sih awalnya agak menghindar dari gue, mungkin kesel karena mendadak gue ngilang. Tapi dia sadar, kalau dia yang menghindar terus dari gue, ya gue bisa minta bantuan ke Kemahasiswaan buat menghubungi dia. Bisa dia yang nantinya kena tegur karena dinilai menyusahkan mahasiswanya. Akhirnya Pak Adam pun kooperatif dan nurut aja sama hasil diskusi gue sama Pak Sudrajat. Ga banyak komen ini itu.
Ketika skripsi gue udah selesai dan gue harus draft ke Kemahasiswaan, eh Kemahasiswaan minta gue revisi skripsi gue yang kadang menambahkan poin di sana sini yang ga sesuai sama apa yang diminta sama Pak Sudrajat.
Belum lagi saat gue udah susah payah ke Kampus, mendadak dosen-dosen itu ada yang ngebatalin janji. Jadinya, presensi gue di kantor pun minus banget. Sebagus apapun kinerja gue, tetep aja presensi itu pun penting. Kesannya gue jadi sok sibuk dan main-main sama internship gue ini. Padahal kan yang masih kuliah atau yang masih skripsi-an ga gue cuma gue doangan. Tapi gue doangan yang kebanyakan ijin.
Di sisi lain, sejak gue tinggal bareng sama Bang Firzy, hubungan kami makin deket. Gue semakin kenal dia, baik minus dan plus-nya. Kami lebih banyak ngobrol dan diskusi tentang segala hal. Apalagi sejak gue kerja ini, gue jadi lebih banyaaaaaaaaak lagi cerita ke dia. Sepulang kerja, gue bisa cerita seluruh kegiatan gue dari pagi sampe malem ke dia. Gue cerita segala macem hal yang ngeselin sampe kocak selama sehari itu.
Dan sebaliknya, gue bakalan minta biasain untuk ngelakuin hal itu juga. Gue bakalan nanyain ‘How’s your day?’ setiap kali dia pulang kantor. Kebiasaan ini bikin dia pun mau ceritain segala kegiatan dia, kerjaan dia, bahkan rekan kantor dia. Gue jadi kebayang kehidupan kantor dia. Apalagi dia tau gue udah kerja, jadinya gue jadi lebih kebayang dan terbuka pikirannya sama apa yang dia ceritain. Lingkup bahasan kami ga melulu urusan kampus doangan.
Bang Firzy jadinya kayak candu buat dengerin cerita gue. Gue dilarang banget buat ga cerita apapun saat pulang ke kosan. Gue HARUS punya cerita. Aneh banget dia. Hahaha. Padahal, komunikasi kami via Whatsapp dan telepon ataupun media sosial lainnya tetep jalan lho sepanjang hari! Jangan dipikir karena kami udah tinggal bareng tapi komunikasi kami berenti gitu aja. Malah bikin makin intens.
Perbedaan saat itu, Bang Firzy jadi suka lebih telat pulang ke kosan. Dia yang biasanya suka tepat waktu demi ketemu gue lebih cepet, kadang dia harus ngelembur atau pulang tengah malem. Dia yang biasanya cuman weekend pulang ke rumah orang tua dia, kadang jadi harus weekdays pulang ke rumah orang tuanya dengan segala alesan. Gue masih berpikir, mungkin ini bukan karena gue tinggal bareng dia terus dia selalu nyari cara buat 'me time'. Tapi emang sebenernya kegiatan dia selama kerja kayak begini. Mungkin gue doangan yang baru tau. Entahlah.
Kemudian sesuatu terjadi di kantor gue…
“Emilya, bisa ikut ke ruangan saya dulu?” tanya Bu Andrea, Manager HRD.
Gue yang lagi kerja pun berentiin kerjaan gue saat itu. “Kenapa ya, Mbak?” bisik gue ke Mbak Ayu.
Mbak Ayu ini salah satu sohib gue selama gue jadi internship di sini. Walopun dia udah karyawan tetap, dia tetep mau temenan sama anak internship kayak gue. Soalnya akhirnya ada yang mau dengerin curhatan dia dan nerima kebiasaan dia dengerin lagu rock dan suka Juventus. Ya walopun gue emang ga tau banyak tentang Juventus, tapi seenggaknya kebayang apa yang diomongin sama dia karena Bang Firzy suka cerita tentang sepak bola. Hahaha. Kebetulan dia seumuran sama Bang Firzy. Jadi dia ngerasa bisa nyambung ngobrol sama gue karena pacar gue aja seumuran sama dia. Selain Mbak Ayu, gue punya beberapa sohib lainnya. Tapi gue paling deket cuman sama Mbak Ayu ini.
“Gue juga ga tau, Mi. Lu coba ikutin Bu Andrea aja. Bismillah… Semoga good news. Kali aja lu dibikin jadi pegawai tetap kayak gue. Kan seminggu lagi magang lu beres bukan?”
“Iya sih.”
“Buru, jangan bikin Bu Andrea nunggu.”
Gue jalan masuk ke dalam ruangan HRD itu. Ternyata gue ga dipanggil seorang diri. Ada beberapa anak internship lainnya yang kebetulan dipanggil juga sama kayak gue. Seinget gue, 4 orang kalau ga salah. Kami duduk berjejer di depan Bu Andrea, ga tau mau diapain.
“Terima kasih kalian semua udah mau meluangkan waktu bekerja kalian untuk ngobrol sebentar sama saya di sini…” dan Bu Andrea pun ngeluarin kertas dari laci mejanya sambil ngebahas kinerja kami masing-masing. Tapi disitu ada keanehan, beliau ga ngebahas sama sekali segala minus dari kami. Ini bukan evaluasi.
Gue mulai degdegan.
Setelah menyelesaikan pembahasan kinerja kami masing-masing. Bu Andrea terdiam sesaat. Beliau mengeluarkan amplop dari dalem laci dia dan diserahkan ke kami satu per satu.
“Saya sangat puas dengan kinerja kalian, tapi presensi kalian yang kurang dan dapat dibilang tidak disiplin membuat penilaian keseluruhan kalian minus banget. Jadi, dengan berat hati, kami memutuskan untuk tidak melanjutkan internship kalian dan juga tidak mengangkat kalian jadi karyawan tetap kami. Amplop yang tadi saya berikan, itu adalah surat pemberhentian internship kalian.”
Rasanya, gue kayak kesamber petir di siang bolong.
Tangan gue bergeter, dingin, keringetan, kaki gue kesemutan, dan segala macem penyakit kayaknya mendadak gue rasain. GUE DIPECAT! GUE BARU TIGA BULAN KERJA DAN DIPECAT. Gue ngerasa bener-bener ga bisa kerja. Kekhawatiran gue selama ini ga salah. Presensi gue yang jelek karena urusan kampus ngerusak penilaian kinerja gue!
Setelah itu, gue ga fokus lagi buat dengerin penjelasan Bu Andrea.
Gue hampir meneteskan air mata ke kertas yang lagi gue baca saat itu. Bahkan sebelah gue udah pada nangis semua. Gue masih nahan diri, soalnya di sini profesionalitas kita pun jadi bahan penilaian. Gue harus bisa terima dengan lapang dada. Ini konsekuensi dari gue karena gue sadar gue pun salah.
Kami dikasih waktu satu minggu buat handover pekerjaan kami ke tim dan persiapin diri untuk perpisahan dengan seluruh karyawan. Berat, banget. Apalagi Mbak Ayu yang tadinya ngerasa ga punya temen, mendadak sahabatan sama gue, eh ga lama mesti ditinggalin sama gue. Mbak Ayu orang yang paling ngerasa terpukul dengan kepergian gue. Tapi kami sharing media sosial kami, biar kami tetep bisa keep contact setelah gue pergi nanti.
Bang Firzy awalnya kesel sama kantor gue saat gue ceritain kalau gue dipecat. Dia minta gue buat ga perlu kasih kinerja baik selama sisa satu minggu itu. Tapi gue ngejaga profesionalitas gue dengan tetep kerja kayak biasa. Gue tau, Bang Firzy cuman ga suka aja gue ngerasa sedih. Dia terus ingetin gue buat jangan nyerah dan jadiin pembelajaran. Dia minta gue buat ambil hikmah dari kejadian ini.
XOXOXO
Gue baru nganggur selama seminggu, tapi gue udah bosen. Skripsi gue udah sempurna juga. Tapi Kemahasiswaan jurusan gue tetep ga bisa-bisa gue temuin. Gue ga bisa ngejilid skripsi gue dan ngurus buat kelulusan gue kalau gue belum dapet-dapet tandatangan dari Kemahasiswaan gue itu.
Sumpah, gue berasa dikerjain banget sama beliau! Apalagi ngeliat satu per satu temen-temen sekelas gue udah mulai ngurus wisuda mereka dengan gampangnya. Bikin kesel banget. Bukan karena gue iri, karena yang bisa cepet dapet tandatangan beliau itu cuman cowok-cowok ganteng di kelas soalnya! Rese banget kan? Berasa berurusan sama emak-emak kegatelan sumpah!
Sambil nunggu kabar dari Kemahasiswaan gue, gue coba ngelamar kerja lagi. Tapi kali ini gue coba lowongan-lowongan yang disebar informasinya di Kampus. Gue ga nyari di internet dulu saat itu. Karena kebanyakan lowongan buat perbankan kalau informasi di Kampus tuh, tapi pada akhirnya tetep gue cobain juga. Walopun awalnya gue agak ragu, tapi demi gue ga nganggur, gue harus rela ngelepas ego gue. Gue ga mau nyusahin Bang Firzy kalau gue nganggur begini.
Dret. Dret. Dret.
Ada Whatsappmasuk di handphone gue. Gue berharap itu Whatsapp dari Kemahasiswaan atau temen sekelas gue yang lain. Tapi ternyata gue salah. Itu Whatsapp dari A Budi, sepupu gue.
Quote:
Dan saat begini, ada jalan buat gue. Tapi kalau gue terima tawaran A Budi ini, gue mesti LDR dari Bang Firzy. Itu yang Bang Firzy ga mau. Berat banget pasti keputusan begitu di hubungan kami. Apalagi wacana keluarga gue pindah ke Bali ini juga masih belum jelas tapi seakan pengen direalisasikan segera. Nambah pikiran gue aja yang begini nih.
“Lagian bokap kenapa malah ngehubungin A Budi segala sih? Ga sabar amat nunggu gue dapet kerja lagi?” kata gue dalem hati.
Gue memutuskan ga ngerespon WhatsappA Budi itu. Soalnya dia sifatnya sama kayak Bang Firzy, temperamen. Dia takutnya malah jadi maksa gue. Gue yang ga enakan orangnya malah nanti berujung meng-iyakan dia lagi. Gue mau pikirin dulu semuanya. Gue masih yakin kalau gue masih bisa dapet kerja di Jakarta tanpa harus kerja di Bali.
XOXOXO
“Assalamualaikum… Kamu apa kabar, Mi?”
“Waalaikumsalam, Ki… Alhamdulillah baik. Aki sendiri gimana?”
Ga ada angin, ga ada ujan. Kakek gue mendadak nelepon gue. Untungnya saat itu Bang Firzy udah berangkat ke kantor. Kalau Kakek gue denger suara Bang Firzy ada di ruangan yang sama dengan gue pagi-pagi begini, bisa mendadak dinikahin gue! Kan jadi enak! Hahaha.
“Alhamdulillah baik… Gimana kuliah kamu teh? Kok Aki belum dapet undangan wisuda?”
Gue tertohok dengan pertanyaan Aki itu. “Masa iya gue harus cerita kejadian di Kampus?”
“Halo? Emi?”
“Eh iya, Ki…”
“Aki nanya didiemin… Kata Papa kamu teh kamu sekarang udah kerja. Tapi kenapa ga dilulusin dulu kuliahnya?”
“Emi udah ga kerja lagi, Ki. Emi lagi cari kerjaan baru, tapi belum dapet panggilan.”
“Da atuh kenapa ga ngurus kuliahnya dulu… Skripsinya teh udah beres belum?”
“Udah, Ki…”
“Terus kenapa kamu ga wisuda-wisuda?”
“Soalnya Kemahasiswaan Emi susah banget ditemuin sama ngasih tanda tangan ke Emi…” kata gue agak merengek manja. Duuh kalau udah ngomong sama Kakek, gue pasti keluar deh manjanya. Apalagi kalau udah disuruh curhat karena dipaksa cerita sama Kakek.
“Ya atuh dikejarin, jangan malah ngurusin nyari kerja ajah atuh…”
“Ih Kemahasiswaan Emi yang kayaknya ngerjain Emi. Eminya kayak disusahin. Beberapa temen Emi ge ada yang begini juga…”
“Hmm. Yaudah atuh, kalo gitu… Aki doain deh dari sini biar kamu teh cepet dapet tandatangan dari Kemahasiswaan kamu, dilancarin buat ngurus wisuda, terus kamu cepet dapet kerja lagi… Yah? Mau?”
“Mau lah Aki, da aku mah kepengennya juga begitu.”
“Tah, Aki nanti kirim doa dari sinih…” kata Aki dengan logat sunda pisan.
Efek ngobrol sama Kakek, gue pun ikutan disunda-sundakan logatnya. Padahal selama gue sama Bang Firzy, logat gue udah mulai kejawa-jawaan. Tapi sebentar teleponan sama Kakek, gue langsung kesunda-sundaan. Susah emang ababil mah. Hahaha.
Kami melanjutkan obrolan kami ngalor ngidul tentang segala hal. Kakek gue emang paling tau kalau cucu-nya ini lagi kebingungan. Beliau tau aja cara ngehibur dan nenangin gue. Gue sayang banget sama Kakek gue ini. Beliau jadi satu-satunya sepuh yang tersisa. Kakek dari nyokap gue udah meninggal saat gue belum lahir, Nenek dari nyokap gue meninggal saat gue duduk di bangku SMA. Nenek dari bokap gue pun meninggal dari lama, saat gue masih di SD. Sisanya cuman Kakek gue ini. Dan gue lebih deket plus manja sama mereka daripada sama bokap nyokap gue sendiri.
“Emi sayang banget sama Aki…”
XOXOXO
Ting. Ting. Ting.
Handphonegue mendadak rame di siang bolong. Ada Whatsapp dan email masuk bersamaan. Ya namanya pengangguran, handphone jadinya sepi mulu. Gue soalnya punya nada dering sendiri untuk notifikasi Bang Firzy dan dia kalau siang begini dia pasti lagi fokus sama kerjaannya sendiri. Palingan dia ngehubungin gue pas istirahat tiba.
Gue yang abis ngurus nyuci dan beberes sana sini pun segera bersihin tangan gue. Gue duduk di kasur sambil tiduran. “Siapa yak rame bener? Masa A Budi atau Aki lagi? Lagian Aki mana punya Whatsapp. Hahaha.”
Dan saat gue buka handphone gue, rasanya gue mau langsung berangkat ke rumah kakek gue!
“GUE BESOK DIMINTA KETEMU SAMA DOSEN DAN GUE JUGA DAPET PANGGILAN KERJA??? INI SERIUSAN BANGET GA SIH? YA ALLOH!!! ALHAMDULILLAH!!!!”
Gue sujud syukur sambil langsung nelpon Aki. Gue ngucapin makasih banyak banget buat doa dia beberapa hari yang lalu ternyata ampuh. BANGET! Ga ada yang bisa ngalahin doa tulus dari seorang kakek yang sayang sama cucu-nya ya kan? Hehehe. Tau gitu gue teleponan aja sama kakek gue dari kapan tau, paling dilancarin segala urusan gue. Sekalian minta dilancarin urusan jodoh juga. Hahaha. Wallahualam kalau yang begini ye kan? Tapi gue super duper seneng banget!
Ga lupa gue ngabarin bokap nyokap gue. Dan utamanya gue ngabarin Bang Firzy juga!
Gue juga segera siapin segala kebutuhan buat ke Kampus dan nyatet kapan gue wawancara gue. Si pengangguran ini mendadak jadi banyak acara soalnya! Hahaha.
Semua orang ngebales chat gue, kecuali Bang Firzy. Entah dia kemana sampe dia ga ada kabar begini. Padahal biasanya kalau udah jam istirahat, dia suka video call atau minimal Whatsapp gue. Tapi kali ini dia ga ngehubungin gue sama sekali. Aneh banget.
“Semoga dia ga aneh-aneh atau ga ada yang aneh-aneh terjadi sama dia.” kata gue dalem hati.
Toktoktok.
“Hah? Ada tamu siang-siang? Tumben amat. Ini kosan lho lagian. Siapa lagi yang tau alamat kosannya Bang Firzy emang?”
Gue buka pintu kamar kosan Bang Firzy perlahan dan agak ragu. “Iya sebentar…” kata gue. Dan gue kaget sama apa yang gue liat dihadapan gue. “Zy? Kamu kok udah pulang?”
“Sayang… Kantor aku collapse.”
itkgid dan 33 lainnya memberi reputasi
34
Tutup
![AKHIR PENANTIANKU (JILID IV) [18+] [TRUE STORY]](https://s.kaskus.id/images/2019/10/10/10712020_20191010014133.jpg)

dan 
