Kaskus

Story

shirazy02Avatar border
TS
shirazy02
INDIGO
INDIGO

Hy, Guys! Jumpa lagi di thread terbaru. Kali ini, based on true story. Please, jangan nanya-nanya ini kisah siapa, jangan nebak-nebak apakah saya si anu, atau keppoin apapun itu. Semua demi kelancaran saya menulis, karena mood sangat mempengaruhi 😊 Terhitung sampai detik ini, saya masih suka menggantungkan cerita, karena begitu banyaknya ide cerita lain yang ingin saya tuangkan lewat aksara. By the way, ini tapi gak pake mikir, sih 😂 karena nulisnya ngalir gitu aja. Ada misterinya, ada sakit hatinya, ada asmaranya, banyak bakalan yang disajikan dalam ceritanya. Oh ya, saya sangat tidak menyukai silent reader, so ... beri react, rate, dan komentar, cendol-cendol jan lupa, karena saya tak akan mungkin melanjutkan cerita tanpa adanya respon atau peminat tulisan. Makasih sebelumnya! emoticon-Big Kiss

----
Spoiler for Indeks:


Part 1:

Berawal dari tahun 1997 yang bertepatan dengan Hari Lebaran. Setiap menjelang hari H, kami sekeluarga, yang terdiri dari aku, adik, serta kedua orangtua, selalu mengunjungi rumah nenek --ibu dari ayah-- yang berada di luar kota. Tujuannya tak lain, bersilaturahmi sekaligus merayakan Hari Raya bersama-sama. Kebetulan keluarga dari ayah adalah keluarga besar, oleh karena itu pasti selalu ramai suasana di rumah sana. Pada saat itu, aku masih duduk di bangku Sekolah Dasar, dan adikku kurang lebih berusia tiga tahun. Kita selalu menghabiskan waktu mudik sampai cutian ayah selesai, tentu juga ibu bisa bersantai memikirkan nasib sekolahku, sebab bertepatan juga dengan waktu liburan sekolah.

Tempat tinggal nenek ada di perbatasan salah satu profinsi Jawa. Dimana ketika kami berkendara dan sudah sampai di kotanya, maka kami masih harus menempuh jarak berkilo-kilo meter untuk tiba di lokasi. Sebenarnya kampungnya tak terlalu pelosok, tapi bagiku sangat primitif. Bangunan yang rata-rata masih berdinding papan kayu, lantai yang masih berupa tanah, pintu dan atap yang pendek, serta lampu penerangan di tiap-tiap rumah yang kebanyakan memakai cemprong. Aku beruntung nenekku sendiri memakai lampu petromaks di beberapa ruangan meski lantai rumahnya hanya berupa plesteran. Di saat aku benar-benar merasa takut saat menatap jalan pedesaan yang suram, aku bisa menyesuaikan terangnya cahaya dari pompa pada tuas di bagian bawah lampu petromaks, hingga sirna pula lah perasaan takut itu karena merasa aman.

Sebenarnya, aku tak pernah menyukai berada di sana. Selain karena daerah yang minim penerangan, untuk beli apa-apa juga lumayan jauh. Satu lagi pengalaman yang dulu-dulu ... setiap malam tidurku tak pernah bisa nyenyak. Di belakang rumah nenek ada barongan (kebun luas yang terdapat banyak pohon bambu dan semak belukar), dan suara-suara hewan malam begitu mendebarkan kala merasuk membran telinga.

Dari perasaan gak betahnya berkunjung di rumah nenek, ada juga rasa senang yang paling kunanti-nanti saat berada di sini, yaitu bertemu dengan Mbah Narti. Mbah Narti adalah adik dari nenekku. Ia tak mempunyai keturunan. Menurut cerita yang kudengar, ayahku dulu pernah dibantu dibesarkan olehnya sehingga bisa melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Ya, Mbah Narti adalah dukun bayi tersohor pada zamannya. Ia bisa dibilang orang yang sangat kaya sekampung. Rumahnya berbeda sendiri dari yang lain. Sudah bangunan tembok, sudah berubin, pun memiliki sawah luas dan ternak yang banyak. Kenapa aku suka dengannya? Karena ia paling antusias menyambut kedatanganku. Royal, dan doyan memijat. Setiap aku bertandang ke rumahnya, Mbah Narti selalu menyediakan alas untukku berbaring. Memijatnya juga lama sekali, dan selalu membuat ketagihan. Selain kerap memberi uang, jajanan satu kresek penuh selalu dibelikannya. Terkadang, jiwa tak bisa membohongi bila sayangku lebih besar terhadap Mbah Narti daripada nenek sendiri.

Karena keluarga besar dari berbagai kota bersamaan datang dan berkumpul di rumah nenek, keluargaku pun diminta Mbah Narti tidur di rumahnya. Tentu kami juga sudah biasa, karena ayah memang dari dulu dekat sekali padanya. Jadi, setiap malam kami bermalam di rumah Mbah Narti, paginya kami kembali ke rumah nenek. Kebetulan rumah mereka bersebelahan.

Ada sesuatu yang janggal kurasakan pada saat pertama kalinya aku bermalam. Entah kenapa, malam itu aku tak bisa tidur. Beruntung aku melihat Mbah Narti masih terjaga di depan TV, sedang menikmati teh dalam wadah besar. Oh, ya ... teh di daerah sana kalau bikin, asli pait. Tehnya langsung dimasukkan di wadah, diseduh bersamaan tanpa disaring. Jadi, banyak bulir yang ngambang gitu di atasnya. Kadang bisa tertelan juga kalau gak hati-hati minum.

Oke, lanjut! Malam itu, ketika hendak menemui Mbah Narti di depan, aku begitu syok menatap di kursi yang ada di sebelah siMbah. Ada seorang perempuan duduk di sana. Berkebaya merah, memakai jarik, dengan tudung transparan warna senada di kepala. Masih muda sepertinya, terlihat dari kulitnya yang sekilas kutatap masih kencang. Tatapan kami bertemu, dan dia langsung menyingkir dari tempat. Anehnya, menyingkirnya nggak keluar rumah, tapi masuk ke ruang tengah, dan tak pernah keluar lagi hingga tengah malam. Kebetulan aku begadang saat itu dengan Mbah Narti.

Perempuan itu pun sering kujumpai wara-wiri di kamar Mbah Narti pada malam-malam berikutnya. Terkadang ada anak perempuan, usianya sepertinya lebih dewasa dariku, suka mengintip dari balik gebyok (sebuah papan penyekat besar dan tinggi yang terbuat dari kayu jati, dulu digunakan sebagai pemisah antara ruang tamu dengan ruang tengah). Senyum-senyum menampakkan separuh wajahnya melihatku. Kukira mereka itu tetangga yang sering bertandang ke rumah, tapi setelah kutanyakan pada Mbah Narti, beliau menjawab, "Kuwi dulurmu! Cah wedok kuwi puterine." (itu saudaramu. Bocah perempuan itu anaknya)

Agak aneh, sih! Karena baru kali ini aku melihat saudara yang wajahnya seperti itu. Belum pernah kujumpai sebelumnya. Namun, aku teringat, ayah pernah bercerita jika punya saudara yang merantau di Kalimantan sana, dan jarang pulang. Mungkin saja itu saudara dari Kalimantan! Anehnya, saat aku bercerita pada ayah dan ibu, ayah menampik jika saudaranya di Kalimantan itu pulang. "Mungkin tetangga," ujar ayah datar. Nenekku pun menimpali, "Mbah Narti sekarang banyak ngelanturnya kalau ngomong, Nduk. Benar ayahmu, mungkin tetangga sedang main itu."

Aku yang memang masih polos, percaya-percaya saja dan tak pernah berpikiran jauh ....

Di suatu siang, saat aku bermain di rumah Mbah Narti seorang diri, entah kenapa tiba-tiba saja ia bicara ngelantur, "Mbah nelangsa, Nduk. Hidup seperti begini-begini saja. Punya apa-apa juga tak bahagia. Apalagi semenjak ditinggal Mbah kung, rasanya sudah malas hidup."

Kurang lebih seperti itu yang bisa kucerna perkataannya. Maklum, bahasa jawanya terlalu halus, kadang susah dimengerti. Apalagi pada saat itu aku masih kecil dan belum seberapa mengerti.

Lalu, setelah berkata begitu, ia membelai rambutku berkali-kali. Mencium juga. Ini yang paling malas saat bertemu Mbah Narti. Aku melihat susur di mulutnya saja sudah bergidik geli, apalagi di dekatkan ke wajah seperti itu.

Setelah puas melayangkan ciuman bertubi-tubi, Mbah Narti lalu masuk ke dalam, berpesan menyuruhku menunggu. Aku sendiri sedang asyik menonton TV. Oh ya, di rumah nenek tak ada TV, jadi aku selalu mainnya kemari jika ingin nonton. Terkadang, bisa bersamaan dengan Budhe dan keluarga ayah yang lainnya. Namun, kali ini aku nonton sendiri, karena keluarga sedang sibuk masak-masak besar.

Beberapa menit kemudian, Mbah Narti muncul sambil membawa sesuatu dalam bungkusan. Setelah dibuka, ternyata sebuah gelang dari tali yang ada jahitan kain kotak kecil warna hitam di tengahnya. Ia menyodorkannya padaku. Ingin menolak karena tak suka, tapi tangan tua itu terburu melingkarkan gelang itu ke tanganku. Kucoba pegang kain kotak hitam itu. Seperti ada batu kecil di dalamnya. Mbah Narti berpesan, agar jangan sampai aku membuka kain kotak hitam itu. Aku pun mengangguk saja.

"Iki gawe kenang-kenangan yo, Nduk? Sesuk yen simbah ra ono, kowe ben kelingan simbah terus," ujarnya lagi. Aku pun terdiam melihat gelang yang dikenakannya di tanganku. Aduh, benar-benar tak suka sekali!

Setelah berpamitan pulang, diam-diam kulepas gelang itu dari tanganku, menyimpannya dalam saku celana. Niat hati ingin kubuang, tapi takut Mbah Narti tahu. Aku khawatir kecewa, jadi kubawa saja. Mengingat, besok aku sekeluarga akan pulang. Rencananya akan kubuang gelang itu di tengah perjalanan.

Malamnya, entah kenapa, ibu melarangku tidur di rumah Mbah Narti. Rupanya, para keluarga besar sedang rame mengobrolkannya yang memang belakangan sering ngelantur. Kata mereka, Mbah Narti tengah pusing membagi hartanya pada sepupu-sepupu lain. "Aku ditawari sama Mbah Ti, kamu mau gak merawat sapi dan kambingku? Kalau mau rawat, ambil saja bawa pulang," tukas Budhe Rusni pada kami.

"Lalu, samean jawab apa?" tanya ayah penasaran.

"Ya kujawab, 'nggak ah. Nanti yang lain ngiri' ... trus dia jawab lagi, 'semua sudah kubagi. Hartaku masih banyak. Aku juga gak punya anak, aku khawatir besok kalau mati, semuanya ini gimana' ... gitu bilangnya."

"Nah, yang diomong mati-mati terus, sih!" seloroh Om Anang.

"Lah, kan? Tadi malah bilang, 'sesuk aku yen mati, omah iki openono, yo?" (besok kalau aku meninggal, rumah ini kamu rawat, ya!) Mbak Nanik membalas.

"Masa' bilang begitu?"

"Iya. Malah berkata, 'jatahku urip gari sedilut' ... gitu," sahut Mbak Nanik lagi.

Gara-gara obrolan malam yang unfaedah, kami semua saling takut, hingga tak pernah berani ketemu Mbah Narti keesokan harinya. Mungkin memang Mbah Narti sudah merasa. dan semua itu adalah pertanda ia mau pamit. Wallahu'alam, keesokan harinya, ketika fajar baru menyingsing, tetangga depan rumah yang biasanya disuruh mencarikan rumput Mbah Narti, berteriak-teriak menemui kami dengan wajah gugup.

"Mbah Narti terpeleset di kamr mandi! Mbah Narti terpeleset di kamar mandi!"

Sontak, kami semua kaget dan segera berhamburan melihat ke lokasi.

Oke, skip!

Di sini, aku akan mulai menceritakan keanehan yang terjadi semenjak pulang dari rumah nenek. Oh, ya ... aku lupa membuang gelang dari Mbah Narti saat perjalanan pulang. Aku juga nggak paham arti 'sikep' dalam istilah jawa pada saat itu. Sepeninggal Mbah Narti, semua keluarga saling ramai mencari sikep yang dimaksud. Katanya harus dibuang, paling tidak dibakar. Semua almari, kasur, dilingkap satu persatu demi mencari benda yang dimaksud. Tak pelak, mereka di antaranya saling menuduh satu sama lain karena tak ada yang mengaku. Mbah Narti memang pernah berpesan, bahwa 'jimat'-nya akan diberikan pada salah satu keturunan nenek. Banyak yang menuding ayah, karena ayah adalah satu-satunya kesayangan Mbah Narti. Oh ya, akibat dari semua ini, keluargaku pernah lama lost komunikasi sama keluarga yang lain. Sebenarnya mereka biasa-biasa saja, tapi yang paling menyebalkan dan tak terima adalah Pakdhe Kurdi.

Sebenarnya, apa alasan Pakdhe Kurdi begitu berambisi menanyakan barang tersebut?
Diubah oleh shirazy02 29-02-2020 14:20
nona212Avatar border
bukhoriganAvatar border
husnamutiaAvatar border
husnamutia dan 42 lainnya memberi reputasi
39
29.5K
238
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.7KThread52.2KAnggota
Tampilkan semua post
shirazy02Avatar border
TS
shirazy02
#32
Part 3
Semenjak Cak Jamal berkoar dan terus meyakinkan bahaya akan adanya gelang tersebut, akhirnya orangtuaku luluh dan pasrah juga menurutinya. Karena paksaan ibu yang memang sangat mengkhawatirkan kondisiku, tampak dengan berat hati, ayah pun menyerahkan gelang tersebut pada lelaki berumur kepala tiga itu. Aku yang memang masih tak tahu apa-apa, tentu merasa biasa saja. Hingga sampai keesokan harinya, tak ada rasa 'ngeman' ataupun marah terhadap semua orang yang telah membuat gelang itu pergi dariku. Malah isi kepala selalu terbesit akan kisruhnya para saudara yang masih tinggal di rumah nenek. Mereka banyak mempersoalkan sesuatu. Entah kenapa, feelingku menyatakan bahwa hari ini juga, Pakdhe Kurdi sedang perjalanan bertandang ke rumah. Dalam benak pun tersirat, ia baru turun dari bus, dan berjalan menuju kapal tambang.

"Ibu mau ke mana?" tanyaku, saat melihat ibu sedang berganti pakaian rapi. Memang tak seperti biasanya, yang selalu mengenakan daster dan babydoll di dalam rumah. Bukannya menjawab pertanyaanku, ibu malah memintaku segera berganti baju. "Itu bajumu sudah ibu siapkan. Cepat ganti baju!" tukasnya, sembari mengenakan jilbab instan warna abu.

"Memang mau ke mana?"

"Sudahlah. Lekas ganti baju! Ibu mau bedakin Hasan dulu."

"Tapi, Bu ...."

"Sinan!! Kamu banyak sekali bicaranya!" Ibu membentakku dengan mata membulat. Aku sontak terdiam dan langsung menundukkan pandang. Baru saja ibu berlalu dari hadapan, seruan dari pintu depan spontan menghentikan langkahnya. "Assalamuallaikum!"

Aku dan ibu belum menjawab salam itu, malah berdua saling pandang. "Siapa Sinan?" Bergetar bibir ibu saat berucap. Aku sendiri masih terdiam, sejenak kemudian membalas, "Seperti suara Pakdhe Kurdi, ya, Bu?"

Tampak ibu menghela napas, ketika salam itu terlontar kembali. "Waalaikumsalam," balas ibu, sambil berjalan menuju depan.

***

Ibu mengucurkan kopi pahit dari ceret blirik ke wadah cangkir di sisinya. Kemudian menyodorkannya pada tamu di hadapan.

"Kebetulan sekali njenengan ke mari. Waduh, kemarin itu kami serumah pusing sekali. Gemetar campur takut," ujar ibu sambil mengambil duduk di kursi. Wajah Pakdhe Kurdi sama sekali tak menunjukkan rasa pedulinya. Terkesan diam, menghadap ke sisi lain, sembari santai mensesap rokok lintingan di tangannya.

"Tadi saya mau ngajak Sinan ke Pak Ustadz. Mau mendiskusikan sesuatu. Saya begitu khawatir, semalaman sampai tak bisa tidur. Ternyata, barang yang kemarin Mbakyu dan yang lainnya sibuk cari itu ... ada di Sinan! Sampai rumah, saya dan ayahnya anak-anak baru tahu."

Mendengar itu, Pakdhe Kurdi langsung menolehkan pandangan. Ia menjentikkan puing rokok ke asbak, lalu menekan rokok itu sampai koyak. "Sudah kuduga sebelumnya, tapi aku ingin menunggu ceritamu lebih dulu. Dan tujuanku ke mari, tak lain karena ingin mengambil barang itu. Kita harus musnahkan segera, karena pemiliknya sudah mati."

"Lho, t-tapi, kata Cak Jamal barang itu tak bisa dimusnahkan." Lagi, ibu mulai gelagapan bicara.

"Lho, memang kenapa tak bisa? Memang siapa Jamal itu?"

Ibu pun terdiam. Mulai cemas dengan sendirinya. Tak enak hati bila Pakdhe tahu barang itu telah diberikannya pada orang lain.

"Pemilik sikep itu sudah mati. Dulu Mbah Ti pernah berpesan, jika dirinya sudah mati, suruh cari sikepnya dan bakar."

"Benar begitu?" Wajah ibu tampak tak percaya mendengar ucapan Pakdhe. Lalu ibu melanjutkan bicaranya, "Katanya, yang namanya sikep itu selalu berbungkus kain putih. Tapi, yang sama Kinan itu berupa gelang, ada jahitan kain hitam di gelangnya, mirip gelang tolak bala itu."

Ucapan dari ibu tampaknya membuat Pakdhe semakin gusar, sehingga mengatakan ibuku cerewet dan sama sekali tak mengerti. Intinya, Pakdhe terus ngotot minta gelang itu kembali, dengan dalih akan dibakar. Tak mau memperkeruh keadaan, ibu pun mengajaknya pergi bersama menuju rumah Cak Jamal. Malang dirasa, Cak Jamal tak berada di rumah. Sedang Pakdhe Kurdi terus saja mengumpat tanpa jeda, mengbodoh-bodohan ibu di sana, di depan isteri dan orangtua Cak Jamal. Tentu ibu sakit hati, sampai-sampai berlinang air matanya saat itu juga. Hingga sampai tiba waktu Ashar, kami belum juga mendapati Cak Jamal pulang ke rumah.

Lelah mendengar Pakdhe Kurdi yang terus saja mengamuk, akhirnya ibu mengajakku meninggalkannya di teras rumah Cak Jamal. Beruntung, kita tiba di rumah bersamaan dengan ayah pulang kerja. Sambil menangis, ibu pun menceritakan perlakuan Pakdhe kepada ayah. Saat itu juga, masih dengan mengenakan seragam kerja lengkap dengan sepatunya, ayah beringsut dan pergi menyusul.

"Lihat, Sinan! Gara-gara kamu yang tak berterus-terang sejak awal, ibu dan ayah yang jadi kena sasaran. Keluarga ayah itu kaku-kaku, ibu malas sekali jika berdebat dengan mereka," isak ibu di dalam kamar. Aku terdiam, jadi serba salah atas semua yang terjadi.

Entah kenapa, hawa di sekitar tiba-tiba berubah. Kepala mendadak pening, dan tenggorokan tak seperti biasanya. Seakan ingin muntah. Di saat aku menyingkur dari ibu, tiba-tiba saja, sosok anak perempuan berkepang dua sedang duduk jongkok di bawahku. Spontan, aku terperanjat dan langsung menaikkan kedua kaki ke kasur. Anak perempuan itu malah tersenyum sambil menutup mulutnya dengan tangan.

"A-ada apa, Sinan? Kamu lihat apa?" Ibu yang ikut kaget, turut pula menaikkan kedua kakinya ke kasur. Lalu memelukku erat, bersama Hasan di tengah kami. Aku pun bersembunyi di balik punggungnya. Dan, keanehan terjadi lagi. Entah apa yang membuat Hasan tiba-tiba menangis keras sekali. Kepanikan ibu semakin menjadi, sementara aku masih kaget dengan apa yang kulihat barusan. Ibu terus berbicara sekadar menenangkan hati Hasan, tapi tetap saja ia menangis. Aku pun memberanikan diri keluar dari balik punggung ibu. Sepintas kutatap, telunjuk Hasan diangkat-angkatnya berulang, menunjuk atas.

Penasaran membuatku segera menatap awang-awang. Tampak sosok hitam bertelinga panjang dengan sayap bak kelelawar serta lidah menjulur panjang, sedang nemplok di sudut langit kamar, tengah memandang kami. Aku semakin takut, hingga badanku seolah kaku tak bisa bergerak. Kupejamkan mata sekilas demi membuang bayangan sosok menakutkan itu. Akan tetapi, yang muncul di benak adalah pohon mangga yang ada di kebun belakang rumah. Sosok itu ada di sana, tengah bergelayut pada dahan mangga dengan badan yang lebih kecil dari kulihat tadi. Oh ya, di tahun itu, belakang rumah adalah area kebun dan persawahan, kini semua hilang, berubah jadi sebuah kompleks perumahan. Oke, balik lagi pada cerita ... ibu terus saja bertanya, ada apa. Namun, mulutku terbungkam tak dapat bicara. Aku pun mencoba mengalihkan pandang dan lebih tenang. Tak ingin kutampakkan kegelisahanku pada ibu saat itu juga.

Entah ke mana anak perempuan tadi. Aku tak melihat lagi. Ia menghilang begitu saja.

Tak lama, terdengar suara ayah dan Pakdhe Kurdi berbicara dari depan. Langsung saja, aku diseret ibu berlari ke ruang tamu. "Yah, yah, tolong, yah!" Ibu langsung menyerahkan Hasan pada ayah, sambil ngibrit menarikku ke luar. Napas kami berdua begitu tersengal. Beruntung kemudian, Hasan langsung terdiam di pangkuan ayah, meski ayah sendiri saat itu tengah kebingungan.

"Ada apa, sih?" Ayah mengernyitkan dahi menatap kami. Ibu menjawab, "Tak tahu. Anak-anak tiba-tiba nangis kejer. Aku ikut takut."

"Memang ada apa, Nak?" Ayah mencoba menanyai Hasan. Namun, ia tak bisa berkata. Hanya sesenggukan karena lelah menangis.

"Ada apa, Sinan?" Ganti, kali ini ayah menanyaiku. Aku pun menggeleng. Entahlah. Tak berani bercerita.

Di saat kami masih dalam keadaan takut yang luar biasa, Pakdhe Kurdi malah berseru yang sama sekali tak membuat hati tenang, "Aku yakin, orang itu sedang berbohong. Tak mungkin benda itu hilang dari tangannya. Pasti dia tak mau menyerahkannya."

Ayah terlihat kesal mendengar itu, sehingga berdecak. "Ya ampun, dibahas lagi. Nanti, pasti akan kukejar omongan dia sampai kena. Samean gak usah khawatir. Kupastikan barang itu kembali. Kalau kembali, langsung kuantar pada samean. Silakan samean ambil ambil."

Pakdhe Kurdi terdiam kemudian. Setelah lama berbincang, ia pun berpamit pulang. Namun, sebelum ia pergi, ia tengadahkan tangannya pada ayah. Berkata, minta uang saku. Ayah sekilas menatap ibu yang kala itu tampak masih teramat dongkol. Dengan berat hati, ibu langsung memberinya dua puluh ribu rupiah. Oh ya, di tahun sekian, uang segitu sudah banyak sekali, ya! Karena uang saku-ku sekolah seingatku hanya dua ratus perak.

Oke, balik lagi ... sepeninggal Pakdhe, ibu langsung menumpahkan amarahnya pada ayah. Aku ingat betul pada saat itu, berita krisis moneter adalah topik utama yang hangat dibicarakan. Ibu sering mengeluh tentang biaya pengeluaran yang tak seimbang dengan pemasukan setiap bulan. Tak pelak, makan lauk pun sepotong tempe harus dibuat dua kali makan. Ibu begitu kesal karena ayah terlalu royal memberi uang dua puluh ribu demi ongkos pulang yang hanya sekian. Intinya, begitulah ....

Di saat ayah dan ibu mulai bertengkar hebat, aku pun mengajak Hasan menepi. Kugendong ia dan kutelentangkan badannya. Sambil bernyanyi, kuusap-usap keningnya agar lekas ia terpejam. Sedangkan dari balik tirai, kutatap bocah perempuan berkepang itu yang tengah mengintip. Lagi-lagi kemunculannya dengan tangan yang membekap mulut. Terlihat sedang menertawakanku ....
Diubah oleh shirazy02 18-12-2019 22:23
hendra024
forlano
kicquck
kicquck dan 18 lainnya memberi reputasi
19
Tutup
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.