- Beranda
- Stories from the Heart
INDIGO
...
TS
shirazy02
INDIGO

Hy, Guys! Jumpa lagi di thread terbaru. Kali ini, based on true story. Please, jangan nanya-nanya ini kisah siapa, jangan nebak-nebak apakah saya si anu, atau keppoin apapun itu. Semua demi kelancaran saya menulis, karena mood sangat mempengaruhi 😊 Terhitung sampai detik ini, saya masih suka menggantungkan cerita, karena begitu banyaknya ide cerita lain yang ingin saya tuangkan lewat aksara. By the way, ini tapi gak pake mikir, sih 😂 karena nulisnya ngalir gitu aja. Ada misterinya, ada sakit hatinya, ada asmaranya, banyak bakalan yang disajikan dalam ceritanya. Oh ya, saya sangat tidak menyukai silent reader, so ... beri react, rate, dan komentar, cendol-cendol jan lupa, karena saya tak akan mungkin melanjutkan cerita tanpa adanya respon atau peminat tulisan. Makasih sebelumnya!

----
Spoiler for Indeks:
Part 1:
Berawal dari tahun 1997 yang bertepatan dengan Hari Lebaran. Setiap menjelang hari H, kami sekeluarga, yang terdiri dari aku, adik, serta kedua orangtua, selalu mengunjungi rumah nenek --ibu dari ayah-- yang berada di luar kota. Tujuannya tak lain, bersilaturahmi sekaligus merayakan Hari Raya bersama-sama. Kebetulan keluarga dari ayah adalah keluarga besar, oleh karena itu pasti selalu ramai suasana di rumah sana. Pada saat itu, aku masih duduk di bangku Sekolah Dasar, dan adikku kurang lebih berusia tiga tahun. Kita selalu menghabiskan waktu mudik sampai cutian ayah selesai, tentu juga ibu bisa bersantai memikirkan nasib sekolahku, sebab bertepatan juga dengan waktu liburan sekolah.
Tempat tinggal nenek ada di perbatasan salah satu profinsi Jawa. Dimana ketika kami berkendara dan sudah sampai di kotanya, maka kami masih harus menempuh jarak berkilo-kilo meter untuk tiba di lokasi. Sebenarnya kampungnya tak terlalu pelosok, tapi bagiku sangat primitif. Bangunan yang rata-rata masih berdinding papan kayu, lantai yang masih berupa tanah, pintu dan atap yang pendek, serta lampu penerangan di tiap-tiap rumah yang kebanyakan memakai cemprong. Aku beruntung nenekku sendiri memakai lampu petromaks di beberapa ruangan meski lantai rumahnya hanya berupa plesteran. Di saat aku benar-benar merasa takut saat menatap jalan pedesaan yang suram, aku bisa menyesuaikan terangnya cahaya dari pompa pada tuas di bagian bawah lampu petromaks, hingga sirna pula lah perasaan takut itu karena merasa aman.
Sebenarnya, aku tak pernah menyukai berada di sana. Selain karena daerah yang minim penerangan, untuk beli apa-apa juga lumayan jauh. Satu lagi pengalaman yang dulu-dulu ... setiap malam tidurku tak pernah bisa nyenyak. Di belakang rumah nenek ada barongan (kebun luas yang terdapat banyak pohon bambu dan semak belukar), dan suara-suara hewan malam begitu mendebarkan kala merasuk membran telinga.
Dari perasaan gak betahnya berkunjung di rumah nenek, ada juga rasa senang yang paling kunanti-nanti saat berada di sini, yaitu bertemu dengan Mbah Narti. Mbah Narti adalah adik dari nenekku. Ia tak mempunyai keturunan. Menurut cerita yang kudengar, ayahku dulu pernah dibantu dibesarkan olehnya sehingga bisa melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Ya, Mbah Narti adalah dukun bayi tersohor pada zamannya. Ia bisa dibilang orang yang sangat kaya sekampung. Rumahnya berbeda sendiri dari yang lain. Sudah bangunan tembok, sudah berubin, pun memiliki sawah luas dan ternak yang banyak. Kenapa aku suka dengannya? Karena ia paling antusias menyambut kedatanganku. Royal, dan doyan memijat. Setiap aku bertandang ke rumahnya, Mbah Narti selalu menyediakan alas untukku berbaring. Memijatnya juga lama sekali, dan selalu membuat ketagihan. Selain kerap memberi uang, jajanan satu kresek penuh selalu dibelikannya. Terkadang, jiwa tak bisa membohongi bila sayangku lebih besar terhadap Mbah Narti daripada nenek sendiri.
Karena keluarga besar dari berbagai kota bersamaan datang dan berkumpul di rumah nenek, keluargaku pun diminta Mbah Narti tidur di rumahnya. Tentu kami juga sudah biasa, karena ayah memang dari dulu dekat sekali padanya. Jadi, setiap malam kami bermalam di rumah Mbah Narti, paginya kami kembali ke rumah nenek. Kebetulan rumah mereka bersebelahan.
Ada sesuatu yang janggal kurasakan pada saat pertama kalinya aku bermalam. Entah kenapa, malam itu aku tak bisa tidur. Beruntung aku melihat Mbah Narti masih terjaga di depan TV, sedang menikmati teh dalam wadah besar. Oh, ya ... teh di daerah sana kalau bikin, asli pait. Tehnya langsung dimasukkan di wadah, diseduh bersamaan tanpa disaring. Jadi, banyak bulir yang ngambang gitu di atasnya. Kadang bisa tertelan juga kalau gak hati-hati minum.
Oke, lanjut! Malam itu, ketika hendak menemui Mbah Narti di depan, aku begitu syok menatap di kursi yang ada di sebelah siMbah. Ada seorang perempuan duduk di sana. Berkebaya merah, memakai jarik, dengan tudung transparan warna senada di kepala. Masih muda sepertinya, terlihat dari kulitnya yang sekilas kutatap masih kencang. Tatapan kami bertemu, dan dia langsung menyingkir dari tempat. Anehnya, menyingkirnya nggak keluar rumah, tapi masuk ke ruang tengah, dan tak pernah keluar lagi hingga tengah malam. Kebetulan aku begadang saat itu dengan Mbah Narti.
Perempuan itu pun sering kujumpai wara-wiri di kamar Mbah Narti pada malam-malam berikutnya. Terkadang ada anak perempuan, usianya sepertinya lebih dewasa dariku, suka mengintip dari balik gebyok (sebuah papan penyekat besar dan tinggi yang terbuat dari kayu jati, dulu digunakan sebagai pemisah antara ruang tamu dengan ruang tengah). Senyum-senyum menampakkan separuh wajahnya melihatku. Kukira mereka itu tetangga yang sering bertandang ke rumah, tapi setelah kutanyakan pada Mbah Narti, beliau menjawab, "Kuwi dulurmu! Cah wedok kuwi puterine." (itu saudaramu. Bocah perempuan itu anaknya)
Agak aneh, sih! Karena baru kali ini aku melihat saudara yang wajahnya seperti itu. Belum pernah kujumpai sebelumnya. Namun, aku teringat, ayah pernah bercerita jika punya saudara yang merantau di Kalimantan sana, dan jarang pulang. Mungkin saja itu saudara dari Kalimantan! Anehnya, saat aku bercerita pada ayah dan ibu, ayah menampik jika saudaranya di Kalimantan itu pulang. "Mungkin tetangga," ujar ayah datar. Nenekku pun menimpali, "Mbah Narti sekarang banyak ngelanturnya kalau ngomong, Nduk. Benar ayahmu, mungkin tetangga sedang main itu."
Aku yang memang masih polos, percaya-percaya saja dan tak pernah berpikiran jauh ....
Di suatu siang, saat aku bermain di rumah Mbah Narti seorang diri, entah kenapa tiba-tiba saja ia bicara ngelantur, "Mbah nelangsa, Nduk. Hidup seperti begini-begini saja. Punya apa-apa juga tak bahagia. Apalagi semenjak ditinggal Mbah kung, rasanya sudah malas hidup."
Kurang lebih seperti itu yang bisa kucerna perkataannya. Maklum, bahasa jawanya terlalu halus, kadang susah dimengerti. Apalagi pada saat itu aku masih kecil dan belum seberapa mengerti.
Lalu, setelah berkata begitu, ia membelai rambutku berkali-kali. Mencium juga. Ini yang paling malas saat bertemu Mbah Narti. Aku melihat susur di mulutnya saja sudah bergidik geli, apalagi di dekatkan ke wajah seperti itu.
Setelah puas melayangkan ciuman bertubi-tubi, Mbah Narti lalu masuk ke dalam, berpesan menyuruhku menunggu. Aku sendiri sedang asyik menonton TV. Oh ya, di rumah nenek tak ada TV, jadi aku selalu mainnya kemari jika ingin nonton. Terkadang, bisa bersamaan dengan Budhe dan keluarga ayah yang lainnya. Namun, kali ini aku nonton sendiri, karena keluarga sedang sibuk masak-masak besar.
Beberapa menit kemudian, Mbah Narti muncul sambil membawa sesuatu dalam bungkusan. Setelah dibuka, ternyata sebuah gelang dari tali yang ada jahitan kain kotak kecil warna hitam di tengahnya. Ia menyodorkannya padaku. Ingin menolak karena tak suka, tapi tangan tua itu terburu melingkarkan gelang itu ke tanganku. Kucoba pegang kain kotak hitam itu. Seperti ada batu kecil di dalamnya. Mbah Narti berpesan, agar jangan sampai aku membuka kain kotak hitam itu. Aku pun mengangguk saja.
"Iki gawe kenang-kenangan yo, Nduk? Sesuk yen simbah ra ono, kowe ben kelingan simbah terus," ujarnya lagi. Aku pun terdiam melihat gelang yang dikenakannya di tanganku. Aduh, benar-benar tak suka sekali!
Setelah berpamitan pulang, diam-diam kulepas gelang itu dari tanganku, menyimpannya dalam saku celana. Niat hati ingin kubuang, tapi takut Mbah Narti tahu. Aku khawatir kecewa, jadi kubawa saja. Mengingat, besok aku sekeluarga akan pulang. Rencananya akan kubuang gelang itu di tengah perjalanan.
Malamnya, entah kenapa, ibu melarangku tidur di rumah Mbah Narti. Rupanya, para keluarga besar sedang rame mengobrolkannya yang memang belakangan sering ngelantur. Kata mereka, Mbah Narti tengah pusing membagi hartanya pada sepupu-sepupu lain. "Aku ditawari sama Mbah Ti, kamu mau gak merawat sapi dan kambingku? Kalau mau rawat, ambil saja bawa pulang," tukas Budhe Rusni pada kami.
"Lalu, samean jawab apa?" tanya ayah penasaran.
"Ya kujawab, 'nggak ah. Nanti yang lain ngiri' ... trus dia jawab lagi, 'semua sudah kubagi. Hartaku masih banyak. Aku juga gak punya anak, aku khawatir besok kalau mati, semuanya ini gimana' ... gitu bilangnya."
"Nah, yang diomong mati-mati terus, sih!" seloroh Om Anang.
"Lah, kan? Tadi malah bilang, 'sesuk aku yen mati, omah iki openono, yo?" (besok kalau aku meninggal, rumah ini kamu rawat, ya!) Mbak Nanik membalas.
"Masa' bilang begitu?"
"Iya. Malah berkata, 'jatahku urip gari sedilut' ... gitu," sahut Mbak Nanik lagi.
Gara-gara obrolan malam yang unfaedah, kami semua saling takut, hingga tak pernah berani ketemu Mbah Narti keesokan harinya. Mungkin memang Mbah Narti sudah merasa. dan semua itu adalah pertanda ia mau pamit. Wallahu'alam, keesokan harinya, ketika fajar baru menyingsing, tetangga depan rumah yang biasanya disuruh mencarikan rumput Mbah Narti, berteriak-teriak menemui kami dengan wajah gugup.
"Mbah Narti terpeleset di kamr mandi! Mbah Narti terpeleset di kamar mandi!"
Sontak, kami semua kaget dan segera berhamburan melihat ke lokasi.
Oke, skip!
Di sini, aku akan mulai menceritakan keanehan yang terjadi semenjak pulang dari rumah nenek. Oh, ya ... aku lupa membuang gelang dari Mbah Narti saat perjalanan pulang. Aku juga nggak paham arti 'sikep' dalam istilah jawa pada saat itu. Sepeninggal Mbah Narti, semua keluarga saling ramai mencari sikep yang dimaksud. Katanya harus dibuang, paling tidak dibakar. Semua almari, kasur, dilingkap satu persatu demi mencari benda yang dimaksud. Tak pelak, mereka di antaranya saling menuduh satu sama lain karena tak ada yang mengaku. Mbah Narti memang pernah berpesan, bahwa 'jimat'-nya akan diberikan pada salah satu keturunan nenek. Banyak yang menuding ayah, karena ayah adalah satu-satunya kesayangan Mbah Narti. Oh ya, akibat dari semua ini, keluargaku pernah lama lost komunikasi sama keluarga yang lain. Sebenarnya mereka biasa-biasa saja, tapi yang paling menyebalkan dan tak terima adalah Pakdhe Kurdi.
Sebenarnya, apa alasan Pakdhe Kurdi begitu berambisi menanyakan barang tersebut?
Diubah oleh shirazy02 29-02-2020 14:20
husnamutia dan 42 lainnya memberi reputasi
39
29.5K
238
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
shirazy02
#9
Part 2
Aku masih ingat saat perjalanan pulang ke rumah. Hal yang tak bisa kupikir secara logis adalah, mengenai waktu. Kalau tak macet, biasanya kami bisa menempuh waktu kurang lebih empat jam-an untuk sampai ke rumah. Namun, lain yang terjadi ... kurasa belum lama aku duduk di kursi mobil, tahu-tahu sudah berbelok saja di pelataran rumah. Kaget, itu pasti, tapi semua keanehan ini kupendam sendiri. Baru belakangan aku berpikir, mungkin memang dibuat begitu agar aku tak jadi membuang gelang tersebut. Intinya, bukan karena lupa.
Kami sampai rumah menjelang Magrib. Ibu yang tampak letih, cepat-cepat turun dari mobil sambil menggendong Hasan yang tengah pulas. Aku pun menyusul kemudian. Kala kuturunkan kaki dari mobil, tiba-tiba aku dikejutkan oleh suatu penampakan yang terlihat dengan mata telanjang. Ada satu sosok yang berdiri di atap rumah. Manusia raksasa, aku tak begitu ingat karena hanya sekali itu menunjukkan wujud, entah pakai baju atau tidak, yang jelas serba hitam tubuhnya. Laki-laki, berambut juga, hanya saja matanya sangat lebar, dan lebarnya selaras dengan hidung. Ia tak menatapku, hanya memandang lurus ke depan.
Karena kaget, barang bawaan yang tadinya kutenteng untuk kubawa masuk, spontan kujatuhkan semua sambil berteriak histeris masuk ke rumah. "Sinan! Ada apa??" Terdengar suara lantang ayah dari luar. Aku tak menjawab, langsung masuk ke kamar dan menutup wajah dengan selimut.
***
"Heeeemm ... emang wayah surup kita nyampeknya. Apes juga itu Dalbo ketahuan manusia," ungkap ayah sambil melahap cemilan di meja.
"Kok, dalbo, sih? Dalbo itu 'kan genderuwo yang banyak bulunya. Itu jastro, orang Sinan bilang manusia, matanya gede," tampik ibu, yang kini ada di sampingku bersama Hasan.
"Jastro sama Dalbo apa bedanya? Sama aja. Genderuwo yang berwujud manusia. Mungkin beda daerah, beda penyebutan."
"jelas beda, yaaaahh. Kalo matanya sepiring itu namanya jastro!"
Di saat ibu dan ayah saling beradu mulut, tiba-tiba aku dikejutkan oleh sosok yang tengah tersenyum di kursi tengah. Jadi gini, kamarku adalah kamar pertama setelah ruang tamu, jadi bersandingan juga dengan ruang tengah. Jika pintu kamar terbuka, maka semua akan melihat beberapa deret kursi yang ada di ruang tengah. Kebetulan kursi itu menghadap kamar, karena tembok di balik kamarku adalah TV. Kita sering nonton TV di sana.
Oh ya, sosok yang tersenyum itu adalah sosok yang pernah kujumpai di rumah Mbah Narti. Sosok ibu-ibu, sepertinya seumuran dengan ibuku pada saat itu, belum terlalu tua. Pakaiannya pun sama. Kebaya merah, tudung yang seperti selendang, tipis dan tampak transparan, sama berwarna merah, dengan jarik cokelat kehitaman. Spontan, aku terpaku dan tak bisa berkata. Saat itu, aku baru sadar jika perempuan itu bukanlah manusia. Dengan sigap, kupeluk tubuh ayah erat dengan begitu ketakutan.
"Ada apa, Sinan?" Ayah bertanya keheranan dan mencoba melepas dekapanku. Namun, aku tak mau melepas pelukan itu, dan tetap berlindung di bawah ketiaknya.
Karena orangtua takut, mereka lalu memanggil Cak Jamal, warga dusun kami tapi beda RT. Cak Jamal bukan dukun, hanya mengerti hal-hal begituan -konon katanya-. Ada rasa lucu jika mengingat-ingat waktu itu. Aku 'kan gak mau lepas dari ayah, ya? Jadi, sampe malem gelayutan gitu digendong ayah sambil nempel di ketiaknya. Dulu Cak Jamal bilang, kakiku kaku, katanya ditemplokin manusia raksasa yang kulihat menjelang magrib itu. Pelan-pelan, aku dibujuknya agar mau melepas ayah. Sebenarnya, dia tak membantu sama sekali. Karena rasa kasihan juga melihat upayanya untuk membujukku, lambat-laun aku pun mulai melepaskan pelukan. Di samping karena iba sama Cak Jamal, hatiku sedikit tenang juga melihat banyak orang ke rumah. Padahal, tak dapat dipungkiri, aku begitu khawatir dan masih membayangkan bila nanti bertemu sosok itu tadi.
Akhirnya, pertemuan sore itu membawa kedua orangtuaku bercerita banyak-banyak. Pun dengan Cak Jamal yang begitu bangga menceritakan sosok-sosok gaib yang pernah ditemuinya. Lama terdiam, tiba-tiba saja ia berseru, "Sinan ini sepertinya bawa sesuatu di badannya."
Sontak ucapan itu memancing ekspresi kaget dari ayah dan ibu. "Iya, ada sesuatu yang ia simpan. Barang bertuah, yang membuatnya diikuti sosok perempuan. Bukan sembarang perempuan," tegas Cak Jamal.
Ibu dan Ayah mulai mencurigaiku. Tangan ibu mulai berlarian memeriksa ke seluruh anggota tubuhku. Namun, kemudian Cak Jamal mencegahnya. "Biar dia yang keluarkan sendiri. Hati-hati untuk siapapun yang pegang, karena itu barang keramat."
"Ayo, Sinan! Keluarkan! Apa yang kamu sembunyikan?" Ayah mulai menggertak kasar, membuat kedua netra seketika berkaca-kaca. Aku pun segera mengeluarkan gelang dari saku celana, lalu meletakkannya di samping kasur.
"Lho, yah? Ini sikep yang dicari keluarga kita kemarin, kah?" tanya ibu kaget.
"Iya, mungkin. Dapat darimana lagi dia, wong kita habis dari sana," jawab ayah datar. Wajah itu lalu menampakkan kegusarannya. Ayah kesal terhadapku karena tak memberitahu dari awal.
"Ini bukan sikep. Lain ini! Sikep itu biasanya dibungkus kain putih." Cak Jamal berujar sembari memegang gelang yang kugeletakkan itu. Sejenak ia memejamkan mata, membuat ayah-ibu berpandangan dalam perasaan tak enak. Mungkin karena cemas, ibu lalu mendekap tubuhku erat.
"Bagaimana jika ini saya bawa saja? Bahaya nanti puteri njenengan. Kalau sering lihat penampakan, dia bisa terus trauma karena rasa takut. Barang ini mengundang, soalnya," ucap Cak Jamal lirih.
Entah kenapa, dalam pikiranku terbesit sesuatu. 'Pusaka keramat ini. Aku harus mendapatkannya dengan berbagai cara' Sebuah suara yang berasal dari batin Cak Jamal. Aku mendengar perkataan itu, meski Cak Jamal tak pernah melontarkannya.
Sejurus kemudian, ibu berujar, "Biar dibawa saja, ya, Yah? Ibu kok takut ada barang begituan. Merinding juga."
Ayah tak menjawab apapun. Ia lalu menoleh padaku dan bertanya, "Dapat dari mana kamu, Sinan? Apa dari Mbah Ti?" Langsung aku mengangguk mendengar pertanyaan itu.
"Duuuhh, Mbah Ti kok ngawur, yaaa? Masa' barang begituan dikasih ke Sinan. Kenapa tak diberi ke yang lain." Tutur kata lirih ibu semakin menunjukkan rasa gelisahnya.
Cak Jamal kemudian berseru, "Ibarat air minum, Sinan itu kendhi-nya. Jadi, Sinan itu sudah punya wadah untuk hal-hal gaib, cuma yaa seharusnya gak diwariskan langsung di usianya yang masih sekian. Kasihan nanti."
Kami bergeming di tempat. Sesaat kemudian, ayah bertanya, "Kira-kira membahayakan tidak, ya?"
"Nah, njenengan takut 'kan? Sama, saya juga begitu. Yang pasti, bukan waktunya laah untuk Sinan bermain-main barang begini. Nah, biar gak sama-sama resah, lebih baiknya ini saya bawa dulu. Saya lihat dulu, biar sama saya dulu. Besok jika Sinan sudah besar, saya kembalikan ke dia."
Omongan Cak Jamal barusan masih sukses menghipnotis kami di tempat. Sekilas kutatap, ayah sedang memikirkan sesuatu. Entah kenapa, di benakku seketika terlintas tentang kisruhnya para saudara yang belum pulang juga dari rumah nenek. Mereka sepertinya saling meributkan sesuatu ....
Kami sampai rumah menjelang Magrib. Ibu yang tampak letih, cepat-cepat turun dari mobil sambil menggendong Hasan yang tengah pulas. Aku pun menyusul kemudian. Kala kuturunkan kaki dari mobil, tiba-tiba aku dikejutkan oleh suatu penampakan yang terlihat dengan mata telanjang. Ada satu sosok yang berdiri di atap rumah. Manusia raksasa, aku tak begitu ingat karena hanya sekali itu menunjukkan wujud, entah pakai baju atau tidak, yang jelas serba hitam tubuhnya. Laki-laki, berambut juga, hanya saja matanya sangat lebar, dan lebarnya selaras dengan hidung. Ia tak menatapku, hanya memandang lurus ke depan.
Karena kaget, barang bawaan yang tadinya kutenteng untuk kubawa masuk, spontan kujatuhkan semua sambil berteriak histeris masuk ke rumah. "Sinan! Ada apa??" Terdengar suara lantang ayah dari luar. Aku tak menjawab, langsung masuk ke kamar dan menutup wajah dengan selimut.
***
"Heeeemm ... emang wayah surup kita nyampeknya. Apes juga itu Dalbo ketahuan manusia," ungkap ayah sambil melahap cemilan di meja.
"Kok, dalbo, sih? Dalbo itu 'kan genderuwo yang banyak bulunya. Itu jastro, orang Sinan bilang manusia, matanya gede," tampik ibu, yang kini ada di sampingku bersama Hasan.
"Jastro sama Dalbo apa bedanya? Sama aja. Genderuwo yang berwujud manusia. Mungkin beda daerah, beda penyebutan."
"jelas beda, yaaaahh. Kalo matanya sepiring itu namanya jastro!"
Di saat ibu dan ayah saling beradu mulut, tiba-tiba aku dikejutkan oleh sosok yang tengah tersenyum di kursi tengah. Jadi gini, kamarku adalah kamar pertama setelah ruang tamu, jadi bersandingan juga dengan ruang tengah. Jika pintu kamar terbuka, maka semua akan melihat beberapa deret kursi yang ada di ruang tengah. Kebetulan kursi itu menghadap kamar, karena tembok di balik kamarku adalah TV. Kita sering nonton TV di sana.
Oh ya, sosok yang tersenyum itu adalah sosok yang pernah kujumpai di rumah Mbah Narti. Sosok ibu-ibu, sepertinya seumuran dengan ibuku pada saat itu, belum terlalu tua. Pakaiannya pun sama. Kebaya merah, tudung yang seperti selendang, tipis dan tampak transparan, sama berwarna merah, dengan jarik cokelat kehitaman. Spontan, aku terpaku dan tak bisa berkata. Saat itu, aku baru sadar jika perempuan itu bukanlah manusia. Dengan sigap, kupeluk tubuh ayah erat dengan begitu ketakutan.
"Ada apa, Sinan?" Ayah bertanya keheranan dan mencoba melepas dekapanku. Namun, aku tak mau melepas pelukan itu, dan tetap berlindung di bawah ketiaknya.
Karena orangtua takut, mereka lalu memanggil Cak Jamal, warga dusun kami tapi beda RT. Cak Jamal bukan dukun, hanya mengerti hal-hal begituan -konon katanya-. Ada rasa lucu jika mengingat-ingat waktu itu. Aku 'kan gak mau lepas dari ayah, ya? Jadi, sampe malem gelayutan gitu digendong ayah sambil nempel di ketiaknya. Dulu Cak Jamal bilang, kakiku kaku, katanya ditemplokin manusia raksasa yang kulihat menjelang magrib itu. Pelan-pelan, aku dibujuknya agar mau melepas ayah. Sebenarnya, dia tak membantu sama sekali. Karena rasa kasihan juga melihat upayanya untuk membujukku, lambat-laun aku pun mulai melepaskan pelukan. Di samping karena iba sama Cak Jamal, hatiku sedikit tenang juga melihat banyak orang ke rumah. Padahal, tak dapat dipungkiri, aku begitu khawatir dan masih membayangkan bila nanti bertemu sosok itu tadi.
Akhirnya, pertemuan sore itu membawa kedua orangtuaku bercerita banyak-banyak. Pun dengan Cak Jamal yang begitu bangga menceritakan sosok-sosok gaib yang pernah ditemuinya. Lama terdiam, tiba-tiba saja ia berseru, "Sinan ini sepertinya bawa sesuatu di badannya."
Sontak ucapan itu memancing ekspresi kaget dari ayah dan ibu. "Iya, ada sesuatu yang ia simpan. Barang bertuah, yang membuatnya diikuti sosok perempuan. Bukan sembarang perempuan," tegas Cak Jamal.
Ibu dan Ayah mulai mencurigaiku. Tangan ibu mulai berlarian memeriksa ke seluruh anggota tubuhku. Namun, kemudian Cak Jamal mencegahnya. "Biar dia yang keluarkan sendiri. Hati-hati untuk siapapun yang pegang, karena itu barang keramat."
"Ayo, Sinan! Keluarkan! Apa yang kamu sembunyikan?" Ayah mulai menggertak kasar, membuat kedua netra seketika berkaca-kaca. Aku pun segera mengeluarkan gelang dari saku celana, lalu meletakkannya di samping kasur.
"Lho, yah? Ini sikep yang dicari keluarga kita kemarin, kah?" tanya ibu kaget.
"Iya, mungkin. Dapat darimana lagi dia, wong kita habis dari sana," jawab ayah datar. Wajah itu lalu menampakkan kegusarannya. Ayah kesal terhadapku karena tak memberitahu dari awal.
"Ini bukan sikep. Lain ini! Sikep itu biasanya dibungkus kain putih." Cak Jamal berujar sembari memegang gelang yang kugeletakkan itu. Sejenak ia memejamkan mata, membuat ayah-ibu berpandangan dalam perasaan tak enak. Mungkin karena cemas, ibu lalu mendekap tubuhku erat.
"Bagaimana jika ini saya bawa saja? Bahaya nanti puteri njenengan. Kalau sering lihat penampakan, dia bisa terus trauma karena rasa takut. Barang ini mengundang, soalnya," ucap Cak Jamal lirih.
Entah kenapa, dalam pikiranku terbesit sesuatu. 'Pusaka keramat ini. Aku harus mendapatkannya dengan berbagai cara' Sebuah suara yang berasal dari batin Cak Jamal. Aku mendengar perkataan itu, meski Cak Jamal tak pernah melontarkannya.
Sejurus kemudian, ibu berujar, "Biar dibawa saja, ya, Yah? Ibu kok takut ada barang begituan. Merinding juga."
Ayah tak menjawab apapun. Ia lalu menoleh padaku dan bertanya, "Dapat dari mana kamu, Sinan? Apa dari Mbah Ti?" Langsung aku mengangguk mendengar pertanyaan itu.
"Duuuhh, Mbah Ti kok ngawur, yaaa? Masa' barang begituan dikasih ke Sinan. Kenapa tak diberi ke yang lain." Tutur kata lirih ibu semakin menunjukkan rasa gelisahnya.
Cak Jamal kemudian berseru, "Ibarat air minum, Sinan itu kendhi-nya. Jadi, Sinan itu sudah punya wadah untuk hal-hal gaib, cuma yaa seharusnya gak diwariskan langsung di usianya yang masih sekian. Kasihan nanti."
Kami bergeming di tempat. Sesaat kemudian, ayah bertanya, "Kira-kira membahayakan tidak, ya?"
"Nah, njenengan takut 'kan? Sama, saya juga begitu. Yang pasti, bukan waktunya laah untuk Sinan bermain-main barang begini. Nah, biar gak sama-sama resah, lebih baiknya ini saya bawa dulu. Saya lihat dulu, biar sama saya dulu. Besok jika Sinan sudah besar, saya kembalikan ke dia."
Omongan Cak Jamal barusan masih sukses menghipnotis kami di tempat. Sekilas kutatap, ayah sedang memikirkan sesuatu. Entah kenapa, di benakku seketika terlintas tentang kisruhnya para saudara yang belum pulang juga dari rumah nenek. Mereka sepertinya saling meributkan sesuatu ....
Diubah oleh shirazy02 17-12-2019 17:54
disya1628 dan 22 lainnya memberi reputasi
23
Tutup