- Beranda
- Stories from the Heart
Jangan Panggil Aku Ibu
...
TS
shirazy02
Jangan Panggil Aku Ibu

(Warning : 21+ akan ada tindak kekerasan dalam cerita, namun sarat moral, mengantarkan banyak kejutan tak terduga di dalamnya)
part 2
part 3
part 4
part 5
part 6
part 7
part 8
part 9
part 10
part 11
part 12
Part 13
Part 14
Part 15
Part 16
part 1
Suara carut-marut beberapa ayam jantan yang berkokok, mulai menyadarkanku dari lelapnya tidur. Membuatku beranjak segera membuka jendela kamar. Terlihat seberkas cahaya matahari mulai menampakkan sinarnya dari ufuk timur. Tak tertinggal suara merdunya burung-burung dari balik dedaunan yang tengah bersenandung.
Seharusnya suasana pagi yang dingin nan sejuk ini menambah nikmat tersendiri untukku, namun nyatanya, sangat berbeda dengan suasana hatiku.
Kutengok jam dinding dari balik tirai. Jam 05.30. Baru sadar bahwa hanya dua jam saja aku mampu tertidur?
Dengan mata yang masih terasa berat, kulangkahkan kakiku keluar kamar. Mematikan lampu tengah dan teras yang masih menyala. Lalu membuka bilik-bilik jendela, terakhir membuka pintu utama.
Haidar masih saja bergelut dengan mimpinya. Kubiarkan ia terlelap tidur. Masih penasaran ke-diam-annya semalam. Tumben ia tak rewel, tak seperti biasanya.....
Sementara, Mas Agus ... entah kemana ia. Gelas berisi teh di atas meja masih tak tersentuh sama sekali. Sepertinya ia tak pulang lagi.
Kutarik nafas panjang, lalu menghembuskannya perlahan seiring penatnya kepala yang kurasakan.
Sudah tiga hari ini, Mas Agus tak pulang. Membuatku khawatir dan berpikir yang macam-macam. Uang yang ia beri padaku sepekan yang lalu sudah menipis. Aku semakin dibuat pusing karena tak ada lagi orang yang bisa kutoleh disini.
"He, Wati! Jangan ngutang lagi, ya! Boleh ngutang, tapi, lunasin dulu tunggakannya! Jebol anakku kalau dirimu ngutang mulu."
Dari warung seberang jalan, Mak Minah berteriak kencang sembari mengacungkan sapu halamannya itu padaku.
Aku langsung membalikkan badan, pergi dari ruang tamu dengan langkah cepat menuju kembali ke kamar. Tak terasa air mata mulai menitik. Betapa malunya aku sebagai perempuan diteriaki seperti itu disaat banyak para tetangga belanja di warungnya.
Bagaimana aku bisa melunasi hutang, sementara uang yang kukantongi sekarang saja tersisa hanya enam ribu rupiah.
Kuseka air mataku yang kian mengucur, lalu mengalihkan pandangan kembali menatap Haidar yang masih terlelap.
Oh, Tuhan ... aku tak sanggup lagi.
Mas Agus, kamu dimana?
Lagi-lagi air mataku menitik.
Belum usai kesedihanku, pagi-pagi sekali Bu Rina datang. Ia marah, menyuruhku segera meninggalkan rumah. Kami memang menunggak biaya sewa lima bulan, dan aku tahu Mas Agus sudah berusaha untuk itu. Tapi, bagaimana lagi ... penghasilannya sebagai kuli angkut di pasar hanya cukup untuk menutup hutang yang lain dan makan seadanya.
Tak mau terus bersitegang, lantas kutegaskan pada Bu Rina jika Mas Agus sudah tiga hari ini tak pulang. Namun, sudah tak ada lagi rasa iba terpancar dari raut wajahnya.
"Saya sudah lima bulan bersabar, Wati. Suamimu tak juga memberi uang yang dijanjikan meski sekedar menyicil. Saya ini sudah tidak punya suami. Beda dengan kamu. Masih untung kamu ada yang menafkahi. Harapan saya cuma di rumah ini. Kalau kamu tak bisa membantu perekonomian saya, silahkan kamu pergi! Saya sudah cukup menunggu. Saya ini juga dalam keadaan butuh!"
Ucapan Bu Rina lantang terdengar, membuat dadaku sesak seolah tak mampu lagi berkata.
Tiba-tiba, Haidar menangis kencang dari dalam kamarnya. Aku yang kaget, segera berlari melihat apa yang terjadi. Bayi delapan bulanku mendadak memelototkan kedua mata. Tangisannya terhenti, dan tangannya menggenggam erat, lurus kencang.
"Bu ... Bu Rina! Tolong!" Aku berteriak histeris sambil menggendong Haidar. Saking paniknya, aku berjalan mondar-mandir tak jelas di dalam kamar, mencoba menyusuinya. Tetap ia tak berekspresi.
"Kenapa, Wati?" Bu Rina yang baru menghampiri, tampak khawatir memandangku.
"Haidar! Coba lihat, Bu! Ini Haidar kenapa? Ia juga tak mau menyusu," pekikku sambil membawa Haidar mendekat pada Bu Rina.
"A-ayo ke puskesmas saja, Wat!"
Akhirnya, aku dibonceng Bu Rina pergi dengan motornya.
Kepalaku terasa penuh, sementara tanganku terus menutupi Haidar dengan selimut. Matanya masih saja membulat, membuatku semakin menangis karena cemasnya. Kucoba menyusuinya, memaksanya. Tetap saja bibirnya mengatup tak berekspresi.
Ya ampun, Mas Agus ... cepat pulang, Maaaasss!
Tak kuasa aku menahan kesedihan yang teramat sangat kali ini.
Sesampainya di puskesmas, kusuruh para petugas cepat membawa Haidar masuk untuk diperiksa. Sementara Bu Rina ada di loket antrian.
"Tolong banget, Mas! Tolong anak saya!" Aku tak sanggup berkata lagi saking bingungnya.
Selagi Haidar diperiksa, tiba-tiba, aku dikagetkan lagi dengan Bu Rina yang datang sambil menyenggol pundakku.
"Wati, kamu ada KIS gak?" tanyanya.
"Apa itu, Bu?"
"Aduuuhh, kalau ngomongmu begitu, kayaknya kamu nggak punya. Kamu minta tolong ke kelurahan, deh! Aku juga tak ada duit buat bayar nanti."
"La-lalu? Haidar bagaimana, Bu?"
"Sudahlah! Ada petugasnya, kan? Ayo!"
Tanpa banyak pertimbangan lagi, aku pun menurut apa kata Bu Rina. Pergi bersamanya menuju ke kelurahan.
Setelah lama berkutat di dalam kantor kelurahan, akhirnya kudapatkan secarik surat dari sana, sebagai pengantar sementara selagi kartu KIS belum ada. Tak menunggu waktu lagi, segera kami kembali berangkat ke puskesmas.
Bu Rina langsung menuju loket, sementara aku bergegas menuju tempat dimana Haidar diperiksa.
Namun, pemandangan yang ada lebih mengagetkanku.
Haidar terbujur kaku, dengan tali perban melilit di sekitar dagu ke kepalanya.
Kurasakan kepalaku semakin pening, pandanganku seketika kabur.
****
Sudah tujuh hari kepergian anakku, Haidar. Namun ingatan tentangnya masih membekas. Saat wajah lucunya menangis, saat bayi menggemaskan itu tersenyum, semua itu masih terkenang jelas dalam ingatan.
Kuputuskan menutup kenangan tentangnya. Agar tak lagi ada tangis terbendung. Aku sudah capek, pikiranku sudah kalut.
Lalu, aku berdiri, mulai berkemas. Baju-bajunya, karpet tidurnya, nipple mainannya, sepatu dan kaos kakinya, semua kujadikan satu pada sebuah kotak kardus besar. Lalu, kotak kardus itu kusimpan di atas lemari pakaian.
Saat itu juga, tiba-tiba suamiku datang. Ia berteriak dari luar memanggilku.
Segera aku berlari untuk memastikan, apa benar itu dia?
Ya ... memang benar. Ia datang dengan pemandangan yang nampak janggal. Ditangannya mendekap bayi dalam gendongan, lengkap beserta tas besar yang ia kalungkan menyamping ketubuhnya.
"Haidar! Lihat, Ayah bawa adek buat Haidar! Rumah bakalan rame ini." Ia berseru sambil masuk ke dalam rumah.
Aku hanya tercengang menatapnya dari balik tirai ruang tengah.
Laki-laki itu tampak sumringah dengan bayi yang ia gendong. Sekilas ia melirikku, lalu bertanya lagi, "Mana anak kita Haidar, Bu? Aku punya berita baik. Ibu pasti senang!"
Aku masih tak percaya dengan apa yang diucapnya barusan. Hanya bisa terdiam dengan mata lurus ke depan.
Anak siapa itu? Kemana ia pergi selama ini?
(bersambung)
Diubah oleh shirazy02 07-02-2020 19:33
manik.01 dan 32 lainnya memberi reputasi
33
21.5K
242
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•7Anggota
Tampilkan semua post
TS
shirazy02
#109
Jangan Panggil Aku Ibu (part 12)
Aku melongok ke luar kamar. Sepanjang koridor tampak sepi. Ah, mungkin saja Pak Lurah sedang menidurkan Tomi, seperti yang biasa dilakukannya kala malam menanti. Segera kututup pintu kamar. Pelan. Bahkan dengan sangat hati-hati, agar derit pintu tak mengubah heningnya situasi. Dengan perasaan was-was campur takut, kuberanikan diri menggeledah jaket kulit yang berada di gantungan. Harap-harap menemukan HP Pak Lurah, namun tak ketemu juga di sana. Aku pun beralih memeriksa tas Pak Lurah. Satu persatu resleting kubuka, dan nihil. Tak kutemukan juga apa yang kian kucari.
'Duh, di mana, sih!' Batinku mengumpat tak terima. Tak mau mengulur waktu, kucoba periksa beberapa bagian lain. Mulai dari laci, atas almari, sampai membuka setiap celah lipatan baju.
"Sedang mencari apa?" Gertakan suara di belakang begitu mengagetkanku, serta-merta mengurungkan niat yang tadinya menggebu. Aku berbalik, mendapati Pak Lurah sudah berdiri tegap di ambang sana. Tentu menatapku dengan sorot curiga.
Kugapit kedua tangan dengan cemasnya. Ketika jemari saling bersinggungan, saat itu juga kutemukan sebuah ide untuk beralasan. Langsung saja kedua tangan kualihkan belakang. Cepat-cepat melepaskan sebuah cincin yang tersemat di jari manis, lalu menaruhnya ke saku belakang celana.
"Tadi kulihat tatanan baju Pak Lurah berantakan. Ketika mau menata, tak sengaja aku menjatuhkan cincin yang Pak Lurah beri. Entah jatuh di mana, aku bingung mencari belum juga ketemu," ulasku lirih.
Pak Lurah diam sejenak. Perlahan kemudian menghampiri, sembari merogoh sesuatu dari saku celananya. Lembaran uang seratus ribuan ia keluarkan beberapa, lalu menyodorkannya padaku. "Ini jatah belanjamu. Kalau mau minta, bilang! Jangan berkata aneh-aneh pada anak kecil seperti Tomi," sentaknya kemudian. Aku tercengang dan benar-benar salah tingkah dibuatnya.
"A-aku tak pernah bicara apa pun mengenai ...."
".... tak pernah bicara apapun, tapi dia yang kau jadikan alat untuk minta-minta padaku dengan berbagai alasan. Kau pikir aku tak tahu?"
Mendengar itu, aku terdiam. Menelan ludah pahit sambil menundukkan pandang. Apa Tomi mengadu pada Pak Lurah? Tapi, ini rahasia kita berdua. Tomi pun tahu uang itu kita simpan bersama-sama.
"Dengarkan aku, Wati. Aku banyak pekerjaan di luar sana. Sudah lama aku tak beristri, aku bahkan lupa jika sekarang sudah punya istri. Jadi, jika kau tak mengingatkanku untuk hakmu, jangan salahkan aku kalau aku lupa," tegasnya lagi. Dalam hati aku mencibir, bagaimana bisa lupa, sementara kita selalu bertemu setiap waktu. Untuk keperluan Tomi saja ia tak pernah lalai, kenapa padaku lalai?
Ketika, pandanganku beralih ke sudut ruang, tiba-tiba aku menangkap sebuah rambut menyembul dari ambang pintu. Sepintas bergidik karena takut. Namun, setelah kuamat-amati lagi, seperti sebuah kepala yang tengah menguping dari balik tembok. Aku beringsut, melihat ke arah lantai. Tampak jemari kaki mengintip di sana. Kutek merah terlihat jelas mewarnai setiap kukunya.
"Maafkan saya, Pak. Lain kali, saya akan lebih tegas meminta hak saya. Ehm, permisi ... saya ingin membuat teh hangat," seruku lirih. Seketika itu juga, jemari kaki itu hilang sudah dalam pandangan. Dengan cepat, aku melenggang melewati tubuh Pak Lurah, bergegas ke luar kamar. Dari jauh, kulihat sosok itu tergesa melarikan diri. Sialnya, aku mendapati bayangannya tepat di tempat gelap, manakala lampu-lampu sudah dimatikan karena jam yang sudah menunjukkan tengah malam. Tak jelas siapa dia. Namun, aku tahu betul ia menuju ke belakang. Nahasnya lagi, ketika aku berbelok di ruang persimpangan, sosok itu menghilang!
Hosh! Hosh! Hosh!
Aku terengah kesal, bersamaan dengan peluh yang begitu mengucur. Tak ada ruang lagi di tempat ini kecuali dua kamar itu. Kamar Bu Ardan, serta kamar Asri. Mungkinkah Asri yang menguping tadi? Jika aku mencurigai Bu Ardan, tentu tak mungkin juga. Mana sudi Bu Ardan yang terlihat dingin mendandani kuku kakinya dengan kutek merah?
Oke, jawabannya akan kutemukan besok pagi!
****
Suara ayam jantan berkokok membuatku tergugah dalam bunga tidur. Lalu, beranjak seraya mengerjapkan mata. Sesekali menguap. Ah, betapa dahsyatnya rasa kantuk kali ini.
Kulangkahkan kaki gontai menuju depan cermin. Berdiri mematut, sambil menyisir rambut yang tengah berantakan. Setelahnya, menguncir dengan tali. Aku sadar betul harus apa setelah ini. Sejak semalam kunantikan datangnya pagi, dan kini kurasa saatnya beraksi. Aku pun masuk ke kamar mandi, mencuci muka, lalu melangkah ke luar kamar. Ke mana lagi pilihanku saat ini, kalau tak untuk ke dapur?
Sreeeeng!
Terdengar sesuatu dicelupkan di wajan penggorengan. Kulihat, Bu Ardan sudah ada di sana. Ia menolehkan wajahnya sekilas, lalu kembali sibuk dengan sodet di tangan. Kucoba tilik kuku kakinya. Benar dugaan, kukunya tak teroles kutek sama sekali. Jadi, feelingku mengarah pada salah satu di antara dua orang itu.
"Asri belum bangun, Bu?" tanyaku kemudian. Wanita itu tak menyahut apa pun, masih sibuk dengan ikan yang digorengnya.
"Bu Ardan, saya ini sedang bertanya!" Hampir kesal aku menatap wanita paruh baya itu. Bagaimana tidak, sedari aku menjadi tuan rumah di sini, sedikit pun ia tak pernah mau diajak bicara. Ketika ingin memperingatinya, tampak sosok yang kunantikan pun tiba.
Asri yang kini ada di depanku, tak menyapa dan tak berbasa-basi seperti biasanya. Hanya tersenyum, kemudian sedikit menundukkan kepala saat melewatiku. Ia buka lemari es, lalu mengeluarkan beberapa sayuran. Kucoba dekati dia, langsung melihat jemari kakinya.
"Mau makan apa pagi ini, Bu?" Suara Asri benar-benar membuatku tersentak. "Apa ingin dimasakkan sesuatu? Pak Lurah kemarin minta dibikinkan sayur lodeh campur daging buat makan siang, sarapannya ikan bader sama tumis kangkung. Tomi sendiri minta dibuatkan perkedel. Ibu minta makan apa?" lanjutnya lagi.
"Oh, ehm ... tidak. Aku hanya ingin melihat kalian di dapur. Sudah lama tak megang alat dapur," jawabku asal. Entah kenapa, ada rasa takut terhadap Asri kali ini. Perlahan, aku pun menyingkir dari dapur. Bergegas menuju kamar Tomi.
Sesampainya di sana, kudapati Tomi sedang sibuk dengan buku di hadapannya. Kupikir masih tidur.
"Tomi," kuserukan namanya lirih sembari mengunci pintu kamar.
"Ada apa, Bi?" Tomi terkesiap dari tempatnya.
Belum sempat menjawab pertanyaannya, kutolehkan sejenak pandangan ke arah pintu, berharap tak seorang pun menguping pembicaraan ini. Kuruncingkan bibirku sembari menempelkan jari telunjuk. Kuharap Tomi tak berisik kali ini.
"Tom." Lalu, kupegang kedua pundaknya dengan tatapan mata dalam. Sejenak menghela napas, kemudian berkata, "Tom, kita jangan terlalu banyak bersenang-senang di kehidupan kita yang baru."
Bocah lelaki itu tak menjawab. Namun, wajahnya mengkerut, seolah menyisakan berbagai tanda tanya. "Jadi, begini ... kita harus waspada terhadap siapa pun. Sebaik apa mereka terhadap kita, kita wajib berhati-hati. Harus pintar-pintar pula menjaga jarak. Paham, ya!" ujarku mengingatkan.
"Maksudnya, kita harus waspada dengan siapa saja, Bi?"
"Semua, Tomi ... semua. Tanpa kecuali! Baik dengan Mbak Asri, dengan bapak, dengan Pak Wahyu, dengan siapapun itu yang ada di sekeliling Tomi. Jika ditanyai apapun, atau mengorek sesuatu tentang hubungan kita, kamu harus waspada."
"Hmmm ... tapi, Bi, kurasa semua orang di sini baik sama Tomi."
"Tomi, mengertilah!" Kudekap erat tubuh bocah lelaki itu. Entah kenapa, aku sangat mengkhawatirkan dirinya saat ini. "Percayalah pada Bibi kali ini. Kita jaga rahasia bersama, ya? Omongan ini jangan sampai bocor. Kamu percaya bibi, kan?"
Tomi tak menjawab apapun. Ia hanya ikut mengeratkan pelukannya padaku.
"Kenapa Tomi jadi takut, setelah bibi berkata seperti ini?" ucapnya gamang. Kulepas pelukannya, memegang wajahnya agar menatap padaku. "Dengar, Tomi! Kita harus bersikap biasa saja. Selagi bibi masih ada di sini, kupastikan kamu selalu aman," janjiku.
Tok! Tok! Tok!
Kami berdua terhenyak saat suara pintu diketuk. Kembali kurapatkan telunjukku ke bibir, agar Tomi menurut untuk diam saja. Pintu kembali bersuara. Segera aku berjalan mendekat, membuka pintu sambil melihat siapa yang ada di balik sana. Rupanya, Asri!
"Oh, ada ibu. Pantas pintunya dikunci," ujarnya sambil tersenyum.
"I-iya. Tadi benahin tali bra, copot. Jadi, kututup sebentar."
"Oh, iya, Bu. Tomi sudah bangun, ya, Bu? Ya sudah. Saya balik lagi ke dapur." Hampir saja ia melangkah pergi, kutarik lengannya pelan sehingga ia kembali berbalik. "Ya, Bu. Ada apa?"
"Setiap pagi kamu yang bangunin Tomi?" pancingku.
"Tidak, Bu. Biasanya Pak Lurah yang bangunkan," jawabnya datar.
"Lho, kok kamu tahu kalau malam tadi bapak gak tidur di sini?" tanyaku lagi.
Kali ini Asri terdiam. Ia tampak gugup. Aku sendiri bergeming di tempat, menanti jawaban apa yang terlontar di mulutnya. Sedangkan mataku masih awas menatap kutek merah di kuku kakinya ....
(bersambung)
'Duh, di mana, sih!' Batinku mengumpat tak terima. Tak mau mengulur waktu, kucoba periksa beberapa bagian lain. Mulai dari laci, atas almari, sampai membuka setiap celah lipatan baju.
"Sedang mencari apa?" Gertakan suara di belakang begitu mengagetkanku, serta-merta mengurungkan niat yang tadinya menggebu. Aku berbalik, mendapati Pak Lurah sudah berdiri tegap di ambang sana. Tentu menatapku dengan sorot curiga.
Kugapit kedua tangan dengan cemasnya. Ketika jemari saling bersinggungan, saat itu juga kutemukan sebuah ide untuk beralasan. Langsung saja kedua tangan kualihkan belakang. Cepat-cepat melepaskan sebuah cincin yang tersemat di jari manis, lalu menaruhnya ke saku belakang celana.
"Tadi kulihat tatanan baju Pak Lurah berantakan. Ketika mau menata, tak sengaja aku menjatuhkan cincin yang Pak Lurah beri. Entah jatuh di mana, aku bingung mencari belum juga ketemu," ulasku lirih.
Pak Lurah diam sejenak. Perlahan kemudian menghampiri, sembari merogoh sesuatu dari saku celananya. Lembaran uang seratus ribuan ia keluarkan beberapa, lalu menyodorkannya padaku. "Ini jatah belanjamu. Kalau mau minta, bilang! Jangan berkata aneh-aneh pada anak kecil seperti Tomi," sentaknya kemudian. Aku tercengang dan benar-benar salah tingkah dibuatnya.
"A-aku tak pernah bicara apa pun mengenai ...."
".... tak pernah bicara apapun, tapi dia yang kau jadikan alat untuk minta-minta padaku dengan berbagai alasan. Kau pikir aku tak tahu?"
Mendengar itu, aku terdiam. Menelan ludah pahit sambil menundukkan pandang. Apa Tomi mengadu pada Pak Lurah? Tapi, ini rahasia kita berdua. Tomi pun tahu uang itu kita simpan bersama-sama.
"Dengarkan aku, Wati. Aku banyak pekerjaan di luar sana. Sudah lama aku tak beristri, aku bahkan lupa jika sekarang sudah punya istri. Jadi, jika kau tak mengingatkanku untuk hakmu, jangan salahkan aku kalau aku lupa," tegasnya lagi. Dalam hati aku mencibir, bagaimana bisa lupa, sementara kita selalu bertemu setiap waktu. Untuk keperluan Tomi saja ia tak pernah lalai, kenapa padaku lalai?
Ketika, pandanganku beralih ke sudut ruang, tiba-tiba aku menangkap sebuah rambut menyembul dari ambang pintu. Sepintas bergidik karena takut. Namun, setelah kuamat-amati lagi, seperti sebuah kepala yang tengah menguping dari balik tembok. Aku beringsut, melihat ke arah lantai. Tampak jemari kaki mengintip di sana. Kutek merah terlihat jelas mewarnai setiap kukunya.
"Maafkan saya, Pak. Lain kali, saya akan lebih tegas meminta hak saya. Ehm, permisi ... saya ingin membuat teh hangat," seruku lirih. Seketika itu juga, jemari kaki itu hilang sudah dalam pandangan. Dengan cepat, aku melenggang melewati tubuh Pak Lurah, bergegas ke luar kamar. Dari jauh, kulihat sosok itu tergesa melarikan diri. Sialnya, aku mendapati bayangannya tepat di tempat gelap, manakala lampu-lampu sudah dimatikan karena jam yang sudah menunjukkan tengah malam. Tak jelas siapa dia. Namun, aku tahu betul ia menuju ke belakang. Nahasnya lagi, ketika aku berbelok di ruang persimpangan, sosok itu menghilang!
Hosh! Hosh! Hosh!
Aku terengah kesal, bersamaan dengan peluh yang begitu mengucur. Tak ada ruang lagi di tempat ini kecuali dua kamar itu. Kamar Bu Ardan, serta kamar Asri. Mungkinkah Asri yang menguping tadi? Jika aku mencurigai Bu Ardan, tentu tak mungkin juga. Mana sudi Bu Ardan yang terlihat dingin mendandani kuku kakinya dengan kutek merah?
Oke, jawabannya akan kutemukan besok pagi!
****
Suara ayam jantan berkokok membuatku tergugah dalam bunga tidur. Lalu, beranjak seraya mengerjapkan mata. Sesekali menguap. Ah, betapa dahsyatnya rasa kantuk kali ini.
Kulangkahkan kaki gontai menuju depan cermin. Berdiri mematut, sambil menyisir rambut yang tengah berantakan. Setelahnya, menguncir dengan tali. Aku sadar betul harus apa setelah ini. Sejak semalam kunantikan datangnya pagi, dan kini kurasa saatnya beraksi. Aku pun masuk ke kamar mandi, mencuci muka, lalu melangkah ke luar kamar. Ke mana lagi pilihanku saat ini, kalau tak untuk ke dapur?
Sreeeeng!
Terdengar sesuatu dicelupkan di wajan penggorengan. Kulihat, Bu Ardan sudah ada di sana. Ia menolehkan wajahnya sekilas, lalu kembali sibuk dengan sodet di tangan. Kucoba tilik kuku kakinya. Benar dugaan, kukunya tak teroles kutek sama sekali. Jadi, feelingku mengarah pada salah satu di antara dua orang itu.
"Asri belum bangun, Bu?" tanyaku kemudian. Wanita itu tak menyahut apa pun, masih sibuk dengan ikan yang digorengnya.
"Bu Ardan, saya ini sedang bertanya!" Hampir kesal aku menatap wanita paruh baya itu. Bagaimana tidak, sedari aku menjadi tuan rumah di sini, sedikit pun ia tak pernah mau diajak bicara. Ketika ingin memperingatinya, tampak sosok yang kunantikan pun tiba.
Asri yang kini ada di depanku, tak menyapa dan tak berbasa-basi seperti biasanya. Hanya tersenyum, kemudian sedikit menundukkan kepala saat melewatiku. Ia buka lemari es, lalu mengeluarkan beberapa sayuran. Kucoba dekati dia, langsung melihat jemari kakinya.
"Mau makan apa pagi ini, Bu?" Suara Asri benar-benar membuatku tersentak. "Apa ingin dimasakkan sesuatu? Pak Lurah kemarin minta dibikinkan sayur lodeh campur daging buat makan siang, sarapannya ikan bader sama tumis kangkung. Tomi sendiri minta dibuatkan perkedel. Ibu minta makan apa?" lanjutnya lagi.
"Oh, ehm ... tidak. Aku hanya ingin melihat kalian di dapur. Sudah lama tak megang alat dapur," jawabku asal. Entah kenapa, ada rasa takut terhadap Asri kali ini. Perlahan, aku pun menyingkir dari dapur. Bergegas menuju kamar Tomi.
Sesampainya di sana, kudapati Tomi sedang sibuk dengan buku di hadapannya. Kupikir masih tidur.
"Tomi," kuserukan namanya lirih sembari mengunci pintu kamar.
"Ada apa, Bi?" Tomi terkesiap dari tempatnya.
Belum sempat menjawab pertanyaannya, kutolehkan sejenak pandangan ke arah pintu, berharap tak seorang pun menguping pembicaraan ini. Kuruncingkan bibirku sembari menempelkan jari telunjuk. Kuharap Tomi tak berisik kali ini.
"Tom." Lalu, kupegang kedua pundaknya dengan tatapan mata dalam. Sejenak menghela napas, kemudian berkata, "Tom, kita jangan terlalu banyak bersenang-senang di kehidupan kita yang baru."
Bocah lelaki itu tak menjawab. Namun, wajahnya mengkerut, seolah menyisakan berbagai tanda tanya. "Jadi, begini ... kita harus waspada terhadap siapa pun. Sebaik apa mereka terhadap kita, kita wajib berhati-hati. Harus pintar-pintar pula menjaga jarak. Paham, ya!" ujarku mengingatkan.
"Maksudnya, kita harus waspada dengan siapa saja, Bi?"
"Semua, Tomi ... semua. Tanpa kecuali! Baik dengan Mbak Asri, dengan bapak, dengan Pak Wahyu, dengan siapapun itu yang ada di sekeliling Tomi. Jika ditanyai apapun, atau mengorek sesuatu tentang hubungan kita, kamu harus waspada."
"Hmmm ... tapi, Bi, kurasa semua orang di sini baik sama Tomi."
"Tomi, mengertilah!" Kudekap erat tubuh bocah lelaki itu. Entah kenapa, aku sangat mengkhawatirkan dirinya saat ini. "Percayalah pada Bibi kali ini. Kita jaga rahasia bersama, ya? Omongan ini jangan sampai bocor. Kamu percaya bibi, kan?"
Tomi tak menjawab apapun. Ia hanya ikut mengeratkan pelukannya padaku.
"Kenapa Tomi jadi takut, setelah bibi berkata seperti ini?" ucapnya gamang. Kulepas pelukannya, memegang wajahnya agar menatap padaku. "Dengar, Tomi! Kita harus bersikap biasa saja. Selagi bibi masih ada di sini, kupastikan kamu selalu aman," janjiku.
Tok! Tok! Tok!
Kami berdua terhenyak saat suara pintu diketuk. Kembali kurapatkan telunjukku ke bibir, agar Tomi menurut untuk diam saja. Pintu kembali bersuara. Segera aku berjalan mendekat, membuka pintu sambil melihat siapa yang ada di balik sana. Rupanya, Asri!
"Oh, ada ibu. Pantas pintunya dikunci," ujarnya sambil tersenyum.
"I-iya. Tadi benahin tali bra, copot. Jadi, kututup sebentar."
"Oh, iya, Bu. Tomi sudah bangun, ya, Bu? Ya sudah. Saya balik lagi ke dapur." Hampir saja ia melangkah pergi, kutarik lengannya pelan sehingga ia kembali berbalik. "Ya, Bu. Ada apa?"
"Setiap pagi kamu yang bangunin Tomi?" pancingku.
"Tidak, Bu. Biasanya Pak Lurah yang bangunkan," jawabnya datar.
"Lho, kok kamu tahu kalau malam tadi bapak gak tidur di sini?" tanyaku lagi.
Kali ini Asri terdiam. Ia tampak gugup. Aku sendiri bergeming di tempat, menanti jawaban apa yang terlontar di mulutnya. Sedangkan mataku masih awas menatap kutek merah di kuku kakinya ....
(bersambung)
Diubah oleh shirazy02 15-12-2019 14:36
mmuji1575 dan 9 lainnya memberi reputasi
10
Tutup