Kaskus

Story

mahadev4Avatar border
TS
mahadev4
TEROR HANTU DEWI
Cerita ini adalah murni fiksi dan imajinasi saya semata, ini adalah Cerita Horor pertama yang saya buat, maka jika banyak kekurangan disana sini saya mohon maaf dan sangat berharap kritik dan sarannya. Dan Kisah ini saya persembahkan Untuk Novia Evadewi, yang novel horornya sederhana namun begitu mencekam nuansa horornya.

Cerita ini saya beri judul "Teror Hantu Dewi", selamat membaca.

=====================================


Daftar Lengkap serinya :


Prolog

Part 1 Malam Jahanam

Part 2 Penantian Mencekam

Part 3 Geger Mayat Dewi

Part 4 Penguburan Mayat Dewi

Part 5 Teror di Tumah Tua

Part 6 Teror yang Berlanjut

Part 7 Pembalasan Dewi

Part 8 A Hantu Dewi Meneror Lagi

Part 8 B Hantu Dewi Meneror Lagi

Part 9 A Geger di Makam Dewi

Part 9 B Geger di Makam Dewi

Part 9 C Geger di Makam Dewi

Part 9 D Geger di Makam Dewi

Part 10 Menguak Tirai Gelap

Part 11 Keris Kiayi Pancasona

Part 12 Pertarungan Terakhir (Tamat)

=============================

TEROR HANTU DEWI
Diubah oleh mahadev4 31-05-2022 17:52
Hedon.isAvatar border
redricesAvatar border
sampeukAvatar border
sampeuk dan 38 lainnya memberi reputasi
35
27K
192
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.7KThread52.2KAnggota
Tampilkan semua post
mahadev4Avatar border
TS
mahadev4
#40
TEROR HANTU DEWI – Part 5
TEROR DI RUMAH TUA
By Deva

Sore itu Pasar Wahono sudah mulai sepi dari pembeli, para pedagang pun mulai berbenah untuk pulang, beberapa Toko sudah sejak tadi tutup, sementara di ujung Pasar Wahono seorang pedagang bakso tampak masih sibuk melayani pembeli, hampir setiap hari baksonya selalu ramai, selain memang bakso yang disajikan murah meriah, rasanya yang enak, juga pedagangnya, Mas Mijan adalah orang yang ramah kepada siapapun yang mampir membeli baksonya.
Di salah satu meja ada dua orang sedang duduk, salah seorang wajahnya merah karena kepedesan.
"Ini pedes bener sambelnya," kata lelaki yang mengenakan ikat kepala berupa semacam slayer warna hitam.
"Sama kok, Mas. Saya membuatnya seperti hari-hari kemarin, gak ada bedanya, Masnya mungkin yang menuangkan sambal terlalu banyak."
Yang seorang lagi tangannya besar dan berotot, ada seperti tato Naga yang melingkar di lengannya, "Bakso saya mana nih, lama amat buatnya."
"Sebentar, Mas, ini saya sedang buatkan, harap maklum karena antriannya memang banyak."
Tak menunggu lama Mas Mijan si pemilik gerobak bakso itu datang menghidangkan semangkuk bakso pada pria berotot itu. Ketika dia ingin menyantap bakso yang sudah terhidang dimejanya, ia kaget bukan main karena apa yang dilihatnya di dalam mangkuk bukanlah bakso seperti yang di minta, isinya ternyata gumpalan cacing-cacing bercampur belatung yang ditengahnya terdapat empat buah bola mata berlumur darah segar.
Spontan ia melemparkan mangkuk tersebut kesembarang arah, beberapa pembeli lain yang terkena lemparan itu menjerit, selain kaget juga merasakan panasnya kuah bakso yang mengenai pakaian dan kulitnya.
Mereka cuma mengumpat kecil dan tidak berani melawan, karena hampir semua yang ada disana tahu dan kenal bahwa lelaki berbadan besar dan berotot itu tak lain adalah Ilung, Preman Pasar yang terkenal kejam dan tak punya rasa belas kasihan, orang-orang lebih mengenalnya dengan panggilan Ilung Tato.
"Kurang ajar lo!, dasar tukang bakso sialan. lo mau ngerjain gw hah!" teriak Ilung seraya bangkit dari duduknya.
Mas Mijan yang kebingungan hanya bengong tak tahu harus berkata apa.
Untungnya teman sebelahnya yang ternyata adalah Johan segera menghentikan Ilung, "Sabar Bro, lo napa sih marah-marah gitu."
"Gimana gw gak marah coba, yang dia kasih ke gw itu bukan mie campur bakso tapi cacing, belatung dan bola mata yang di campur dengan darah. Mau cari mati nih tukang bakso."
Beberapa pengunjung yang ikutan menyimak ucapan Ilung pun menjadi bingung di buatnya, karena mereka semua tahu bahwa yang di hidangkan Mas Mijan adalah benar-benar semangkuk bakso dengan mie dan kuah, sama seperti yang di sajikan kepada pembeli lainnya.
"Mata lo tuh kayaknya yang perlu di periksa, coba lo lihat lagi tuh mangkok bakso yang udah lo lempar, bener gak isinya seperti yang lo bilang!."
Kali ini justru Ilung yang kebingungan karena ternyata yang dilihatnya memang bukan cacing, belatung, bola mata maupun darah, tetapi mie, bakso dan kuah yang sama seperti lainnya.
"Dah yuk kita cabut aja."
Tanpa membayar mereka berdua segera keluar dari tenda bakso Mas Mijan, Johan menyalakan motornya, Ilung duduk di bonceng dan mereka langsung kabur dari sana.
Mas Mijan hanya bisa pasrah menerima perlakuan kasar Ilung, mau melawan ia tak punya kemampuan yang bisa menandinginya.
"Sabar, Mas Mijan, setiap perbuatan pasti akan ada balasannya, nanti juga kena apesnya tuh Bajingan,"
Mas Mijan hanya bisa pasrah menerima perlakuan kasar Ilung, mau melawan ia tak punya kemampuan yang bisa menandinginya.
"Sabar, Mas Mijan, setiap perbuatan pasti akan ada balasannya, nanti juga kena apesnya tuh Bajingan," kata seorang perempuan yang kebetulan tadi terkena lemparan mangkuk dari Ilung.
===
Di Markas Yondi sedang menghitung hasil penjualan handphone dan pakaian, hasil jarahan dari Dewi, Ia menjualnya di Pasar Loak di Kota. Ia senyum-senyum sendiri karena hasil penjualannya mendapat cukup banyak uang, belum lagi dengan uang cas yang ia dapatkan dari dalam dompet Dewi, sementara beberapa kartu Identitas dan kartu ATM beserta dompetnya di buangnya di jalan saat dia kembali dari Pasar Loak di Kota.
Terdengar suara motor datang dan berhenti di luar markas mereka, sebuah rumah tua yang tak terpakai lagi, Yondi sudah faham bahwa yang datang itu adalah Johan dan Ilung.
"Dah sampe lo Yon, Gimana hasilnya?," tanya Ilung.
"Lumayan, Bos, malam ini kita bisa pesta minuman sepuasnya, hahahaha," Yondi menjawab sambil mengibas-ngibaskan uang di tangannya.
"Pinter juga lo, gak percuma lo jadi anak buah gw," Ilung lantas mengambil uang tersebut dari tangan Yondi.
"Muka lo kayak abis marah gitu bos, abis ribut sama siapa?" tanya Yondi.
Kali ini Johan yang menjawab, "sama si Mijan, tukang bakso di ujung Pasar Wahono ada-ada aja tuh si Ilung."
"Kok bisa?" Yondi mengambil kursi dan duduk berhadapan dengan Johan, diambilnya sekaleng Bir di meja, membuka dan meneguknya.
"Tadi dia abis ngelempar mangkok bakso yang baru di kasih sama si Mijan, katanya yang dia lihat bukan mie, bakso dan kuahnya, tapi cacing, belatung, bola mata serta darah segar."
"Asu!, maksude?! (Anj*ng!, Maksudnya?!)" Yondi masih belum yakin yang dibicarakan temannya.
"Kok tanya maksudnya, ya itu tadi. Apa yang ada di mangkuk bukan seperti apa yang di lihat Ilung!"
"Jadi isinya beneran bakso?"
"Ya beneran lah. makanya gw langsung ajak dia cabut aja ke sini, gw sih ngerasa ada yang gak beres."
Yondi tampak berfikir keras, sementara Johan hanya duduk santai sambil menikmati sekaleng Bir dengan sebatang rokok mild di tangannya.
Ilung seakan tak peduli pada obrolan dua anak buahnya, ia hanya fokus pada banyaknya uang yang kini tengah ia hitung ditangannya.
"Asu. Nginum mung seteguk wis kebelet nguyuh ngene, aku ning buri sek, (Anj*ng. Baru minum seteguk sudah kebelet kencing begini, gw kebelakang dulu)"
tanpa menunggu jawaban dari Johan dan Ilung, Yondi langsung beranjak ke belakang rumah kosong itu untuk kencing.
Tak lama ia sudah keluar lagi, " Gw ke depan bentar ya, nyari rokok." Yondi keluar, Johan hanya mengangguk dan kembali meneguk kaleng minumannya.
Tiba-tiba dari arah belakang terdengar teriakan Yondi, "Woi bagi rokok dong, kayaknya gw mau sekalian boker nih!"
Uang di tangan Ilung terlepas, sementara Johan langsung tersedak minuman, mereka sangat kaget, bukan karena suara teriakan Yondi, tetapi karena mereka lihat sendiri tadi, Yondi pamitan keluar mau beli rokok.
Mereka berdua saling berpandangan. Kalau ternyata yang teriak di belakang itu adalah Yondi, lantas tadi yang pamitan beli rokok siapa?
Ilung memberi kode kepada Johan untuk memberikan rokok yang diminta, dengan perasaan yang mulai tidak enak ia mengambil sebatang rokok dari kotak rokok mildnya, lalu berjalan kebelakang.
Sesampainya, di pintu WC ia tertegun, " Lo beneran Yondi kan?"
"Dah cepetan mana rokoknya!"
Sesosok tangan keluar dari dalam pintu, memang itu tangan Yondi.
Johan memberikan korek dan rokok pada Yondi, tangan itu menghilang masuk, Johan berbalik untuk kembali ke ruang depan ketika tiba-tiba terdengar teriakan Ilung, "Asu Kowe! kowe Demit yo?(Anj*ng kamu!, Kamu Setan?)"
Johan hendak melangkah ketika tiba-tiba dari arah pintu ruang tengah nongol wajah Yondi, "Ada apa sih, kok Ilung melihat gw sudah kayak melihat setan aja?"
Kali ini ganti Johan yang teriak melihat Yondi, lantas ia berbalik memandang WC. Ia berjalan pelan mendekati pintu WC, dari dalam terdengar seperti suara air yang di ciduk dengan gayung.
"Yondi.. ," panggil Johan.
Yondi yang masih berdiri di depan pintu teriak,"Woi gw disini!"
Karena tak ada jawaban, sambil menahan takut yang sudah mulai menguasai dirinya Johan lantas mendobrak pintu WC.
Tidak ada siapa-siapa didalam. suasana menjadi hening, sampai lamat-lamat terdengar suara Adzan Maghrib, suara Adzan dari Musholla Nurul Falah, Johan terjatuh dan terduduk lemas, nafasnya memburu dan wajahnya sudah sepucat kapas.
Kini ia sadar bahwa dirinya dan Ilung baru saja dikerjai sosok.. Hantu.
==========
Diubah oleh mahadev4 18-12-2019 09:10
axxis2sixx
redrices
sampeuk
sampeuk dan 17 lainnya memberi reputasi
18
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.