Kaskus

Story

dissymmon08Avatar border
TS
dissymmon08
AKHIR PENANTIANKU (JILID IV) [18+] [TRUE STORY]
SELAMAT DATANG AGAN SISTA


Halo! emoticon-Hai

Gue ucapkan terima kasih yang teramat sangat terhadap dukungan dan apresiasi agan sista untuk tulisan gue di JILID IIIsebelumnya. Setelah merenung dan mencoba membuka kembali memori lama gue, akhirnya gue mendapatkan khilal gue. Sekarang gue udah siap untuk menulis kelanjutannya, yaitu JILID IV!

Kali ini gue masih menceritakan tentang kisah cinta gue, yang pada cerita sebelumnya masih berkutat di Kampus. Gue yang di kisah kali ini sedang mendekati akhir perjuangan di Kampus pun akan menjalani tahap baru, dimana gue akan bertemu dengan dunia kerja dan dunia nyata. Bakalan banyak konflik di diri gue ini, ketika gue yang tengah mencari jati diri ini dihadapkan dengan kenyataan bahwa hidup itu benar-benar penuh lika liku. Saat kita salah memilih jalan, ga ada putar balik, kita harus terus menjalani dan menghadapinya seraya mencari solusi terbaik atas pilihan kita itu. Dan kesabaran menjadi kunci utama segalanya, buat gue.

Masih dengan gaya menulis gue yang penuh strong language, absurd-nya hidup gue, kebodohan gue dalam memilih keputusan, pengalaman hidup lain, dan beberapa kali akan nyempil ++-nya, jadi gue masih ga akan melepas rating 18+ di cerita gue kali ini. Mungkin akan ada beberapa penyesuaian penggunaan bahasa atau panggilan yang gue lakuin di sini, demi kenyamanan bersama. Semoga ga merusak ciri khas gue dalam menulis! Amiiin.

Dan gue berharap semoga agan sista tetap suka dan betah mantengin thread ane ini sampe selesai! emoticon-Peluk

Oh iya, kalau misalnya agan sista belum baca cerita di JILID III atau mau refresh kembali cerita saat itu, monggo mampir ke LINK INI.


AKHIR PENANTIANKU (JILID IV) [18+] [TRUE STORY]


Spoiler for INDEX:


Spoiler for MULUSTRASI:


HT @ STORY

AKHIR PENANTIANKU (JILID IV) [18+] [TRUE STORY]

Alhamdulillah berkat supportdari agan sista, thread ane ini jadi HT! emoticon-Malu
Terima kasih banyak ane ucapin buat agan sista yang udah setia nunggu update-an cerita-cerita ane.
Semoga tulisan ane bisa terus lebih baik dan bisa menyajikan cerita lebih seru buat dibaca agan sista!

emoticon-Peluk emoticon-2 Jempol emoticon-Kiss


Spoiler for PERATURAN:


Quote:
Diubah oleh dissymmon08 30-12-2019 07:57
pulaukapokAvatar border
bukhoriganAvatar border
ezzasukeAvatar border
ezzasuke dan 49 lainnya memberi reputasi
50
134.5K
1.6K
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.9KAnggota
Tampilkan semua post
dissymmon08Avatar border
TS
dissymmon08
#857
KISAH TENTANG F: INIKAH 'CINTA TERBAIK'? (PART 02)


Untuk mempermudah komunikasi dengan gue, sebelum berangkat ke Pulau Pramuka, Bang Firzy mengajak gue ke Kota untuk beli handphonebaru. Gue akhirnya ngebongkar tabungan gue yang selama ini gue simpen dan ditambah uang dia untuk beli handphone android buat gue. Biar bisa mempermudah komunikasi kami katanya sih. Dia mungkin mulai lelah sms-an sama gue dan cuman bisa chat pas gue udah make laptop.

Bang Firzy pun ngajak gue ke mall memilih handphone gue. Tapi karena saat itu masih sangat buta dengan android apalagi iOS, gue pasrah dengan pilihannya Bang Firzy. Dia pun menyarankan gue untuk beli Smartfr*n Andr*max V saat itu.



Sepulang dari Kota, dia membantu gue setting handphonegue mulai dari aplikasi Whatsapp, Facebook, Twitter, hingga Skype. Dia memastikan gue bisa chat maupun video call. Dia juga membantu memasukkan lagu-lagu Visual Kei dan Metal gue, biar ga begitu sepi ini handphone baru katanya. Hahahasyuuu.

“Jangan minder kalo misalnya temen-temen kamu pada pamer handphone Sams*ng atau Blackb*rry yang dibeliin bokap nyokap mereka yak... Lu harus bangga sama ini handphone karena ini handphone lu beli make uang lu sendiri! Gue tambahin dikit sih. Tapi jangan bilang dibeliin sama gue oke? Gapapa handphone-nya cuman Smartfr*n begini. Lagipula ini handphone bagus kok spesifikasinya. Oke?” kata Bang Firzy sebelum dia pulang ke kosan dia.


XOXOXO


Gue dan rombongan kelas gue udah hampir sampe di Pelabuhan Muara Angke. Kami berangkat dari jam 4 pagi dari Kampus dan akhirnya sampe di Pelabuhan Muara Angke sekitar jam 7 pagi. Panitia praktikum lapang dan Kak Ami langsung ngurus kapal yang ingin disewa beserta pembagian di dalam kapalnya. Gue dan rombongan lainnya menunggu di dalam bus dan ada beberapa orang juga yang keluar cari sarapan di sekitar pelabuhan.

Setelah nunggu kurang lebih 30 menit, akhirnya kapal yang bakalan mengangkut kami pun siap. Kami naik ke masing-masing kapal yang udah ditunjuk. Ga lupa, di tiap kapal ada panitia praktikum lapang dan Asisten Lapang-nya sendiri-sendiri. Termasuk kapal gue yang di dalemnya ada Crocodile lengkap. Harusnya sih cukup 2-3 Asisten Lapang aja yang ikut sama kami, tapi malah ada tambahan Bang Irfan ikut juga di dalemnya. Jadinya Asisten Lapang di kapal kami agak berlebih.

Kenapa nambah Bang Irfan? Ya karena ada Debby lah! Masih kesel banget gue ngeliat Bang Irfan yang jadinya ikut praktikum lapang kami. Udah gitu, bukannya dia berbaur dengan yang Asisten Lapang yang lain atau minimal sama Kak Ami, Bang Benu, sama Bang Teguh. Bang Irfan malah fokus sama Debby yang kebetulan mabok laut dan ketakutan naik kapal. Di bus tadi, Bang Irfan pun ga satu bus sama Kak Ami dkk. Dia lebih milih bareng bus kami dan duduk sebelahan sama Debby karena Debby mabok darat. Jadi fokus dia ya HANYA bikin Debby nyaman. SELALU Debby terus yang dipikirin sepanjang ngurusin praktikum. DIA ASISTEN LAPANG APA ASISTENNYA DEBBY??? Maapkeun gue yang kebawa emosi! Hahaha.

“HEH BANGS*T, EMANG LU KALO ADA BANG IJA BAKALAN PROFESIONAL???” Mungkin itu yang dipertanyakan sama orang-orang kalau misalnya gue ngotot mau ngajak Bang Firzy.

Walopun terkadang ada keinginan untuk memasukkan tangan ke celana satu dan lainnya di tiap kesempatan dalam kegelapan (Ini sumpah pernyataan yang bangs*t banget! Hahaha. Becanda gaes! Wkwkwk.), tapi (insya Alloh) kami bisa professional. Bang Firzy bakalan gue suruh naik bus dan kapal bareng Kak Ami dkk. Ga melulu harus bareng sama gue. Kenapa? Ya karena dulu sebelum ada Bang Firzy, GUE SELALU BISA SENDIRI kok. Kenapa pas ada Bang Firzy, gue jadi HARUS DIAWASIN SAMA DIA TEROOOS? Lu kata gue jemuran, diawasin biar ga dimalingin tetangga! Hahaha. Bang Firzy pun ga akan emosi atau ngebenci siapapun, asal dia ga digesek dan gue ga dibikin nangis. Itu doangan kok.

Tapi orang-orang (karena entah lebih mengenal atau atau karena punya salah sama dia) udah suudzon duluan aja ke Bang Firzy. Jadi bawaannya tuh ‘NANTI DIA BAKALAN NGERUSAK ACARA KITA!’ atau ‘NANTI DIA BAKALAN NGADU DOMBA KITA!’ atau mungkin ‘NANTI DIA NGEW* TERUS SAMA EMI!’! Yang terakhir boleh juga sih. Wkwkwk. Percayalah, kami bisa professional kok. Tapi fakta berkata lain, Bang Irfan yang ikut dan Bang Firzy ada di Kantor dia sambil ngamuk-ngamuk. Hmm.

Kurang lebih 4 jam perjalanan, akhirnya gue dan rombongan sampe di Pulau Pramuka. Sesampainya di daratan, kami segera berjalan kaki menuju penginapan yang udah disediakan untuk kami yang letaknya ada di sisi lain pulau. Jadinya kami harus berjalan crossingpulau, melewati rumah-rumah penduduk. Kak Ami mengingatkan untuk menjaga sopan santun dan jangan mengganggu ketenangan warga sekitar.

Jam 11.30 kami sampai di depan penginapan kami. Penginapannya dibagi menjadi 3, yaitu MES cewek, MES cowok, dan MES Asisten Lapang. Kami pun masuk ke dalam MES-nya masing-masing. Kak Ami minta kami semua istirahat sampai jam 3 sore nanti sebelum saatnya kami observasi lapang dan wawancara masyarakat sekitar. Sedangkan bagi para cowok yang muslim, ga lupa diingatkan untuk berangkat ke Mesjid untuk melaksanakan Sholat Jum’at.

Gue ngebuka handphone baru gue. Hahaha. Sepanjang jalan gue udah sibuk mempelajari handphone gue sih. Cuman percuma, sepanjang di kapal ga ada sinyal sama sekali baik sinyal Smartfr*n maupun Ind*sat saat itu. Gue sempet kepikiran beli Telk*msel, tapi ya nanti aja di pulau. Alhamdulillahnya, ternyata ada sinyal untuk Smartfr*n-nya. Maklum, paket internetnya saat itu emang Smartfr*n.

Gue ngebuka aplikasi Whatsapp gue.

Quote:


Gue ga bales lagi chat-nya Bang Firzy dan tiduran di kasur yang udah disiapin. Kami tidur barengan di satu ruangan yang sama dengan kasur yang jumlahnya setengah dari jumlah cewek. Jadi masing-masing cewek, kasurnya berdua. Gue tidur sama Lidya. Depi tidur sama Wulan. Debby tidur sama Ratu. Sinta tidur sama Dwi. Pas, karena kami ceweknya berdelapan di satu gank, jadi ga ada tuh masalah atau ribut-ribut. Sedangkan ganklain yang jumlahnya ganjil jadinya ribut. Biasa, gank cewek semua kan begitu. Hahaha. Ga usah tanya yak Bimo bakalan tidur sama siapa di MES cowok. Hehehe.

Sambil istirahat, gue mutusin buat nyicil laporan gue. Gue juga minta bahan-bahan yang gue tugasin ke anak-anak kelompok gue buat gue coba baca-baca dulu sebelumnya. Sekalian gue nyusun pertanyaan buat wawancara nanti. Anak sekelompok gue soalnya lebih milih tidur siang dan main handphone daripada ngebahas ini sama gue. Makanya gue kerjain duluan sendirian deh.


XOXOXO


Hari udah malam, saat itu udah menunjukkan jam 9 malam. Kami semua baru aja beres sharing sessiondengan petinggi wilayah setempat. Kak Ami minta kami segera tidur biar besok praktikum lapangnya udah bisa dimulai lebih pagi. Kasian kalau kami kepanasan di laut katanya.

Gue memutuskan untuk teleponan dulu sama Bang Firzy. Anak-anak Crocodile udah senyam senyum aja ngeliat gue teleponan. Soalnya biasanya kan gue pasti ngeluh karena handphone lama gue ga bisa teleponan lama dan kalau udah diajak jalan jauh dikit suka ilang sinyal akhir-akhir ini. Tapi sekarang gue teleponan sama Bang Firzy make handphone baru gue dan tanpa kendala sama sekali. Biasa lah, cengcengan barang baru, “ECIYEEE! INJEK DULU BISA KALIII!” Yakali handphone diinjek! Bangkek!

Tapi tiba-tiba ada kejadian di sudut lain ruangan MES cewek. Raina, salah satu teman sekelas kami yang kebetulan adalah aktivitis lingkungan, abis disindir sama Anggi dan gank-nya. Mereka menilai Raina nyusahin kelompok Anggi karena Raina ga pernah mau turun ke lapang kalau dia belum sempet dandan dulu. Mungkin Raina harus total begitu karena dia suka make-up atau karena dia harus selalu mendokumentasikan kegiatan dia di sosmed sebagai bentuk nyata peduli lingkungan. Jadi dia harus tampil oke. Tapi ya kalau bisa, ga harus sampe nyusahin kelompok lah dengan minta kelompoknya nungguin dia dandan dan bikin kelompok mereka tertinggal dari kelompok lainnya. Kalau emang mau dandan, mbok ya siap-siap lebih dulu atau ya ga usah dandan aja sekalian.

Gue dan Bang Firzy yang denger percakapan mereka malah memilih diem sambil terus nguping apa yang mereka ributin. Tapi karena Bang Firzy mulai bacot komen entah apaan aja, akhirnya gue keluar MES cewek dan jalan-jalan iseng di sekitaran MES.

“Lu kebanyakan bacot, Su! Ga enak kedengeran sama anak-anak entar.”

“Gue diomongin sama anak sekelas lu, berarti lu enak-enak aja?”

“Ya kagak lah, gila kali lu!”

“Yaudah, biarin aja padahal tadi pada ngedengerin. Lagian kegatelan amat mesti dandan segala buat turun lapang? Kayak ada yang nyangkut aja entarnya? Lu tuh mesti berbaur sama masyarakat sekitar, terus mesti panas-panasan juga, kalo dikit-dikit mesti dandan itu namanya ngerepotin kemaslahatan dunia persilatan!”

“Iyaa sih. Mudah-mudahan besok dia mau mikir deh. Oh iya, besok aku nyemplung ke laut buat cek kondisi perairan di sana dari bibir pantai sampe tubir.”

“Kamu yang mesti nyemplung? Ga sendirian kan?”

“Ya mau sama siapa? Kan yang jagain di pantai 1 orang, 3 orang sih mestinya turun. Tapi 2 orang yang ngebantuin aku itu mau ga tenggelem dikit sampe tubir? Nanti mukanya kecelup dikit minta balik ke pinggir lagi.”

“Dalemnya itu paling sampe 1,5 meter doangan kok yank. Kamu masih bisa loncat-loncat dikit kalo mau napas.”

“Iyee, makanya. Mudah-mudahan aje yak.”

“Ati-ati yak… Jangan lupa diiket badannya sama tambangnya biar ga hanyut.”

“SIAP BAPAK KOMAN---”

Gue menghentikan langkah gue ketika gue ngeliat dua orang lagi duduk gelap-gelapan di saung sambil menghadap ke pantai.

“Kenapa kamu?”

“Psst! Bacot!”

“Liat setan yak lu?”

“DIEM DIKATA! BACOT BENER LU?” bisik gue. Gue pura-pura duduk di salah satu bangku kayu yang ada di pinggir jalan, tepat di seberang pantai tempat mereka duduk. Gue kayaknya tau siapa yang lagi gelap-gelapan ini. Tapi gue males nyapa mereka.

“Akhirnya kita punya kesempatan liburan berdua begini, makasih yah sayang udah mau jagain aku sampe perjuangin ikut aku kesini.” kata si cewek sambil nengok ke arah si cowok.

“BENER KAN ANJ*NG! INI EMANG BENERAN REKAYASA!” kata gue dalem hati. Si cewek itu ya si Debby dan si cowok siapa lagi kalau bukan si Bang Irfanda. “Bang Irfan pasti udah tau dan udah bilang sama Debby kalau Bang Firzy yang bakalan berangkat hari ini! DAN DIA MAKSA PAK FERDI BUAT NGEGANTIIN BANG FIRZY DENGAN ALESAN MASIH BERKECIMPUNG DI KAMPUS! TYTYD LEUTIK BANGS*T! TUJUAN LU ITU BUKAN MAU NGEDAMPINGIN KAK AMI ANJ*NG! LU ITU CUMAN PENGEN NGURUSIN SI DEBBY AJA!”

Gue langsung melanjutkan jalan kaki gue dan duduk di teras depan MES cewek. “Yank? Masih mau teleponan ga sih?” tanya Bang Firzy dari sebrang telepon.

“Masih yank.”

“Kenapa tadi? Kok diem aja?”

“Gapapa yank…”

“Boong.”

“Yaudah kalo ga percaya, kamu sini buruan.”

“Kalo aku berangkat besok, cape doangan yank. Mau emang kamu pulangnya Senin?”

“Ya ga lah. Ngapain?”

“…” Gue terdiam sambil inget lagi kejadian yang barusan terjadi. “Hmm. Yank, kalo misalnya kamu ikut, kamu bakalan jagain aku terus kah?”

“Kenapa nanya begitu?”

“Jawab aja dulu…”

“Selama ini kamu bisa jaga diri kamu sendiri. Kenapa mendadak minta dijagain aku? Emang kamu abis diapain sama orang?”

“Gapapa… Jawab aja dulu.”

“Ya aku sih cuman mantau kamu aja… Aku tau kamu mandiri dan kita SELALU ribut cuman karena aku yang suka khawatir sama kamu. Kamu aku tinggalin aja malah pulang sendiri sehat walafiat. Jadi apa yang mesti aku khawatirin? Aku ga akan sok jagain kamu kalo emang ga begitu penting. Kenapa? Abis liat Debby sama Irfan pasti ini?”

“Mereka mesra-mesraan seeeeepanjang hari. Satu bus, duduk sebelahan. Satu kapal, pangku-pangkuan. Mereka tadi pas sharing session duduk sebelahan. Padahal harusnya Asisten Lapang kan duduk di depan, eh ini malah duduk bareng praktikan di belakang. Sekarang MES nya sebelahan, eh malah pacaran terus.”

“Kalo sekarang mereka pacaran, aku ga mau komen sih. Soalnya kita pasti bakalan begitu yank… Pas semua kegiatan udah beres, ya aku pasti ajak kamu keluar. Tapi kalo yang satu bus, satu kapal, sama pas ada kegiatan barengan terus. Itu aku yang ga akan setuju. Tujuan ikut buat apa? Dibayarin buat pacaran? Bukannya bantuin Ami, Kiting, sama Teguh, malah sibuk ngurusin cewe sendiri. Ngehe bener!”

“Aku ga mau kesannya aku iri dan jadinya menghasut anak-anak buat bete sama dia kalo cerita sama anak-anak.”

“Ya ga usah cerita sama temen-temen kamu. Biarin aja mereka yang ngerasain sendiri terus curhat deh sama kamu…”

“Iya yank…”

Kami pun melanjutkan perbincangan kami sampe kira-kira 1 jam. Gue berenti teleponan pas Debby pulang ke MES cewek dan nyuruh gue udahan karena katanya gue pacaran terus. Dia bahkan ngerebut handphone gue buat ngomong sama Bang Firzy. Entah apa yang mereka obrolin saat handphone gue diambil sama Debby. Dia kabur dan pergi entah kemana. 10 menitan mereka teleponan sampe akhirnya pulang dan Debby kasih handphone gue ke gue sambil senyum-senyum.

“Katanya Kak Ija gini masa ‘Met bobo Debby…’ terus pas gue suruh dia mau nitip salam sama lu apa ga? Eh dia ga mau… Ati-ati ah, Mi. Pacar lu masih kegatelan sama cewe laen.”

Gue nerima handphone gue dan terdiam. Berasa nyesek dan kesel dengan omongan Debby saat itu. Mau nangis dan ngamuk-ngamuk banget rasanya. Dia yang bikin cowok gue ga bisa ikut, dia yang ngegodain cowok gue, dan dia yang bilang kalau cowok gue kegatelan? Otak dia digadein apa gimana? Ya Alloh rasanya kesel banget pas itu.


XOXOXO


“Seriusan Kak Nur??? Kakak ga ngerti identifikasi lingkungan???” Gue nengok ke arah Runi. “Terus kamu ga bisa foto di dalem air? Kamu ga kuat ngebuka mata di dalem air, Run????”

Gue liat Kak Nur dan Runi mengganggukan kepala mereka dengan ekspresi bersalah. Gue mengurut kening gue. “Demi apa… Kenapa ga bilang dari kemaren atau semalem? Aku bisa ajarin Kak Nur buat identifikasi lingkungannya kan…” Gue nengok ke arah Runi, lagi. “Terus harusnya kan kamu Run, harusnya kamu bawa kacamata renang.”

“Aku lupa bawa, Mi.” jawab Runi.

“Jadi sekarang cuman aku doangan nih yang foto lingkungan sama hewannya? Identifikasinya aku? Terus ngukur jarak sampe tubir juga aku?” tanya gue ke mereka berdua.

“Iya, Mi. Boleh ya?” kata Runi.

“Soalnya Hanna lagi dapet, dia jadinya jagain tambang sama barang-barang temuan kita nantinya di pinggir pantai.” jelas Kak Nur.

“Okelah. Biar cepet selesai aja. Ini soalnya udah nanggung banget. Air udah sedada kita dan tinggi kita ternyata sama semua pulak. Tapi kalian bantuin aku yak.” Gue kemudian inget sesuatu. “LHO? KOK BISKUAT COKLAT AKU GA ADA? MANA INI??? TADI KAN AKU TITIP KE KAMU RUN!” kata gue sambil ngeliat tas plastik Runi yang cuman berisi papan jalan, kertas, dan pensil.

“AH IYA, MI, KETINGGALAN!!! MAAFIN AKU YAK!” kata Runi.

Gue diem aja sambil ngeliatin Runi dan Kak Nur. “Aku laper. BANGET. Aku ambil biskuat aku dulu. Kalian berdua tunggu di sini. Syukur-syukur ngerjain duluan gapapa. Aku tadi udah nyatet sama ngitung sampe titik ini. Tinggal lanjutin aja.” Sebelum gue pergi ke pinggir, gue jelasin ke mereka tahap-tahap yang mesti dilakuin. Mumpung belum jauh ke tengah, mending gue balik ambil biskuat gue dulu. Perut kosong dan kecapean, bahaya banget soalnya.

“Bakalan panjang praktikum hari ini pasti.” kata gue dalem hati sambil berenang ke pinggir.

Sepanjang pengambilan data dan sampel selama di air dari pinggir pantai sampe ke tubir, gue yang kerjain semuanya. Mereka gue minta buat pegangin barang-barang dan jagain gue atau catetin ini itu. Oh iya sekalian memastikan biskuat gue ga kena air. Tapi percuma, ujung-ujungnya biskuat gue yang tadinya manis jadi berasa asin banget karena kemasukan air laut. TERUS ENTAH APA YANG BENER DARI SEMUA YANG UDAH MEREKA KERJAIN! Pengen banget ngejerit gue sumpah.


XOXOXO


Setelah setengah hari pengambilan data dan sampel di lapang, sore harinya kami diminta untuk menyusun laporan. Laporan itu nantinya harus dikumpulkan hari itu juga, sebelum Magrib. Karena setelah Magrib udah ga ada praktikum lapang lagi. Malam nanti fullacara perpisahan kelas kami. Jadi, Kak Ami dan seluruh Asisten Lapang ga bertanggungjawab lagi terhadap acara kami setelah Magrib.

Karena gue udah nyicil beberapa bagian laporan, kelompok gue bisa full mengerjakan Pembahasan. Kali ini gue minta Kak Nur, Runi, dan Hanna yang mengerjakan sisa laporannya. Gue cuman ngarahin dan cek hasil laporannya aja setelahnya. Gue mau istirahat dulu. Sumpah panas banget asli di Pulau Pramuka itu!

Sambil nunggu mereka mengerjakan laporan, gue coba chat Bang Firzy. Anehnya, selama gue ninggalin handphone gue di tas seharian ini, ga ada chat ataupun telepon dari Bang Firzy. Gue akhirnya coba chat ulang Bang Firzy via Whatsapp. Chat-nya terkirim awalnya, tapi ga lama gue perhatiin foto Bang Firzy menghilang di display picture Whatsapp-nya.

“Gue mendadak di-block gitu?” tanya gue dalem hati. Gue cek Facebook dan Twitter dia. Seharian ini ga ada satupun update di seluruh sosmed dia. “Kemana si Firzy?” Gue berharap banget bisa dapet sedikiiit aja clue tentang dia ada dimana. Tapi gue ga nemuin dia dimanapun.

“Mi, segini yang kita ngerti… Bisa tolong dicek lagi kah?” tanya Kak Nur sambil kasih laptop dia ke gue.

“Oh oke, Kak…” Gue pastiin kalau Whatsapp Bang Firzy bener-bener ga ada fotonya. Kemudian gue terpikir sesuatu. “Kak Nur, boleh minjem handphone kakak? Nanti abis urus ini, aku cek laporannya.” tanya gue ke Kak Nur.

Kak Nur pun minjemin handphone dia ke gue. Gue masukin nomor Bang Firzy ke handphone Kak Nur. Gue tunggu beberapa saat, kemudian gue ijin ke Kak Nur untuk ngebuka Whatsapp dia. Gue coba search nama Bang Firzy yang udah gue simpen di sana.

Gue kaget dengan apa yang gue temuin.

Whatsapp Bang Firzy muncul dengan display picture yang sama kayak yang sebelumnya. Gue cek handphone gue. Display picture Whatsapp Bang Firzy masih ga ada di Whatsapp gue. Gue pun kembali apus nomor Bang Firzy dan kembaliin handphone Kak Nur.

“Gue beneran diblokir. Kenapa gue diblokir begini?” tanya gue dalem hati. “Firzy pasti punya alesan kuat kenapa nomor gue mesti diblokir begini? Entah apa yang lagi dia mau lakuin malem minggu begini tanpa gue?”
singgihwahyu
namikazeminati
itkgid
itkgid dan 29 lainnya memberi reputasi
28
Tutup
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.