Kaskus

Story

mahadev4Avatar border
TS
mahadev4
TEROR HANTU DEWI
Cerita ini adalah murni fiksi dan imajinasi saya semata, ini adalah Cerita Horor pertama yang saya buat, maka jika banyak kekurangan disana sini saya mohon maaf dan sangat berharap kritik dan sarannya. Dan Kisah ini saya persembahkan Untuk Novia Evadewi, yang novel horornya sederhana namun begitu mencekam nuansa horornya.

Cerita ini saya beri judul "Teror Hantu Dewi", selamat membaca.

=====================================


Daftar Lengkap serinya :


Prolog

Part 1 Malam Jahanam

Part 2 Penantian Mencekam

Part 3 Geger Mayat Dewi

Part 4 Penguburan Mayat Dewi

Part 5 Teror di Tumah Tua

Part 6 Teror yang Berlanjut

Part 7 Pembalasan Dewi

Part 8 A Hantu Dewi Meneror Lagi

Part 8 B Hantu Dewi Meneror Lagi

Part 9 A Geger di Makam Dewi

Part 9 B Geger di Makam Dewi

Part 9 C Geger di Makam Dewi

Part 9 D Geger di Makam Dewi

Part 10 Menguak Tirai Gelap

Part 11 Keris Kiayi Pancasona

Part 12 Pertarungan Terakhir (Tamat)

=============================

TEROR HANTU DEWI
Diubah oleh mahadev4 31-05-2022 17:52
Hedon.isAvatar border
redricesAvatar border
sampeukAvatar border
sampeuk dan 38 lainnya memberi reputasi
35
27K
192
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.7KThread52.2KAnggota
Tampilkan semua post
mahadev4Avatar border
TS
mahadev4
#30
TEROR HANTU DEWI - Part 4
PENGUBURAN MAYAT DEWI
by Deva


Prasetyo berusaha tetap tegar menerima kenyataan pahit, bahwa impian indahnya menikahi Dewi harus musnah tak bersisa hanya dalam hitungan hari, sejak dia dan Ayahnya, Pak Suharno, resmi melamar Dewi pada kedua orang tuanya, semua persiapan sudah dirasa sempurna, hanya tinggal lagi menunggu kembalinya Dewi dari Jakarta.

Namun Untung tak dapat di raih, malang pun tak dapat di tolak, Peristiwa keji pemerkosaan dan pembunuhan pada calon istrinya itu benar-benar menorehkan luka yang sangat dalam. Begitu perih. Terkadang timbul keinginan untuk juga mengakhiri hidupnya, namun fikiran warasnya masih lebih kuat sehingga ia berhasil menepis fikiran-fikiran konyol itu dari angan-angannya.

Selama berada di rumah Dewi, Prasetyo masih cukup kuat untuk tidak meneteskan airmata, namun kini di kamarnya sendiri, mana kala ia menatap foto kekasihnya yang tergantung di dinding kamarnya, ia tak sanggup lagi membendung airmatanya yang sejak tadi ia tahan.

Lamunannya buyar saat ada telpon via Whatsapp berdering di smarthphonenya. Diliriknya siapa yang menelponnya malam-malam begini. Bagus Wicaksana.

“As Salaamu ‘alaikum” terdengar ucapan salam dari seberang sana.

“wa’alaikumus Salaam, Gus. Lapo loen mbengi-mbengi telpon, garai kaget ae (ngapain malam-malam telpon, buat kaget aja)”

“Halaah.. Koyo karo sopo ae koen. Lha piye kabare awakmu. Sido tha koen kimpoi karo sopo kuwi, tunanganmu, Dewi kan (Kayak sama siapa aja sih kamu ini, trus gimana kabarnya kamu, jadi menikah dengan siapa ya itu, tunanganmu, Dewi)?”

“Ra sido, Cak (Gak jadi)”

“lha ngopo Cuk! Koen jare wis tunangan. Koen selingkuh tah? (lho kenapa, Sial! katanya kamu sudah bertunangan, kamu selingkuh ya?)”

“Asu!!. Dudu selingkuh. Tunanganku meninggal (Anj*ng!! bukan selingkuh, tunanganku meninggal)”

“Jancuk! Ojo becanda lah! Iki aku karo Rusdi wis siap-siap mabur merono… (Sialan! jangan bercanda dong, ini aku sama Rusdi sudah siap-siap terbang kesana...)”

“Yo opo aku ngapusi koen, gak ono untungi blas, Demit! (Ngapain aku bohongi kamu, gak ada untungnya, Setan!)."

“Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun. Aku karo Rusdi melok berduka cita. Yen ora ono halangan lusa aku lan Rusdi berangkat merono (aku sama Rusdi turut berduka cita, kalau gak ada halangan lusa aku dan Rusdi berangkat kesana).”

“koen adoh-adoh songko Suroboyo mereno arep opo, Gus. Aku toh wis batal nikahi Dewi (Kamu jauh-jauh dari Surabaya kesini mau apa, Gus. lagipula aku sudah batal untuk menikahi Dewi).”

“Wis ta lah. Ojo kakean omong cocotmu, enteni ae, aku pasti tekan mrono. Wis yo. Pulsaku entek iki. As Salaamu’alaikum, Su! (Sudahlah, jangan kebanyakan ngomong mulutmu, tunggu saja, aku pasti sampai sana. sudah ya, ini pulsaku habis. As Salamu'alaikum, Nj*ng”

Belum sempat Pras menjawab salam Bagus, telpon sudah di tutup, untuk sejenak Pras bisa mengalihkan rasa pedih dihatinya saat berbincang dengan sahabatnya, Bagus. Bagus dan Rusdi ia kenal saat dulu mondok di salah satu Pesantren di Jawa Timur. Walau mereka sudah lulusan, tetapi persahabatan mereka tetap akrab.

Diliriknya jam di dinding kamarnya. Pukul 3.30 menit. Lamat-lamat ia mendengar suara Tarkhim di kejauhan.

Bergegas Pras menuju dapur untuk mengambil air wudhu, sudah menjadi kebiasaannya setiap sepertiga malam yang akhir ia akan terbangun untuk menunaikan ibadah Sholat Tahajjud, hal ini sudah di biasakannya sejak ia mesantren dulu.

Gemercik suara air wudhu dari gentong memecah kesunyian suasana, sekilas Pras merasa ada seseorang yang mengamatinya sejak tadi, namun ia tak menggubrisnya, paling juga itu adalah Rina Andini, adiknya, yang ikutan ngantri untuk mengambil air wudhu.

Baru saja Pras selesai berwudhu dan hendak menengadahkan tangan untuk berdoa, lampu dapur tiba-tiba padam, “Rina, jangan bercanda dong. Mas tahu ini bukan pemadaman listrik, tuh lampu ruang tengah masih nyala.”

Lampu kembali menyala, Pras lantas berdoa, belum tuntas ia berdoa kembali lampu padam.

“Rina! Jangan mainin lampu sih. Kayak anak kecil aja. Gak lucu tahu!”, Pras mulai kesal.

Belum lagi Prasetyo melangkah keluar dapur tiba-tiba terdengar sebuah bisikan halus di telinganya.

“Mas Pras.. .”

Seketika Prasetyo berpaling kebelakang, menghadap dimana arah suara itu datang, dan disana ia melihat sesosok bayangan wanita berbaju putih memunggunginya, rambut panjangnya terurai.

“Mas Pras.. .”

“Kamu.. Kamu siapa?,” Prasetyo mencoba sekuat tenaga melawan rasa takut yang mulai merasuki dirinya. Bulu tangannya meremang, ia bergidik ngeri, karena baru pertama ini ia bertemu dengan sosok seperti yang dilihatnya kini, Pras sudah menduga kalau yang kini berdiri membelakanginya adalah… Hantu.

“Kamu lupa padaku, Mas. Aku sangat merindukanmu… .” suaranya lirih, kemudian sosok itu menangis tersedu-sedu.

Kini sadarlah Prasetyo siapa sebenarnya wujud Hantu yang ada di hadapannya,
tak lain dan tak bukan dia adalah.. Hantu Dewi!.

“Astaghfirullaah.. Dewi?.”

Sosok itu tak menjawab, ia masih terus menangis.

“Mas Pras!!,” terdengar teriakan dari pintu antara ruang tengah dan ruang dapur. Suara Rina. Adiknya.

Pras menoleh. Lampu kembali menyala.

“Mas ngapain sih Shubuh-shubuh gelap-gelapan di dapur? bukannya lampunya dinyalain.”

“Eh anu, Rin. Mas tadi abis ngambil wudhu.”

“ngambil Wudhu kok gelap-gelapan sih.”

“Mana Mas tahu, tadi nyala kok, kamu sendiri ngapain jam segini udah bangun? Mau pipis ya?.”

“Yee enak aja, Mau wudhu juga lah. Sekalian pipis hehe,” jawab Rina sambil cengegesan menuju kamar mandi.

Prasetyo lalu menuju kamarnya, menunaikan Sholat Tahajjudnya.

Sambil menantikan adzan Shubuh ia buka Al Qur’an dan mulai membacanya secara murattal.

===

Suara Adzan sudah berkumandang dari Musholla Nurul Falah, Musholla yang ada di Desa Medasari.

Badri dan Barjo pun pamitan pada Sadewo untuk pulang, sekalian Sholat berjamaah di Musholla.

Keduanya berjalan menuju Musholla, berkali-kali mereka menguap karena menahan kantuk, semalaman mereka tidak tidur karena begadang di teras rumah bersama Dewo, dan beberapa teman Dewo lainnya.

Jalan menuju Musholla melewati rumah Pak Suharno, ayahnya Prasetyo.

Badri menatap wajah Sahabatnya, Barjo, kemudian berkata, “Kasihan ya si Pras, padahal hanya tingggal menghitung hari dia akan menikah dengan Dewi, sayangnya taqdir berkata lain.”

“Itulah yang sudah menjadi garisan dari Gusti Allah. Yang namanya Jodoh, Maut dan Rizqi hanya Dia yang menentukan, tugas kita hanya berusaha, berikhtiar. Selanjutnya yang terjadi ya terjadilah, kita harus sabar dan ikhlash menerimanya.”

“Cocotmu iku lo, Jo. Enak ngomonge, mung yo angel di lakoni, gayamu koyo pak ustadz ae.. (mulutmu itu lo, Jo. Enak bicaranya, tetapi sulit dijalaninya, gaya kamu seperti Pak Ustadz saja).”

Barjo hanya tertawa kecil melihat kawannya bicara sambil bersungut-sungut.

Mereka sudah akan melewati rumah Pak Suharno, ketika tiba-tiba Badri menarik temannya Barjo dengan kuat, lantas bersembunyi di balik sebuah pohon besar yang ada di pinggiran jalan, disitu juga tumbuh semak-semak liar sehingga mereka bisa bersembunyi.

“Ada apa sih, Bad?.”

“Aku tadi melihat bayangan orang di belakang rumah Pak Harno, jangan-jangan maling, Jo.”

“Tenane?(beneran?).”

Badri mengangguk sebagai jawaban mengiyakan karena pandangannya kini lurus ke arah samping rumah Pak Suharno.

“Astaghfirullaahal ‘azhiim!!”, seketika Badri istighfar dan mencengkeram pundak temannya dengan kuat, karena apa yang di lihatnya keluar dari sisi samping rumah Pak Harno adalah sosok bayangan berbaju putih, yang menakutkan adalah wajahnya yang pucat pasi serta matanya yang berlubang.

Barjo sendiri sejak tadi sudah menunduk dan menutupkan kedua tangannya ke wajah. Tubuhnya menggigil menahankan rasa takut yang luar biasa.

Sosok bayangan itu melayang dan seakan menuju kearah mereka, Badri berkomat-kamit membaca dzikir apa saja yang teringat olehnya, namun sosok itu terus melayang kearah mereka perlahan, akhirnya karena sudah tak kuat Badri menundukkan kepalanya namun tidak menutup matanya.

Sampai sosok itu berdiri tepat di dekat mereka, tercium aroma kembang Kemboja yang sangat menyengat, Badri melihat kain gaun yang di kenakan sosok itu melayang di dekat mereka, namun tidak lama, karena kemudian sosok itu kembali melayang kearah yang berlawanan dari arah mereka dan menghilang di tikungan jalan.

Badri menghembuskan nafas panjang dan segera berdiri kembali, “Jo, Barjo. Kuntilanaknya sudah pergi, ayo kita segera ke Musholla, sudah Iqamah tuh.. .”

Barjo yang masih berjongkok segera bangun, kali ini yang tercium adalah aroma pesing.

“Asu! Kowe nguyuh nang katok tah? (Anj*ng!, kamu kencing di celana ya?),” tanya Badri.

Walau wajahnya masih tampak pucat pasi, Barjo mengangguk mengiyakan sambil kembali nyengir.

Keduanya membatalkan niat untuk sholat berjamaah, karena pakaian Barjo jelas tak layak lagi untuk di pakai Sholat, lagi pula karena Barjo lah yang paling merasakan takut, akhirnya Badri mengantarkan Barjo pulang ke rumahnya.

Mereka berdua sepakat untuk merahasiakan apa yang mereka lihat berdua tadi, karena kalau sampai tersebar maka Desa mereka akan menjadi geger dengan kemunculan Kuntilanak yang meneror Desa.

Belum lagi jenazah Dewi dimakamkan, malam itu sudah 3 orang yang mengalami berjumpa dengan Hantu Dewi.

Pertama adiknya sendiri, Devi, lalu Pacar sekaligus tunangannya, Prasetyo, dan terakhir Badri dan Barjo, dua orang yang pertama kali menemukan jasad Dewi di gubukan tengah sawah.

Kejadian ini tentulah sudah begitu membuat
geger bagi yang mengalaminya, namun sebenarnya ini barulah menjadi awal saja.

Karena kengerian demi kengerian yang lebih dahsyat dari itu akan segera terjadi.

Sebuah teror berlatarkan dendam kesumat yang membara.

Dewi akan menjadi Arwah Penasaran untuk memburu semua yang ikut andil dalam kematiannya.

Ia akan terus menebar teror.

Teror paling mengerikan dari Hantu Dewi,

karena… Ia akan terus menghantui, sampai pembunuhnya MATI!.

=====================================

Hujan kembali mengguyur deras di Desa Medasari, sedianya hari ini masyarakat Desa itu khususnya warga yang ada di RT yang di pimpin oleh Pak Mangun akan menguburkan jasad Dewi pagi ini, namun semuanya jadi terhambat karena hujan turun begitu deras diiringi kilatan petir yang sambung menyambung.

Beberapa warga yang usai Sholat Shubuh langsung kerumah keluar Pak Purnomo duduk berkumpul di teras rumah Pak Punomo, hujan pagi ini meski turun dengan deras tetapi tidak disertai dengan angin kencang sebagaimana hujan yang turun pada dua malam sebelumya.
Tampak empat orang yang sedang berbincang-bincang di sana.

"Kalau hujan terus begini repot juga, bisa-bisa penguburan jasad Dewi akan tertunda nih," berkata seorang lelaki yang kepalanya botak, tangannya sibuk memijit-mijit rokok kretek di tangannya, lalu menyalakannya dan di hisapnya dalam-dalam.

"Wah ya nggak bisa begitu, To, kejadian seperti ini bukan baru terjadi untuk pertama kalinya, kamu ingat waktu Mbah Saripah meninggal, suasananya ya sama seperti ini, sejak pagi di guyur hujan, tapi aku, Sukirno dan Badri tetap menggali kuburan dan pemakamannya sendiri tidak ada masalah, semua berjalan lancar," kali ini Prayit membalas ucapan Parto.

Disebelahnya Sukirno yang namanya ikutan di sebut-sebut hanya mengangguk-anggukkan kepalanya, seakan membenarkan ucapan kawannya itu.

"Bener itu, Yit, tapi kan walau hujan, gak sederas seperti sekarang, hanya hujan rintik-rintik saja," Parto menghembuskan kepulan asap rokoknya ke udara, ia kembali teringat saat-saat penguburan jenazah Mbah Saripah.

"Justru kalau hujan begini kan tanahnya jadi lebih mudah di gali toh, menurutku malah meringankan bagi yang menggali tanah kuburannya, karena tanahnya tidak keras, seperti waktu kita menguburkan jenazah si Marni dua minggu lalu, hampir setengah harian loh tanahnya kita gali baru bisa di pakai buat menguburkan, karena tanahnya kering, sudah 6 bulan ini kan tidak pernah turun hujan di Desa kita," Hadi ikutan nimbrung, kata-katanya seakan mendukung temannya Prayit.

"Itu juga benar, mudah-mudahan saja hujan akan mereda, yang kutakutkan itu air yang tergenang nanti dalam lubang kuburan yang akan di gali, bisa kerja dua kali kita, ya menggali tanahnya ya sekaligus menguras genangan airnya," Parto menjawab sambil pandangannya menatap lurus kedepan, entah apa yang tengah melintas dalam fikirannya.

"Permisi bapak-bapak, ini kopinya, dan ini ada gorengan singkong", tahu-tahu muncul Devi di sana membawakan empat gelas kopi dan sepiring singkong goreng panas.

“Lha ini dia yang di tunggu-tunggu datang, hujan-hujan begini memang paling mantap makan singkong goreng di temani segelas kopi," kata Hadi, ia membantu Devi meletakkan gelas-gelas berisi kopi itu beserta piring berisi singkong goreng ke atas meja teras.

obrolan mereka terus berlanjut dengan seru, kadang diselingi tawa ringan.

Hanya Sukirno yang tampak tak terlalu buka suara pagi itu, karena hanya Sukirno seorang yang melihat sesosok perempuan berbaju putih dengan wajah yang pucat seakan tak ada rona kehidupan terlihat disana, sosok itu berdiri jauh diseberang jalan, di bawah pohon Tangkil yang tumbuh besar dan rindang, dan yang membuat kecut hati Sukirno adalah karena sosok yang dilihatnya itu wajahnya sangat mirip dengan.. Dewi.

===

Hujan memang akhirnya berhenti sekitar pukul 8 pagi. Prayit, Parto dan Sukirno yang bertugas menggali tanah makam, seperti harapan mereka tanahnya memang menjadi lebih mudah di gali dan tak ada genangan air, hanya saja tanah di sekitar makam yang menjadi becek sisa hujan pagi tadi.

Penguburan jasad Dewi berjalan lancar, dan sebelum mereka pulang meninggalkan makam Ustad Mukhlis berkata, “Alhamdilillaah penguburan Almarhumah Dewi Anggraini binti Purnomo berjalan lancar tanpa halangan, saya mewakili keluarga besar Bapak Purnomo mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas bantuan Bapak-bapak, Ibu-ibu dan saudara-saudara sekalian, mulai dari penggalian makam, memandikan, mengkafani, menyolatkan, sampai mengantarkan Almarhumah ke peristirahatannya yang terakhir, harapan kita semua semoga Allah Swt menerima segala amal baik yang pernah Almarhumah lakukan selama hidupnya, kalau ada dari sikap, tutur kata dan perbuatan yang salah dari Almarhumah pada Bapak Ibu dan saudara-saudara semua saya mohon untuk di maafkan, adapun sekiranya Almarhumah memiliki sangkutan hutang piutang hendaknya segera menghubungi keluarga besar Bapak Purnomo usai pemakaman ini. Dan disini juga saya mengundang Bapak Ibu serta saudara-saudara sekalian untuk meringankan langkahnya menghadiri tahlilan yang akan diadakan mulai nanti malam di Kediaman Shahibul Mushibah, waktunya bakda Isya. Terima kasih.”

Usai menutup dengan salam, Ustadz Mukhlish lalu berdoa dan diaminkan oleh warga yang ikut menguburkan. Selanjutnya mereka pun pulang kerumahnya masing-masing.

Dalam hati mereka semua hampir bisa dipastikan timbul sebuah tanda tanya besar, ada ketakutan yang sengaja tidak mereka utarakan, karena semua tahu bagaimana akhir hidup yang di alami Dewi.

Semua orang juga tahu bahwa dari cerita-cerita yang sudah lama tersebar di masyarakat pada umumnya bahwa orang yang matinya tidak wajar, maka ruhnya akan bergentayangan menuntut penyempurnaan.

Warga juga seakan sudah membayangkan bahwa tentulah Ruh Dewi akan gentayangan mencari siapa yang membunuhnya, dan mereka semua pun berdoa penuh harap, kalau pun Ruh Dewi menjadi Hantu penasaran, setidaknya jangan sampai menakuti dan mengganggu mereka.

Nuansa keresahan itu begitu terpancar di Desa Medasari, kematian Dewi yang tidak wajar itu membuat keadaan di Desa Medasari menjadi begitu mencekam menebarkan aroma kecemasan di hati para warganya.

===
Diubah oleh mahadev4 18-12-2019 09:08
axxis2sixx
redrices
sampeuk
sampeuk dan 14 lainnya memberi reputasi
15
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.