- Beranda
- Stories from the Heart
[cinta. horror. roman] - The Second
...
TS
abangruli
[cinta. horror. roman] - The Second
![[cinta. horror. roman] - The Second](https://s.kaskus.id/images/2019/11/14/10479605_20191114110217.jpg)
“Kamu tidak perlu memilih dia atau aku.
Pilih dia saja.
Tak perlu kamu khawatirkan aku.
Aku cuma minta satu hal.
Maukah kamu sebut namaku dalam doa-doamu?”
***
Chapter 1 – Awal Kisah
Pukul 01.34 dini hari. Aku sendirian di kamar. Duduk tegak lurus dengan pandangan penuh ke layar laptop. Jemari kubiarkan menari di keyboard, mengetik setiap detik kisah hidup yang aku alami. Tentu saja nama-namanya aku pilih yang lebih keren, kota tempat kejadian aku geser beberapa ratus kilometer dari aslinya dan penggambaran para tokoh aku percantik dan perganteng sekian persen. Seolah menjadi kisah fiksi. Padahal tidak. Hanya saja aku tak ingin mereka tahu bahwa itu kisah asli.
Jemariku terus mengetik hingga mendadak aku merasa dingin. Tercium wangi yang khas.
Aha. Dia sudah datang.
“Hai apa kabar..” tanyaku sambil terus menatap layar. Tak perlu menengok agar aku tak tebuai dalam keindahan yang memabukkan. Tapi dari bayang-bayang yang memantul di layar, bisa terlihat siluetnya yang menarik. Suara lembut menjawab terdengar seolah tepat disampingku, padahal dia masih dibelakang, “kangen kamu..”
Tanpa sadar aku tersenyum. Entah dari siapa mahluk itu belajar merayu orang. Teringat beberapa bulan lalu saat dia pertama kali menyapa aku.
***
“Hai..” suara lembut seorang wanita dari belakang. Aku kaget dan segera menoleh. Terlihat seorang gadis menatap mataku dengan ceria. Senyumnya mengembang sempurna memamerkan deretan giginya yang rapi. Kulitnya putih, tubuhnya wangi. Rambutnya lurus sepundak khas remaja yang energik, yang tak ingin gerak geriknya terganggu oleh rambut panjang. Poninya yang aduhai, yang bikin aku terpesona sekian detik menatapnya. Aku memang sangat mudah jatuh cinta pada poni yang menghias kening seorang gadis. Membuat ia terlihat lebih feminin. Bajunya pun casual, kaos pink sedikit ketat dengan celana jeans yang pas di kaki jenjangnya. Sepatu kets warna pink menghiasi ujungnya.
Indah.
Harusnya moment tersebut menjadi moment yang sangat indah. Sayang, keindahan tersebut agak ternoda dengan waktu dan lokasi pertemuan yang tidak tepat. Aku melihat angka digital pada pergelangan tangan.
Pukul 01.20 di pinggir kompleks.
Komplek perumahan? Sayangnya bukan. Aku sedang berjalan melewati komplek pemakaman. Dengan tergesa-gesa karena tak ingin mengganggu keheningan kompleks tersebut. Ini terjadi karena aku harus lembur, pulang malam, sialnya mobilku mogok kehabisan bensin 1 kilometer dari rumah. Panggil ojek online gak bisa gegara handphone yang mati. Terpaksa jalan toh hanya 1 kilometer. Hanya saja aku memang harus melewati pemakaman untuk mencapai rumah. Ya sudah daripada tidur di mobil aku pun memutuskan untuk jalan. Bertekad setengah berlari saat melewati kuburan.
Tapi kini aku dapati bukannya berjalan terburu-buru seperti rencana awal, aku malah sedang mematung memandang seorang gadis. Gadis yang indah tapi di waktu dan background lokasi yang salah.
“Kami jin ya?” aku bertanya sambil tertawa. Berharap ia tertawa dan menggeleng.
Tapi ia hanya tertawa. Renyah. Tawa yang bikin lega, karena jauh dari kesan menakutkan. Masa sih kuntilanak ketawanya bikin gemes gitu.
“Kamu tinggal dimana sih, kok jam segini masih disini..” tanyaku. Pertanyaan bodoh yang seharusnya tak pernah aku lontarkan.
“Aku tinggal disini” jawabnya sambil tersenyum.
Anjay! Aku terdiam, seketika aku bisa merasakan rona hangat dari wajahku seperti terhisap habis dan menyisakan pucat pasi yang luar biasa, “ka.. kamu becanda?”
Ayo mengangguklah! Angguklah!
Sayang seribu sayang, bukannya mengangguk ia malah mengegeleng. Sambil terus tersenyum ia berkata “aku gak becanda, aku memang tinggal disini...”
Seolah belum puas melihat kengerianku, ia perjelas dimana ia tinggal, “itu di pohon kamboja sebelah sana”
Sungguh ingin rasanya kutempeleng bocah kurang ajar itu, seenaknya bikin air pipisku mendadak ingin keluar. Walaupun cantik tapi kalau bikin aku kencing dicelana harus diberi pelajaran. Tapi jangankan menampar, menggerakkan tangan saja aku gagal, “ini prank ya?”
“kalau prank aku pasti pakai kostum pocong atau suster ngesot atau apalah yang serem-serem..” ia terdiam sebentar, seolah sedang berpikir, “atau kamu mau lihat aku berubah pakai kostum itu?”
Aku terdiam bagai lumpuh. Lututku lemas, lidahku kelu.
“Gak lah, aku gak mau kamu takut. Aku begini karena aku tahu selera kamu. Aku tahu kamu suka cewek berponi, aku tahu kamu suka cewek casual, aku tahu kamu suka cewek yang ceria. Karena itu aku menjadi seperti ini...karena aku...”
Terdiam sejenak, “karena aku suka kamu..” jawabnya dengan mata yang luar biasa indah.
Aku ternganga. Aku pasti mimpi. Berdiri mematung di pinggir kuburan dengan sesosok mahluk entah apa yang sedang menyatakan cinta padaku. Ini pasti mimpi.
Mimpi romantis yang sayangnya bergenre horror.
Akhirnya aku merasakan kehangatan dipangkal celanaku. Anjay!
[bersambung]
INDEX
Chapter 2 - Pingsan
Chapter 3 - Rumah Sakit
Chapter 4 - Namaku Danang
Chapter 5 - Namanya Rhea
Chapter 6 - Maudy dan 'Maudy'
Chapter 7 - The Second
Chapter 8 - Konser
Chapter 9 - Bertemu Wulan
Chapter 10 - Rumah Sakit (Lagi)
Chapter 11 - Aku dan Rhea dan Satunya Lagi
Chapter 12 - Menggapai Dirinya
Chapter 13 - Dinner with Rhea
Chapter 14 - Wulan versus Rhea Featuring Vania
Chapter 15 - ..........................
Chapter 16 - Rindu
Chapter 17 - Semakin Rindu
Chapter 18 - Melepas Rindu
Chapter 19 - Maafkan Aku lah Bang!
Chapter 20 - Menusuk Tepat di Hati
Chapter 21 - Seribu Alasan Satu Jawaban
Chapter 22 - Belajar Mencintai
Chapter 23 - Would You?
Chapter 24 - The Show Must Go On
Chapter 25 - Tragedi
Chapter 26 - Mimpi
Chapter 27 - Arti Cinta
Chapter 28 - Sad Session
Chapter 29 - Stories of My Life
Chapter 30 - Dua Puluh Tahun Lalu
Chapter 31 - Who Are You?
Chapter 32 - Mya dan Temannya
Chapter 33 - Tok Tok Tok!
Chapter 34 - Menjelang Pertemuan
Chapter 35 - Wajah Itu
Chapter 36 - Pending
Chapter 37 - Dinner for Three
Chapter 38 - Bla Bla Bla
Chapter 39 - Little Heart
Chapter 40 - This Will Be a Long Nite
Chapter 41 - Story from My Side
Chapter 42 - Story from Vania's Side
Chapter 43 - Deja Vu
Chapter 44 - Permintaan Terakhir
Chapter 45 - One Last Dance
Bonus - Behind The Story [Road to Final Chapter]
Chapter 46 - Reality
Chapter 47 - No More Mr. Nice Guy
Chapter 48 - Shocking Reality
Session 2 - The Second - The Killing Rain
Klik dimari bro untuk lanjut ke Session 2
Enjoy the stories gaesss..
Jangan lupa cendol, subcribe dan shareee yaaaaa...
Ruli Amirullah
Diubah oleh abangruli 21-07-2024 16:25
pulaukapok dan 89 lainnya memberi reputasi
88
52.6K
945
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
abangruli
#84
Chapter 13 - Dinner With Rhea
Aku terbang bersama Rhea. Gila. Tapi inilah mimpi, mimpi yang ternyata bisa dikendalikan. Biasanya Rhea yang ‘menjamu’ aku dengan ilusinya, kini giliran aku yang menjadi ‘tuan rumah’, Aku menoleh pada Rhea, “Kita gak jadi ke Amerika ya. Aku punya tempat yang lebih seru lagi...
Dia menganggukkan kepalanya. Poninya hilang karena hembusan angin kencang yang menerpa wajahnya, Tapi tetap saja terlihat cantik, wajah polosnya seolah pasrah dibawa kemanapun. Dia tak bertanya tentang kemana ia akan dibawa pergi. Sepertinya bisa genggam tanganku saja sudah cukup baginya.
Aku berpikir tentang malam, bulan berukuran besar dan langit luas yang bertabur bintang. Sedetail mungkin untuk menciptakan suatu pemandangan yang luar biasa bagi Rhea. Bahkan beberapa awan tipis pun aku hadirkan di sela-sela langit. Dan kami terbang diantara itu semua. Amazing. Akupun takjub dengan apa yang aku pikirkan.
“Indah... imajinasi kamu jauh diatas ilusiku..” ujar Rhea takjub, “Aku jadi pengen nyanyi mas..”
“Nyanyi apa? Kamu kayak film India aja, dikit-dikit nyanyi...”
“A whole new world...” jawabnya sambil ketawa riang
“Hush! Emangnya ini film Aladdin. Awas lho, jangan nyanyi! Ntar jadi mimpi buruk buat aku.. hahaha...”
Kami tertawa. Sungguh ini benar-benar mimpi yang indah. Aku kemudian mulai menurunkan ketinggian. Dibawah sana terlihat daratan dengan kelokan sungai yang berukuran sedang. sebuah jembatan besi melintas diatas sungai tersebut, jalan raya dengan lampu yang tak terlalu silau namun juga tak temaram terlihat bagai barisan lilin mungil. Beberapa bangunan terlihat. Tapi tak ada yang melebihi 5 lantai. Warnanyapun kalem, putih, kuning gading atau coklat. Tak ada pencakar langit yang angkuh menantang langit, tak ada gedung-gedung berkaca yang seolah narsis memamerkan dirinya. Semua tampak begitu simpel, apik, indah dan resik. Semakin kebawah semakin terlihat pula adanya pohon-pohon rimbun, beberapa mobil yang melintas dengan kecepatan sedang dan bangunan yang berbentuk mirip bangunan benteng tanah liat dari abad pertengahan, “Ini dimana?” akhirnya Rhea penasaran.
Aku tersenyum dan tidak menjawab sampai akhirnya aku bawa Rhea mendarat di lantai 4 suatu bangunan hotel. Dibagian bagian atap itu ada meja-meja bundar untuk 4 atau 2 orang. Yup, ini adalah rooftop alias restoran dengan konsep langit sebagai atap. Aku menggandeng Rhea dan mengajaknya berjalan menuju salah satu meja yang terletak di pinggir. Ada dua kursi disana, lengkap dengan satu buah lilin dengan bunga menghiasi meja. Candle light diner. Aku menarikkan kursi untuknya bagai seorang gentleman.
“Indah sekali mas, ini dimana? Ini tempat imajinasi mas ya?” tanyanya dengan suara pelan seolah tak ingin mengganggu suara dentingan piano yang mengalun entah dari mana. Wajahnya benar-benar terlihat takjub dengan suasana yang aku bangun. Dari tempat kami duduk terlihat jelas pemandangan kota, sungai, jembatan, langit, bintang dan rembulan.
Haha.. puas rasanya bisa membuat sesosok jin terkagum-kagum. Sambil duduk aku menjawab, “Oh bukan, ini ada kok di dunia nyata.. Rhea, selamat datang di Maroko. Negeri Magribi. Ini di kota Rabat dan kita lagi ada disalah satu hotel terbaik di kota ini.”
Rhea tersenyum memandang sekeliling, kagum dengan detail yang aku ciptakan dalam mimpi ini, “mas, please jangan bangun dulu, aku masih sangat menikmati ini semua..”
“Kamu belum pernah ke sini? Kan jin gampang tinggal wush wush...”
“Gak semua jin punya kemampuan wush wush mas... kemampuanku ya di sihir. Ilusi..”
Seorang pelayan datang dan menanyakan pesanan. Aku pesan yang paling mahal, entah apa namanya karena menu yang ada tertulis dalam bahasa prancis. Toh aku bisa menciptakan uang di dompetku untuk membayarnya.
“Bahkan pelayan pun mas hadirkan disini, lengkap dengan menu bahasa prancis..”
“Iya dong, totalitas... hehehe” kataku sambil merapikan serbet diatas meja yang seharusnya aku letakkan di pangkuanku, “Rhea aku mau tanya sesuatu...”
“Kenapa mas?”
“Kamu kenapa suka sama aku?”
“Owh.. masih penasaran ya mas. Hehe..” tanya Rhea sedikit tergelak, “oke.. aku kasih tau ya mas.. mas itu unik. Jujur, mas bukan cowok manusia pertama yang aku sukai dan aku ajak ngobrol. Mas udah yang kesekian...”
“Widih kamu player ya?!” Muke gile, ternyata aku berhubungan dengan jin gaul.
“Begitulah.. Tapi sejak ketemu mas, beda mas.. yang tadinya penasaran malah jatuh cinta..”
“Semua player kan gitu ngomongnya.. biar korban makin terjerat..”
“hahah.. gak mas, mas beneran beda.. kalau cowok lain, begitu aku kenalin diri, malah memanfaatkan aku. Ada dua jenis manusia, yang pertama golongan seneng yang enak-enak dan yang kedua golongan yang seneng uang. Golongan pertama kerjaannya ngajakin gituaaan mulu. Ih ogah, emang eike cewek apaan...” jawabnya lucu dengan muka sok polos. Ini beneran polos atau muka buaya ya? Pikirku.
“Trus golongan yang kedua?”
“yang kedua, biasanya ngajakin aku ke tempat judi. Aku disuruh lihat nomer lah, lihat kartu orang lah. Uh, cape deeh.. emang eike CCTV disuruh ngintip orang mulu..”
Aku ketawa mendengarnya, sungguh jin yang satu ini memang terlihat beda. Gak kayak penampakan jin-jin yang sering aku baca di kaskus. Sepertinya jebolan stand up comedy versi alam gaib. Mungkin ada baiknya suatu saat aku tulis pengalamanku ini biar jadi HT.
“Sebenarnya, Ada juga golongan ketiga mas...”
“Apa tuh?!”
“Golongan homo! Gak tertarik blas sama aku! Mereka lebih seneng sama Edward Cullen yang jadi vampir atau si werewolf! Aiiih.... percuma aku berdandan mirip Bella Swan..”
Aku benar-benar ingin terbahak-bahak mendengarnya. Tapi khawatir jantungku terlalu riang maka aku tahan. Aku tak ingin mimpiku runtuh hanya gara-gara aku terlalu senang.
“Mas.. mas homo ya?!”
Tawaku terhenti mendadak. Anjrit! Tuduhan macam mana pula itu?!, “Eh setan, jangan sembarangan kau ngomong..”
Kini giliran dia yang tertawa lepas, “abis sampe sekarang aku gak diapa-apain.. haha”
“Mau diapain gimana wong tembus mulu! Lu kata gak serem apa liat tangan lu tembus muka gue?!” jawabku dengan muka sok garang.
“Haha.. itulah, mas beda. Mas gak kayak cowok laen. Mas memperlakukan aku selayaknya manusia. Mas membuat aku semakin jatuh cinta setiap harinya..”
“Dan kamu gak kayak jin laen. Coba kamu menampakkan diri sebagai tuyul, pasti aku suruh nyuri uang...” jawabku asal, “trus kamu pikir, bisa sejauh apa sih hubungan kita?!”
Kali ini dia terdiam. Sebersit sedih hadir di wajahnya, “Gak bakal bisa kemana-mana mas. Hubungan kita pun seperti ilusi. Aku bisa aja memaksakan dengan mengambil jiwa mas, tapi itu sama saja mengorbankan mas.. aku gak mau seperti itu..”
Aku menyesal menanyakan hal itu. Wajahnya menjadi sendu. Ah dasar bego. Tanganku reflek bergerak mendekati tangannya yang terletak diatas meja. Menyetuh dan menggenggamnya. Rhea yang tadi tertunduk perlahan mengangkat wajahnya. Ada rona bahagia yang menjalar disana. Ah, senangnya melihat seuntai senyum kembali hadir.
“Andai aku bisa jadi manusia...” ujarnya dengan lirih, terdiam sebentar kemudian melanjutkan “sebenernya sih bisa mas.. tapi konsekuensinya terlalu besar..”
“Apa itu?”
“Aku gak akan mampu bertahan lama. Tak sampai 1 jam, setelah itu aku akan mati..”
Hii.. kasian sekali, “Gak usahlah, kalau gitu kamu gak usah jadi manusia. Ngapain bela-belain jadi manusia tapi Cuma bisa satu jam doang...”
Tiba-tiba suara berat menggema diseluruh penjuru mimpiku, tubuhku pun terasa bergoyang. Aku terkejut. Semuanya tampak bergoyang bagai gempa...
“Mimpi mas runtuh! Ada yang bangunin mas.. ya udah mas, sampai ketemu lagi yaa..” kata Rhea sambil menghilang dengan cepat. Dalam sekejap semua yang aku rancang pun hilang.
“Mas bangun mas... “ terdengar suara wanita sambil menggoyang-goyangkan pangkal lenganku. Ini maksa banget sih orang lagi asyik tidur.Dengan berat aku membuka mata dan menemukan sosok seorang suster disampingku sedang memegang suntikan. Eh gila, bangun tidur langsung mau di joss, “mau diapain sus?”
“Oh ini, suntikan biar mas tenang.. maaf, suntik di pantat ya mas..”
Aku terbelalak.
“Sebentar aja kok mas.. malu ya mas?” tanya suster itu sambil cekikikan, idih centil juga ternyata. Tapi aku tak peduli seberapa centilnya dia. Mataku terbelalak karena melihat sesuatu di ujung sana.
“Sus.. itu..” kataku tergagap. Sosok itu makin mendekat dan semakin jelas. Melayang pelahan mendekati suster tanpa disadari.
Wulan! Itu Wulan! Duh kenapa tuh setan muncul lagi sih?! Gak capek apa tadi malem abis nonton bioskop?! Dengan wajah mengejek Wulan semakin mendekat pada suster akhirnya berhenti. Berdiri tepat di belakang suster sambil menyeringai.
“Sus.. dibelakang sus.. ada set.. set....” kataku sambil berupaya menggerakkan telunjukku.
Suster itu akhirnya sadar apa yang aku maksud, ia terdiam dan wajahnya mendadak terlihat ketakutan. Dengan perlahan ia menengok ke belakang. Menemukan wajah Wulan. Kemudian berteriak. Berteriak hanya satu detik karena tepat di detik kedua dengan gerakan bagai kilat, sosok Wulan seolah tersedot kedalam tubuh suster. Masuk kedalam. Merasuki suster.
Kini aku yang semakin ngeri. melihat wajah suster yang tadi membelakangi ku kini perlahan kembali berputar ke arahku. Damn! Kenapa hidupku jadi mirip film pocong gini seeh!!?
Wajah suster tadi sudah berubah. Pucat dengan mata yang putih total. Semakin gak enak dilihat dengan suntikan berada di tangannya. Kerasukan sambil membawa suntikan. Duh duh.. Kombinasi yang luar biasa. Kenapa sih sambil bawa suntikan? Kenapa gak bawa bunga aja biar romantis? Atau bawa guling biar empuk, atau bawa buah-buahan sambil bilang semoga cepet sembuh.
“Mas Danang... Wulan suntik ya.. hihihihi....” kata suster sambil mulai mengangkat suntikan yang full dengan obat penenang itu.
Anjrit! Jin sakit jiwa!
[Bersambung]
Aku terbang bersama Rhea. Gila. Tapi inilah mimpi, mimpi yang ternyata bisa dikendalikan. Biasanya Rhea yang ‘menjamu’ aku dengan ilusinya, kini giliran aku yang menjadi ‘tuan rumah’, Aku menoleh pada Rhea, “Kita gak jadi ke Amerika ya. Aku punya tempat yang lebih seru lagi...
Dia menganggukkan kepalanya. Poninya hilang karena hembusan angin kencang yang menerpa wajahnya, Tapi tetap saja terlihat cantik, wajah polosnya seolah pasrah dibawa kemanapun. Dia tak bertanya tentang kemana ia akan dibawa pergi. Sepertinya bisa genggam tanganku saja sudah cukup baginya.
Aku berpikir tentang malam, bulan berukuran besar dan langit luas yang bertabur bintang. Sedetail mungkin untuk menciptakan suatu pemandangan yang luar biasa bagi Rhea. Bahkan beberapa awan tipis pun aku hadirkan di sela-sela langit. Dan kami terbang diantara itu semua. Amazing. Akupun takjub dengan apa yang aku pikirkan.
“Indah... imajinasi kamu jauh diatas ilusiku..” ujar Rhea takjub, “Aku jadi pengen nyanyi mas..”
“Nyanyi apa? Kamu kayak film India aja, dikit-dikit nyanyi...”
“A whole new world...” jawabnya sambil ketawa riang
“Hush! Emangnya ini film Aladdin. Awas lho, jangan nyanyi! Ntar jadi mimpi buruk buat aku.. hahaha...”
Kami tertawa. Sungguh ini benar-benar mimpi yang indah. Aku kemudian mulai menurunkan ketinggian. Dibawah sana terlihat daratan dengan kelokan sungai yang berukuran sedang. sebuah jembatan besi melintas diatas sungai tersebut, jalan raya dengan lampu yang tak terlalu silau namun juga tak temaram terlihat bagai barisan lilin mungil. Beberapa bangunan terlihat. Tapi tak ada yang melebihi 5 lantai. Warnanyapun kalem, putih, kuning gading atau coklat. Tak ada pencakar langit yang angkuh menantang langit, tak ada gedung-gedung berkaca yang seolah narsis memamerkan dirinya. Semua tampak begitu simpel, apik, indah dan resik. Semakin kebawah semakin terlihat pula adanya pohon-pohon rimbun, beberapa mobil yang melintas dengan kecepatan sedang dan bangunan yang berbentuk mirip bangunan benteng tanah liat dari abad pertengahan, “Ini dimana?” akhirnya Rhea penasaran.
Aku tersenyum dan tidak menjawab sampai akhirnya aku bawa Rhea mendarat di lantai 4 suatu bangunan hotel. Dibagian bagian atap itu ada meja-meja bundar untuk 4 atau 2 orang. Yup, ini adalah rooftop alias restoran dengan konsep langit sebagai atap. Aku menggandeng Rhea dan mengajaknya berjalan menuju salah satu meja yang terletak di pinggir. Ada dua kursi disana, lengkap dengan satu buah lilin dengan bunga menghiasi meja. Candle light diner. Aku menarikkan kursi untuknya bagai seorang gentleman.
“Indah sekali mas, ini dimana? Ini tempat imajinasi mas ya?” tanyanya dengan suara pelan seolah tak ingin mengganggu suara dentingan piano yang mengalun entah dari mana. Wajahnya benar-benar terlihat takjub dengan suasana yang aku bangun. Dari tempat kami duduk terlihat jelas pemandangan kota, sungai, jembatan, langit, bintang dan rembulan.
Haha.. puas rasanya bisa membuat sesosok jin terkagum-kagum. Sambil duduk aku menjawab, “Oh bukan, ini ada kok di dunia nyata.. Rhea, selamat datang di Maroko. Negeri Magribi. Ini di kota Rabat dan kita lagi ada disalah satu hotel terbaik di kota ini.”
Rhea tersenyum memandang sekeliling, kagum dengan detail yang aku ciptakan dalam mimpi ini, “mas, please jangan bangun dulu, aku masih sangat menikmati ini semua..”
“Kamu belum pernah ke sini? Kan jin gampang tinggal wush wush...”
“Gak semua jin punya kemampuan wush wush mas... kemampuanku ya di sihir. Ilusi..”
Seorang pelayan datang dan menanyakan pesanan. Aku pesan yang paling mahal, entah apa namanya karena menu yang ada tertulis dalam bahasa prancis. Toh aku bisa menciptakan uang di dompetku untuk membayarnya.
“Bahkan pelayan pun mas hadirkan disini, lengkap dengan menu bahasa prancis..”
“Iya dong, totalitas... hehehe” kataku sambil merapikan serbet diatas meja yang seharusnya aku letakkan di pangkuanku, “Rhea aku mau tanya sesuatu...”
“Kenapa mas?”
“Kamu kenapa suka sama aku?”
“Owh.. masih penasaran ya mas. Hehe..” tanya Rhea sedikit tergelak, “oke.. aku kasih tau ya mas.. mas itu unik. Jujur, mas bukan cowok manusia pertama yang aku sukai dan aku ajak ngobrol. Mas udah yang kesekian...”
“Widih kamu player ya?!” Muke gile, ternyata aku berhubungan dengan jin gaul.
“Begitulah.. Tapi sejak ketemu mas, beda mas.. yang tadinya penasaran malah jatuh cinta..”
“Semua player kan gitu ngomongnya.. biar korban makin terjerat..”
“hahah.. gak mas, mas beneran beda.. kalau cowok lain, begitu aku kenalin diri, malah memanfaatkan aku. Ada dua jenis manusia, yang pertama golongan seneng yang enak-enak dan yang kedua golongan yang seneng uang. Golongan pertama kerjaannya ngajakin gituaaan mulu. Ih ogah, emang eike cewek apaan...” jawabnya lucu dengan muka sok polos. Ini beneran polos atau muka buaya ya? Pikirku.
“Trus golongan yang kedua?”
“yang kedua, biasanya ngajakin aku ke tempat judi. Aku disuruh lihat nomer lah, lihat kartu orang lah. Uh, cape deeh.. emang eike CCTV disuruh ngintip orang mulu..”
Aku ketawa mendengarnya, sungguh jin yang satu ini memang terlihat beda. Gak kayak penampakan jin-jin yang sering aku baca di kaskus. Sepertinya jebolan stand up comedy versi alam gaib. Mungkin ada baiknya suatu saat aku tulis pengalamanku ini biar jadi HT.
“Sebenarnya, Ada juga golongan ketiga mas...”
“Apa tuh?!”
“Golongan homo! Gak tertarik blas sama aku! Mereka lebih seneng sama Edward Cullen yang jadi vampir atau si werewolf! Aiiih.... percuma aku berdandan mirip Bella Swan..”
Aku benar-benar ingin terbahak-bahak mendengarnya. Tapi khawatir jantungku terlalu riang maka aku tahan. Aku tak ingin mimpiku runtuh hanya gara-gara aku terlalu senang.
“Mas.. mas homo ya?!”
Tawaku terhenti mendadak. Anjrit! Tuduhan macam mana pula itu?!, “Eh setan, jangan sembarangan kau ngomong..”
Kini giliran dia yang tertawa lepas, “abis sampe sekarang aku gak diapa-apain.. haha”
“Mau diapain gimana wong tembus mulu! Lu kata gak serem apa liat tangan lu tembus muka gue?!” jawabku dengan muka sok garang.
“Haha.. itulah, mas beda. Mas gak kayak cowok laen. Mas memperlakukan aku selayaknya manusia. Mas membuat aku semakin jatuh cinta setiap harinya..”
“Dan kamu gak kayak jin laen. Coba kamu menampakkan diri sebagai tuyul, pasti aku suruh nyuri uang...” jawabku asal, “trus kamu pikir, bisa sejauh apa sih hubungan kita?!”
Kali ini dia terdiam. Sebersit sedih hadir di wajahnya, “Gak bakal bisa kemana-mana mas. Hubungan kita pun seperti ilusi. Aku bisa aja memaksakan dengan mengambil jiwa mas, tapi itu sama saja mengorbankan mas.. aku gak mau seperti itu..”
Aku menyesal menanyakan hal itu. Wajahnya menjadi sendu. Ah dasar bego. Tanganku reflek bergerak mendekati tangannya yang terletak diatas meja. Menyetuh dan menggenggamnya. Rhea yang tadi tertunduk perlahan mengangkat wajahnya. Ada rona bahagia yang menjalar disana. Ah, senangnya melihat seuntai senyum kembali hadir.
“Andai aku bisa jadi manusia...” ujarnya dengan lirih, terdiam sebentar kemudian melanjutkan “sebenernya sih bisa mas.. tapi konsekuensinya terlalu besar..”
“Apa itu?”
“Aku gak akan mampu bertahan lama. Tak sampai 1 jam, setelah itu aku akan mati..”
Hii.. kasian sekali, “Gak usahlah, kalau gitu kamu gak usah jadi manusia. Ngapain bela-belain jadi manusia tapi Cuma bisa satu jam doang...”
Tiba-tiba suara berat menggema diseluruh penjuru mimpiku, tubuhku pun terasa bergoyang. Aku terkejut. Semuanya tampak bergoyang bagai gempa...
“Mimpi mas runtuh! Ada yang bangunin mas.. ya udah mas, sampai ketemu lagi yaa..” kata Rhea sambil menghilang dengan cepat. Dalam sekejap semua yang aku rancang pun hilang.
“Mas bangun mas... “ terdengar suara wanita sambil menggoyang-goyangkan pangkal lenganku. Ini maksa banget sih orang lagi asyik tidur.Dengan berat aku membuka mata dan menemukan sosok seorang suster disampingku sedang memegang suntikan. Eh gila, bangun tidur langsung mau di joss, “mau diapain sus?”
“Oh ini, suntikan biar mas tenang.. maaf, suntik di pantat ya mas..”
Aku terbelalak.
“Sebentar aja kok mas.. malu ya mas?” tanya suster itu sambil cekikikan, idih centil juga ternyata. Tapi aku tak peduli seberapa centilnya dia. Mataku terbelalak karena melihat sesuatu di ujung sana.
“Sus.. itu..” kataku tergagap. Sosok itu makin mendekat dan semakin jelas. Melayang pelahan mendekati suster tanpa disadari.
Wulan! Itu Wulan! Duh kenapa tuh setan muncul lagi sih?! Gak capek apa tadi malem abis nonton bioskop?! Dengan wajah mengejek Wulan semakin mendekat pada suster akhirnya berhenti. Berdiri tepat di belakang suster sambil menyeringai.
“Sus.. dibelakang sus.. ada set.. set....” kataku sambil berupaya menggerakkan telunjukku.
Suster itu akhirnya sadar apa yang aku maksud, ia terdiam dan wajahnya mendadak terlihat ketakutan. Dengan perlahan ia menengok ke belakang. Menemukan wajah Wulan. Kemudian berteriak. Berteriak hanya satu detik karena tepat di detik kedua dengan gerakan bagai kilat, sosok Wulan seolah tersedot kedalam tubuh suster. Masuk kedalam. Merasuki suster.
Kini aku yang semakin ngeri. melihat wajah suster yang tadi membelakangi ku kini perlahan kembali berputar ke arahku. Damn! Kenapa hidupku jadi mirip film pocong gini seeh!!?
Wajah suster tadi sudah berubah. Pucat dengan mata yang putih total. Semakin gak enak dilihat dengan suntikan berada di tangannya. Kerasukan sambil membawa suntikan. Duh duh.. Kombinasi yang luar biasa. Kenapa sih sambil bawa suntikan? Kenapa gak bawa bunga aja biar romantis? Atau bawa guling biar empuk, atau bawa buah-buahan sambil bilang semoga cepet sembuh.
“Mas Danang... Wulan suntik ya.. hihihihi....” kata suster sambil mulai mengangkat suntikan yang full dengan obat penenang itu.
Anjrit! Jin sakit jiwa!
[Bersambung]
edoblack dan 20 lainnya memberi reputasi
21
Tutup