Kaskus

Story

mahadev4Avatar border
TS
mahadev4
TEROR HANTU DEWI
Cerita ini adalah murni fiksi dan imajinasi saya semata, ini adalah Cerita Horor pertama yang saya buat, maka jika banyak kekurangan disana sini saya mohon maaf dan sangat berharap kritik dan sarannya. Dan Kisah ini saya persembahkan Untuk Novia Evadewi, yang novel horornya sederhana namun begitu mencekam nuansa horornya.

Cerita ini saya beri judul "Teror Hantu Dewi", selamat membaca.

=====================================


Daftar Lengkap serinya :


Prolog

Part 1 Malam Jahanam

Part 2 Penantian Mencekam

Part 3 Geger Mayat Dewi

Part 4 Penguburan Mayat Dewi

Part 5 Teror di Tumah Tua

Part 6 Teror yang Berlanjut

Part 7 Pembalasan Dewi

Part 8 A Hantu Dewi Meneror Lagi

Part 8 B Hantu Dewi Meneror Lagi

Part 9 A Geger di Makam Dewi

Part 9 B Geger di Makam Dewi

Part 9 C Geger di Makam Dewi

Part 9 D Geger di Makam Dewi

Part 10 Menguak Tirai Gelap

Part 11 Keris Kiayi Pancasona

Part 12 Pertarungan Terakhir (Tamat)

=============================

TEROR HANTU DEWI
Diubah oleh mahadev4 31-05-2022 17:52
Hedon.isAvatar border
redricesAvatar border
sampeukAvatar border
sampeuk dan 38 lainnya memberi reputasi
35
27K
192
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.8KAnggota
Tampilkan semua post
mahadev4Avatar border
TS
mahadev4
#1
TEROR HANTU DEWI - Part 3
Geger Mayat Dewi
by Deva

Pagi itu cuaca mendung masih menggelayuti langit di Desa Medasari, meski semalaman diguyur hujan lebat nampaknya langit masih memancarkan rona mendung, sesekali terdengar gemuruh di kejauhan, udaranya yang dingin membuat penduduknya seakan enggan untuk keluar rumah menjalankan aktivitas keseharian mereka baik di sawah maupun di ladang.

Namun tidak untuk dua sosok lelaki separuh baya yang tengah menyusuri pinggiran sawah, yang seorang mengenakan baju batik dengan celana pendek berwarna kecoklatan sedang seorang lagi mengenakan baju kotak-kotak bercelana hitam, keduanya berjalan santai menuju area sawah mereka untuk kembali mereka garap. Mereka adalah Barjo dan Badri.

“Jo, mau mbengi iku aku gak iso turu, omahku bocor parah, kepekso anak lan bojoku turu ning ngarepan. Udan kok sewengi tenanan ora liren-liren, Heran aku, ora bioso-biosone koyok ngunu,( Jo, Semalam itu aku gak bisa tidur, rumahku bocor parah, terpaksa anak dan istriku tidurnya di ruamg depan. Hujan kok bisa semalam penuh gak berhenti, aku heran, biasanya tak seperti itu)” kata Badri.

“Malah ning omahku banjir kabeh, akhire sewengi ora turu. Sak jane aku yo bersyukur, wes suwe kan Deso iki gak ono udan, tenane bersyukur loh.Tapi kok yo udan ora liren-liren tekan esuk(justru di rumahku kebanjuran semuanya, akhirnya semalaman tak bisa tidur, sebetulnya aku bersyukur, sebab sudah lama kan Desa ini gak turun hujan, beneran sangat mensyukuri, tapi kenapa hujannya gak berhenti sampai pagi),” Barjo menimpali.

Barjo dan Badri terus melangkah menyusuri pematang sawah. Tidak jauh di depan mereka terdapat sebuah gubuk, sebuah gubuk kecil yang biasa dipakai para petani untuk beristirahat melepaskan penat setelah bekerja di sawah.

Sepanjang perjalanan mereka tidak menjumpai seorang pun di jalan, jalanan sendiri tanahnya yang sudah retak-retak karena lama tidak tersiram hujan kali ini ini tampak becek di sana sini.

Tiba-tiba Barjo menatap tajam lurus ke depan ke arah rumah gubuk di tengah sawah itu, kemudian menepuk pundak temannya Badri.
“Kamu lihat nggak, itu seperti kaki yang sedang menggantung, kira-kira siapa ya?.”

Badri yang penasaran kemudian memusatkan perhatiannya ke arah yang ditunjuk oleh Barjo.

“Iya Jo, itu memang kaki orang yang menggantung, Siapa ya? Tapi kok kalau dilihat-lihat seperti kaki perempuan,” jawab Badri.

“Yuk, kita lihat siapa yang tertidur di sana, jangan-jangan malah maling yang habis pulang dari maling terus ketiduran di gubuk itu, tapi masak iya maling kok perempuan?.”

“Sudahlah, kita lihat saja dulu.”

Akhirnya Barjo dan Badri bergegas berjalan cepat menuju gubuk yang berada di tengah sawah, sesampainya mereka di gubuk tersebut mereka sontak kaget bukan alang kepalang. Bagaimana tidak, karena ternyata sosok yang ada di dalam gubuk itu bukanlah seseorang yang sedang tidur, melainkan sesosok mayat.

Ya, mayat perempuan.

Sesosok mayat perempuan yang dipenuhi lumuran darah yang mengering.

“Astaghfirullaah!! iku mayat, Jo, Dudu wong keturon! (itu mayat, Jo, bukan orang tidur!).”

“Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun. Mayate sopo yo?(Mayat siapa ya?).”

Dengan takut-takut keduanya berjalan mendekat, diperhatikannya wajah mayat yang terbujur kaku itu, dan mereka sangat terkejut karena ternyata mereka mengenali siapa sosok mayat perempuan itu, tidak lain adalah Dewi, anak dari tetangga mereka sendiri, yaitu anak Pak Purnomo dan Bu Sari.

“Ayo kita kembali ke Desa. Kita laporkan kepada Pak Purnomo dan Pak RT Mangun.”

“Ya ayo.”

Keduanya lalu berlari dengan cepat, sesekali mereka nyaris terpeleset karena licinnya jalanan yang becek.

Kedua lelaki tersebut sampai lebih dahulu ke rumah Pak RT mereka yang bernama Pak Mangun, Barjo lalu mengetuk pintunya, “As Salaamu ‘alaikum.”

Beberapa kali Barjo mengucapkan salam barulah keluar seorang lelaki dengan perawakan tegap dan berkumis tebal.

“Loh kamu Barjo. Badri. Ada apa ini? kalian seperti habis berlari? kalian dari mana?.”

Badri yang menjawab, “Begini lho Pak Mangun, tadi itu saya sama Barjo mau berangkat ke sawah, terus kami lihat ada kaki yang menjuntai di gubuk tengah sawah, Pak. Lalu kami dekati, ternyata itu bukan orang sedang tidur seperti yang kami lihat sebelumnya”.

“Lalu?,” tanya Pak Mangun penasaran.

“Yang kami lihat adalah.. sesosok mayat perempuan, Kami jelas kenal siapa sosok perempuan itu.”

“Siapa?,” tanya Pak Mangun.

“Dewi, Pak. Dewi Anggraini, itu loh anaknya Pak Purnomo dan Bu Sari.”

“Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun. Lah kalian sudah kerumahnya Pak Purnomo?.”

“Belum, Pak, ini juga kami dari sawah langsung ke sini, mengabari Pak RT dulu.”

“Ya sudah kalau begitu mari kita sama-sama ke rumah Pak Purnomo, tapi sebentar, Saya salin baju dulu.”

Pak Mangun lalu masuk ke dalam mengganti pakaian dan mereka bertiga pun bergegas ke rumah Pak Purnomo.

Sesampainya di sana yang mereka jumpai adalah anak pertama Pak Purnomo yang sedang memanaskan motor di pekarangan rumah.

“As Salaamu ‘alaikum,” kata Pak RT Mangun.

“Wa ‘Alaikumus salaam. Eh ada Pak RT Mangun, Kang Barjo, dan Kang Badri. Ada apa ini bertiga? nggak biasanya. Mau ke mana?.”

Barjo lantas berkata, “Justru Kami bertiga memang sengaja ingin ke sini.”

Dewo menatap Pak Mangun, “Kelihatannya ada hal yang serius ini Pak RT. Mari, silahkan duduk dulu , nanti saya panggilkan Devi untuk membuatkan minuman.”

Sebelum Dewo beranjak ke dalam untuk memanggil Devi tangannya keburu disambar oleh Pak RT Mangun dan ia berkata, “Nggak usah. Kami kesini mau mengabarkan kabar duka untuk keluarga kamu.”

Sadewo memandang Pak RT dengan pandangan bingung, “Kabar duka? maksud Pak Mangun ini apa ya?.”

"Begini loh, Dewo, tadi Barjo dan Badri berlari-lari ke rumah, katanya mereka dari sawah. Mereka mengatakan, melihat ada sesosok mayat tergeletak di gubukan tengah sawah. Menurut mereka sosok itu adalah.. Dewi, adikmu.”

“Astaghfirullaah! Barjo, Badri, kalian jangan main-main ya. Adikku itu saat ini masih dalam perjalanan dan rencananya pagi ini atau siang nanti sampai ke sini, mau pulang!,” Sadewo menatap wajah Badri dan Barjo dengan tatapan marah.

Badri yang melihat gelagat tidak enak itu segera berkata, “Sabar dulu, Dewo. Lebih baik sekarang kita sama-sama menuju ke area sawah untuk memastikan bahwa memang mayat yang kami temukan disana adalah adik kamu atau bukan, tetapi menurut kami berdua yang kami lihat memang ya adikmu. Bagaimana kami tidak kenal, Lha wong kami tahu kamu dan adikmu Dewi sejak kecil sampai seka rang kalian dewasa. kami sangat hafal wajahnya.”

“Baiklah,” kata Dewo. “Mari kita sekarang berangkat ke sana."

Dari dalam Devi yang mendengar suara ramai di depan rumah lalu keluar.

"Ono opo toh iki?(Ada apa Ini?)."

"Sudah, Vi, kamu di rumah saja, Mas tinggal sebentar, enggak lama nanti Mas kembali."

Kemudian Dewo, Pak RT Mangun, Badri dan Barjo, mereka berempat bergegas menuju persawahan tempat mereka melihat mayat Dewi.

Sesampainya di lokasi Sadewo yang menyaksikan mayat di hadapannya hanya bisa tertegun tidak percaya, bagaimana mungkin adiknya bisa menjadi mayat di tengah persawahan seperti ini, padahal semalam sekitar pukul 1 ia masih sempat berbicara dengan adiknya di telpon, dan adiknya mengatakan bahwa hari ini ia akan pulang.

Pak Mangun lalu menatap Sadewo dan berkata, "Bagaimana, Wo? yakin kamu sekarang kalau memang yang ditemukan oleh Badri dan Barjo ini adalah benar adikmu?."

Dewo hanya mengangguk lemah tak tahu harus berkata apa lagi.

Kemudian Pak RT Mangun berkata pada Badri, "Kamu ke sana ke tempat Mbok Sinah(Nenek Sinah), itu rumahnya kan dekat dari sini, kamu pinjam Jarik(Kain Selendang) yang nantinya akan kita gunakan untuk menutupi mayat ini."

Badri lantas bergegas ke rumah Mbok Sinah.

"Kulo nuwun, Mbok. Mbok Sinah!."

Pintu terbuka, seorang wanita tua lantas keluar.

"Kamu Badri toh? Ada apa ya pagi-pagi begini?."

"Begini, Mbok. Saya diminta Pak RT Mangun untuk meminjam jarik sama Simbok."

"Jarik? kanggo opo to(untuk apa)?," kata Mbok Sinah heran.

"Iya, jarik. Katanya untuk dipakai menutupi mayat yang ada di gubuk tengah sawah."

"Ee lah dalah.Mayat sopo to iku(Mayatnya siapa itu)?."

"Iku lho Mbok, mayat Dewi, adine Sadewo, anak'e Pak Purnomo (Itu loh Nek, mayat Dewi, adiknya Sadewo, anaknya Pak Purnomo."

"Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji'uun," kata Mbok Sinah. "Yo wis (Ya udah), tunggu sebentar aku ambilkan jariknya."

Tak lama Mbok Sinah keluar, "Ini aku beri 2 potong, sudah, tidak usah dikembalikan dipakai saja."

"Terima kasih, Mbok," kata Badri yang lantas kembali bergegas menuju persawahan.

Pak RT kemudian menutupi mayat Dewi dengan jarik pemberian Mbok Sinah, ditatapnya Sadewo, "Wo, kamu telpon kepolisian, sekarang. Katakan kejadian sebenarnya yang terjadi di sini."

"Ya, Pak," kata Sadewo, kemudian Sadewo menelepon pihak Kepolisian.

Tak lama kemudian pihak Kepolisian datang kemudian membawa mayat Dewi ke Rumah Sakit untuk diotopsi.

Sementara di rumah Pak Purnomo warga sudah banyak yang datang untuk melayat.

Di ruangan tengah Bu Sari tak henti-hentinya menangis, Devi sendiri hanya bisa memeluk ibunya dan tak berkata apa-apa.

"Wis tak kandani kat mau mbengi, Vi, perasaan ibu ora enak, ora tenang. Opo maneh mau mbengi kan kowe ngerti dewe, potone mbakyumu tiba, kocone ancur pirang-pirang. Tegese kuwi alamat ora apik, lan nyatane bener, mbakyumu yo tenanan mulih, mung mulih sak lawase ning akhirat (Sudah kubilang dari semalam,Vi, perasaan ibu enggak enak, enggak tenang. Apalagi semalam kan kamu tahu sendiri foto kakakmu jatuh, kacanya pecah berkeping-keping. Jelas itu pertanda tidak baik, dan ternyata benar, kakakmu memang pulang, tetapi pulang untuk selama-lamanya ke akhirat), " Bu Sari terus menangis sesenggukan.

Beberapa warga yang lain ada yang mencoba menghibur dan mengatakan agar bersabar dan menerima apa yang terjadi sebagai bentuk ujian dari Allah Swt.

Sadewo bersama Pak RT Mangun masih berada di kota untuk mengurus jenazah Dewi yang akan diotopsi, kemudian mereka juga ke Kepolisian untuk memberikan laporan akan apa yang terjadi.

Barjo dan Badri sebelumnya memang sudah ditanya fihak kepolisian waktu di Desa dan mereka nantinya akan dijadikan saksi untuk kasus ini.

Sepanjang hari langit terus nenampakkan rona mendungnya.

Sore harinya suasana mendung masih meliputi Desa Medasari, sehingga udara di desa itu terasa dingin dan mencekam.

Di teras rumah duduk Pak Purnomo, Pak RT Mangun, Barjo, Badri, Sadewo dan dua orang Polisi.

Mereka Tengah bercakap-cakap tentang kasus terbunuhnya Dewi.

Salah seorang Polisi membuka percakapan, “Jadi begini, Pak Purnomo dan Dik Sadewo, serta Pak Mangun selaku RT di sini dan bapak-bapak ini. Kami dari Kepolisian bisa menyimpulkan bahwa kematian Dewi jelas adalah sebuah tindak kriminalitas, walaupun hasil otopsinya belum keluar tapi dari pihak Dokter tadi sudah ada kejelasan bahwa Dewi meninggal karena dibunuh dengan luka tusukan berkali-kali di perutnya dan sebelum dibunuh menurut dokter lagi Dewi sempat dirudapaksa. Tampaknya dia dirudapaksa tidak oleh satu orang saja tetapi oleh beberapa orang. Secepatnya Kami dari Kepolisian akan segera menyelidiki ini. Beberapa tim Penyidik Kami sudah turun di lapangan untuk mencari informasi, itu saja yang bisa kami laporkan untuk sementara.”

Dari dalam muncul Devi yang membawa nampan berisi beberapa gelas kopi dan teh serta makanan lalu di taruhnya di meja.

“Silakan di nikmati hidangan alakadarnya. Saya selaku anak dari Pak Purnomo serta Kakak dari Almarhumah Dewi sebelumnya mengucapkan banyak-banyak terima kasih kepada Bapak-Bapak sekalian dan khususnya kepada Bapak dari Kepolisian yang sudah banyak membantu untuk menyelidiki kasus ini. Saya sangat berharap agar kasus ini benar-benar bisa dipecahkan dan pelakunya bisa tertangkap, karena kalau tidak Saya khawatir nantinya bisa saja ada korban-korban baru.”

Seorang Polisi yang lain berkata, “Iya Dik Sadewo, Kami memang akan menyelidiki kasus ini sampai tuntas, sampai pelaku-pelakunya benar-benar tertangkap, karena tindakan keji seperti ini tidak bisa Kita biarkan dan harus ditindak tegas. Kami cukup optimis bahwa kami akan menemukan pelakunya dalam waktu dekat, karena dari Tim Penyelidik di lapangan kami sudah mengumpulkan cukup banyak bukti. Yah, mudah-mudahan secepatnya kami bisa kabari perkembangan kasus ini kepada warga Desa Medasari.”

=====

Malamnya sekitar pukul 7 sebuah mobil Ambulans datang, ada beberapa orang Polisi yang ikut mengawal mobil Ambulans tersebut, berhenti tepat di depan rumah Pak Purnomo. Dari dalam mobil dikeluarkanlah jenazah Dewi yang sudah di otopsi oleh pihak Kedokteran. Beberapa warga yang masih berada di rumah Pak Purnomo ikut membantu menggotong jasad Dewi untuk dibawa masuk ke dalam rumah, mereka meletakkan jenazah Dewi di ruang tengah kemudian sopir Ambulans dan beberapa Polisi yang mengawal tadi berpamitan kepada Sadewo.

Malam itu di rumah Pak Purnomo jadi ramai sekali. Di teras beberapa orang laki-laki berkumpul, sedang di ruang tengah tampak beberapa muda-mudi remaja sedang membacakan Surat Yasin di sekeliling jenazah Dewi. Di sisi lain beberapa ibu-ibu merangkai bunga dan sebagiannya lagi ada yang di dapur sekedar membuat makanan ringan untuk warga yang kumpul di rumah Pak Purnomo.

Semakin malam satu persatu warga berpamitan, hanya tinggal beberapa orang saja, itupun tetangga dekat mereka.

Barjo dan Badri duduk di teras, mereka memang berniat untuk tidak tidur malam ini, berjaga di depan menemani Pak Purnomo dan Sadewo yang juga belum tidur.

Sementara Bu Sari kondisi badannya sedikit ngedrop karena syok atas kematian putrinya, maka ia lebih memilih untuk beristirahat di kamar.

Devi membantu beberapa ibu-ibu di Dapur melanjutkan membuat makanan ringan, karena walaupun beberapa warga sudah pulang selalu saja ada tamu-tamu yang datang, biasanya dari Desa tetangga yang memang kenal dekat dengan keluarga Pak Purnomo, maupun beberapa teman-teman kerja Sadewo.

Menjelang pukul 11 malam Devi sudah mulai mengantuk dan ia berpamitan kepada ibu-ibu yang ada di dapur untuk masuk ke dalam dan beristirahat.

Sebagaimana biasanya sebelum tidur ia akan menunaikan Shalat 'Isya. Bergegas ia mengambil air wudhu kemudian ke kamar, mengenakan mukena dan Shalat.

Usai Shalat Devi merapikan mukena nya dan bersiap berbaring di kasur untuk tidur.

Namun tiba-tiba ia beranjak bangun karena lamat-lamat ia mendengar suara tangisan di balik tembok kamarnya. Suara itu terdengar tepat dari balik jendela kamar yang mengarah keluar.

Dengan perasaan was-was dan penuh kehati-hatian Devi bertanya, “Siapa ya ?.”

Tidak ada jawaban.

“Siapa itu yang di balik jendela?.”

Hening. Tak lagi terdengar suara tangisan.

Namun kali ini yang didengarnya justru seperti suara seseorang memanggil namanya lirih. Jauh, “Devi.. Devi.. .”

Bulu kuduk Devi meremang, ia mulai ketakutan, “Tidak mungkin. Tidak mungkin Kakakku menjadi Hantu. Tidak mungkin.”

Devi berusaha membuang jauh-jauh pikiran buruk itu dari bayangannya, namun semakin keras ia berusaha membuangnya semakin keras pula bayangan-bayangan itu menghantui dirinya.

“Devi.. Devi.. iki aku, Mbakyumu (ini aku, kakakmu).”

Sontak wajah Devi memucat karena suara itu begitu jelas, ia hafal betul kalau suara yang didengarnya itu adalah memang suara kakaknya Dewi. Tetapi bagaimana mungkin? Pikirnya.

“Devi.. Devi.. .”

Devi hanya terduduk di kasurnya dengan tegang, keringat dingin mengucur deras di tengkuknya, ia menggigil, rasa takut benar-benar sudah melingkupi hatinya.

Tiba-tiba lampu di kamar mengerjap-ngerjap seperti lampu yang mau putus.

Devi lalu bergumam, “Pergi. Pergilah. Bukan. Kamu bukan Kakakku. Nggak mungkin Kakakku jadi Hantu. Pergi. Jangan ganggu aku.. .”

Baru saja Devi selesai menggumamkan kata-katanya itu lampu di kamarnya seketika padam.

Devi terpekik kaget bukan buatan, ia menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Ia benar-benar merasa sangat takut dan dia merasa ada sesosok bayangan yang berdiri di dalam ruangan kamarnya yang gelap gulita itu.

Suara yang memanggil namanya itu kembali terdengar, namun kali ini lebih dekat di telinganya.

“Devi.. Iki aku Mbakyumu (Ini aku Kakakmu), Dewi.. .!!!”

Refleks Devi menurunkan tangannya dan menoleh ke arah suara di telinga kirinya.

Dalam keadaan remang karena gelap ia masih bisa melihat bayangan itu dengan jelas. Wajah yang begitu dekat dengan wajahnya. Wajah yang ia kenal betul. Wajah itu adalah wajah Kakaknya, tapi wajah Itu tampak pucat dan kedua matanya.. bolong.

Devi langsung berteriak keras, “Mas Dewo.. .!!”

Seketika lampu di ruangan kamarnya kembali menyala. Sosok menakutkn itu lenyap begitu saja.

Sadewo yang mendengar teriakan adiknya menjadi kaget dan langsung berdiri berpamitan pada tamu teman-temannya, berjalan cepat menuju kamar adiknya.

Dibukanya pintu dan ia lihat adiknya sedang duduk diatas ranjangnya dengan keringat yang mengucur deras.

“Kamu kenapa to, Dik?.”

Terang lampu kamar yang baru menyala itu membuat Devi kembali kepada kesadarannya, dia tersenyum kepada kakaknya.

“Nggak. Nggak ada apa-apa, Mas. Aku cuma mimpi buruk.”

“Ah kamu ini. Mas pikir ada apa. Makanya kalau mau tidur itu jangan lupa berdoa. Kamu sudah Shalat 'Isya?.”

“Sudah, Mas. Kayaknya tadi aku yang lupa berdoa deh, soalnya capek, Mas. Dari tadi siang kan aku bantu-bantu di dapur.”

“Ya udah kalau tidak ada apa-apa, kamu tidur lagi. Mas tidak enak, di depan ada tamu-tamu Mas. Biasa, teman-teman kerja Mas datang untuk mengucapkan bela sungkawa.”

Sadewo menutup kembali pintu kamar adiknya dan bergegas kembali menemui kawan-kawannya.

Sementara Devi membaringkan tubuhnya, kemudian membaca doa sebelum tidur.

Malam itu ia tak lagi mendengar suara panggilan Kakaknya, Dewi.

Devi bisa tidur dengan pulas.

=========

BERSAMBUNG
ngetamjum_07
metnap
sampeuk
sampeuk dan 14 lainnya memberi reputasi
15
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.