- Beranda
- Stories from the Heart
🚫 Let Me Tell You a Story (Konten Dewasa) 🚫
...
TS
deadtree
🚫 Let Me Tell You a Story (Konten Dewasa) 🚫
Halo,
sengaja aku buat akun baru untuk nulis cerita ini. Bukan karena apa-apa, aku gak mau ada yang tau siapa aku dan orang-orang yang akan kuceritakan disini. Sengaja juga gak daftar kreator, ahaha karena tujuanku nulis cuma pengen ngeluarin uneg-uneg yang aku simpen selama ini.
Cerita ini gak ada bagus-bagusnya, gak ada romantis-romantisnya, isinya cuma aku dan semua cobaan hidup yang kutelan sendiri dan akhirnya juga harus bangkit sendiri.
Quote:
Oke, aku mulai ya....
- Chapter 1 - Adik Ibuku
- Chapter 2 - Puber & Foto Mesum
- Chapter 3 - Kata Ibu, Aku Aib
- Chapter 4 - Aku dan Kakak Part 1
- Chapter 5 - Aku dan Kakak Part 2
- Chapter 6 - Ayah & Ibu
- Chapter 7 - Awal Mula Jatuhnya Aku Part 1
- Chapter 8 - Awal Mula Jatuhnya Aku Part 2
- Chapter 9 - Duniaku Abu-abu Part 1
- Chapter 10 - Duniaku Abu-abu Part 2
- Chapter 11 - Duniaku Abu-abu Part 3
- Chapter 12 - Babak Baru
- Chapter 13 - Sama Saja
- Chapter 14 - Mas Ibra
- Chapter 15 - Berawal Dari Twitter
- Chapter 16 - Aku Ini Murahan
- Chapter 17 - Gelap
- Chapter 18 - Duniaku Hancur
- Chapter 19 - Tuhan
- Chapter 20 - Kusut
- Chapter 21 - Selalu Begini Berulang-ulang
- Chapter 22 - Mulai Dari Nol
- Chapter 23 - Gereja dan Ustadz
- Chapter 24 - Kambing Hitam
- Chapter 25 - Cinta Yang Salah
- Chapter 26 - Selembar Perselingkuhan
- Chapter 27 - Tunas
SIDE STORY:
1 - Major Depressive Disorder
2 - Adara Putra [Part 1]
Prolog:
Namaku Kamila, saat ini umurku hampir 28 tahun. Berkeluarga? belum. Ingin berkeluarga? Ya, mungkin. Aku bekerja sebagai karyawan swasta di sebuah perusahaan Jakarta. Sejak umur 17 tahun, aku tinggal sendiri di kota ini. Tanpa satupun anggota keluarga atau kerabat jauh. Tak ada yang kukenal saat pertama kali aku menginjakkan kakiku di sini 10 tahun lalu, tepatnya di bulan Agustus 2009.
Aku lahir dan besar di sebuah desa, berseberangan dari tempatku tinggal. Jauh dan butuh sekitar 24 jam perjalanan darat dan laut. Sekarang sudah bisa dilewati transportasi udara, walau tetap harus memakan waktu 6 jam jika ditotal untuk tiba di desaku. Desa terpencil yang tampak tenang, tak ada masalah namun tetap dengan stigma buruk di masyarakat Indonesia. Banyak yang bilang desaku ini sarangnya ilmu hitam dengan orang-orang berhati jahat yang tak segan-segan menelan bulat-bulat manusia lainnya. Well, tak sepenuhnya benar, seingatku aku belum pernah makan daging manusia.
Aku ini tak cantik, tak manis, tak menarik perhatian, seingatku seperti itu. Dari kecil aku dibesarkan oleh orangtua yang keras mendidikku, tumbuh besar bersama hutan, teriknya matahari dan gersangnya tanah desa. Aku ini kumal, hitam legam, tak ada anggun-anggunnya. Masa kecilku kuhabiskan bermain layangan, menerobos hutan mengumpulkan sayuran, mendaki gunung mengumpulkan buah-buahan, bermain di pantai mengumpulkan kerang dan merebusnya untuk makanan dan entah kenapa aku waktu kecil selalu jadi korban pelecehan.
Ch.1: Adik Ibuku
Ingatanku sedikit samar, mungkin waktu itu aku masih kelas 1 sekolah dasar dan di momen kumpul keluarga yang aku lupa untuk acara apa.
Seperti biasanya, rumah orangtuaku selalu menjadi tempat berkumpulnya keluarga besar setiap diadakannya hajatan keluarga. Mungkin karena Ibuku sedang sukses-suksesnya saat itu, anak kedua dari 8 bersaudara, dan rumah keluargaku termasuk yang paling luas dan memungkinkan untuk digunakan sebagai tempat hajatan keluarga mulai dari pernikahan sampai sekedar pengajian.
Sore itu, Ibu dan adik-adiknya sedang sibuk di halaman belakang yang cukup luas. Mereka mempersiapkan hidangan untuk hajatan esok paginya (Di desaku memang terbiasa selalu memasak sendiri untuk hajatan). Saat itu, hanya aku dan kakak laki-lakiku cucu di keluarga besar ini karena memang Ibuku anak kedua dan anak pertama a.k.a Kakaknya Ibu belum memiliki keturunan seingatku. Aku asik bermain dengan kakakku di ruang tengah, ditemani oleh adik Ibu yang paling bungsu, namanya Om Yuda. Om Yuda umurnya tidak berbeda jauh dari kakakku, hanya berbeda sekitar 6-7 tahunan.
Selayaknya anak-anak, aku bermain bersama kakak hanya menggunakan celana pendek dan kaos dalaman tanpa lengan karena memang cuaca juga sedang panas-panasnya saat itu. Saat kakakku sibuk dengan robot-robotannya, Om Yuda memanggilku.
"Dik, adik.. Sini"
Dia menarik kursi kayu di pojok ruangan dan menaruhnya di tengah ruangan. Saat itu di ruang tengah hanya ada kami bertiga dan kakakku acuh, asik dengan mainannya.
"Kenapa om?", tanyaku.
Om Yuda yang kemudian duduk di kursi kayu dan tersenyum menatapku tajam. Dia memegang lenganku dan berkata:
"Coba, buka celanamu deh"
Aku yang saat itu masih bodoh dan belum mengerti betul perkara organ intim yang boleh dan tidak boleh dilihat lawan jenis dengan polosnya langsung menuruti Om Yuda.
Om Yuda saat itu menatap kemaluanku dengan tatapan tajam sejurus kemudian membuka celana dan mengeluarkan kemaluannya. Dia kembali menatap mataku tajam.
"Untuk membuktikan kalau kita keluarga, Om harus nempelin ini ke tempat pipismu dik. Ok?", tangan kirinya yang masih memegang lenganku terasa dingin dan sedikit gemetar. Aku hanya mengangguk menuruti perkataan Om Yuda, lagi-lagi dengan polosnya.
Kegiatan menjijikkan itu tak berlangsung lama, aku juga tak memperhatikan apa yang dia lakukan karena aku masih sibuk memainkan boneka yang ada di genggamanku. Tak sampai 2 menit sepertinya, Om Yuda melepaskan kemaluannya yang menempel di area pubisku dan aku reflek melirik ke arah kemaluanku. Ada cairan putih di sana yang dengan cepat langsung diseka oleh Om Yuda.
"Apa itu Om?", tanyaku.
"Itu cat putih, tadi om tuang untuk menguatkan hubungan keluarga kita. Udah, pake celananya lagi. Jangan cerita-cerita, nanti kamu dimakan setan", ancamnya serius.
Pelecehan pertama, yang tak pernah kusadari sampai beberapa tahun terakhir. Terkubur dan terlupakan begitu saja mungkin karena saat itu aku terlalu kecil untuk mengerti dan mengingat hal tak bermoral itu.
Aku lahir dan besar di sebuah desa, berseberangan dari tempatku tinggal. Jauh dan butuh sekitar 24 jam perjalanan darat dan laut. Sekarang sudah bisa dilewati transportasi udara, walau tetap harus memakan waktu 6 jam jika ditotal untuk tiba di desaku. Desa terpencil yang tampak tenang, tak ada masalah namun tetap dengan stigma buruk di masyarakat Indonesia. Banyak yang bilang desaku ini sarangnya ilmu hitam dengan orang-orang berhati jahat yang tak segan-segan menelan bulat-bulat manusia lainnya. Well, tak sepenuhnya benar, seingatku aku belum pernah makan daging manusia.
Aku ini tak cantik, tak manis, tak menarik perhatian, seingatku seperti itu. Dari kecil aku dibesarkan oleh orangtua yang keras mendidikku, tumbuh besar bersama hutan, teriknya matahari dan gersangnya tanah desa. Aku ini kumal, hitam legam, tak ada anggun-anggunnya. Masa kecilku kuhabiskan bermain layangan, menerobos hutan mengumpulkan sayuran, mendaki gunung mengumpulkan buah-buahan, bermain di pantai mengumpulkan kerang dan merebusnya untuk makanan dan entah kenapa aku waktu kecil selalu jadi korban pelecehan.
Ch.1: Adik Ibuku
Ingatanku sedikit samar, mungkin waktu itu aku masih kelas 1 sekolah dasar dan di momen kumpul keluarga yang aku lupa untuk acara apa.
Seperti biasanya, rumah orangtuaku selalu menjadi tempat berkumpulnya keluarga besar setiap diadakannya hajatan keluarga. Mungkin karena Ibuku sedang sukses-suksesnya saat itu, anak kedua dari 8 bersaudara, dan rumah keluargaku termasuk yang paling luas dan memungkinkan untuk digunakan sebagai tempat hajatan keluarga mulai dari pernikahan sampai sekedar pengajian.
Sore itu, Ibu dan adik-adiknya sedang sibuk di halaman belakang yang cukup luas. Mereka mempersiapkan hidangan untuk hajatan esok paginya (Di desaku memang terbiasa selalu memasak sendiri untuk hajatan). Saat itu, hanya aku dan kakak laki-lakiku cucu di keluarga besar ini karena memang Ibuku anak kedua dan anak pertama a.k.a Kakaknya Ibu belum memiliki keturunan seingatku. Aku asik bermain dengan kakakku di ruang tengah, ditemani oleh adik Ibu yang paling bungsu, namanya Om Yuda. Om Yuda umurnya tidak berbeda jauh dari kakakku, hanya berbeda sekitar 6-7 tahunan.
Selayaknya anak-anak, aku bermain bersama kakak hanya menggunakan celana pendek dan kaos dalaman tanpa lengan karena memang cuaca juga sedang panas-panasnya saat itu. Saat kakakku sibuk dengan robot-robotannya, Om Yuda memanggilku.
"Dik, adik.. Sini"
Dia menarik kursi kayu di pojok ruangan dan menaruhnya di tengah ruangan. Saat itu di ruang tengah hanya ada kami bertiga dan kakakku acuh, asik dengan mainannya.
"Kenapa om?", tanyaku.
Om Yuda yang kemudian duduk di kursi kayu dan tersenyum menatapku tajam. Dia memegang lenganku dan berkata:
"Coba, buka celanamu deh"
Aku yang saat itu masih bodoh dan belum mengerti betul perkara organ intim yang boleh dan tidak boleh dilihat lawan jenis dengan polosnya langsung menuruti Om Yuda.
Om Yuda saat itu menatap kemaluanku dengan tatapan tajam sejurus kemudian membuka celana dan mengeluarkan kemaluannya. Dia kembali menatap mataku tajam.
"Untuk membuktikan kalau kita keluarga, Om harus nempelin ini ke tempat pipismu dik. Ok?", tangan kirinya yang masih memegang lenganku terasa dingin dan sedikit gemetar. Aku hanya mengangguk menuruti perkataan Om Yuda, lagi-lagi dengan polosnya.
Kegiatan menjijikkan itu tak berlangsung lama, aku juga tak memperhatikan apa yang dia lakukan karena aku masih sibuk memainkan boneka yang ada di genggamanku. Tak sampai 2 menit sepertinya, Om Yuda melepaskan kemaluannya yang menempel di area pubisku dan aku reflek melirik ke arah kemaluanku. Ada cairan putih di sana yang dengan cepat langsung diseka oleh Om Yuda.
"Apa itu Om?", tanyaku.
"Itu cat putih, tadi om tuang untuk menguatkan hubungan keluarga kita. Udah, pake celananya lagi. Jangan cerita-cerita, nanti kamu dimakan setan", ancamnya serius.
Pelecehan pertama, yang tak pernah kusadari sampai beberapa tahun terakhir. Terkubur dan terlupakan begitu saja mungkin karena saat itu aku terlalu kecil untuk mengerti dan mengingat hal tak bermoral itu.
Ch.2: Puber & Foto Mesum
Bertahun-tahun berlalu, banyak yang kulalui. Pelecehan-pelecehan minor yang tak perlu kujelaskan di sini, selain karena kisahnya hanya seputar catcall, dipegang, dll, aku juga sudah mulai lupa kisah-kisah ini.
Kita akan lanjut ke kisah saat aku masuk SMA ya.
Dulu, waktu aku masih bayi, Ibuku sudah pindah ke rumah baru yang dibangun di atas tanah sawah milik almarhum kakekku. Rumah itu cukup besar hingga bisa menampung Ibu, Ayah, Kakak, Aku, 1 Adik perempuan Ibu, 2 Adik laki-laki Ayah, dan 1 kerabat jauh Ibu (laki-laki). Ibu dan Ayah saat itu menyekolahkan mereka sampai semuanya lulus SMA, dengan kondisi keuangan Ayah yang juga pas-pasan. Adik-adik Ibu dan Ayah sukses dan bekerja, mereka juga sangat amat sayang padaku. Berbeda dengan kerabat jauh Ibu yang memutuskan untuk menjadi buruh bangunan saja saat itu. Ibu tidak melarang sama-sekali, malah mendukung dan membantunya.
Sebut saja si kerabat Ibu ini Om Sapri. Om Sapri ini baik orangnya, merawatku dari lahir sampai aku umur 4 tahun sebelum akhirnya memutuskan berkeluarga dan pindah ke rumahnya sendiri. Aku dianggap seperti anak sendiri oleh Om Sapri, dan aku menganggap beliau seperti Ayahku sendiri.
Tak ada yang berarti, semua berjalan baik-baik saja saat itu. Setiap Ibu ingin merenovasi rumah, membetulkan genteng atau sekedar mempercantik rumah, Om Sapri selalu menawarkan membantu Ibu. Aku juga senang, bisa bertemu Om Sapri lebih sering dan bisa dimanjakan Om Sapri saat itu. Hal ini berlangsung terus sampai Ibuku memutuskan membuka bisnisnya sendiri saat aku masuk SMP, Ibu makin jarang di rumah. Bahkan seringkali aku tidak bertemu Ibu seharian. Bangun tidur, Ibu sudah berangkat kerja begitupun Ayah. Pulang sekolah, rumah sepi, kakakku sibuk les. Mereka baru akan pulang saat aku dan kakak sudah tertidur pulas di kamar masing-masing.
Kesepianku ini berlanjut sampai aku duduk di bangku SMA, sama saja tanpa orangtua. Ibu dan Ayah jadi semakin sering marah-marah hanya karena perkara sepele. Aku jadi semakin malas jika mereka ada di rumah, aku jadi semakin menikmati kesendirianku.
Siang itu sepulang sekolah, aku langsung masuk rumah, mengunci kamar, menyalakan pendingin ruangan dan menjatuhkan diri di atas kasurku yang empuk. Beperapa hari belakangan Ibu meminta tolong Om Sapri untuk memasang plafon di ruang tamu bersama dengan tukang-tukang lain. Tapi setibanya aku di rumah, aku tak melihat Om Sapri dan teman-temannya, mungkin sedang istirahat siang. (FYI, posisi ruang tamuku ada di sebelah kiri kamarku, di depan kamarku ruang tengah, di sebelah kananku kamar kakak, dan di depan kamar kakak adalah ruang keluarga).
Cuaca siang itu sungguh terik, badanku rasanya penuh dengan keringat tapi rasanya malas sekali berganti pakaian. Aku hanya melepas rok dan membuka beberapa kancing baju bagian atas. Tiduran hanya dengan underwear, bra dan kemeja sekolah yang terbuka sana-sini. 'Ah tak ada yang liat, aku di kamar sendirian. Lagipula, pintu juga sudah kukunci', fikirku. FYI, sejak aku puber di kelas 3 SMP (maaf) bagian payudaraku tumbuh dengan cepat dan saat aku menginjak kelas 1 SMA, payudaraku sudah termasuk sangat besar untuk anak sekolah seusiaku (kalau tidak salah sudah cup C saat itu, sekarang cup D).
Aku masih asik tenggelam dengan novel teenlit yang kubeli beberapa hari lalu saat tiba-tiba aku melihat sekelebat cahaya putih di ventilasi atas pintu kamarku (di desaku, setiap pintu dan jendela dilengkapi ventilasi berukuran sekitar 60x100cm di bagian atas agar memudahkan udara segar keluar masuk ruangan). Kuperhatikan bagian ventilasi yang mulai berdebu itu namun tak ada yang mencurigakan, aku kembali melanjutkan membaca novelku sambil sesekali melirik ke arah ventilasi.
Bertahun-tahun berlalu, banyak yang kulalui. Pelecehan-pelecehan minor yang tak perlu kujelaskan di sini, selain karena kisahnya hanya seputar catcall, dipegang, dll, aku juga sudah mulai lupa kisah-kisah ini.
Kita akan lanjut ke kisah saat aku masuk SMA ya.
Dulu, waktu aku masih bayi, Ibuku sudah pindah ke rumah baru yang dibangun di atas tanah sawah milik almarhum kakekku. Rumah itu cukup besar hingga bisa menampung Ibu, Ayah, Kakak, Aku, 1 Adik perempuan Ibu, 2 Adik laki-laki Ayah, dan 1 kerabat jauh Ibu (laki-laki). Ibu dan Ayah saat itu menyekolahkan mereka sampai semuanya lulus SMA, dengan kondisi keuangan Ayah yang juga pas-pasan. Adik-adik Ibu dan Ayah sukses dan bekerja, mereka juga sangat amat sayang padaku. Berbeda dengan kerabat jauh Ibu yang memutuskan untuk menjadi buruh bangunan saja saat itu. Ibu tidak melarang sama-sekali, malah mendukung dan membantunya.
Sebut saja si kerabat Ibu ini Om Sapri. Om Sapri ini baik orangnya, merawatku dari lahir sampai aku umur 4 tahun sebelum akhirnya memutuskan berkeluarga dan pindah ke rumahnya sendiri. Aku dianggap seperti anak sendiri oleh Om Sapri, dan aku menganggap beliau seperti Ayahku sendiri.
Tak ada yang berarti, semua berjalan baik-baik saja saat itu. Setiap Ibu ingin merenovasi rumah, membetulkan genteng atau sekedar mempercantik rumah, Om Sapri selalu menawarkan membantu Ibu. Aku juga senang, bisa bertemu Om Sapri lebih sering dan bisa dimanjakan Om Sapri saat itu. Hal ini berlangsung terus sampai Ibuku memutuskan membuka bisnisnya sendiri saat aku masuk SMP, Ibu makin jarang di rumah. Bahkan seringkali aku tidak bertemu Ibu seharian. Bangun tidur, Ibu sudah berangkat kerja begitupun Ayah. Pulang sekolah, rumah sepi, kakakku sibuk les. Mereka baru akan pulang saat aku dan kakak sudah tertidur pulas di kamar masing-masing.
Kesepianku ini berlanjut sampai aku duduk di bangku SMA, sama saja tanpa orangtua. Ibu dan Ayah jadi semakin sering marah-marah hanya karena perkara sepele. Aku jadi semakin malas jika mereka ada di rumah, aku jadi semakin menikmati kesendirianku.
Siang itu sepulang sekolah, aku langsung masuk rumah, mengunci kamar, menyalakan pendingin ruangan dan menjatuhkan diri di atas kasurku yang empuk. Beperapa hari belakangan Ibu meminta tolong Om Sapri untuk memasang plafon di ruang tamu bersama dengan tukang-tukang lain. Tapi setibanya aku di rumah, aku tak melihat Om Sapri dan teman-temannya, mungkin sedang istirahat siang. (FYI, posisi ruang tamuku ada di sebelah kiri kamarku, di depan kamarku ruang tengah, di sebelah kananku kamar kakak, dan di depan kamar kakak adalah ruang keluarga).
Cuaca siang itu sungguh terik, badanku rasanya penuh dengan keringat tapi rasanya malas sekali berganti pakaian. Aku hanya melepas rok dan membuka beberapa kancing baju bagian atas. Tiduran hanya dengan underwear, bra dan kemeja sekolah yang terbuka sana-sini. 'Ah tak ada yang liat, aku di kamar sendirian. Lagipula, pintu juga sudah kukunci', fikirku. FYI, sejak aku puber di kelas 3 SMP (maaf) bagian payudaraku tumbuh dengan cepat dan saat aku menginjak kelas 1 SMA, payudaraku sudah termasuk sangat besar untuk anak sekolah seusiaku (kalau tidak salah sudah cup C saat itu, sekarang cup D).
Aku masih asik tenggelam dengan novel teenlit yang kubeli beberapa hari lalu saat tiba-tiba aku melihat sekelebat cahaya putih di ventilasi atas pintu kamarku (di desaku, setiap pintu dan jendela dilengkapi ventilasi berukuran sekitar 60x100cm di bagian atas agar memudahkan udara segar keluar masuk ruangan). Kuperhatikan bagian ventilasi yang mulai berdebu itu namun tak ada yang mencurigakan, aku kembali melanjutkan membaca novelku sambil sesekali melirik ke arah ventilasi.
2 menit berlalu, aku seperti mendengar bunyi-bunyian di depan pintu kamarku. Seperti bunyi gesekan ke pintu kamar. Jantungku mulai berdegup kencang, di rumah sedang tak ada siapa-siapa seingatku. Lalu siapa yang sedang berdiri di depan pintu kamarku? Kulihat di celah bagian bawah pintu, nampak bayangan orang yang berdiri mondar-mandir namun tak ada suara hanya dengusan nafasnya yang terdengar sedikit berat. Aku semakin panik, saat itu aku hanya bisa memikirkan maling yang masuk rumah karena beberapa tahun lalu rumahku juga kemalingan dan malingnya membawa pisau hampir menyerangku yang baru saja tiba di rumah saat itu.
Selang beberapa detik diantara kepanikanku, tiba-tiba cahaya putih itu kembali muncul di ventilasi kamar. Kali ini diiringi dengan bunyi 'ckrekkk' berkali-kali, yang menyadarkanku kalau itu ternyata flash kamera. Aku semakin panik, ada orang memotretku dari luar, dan sialnya posisiku saat itu setengah telanjang. "MAMPUS", gumamku dalam hati. Aku gemetaran, tak tau harus berbuat apa. Badanku kaku, aku hanya bisa pura-pura tak tau apa yang terjadi saat itu. Tapi tak dapat dipungkiri, aku sudah mau hampir menangis berharap orang itu cepat-cepat pergi. Namun disela-sela ketakutanku, tiba-tiba aku mendengar suara,
"Ngapain Mas Sapri? Ventilasinya rusak?", tanya orang itu. Aku tak mendengar sahutan dari orang yang tengah berdiri di depan pintu kamarku.
'Anj***********ng', umpatku lirih. Orang yang daritadi memotretku ternyata Om Sapri. Mau apa dia dengan foto-fotoku? Apa dia lupa kalau aku ini anak dari saudara yang sudah membesarkannya? Kenapa dia malah bertindak tidak senonoh seperti ini?
Banyak pertanyaan yang berputar-putar dalam kepalaku, tanpa kusadari aku mulai menangis tersedu-sedu di dalam kamar tanpa berani keluar. Sampai malam tiba dan kakak serta papaku pulang, aku masih belum berani keluar kamar.
Papa mengetuk-ngetuk pintu kamarku bertanya kenapa aku mengurung diri. Aku takut, tapi kupaksakan keluar. Kubuka pintu kamar perlahan, masih dengan sedikit terisak. Papa kebingungan melihatku yang amburadul dengan rambut acak-acakan dan mata yang sembab.
"Kenapa dik?", tanya Papaku.
"Gak kenapa-kenapa pa, cuma banyak PR adik capek", sahutku masih dengan sedikit bergetar.
Papa mengelus kepalaku pelan dan memelukku. Dia menyuruhku untuk segera mandi, berganti pakaian dan mengajakku makan malam. Sepanjang makan malam, aku diam membisu. Tak ada sepatah kata yang berani kukeluarkan.
Beberapa hari setelah itu, aku sudah kembali ceria. Aku tak lagi memikirkan apa yang terjadi, yah namanya anak sekolah. Seperti biasa, pukul 14.00 aku langsung bergegas pulang ke rumah untuk melanjutkan novel teenlit yang belum selesai kubaca. Di rumah juga sepi, hanya ada aku dan beberapa tukang. Tak lama setelah aku pulang, kakakku juga pulang dari sekolahnya. Dia langsung lari ke ruang keluarga dan bermain game konsolnya yang baru dibeli beberapa hari lalu. Kubiarkan sajalah, fikirku.
Aku langsung masuk ke kamar, mengambil handuk dan menuju kamar mandi. Hari ini terlalu panas dan aku terlalu gerah untuk langsung baca novel, karena itu kuputuskan untuk mandi dan makan siang dahulu.
Kamar mandiku terletak di belakang ruang keluarga, di area dapur bersih menuju ke dapur kotor dan di depan kamar mandi terdapat lorong selebar 2 meter yang cukup gelap jika tidak dinyalakan lampu. Ditengah-tengah aktifitas mandiku yang berisik karena aku juga bersenandung, lagi-lagi aku terkejut dengan cahaya putih yang muncul sekelebat di atas ventilasi pintu kamar mandiku. Aku langsung panik, "Anj*ng, aku telanjang loh ini! Om Sapri gak kapok-kapok!", umpatku dalam hati. Dengan cepat aku bersembunyi di pojok belakang pintu kamar mandi agar dia tak bisa memotretku dari sela ventilasi. Bunyi kamera itu masih terus kudengar sekitar 3-4 kali selama aku bersembunyi dan kemudian hening, tak ada suara apa-apa. Dan sesaat Om Sapri memanggilku, "Dik? Kamu di kamar mandi? Om baru mau pipis nih. Masih lama gak?", tanyanya menyelidik.
Tak ada kata yang keluar dari mulutku, aku diam tak berani bersuara. Om Sapri kembali memanggil, "Dik? Kamu gausah takut Om cuma nanya", timpalnya lagi.
'Hah? Takut? Apa-apaan sih? Apa maksudnya? Kenapa dia malah jadi seperti om-om cabul yang mau merudapaksaku?', aku masih tak bersuara sama sekali, hanya bisa menangis dalam diam dan ketakutanku. Jantungku berdegub kencang sekali dengan ketakutanku diapa-apakan dan tanpa kusadari sudah 1 jam aku mengurung diri di dalam kamar mandi sampai kakakku menggedor-gedor kamar mandi dengan paniknya, "Dik? Dik??!!! Kamu pingsan? Mandi kok gak kelar-kelar? Dikkk????".
"Iya kak, aku cuma lagi gosok-gosok kaki", sahutku lega. Kakakku ternyata masih ada di luar.
"Yaudah cepetan mandinya, kita makan siang. Kakak laper", jawabnya.
"Iya kak, ini udah kok".
Aku tak berani menatap Om Sapri setelah itu, aku juga tak berani menceritakan pada siapa-siapa perkara hal ini. Beberapa bulan berlalu semenjak itu, tak ada lagi teror foto-foto itu, aku fikir masalah sudah selesai. Mungkin aku yang terlalu panik.
Tapi ternyata? Belum, belum selesai. Masih ada yang akan terjadi di depanku....
AKAN ADA KELANJUTANNYA, PANJANG GAN HAHA.
AKU AKAN CURHAT BERKALA, KARENA SAMBIL KERJA.
NAMANYA JUGA CURHAT :").
NAMANYA JUGA CURHAT :").
MOHON MASUKANNYA KALAU ADA KEKURANGAN, TRIMS.
Diubah oleh deadtree 20-12-2019 10:59
jamalfirmans282 dan 61 lainnya memberi reputasi
60
130.4K
629
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
deadtree
#473
Side Story - Major Depressive Disorder
- 08 Oktober 2019 -
"Astaghfirullahaladzim Mbak!!!"
Tangan itu memelukku, menarik paksa dan melemparkan tubuhku ke lantai. Aku meraung meronta minta dibiarkan terjun dari lantai 9 parkiran apartemen. Sekuriti dan beberapa petugas memapahku kembali ke kamar, menelepon sahabatku untuk menemaniku dan menenangkanku. Kesekian kali percobaan bunuh diriku digagalkan orang lain. 15 menit kemudian, sahabat sekaligus teman sekantorku Bianca datang dan langsung menghambur ke arahku.
Bianca: "Kamu ngapain sih Mila, Jesus!"
Aku: "Aku mau mati aja, aku gak mau terus-terusan begini"
Bianca: "Inget, bulan ini kamu nikahan! Ayo coba minum dulu, air matanya distop dulu, cerita sama aku kenapa ya sayang akuuuuh"
Aku meminum beberapa teguk, menarik nafas panjang dan mencoba bercerita sambil sesegukan: "Aku udah mau nikah, Mas Ara baik banget sama aku. Tapi aku takut, aku takut apa yang terjadi sama Herri dulu kejadian lagi sama Mas Ara. Herri, rudapaksaan, aborsi, siksaan mama, semuanya berputar-putar di kepalaku. Aku gak bisa nyusahin orang lagi, aku gak bisa nyakitin orang lagi. Aku gak mau bikin Mas Ara kecewa sama aku, aku ini gila. Aku ini sakit jiwa Bi, aku ga pantes buat Mas Ara."
Bianca menarik nafas cukup dalam dan bilang: "Kamu sayang Mas Ara?"
Aku: "Sayang...."
Bianca: "Kamu sayang sama Mamamu?"
Aku: "Sayang Bi..."
Bianca: "Kalau kamu sayang dan gak mau bikin mereka semua kecewa, kamu mau gak bikin mereka happy?"
Aku: "Mau... Makanya aku mau mati aja, biar mereka happy gak terbebani sama aku"
Bianca: "Hey, listen! If they stay until this very moment, it means mereka gak terbebani. Kamunya, kamu mau terima kenyataan kamu ini punya mental problem gak?"
Aku: "I...iya. Aku sadar aku punya mental problem, tapi aku ga berani ngakuin kalau aku punya mental problem"
Bianca: "Mental problem gak buruk Mila. Kamu ngakuin mental problem bukan berarti kamu kalah atau kamu salah. Kamu ini lho, lahir sebagai pohon yang subur, tinggi menjulang, hijau dan lebat daunnya. Banyak yang berteduh di kamu, mereka merasa kamu ini bisa mereka manfaatkan untuk kepentingan mereka. Tapi, karena banyak yang merasa kamu ini bisa dimanfaatkan, kamu jadinya diambil rantingnya, dipetik daunnya, dipaku batangnya, daunnya menghitam kena debu dan kotoran dari orang-orang yang pernah mampir di hidupmu. Tapi bukan berarti kamu yang salah karena kamu sekarang tidak sama dengan pohon lainnya. Kamu, dengan semua orang yang memanfaatkanmu, dengan semua derita yang kamu terima masih bisa berdiri kokoh sebagai pohon yang kuat. Artinya apa? Kamu ini hebat, kamu ini kuat dan kamu ini beda dari yang lain. Gak semua pohon bisa jadi sekuat kamu. Kamu hanya perlu belajar menerima, 'Oh, aku sedang berdebu dan lecet-lecet. Aku harus menerima itu dan kemudian mencari cara untuk tumbuh lagi lebih baik dan lebih kuat'. Ada aku, ada Mas Ara, ada Mama dan Papa, ada semua orang yang sayang sama kamu. Gak pernah sedetikpun kami niat ninggalin kamu, enggak. Apapun kamu, gimanapun kondisimu, itulah Kamila sang pohon hebat bagi kami. Sekarang, udah ga ada lagi orang-orang yang merusak kamu entah sengaja atau engga. Kamu mau gimana? Bersihin dirimu atau mau mati kering ninggalin kita?"
Aku hanya diam berusaha menerima semua kalimat Bianca dan menekan sisi lainku yang selalu ingin memberontak
Bianca: "Hey, kamu lihat mataku. Aku gak tau gimana aku kalau jadi kamu, tapi aku bangga bisa kenal kamu. Tanpa kamu sadari, kamu berharga buat aku, kamu yang ngajarin aku strong dan sabar. Kamu itu pahlawanku. Rasa itu, luka itu, kenangan itu gak akan bisa hilang Mil, aku mencoba pahami itu. Tapi setiap semua rasa sakit yang kamu rasain sekarang, besok, lusa, setahun kedepan, sepuluh tahun lagi, sampai kita tua nanti aku akan selalu siap dengerin. Tapi tolong, aku mohon saat ini dengerin aku dulu. Aku gak siap kehilangan kamu, apalagi Mas Ara. Kamu itu seluruh dunianya, seisi hidupnya. Kami berdua gak siap kehilangan kamu"
Aku menangis, kali ini menangis mengerti setiap baris kalimat yang keluar dari mulut Bianca. Aku iyakan permintaannya untuk menemaniku ke Psikiater di RSJ keesokan harinya.
Malam itu Bianca tidur di apartemenku, sengaja aku hanya bilang ke Mas Ara kalau aku ingin sendiri setidaknya malam ini. Aku ingin merenung semalaman pintaku.
Aku duduk di sofa menghadap ke balkon, mataku kosong menatap gelapnya malam dan gemerlap lampu gedung perkantoran. Tiba-tiba aku teringat celetukan seorang rekan kerja, "Mila itu gak enakan orangnya ya. Dia open sama siapa aja, dia bisa nempatin cara becandaannya ke semua orang. Sampai akhirnya Mila dianggap orang yang 'selow' padahal enggak. Gue tau kok, lo baper dan gampang sekali sakit hatinya. Cuma ya itu lo lebih milih diam daripada lo keluarin. Gue ngerti kalau Mila tiba-tiba diem berarti dia gak seneng, tapi tetep senyum biar orang yang bikin dia kesinggung gak kesinggung balik sama dia. Gak boleh gitu tau Mil, ntar gampang direndahin orang lain".
Susah sekali untuk dijabarkan apa yang terjadi di dalam otakku. Kalau kalian yang baca ini ketemu aku, mungkin impresi dari masing-masing akan berbeda. Akan ada yang bilang aku ini pendiam, ada yang akan bilang aku ini judes, dan akan ada yang bilang kalau aku ini humble setengah mati. Setiap hari, yang kurasakan bak roller coaster of emotion.
Pertama, ada rasa takut. Takut yang sangat takut dengan respon orang lain, takut dengan apa yang terjadi di masa lalu dan takut dengan apa yang akan terjadi di masa depan. Rasa takut yang membuatku ingin lari dari kenyataan dengan cara bunuh diri. Ini, rasa ini timbul setiap hari. Setiap hari ada saja skenario kematian yang kurancang di kepalaku. Misal, aku lagi jalan di trotoar trus melihat motor ngebut di jalanan. Aku membayangkan aku loncat ke jalanan dan ditabrak olehnya. Mati seketika dengan kondisi mengenaskan dan kemudian berfikir gimana perasaan orang-orang yang kenal aku? Apa mereka sedih?
Atau aku sedang di ruangan kerjaku di lantai 11. Sebelah mejaku kaca lebar yang bisa memandang ke jalanan ibukota. Aku bisa saja membuat skenario kematianku dengan cara memecahkan kaca dan loncat ke bawah atau berlari ke flyover dan loncat ke bawah atau bahkan memecahkan kaca dan menusuk kerongkonganku sendiri, atau lebih-lebih lagi menghantamkan kepalaku ke dinding sampai bocor. Dan berharap bisa melihat respon orang setelahnya.
Kedua, apapun yang kulakukan entah itu yang ada hubungannya dengan masa lalu atau tidak, aku selalu akan flashback ke satu momen menyakitkan di dalam hidupku. Entah itu momen disiram air panas, momen dirudapaksa, momen dicaci oleh ibu dan lain-lain. Mau tidak mau, suka tidak suka flashback itu akan mampir di otakku minimal 3-4 kali sehari. Mentalku hampir sepanjang hari drop, dan sebisa mungkin aku paksakan untuk tetap bekerja dengan senyuman. Aku ingin lupa, aku ingin sekali lupa. Tapi entah kenapa hal sekecil apapun selalu mengingatkanku akan masa-masa kelam hidupku. Akibatnya? Aku hidup dalam kebohongan tentang aku yang sebenarnya tidak baik-baik saja, karena aku tau percuma aku mengeluh mereka pasti bosan dan muak mendengar cerita yang itu-itu saja.
Ketiga, sudah kebal mungkin tubuhku ini dengan rasa sakit. Aku pernah dengan sengaja menjatuhkan diriku di jalan saat berkendara dengan kecepatan tinggi dan berujung dengan badanku memar lebam biru. Aku pernah dengan sengaja membenturkan kepalaku ke dinding dan ke kaca berkali-kali sampai berdarah. Aku pernah menyayat-nyayat lenganku hanya untuk melihat kucuran darah dan merasakan sakitnya luka fisik. Aku pernah membenturkan lengan, betis, punggungku ke benda keras sampai timbul lebam luka. Aku pernah minum obat tidur sampai 5tablet sekaligus dan berujung opname di RS. Aku pernah dengan sengaja menyebrang sembarangan agar ditabrak orang. Aku pernah minum miras oplosan sampai pingsan tak sadarkan diri dan masih banyak lagi perlakuanku terhadap tubuhku sehingga berdarah dan memar-memar. Kalau kalian tanya kenapa? Aku ingin mengalihkan fikiranku dari rasa sakit di dadaku ini. Cuma itu.
Keempat, setiap hari aku merasa bahwa diriku ini worthless. Aku merasa aku tidak punya skill, bodoh, tidak berguna untuk orangtua, tidak punya harta, dianggap aib, sudah pernah dirudapaksa, sudah pernah aborsi, sudah dianggap pelakor dan pramuria. Setiap hari aku selalu merasa down, meski beberapa menit lalu sedang bahagia-bahagianya. Aku bisa dengan sangat gampang merasa sedih, dan seringkali aku sendiri bingung entah karena apa. Yang kurasakan saat itu ya aku ini worthless. Aku sering mempertanyakan apa gunanya aku hidup? Kenapa aku masih dikasih hidup sama Tuhan? Aku sering merasa lelah akan apa yang kujalani, hati ini rasanya berat sesak nyeri dan air mata ini mudah sekali menetes setiap aku merasa worthless.
Kelima, everywhere I go I feel alone and I'm not belong here. Aku tidak pernah merasakan full, merasakan aku diterima di sebuah circle. Aku merasa duniaku bukan bersama siapa-siapa, menurutku duniaku adalah aku hidup sendiri dan mati membusuk sendiri. Aku juga sering sekali membayangkan hidup di hutan dan menikmati semua rasa sakit dan emosi serta kesendirianku. Tapi lagi-lagi, semua itu harus kututpi dengan senyuman di depan banyak orang. Mereka lebih baik mendengar celotehanku dan mereka lebih baik membullyku daripada mereka harus tau keluh kesahku.
Keenam, bagiku setiap kesedihan, kekecewaan atau emosi orang-orang di sekitarku bisa jadi sebabnya karena aku. Aku akan panik jika orang yang kuajak ngobrol tiba-tiba diam dan malah berbicara dengan orang lain. Atau aku akan kepikiran berhari-hari jika rekan kantor yang kusapa acuh dan tidak menyapaku balik. Aku akan berfikir aku pernah buat salah padanya di masa lalu yang membuatnya sekarang membenciku. Aku merasa aku sumber masalah. Saat kulihat Mama, Mas Ara, atau siapapun tiba-tiba bertengkar denganku bagiku akulah sebabnya. Aku akan merasa semuanya akan lebih baik kalau aku diam, dan menurut setiap ucapan orang entah aku suka atau tidak suka. Aku merasa semua orang tidak akan emosi dan sakit hatinya kalau aku mati, atau tidak ada di hidup mereka.
Ketujuh, aku ini tidak sesabar yang orang kira. Aku ini "mendam" perasaan. Aku bisa saja membayangkan cara meluapkan emosiku pada orang yang membuatku kecewa. Entah dengan memikirkan cara memakinya balik yang membuat mentalnya down, atau bahkan memikirkan cara menginjak-injak kepalanya karena telah menyakiti perasaanku. Aku juga kadang memikirkan cara membuat mereka menyesal entah itu dengan kekerasan fisik atau verbal. Tapi balik lagi, semua itu hanya kupendam dalam diamku, aku tau itu salah dan gak boleh kulakukan. Aku akan coba untuk tersenyum berharap aku bisa segera melupakan kalimat menyakitkan mereka. Pelampiasan emosiku biasanya ke pasangan, dengan air mata dengan intonasi tinggi dan kemudian pergi kabur entah kemana. Mas Ara? Sabarnya luar biasa. Meski kadang dia masih sering emosi dan ikut balik memakiku tapi dia tak serta merta pergi. Mas Ara akan tetap di ruangan itu dan memintaku menyelesaikan masalah saat itu juga. Masalah ada di aku, aku yang terlalu banyak menahan perasaan dan seketika meluap ke Mas Ara merasa tidak nyaman jika terus-terusan ditekan, aku lebih suka kabur menyendiri. Ada rasa gemetaran di dadaku jika aku terus berada di situasi konflik, kakiku tidak bisa diam dan tanganku ingin terus-terusan mengambil sesuatu untuk kupecahkan, otakku terus-terusan memaksaku untuk menyakiti diriku dan bunuh diri. Karena di dalam otakku, aku merasa aku yang membawa Mas Ara ke dalam konflik ini.
----
Pagi-pagi sekali kudengar bel di depan pintu, ternyata Mas Ara sudah berdiri di depan kamarku bersiap ingin mengantarku ke Pskiater. Bianca yang menghubungi Mas Ara, dan dia lebih memilih membiarkan Mas Ara yang menemaniku. Hari itu, aku izin tidak masuk kerja dan pergi ke RSJ bersama Mas Ara. Di perjalanan, Mas Ara tak sedikitpun melepas genggaman tangannya. Dia juga tak bertanya tentang apa yang terjadi padaku. Dia hanya bertanya aku mau sarapan apa sebelum kami tiba di RSJ.
Setibanya kami disana, Mas Ara yang mengurus administrasi. Kuperhatikan di sekelilingku banyak sekali pasien-pasien dengan mental problem. Ada yang seumuran dan ada pula yang lebih muda dan tua dariku. Awalnya aku lebih ingin ke psikolog, tapi kuurungkan niat itu dan ke Psikiater terlebih dulu karena ini Rumah Sakit dan aku akan mendapatkan perawatan yang lengkap di sini.
Cukup lama aku menunggu giliranku dipanggil, sampai seorang suster memanggilku ke meja pemeriksaan awal. Dia memeriksa tensi darahku dan kemudian berteriak "CK! BANYAK BANGET SI PASIEN BARU!!". Mas Ara langsung kesal, tapi kutahan karena ini rumah sakit. Walau sebenarnya sebenarnya tindakan sang suster sudah menyalahi aturan karena aku tahu kami para perawat sudah disumpah dengan butir-butir yang harus dijalankan termasuk menerima pasien dengan sepenuh hati. Dia bertanya banyak hal mulai dari alasanku kesana dan background masa laluku. Dia bertanya berkali-kali apakah aku mendengar bisikan-bisikan atau mendengar suara-suara yang membujukku untuk bunuh diri. Aku bingung, apa otakku yang memintaku untuk bunuh diri termasuk bisikan? Aku bilang saja tidak.
Setelah tanya jawab, aku menunggu sekitar 10 menit dan kemudian dipanggil masuk ke ruangan Psikiater. Mas Ara menemaniku masuk. Di ruangan 3x3 itu hanya ada meja dokter, dan 2 kursi pasien. Kosong melompong. Aku kembali berfikir, 'memang cuma seperti ini? Gak ada alat pemeriksaan?'. Setelah saling memperkenalkan diri, Mas Ara menceritakan keluhan dan permasalahanku. Kemudian dokter meminta Mas Ara untuk keluar ruangan karena ingin bicara empat mata saja denganku. Dokter memintaku menceritakan semua masalahku dari awal, bayangkan kuceritakan semua dari chapter 1 sampai chapter terakhir yang Agan & Sista baca, ujung-ujungnya sang dokter bilang "Kamu beribadah gak? Kamu kurang ibadah sepertinya".
Setelah obrolan yang sekenanya dan jawaban template seperti jawaban dari orang-orang yang pernah kucurhati, dia mendiagnosaku menderita Major Depressive Dissorder. Dia juga bilang karena harus sholat Jumat, dia memintaku untuk kembali lagi minggu depan dan mencatatkan resep obat yang boleh kutebus boleh tidak. Obat ini membantuku tenang dan lebih positif berfikir. Dia juga bilang karena lupa mencatat semua curhatanku, dia memintaku menulis esai curhatanku di kertas atau dikirimkan via whatsapp. Aku yang sudah tidak peduli langsung iya-iya saja dan keluar dari ruangan.
Aku dan Mas Ara pulang ke rumah setelah menebus obat yang harganya selangit itu (dia meresepkanku 30tablet/sebulan). Aku ceritakan kekecewaanku tentang sang Psikiater ke Mas Ara dan Mas Ara menawarkanku untuk pergi ke Psikolog saja yang punya praktek mandiri daripada ke rumah sakit. Malam itu, aku teguk obat yang diresepkan, dan selang beberapa menit mataku berat sekali. Sudah ratusan obat tidur yang kutenggak tapi sepertinya obat ini jauh lebih kuat dosisnya. Aku langsung terlelap tanpa kuat melawan. Paginya aku terbangun dengan lutut lemas, badan gemetaran, kerongkongan dan bibir kering. mata berat dan jantung berdebar kencang sekali. After effect dari obat ini kurasakan 12 jam setelah bangun tidur, dan aku terpaksa kerja dengan sempoyongan.
Aku cerita ke Mas Ara, dan Mas Ara meminta untuk stop dulu obat itu. Malam harinya, Mas Ara cerita kalau efek dari obat itu keras sekali terutama untuk aku yang akan menikah dan merencanakan untuk punya momongan. Aku putuskan untuk berhenti minum obat itu dan kembali dengan metode awalku mengendalikan sakit mentalku yaitu: PURA PURA BAIK-BAIK SAJA.
- 08 Oktober 2019 -
"Astaghfirullahaladzim Mbak!!!"
Tangan itu memelukku, menarik paksa dan melemparkan tubuhku ke lantai. Aku meraung meronta minta dibiarkan terjun dari lantai 9 parkiran apartemen. Sekuriti dan beberapa petugas memapahku kembali ke kamar, menelepon sahabatku untuk menemaniku dan menenangkanku. Kesekian kali percobaan bunuh diriku digagalkan orang lain. 15 menit kemudian, sahabat sekaligus teman sekantorku Bianca datang dan langsung menghambur ke arahku.
Bianca: "Kamu ngapain sih Mila, Jesus!"
Aku: "Aku mau mati aja, aku gak mau terus-terusan begini"
Bianca: "Inget, bulan ini kamu nikahan! Ayo coba minum dulu, air matanya distop dulu, cerita sama aku kenapa ya sayang akuuuuh"
Aku meminum beberapa teguk, menarik nafas panjang dan mencoba bercerita sambil sesegukan: "Aku udah mau nikah, Mas Ara baik banget sama aku. Tapi aku takut, aku takut apa yang terjadi sama Herri dulu kejadian lagi sama Mas Ara. Herri, rudapaksaan, aborsi, siksaan mama, semuanya berputar-putar di kepalaku. Aku gak bisa nyusahin orang lagi, aku gak bisa nyakitin orang lagi. Aku gak mau bikin Mas Ara kecewa sama aku, aku ini gila. Aku ini sakit jiwa Bi, aku ga pantes buat Mas Ara."
Bianca menarik nafas cukup dalam dan bilang: "Kamu sayang Mas Ara?"
Aku: "Sayang...."
Bianca: "Kamu sayang sama Mamamu?"
Aku: "Sayang Bi..."
Bianca: "Kalau kamu sayang dan gak mau bikin mereka semua kecewa, kamu mau gak bikin mereka happy?"
Aku: "Mau... Makanya aku mau mati aja, biar mereka happy gak terbebani sama aku"
Bianca: "Hey, listen! If they stay until this very moment, it means mereka gak terbebani. Kamunya, kamu mau terima kenyataan kamu ini punya mental problem gak?"
Aku: "I...iya. Aku sadar aku punya mental problem, tapi aku ga berani ngakuin kalau aku punya mental problem"
Bianca: "Mental problem gak buruk Mila. Kamu ngakuin mental problem bukan berarti kamu kalah atau kamu salah. Kamu ini lho, lahir sebagai pohon yang subur, tinggi menjulang, hijau dan lebat daunnya. Banyak yang berteduh di kamu, mereka merasa kamu ini bisa mereka manfaatkan untuk kepentingan mereka. Tapi, karena banyak yang merasa kamu ini bisa dimanfaatkan, kamu jadinya diambil rantingnya, dipetik daunnya, dipaku batangnya, daunnya menghitam kena debu dan kotoran dari orang-orang yang pernah mampir di hidupmu. Tapi bukan berarti kamu yang salah karena kamu sekarang tidak sama dengan pohon lainnya. Kamu, dengan semua orang yang memanfaatkanmu, dengan semua derita yang kamu terima masih bisa berdiri kokoh sebagai pohon yang kuat. Artinya apa? Kamu ini hebat, kamu ini kuat dan kamu ini beda dari yang lain. Gak semua pohon bisa jadi sekuat kamu. Kamu hanya perlu belajar menerima, 'Oh, aku sedang berdebu dan lecet-lecet. Aku harus menerima itu dan kemudian mencari cara untuk tumbuh lagi lebih baik dan lebih kuat'. Ada aku, ada Mas Ara, ada Mama dan Papa, ada semua orang yang sayang sama kamu. Gak pernah sedetikpun kami niat ninggalin kamu, enggak. Apapun kamu, gimanapun kondisimu, itulah Kamila sang pohon hebat bagi kami. Sekarang, udah ga ada lagi orang-orang yang merusak kamu entah sengaja atau engga. Kamu mau gimana? Bersihin dirimu atau mau mati kering ninggalin kita?"
Aku hanya diam berusaha menerima semua kalimat Bianca dan menekan sisi lainku yang selalu ingin memberontak
Bianca: "Hey, kamu lihat mataku. Aku gak tau gimana aku kalau jadi kamu, tapi aku bangga bisa kenal kamu. Tanpa kamu sadari, kamu berharga buat aku, kamu yang ngajarin aku strong dan sabar. Kamu itu pahlawanku. Rasa itu, luka itu, kenangan itu gak akan bisa hilang Mil, aku mencoba pahami itu. Tapi setiap semua rasa sakit yang kamu rasain sekarang, besok, lusa, setahun kedepan, sepuluh tahun lagi, sampai kita tua nanti aku akan selalu siap dengerin. Tapi tolong, aku mohon saat ini dengerin aku dulu. Aku gak siap kehilangan kamu, apalagi Mas Ara. Kamu itu seluruh dunianya, seisi hidupnya. Kami berdua gak siap kehilangan kamu"
Aku menangis, kali ini menangis mengerti setiap baris kalimat yang keluar dari mulut Bianca. Aku iyakan permintaannya untuk menemaniku ke Psikiater di RSJ keesokan harinya.
Malam itu Bianca tidur di apartemenku, sengaja aku hanya bilang ke Mas Ara kalau aku ingin sendiri setidaknya malam ini. Aku ingin merenung semalaman pintaku.
Aku duduk di sofa menghadap ke balkon, mataku kosong menatap gelapnya malam dan gemerlap lampu gedung perkantoran. Tiba-tiba aku teringat celetukan seorang rekan kerja, "Mila itu gak enakan orangnya ya. Dia open sama siapa aja, dia bisa nempatin cara becandaannya ke semua orang. Sampai akhirnya Mila dianggap orang yang 'selow' padahal enggak. Gue tau kok, lo baper dan gampang sekali sakit hatinya. Cuma ya itu lo lebih milih diam daripada lo keluarin. Gue ngerti kalau Mila tiba-tiba diem berarti dia gak seneng, tapi tetep senyum biar orang yang bikin dia kesinggung gak kesinggung balik sama dia. Gak boleh gitu tau Mil, ntar gampang direndahin orang lain".
Susah sekali untuk dijabarkan apa yang terjadi di dalam otakku. Kalau kalian yang baca ini ketemu aku, mungkin impresi dari masing-masing akan berbeda. Akan ada yang bilang aku ini pendiam, ada yang akan bilang aku ini judes, dan akan ada yang bilang kalau aku ini humble setengah mati. Setiap hari, yang kurasakan bak roller coaster of emotion.
Pertama, ada rasa takut. Takut yang sangat takut dengan respon orang lain, takut dengan apa yang terjadi di masa lalu dan takut dengan apa yang akan terjadi di masa depan. Rasa takut yang membuatku ingin lari dari kenyataan dengan cara bunuh diri. Ini, rasa ini timbul setiap hari. Setiap hari ada saja skenario kematian yang kurancang di kepalaku. Misal, aku lagi jalan di trotoar trus melihat motor ngebut di jalanan. Aku membayangkan aku loncat ke jalanan dan ditabrak olehnya. Mati seketika dengan kondisi mengenaskan dan kemudian berfikir gimana perasaan orang-orang yang kenal aku? Apa mereka sedih?
Atau aku sedang di ruangan kerjaku di lantai 11. Sebelah mejaku kaca lebar yang bisa memandang ke jalanan ibukota. Aku bisa saja membuat skenario kematianku dengan cara memecahkan kaca dan loncat ke bawah atau berlari ke flyover dan loncat ke bawah atau bahkan memecahkan kaca dan menusuk kerongkonganku sendiri, atau lebih-lebih lagi menghantamkan kepalaku ke dinding sampai bocor. Dan berharap bisa melihat respon orang setelahnya.
Kedua, apapun yang kulakukan entah itu yang ada hubungannya dengan masa lalu atau tidak, aku selalu akan flashback ke satu momen menyakitkan di dalam hidupku. Entah itu momen disiram air panas, momen dirudapaksa, momen dicaci oleh ibu dan lain-lain. Mau tidak mau, suka tidak suka flashback itu akan mampir di otakku minimal 3-4 kali sehari. Mentalku hampir sepanjang hari drop, dan sebisa mungkin aku paksakan untuk tetap bekerja dengan senyuman. Aku ingin lupa, aku ingin sekali lupa. Tapi entah kenapa hal sekecil apapun selalu mengingatkanku akan masa-masa kelam hidupku. Akibatnya? Aku hidup dalam kebohongan tentang aku yang sebenarnya tidak baik-baik saja, karena aku tau percuma aku mengeluh mereka pasti bosan dan muak mendengar cerita yang itu-itu saja.
Ketiga, sudah kebal mungkin tubuhku ini dengan rasa sakit. Aku pernah dengan sengaja menjatuhkan diriku di jalan saat berkendara dengan kecepatan tinggi dan berujung dengan badanku memar lebam biru. Aku pernah dengan sengaja membenturkan kepalaku ke dinding dan ke kaca berkali-kali sampai berdarah. Aku pernah menyayat-nyayat lenganku hanya untuk melihat kucuran darah dan merasakan sakitnya luka fisik. Aku pernah membenturkan lengan, betis, punggungku ke benda keras sampai timbul lebam luka. Aku pernah minum obat tidur sampai 5tablet sekaligus dan berujung opname di RS. Aku pernah dengan sengaja menyebrang sembarangan agar ditabrak orang. Aku pernah minum miras oplosan sampai pingsan tak sadarkan diri dan masih banyak lagi perlakuanku terhadap tubuhku sehingga berdarah dan memar-memar. Kalau kalian tanya kenapa? Aku ingin mengalihkan fikiranku dari rasa sakit di dadaku ini. Cuma itu.
Keempat, setiap hari aku merasa bahwa diriku ini worthless. Aku merasa aku tidak punya skill, bodoh, tidak berguna untuk orangtua, tidak punya harta, dianggap aib, sudah pernah dirudapaksa, sudah pernah aborsi, sudah dianggap pelakor dan pramuria. Setiap hari aku selalu merasa down, meski beberapa menit lalu sedang bahagia-bahagianya. Aku bisa dengan sangat gampang merasa sedih, dan seringkali aku sendiri bingung entah karena apa. Yang kurasakan saat itu ya aku ini worthless. Aku sering mempertanyakan apa gunanya aku hidup? Kenapa aku masih dikasih hidup sama Tuhan? Aku sering merasa lelah akan apa yang kujalani, hati ini rasanya berat sesak nyeri dan air mata ini mudah sekali menetes setiap aku merasa worthless.
Kelima, everywhere I go I feel alone and I'm not belong here. Aku tidak pernah merasakan full, merasakan aku diterima di sebuah circle. Aku merasa duniaku bukan bersama siapa-siapa, menurutku duniaku adalah aku hidup sendiri dan mati membusuk sendiri. Aku juga sering sekali membayangkan hidup di hutan dan menikmati semua rasa sakit dan emosi serta kesendirianku. Tapi lagi-lagi, semua itu harus kututpi dengan senyuman di depan banyak orang. Mereka lebih baik mendengar celotehanku dan mereka lebih baik membullyku daripada mereka harus tau keluh kesahku.
Keenam, bagiku setiap kesedihan, kekecewaan atau emosi orang-orang di sekitarku bisa jadi sebabnya karena aku. Aku akan panik jika orang yang kuajak ngobrol tiba-tiba diam dan malah berbicara dengan orang lain. Atau aku akan kepikiran berhari-hari jika rekan kantor yang kusapa acuh dan tidak menyapaku balik. Aku akan berfikir aku pernah buat salah padanya di masa lalu yang membuatnya sekarang membenciku. Aku merasa aku sumber masalah. Saat kulihat Mama, Mas Ara, atau siapapun tiba-tiba bertengkar denganku bagiku akulah sebabnya. Aku akan merasa semuanya akan lebih baik kalau aku diam, dan menurut setiap ucapan orang entah aku suka atau tidak suka. Aku merasa semua orang tidak akan emosi dan sakit hatinya kalau aku mati, atau tidak ada di hidup mereka.
Ketujuh, aku ini tidak sesabar yang orang kira. Aku ini "mendam" perasaan. Aku bisa saja membayangkan cara meluapkan emosiku pada orang yang membuatku kecewa. Entah dengan memikirkan cara memakinya balik yang membuat mentalnya down, atau bahkan memikirkan cara menginjak-injak kepalanya karena telah menyakiti perasaanku. Aku juga kadang memikirkan cara membuat mereka menyesal entah itu dengan kekerasan fisik atau verbal. Tapi balik lagi, semua itu hanya kupendam dalam diamku, aku tau itu salah dan gak boleh kulakukan. Aku akan coba untuk tersenyum berharap aku bisa segera melupakan kalimat menyakitkan mereka. Pelampiasan emosiku biasanya ke pasangan, dengan air mata dengan intonasi tinggi dan kemudian pergi kabur entah kemana. Mas Ara? Sabarnya luar biasa. Meski kadang dia masih sering emosi dan ikut balik memakiku tapi dia tak serta merta pergi. Mas Ara akan tetap di ruangan itu dan memintaku menyelesaikan masalah saat itu juga. Masalah ada di aku, aku yang terlalu banyak menahan perasaan dan seketika meluap ke Mas Ara merasa tidak nyaman jika terus-terusan ditekan, aku lebih suka kabur menyendiri. Ada rasa gemetaran di dadaku jika aku terus berada di situasi konflik, kakiku tidak bisa diam dan tanganku ingin terus-terusan mengambil sesuatu untuk kupecahkan, otakku terus-terusan memaksaku untuk menyakiti diriku dan bunuh diri. Karena di dalam otakku, aku merasa aku yang membawa Mas Ara ke dalam konflik ini.
----
Pagi-pagi sekali kudengar bel di depan pintu, ternyata Mas Ara sudah berdiri di depan kamarku bersiap ingin mengantarku ke Pskiater. Bianca yang menghubungi Mas Ara, dan dia lebih memilih membiarkan Mas Ara yang menemaniku. Hari itu, aku izin tidak masuk kerja dan pergi ke RSJ bersama Mas Ara. Di perjalanan, Mas Ara tak sedikitpun melepas genggaman tangannya. Dia juga tak bertanya tentang apa yang terjadi padaku. Dia hanya bertanya aku mau sarapan apa sebelum kami tiba di RSJ.
Setibanya kami disana, Mas Ara yang mengurus administrasi. Kuperhatikan di sekelilingku banyak sekali pasien-pasien dengan mental problem. Ada yang seumuran dan ada pula yang lebih muda dan tua dariku. Awalnya aku lebih ingin ke psikolog, tapi kuurungkan niat itu dan ke Psikiater terlebih dulu karena ini Rumah Sakit dan aku akan mendapatkan perawatan yang lengkap di sini.
Cukup lama aku menunggu giliranku dipanggil, sampai seorang suster memanggilku ke meja pemeriksaan awal. Dia memeriksa tensi darahku dan kemudian berteriak "CK! BANYAK BANGET SI PASIEN BARU!!". Mas Ara langsung kesal, tapi kutahan karena ini rumah sakit. Walau sebenarnya sebenarnya tindakan sang suster sudah menyalahi aturan karena aku tahu kami para perawat sudah disumpah dengan butir-butir yang harus dijalankan termasuk menerima pasien dengan sepenuh hati. Dia bertanya banyak hal mulai dari alasanku kesana dan background masa laluku. Dia bertanya berkali-kali apakah aku mendengar bisikan-bisikan atau mendengar suara-suara yang membujukku untuk bunuh diri. Aku bingung, apa otakku yang memintaku untuk bunuh diri termasuk bisikan? Aku bilang saja tidak.
Setelah tanya jawab, aku menunggu sekitar 10 menit dan kemudian dipanggil masuk ke ruangan Psikiater. Mas Ara menemaniku masuk. Di ruangan 3x3 itu hanya ada meja dokter, dan 2 kursi pasien. Kosong melompong. Aku kembali berfikir, 'memang cuma seperti ini? Gak ada alat pemeriksaan?'. Setelah saling memperkenalkan diri, Mas Ara menceritakan keluhan dan permasalahanku. Kemudian dokter meminta Mas Ara untuk keluar ruangan karena ingin bicara empat mata saja denganku. Dokter memintaku menceritakan semua masalahku dari awal, bayangkan kuceritakan semua dari chapter 1 sampai chapter terakhir yang Agan & Sista baca, ujung-ujungnya sang dokter bilang "Kamu beribadah gak? Kamu kurang ibadah sepertinya".
Setelah obrolan yang sekenanya dan jawaban template seperti jawaban dari orang-orang yang pernah kucurhati, dia mendiagnosaku menderita Major Depressive Dissorder. Dia juga bilang karena harus sholat Jumat, dia memintaku untuk kembali lagi minggu depan dan mencatatkan resep obat yang boleh kutebus boleh tidak. Obat ini membantuku tenang dan lebih positif berfikir. Dia juga bilang karena lupa mencatat semua curhatanku, dia memintaku menulis esai curhatanku di kertas atau dikirimkan via whatsapp. Aku yang sudah tidak peduli langsung iya-iya saja dan keluar dari ruangan.
Aku dan Mas Ara pulang ke rumah setelah menebus obat yang harganya selangit itu (dia meresepkanku 30tablet/sebulan). Aku ceritakan kekecewaanku tentang sang Psikiater ke Mas Ara dan Mas Ara menawarkanku untuk pergi ke Psikolog saja yang punya praktek mandiri daripada ke rumah sakit. Malam itu, aku teguk obat yang diresepkan, dan selang beberapa menit mataku berat sekali. Sudah ratusan obat tidur yang kutenggak tapi sepertinya obat ini jauh lebih kuat dosisnya. Aku langsung terlelap tanpa kuat melawan. Paginya aku terbangun dengan lutut lemas, badan gemetaran, kerongkongan dan bibir kering. mata berat dan jantung berdebar kencang sekali. After effect dari obat ini kurasakan 12 jam setelah bangun tidur, dan aku terpaksa kerja dengan sempoyongan.
Aku cerita ke Mas Ara, dan Mas Ara meminta untuk stop dulu obat itu. Malam harinya, Mas Ara cerita kalau efek dari obat itu keras sekali terutama untuk aku yang akan menikah dan merencanakan untuk punya momongan. Aku putuskan untuk berhenti minum obat itu dan kembali dengan metode awalku mengendalikan sakit mentalku yaitu: PURA PURA BAIK-BAIK SAJA.
Diubah oleh deadtree 11-12-2019 15:13
kaNtaL GedHa dan 17 lainnya memberi reputasi
18
Tutup