- Beranda
- Stories from the Heart
Tempra Knight
...
TS
ayahnyabinbun
Tempra Knight

Hai para kaskuser..
Ayahbinbun balik lagi dengan cerita baru, yang pastinya beda dari cerita-cerita yang berseliweran di sini..
Semoga para pembaca bisa menikmati cerita petualangan ini bersama om..

No Junk.
No Spam.
Pokoknya ikuti Rules dari Kaskus ya.
Cerita ini murni Fiksi, jadi kalau ada kesamaan nama tokoh dan tempat mohon di maklumi.
Terakhir.
Selamat menikmati bacaan ringan ini.
Spoiler for index:
Diubah oleh ayahnyabinbun 10-12-2019 19:47
nona212 dan 5 lainnya memberi reputasi
6
2K
Kutip
21
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
ayahnyabinbun
#18
Chapter 5
Spoiler for berangkat:
Semilir angin menerpa wajah para penduduk kota dan kicauan burung Di taman tengah kota menemani Reamur dan Mia yang sedang duduk menatap para penduduk kota yang tengah berlalu lalang didepan mereka berdua.
"Jadi kamu seorang Tempra?" tanya Mia berbisik kearah Reamur.
Reamur hanya bisa mengangguk mengiyakan pertanyaan tersebut.
"Dan bocah buronan tersebut juga seorang Tempra."
"Iya," jawabnya pelan.
"Mengapa kau menyembunyikan identitasmu selama ini?"
"Pfft … kamu tahu berapa harga kepala seorang Tempra di pasar gelap? Harganya bisa melebihi ekspektasimu Mia, kami adalah komoditas budak di kerajaan," jawab Reamur sambil menaikkan alis matanya.
"Maaf, aku hanya …"
"Sudah tidak apa-apa, oh iya ini rupi untuk membayar hutang-hutangku selama ini," seru Rea sambil menyodorkan sekantung penuh keping rupi pada Mia.
"Oh … iya, terimakasih banyak … jadi setelah ini kamu mau pergi?"
"Iya … aku dan bocah berambut putih itu akan pergi menuju gunung Eragia untuk menemukan Tempra lainnya."
"Tapi Rea kemungkinan itu terjadi akan …"
"Aku tidak akan pernah tahu kalau tidak mencarinya dulu, itu yang selalu kamu katakan ketika aku sedang mencari sesuatu, iya kan?" potong Rea mengutip kata-kata yang selalu Mia sebutkan pada dirinya.
Mia terdiam menatap senyum Rea yang merekah setelah mengatakan hal tersebut.
"Baiklah aku akan pergi, bocah berambut putih itu mungkin telah sampai di jembatan Alga sekarang," seru Reamur sembari berdiri, "baik Mia aku pergi dulu ya …"
Kata-kata Reamur terhenti tatkala Mia tiba-tiba memeluk tubuh Reamur erat dari belakang.
"Hiks … berjanjilah satu hal padaku Rea."
"Apa?"
"Sehatlah selalu selama kamu pergi … hiks … dan kembalilah kesini suatu hari nanti untuk membeli ramuan obat milikku lagi," seru Mia sambil terisak membenamkan wajahnya di punggung Reamur.
"Iya, aku berjanji tapi kemungkinan aku akan berhutang kembali, tidak apa-apa kan?"
Mia tersenyum sambil mengusap bekas air mata di pipinya, dengan perlahan Reamur mendekatkan wajahnya kearah wajah Mia.
-cup-
Kecup lembut bibir Rea di pipi kanan Mia, semburat merah karena malu menghiasi pipi putih tersebut.
"Aku pergi dulu."
Mia hanya bisa mengangguk sambil memandangi punggung bidang Reamur yang semakin menghilang di keramaian pusat kota.
***
"Kalau ini apa paman?" tanya pemuda berambut putih tersebut.
"Ini manisan jagung dengan lelehan madu di atasnya," terang penjual makanan di dermaga kota Gulan.
-glek-
"Kalau yang ini paman?" tanya kembali sang pemuda berambut putih tersebut.
"Kalau ini kue bulan dengan isi kacang Gulan, kacang manis yang biasa tumbuh disekitar sini," terang sang penjual makanan tersebut.
-Kruuuuuk-
Bunyi perut kosong berpendar dari tubuh lelaki berambut putih tersebut.
"Ugh kelihatannya enak sekali," gumam pemuda tersebut sembari mengusap-usap perutnya.
"Kamu mau? ini paman bagi beberapa," terang sang penjual makanan.
"Waaah!! terima kasih paman!" seru pemuda tersebut dengan tangan terbuka menerima beberapa kue bulan pemberian penjual makanan.
Sang penjual tersenyum melihat tingkah pemuda tersebut, "nama kamu siapa anak muda?" tanya sang penjual makanan.
"Velvius, nyam nyam nyam," seru Celcius dengan mulut penuh makanan.
"Huh? Nama yang aneh."
-glek-
"Hehe, namaku aneh sudah dari sananya paman. Oh iya kalau jembatan Alga kearah mana ya paman?" tanya Celcius.
"Oh tidak jauh dari kota, kau lurus saja mengikuti jalan utama kota hingga menemukan papan petunjuk arah," jawabnya sembari menatap wajah Celcius.
"Kau ingin pergi kesana, paman sarankan kau pergi melewati rute lain, disana sedang ada pemeriksaan oleh penjaga kerajaan, mereka masih mencari buronan yang kabur dari kerajaan para naga," terang paman penjual makanan tersebut.
Celcius terdiam tengah memikirkan sesuatu dan ia kemudian tersenyum.
"Baik paman terima kasih untuk kue dan petunjuk arahnya," seru Celcius sambil menunduk memberi hormat pada paman penjual makanan.
"Iya hati-hati dijalan ya anak muda," seru paman penjual makanan sembari mengusap puncak kepala Celcius.
Celcius beranjak pergi dan dengan perut yang sudah sedikit terisi ia menuju arah petunjuk jalan yang diberikan oleh paman penjual makanan. Di tengah jalan langkahnya terhenti saat bertemu dengan segerombolan patroli penjaga, mereka terlihat menyisir jalanan kota mencari keberadaan buronan yang sedang dicari-cari.
"Argh sial … HMFH..!"
Sebuah telapak tangan tengah menutup mulut Celsius dari belakang kepalanya.
"Sssttt diam!" desis lelaki dibelakang tubuhnya.
"Rea?"
"Sedang apa kau disini? Bukankah kita sepakat akan bertemu di jembatan Alga!"
"Aku tersesat … hehe, lagipula kata paman penjajah makanan di jembatan Alga sedang ada pemeriksaan mencari keberadaanku."
"Hhmmm … baiklah kalau begitu ikuti aku," seru Reamur yang beranjak pergi menuju gang di antara gedung-gedung dan Celcius mengekor di belakang Reamur setengah mengendap-endap.
Sampai di gang gelap tersebut Reamur menoleh kebelakang memastikan tidak ada orang yang mengikuti dirinya maupun Celcius, "Pakai ini," seru Reamur sambil menyodorkan sebuah jubah hitam.
Celcius memakai jubah tersebut dan tidak lupa memakai masker hitam untuk menutup setengah wajahnya.
"Ikuti aku, kita akan melewati rute lain," terang Reamur yang diikuti anggukan dari Celcius.
Selang beberapa jam para penjaga telah menyisir seluruh kota Gulan namun keberadaan buronan masih tidak di ketahui.
"Kapten James seluruh kapal anda sudah kami periksa, terima kasih atas kerja samanya," seru salah seorang prajurit kerajaan.
"Oh tentu saja, apapun saya lakukan untuk kerajaan," balas kapten James dengan ramah.
Para prajurit berbaris turun dari kapal dan mulai menyisir kembali area Dermaga.
"BAIK SEMUA! KITA BERANGKAT! ANGKAT JANGKAAAR...!" teriak sang kapten dengan semangat kepada para anak buahnya.
"Aye kapten!!" serempak para anak buah kapal berseru dan segera bersiap berlayar menuju lautan lepas.
Kapten James berjalan perlahan menuju geladak kapal, ia berdiri tepat di depan tong-tong berisi umpan ikan, ia menatap sekeliling dan mengetuk tiga kali penutup-penutup tong tersebut.
-Tok-
-Tok-
-Tok-
-Kreek-
Bunyi kayu terbuka, penutup tong tersebut terangkat dengan perlahan dari dalam muncul Reamur dan Celcius dengan wajah berlumuran dengan umpan ikan.
"Kalian tidak apa-apa?"
"Huaah! Ada kepala ikan di rambutku," runtuk Celcius.
"Hhe, kami tidak apa-apa kapten," seru Reamur pada kapten James.
Kapten James mengambil seember besar air dan mengguyurnya ke tubuh Reamur dan Celcius.
"Nah sekarang kalian lebih bersih, tenang saja bau ikan umpan ini akan hilang jika kalian berjemur di geladak kapal seharian, Hahahaha!" tawa renyah sang kapten membahana di geladak kapal.
"Urgh, aku rasa masih ada tulang ikan di rambutku," runtuk kembali Celcius.
Reamur berjalan menuju sisi kapal untuk mengambil pedang Krona miliknya yang ia sembunyikan agar tidak menimbulkan kecurigaan prajurit kerajaan.
"Jadi kalian ingin menuju gunung Eragia?" tanya kapten James kepada kedua pemuda yang sekarang tengah duduk di geladak kapal.
"Iya," jawab Reamur menatap sang kapten.
"Jujur aku agak terkejut mendapati dirimu seorang Tempra, tapi sekarang semua sudah tidak menjadi masalah untukku, kau telah menjadi temanku selama ini Rea jadi tidak peduli apa ras atau jenismu aku sebagai kapten kapal ini akan selalu membantumu," terang kapten James sambil menepuk pundak Reamur.
Reamur tersenyum mendapati kenyataan yang menenangkan hati tersebut.
"Baiklah aku harus kembali ke pos untuk memantau anak buahku, kalian bersantailah sambil menikmati cuaca hari ini yang begitu cerah," terang kapten James.
"Siap kapten," seru Reamur sembari memberi hormat.
"Hei Rea, tujuan kita selanjutnya kemana?" tanya Celcius masih sibuk membersihkan rambut putihnya tersebut.
"Kota Riveria, dari sana kita akan bersiap-siap menuju gunung Eragia," terang Reamur.
Sementara itu di sebuah ruangan gelap sedang berdiri seorang wanita bertudung hitam dengan busur merah delima bertengger di punggungnya.
"Lelaki itu targetmu selanjutnya," seru seorang lelaki dari belakang meja kayu miliknya.
"Namanya?"
"Reamur, nama lengkapnya adalah Reamur oriza, bawa dia hidup atau mati."
Bersambung..
"Jadi kamu seorang Tempra?" tanya Mia berbisik kearah Reamur.
Reamur hanya bisa mengangguk mengiyakan pertanyaan tersebut.
"Dan bocah buronan tersebut juga seorang Tempra."
"Iya," jawabnya pelan.
"Mengapa kau menyembunyikan identitasmu selama ini?"
"Pfft … kamu tahu berapa harga kepala seorang Tempra di pasar gelap? Harganya bisa melebihi ekspektasimu Mia, kami adalah komoditas budak di kerajaan," jawab Reamur sambil menaikkan alis matanya.
"Maaf, aku hanya …"
"Sudah tidak apa-apa, oh iya ini rupi untuk membayar hutang-hutangku selama ini," seru Rea sambil menyodorkan sekantung penuh keping rupi pada Mia.
"Oh … iya, terimakasih banyak … jadi setelah ini kamu mau pergi?"
"Iya … aku dan bocah berambut putih itu akan pergi menuju gunung Eragia untuk menemukan Tempra lainnya."
"Tapi Rea kemungkinan itu terjadi akan …"
"Aku tidak akan pernah tahu kalau tidak mencarinya dulu, itu yang selalu kamu katakan ketika aku sedang mencari sesuatu, iya kan?" potong Rea mengutip kata-kata yang selalu Mia sebutkan pada dirinya.
Mia terdiam menatap senyum Rea yang merekah setelah mengatakan hal tersebut.
"Baiklah aku akan pergi, bocah berambut putih itu mungkin telah sampai di jembatan Alga sekarang," seru Reamur sembari berdiri, "baik Mia aku pergi dulu ya …"
Kata-kata Reamur terhenti tatkala Mia tiba-tiba memeluk tubuh Reamur erat dari belakang.
"Hiks … berjanjilah satu hal padaku Rea."
"Apa?"
"Sehatlah selalu selama kamu pergi … hiks … dan kembalilah kesini suatu hari nanti untuk membeli ramuan obat milikku lagi," seru Mia sambil terisak membenamkan wajahnya di punggung Reamur.
"Iya, aku berjanji tapi kemungkinan aku akan berhutang kembali, tidak apa-apa kan?"
Mia tersenyum sambil mengusap bekas air mata di pipinya, dengan perlahan Reamur mendekatkan wajahnya kearah wajah Mia.
-cup-
Kecup lembut bibir Rea di pipi kanan Mia, semburat merah karena malu menghiasi pipi putih tersebut.
"Aku pergi dulu."
Mia hanya bisa mengangguk sambil memandangi punggung bidang Reamur yang semakin menghilang di keramaian pusat kota.
***
"Kalau ini apa paman?" tanya pemuda berambut putih tersebut.
"Ini manisan jagung dengan lelehan madu di atasnya," terang penjual makanan di dermaga kota Gulan.
-glek-
"Kalau yang ini paman?" tanya kembali sang pemuda berambut putih tersebut.
"Kalau ini kue bulan dengan isi kacang Gulan, kacang manis yang biasa tumbuh disekitar sini," terang sang penjual makanan tersebut.
-Kruuuuuk-
Bunyi perut kosong berpendar dari tubuh lelaki berambut putih tersebut.
"Ugh kelihatannya enak sekali," gumam pemuda tersebut sembari mengusap-usap perutnya.
"Kamu mau? ini paman bagi beberapa," terang sang penjual makanan.
"Waaah!! terima kasih paman!" seru pemuda tersebut dengan tangan terbuka menerima beberapa kue bulan pemberian penjual makanan.
Sang penjual tersenyum melihat tingkah pemuda tersebut, "nama kamu siapa anak muda?" tanya sang penjual makanan.
"Velvius, nyam nyam nyam," seru Celcius dengan mulut penuh makanan.
"Huh? Nama yang aneh."
-glek-
"Hehe, namaku aneh sudah dari sananya paman. Oh iya kalau jembatan Alga kearah mana ya paman?" tanya Celcius.
"Oh tidak jauh dari kota, kau lurus saja mengikuti jalan utama kota hingga menemukan papan petunjuk arah," jawabnya sembari menatap wajah Celcius.
"Kau ingin pergi kesana, paman sarankan kau pergi melewati rute lain, disana sedang ada pemeriksaan oleh penjaga kerajaan, mereka masih mencari buronan yang kabur dari kerajaan para naga," terang paman penjual makanan tersebut.
Celcius terdiam tengah memikirkan sesuatu dan ia kemudian tersenyum.
"Baik paman terima kasih untuk kue dan petunjuk arahnya," seru Celcius sambil menunduk memberi hormat pada paman penjual makanan.
"Iya hati-hati dijalan ya anak muda," seru paman penjual makanan sembari mengusap puncak kepala Celcius.
Celcius beranjak pergi dan dengan perut yang sudah sedikit terisi ia menuju arah petunjuk jalan yang diberikan oleh paman penjual makanan. Di tengah jalan langkahnya terhenti saat bertemu dengan segerombolan patroli penjaga, mereka terlihat menyisir jalanan kota mencari keberadaan buronan yang sedang dicari-cari.
"Argh sial … HMFH..!"
Sebuah telapak tangan tengah menutup mulut Celsius dari belakang kepalanya.
"Sssttt diam!" desis lelaki dibelakang tubuhnya.
"Rea?"
"Sedang apa kau disini? Bukankah kita sepakat akan bertemu di jembatan Alga!"
"Aku tersesat … hehe, lagipula kata paman penjajah makanan di jembatan Alga sedang ada pemeriksaan mencari keberadaanku."
"Hhmmm … baiklah kalau begitu ikuti aku," seru Reamur yang beranjak pergi menuju gang di antara gedung-gedung dan Celcius mengekor di belakang Reamur setengah mengendap-endap.
Sampai di gang gelap tersebut Reamur menoleh kebelakang memastikan tidak ada orang yang mengikuti dirinya maupun Celcius, "Pakai ini," seru Reamur sambil menyodorkan sebuah jubah hitam.
Celcius memakai jubah tersebut dan tidak lupa memakai masker hitam untuk menutup setengah wajahnya.
"Ikuti aku, kita akan melewati rute lain," terang Reamur yang diikuti anggukan dari Celcius.
Selang beberapa jam para penjaga telah menyisir seluruh kota Gulan namun keberadaan buronan masih tidak di ketahui.
"Kapten James seluruh kapal anda sudah kami periksa, terima kasih atas kerja samanya," seru salah seorang prajurit kerajaan.
"Oh tentu saja, apapun saya lakukan untuk kerajaan," balas kapten James dengan ramah.
Para prajurit berbaris turun dari kapal dan mulai menyisir kembali area Dermaga.
"BAIK SEMUA! KITA BERANGKAT! ANGKAT JANGKAAAR...!" teriak sang kapten dengan semangat kepada para anak buahnya.
"Aye kapten!!" serempak para anak buah kapal berseru dan segera bersiap berlayar menuju lautan lepas.
Kapten James berjalan perlahan menuju geladak kapal, ia berdiri tepat di depan tong-tong berisi umpan ikan, ia menatap sekeliling dan mengetuk tiga kali penutup-penutup tong tersebut.
-Tok-
-Tok-
-Tok-
-Kreek-
Bunyi kayu terbuka, penutup tong tersebut terangkat dengan perlahan dari dalam muncul Reamur dan Celcius dengan wajah berlumuran dengan umpan ikan.
"Kalian tidak apa-apa?"
"Huaah! Ada kepala ikan di rambutku," runtuk Celcius.
"Hhe, kami tidak apa-apa kapten," seru Reamur pada kapten James.
Kapten James mengambil seember besar air dan mengguyurnya ke tubuh Reamur dan Celcius.
"Nah sekarang kalian lebih bersih, tenang saja bau ikan umpan ini akan hilang jika kalian berjemur di geladak kapal seharian, Hahahaha!" tawa renyah sang kapten membahana di geladak kapal.
"Urgh, aku rasa masih ada tulang ikan di rambutku," runtuk kembali Celcius.
Reamur berjalan menuju sisi kapal untuk mengambil pedang Krona miliknya yang ia sembunyikan agar tidak menimbulkan kecurigaan prajurit kerajaan.
"Jadi kalian ingin menuju gunung Eragia?" tanya kapten James kepada kedua pemuda yang sekarang tengah duduk di geladak kapal.
"Iya," jawab Reamur menatap sang kapten.
"Jujur aku agak terkejut mendapati dirimu seorang Tempra, tapi sekarang semua sudah tidak menjadi masalah untukku, kau telah menjadi temanku selama ini Rea jadi tidak peduli apa ras atau jenismu aku sebagai kapten kapal ini akan selalu membantumu," terang kapten James sambil menepuk pundak Reamur.
Reamur tersenyum mendapati kenyataan yang menenangkan hati tersebut.
"Baiklah aku harus kembali ke pos untuk memantau anak buahku, kalian bersantailah sambil menikmati cuaca hari ini yang begitu cerah," terang kapten James.
"Siap kapten," seru Reamur sembari memberi hormat.
"Hei Rea, tujuan kita selanjutnya kemana?" tanya Celcius masih sibuk membersihkan rambut putihnya tersebut.
"Kota Riveria, dari sana kita akan bersiap-siap menuju gunung Eragia," terang Reamur.
Sementara itu di sebuah ruangan gelap sedang berdiri seorang wanita bertudung hitam dengan busur merah delima bertengger di punggungnya.
"Lelaki itu targetmu selanjutnya," seru seorang lelaki dari belakang meja kayu miliknya.
"Namanya?"
"Reamur, nama lengkapnya adalah Reamur oriza, bawa dia hidup atau mati."
Bersambung..
0
Kutip
Balas