- Beranda
- Stories from the Heart
[Cerita Misteri] Krematorium, Sisi Lain Penyedia Jasa Kremasi
...
TS
AdelineNordica
[Cerita Misteri] Krematorium, Sisi Lain Penyedia Jasa Kremasi
![[Cerita Misteri] Krematorium, Sisi Lain Penyedia Jasa Kremasi](https://s.kaskus.id/images/2019/12/10/10635459_201912101204330106.png)
Sesosok tubuh tergeletak di dalam tungku kremasi tua dengan posisi menelungkup. Bagian dada hingga kepala gosong, setengah badan lainnya yang belum terbakar berada di luar mesin kremator. Daging mayat itu begelambir dengan lemak-lemak masih mengalir dari luka bakar. Menetes dari bibir tungku hingga ke ubin lantai. Sisanya mengerut hingga tulang. Bau daging terpanggang masih menyelimuti ruangan.
Jasad seorang pria. Terlihat dari anatomi tubuh serta sisa pakaiannya. Seorang ketua tim Indonesia Automatic Fingerprint Identification System (INAFIS) memusatkan pandangan ke wajah penuh luka bakar itu. Di wajah itu dia menemukan rahang yang masih menganga. Menyiratkan kesakitan saat kematian menghamprinya dan kengerian akan kematian itu sendiri. Siapa yang tega membakar manusia hidup-hidup seperti ini? Begitu pikirnya setelah meneliti mayat. Sebentar lagi petugas akan membawanya ke rumah sakit untuk diuji tim Labfor.
Ketika mayat dipindahkan tim INAFIS ke brankar, lengannya terkulai lemah. Hanya sedikit daging menempel di engsel bahunya. Untung telapak tanganya masih utuh sehingga memudahkan identifikasi.
Spoiler for :
Ilustrasi. Sumber"Pak, ini berkas yang anda butuhkan untuk menganalisa korban." Seorang polisi hadir dari belakang pria itu memberikan sebuah berkas.
"Ada bukti penunjang lain untuk mengetahui siapa pelakunya?" tanya Aiptu Helmy seraya membolak-balik halaman berkas.
"Proses masih dilakukan, Pak. Kami sudah mengamankan cctv sebagai barang bukti. Diperkirakan korban dibunuh pada malam hari. Saat krematorium sepi. Belum jelas ini mayat siapa karena hanya ada dua pengurus krematorium di sini. Dua-duanya belum ditemukan, entah masih hidup atau salah satunya korban ini.
"Baiklah. Saya tunggu hasil selanjutnya."
Petugas itu berlalu meninggalkan rasa penasaran Aipda Helmy. Tubuh jangkung itu kembali membungkuk dan memeriksa seksama wajah korban sekali lagi. Pandangan Helmy beralih pada rongga mata hitam pekat tanpa bola mata. Mungkin sudah hancur saat terbakar tengah malam tadi atau lebih awal dari perkiraan.
Helmy menatap dua lubang itu. Seperti sebuah lorong yang menyimpan misteri. Semakin ketua tim INAFIS itu penasaran, semakin kuat ia merasakan sebuah energi menyedotnya. Di saat itu juga ia merasakan seseorang tengah mengawasinya.
***
Seorang pria tengah membersihkan peti mati dan isinya di ruang jenazah. Membenarkan jas dan asesoris jenazah pria tua berusia 80 tahun di dalamnya. Jaya memandang wajah kaku lagi dingin itu dengan sedih. Teringat remaja dulu, dia pernah bekerja di pasar pagi sebagai kuli panggul almarhum. Tauke baik hati yang kini tenang dalam peti matinya memberikan pekerjaan ketika menemukannya di terminal. Tak segan memberikan bonus saat imlek dan pakaian baru kala Jaya lebaran.
"Jay, lu berhenti sebentar buat ngaso. Itu biar Amat aja yang nerusin. Lu, udah dari pagi ngangkutin beras. Kalau lu sakit, we repot cari orang lagi."
"Nanggung, Koh. Masih sisa lima karung lagi."
"Haiya. Lu, dikasi tahu ngeyel aja kerjaannya. Serah, deh. Ntar ambil koyo dan balsem di dalam."
Koh Acung berlalu ke dalam Toko Beras Sejahtera sambil mengipas-ngipas badan dengan kipas bambunya. Pria yang senantiasa berkaos putih dan bercelana boxer abu-abu itu mengomel. Ia menghampiri seorang karyawan perempuannya. Entah apa yang dibicarakan, omelannya semakin panjang. Jaya hanya tersenyum simpul melihat tingkah bosnya.
Hingga suatu hari usaha pria tua itu gulung tikar. Anak-anaknya lebih memilih merantau ke ibu kota. Berharap mendapat peruntungan lebih daripada membantu melanjutkan usaha Koh Acung.
"We, minta maaf kalau banyak salah pada lu semua. Ini pesangonnya. Mudah-mudahan cukup untuk anak bini lu di rumah." Koh Acung memberikan amplop satu persatu kepada Jaya dan lima belas karyawannya dengan wajah sendu.
Ada haru menyeruak. Tidak sedikit yang menteskan air mata, memeluk tubuh tua itu dengan erat seakan enggan berpisah. Apalagi Jaya dan karyawan lain sudah bertahun-tahun berkerja di sana.
Jaya mengamati sosok Koh Acung ketika langkah berat taukenya itu menutup pintu besi. Sedikit kepayahan karena beberapa engsel sudah karatan. Jaya berlari menemui Koh Acung, membantu menutup toko.
Pria Tionghoa itu tersenyum lalu menepuk pundaknya dan berkata, "Lu, orang baik, Jay."
Semenjak itu Jaya tidak pernah lagi bertemu Koh Acung. Ada desas-desus tauke yang sempat berjaya di masanya dulu menjadi penghuni panti jompo.
Ilustrasi Sumber"Jay, jenazah ini belum ada kabar kapan mau dikremasi?" Sebuah suara membuyarkan lamunan Jaya. Segera ia menyeka air mata.
"Hmmm ... belum, Bos. Mungkin nanti anak-anaknya yang datang langsung ke sini," jawab Jaya ragu saat Alex menghampirinya sambil menenteng boks es.
"Ya, udah kita tunggu aja dua-tiga hari ini." Alex duduk di sebelah Jaya sambil mengeluarkan segepok uang seraya menggosok hidung.
"Bos, tadi produsen peti mati telepon. Biaya pembuatan peti naik. Mereka kesulitan mencari pemasok kayu. Apa kita masih melanjutkan kerja sama?"
Tangan Alex yang tengah menghitung uang terhenti. Ia mengernyitkan kening. Berpikir sebentar lalu kembali menghitung lembaran-lembaran merah dan biru.
"Batalkan saja kerjasama kita. Aku sudah menemukan cara paling murah untuk mengkremasi."
"Maksud, Bos?"
"Sudah. Ikuti saja intruksiku nanti."
***
Malam hari, gerimis mulai turun. Udara dingin mulai menembus tulang. Lampu neon ruang kamar mayat mulai bertingkah. Berkedap-kedip tanpa henti. Mungkin sebentar lagi filamennya putus. Tembok ruangan mulai ditumbuhi lumut dan kerak kotoran. Kantung plastik dan kardus menumpuk di sudut ruang.
Kamar berukuran 6x6 m itu sudah disulap Alex menjadi ruang kerja. Tiga brankar berderet di tengah ruang. Dua di antaranya sudah terbaring jenazah, sisanya kosong. Satu tempat tidur berada di sebelah lemari. Sepintas tempat tidur itu tidak terlihat dari luar karena dilindungi lemari.
Alex kepayahan memindahkan mayat dari satu brankar ke brankar yang lainnya. Beberapa sudah berbalut plastik yang dilakbak seluruh tubuhnya. Dua bulan terakhir usaha kremasi Alex mulai menunjukkan hasil.
Biaya kremasi yang murah dan cepat membuat para klien mulai membludak, mempercayakan kerabat mereka dikremasi di tempat usaha Alex. Mereka tak peduli dengan kremator tua dan gedung yang mulai keropos di sana sini. Praktis dan efisien begitu kata para klien setelah keluar dari gedung. Tentunya itu juga menguntungkan Alex dibandingkan tempat kerja lamanya dulu.
Tepat ketika jenazah terakhir selesai dibentuk seperti mumi dengan lakban, bahu Alex menjengkit. Suara benda jatuh terdengar dari belakang lemari. Hening. Perlahan bau busuk mulai menguar bercampur dengan aroma daging terpanggang. Angin dingin merayap ke arahnya. Meremangkan bulu tengkuk pria bertubuh kurus itu. Ia gelisah. Lalu menghentikan pekerjaannya. Sesekali menyeka hidung yang meler. Suara itu kembali tedengar. Kali ini lebih nyaring. Nyaris seperti benda di banting.
Alex melangkah pelan menuju belakang lemari. Bunyi berisik tadi berasal dari tempat tidur pasien di sana. Matanya membelalak dengan mulut menganga. Sesosok wanita berambut pendek sudah berada di atas tempat tidur dengan posisi kayang. Wajahnya gosong. Gaun pengantin putihnya meriap-riap. Lidahnya menjulur panjang. Mata merahnya mendelik ke arah Alex. Sebuah gunting ia tancapkan ke perut. Seketika itu juga darah muncrat serupa air mancur keluar dari perutnya. Ubin sudah digenangi darah. Merah. Alex jatuh terduduk. Beringsut cepat ke belakang. Sekuat tenaga lari ke luar ruangan.
***
Ketika Jaya terkejut melihat tumpukan-tumpukan karton memenuhi gudang—entah ide apa terlintas di kepala bosnya itu—tiba-tiba Alex menubruknya dari belakang. Jaya keheranan dan bertanya. Alex menjawab tidak apa-apa dengan napas ngos-ngosan. Setelah tenang ia berkata, "Jay, sebelum mengkremasi, masukan saja mayat-mayat ke dalam karton ini. Lalu lakban hingga tertutup rapat."
"Loh, ini manusia, Bos. Kenapa tidak pakai peti saja seperti biasa? Meskipun mereka sudah meninggal patut kita urus dengan baik."
"Alah! Mana ada yang tahu. Keluarga mereka maunya yang murah dan cepat. Ya, sesuai dong kalau kita seperti ini. Kita juga dapat untung gede. Kamu kena imbasnya juga, 'kan? Lagian orang sudah mati gak akan bisa ngadu ke keluarganya."
"Tapi, Bos ...."
"Sudahlah, Jay! Masih mau kerja di sini, gak? Cepetan bantuin!" Alex mengalihkan perhatian Jaya.
***
Jaya mengisap kretek terakhirnya. Pekerjaan hari ini benar-benar melelahkan. Terutama saat memperlakukan jenazah tadi. Hatinya setengah berontak. Di lain sisi ia butuh uang untuk membiayai perawatan istrinya di rumah sakit. Gaji dari krematorium cukup membantu selama ini. Jika ada pekerjaan sebesar gaji di sana, tentu ia memilih berhenti dari konflik batin selama ini.
"Pak, sudah malam. Ayo, masuk. Besok pagi-pagi sekali kita akan menjenguk ibu, bukan?" Anak lelaki Jaya mendekatinya di teras.
"Bapak belum ngantuk, Nak." Jaya memijit-mijit punggungnya yang lumayan pegal.
"Bapak mau kutempelkan koyo atau kuolesin balsam?" Yandi menunjukan benda yang menemani hari-hari Jaya bekerja. Membuat Jaya tersenyum dan mengusap kepala anaknya.
"Anak pintar. Ya, udah sekalian pijitin Bapak."
***
Sore hari selepas Jaya menjenguk istrinya, ia bergegas ke krematorium. Pria bertubuh kekar itu hampir lupa jadwal mengkremasi hari ini.
Baru saja ia menjejak kaki di ruang kremasi, sebuah pemandangan yang nyaris membuatnya jantungan. Tiga jenazah berkantung plastik dijejalkan ke dalam sebuah tungku dengan asal. Pintu kremator juga dibiarkan begitu saja.
Ilustrasi. Sumber: Liputan6.com"Siapa orang gila yang tega memperlakukan mayat seperti ini?!" rutuknya. Dengan cekatan Jaya mematikan mesin yang tampaknya baru dihidupkan beberapa menit oleh seseorang.
Ia tercenung sejenak. Tiga mayat? Bukankah hanya ada dua mayat harusnya dikremasi hari ini. Sontak Jaya menghampiri peti Koh Acung. Kosong. Jangan-jangan? Firasat Jaya mulai tidak enak.
Jaya bergegas menyemprotkan air ke arah mesin kremasi. Sekitar lima menit, baru ia mengangkat satu persatu jenazah dan merobek kantungnya. Satu di antaranya memang jenazah Koh Acung. Jaya mengepalkan tinju. Geram dengan tingkah pemilik krematorium itu. Ia berlari mencari bosnya.
Ketika sampai di ruang kerja Alex. Bau amis menyergap penciuman Jaya. Perlahan ia membuka pintu. Tidak ada sosok Alex di dalam sana hanya ada bayangan seseorang di balik lemari.
"Bos!" teriak Jaya mengagetkan aksi Alex.
Sebuah gunting terlepas dari genggamannya. Tubuh seorang anak kecil berbaring di atas tempat tidur dengan perut menganga.
Sontak pemandangan itu membuat Jaya marah. Alex memang biadab. Perlakuannya sungguh tidak manusiawi.
"Sialan kau, Lex!" Sebuah bogem mentah mengenai wajah Alex. Ia jatuh tersungkur dengan hidung berdarah. Jaya cepat-cepat menutupi tubuh mayat itu dengan seprai.
"Ayolah, Jay. Kita berdamai saja. Dia hanya anak jalanan. Baru mati tadi siang di rel kereta. Tidak ada keluarganya." Alex terkekeh.
"Aku harus melaporkanmu pada polisi!" marah Jaya seraya mencengkram kerah Alex.
"Dua ginjal anak itu bisa membuat kita kaya. Kamu bisa mengobati sakit istrimu dan aku bisa membeli sabu. Lagipula ini bukan pertama kalinya aku melakukannya."
"Sudah kuduga. Kau memang bajingan, Lex. Bukan! Kau kriminal. Harusnya kau belajar dari kasus malpraktimu dulu." Jaya menyeret tubuh Alex keluar ruangan.
Pria kurus itu setengah sadar akibat sabu. Terus meracau sepanjang lorong. Saat melewati ruang krematorium, tubuh Alex tiba-tiba menggelinjang hebat. Sesosok wanita bergaun pengantin memburunya dari belakang sambil membawa gunting. Wanita itu lagi.
Pegangan Jaya terlepas. Alex berlari kencang seperti kesetanan masuk keruangan kremasi.
Wanita berambut pendek itu menyeringai. Memperlihatkan gigi runcingnya yang berlumuran darah. Matanya nyalang menatap Alex. Robekan di perut itu terlihat jelas hingga ke usus. Gaun putihnya berlumuran darah.
Alex tersudut ke tembok. Tubuhnya menggigil seketika. Wajahnya pias. Teringat ulah mengambil organ tubuh si mayat yang baru tiba di krematorium dua malam lalu. Sosok itu semakin mendekat. Lidahnya menjulur menjilati wajah Alex, membuatnya histeris.
Tanpa sadar tubuh Alex sudah berada di bibir kremator yang terbuka. Tungku kremasi itu hidup seketika. Hawa panas menyeruak dari dalam. Wanita itu berteriak nyaring hingga rambut dan gaunnya meriap-riap. Tubuh Alex terjungkal ke dalam kremator.
***
"Jadi, begitu ceritanya, Pak. Bukan saya yang membunuh Bos Alex, tapi bos saya sendiri seperti orang kerasukan. Berteriak dan memasukkan tubuhnya ke dalam mesin kremasi." Jaya terduduk di kursi. Tatapannya menerawang. Ia ketahuan mengawasi diam-diam tim penyelidik di tempat kejadian.
Aipda Helmy menarik napas. Untuk sementara alibi Jaya ia simpan. Selanjutnya pria itu bisa memberikan keterangan di kantor polisi sampai barang bukti dan cctv gedung menjelaskan semuanya.
Seorang petugas datang dan menghampiri Helmy. Ia membisikan sesuatu. Tatapan tajam ketua tim INAFIS itu langsung mengarah kepada Jaya.(*)
Borneo, 7 Desember 2019
Cerita di atas hanya fiksi semata.
Quote:
Diubah oleh AdelineNordica 15-03-2020 11:33
nona212 dan 26 lainnya memberi reputasi
25
8.2K
68
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
AdelineNordica
#1
Pengantin Eleana

Pengantin Eleana
Eleana mengendus-ngendus leherku. Tangan lentiknya masih menelusuri dadaku yang berbalut tuxedo hitam. Sepertinya ia sudah tersulut gairah. Tidak peduli kami tengah di mana. Ah, peduli amat! Aku juga sama. Kami sama-sama saling menginginkan. Parfum beraroma bergamout di tengkuknya menusuk penciuman, segar, dan menggoda. Persis percintaan kami malam ini. Jiwa pemburuku semakin bersemangat membawanya ke puncak asmara.
Aku dan Eleana sedang menghabiskan malam pengantin bermandikan cahaya temaram lampu ruangan dengan satu lilin besar di atas meja makan. Patut kupuji ia tidak canggung meski baru sekarang kami bisa sedekat ini. Kugoda ia dengan kata-kata mesra. Wajah putih dengan bentuk oval itu memerah. Tunai sudah cinta dalam diamku selama ini. Kami bagai Laila dan Majnun yang tengah dicandu cinta.
Di tengah permainan panas kami, Eleana tersentak dengan mata membelalak. Ia mengendurkan dekapan seiring empat kali dentangan jam antik di sudut ruang makan.
"Aku harus pergi!" Wajah cantik Eleana berubah muram. Ia bangkit dari pembaringannya di atas meja dengan ekspresi yang sulit kuterjemahkan.
"Kamu mau ke mana, Elea?" tanyaku heran.
"Tinggalah sejenak. Kumohon." Tanganku menarik pergelangan tangannya yang sudah memucat.
Tidak ada sahutan. Eleana mengentak keras tangannya, memisahkan tanganku dengannya. Ia mendobrak pintu apartemen lalu berlari menjauh meninggalkan rasa penasaranku. Tubuhnya melesat bagaikan kapas dimainkan angin. Lalu, hilang ditelan pekat lorong.
Kebingungan semakin menyelimutiku. Di dalam hati ini mengiba mengharapkan kedatangan Eleana kembali. Ruangan terasa sunyi. Aku tiba-tiba menggigil dengan hawa ganjil menusuk tulang. Bau amis tiba-tiba menguar. Taplak meja putih dengan serakan makanan–tentunya hasil permainan kami tadi–berubah merah pekat.
Ada potongan kulit bercampur nanah dari atas mengenai wajahku. Ketika kudongakan muka, sesosok tubuh tergantung di atas sana. Darah mengalir deras dari balik gaun pengantin putihnya, tepatnya dari pangkal pahanya.
Sepotong lengan pucat lolos begitu saja dari tungkainya. Jantungku berpacu lebih cepat. Keringat dingin mulai bercucuran. Benda itu jatuh tepat di kedua wajahku. Aku Cumiik kencang setelah lamat-lamat mengenali sosok tergantung di sana. Rambut panjang menjuntai menutupi seluruh mukanya dengan lidah terjulur.
"Elea!"
.
Bang Pardi menepuk keras pundakku. Lamunan mimpi semalam buyar begitu saja.
"Baru juga pagi, sudah melamun saja kamu, Hen." Bang Pardi duduk di sebelahku setelah menyingkirkan bungkus kacang kulit. Ia mengomel sebentar mengomentari satpam sebelumnya yang membiarkan sampah berserakan di dalam pos penjagaan. Pria paruh baya itu menyodorkan segelas kopi padaku. Pagi ini kami berdua dinas pagi menjaga apartemen Blue Capitol.
"Semalam aku memimpikan Elea." Kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutku. Elea, nama panggilanku untuk gadis berambut panjang itu. Mirip seorang penyanyi lagu lawas. Baby face kata orang-orang. Mataku beralih pada pekat kopi seperti mengingatkan pada lorong di mana Elea lenyap begitu saja.
"Kamu terlalu terobsesi padanya. Ingat! Ia sudah milik orang."
"Ia bebas menjadi milik siapa pun. Aku tidak peduli!"
Bang Pardi mengembuskan napas panjang. Tampak senyum getir di bibirnya.
"Seluruh penghuni lantai delapan tahu berita ini. Kau lihat di parkiran sana! Itu bidadarimu bersama calon suaminya."
Sepasang kekasih keluar dari pintu utama gedung. Terlihat Eleana mengenakan kaus putih dan celana jeans selutut bergelayut manja di lengan si pria yang kutaksir umurnya hampir sepantaran Bang Pardi. Dari segi fisik jelas tidak lebih baik dariku. Sebagian rambutnya sudah menipis dan mungkin dibalik jas yang sempit menyimpan gelambir lemak. Pria itu mendaratkan kecupan di pipi Elea, melambaikan tangan lalu masuk ke dalam mobil Alpard hitamnya.
Aku buru-buru menghabiskan kopi terakhir begitu melihat Eleana masuk ke apartemen. Darahku menggelegak melihat pemandangan tadi.
"Jangan gila kamu, Hen! Kamu bisa dipecat kalau ketahuan menguntit penghuni gedung."
Bang Pardi mencekal lenganku. Sepertinya ia sudah membaca jalan pikiranku dan tentunya kebiasaanku selama ini. Aku buru-buru menempelkan telunjuk di bibir, berusaha membuatnya diam lalu terburu-buru mengejar sosok Eleana.
Tiba di depan pintu kamar gadis itu, aku perlahan mengeluarkan sebuah kartu elektronik, hasil sebahat dengan bagian resepsionis seminggu ini. Beberapa sumpalan uang lima puluh ribuan cukup menutup mulut wanita bergincu tebal itu. Toh, aku sudah menjamin tidak melakukan tindak kriminal. Sedikit berbohong kalau aku diminta kekasih Eleana untuk menjaganya.
***
Lolongan anjing liar dari luar indekos mengusik tidurku. Kipas angin tidak mampu mengusir hawa panas yang tiba-tiba muncul. Jam dinding sudah menunjukkan pukul 03.00 WIB. Aku bangkit dari pembaringan dan membuka laci meja. Sosok Eleana saat mandi ketika aku menyelinap dan senyumnya tadi pagi begitu terbayang. Sesuatu di dalam diriku mulai menegang. Sebuah kotak kukeluarkan dari laci. Di dalamnya berisi tumpukan beberapa helai kain berenda dengan beragam model dan warna, hasil mengutil dari kamar gadis bertubuh mungil itu. Aku mengambil sebuah G-String ungu, menelusuri lekuk jahitannya, dan membayangkan benda itu melekat pada Eleana.
Pikiran nakal lain bermunculan. Aku mengirup aroma dari benda itu dan mulai berfantasi liar seraya berbaring, memejamkan mata, dan merasakan sensasinya. Di bayanganku semua terlihat begitu nyata. Eleana tersenyum dan menelusuri setiap inci tubuhku dengan tangannya yang dingin. Ketika mata cokelatnya menatapku lekat-lekat,ia berbisik nakal.

"Kamu mau 'kan menjadi pengantinku? Janji tidak akan meninggalkanku?" Kata-kata dari bibir sensualnya bagaikan angin surga.
Tanpa berpikir panjang, aku mengiyakan maunya. Eleana mendekapku lebih erat. Semakin erat hingga aku sulit bernapas. Kurasakan kulitnya mengeluarkan cairan. Bau nanah menusuk hidung. Aku ingin muntah, tapi gadis ini seakan lem super menempel padaku.
"Ele-a, le-paskan. A-ku bi-sa ma-ti."
Aku merasakan sesak luar biasa. Kepala berdenyut tidak karuan. Semakin aku meronta, semakin kuat pula ia menindihku. Kuhadapkan wajah untuk meminta belas kasihannya. Semua gambaran wajah rupawan hancur begitu saja, tergantikan sosok menjijikkan dengan bola mata hampir keluar dari rongganya. Mulut Eleana tidak berhenti keluar cairan busuk. Kulit-kulitnya mengelupas. Eleana menyeringai seiring pandanganku mulai mengabur. Semuanya menggelap.
.
Dua kali mimpi sialan itu hadir. Sempurna membuatku ketakutan setengah mati tentu saja membuatku demam tinggi. Aku meminta izin pada Bang Pardi untuk menggantikan bertugas. Paling tidak, tiga hari cukup untuk memulihkan badan.
Tiga hari tanpa berdinas membuatku hanya makan tidur saja. Beberapa obat penurun panas mulai ampuh bekerja. Selepas Magrib kunyalakan televisi. Mungkin beberapa acara bisa menjadi pengisi waktu luang. Sebuah ketukan mengalihkan pandanganku. Aku tidak punya janji dengan siapa pun hari ini.
"Elea. Eh, Mbak Eleana," kataku gugup ketika sosoknya di ambang pintu. Wajah lesu seperti selesai melakukan kerja berat.
"Si-lakan masuk, Mbak." Sedikit ragu aku menyuruhnya masuk. Takut kalau tiba-tiba sosoknya berubah seperti mimpi beberapa hari lalu.
"Ini hadiah untukmu. Terima kasih sudah menyukaiku." Eleana menyerahkan sebuah kotak berwarna merah muda lalu memelukku sebentar. Tanpa berani kubalas dekapannya.
Ia langsung berbalik dan pergi tanpa mendengar apakah aku menerima atau menolak pemberiannya.
Wangi bergamot masih tersisa di ruanganku. Benar-benar aneh mengingat selama ini sikapnya dingin ketika kami bertegur sapa di apartemen. Bahkan kadang kulihat ia memindaiku dari atas ke bawah, mengira-ngira siapa aku dengan pandangan jijik. Mungkin aku hanya satpam rendahan di matanya. Namun, semuanya tidak menepiskan rasa cintaku pada gadis berlesung pipi itu.
Diam-diam kukirimkan bunga dan makanan kesukaannya. Lagi-lagi benda itu harus berakhir di tong sampah. Ia pun memarahi beberapa petugas yang telah lalai meloloskan orang asing mengirim barang seenaknya padanya seraya menatapku sinis. Mungkin, ia tahu aku pelakunya.
'Ah, siapa tahu hatinya sudah terketuk untuk mencintaiku.'
Aku menimang-nimang kotak pemberian Eleana. Besok aku akan memberinya kejutan besar padanya.
***
Aku tersenyum bangga setelah mematut diri beberapa kali di depan cermin, mengagumi sosok gagah berbalut kemeja hitam lengan panjang. Setidaknya aku lebih tampan daripada si tua gendut, pacar Eleana itu.
Setelah menyemprotkan parfum murahan, aku bergegas ke Blue Capitol. Kebetulan aku tidak berdinas pagi ini. Seikat mawar merah sudah tergenggam di tangan. Tidak lupa kotak merah muda pemberiannya semalam. Aku ingin membuka hadiah itu bersamanya. Berkali-kali aku merapikan rambut bergelku seraya membayangkan ekpresi gadisku nanti.
Halaman apartemen sudah dikerubungi penghuni dan beberapa warga sekitar ketika aku datang. Suara berisik mereka seperti dengung lebah memenuhi telingaku. Aku bergegas ke pos satpam mencari Bang Pardi. Entah kenapa perasaanku menjadi tidak nyaman.
"Ada apa ribut-ribut, Bang?"
"Eleana gantung diri setelah meminum pil aborsi semalam. Tunangannya kabur begitu saja." Bang Pardi berlalu tergesa-gesa menuju mobil ambulan.
Aku mundur beberapa langkah mencari pegangan di pos penjagaan. Ingatan tentang mimpi dan peristiwa semalam berkelebat. Jiwaku belum menerima kepergian Eleana setragis ini. Kuambil kotak merah muda di meja. Secarik fotoku berseragam satpam yang diambil diam-diam Eleana.
'Terima kasih sudah mencintaiku diam-diam. Aku ingin kamu menjadi pengantinku, Hen.'
Tulisan di balik foto membuatku tergugu. Aku Kukira Eleana sangat membenciku, tapi ....
Entah kenapa tiba-tiba aku ingin ke kamarnya sekarang juga. Aku bergegas menuju gedung membawa seikat mawar tadi. Tidak peduli makian seorang bapak yang kutabrak.
Dengan napas putus-putus aku bersembunyi di balik dinding lorong, memastikan beberapa petugas polisi meninggalkan kamar bergaris kuning itu. Aku menunggu beberapa saat ketika mereka lengah. Lalu, masuk menggunakan kartu elektronik yang biasa kugunakan. Buru-buru menguncinya lalu menggeser sofa dan meja ruang tamu sebagai penghalang pintu.
Lagi-lagi angi bergamout menyambutku. Seakan sosok Eleana masih ada. Kamar Eleana masih seperti biasa. Hanya saja ketika aku memasuki ruang makan, di atas meja tersaji sisa makan malam semalam dan lilin besar. Mungkin, ia sempat makan bersama tunangannya. Seuatas kain menjuntai di atas kursi dengan genangan darah di lantai. Sepertinya ia bunuh diri tepat di atas meja makan. Menautkan pangkal kain ke kipas angin.
Aku teringat mimpiku tempo hari. Hanya saja aku lambat menyadari firasat ini. Frustasi atas cinta ini menggerogoti hatiku. Kehilangan teramat sangat. Cahaya ruangan semakin meredup. Seredup hatiku berselimut duka. Mendadak kepalaku pening.
"Kamu datang, Hen."
Sebuah pelukan menyambutku dari belakang. Aku tergagap ketika berbalik, menyadari sosok bergaun putih berdiri anggun bersamaku. Wajahnya tampak cantik dengan riasan natural. Rambutnya tergerai rapi.
"Elea. Maksudku Mbak Eleana."
"Elea." Ulangnya. "Aku suka panggilan itu."
Eleana mengapit lenganku, membimbingku menuju balkon. Langit sudah berselimut malam. Semua terasa hening. Mataku masih terpesona menatap Eleana.
"Kau ingin menjadi pengantinku?" tanyanya.
"Tentu saja, Elea." Tanpa canggung kuusap pipi pucatnya. Bibirnya menyunggingkan senyum.
"Kau janji tidak akan meninggalkanku seperti dia?" Mata Eleana menatap tajam padaku. Aku tahu maksudnya ia tidak ingin aku menyia-nyiakannya seperti si tua berengsek itu.
Jemari halus Elea merangkul leherku lalu kepalanya bersandar di dadaku. Gumamannya terdengar samar di telinga ini. Kami melayang di udara menikmati kerlip bintang. Berputar seperti penari balet hingga aku merasakan tubuhku lolos begitu saja di udara. Sementara di atas sana Eleana masih melayang serupa kapas. Ia menyeringai dengan gaun meriap-riap di terpa angin malam.
Hantaman keras mengenai kepalaku. Semua terasa cepat. Napasku megap-megap, berusaha mencari oksigen. Namun, semakin kuhirup, udara itu seakan kosong. Setitik cahaya semakin meredup. Perlahan tapi pasti lalu semua berubah gelap.(*)
Borneo, 9 April 2020
Adeline Nordica.
Aku dan Eleana sedang menghabiskan malam pengantin bermandikan cahaya temaram lampu ruangan dengan satu lilin besar di atas meja makan. Patut kupuji ia tidak canggung meski baru sekarang kami bisa sedekat ini. Kugoda ia dengan kata-kata mesra. Wajah putih dengan bentuk oval itu memerah. Tunai sudah cinta dalam diamku selama ini. Kami bagai Laila dan Majnun yang tengah dicandu cinta.
Di tengah permainan panas kami, Eleana tersentak dengan mata membelalak. Ia mengendurkan dekapan seiring empat kali dentangan jam antik di sudut ruang makan.
"Aku harus pergi!" Wajah cantik Eleana berubah muram. Ia bangkit dari pembaringannya di atas meja dengan ekspresi yang sulit kuterjemahkan.
"Kamu mau ke mana, Elea?" tanyaku heran.
"Tinggalah sejenak. Kumohon." Tanganku menarik pergelangan tangannya yang sudah memucat.
Tidak ada sahutan. Eleana mengentak keras tangannya, memisahkan tanganku dengannya. Ia mendobrak pintu apartemen lalu berlari menjauh meninggalkan rasa penasaranku. Tubuhnya melesat bagaikan kapas dimainkan angin. Lalu, hilang ditelan pekat lorong.
Kebingungan semakin menyelimutiku. Di dalam hati ini mengiba mengharapkan kedatangan Eleana kembali. Ruangan terasa sunyi. Aku tiba-tiba menggigil dengan hawa ganjil menusuk tulang. Bau amis tiba-tiba menguar. Taplak meja putih dengan serakan makanan–tentunya hasil permainan kami tadi–berubah merah pekat.
Ada potongan kulit bercampur nanah dari atas mengenai wajahku. Ketika kudongakan muka, sesosok tubuh tergantung di atas sana. Darah mengalir deras dari balik gaun pengantin putihnya, tepatnya dari pangkal pahanya.
Sepotong lengan pucat lolos begitu saja dari tungkainya. Jantungku berpacu lebih cepat. Keringat dingin mulai bercucuran. Benda itu jatuh tepat di kedua wajahku. Aku Cumiik kencang setelah lamat-lamat mengenali sosok tergantung di sana. Rambut panjang menjuntai menutupi seluruh mukanya dengan lidah terjulur.
"Elea!"
.
Bang Pardi menepuk keras pundakku. Lamunan mimpi semalam buyar begitu saja.
"Baru juga pagi, sudah melamun saja kamu, Hen." Bang Pardi duduk di sebelahku setelah menyingkirkan bungkus kacang kulit. Ia mengomel sebentar mengomentari satpam sebelumnya yang membiarkan sampah berserakan di dalam pos penjagaan. Pria paruh baya itu menyodorkan segelas kopi padaku. Pagi ini kami berdua dinas pagi menjaga apartemen Blue Capitol.
"Semalam aku memimpikan Elea." Kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutku. Elea, nama panggilanku untuk gadis berambut panjang itu. Mirip seorang penyanyi lagu lawas. Baby face kata orang-orang. Mataku beralih pada pekat kopi seperti mengingatkan pada lorong di mana Elea lenyap begitu saja.
"Kamu terlalu terobsesi padanya. Ingat! Ia sudah milik orang."
"Ia bebas menjadi milik siapa pun. Aku tidak peduli!"
Bang Pardi mengembuskan napas panjang. Tampak senyum getir di bibirnya.
"Seluruh penghuni lantai delapan tahu berita ini. Kau lihat di parkiran sana! Itu bidadarimu bersama calon suaminya."
Sepasang kekasih keluar dari pintu utama gedung. Terlihat Eleana mengenakan kaus putih dan celana jeans selutut bergelayut manja di lengan si pria yang kutaksir umurnya hampir sepantaran Bang Pardi. Dari segi fisik jelas tidak lebih baik dariku. Sebagian rambutnya sudah menipis dan mungkin dibalik jas yang sempit menyimpan gelambir lemak. Pria itu mendaratkan kecupan di pipi Elea, melambaikan tangan lalu masuk ke dalam mobil Alpard hitamnya.
Aku buru-buru menghabiskan kopi terakhir begitu melihat Eleana masuk ke apartemen. Darahku menggelegak melihat pemandangan tadi.
"Jangan gila kamu, Hen! Kamu bisa dipecat kalau ketahuan menguntit penghuni gedung."
Bang Pardi mencekal lenganku. Sepertinya ia sudah membaca jalan pikiranku dan tentunya kebiasaanku selama ini. Aku buru-buru menempelkan telunjuk di bibir, berusaha membuatnya diam lalu terburu-buru mengejar sosok Eleana.
Tiba di depan pintu kamar gadis itu, aku perlahan mengeluarkan sebuah kartu elektronik, hasil sebahat dengan bagian resepsionis seminggu ini. Beberapa sumpalan uang lima puluh ribuan cukup menutup mulut wanita bergincu tebal itu. Toh, aku sudah menjamin tidak melakukan tindak kriminal. Sedikit berbohong kalau aku diminta kekasih Eleana untuk menjaganya.
***
Lolongan anjing liar dari luar indekos mengusik tidurku. Kipas angin tidak mampu mengusir hawa panas yang tiba-tiba muncul. Jam dinding sudah menunjukkan pukul 03.00 WIB. Aku bangkit dari pembaringan dan membuka laci meja. Sosok Eleana saat mandi ketika aku menyelinap dan senyumnya tadi pagi begitu terbayang. Sesuatu di dalam diriku mulai menegang. Sebuah kotak kukeluarkan dari laci. Di dalamnya berisi tumpukan beberapa helai kain berenda dengan beragam model dan warna, hasil mengutil dari kamar gadis bertubuh mungil itu. Aku mengambil sebuah G-String ungu, menelusuri lekuk jahitannya, dan membayangkan benda itu melekat pada Eleana.
Pikiran nakal lain bermunculan. Aku mengirup aroma dari benda itu dan mulai berfantasi liar seraya berbaring, memejamkan mata, dan merasakan sensasinya. Di bayanganku semua terlihat begitu nyata. Eleana tersenyum dan menelusuri setiap inci tubuhku dengan tangannya yang dingin. Ketika mata cokelatnya menatapku lekat-lekat,ia berbisik nakal.

"Kamu mau 'kan menjadi pengantinku? Janji tidak akan meninggalkanku?" Kata-kata dari bibir sensualnya bagaikan angin surga.
Tanpa berpikir panjang, aku mengiyakan maunya. Eleana mendekapku lebih erat. Semakin erat hingga aku sulit bernapas. Kurasakan kulitnya mengeluarkan cairan. Bau nanah menusuk hidung. Aku ingin muntah, tapi gadis ini seakan lem super menempel padaku.
"Ele-a, le-paskan. A-ku bi-sa ma-ti."
Aku merasakan sesak luar biasa. Kepala berdenyut tidak karuan. Semakin aku meronta, semakin kuat pula ia menindihku. Kuhadapkan wajah untuk meminta belas kasihannya. Semua gambaran wajah rupawan hancur begitu saja, tergantikan sosok menjijikkan dengan bola mata hampir keluar dari rongganya. Mulut Eleana tidak berhenti keluar cairan busuk. Kulit-kulitnya mengelupas. Eleana menyeringai seiring pandanganku mulai mengabur. Semuanya menggelap.
.
Dua kali mimpi sialan itu hadir. Sempurna membuatku ketakutan setengah mati tentu saja membuatku demam tinggi. Aku meminta izin pada Bang Pardi untuk menggantikan bertugas. Paling tidak, tiga hari cukup untuk memulihkan badan.
Tiga hari tanpa berdinas membuatku hanya makan tidur saja. Beberapa obat penurun panas mulai ampuh bekerja. Selepas Magrib kunyalakan televisi. Mungkin beberapa acara bisa menjadi pengisi waktu luang. Sebuah ketukan mengalihkan pandanganku. Aku tidak punya janji dengan siapa pun hari ini.
"Elea. Eh, Mbak Eleana," kataku gugup ketika sosoknya di ambang pintu. Wajah lesu seperti selesai melakukan kerja berat.
"Si-lakan masuk, Mbak." Sedikit ragu aku menyuruhnya masuk. Takut kalau tiba-tiba sosoknya berubah seperti mimpi beberapa hari lalu.
"Ini hadiah untukmu. Terima kasih sudah menyukaiku." Eleana menyerahkan sebuah kotak berwarna merah muda lalu memelukku sebentar. Tanpa berani kubalas dekapannya.
Ia langsung berbalik dan pergi tanpa mendengar apakah aku menerima atau menolak pemberiannya.
Wangi bergamot masih tersisa di ruanganku. Benar-benar aneh mengingat selama ini sikapnya dingin ketika kami bertegur sapa di apartemen. Bahkan kadang kulihat ia memindaiku dari atas ke bawah, mengira-ngira siapa aku dengan pandangan jijik. Mungkin aku hanya satpam rendahan di matanya. Namun, semuanya tidak menepiskan rasa cintaku pada gadis berlesung pipi itu.
Diam-diam kukirimkan bunga dan makanan kesukaannya. Lagi-lagi benda itu harus berakhir di tong sampah. Ia pun memarahi beberapa petugas yang telah lalai meloloskan orang asing mengirim barang seenaknya padanya seraya menatapku sinis. Mungkin, ia tahu aku pelakunya.
'Ah, siapa tahu hatinya sudah terketuk untuk mencintaiku.'
Aku menimang-nimang kotak pemberian Eleana. Besok aku akan memberinya kejutan besar padanya.
***
Aku tersenyum bangga setelah mematut diri beberapa kali di depan cermin, mengagumi sosok gagah berbalut kemeja hitam lengan panjang. Setidaknya aku lebih tampan daripada si tua gendut, pacar Eleana itu.
Setelah menyemprotkan parfum murahan, aku bergegas ke Blue Capitol. Kebetulan aku tidak berdinas pagi ini. Seikat mawar merah sudah tergenggam di tangan. Tidak lupa kotak merah muda pemberiannya semalam. Aku ingin membuka hadiah itu bersamanya. Berkali-kali aku merapikan rambut bergelku seraya membayangkan ekpresi gadisku nanti.
Halaman apartemen sudah dikerubungi penghuni dan beberapa warga sekitar ketika aku datang. Suara berisik mereka seperti dengung lebah memenuhi telingaku. Aku bergegas ke pos satpam mencari Bang Pardi. Entah kenapa perasaanku menjadi tidak nyaman.
"Ada apa ribut-ribut, Bang?"
"Eleana gantung diri setelah meminum pil aborsi semalam. Tunangannya kabur begitu saja." Bang Pardi berlalu tergesa-gesa menuju mobil ambulan.
Aku mundur beberapa langkah mencari pegangan di pos penjagaan. Ingatan tentang mimpi dan peristiwa semalam berkelebat. Jiwaku belum menerima kepergian Eleana setragis ini. Kuambil kotak merah muda di meja. Secarik fotoku berseragam satpam yang diambil diam-diam Eleana.
'Terima kasih sudah mencintaiku diam-diam. Aku ingin kamu menjadi pengantinku, Hen.'
Tulisan di balik foto membuatku tergugu. Aku Kukira Eleana sangat membenciku, tapi ....
Entah kenapa tiba-tiba aku ingin ke kamarnya sekarang juga. Aku bergegas menuju gedung membawa seikat mawar tadi. Tidak peduli makian seorang bapak yang kutabrak.
Dengan napas putus-putus aku bersembunyi di balik dinding lorong, memastikan beberapa petugas polisi meninggalkan kamar bergaris kuning itu. Aku menunggu beberapa saat ketika mereka lengah. Lalu, masuk menggunakan kartu elektronik yang biasa kugunakan. Buru-buru menguncinya lalu menggeser sofa dan meja ruang tamu sebagai penghalang pintu.
Lagi-lagi angi bergamout menyambutku. Seakan sosok Eleana masih ada. Kamar Eleana masih seperti biasa. Hanya saja ketika aku memasuki ruang makan, di atas meja tersaji sisa makan malam semalam dan lilin besar. Mungkin, ia sempat makan bersama tunangannya. Seuatas kain menjuntai di atas kursi dengan genangan darah di lantai. Sepertinya ia bunuh diri tepat di atas meja makan. Menautkan pangkal kain ke kipas angin.
Aku teringat mimpiku tempo hari. Hanya saja aku lambat menyadari firasat ini. Frustasi atas cinta ini menggerogoti hatiku. Kehilangan teramat sangat. Cahaya ruangan semakin meredup. Seredup hatiku berselimut duka. Mendadak kepalaku pening.
"Kamu datang, Hen."
Sebuah pelukan menyambutku dari belakang. Aku tergagap ketika berbalik, menyadari sosok bergaun putih berdiri anggun bersamaku. Wajahnya tampak cantik dengan riasan natural. Rambutnya tergerai rapi.
"Elea. Maksudku Mbak Eleana."
"Elea." Ulangnya. "Aku suka panggilan itu."
Eleana mengapit lenganku, membimbingku menuju balkon. Langit sudah berselimut malam. Semua terasa hening. Mataku masih terpesona menatap Eleana.
"Kau ingin menjadi pengantinku?" tanyanya.
"Tentu saja, Elea." Tanpa canggung kuusap pipi pucatnya. Bibirnya menyunggingkan senyum.
"Kau janji tidak akan meninggalkanku seperti dia?" Mata Eleana menatap tajam padaku. Aku tahu maksudnya ia tidak ingin aku menyia-nyiakannya seperti si tua berengsek itu.
Jemari halus Elea merangkul leherku lalu kepalanya bersandar di dadaku. Gumamannya terdengar samar di telinga ini. Kami melayang di udara menikmati kerlip bintang. Berputar seperti penari balet hingga aku merasakan tubuhku lolos begitu saja di udara. Sementara di atas sana Eleana masih melayang serupa kapas. Ia menyeringai dengan gaun meriap-riap di terpa angin malam.
Hantaman keras mengenai kepalaku. Semua terasa cepat. Napasku megap-megap, berusaha mencari oksigen. Namun, semakin kuhirup, udara itu seakan kosong. Setitik cahaya semakin meredup. Perlahan tapi pasti lalu semua berubah gelap.(*)
Borneo, 9 April 2020
Adeline Nordica.
Diubah oleh AdelineNordica 15-03-2020 11:31
fiaperm dan Cahayahalimah memberi reputasi
2
Tutup