- Beranda
- Stories from the Heart
TEROR HANTU DEWI
...
TS
mahadev4
TEROR HANTU DEWI
Cerita ini adalah murni fiksi dan imajinasi saya semata, ini adalah Cerita Horor pertama yang saya buat, maka jika banyak kekurangan disana sini saya mohon maaf dan sangat berharap kritik dan sarannya. Dan Kisah ini saya persembahkan Untuk Novia Evadewi, yang novel horornya sederhana namun begitu mencekam nuansa horornya.
Cerita ini saya beri judul "Teror Hantu Dewi", selamat membaca.
=====================================
Daftar Lengkap serinya :
Prolog
Part 1 Malam Jahanam
Part 2 Penantian Mencekam
Part 3 Geger Mayat Dewi
Part 4 Penguburan Mayat Dewi
Part 5 Teror di Tumah Tua
Part 6 Teror yang Berlanjut
Part 7 Pembalasan Dewi
Part 8 A Hantu Dewi Meneror Lagi
Part 8 B Hantu Dewi Meneror Lagi
Part 9 A Geger di Makam Dewi
Part 9 B Geger di Makam Dewi
Part 9 C Geger di Makam Dewi
Part 9 D Geger di Makam Dewi
Part 10 Menguak Tirai Gelap
Part 11 Keris Kiayi Pancasona
Part 12 Pertarungan Terakhir (Tamat)
=============================

Cerita ini saya beri judul "Teror Hantu Dewi", selamat membaca.
=====================================
Daftar Lengkap serinya :
Prolog
Part 1 Malam Jahanam
Part 2 Penantian Mencekam
Part 3 Geger Mayat Dewi
Part 4 Penguburan Mayat Dewi
Part 5 Teror di Tumah Tua
Part 6 Teror yang Berlanjut
Part 7 Pembalasan Dewi
Part 8 A Hantu Dewi Meneror Lagi
Part 8 B Hantu Dewi Meneror Lagi
Part 9 A Geger di Makam Dewi
Part 9 B Geger di Makam Dewi
Part 9 C Geger di Makam Dewi
Part 9 D Geger di Makam Dewi
Part 10 Menguak Tirai Gelap
Part 11 Keris Kiayi Pancasona
Part 12 Pertarungan Terakhir (Tamat)
=============================

Diubah oleh mahadev4 31-05-2022 17:52
sampeuk dan 38 lainnya memberi reputasi
35
27K
192
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
mahadev4
#1
TEROR HANTU DEWI - Part 1
by Deva
Agung masih sibuk dengan motornya yang terparkir di depan warung Pak Harjo, tiba-tiba Ilung yang sedang memainkan gitar melihat seorang wanita muda yang menenteng dua buah tas besar di tangannya, wanita itu berjalan bergegas, Ilung terus memperhatikannya, dan ia sempat melihat wanita itu melirik sebentar kepada mereka dan lanjut berjalan lagi.
“Gung, ada cewek cantik tuh, malam-malam begini, setan apa orang ya?,” tanya Ilung.
“Mana?,” Agung mengangkat kepalanya mencari sosok yang di maksud kawannya, sebelum Ilung menjawab tatapannya sudah langsung melihat sosok wanita yang berjalan itu.
“Oh.. itu kayaknya tetangga gw, si Dewi, udah lama gak kelihatan sih. Kabarnya dia kerja di Jakarta. Kayaknya baru pulang tuh dari Jakarta,” jawab Agung dan mulai kembali Asik dengan motornya.
“Syukurlah kalau bukan Setan. Asik neh, dapat mangsa malam ini kita, pesta besar cuy!,” Ilung meletakkan Gitarnya, disandarkan di dinding warung yang terbuat dari papan.
“Jangan gila Bos, itu kan tetangga gw!,” Agung sudah bisa menduga rencana jahat kawannya itu.
Ilung memang terkenal di pasar sebagai Preman Pasar yang paling disegani, kabarnya Ilung punya Ilmu kebal, sehingga tak mempan di tebas senjata tajam, dan rumornya malah ia kebal peluru juga. tak ada pedagang yang berani melawannya hingga akhirnya orang-orang pasar secara suka tidak suka memberikan uang keamanan kepada Ilung, bukan untuk mengamankan dari kejahatan orang lain justru agar mereka aman dari kejahatan Ilung dan kawan-kawannya tersebut.
Agung sendiri sebenarnya berbeda dengan mereka, ia tak pandai berkelahi, ia pun anak dari orang kaya yang cukup terpandang di desa ini, kalau pun ia mau ikut-ikutan gabung dengan mereka maka itu pun sebenarnya hanya karena ingin cari aman saja.
“Johan, Yondi, dah selesai belum makannya, lelet amat.” Teriak Ilung pada dua temannya lagi yang sedari tadi asik makan, namun telinga mereka tetap mendengar apa yang baru saja di bicarakan antara Ilung dan Agung.
“Ok bos, udah nih.” Kata Yondi menyingkirkan piringnya dan piring temannya.
“Pak! Pak Harjo! Kemana sih nih penjual, dagang tapi kabur-kabur mulu.” Teriak Johan.
Tak lama datang Pak Harjo dengan tergopoh-gopoh, kedua tangannya yang masih basah di lapkan di bajunya.
“Iya, maaf tadi saya habis buang hajat di kali belakang sana, ada apa ya?." Tanyanya.
“Ini semuanya berapa?,” tanya Johan.
“Makan 2, Rokok, sama kopi, semuanya Rp. 65.000,-.“ jawab pak harjo, ia tampak senang karena malam ini sebelum tutup warungnya laku banyak.
“Ya udah, catat hutang saja dulu ya, besok di bayar”.
“ya” jawab Pak Harjo dengan lemah, bayangan indahnya dalam sekejap hilang, wajahnya tampak lesu, ada rona kekecewaan menggurat disana.
Pak Harjo lantas menutup Warungnya, sementara Ilung naik motor di bonceng Yondi, sedang Johan Ikut Motornya Agung.
Agung tak kuasa menolak ajakan Ilung sang Preman pasar itu, dan untuk menyamarkan dirinya agar tak dikenali oleh Dewi nantinya, ia mengenakan masker.
Kedua motor dengan 4 pengendara itu ngebut kearah dimana sosok Dewi menghilang.
===
Dewi mendengar deru motor di kejauhan dari arah belakangnya, ia sudah menduga siapa kiranya yang ada di atas kendaraan itu, tentulah mereka para pemuda yang tadi ada di warungnya pak Harjo.
Perasaan cemas mulai merambati bathinnya, ia lebih mempercepat lagi langkahnya, namun terlambat, karena dua motor dengan 4 pengendara itu sudah lebuh dahulu menyalib jalannya.
“Minggir kalian, mau apa kalian?!” teriak Dewi.
“Waduh, galak juga nih cewek. Jangan kasar-kasar ngomongnya, kami orang baik kok, boleh kami antar? Gak baik loh gadis cantik kayak Mbak ini jalan sendirian, apalagi tengah malam begini, ditempat sepi kayak gini.” Ilung turun dari boncengan Yondi dan mendekati Dewi, Yondi mengikuti di belakangnya, sedangkan Johan dan Agung masih tetap duduk di motor, menunggu komando Bos mereka.
“Nggak, makasih. Rumah saya sudah dekat. Minggir kalian!,” teriak Dewi sambil berjalan mundur menghindari Ilung yang langkahnya kian mendekatinya.
Ilung mengedipkan mata pada Yondi yang langsung mengerti kode Bosnya itu, ia langsung bergerak cepat ke arah Dewi, mencengkeram lengannya.
Dewi yang memang sudah waspada sejak tadi, langsung menghantamkan kakinya ke arah kemaluan Yondi, sontak Yondi langsung meringis kesakitan yang bukan alang kepalang.
Dewi sadar bahwa dirinya kini dalam bahaya besar, ia harus bisa melarikan diri dari mereka, tetapi untuk lari ke arah depan jelas tidak mungkin, karena di depannya ada Ilung yang siap menangkapnya, belum lagi Johan dan Agung yang tetap stand by di atas motor tentu akan lebih mudah mengejarnya, sama halnya jika ia memilih arah sebaliknya.
Maka di detik-detik yang paling menentukan itu ia memilih berlari kearah kanannya, menyusuri jalan setapak yang sunyi yang mengarah ke arah pesawahan Desa. Ditinggalkannya barang bawaannya, baginya keselamatannya kini jauh lebih penting dari barang-barangnya.
“Johan sama lo Gung, amanin nih barang kita, nanti kita buka sama-sama di Markas. Lo ikut gw Yon, kita kejar tuh cewek, lumayan malam-malam gini dapat barang anget gratis. Hahaha…”.
Yondi dan Ilung berlari mengejar Dewi yang sosoknya sudah jauh dan tak terlihat lagi, sementara Agung dan Johan membawa kedua tas Dewi ke markas mereka, sebuah rumah tua yang tak terpakai lagi, mereka menyembunyikan tas itu disana lalu mereka kembali ketempat semula, dan menyusuri jalanan setapak dimana Ilung dan Yondi mengejar Dewi.
Tidak butuh waktu lama, keduanya melihat Yondi dan Ilung yang berdiri di pinggiran Pesawahan, sedangkan Dewi tergeletak pingsan tidak jauh dari mereka.
Entah apa yang sudah di perbuat oleh kedua temannya itu, Agung dan Johan tak habis pikir.
“Mau diapakan nih Bos?,” tanya Johan menunjuk sosok Dewi.
“Ya kita nikmatin lah, ada barang bagus begini disia-siain, buruan angkat dia dan bawa kesana,” perintah Ilung pada Johan dan Agung.
Mereka berempat menyusuri pematang sawah, menuju sebuah gubuk yang ada di tengah-tengah sawah.
Sementara langit yang semula bertaburan bintang gemintang tiba-tiba berubah gelap gulita, sesekali kilat menyambar-nyambar, menimbulkan suara gelegar yang mendirikan bulu roma.
Di dalam gubuk itulah, ke 4 pemuda biadab tersebut beramai-ramai merudapaksa Dewi yang sudah tidak berdaya itu secara bergiliran. Lalu mereka meninggalkannya begitu saja disana, setelah Yondi menikamkan belatinya berkali-kali ke tubuh Dewi, sampai mereka memastikan bahwa Dewi sudah tak bernyawa lagi.
Barulah mereka pergi dengan perasaan tenang karena takkan ada bukti dan saksi yang akan menyeret mereka ke ranah hukum.
Di kejauhan lolongan anjing masih saling bersahutan, kali ini lebih menyayat dari sebelumnya, di barengi suara kilat dan rintik hujan yang sudah mulai turun mengguyur Desa itu.
BERSAMBUNG
by Deva
Agung masih sibuk dengan motornya yang terparkir di depan warung Pak Harjo, tiba-tiba Ilung yang sedang memainkan gitar melihat seorang wanita muda yang menenteng dua buah tas besar di tangannya, wanita itu berjalan bergegas, Ilung terus memperhatikannya, dan ia sempat melihat wanita itu melirik sebentar kepada mereka dan lanjut berjalan lagi.
“Gung, ada cewek cantik tuh, malam-malam begini, setan apa orang ya?,” tanya Ilung.
“Mana?,” Agung mengangkat kepalanya mencari sosok yang di maksud kawannya, sebelum Ilung menjawab tatapannya sudah langsung melihat sosok wanita yang berjalan itu.
“Oh.. itu kayaknya tetangga gw, si Dewi, udah lama gak kelihatan sih. Kabarnya dia kerja di Jakarta. Kayaknya baru pulang tuh dari Jakarta,” jawab Agung dan mulai kembali Asik dengan motornya.
“Syukurlah kalau bukan Setan. Asik neh, dapat mangsa malam ini kita, pesta besar cuy!,” Ilung meletakkan Gitarnya, disandarkan di dinding warung yang terbuat dari papan.
“Jangan gila Bos, itu kan tetangga gw!,” Agung sudah bisa menduga rencana jahat kawannya itu.
Ilung memang terkenal di pasar sebagai Preman Pasar yang paling disegani, kabarnya Ilung punya Ilmu kebal, sehingga tak mempan di tebas senjata tajam, dan rumornya malah ia kebal peluru juga. tak ada pedagang yang berani melawannya hingga akhirnya orang-orang pasar secara suka tidak suka memberikan uang keamanan kepada Ilung, bukan untuk mengamankan dari kejahatan orang lain justru agar mereka aman dari kejahatan Ilung dan kawan-kawannya tersebut.
Agung sendiri sebenarnya berbeda dengan mereka, ia tak pandai berkelahi, ia pun anak dari orang kaya yang cukup terpandang di desa ini, kalau pun ia mau ikut-ikutan gabung dengan mereka maka itu pun sebenarnya hanya karena ingin cari aman saja.
“Johan, Yondi, dah selesai belum makannya, lelet amat.” Teriak Ilung pada dua temannya lagi yang sedari tadi asik makan, namun telinga mereka tetap mendengar apa yang baru saja di bicarakan antara Ilung dan Agung.
“Ok bos, udah nih.” Kata Yondi menyingkirkan piringnya dan piring temannya.
“Pak! Pak Harjo! Kemana sih nih penjual, dagang tapi kabur-kabur mulu.” Teriak Johan.
Tak lama datang Pak Harjo dengan tergopoh-gopoh, kedua tangannya yang masih basah di lapkan di bajunya.
“Iya, maaf tadi saya habis buang hajat di kali belakang sana, ada apa ya?." Tanyanya.
“Ini semuanya berapa?,” tanya Johan.
“Makan 2, Rokok, sama kopi, semuanya Rp. 65.000,-.“ jawab pak harjo, ia tampak senang karena malam ini sebelum tutup warungnya laku banyak.
“Ya udah, catat hutang saja dulu ya, besok di bayar”.
“ya” jawab Pak Harjo dengan lemah, bayangan indahnya dalam sekejap hilang, wajahnya tampak lesu, ada rona kekecewaan menggurat disana.
Pak Harjo lantas menutup Warungnya, sementara Ilung naik motor di bonceng Yondi, sedang Johan Ikut Motornya Agung.
Agung tak kuasa menolak ajakan Ilung sang Preman pasar itu, dan untuk menyamarkan dirinya agar tak dikenali oleh Dewi nantinya, ia mengenakan masker.
Kedua motor dengan 4 pengendara itu ngebut kearah dimana sosok Dewi menghilang.
===
Dewi mendengar deru motor di kejauhan dari arah belakangnya, ia sudah menduga siapa kiranya yang ada di atas kendaraan itu, tentulah mereka para pemuda yang tadi ada di warungnya pak Harjo.
Perasaan cemas mulai merambati bathinnya, ia lebih mempercepat lagi langkahnya, namun terlambat, karena dua motor dengan 4 pengendara itu sudah lebuh dahulu menyalib jalannya.
“Minggir kalian, mau apa kalian?!” teriak Dewi.
“Waduh, galak juga nih cewek. Jangan kasar-kasar ngomongnya, kami orang baik kok, boleh kami antar? Gak baik loh gadis cantik kayak Mbak ini jalan sendirian, apalagi tengah malam begini, ditempat sepi kayak gini.” Ilung turun dari boncengan Yondi dan mendekati Dewi, Yondi mengikuti di belakangnya, sedangkan Johan dan Agung masih tetap duduk di motor, menunggu komando Bos mereka.
“Nggak, makasih. Rumah saya sudah dekat. Minggir kalian!,” teriak Dewi sambil berjalan mundur menghindari Ilung yang langkahnya kian mendekatinya.
Ilung mengedipkan mata pada Yondi yang langsung mengerti kode Bosnya itu, ia langsung bergerak cepat ke arah Dewi, mencengkeram lengannya.
Dewi yang memang sudah waspada sejak tadi, langsung menghantamkan kakinya ke arah kemaluan Yondi, sontak Yondi langsung meringis kesakitan yang bukan alang kepalang.
Dewi sadar bahwa dirinya kini dalam bahaya besar, ia harus bisa melarikan diri dari mereka, tetapi untuk lari ke arah depan jelas tidak mungkin, karena di depannya ada Ilung yang siap menangkapnya, belum lagi Johan dan Agung yang tetap stand by di atas motor tentu akan lebih mudah mengejarnya, sama halnya jika ia memilih arah sebaliknya.
Maka di detik-detik yang paling menentukan itu ia memilih berlari kearah kanannya, menyusuri jalan setapak yang sunyi yang mengarah ke arah pesawahan Desa. Ditinggalkannya barang bawaannya, baginya keselamatannya kini jauh lebih penting dari barang-barangnya.
“Johan sama lo Gung, amanin nih barang kita, nanti kita buka sama-sama di Markas. Lo ikut gw Yon, kita kejar tuh cewek, lumayan malam-malam gini dapat barang anget gratis. Hahaha…”.
Yondi dan Ilung berlari mengejar Dewi yang sosoknya sudah jauh dan tak terlihat lagi, sementara Agung dan Johan membawa kedua tas Dewi ke markas mereka, sebuah rumah tua yang tak terpakai lagi, mereka menyembunyikan tas itu disana lalu mereka kembali ketempat semula, dan menyusuri jalanan setapak dimana Ilung dan Yondi mengejar Dewi.
Tidak butuh waktu lama, keduanya melihat Yondi dan Ilung yang berdiri di pinggiran Pesawahan, sedangkan Dewi tergeletak pingsan tidak jauh dari mereka.
Entah apa yang sudah di perbuat oleh kedua temannya itu, Agung dan Johan tak habis pikir.
“Mau diapakan nih Bos?,” tanya Johan menunjuk sosok Dewi.
“Ya kita nikmatin lah, ada barang bagus begini disia-siain, buruan angkat dia dan bawa kesana,” perintah Ilung pada Johan dan Agung.
Mereka berempat menyusuri pematang sawah, menuju sebuah gubuk yang ada di tengah-tengah sawah.
Sementara langit yang semula bertaburan bintang gemintang tiba-tiba berubah gelap gulita, sesekali kilat menyambar-nyambar, menimbulkan suara gelegar yang mendirikan bulu roma.
Di dalam gubuk itulah, ke 4 pemuda biadab tersebut beramai-ramai merudapaksa Dewi yang sudah tidak berdaya itu secara bergiliran. Lalu mereka meninggalkannya begitu saja disana, setelah Yondi menikamkan belatinya berkali-kali ke tubuh Dewi, sampai mereka memastikan bahwa Dewi sudah tak bernyawa lagi.
Barulah mereka pergi dengan perasaan tenang karena takkan ada bukti dan saksi yang akan menyeret mereka ke ranah hukum.
Di kejauhan lolongan anjing masih saling bersahutan, kali ini lebih menyayat dari sebelumnya, di barengi suara kilat dan rintik hujan yang sudah mulai turun mengguyur Desa itu.
BERSAMBUNG
sampeuk dan 14 lainnya memberi reputasi
13