- Beranda
- Stories from the Heart
LIMA BELAS MENIT
...
TS
gitartua24
LIMA BELAS MENIT


PROLOG
"Masa SMA adalah masa-masa yang paling ga bisa dilupakan." menurut sebagian orang. Atau paling engga gue anggepnya begitu. Di masa-masa itu gue belajar banyak tentang kehidupan mulai dari persahabatan, bandel-bandel ala remaja, cita-cita, masa depan, sampai menemukan pacar pertama dan terakhir?. Drama? mungkin. pake banget? bisa jadi.
Masa Sma bagi gue adalah tempat dimana gue membentuk jati diri. Terkadang gue bantuin temen yang lagi kena masalah dengan petuah-petuah sok bijak anak umur tujuh belas tahun. Gak jarang juga gue ngerasa labil sama sikap gue sendiri. mau gimana lagi, namanya juga anak muda. Kadang gue suka ketawa-ketawa sendiri dan mengamini betapa bodohnya gue saat itu.
Gue SMA di jaman yang namnya hp B*ackberry lagi booming-boomingnya. Di jaman itu juga yang namanya joget sapel-sapelan lagi hits. Mungkin kalo lo inget pernah masuk atau bahkan bikin squd sendiri terus launching jaket sambil jalan-jalan di mall mungkin lo bakal malu sendiri saat ada temen lo yang ngungkit-ngungkit masa itu. Gue sendiri paling kesel kalo adan orang petantang-petenteng dengan bangganya bilang kalu dia anggota salah satu squad sapel terkenal di ibu kota dan sekitarnya. Secara saat itu gue lebih suka nonton acara metal di Rossi Fatmawati. Playlist lagi gue juga ga jauh-jauh dari aliran metal, punk, hardcore. Mungkin itu yang ngebuat gue ga terlalu suka lagu EDM atau rap yang mumble. Atau bahkan lagu RnB yang sering ada di top 100 Joox dan Spotify. Yaaa meskipun gue sekarang lebih kompromi dengan dengerin lagu apa aja yang gue suka, ga mandang genre.
Oiya, nama gue Atreya xxxxx. Biasa dipanggil Treya, dengan tinggi 182 cm dan berat 75 kg (naik turun tergantung musim). Ganteng dan menawan? relatif. Nama gue mungkin aneh ntuk orang Indonesia. Tapi gue suka dengan nama ini. karena pada dasarnya gue emang gasuka segala sesuatu yang banyak orang lain suka. Gue anak kedua dari dua bersaudara. Gue lahir dan besar di Jakarta, lebih tepatnya Jakarta selatan. Ga tau kenapa ada pride lebih aja Jakarta selatan dibanding bagian Jakarta lainnya, meskipun gue tinggal di Bintaro, hehe. Bokap gue kerja di suatu kantor yang ngurusin seluruh bank yang ada di Indonesia. Meski kerja kantoran tapi bokap gue suka banget yang namanya musik. mungkin darah itu menurun ke gue. Nyokap gue seorang ibu rumah tangga yang ngerangkap jadi pebisnis kecil-kecilah dimana orderan paling ramenya dateng pas bulan puasa. mulai dari makanan kering sampe baju-baju. Kakak gue cewek beda empat tahun. Waktu gue masuk SMA berarti doi baru masuk kuliah. Kakak gue ini orangnya cantik pake banget gan. kembang sekolah gitu dah. Gue bahkan sampe empet kalo ada temen cowoknya yang sok-sok baikin gue.
Lo percaya dengan dunia pararel? Dunia dimana ada diri kita yang lain ngelakuin sesuatu yang beda sama apa yang kita lakuin sekarang. Misalnya lo ada di dua pilihan, dan lo milih pilihan pertama. Untuk beberapa lama setelah lo ngejalanan pilihan lo mungkin lo bakal mukir ""Gue lagi ngapain yaa sekarang kalo milih pilihan yang kedua. mungkin gue lebih bahagi. Atau mungkin lebih sedih." Hal itulah yang ngebuat gue bikin cerita ini.
Ditahun itu gue baru masuk salah satu SMA di Jakarta selatan. Disaat itu juga cerita gue dimulai
INDEX
Part 1 - MOS day
Part 2 - Perkenalan
Part 3 - Peraturan Sekolah
Part 4 - Balik Bareng
Part 5 - Masih MOS Day
part 6 - Terakhir MOS Day
Part 7 - Hujan
Part 8 - Pertemuan
Part 9 - Debat Penting Ga Penting
Part 10 - Atas Nama solidaritas
Part 11 - Rutinitas
Part 12 - Om Galih & Jombang
Part 13 - Gara Gara Cukur Rambut
Part 14 - Rossi Bukan Pembalap
Part 15 - Bertemu Masa Lalu
Part 16 - Menghibur Hati
Part 17 - Ga Makan Ga Minum
Part 18 - SOTR
Part 19 - Tubirmania
Part 20 - Bukber
Part 21 - Masih Bukber
Part 22 - Wakil Ketua Kelas & Wacana
Part 23 - Latihan
Part 24 - The Rock Show
Part 25 - After Show
Part 26 - Anak Kuliahan
Part 27 - Malam Minggu Hacep
Part 28 - Aneh
Part 29 - Kejutan
Part 30 - Dibawah Sinar Warna Warni
Part 31 - Perasaan
Part 32 - Sela & Ramon
Part 33 - HUT
Part 34 - Masuk Angin
part 35 - Kunjungan
Part 36 - Wacana Rico
Part 37 - Atletik
Part 38 - Pengganggu
Part 39 - Nasib jadi Adek
Part 40 - Boys Talk
Part 41 - Taurus
Part 42 - Klise
Part 43 - Eksistensi
Part 44 - Utas VS Aud
Part 45 - Naik Kelas
Part 46 - XI IPA 1
Part 47 - Yang Baru
Part 48 - Lo Pacaran Sama Putri?
Part 49 - Sok Dewasa
Part 50 - Masih Sok Dewasa
Part 51 - Salah Langkah
Part 52 - Penyesalan
Part 53 - Bubur
Part 54 - Bikin Drama
Part 55 - Latihan Drama
Part 56 - Pertunjukan Drama
Part 57 - Coba-Coba
Part 58 - Greet
Part 59 - Sparing
Part 60 - Sedikit Lebih Mengenal
Part 61 - Hal Tidak Terduga
Part 62 - Hal Tidak Terduga Lainnya
Part 63 - Ngedate
Part 64 - Berita Dari Kawan
Part 65 : Second Chance
Part 66 - Maaf Antiklimaks
Part 67 - Bikin Film
Part 68 - Sudden Date
Part 69 - Masih Sudden Date (Lanjut Gak?)
Part 70 - Kok Jadi Gini
Part 71 - Sedikit Penjelasan
Part 72 - Sehari Bersama Manda
Part 73 - Masak Bersama Manda
Part 74 - Malam Bersama Manda
Part 75 - Otw Puncak
Part 76 - Villa & Kebun Teh
Part 77 - Malam Di Puncak
Part 78 - Hari Kedua & Obrolan Malam
Part 79 - Malam Tahun Baru
Part 80 - Shifting
Part 81 - Unclick
Part 82 - Gak Tau Mau Kasih Judul Apa
Part 83 - 17
Part 84 - Hari Yang Aneh
Part 85 - Pertanda Apa
Part 86 - Ups
Part 87 - Menjelang Perpisahan
Part 88 - Cerita Di Bandung
Part 89 - Obrolan Pagi Hari & Pulang
Part 90 - Awal Baru
Part 91 - Agit
Part 92 - Tentang Sahabat
Part 93 - Keberuntungan Atau Kesialan
Part 94 - Memulai Kembali
Part 95 - Belum Ingin Berakhir
Part 96 - Makan Malam
Part 97 - Rutinitas Lama
Part 98 - Sekedar Teman
Part 99 - Bukan Siapa-Siapa
Part 100 - Seperti Dulu
Part 101 - Kue Kering
Part 102 - Perusak Suasana
Part 103 - Cerita Di Warung Pecel
Part 104 - Konfrontasi
Part 105 - Tragedi Puisi
Part 106 - Gak Sengaja Jadian
Part 107 - Day 1
Part 108 - Mengerti
Part 109 - Sisi Lain
Part 110 - Cemburu
Part 111- Cemburu Lagi
Part 112 - Cerita Akhir Tahun
Part 113 - Ketemu Lagi
Part 114 - Malam Panjang
Part 115 - Malam Masih Panjang
Part 116 - Malam Berakhir
Part 117 - Mereka Bertemu
Part 118 - rekonsiliasi
Part 119 - Bicara Masa Depan
Part 120 - Langkah
Part 121 - UN
Part 122 - Pilox & Spidol
Part 123 - Menjelang Prom
Part 124 - Malam Perpisahan
Part 125 - Sebuah Akhir Untuk Awal Baru (TAMAT)
Epilog - Untuk Perempuan Yang Sempat Singgah Di Hati
Terima Kasih, Maaf, & Pengumuman
Special Part : Gadis Manis & Bocah Laki-Laki Di Kursi Depan
MULUSTRASI
Diubah oleh gitartua24 25-04-2022 01:17
JabLai cOY dan 122 lainnya memberi reputasi
119
198.7K
1K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
gitartua24
#499
Part 55 - Latihan Drama
sekolah berlanjut lagi sampe akhirnya bell pulang berbunyi. kelompok drama gue mutusin buat latihan hari ini di rumahnya rida di daerah deket pondok cabe. sebenernya rada males sih buat latihan. pertama, tempatnya jauh bet. kedua, keempat anggota kelompok gue mutusin buat naik kendaraan umum bareng-bareng, otomatis gue harus berangkat sendiri naik motor.
ini juga yang bikin gue rada males kalo ga dapet temen cowok di kelompok, masa iya gue sendirian. mana gue ga tau lagi rumahnya, cuman dikasih alamatnya doang. dan udah pasti gue yang bakal nyampe duluan karena gue naik motor. kalo ada temen cowoknya kan kita bisa nunggu dulu dimana gitu sambil nongkrong. sempet kepikiran buat nunggu dulu di rumah bobby, biar jalannya rada ngepur dulu dari anak-anak cewek, tapi takut keburu mager entar.
abis mau gimana lagi, kata anak kelompok gue yang lain kalo di tunda-tunda yang ada malah ga jadi. lagian kalo bisa latihan secepet mungkin kan bisa gonta-ganti adekan kalo emang ternyata ada adegan yang kurang cocok atau bisa ditambahin karena batas minimal pertunjukkanna harus lima belas menit. gitu kata anak kelompok gue yang lain. dan ngambil nilainya dimulai dari minggu depan, dengan urutan maju sesuai undian. makin setak setuk dah. kalo ga cukup waktunya buat semua kelompok maju bakal dilanjutin lagi di pertemuan berikutnya.
gue yakin, waktu ngambil nilai nanti, gue akan ngerasa kalau itu adalah lima belas menit terlama dalam hidup gue.
berangkat lah gue kerumahnya rida. dan seperti digaan gue sebelumnya, waktu gue udah nemuin komplek rumahnya, bisa dibilang gue kecepetan lebih dari sejam. gue bahkan bisa makan dulu dan nungguin mereka sambil main warnet yang ada di deket situ-_-
akhirnya kita baru mulai kumpul pas sekitar jam setengah lima. meskipun gue bilang kalo kelompok gue bakalan latihan di rumah rida, tapi ternyata bukan bener-bener di rumahnya dia. jadi di komplek rumahnya itu kaya ada balai terbuka gitu. mungkin buat pertemuan warga-warga disini. untungnya tempat ini bukan jadi pilihan bocah-bocah komplek buat main di sore hari. ga kebayang dah gue malunya kalo di liatin bocah-bocah pantaran anak sd.
latihan lah kita dengan adegan-adegan yang harus sangat merendahkan diri gue sebagai anak baik-baik disekolah. gue jelasin sedikit kali yee cerita yang dibuat kelompok gue buat drama nanti. jadi tuh ceritanya gue jadi anak sekolah berandalan yang suka ngebully. dan gue dituntut buat petantang petenteng waktu drama nanti. jadi anak songong lah.
terus cindy sebagai pasangan gue dalem cerita, ceritanya jadi anak kutu buku gitu yang gue bully. terus ayu jadi temennya cindy. yuli jadi guru, sementara rida jadi nyokapnya cindy. kebayang sendiri lah yaaa alurnya kaya gimana. tipikal teen lit romance lah, hahahha.
bermenit-menit latihan, bermenit-menit ngafalin dialog, ekspresi dan gerakan waktu drama nanti. bermenit-menit itu juga gue berdebat sama anak-anak kelompok kenapa gue harus melakukan adegan-adegan memalukan ini. hahhaa.
"woy da, ini seriusan gue harus jadi gini banget nih?" protes gue ke rida karena dia yang bertanggung jawab ke hampir adegan yang dibuat.
"iyalah, biar feelnya makin berasa."
"fal fil fal fil, enteng banget lo ngomong."
"yaelah tre gitu doang. udah sana cepet-cepet ulang lagi."
dan gue pun ngulang lagi adegan yang buat gue ga abis pikir, kaya, ngapain dah gue sebenernya, wkwkwk. dan perlu di catat. adegan-adegan itu ga cuman sekali dua kali. tapi berkali-kali.
"eh sumpah dong, ini gue gabisa jadi biasa aja apa gitu. leba banget ini." kata gue memelas ketika gue minta salah satu adegan dirubah.
"gabisa tre, nanti ceritanya malah ga dapet." kata yuli yang sekarang udah mulai ikut-ikutan.
"itu cindy aja ga kenapa-kenapa kok tre." timpal ayu.
"iiihhh, ga gitu juga. malu juga tau." akhirnya cindy angkat suara juga. dari tadi dia cuman diem doang. mungkin pasrah. tapi dari tadi mukanya udah merah banget nahan malu. yang lain mah ketawa-ketawa aja. meskipun mereka bertiga dapet bagian yang juga malu-maluin, tapi porsinya ga sebanyak gue dan cindy yang jadi pemeran utama. ibaratnya disini gue dan cindy jadi korban pementasan drama
"tuh, si cindy juga udah ampe protes." balas gue.
"udah cin, percaya sama gue, ga bakalan kenapa-kenapa kok." kata rida dengan cueknya.
pasrah, gue dan cindy pun cuman bisa ngulangin adegan demi adegan tersebut, yang pasti bakal malu banget pas main nanti.
akhirnya latihanpun selesai pas udah mulai malem. anak-anak ceweknya alias kelompok gue udah minta pulang. kalo gue sih woles aja sebenrnya. kita balik dulu kerumahnya rida buat pamit sama orang tuanya sekalan ngambil tas, kan ditinggal dulu tuh dirumahnya. lagian kan pas dateng udah salim masa pas pulang ga pamit.
"tre, lo balik kearah mana?." tanya cindy waktu kita semua udah mau siap-siap balik.
"bintaro cin, emang kenapa?" paham sih gue sebenernya, emang ga peka aja orangnya, hahaha.
"nebeng dong tre...." kita kan duduknya deketan, sedikit banyak jadi lumayan deket juga. jadi wajar lah kalo cindy minta tolong anterin balik.
gue sempet mikir juga tapi, mager juga kalo nganterin bener-bener sampe rumahnya. karena pasti bakal muter muter gue jadinya. rumah gue sama rumah cindy ga searah balik, ibaratnya mau gamau gue harus kesekolah lagi. tapi kayanya cindy ngeliat kemageran gue dari mimik muka yang gue buat. atau emang dia orangnya cukup tau diri, atau ga enakan juga.
"gausah nampe rumahnya banget tre, sampe fatmawati aja deh." kata cindy, meskipun itu masih cukup jauh dari rumah dia meskipun cuman lurusan. seinget gue kan rumahnya di cipete.
"ayu sama yuli rumahnya deket kok, tinggal naik ojek." kata rida. pantesan latihannya disini. jaman itu belom ada ojek online. jadi harus jalan kedepan komplek dulu nyari ojek pangkalan. tapi mendingan lah, kalau cindy kan harus naik bis umum lagi.
"yauds dah, tapi ga nyampe rumah lo yaa cin, muter-muter jadinya gue soalnya." jahat sih yaaa ga nganterin sampe rumahnya. tapi gimana dong, gue juga cape
"iyaaa, gapapa kok tre." cindy cuman senyum.
di perjalanan balik gue dan cindy cuman bisa diem-dieman. entah ini karena gue orangnya ga kepoan atau kerena grogi aja gabisa ngomong basa-basi sama cewek. kalo masalah kepo, gue orangnya ga kepoan. tapi gue juga ga mempermasalahkan apa-apa kalo ada orang nanya-nanya tentang gue (buat di cerita ini yaa, bukan rl, wkwk.)
tapi kan lo katanya udah lumayan deket tre, duduknya juga depan belakang?
itu kan gue ga sendiri, ada rico sama dinda yang jadi temen sebangkunya cindy. kalo sendiri mah tetep aja.
semakin deket kita ke fatmawati, semakin ga tega gue kalo nurunin cindy disana. nanti kalo kenapa-kenapa gimana. repot juga gue. bukan repot sih. ga enak aja gue nurunin anak gadis orang di pinggir jalan. akhirnya tanpa bilang apa-apa, gue terusin aja bawa motornya sampe ngelewatin fatmawati.
"kok ga berenti tre?" tanya cindy penasaran karena gue masih lanjut jalan.
"gue anterin lo sampe rumah aja deh, ga enak gue nurunin lo disini. takut kenapa-kenapa."
"gapapa kali tre..."
"udah woles, gue anterin lo sampe rumah aja."
"tapi lo gapapa tre?"
"kalem, kaya baru kenal aja, hahaha."
akhirnya kita jadi ngobrol banyak selama sisa perjalanan menuju rumah cindy. kebanyakan ngomongin tentang sekolahan. mulai dari pelajaran, guru, temen, sampe masa-masa kelas sepuluh. kan kita ga sekelas tuh, jadi punya banyak cerita masing-masing.
tapi dari sekian banyak omongan, kita sama sekali ga ngomongin putri. gue juga ga nyinggung cindy juga ga nanyain. entah karena gaenak mau nanya atau emang cindy orangnya ga kepoan tentang masalah pribadi seseorang. dan itu cukup ngebuat gue respect sama dia.
"makasih yaaa tre..." kata cindy waktu akhirnya kita nyampe dirumahnya.
"selaw" balas gue singkat, setelah itu gue pacu motor gue balik kerumah. nyampe rumah gue cuman bisa rebahan karena badan gue yang pegel
sekolah berlanjut lagi sampe akhirnya bell pulang berbunyi. kelompok drama gue mutusin buat latihan hari ini di rumahnya rida di daerah deket pondok cabe. sebenernya rada males sih buat latihan. pertama, tempatnya jauh bet. kedua, keempat anggota kelompok gue mutusin buat naik kendaraan umum bareng-bareng, otomatis gue harus berangkat sendiri naik motor.
ini juga yang bikin gue rada males kalo ga dapet temen cowok di kelompok, masa iya gue sendirian. mana gue ga tau lagi rumahnya, cuman dikasih alamatnya doang. dan udah pasti gue yang bakal nyampe duluan karena gue naik motor. kalo ada temen cowoknya kan kita bisa nunggu dulu dimana gitu sambil nongkrong. sempet kepikiran buat nunggu dulu di rumah bobby, biar jalannya rada ngepur dulu dari anak-anak cewek, tapi takut keburu mager entar.
abis mau gimana lagi, kata anak kelompok gue yang lain kalo di tunda-tunda yang ada malah ga jadi. lagian kalo bisa latihan secepet mungkin kan bisa gonta-ganti adekan kalo emang ternyata ada adegan yang kurang cocok atau bisa ditambahin karena batas minimal pertunjukkanna harus lima belas menit. gitu kata anak kelompok gue yang lain. dan ngambil nilainya dimulai dari minggu depan, dengan urutan maju sesuai undian. makin setak setuk dah. kalo ga cukup waktunya buat semua kelompok maju bakal dilanjutin lagi di pertemuan berikutnya.
gue yakin, waktu ngambil nilai nanti, gue akan ngerasa kalau itu adalah lima belas menit terlama dalam hidup gue.
berangkat lah gue kerumahnya rida. dan seperti digaan gue sebelumnya, waktu gue udah nemuin komplek rumahnya, bisa dibilang gue kecepetan lebih dari sejam. gue bahkan bisa makan dulu dan nungguin mereka sambil main warnet yang ada di deket situ-_-
akhirnya kita baru mulai kumpul pas sekitar jam setengah lima. meskipun gue bilang kalo kelompok gue bakalan latihan di rumah rida, tapi ternyata bukan bener-bener di rumahnya dia. jadi di komplek rumahnya itu kaya ada balai terbuka gitu. mungkin buat pertemuan warga-warga disini. untungnya tempat ini bukan jadi pilihan bocah-bocah komplek buat main di sore hari. ga kebayang dah gue malunya kalo di liatin bocah-bocah pantaran anak sd.
latihan lah kita dengan adegan-adegan yang harus sangat merendahkan diri gue sebagai anak baik-baik disekolah. gue jelasin sedikit kali yee cerita yang dibuat kelompok gue buat drama nanti. jadi tuh ceritanya gue jadi anak sekolah berandalan yang suka ngebully. dan gue dituntut buat petantang petenteng waktu drama nanti. jadi anak songong lah.
terus cindy sebagai pasangan gue dalem cerita, ceritanya jadi anak kutu buku gitu yang gue bully. terus ayu jadi temennya cindy. yuli jadi guru, sementara rida jadi nyokapnya cindy. kebayang sendiri lah yaaa alurnya kaya gimana. tipikal teen lit romance lah, hahahha.
bermenit-menit latihan, bermenit-menit ngafalin dialog, ekspresi dan gerakan waktu drama nanti. bermenit-menit itu juga gue berdebat sama anak-anak kelompok kenapa gue harus melakukan adegan-adegan memalukan ini. hahhaa.
"woy da, ini seriusan gue harus jadi gini banget nih?" protes gue ke rida karena dia yang bertanggung jawab ke hampir adegan yang dibuat.
"iyalah, biar feelnya makin berasa."
"fal fil fal fil, enteng banget lo ngomong."
"yaelah tre gitu doang. udah sana cepet-cepet ulang lagi."
dan gue pun ngulang lagi adegan yang buat gue ga abis pikir, kaya, ngapain dah gue sebenernya, wkwkwk. dan perlu di catat. adegan-adegan itu ga cuman sekali dua kali. tapi berkali-kali.
"eh sumpah dong, ini gue gabisa jadi biasa aja apa gitu. leba banget ini." kata gue memelas ketika gue minta salah satu adegan dirubah.
"gabisa tre, nanti ceritanya malah ga dapet." kata yuli yang sekarang udah mulai ikut-ikutan.
"itu cindy aja ga kenapa-kenapa kok tre." timpal ayu.
"iiihhh, ga gitu juga. malu juga tau." akhirnya cindy angkat suara juga. dari tadi dia cuman diem doang. mungkin pasrah. tapi dari tadi mukanya udah merah banget nahan malu. yang lain mah ketawa-ketawa aja. meskipun mereka bertiga dapet bagian yang juga malu-maluin, tapi porsinya ga sebanyak gue dan cindy yang jadi pemeran utama. ibaratnya disini gue dan cindy jadi korban pementasan drama
"tuh, si cindy juga udah ampe protes." balas gue.
"udah cin, percaya sama gue, ga bakalan kenapa-kenapa kok." kata rida dengan cueknya.
pasrah, gue dan cindy pun cuman bisa ngulangin adegan demi adegan tersebut, yang pasti bakal malu banget pas main nanti.
akhirnya latihanpun selesai pas udah mulai malem. anak-anak ceweknya alias kelompok gue udah minta pulang. kalo gue sih woles aja sebenrnya. kita balik dulu kerumahnya rida buat pamit sama orang tuanya sekalan ngambil tas, kan ditinggal dulu tuh dirumahnya. lagian kan pas dateng udah salim masa pas pulang ga pamit.
"tre, lo balik kearah mana?." tanya cindy waktu kita semua udah mau siap-siap balik.
"bintaro cin, emang kenapa?" paham sih gue sebenernya, emang ga peka aja orangnya, hahaha.
"nebeng dong tre...." kita kan duduknya deketan, sedikit banyak jadi lumayan deket juga. jadi wajar lah kalo cindy minta tolong anterin balik.
gue sempet mikir juga tapi, mager juga kalo nganterin bener-bener sampe rumahnya. karena pasti bakal muter muter gue jadinya. rumah gue sama rumah cindy ga searah balik, ibaratnya mau gamau gue harus kesekolah lagi. tapi kayanya cindy ngeliat kemageran gue dari mimik muka yang gue buat. atau emang dia orangnya cukup tau diri, atau ga enakan juga.
"gausah nampe rumahnya banget tre, sampe fatmawati aja deh." kata cindy, meskipun itu masih cukup jauh dari rumah dia meskipun cuman lurusan. seinget gue kan rumahnya di cipete.
"ayu sama yuli rumahnya deket kok, tinggal naik ojek." kata rida. pantesan latihannya disini. jaman itu belom ada ojek online. jadi harus jalan kedepan komplek dulu nyari ojek pangkalan. tapi mendingan lah, kalau cindy kan harus naik bis umum lagi.
"yauds dah, tapi ga nyampe rumah lo yaa cin, muter-muter jadinya gue soalnya." jahat sih yaaa ga nganterin sampe rumahnya. tapi gimana dong, gue juga cape

"iyaaa, gapapa kok tre." cindy cuman senyum.
di perjalanan balik gue dan cindy cuman bisa diem-dieman. entah ini karena gue orangnya ga kepoan atau kerena grogi aja gabisa ngomong basa-basi sama cewek. kalo masalah kepo, gue orangnya ga kepoan. tapi gue juga ga mempermasalahkan apa-apa kalo ada orang nanya-nanya tentang gue (buat di cerita ini yaa, bukan rl, wkwk.)
tapi kan lo katanya udah lumayan deket tre, duduknya juga depan belakang?
itu kan gue ga sendiri, ada rico sama dinda yang jadi temen sebangkunya cindy. kalo sendiri mah tetep aja.
semakin deket kita ke fatmawati, semakin ga tega gue kalo nurunin cindy disana. nanti kalo kenapa-kenapa gimana. repot juga gue. bukan repot sih. ga enak aja gue nurunin anak gadis orang di pinggir jalan. akhirnya tanpa bilang apa-apa, gue terusin aja bawa motornya sampe ngelewatin fatmawati.
"kok ga berenti tre?" tanya cindy penasaran karena gue masih lanjut jalan.
"gue anterin lo sampe rumah aja deh, ga enak gue nurunin lo disini. takut kenapa-kenapa."
"gapapa kali tre..."
"udah woles, gue anterin lo sampe rumah aja."
"tapi lo gapapa tre?"
"kalem, kaya baru kenal aja, hahaha."
akhirnya kita jadi ngobrol banyak selama sisa perjalanan menuju rumah cindy. kebanyakan ngomongin tentang sekolahan. mulai dari pelajaran, guru, temen, sampe masa-masa kelas sepuluh. kan kita ga sekelas tuh, jadi punya banyak cerita masing-masing.
tapi dari sekian banyak omongan, kita sama sekali ga ngomongin putri. gue juga ga nyinggung cindy juga ga nanyain. entah karena gaenak mau nanya atau emang cindy orangnya ga kepoan tentang masalah pribadi seseorang. dan itu cukup ngebuat gue respect sama dia.
"makasih yaaa tre..." kata cindy waktu akhirnya kita nyampe dirumahnya.
"selaw" balas gue singkat, setelah itu gue pacu motor gue balik kerumah. nyampe rumah gue cuman bisa rebahan karena badan gue yang pegel
japraha47 dan 17 lainnya memberi reputasi
18