- Beranda
- Stories from the Heart
Tumbal
...
TS
uliyatis
Tumbal

Sebuah senyuman misterius muncul di
wajah cantiknya, membuat seluruh bulu kudukku berdiri. Meniupkan perasaan takut di hati. Malam sudah tiba ketika aku mencoba menghindar dari pandangan tajam pemilik wajah cantik itu.
Senyum penuh misteri itu masih bertengger, menghias bibir ranumnya. Entah apa yang membawa perempuan berdarah indo itu ke tempat tinggal kami.
Tubuh semampai, kulit putih, hidung mancung dengan rambut setengah ikal, membuat ia menjadi primadona di kampung kami. Dipuja dan dikejar-kejar banyak pemuda. Bukan hanya yang berasal dari sekitar tempat tinggal kami saja. Tapi, juga berasal dari tempat lain.
Bulu romaku semakin merinding, tidak tahan melawan hawa dingin yang mengalir dari raganya. Meski cahaya lampu tepat berada di atas kepala, hawa dingin itu masih tetap memancar dari tubuhnya.
"Ris, boleh aku masuk?"
Walau rasa takut itu masih ada, aku berusaha menepisnya. Tidak enak dengan Mbak Lastri, nama wanita misterius itu. Aku pun mengangguk
dan mempersilahkan dia untuk masuk.
"Sendirian?"
Seketika aku terkesiap mendengar pertanyaannya. Ada debaran aneh mengganggu irama jantungku. Cukup lama, aku memandangi wajah cantiknya, mencoba menerka apa arti senyuman di balik pertanyaannya tadi.
"Ada Mas Endro, lagi di belakang."
Senyumannya seketika menghilang saat aku mengucapkan nama Mas Endro. Aneh. Wajah Mbak Lastri pun tidak terlihat secantik tadi. Ada apa ini? Berkali-kali aku mengucap istighfar dalam hati.
Wajah Mbak Lastri juga berubah semakin pias. Tangannya gemetaran, tidak mampu menjangkau perutku yang sedang membuncit. Aku sedang mengandung anak pertama. Sepertinya ia bermaksud mengusap perutku.
"Ada apa, Mbak?"
Dia menggeleng. Ada kecemasan terpancar dari sorot matanya. Buru-buru Mbak Lastri pamit. Seperti ada sesuatu yang membuatnya ketakutan. Aku bisa melihat keringat sebesar biji jagung membasahi dahinya yang mulus.
Tanpa berbasa-basi dia meninggalkanku sendiri. Bingung akan tindak-tindaknya yang aneh. Tidak seperti biasanya, ujarku lirih.
Meski diliputi misteri, aku membiarkan saja Mbak Lastri pergi. Usai kepergian dia, udara tidak lagi sedingin tadi. Suasana pun tidak begitu mencekam lagi. Semua kembali seperti biasa.
Aku lantas menggeleng, tidak mengerti fenomena apa yang terjadi. Sementara bayangan Mbak Lastri telah menghilang.
Tepukan Mas Endro di pundak, membuatku tersadar dari lamunan. Entah sudah berlama aku berdiri sambil menatap ke arah jalan.
"Ada apa, Ris? Tidak baik malam-malam termenung. Nanti bisa kesambat lho," tegur Mas Endro. Aku mengangguk saja. Tertunduk-tidak berani mengatakan yang sebenarnya.
"Ayo, tutup pintunya. Kamu harus lebih berhati-hati mulai sekarang. Banyak hal-hal misterius yang terjadi akhir-akhir ini." Kembali Mas Endro menasehatiku.
Memang benar kata Mas Endro tadi. Beberapa hari lalu, Surti tetangga di ujung kampung, tiba-tiba ditemukan dalam keadaan meninggal. Bayi dalam kandungannya pun raib.
Entah apa penyebabnya. Tidak ada yang berani mereka-reka. Apalagi, menuding siapa pelakunya. Beberapa tetangga terdengar kasak-kusuk, menceritakan peristiwa ganjil itu.
Bukan hanya sekali itu saja. Warga kampung sebelah pun ada yang mengalami hal yang serupa. Menurut sesepuh kampung, ada orang yang sedang menuntut ilmu. Jadi membutuhkan banyak tumbal untuk menyempurnakan ilmu yang sedang dipelajarinya itu.
Bulu kudukku terus merinding, teringat perkataan mereka. Siapa yang tega menjadikan nyawa manusia sebagai tumbal atas ilmu-ilmu tersebut?
Aku menarik napas panjang. Menahannya sebentar dan mengeluarkannya perlahan dari mulut. Di kejauhan, terlihat Mbak Lastri mondar-mondar di salah satu tetanggaku yang juga sedang hamil tua.
Untuk apa ya Mbak Lastri mondar-mondir di sana? Kan Mbak Lastri tidak terlalu mengenal mereka. Jangan-jangan ada sesuatu dengan Mbak Lastri?
Kecurigaan sontak kuarahkan kepada perempuan cantik itu. Tidak biasanya dia berada di sana. Aku terus saja memperhatikan tingkah Mbak Lastri. Khawatir terjadi sesuatu pada penghuni rumah yang tengah dikunjungi secara diam-diam.
Rasa penasaranku pun membuncah. Membuat tidak ingin beranjak, meski sudah lumayan lama memperhatikan ia. Tapi, entah mengapa tiba-tiba saja diserang kantuk yang luar biasa. Aku sendiri bertanya-tanya, kenapa tiba-tiba ingin merebahkan diri.
Akhirnya aku tertidur di atas sofa. Tidak sanggup lagi mengawasi gerak-gerik Mbak Lastri. Tidak mampu lagi memperhatikan setiap tingkahnya yang mencurigakan.
Suara adzan ashar membangunkanku dari tidur. Astagfrullah ...! Ternyata lumayan lama juga tertidur tadi. Beruntung Mas Endro belum pulang dari bengkel. Kalau tidak, pasti tidak enak rasanya.
Sesaat, aku memandang ke arah rumah tetangga tadi. Mbak Lastri sudah tidak kelihatan lagi batang hidungnya. Pasti dia sudah minggat dari tempat itu.
Suara adzan telah usai, aku segera berjalan menuju kamar mandi. Mandi, mengambil air wudhu dan bersiap menunaikan sholat ashar.
Belum lama menyelesaikan rakaat terakhir, suara jeritan terdengar dari arah sana. Isak tangis bercampur kemarahan terdengar jelas. Suara makian pun terdengar dari salah satu mulut mereka.
Rumah yang memiliki jarak kurang lebih 100 meter itu kini mulai ramai dikunjungi tetangga lain. Ibu-ibu, bapak-bapak, tua , muda berlomba menuju ke situ.
Semua penasaran ingin menyaksikan apa yang sesungguhnya terjadi. Aku juga ingin pergi ke sana. Tapi , berkali-kali Mas Endro sudah wanti-wanti untuk tidak sembarangan keluar rumah. Bau tubuhmu sekarang sedang wangi-wangina di penciuman mereka, Ris. Itu kata Mas Endro kemarin.
Antara percaya dan tidak, aku menanggapi perkataan Mas Endro kemarin. Namun, kejadian barusan mau tidak mau membuatku percaya pada akhirnya. Bahwa memang ada orang yang bersekutu dengan makhluk penghuni alam kegelapan.
Suara ketukan terdengar bertubi-tubi. Mas Endro yang melakukannya. Mukanya terlihat pucat saat menatapku. Dia benar-benar sangat cemas. Aku diperhatikan dari ujung ramput sampai ujung kaki, memeriksa apakah aku baik- baik saja atau tidak.
'Aku ndak apa-apa, Mas. Jangan terlalu cemas!'
Mas Endro sepertinya benar-benar khawatir dengan teror yang menimpa perempuan hamil di kampung kami. Wajahnya terlihat memucat, memendam kegelisahan. Segera kugenggam sepasang tangan kekar Mas Endro. Sekedar mengurangi kegelisahan yang terpendam.
"Mulai sekarang kamu harus lebih berhati-hati ya,Ris. Jangan terlalu percaya dengan orang asing!"
"Iya, Mas," ujarku lemah.
"Oh ya, Mas. Tadi siang aku melihat Mbak Lastri berdiri cukup lama di rumah tetangga kita itu. Entah apa yang dilakukan Mbak Lastri? Padahal dia kan tidak terlalu mengenal mereka."
Mas Endro terbelalak mendengar perkataanku barusan. Keningnya terlihat berkerut dengan alis terangkat. Apa sebenarnya yang dilakukan perempuan itu? Terdengar olehku desisan lirih Mas Endro.
Cukup lama dia terlihat seperti orang yang berpikir keras, jemari tangannya sesekali ditekuk dan ditautkan satu demi satu.
'Dari sekarang, jangan dekati Mbak Lastri lagi,Ris. Kalau tidak ada Mas, jangan pernah mau membuka pintu buat siapa pun.'
Aku tidak ingin terlalu banyak berkomentar dan mengiyakan saja perkataan mas Endro.Mungkin memang ada baiknya kalau lebih berhati-hati.
Tidak terasa waktu berlalu, sudah menginjak 2 minggu sejak peristiwa. mengerikan itu. Berkali-kali Mbak Lastri mencoba mendekatiku. Namun, aku selalu menemukan alasan untuk menghindarinya.
Di setiap sudut rumah pun, Mas Endro menempel rajah berisi beberapa ayat suci Al-Quran seperti ayat kursi, untuk melidungi dari sesuatu yang berasal dari alam gaib.
Aku menjadi lebih tenang saat ditinggal Mas Endro bekerja di bengkel. Memang jarak antara tempat tinggal kami dengan bengkel tidak terlalu jauh. Paling hanya sekitar 500 meter saja.
Hampir setiap saat , Mas Endro meluangkan waktu memeriksa keadaanku. Untuk berjaga-jaga saja, karena usia kandunganku sudah melebihi 9 bulan. Beberapa hari lagi, saat kelahiran bayi kami akan tiba.
Pagi ini, Mas Endro juga tidak ingin berangkat kerja. Kurang enak badan, katanya. Bisa saja, karena terkadang Mas Endro harus lembur menyelesaikan pekerjaan dari beberapa pelanggan yang minta agar kendaraan mereka segera bisa dipakai.
'Mas, udara pagi ini, dingin sekali, ya?'
Mas Endro tersenyum kecil menanggapi ucapanku. Laki-laki sederhana, berpenampilan apa adanya itu memberikan segelas air putih yang telah didoakan olehnya usai sholat subuh tadi.
"Minumlah, Ris! Semoga Gusti Allah melindungimu dari godaan makhlus astral," ucapnya seraya menyodorkan segelas air putih.
Aku pun segera menyeruput air putih itu. Rasa segar segera merasuk ke seluruh tubuhku. Pikiran pun kembali jernih, tidak lagi dikejar-kejar ketakutan.
"Apa sebaiknya Mas istirahat di rumah dulu hari ini."
"Sepertinya begitu, Ris. Badan Mas pegal-pegal semua."
Aku mengangguk-bahagia karena hari ini ada Mas Endro di rumah. Bisa mengurangi sedikit ketakutan akibat teror yag melanda akhir-akhir ini.
Sebuah seruan, menghentikanku yang sedang asyik mendengar beberapa potong ayat suci Al-Quran dari ponsel milik Mas Endro. Suara yang tidak asing lagi-Mbak Lastri yang mencoba untuk terus memanggil.
"Jangan hiraukan,Ris! Terus saja fokus pada Murotal itu." Suara Mas Endro, mengalahkan suara Mbak Lastri yang terus menggoda.
Aku menguatkan diri untuk tidak membalas panggilan perempuan cantik itu. Sementara langkah Mas Endro sudah tiba di depan pintu. Dari balik tirai jendela aku mengintip percakapan antara mereka berdua.
Mbak Lastri menatap Mas Endro dengan geram. Ada kemarahan terpancar dari netranya. Lututku tiba-tiba gemetar, melihat pemandangan di luar. Aku bisa merasakan ada juga kekesalan dari raut wajah Mas Endro.
Setelah menemui Mbak Lastri, Mas Endro bergegas masuk rumah. Sementara perempuan itu memandang nyalang ke dalam rumah, seolah tahu aku sedang bersembunyi di balik jendela.
"Ris, sepertinya benar dugaan Mas, kalau ada sesuatu yang janggal dengan sikap Mbak Lastri akhir-akhir ini."
Ucapan Mas Endro membuat lututku semakin gemetaran. Perasaan takut pun kian kuat menghantui. Kutelan air ludah yang terasa seperti menelan jamu pahit.
"Tidak apa-apa. Tidak usah ketakutan seperti itu. Nanti kita cari solusi secepatnyanya." Perkataan Mas Endro barusan membuatku dapat bernapas lega. Semoga saja kami bisa melewati teror dari Mbak Lastri ini.
Hari persalinan tinggal dua hari lagi. Mbak Lastri semakin sering saja lalu-lalang di depan rumah. Beberapa kali aku mendengar teguran dari tetangga sebelah dari dalam rumah, tapi Mbak Lastri begitu lihai berkilah. Berbagai macam alasan bisa ia utarakan.
Malam hari pun, entah mengapa aku menjadi sering mengigau. Mbak Lastri benar-benar bagai mimpi buruk buatku. Entah apa yang dilakukannya hingga tega meneror warga yang sedang hamil tua. Anehnya, kenapa warga sekitar tidak ada yang curiga. Apa karena wajahnya yang cantik dengan tutur bahasa lemah lembut. Sehingga tidak ada seorang pun yang percaya, kalau Mbak Lastrilah penyebab banyak kematian wanita hamil di tempat ini.
Seperti yang aku alami malam ini. Mas Endro sudah lama tertidur, saat sebuah lemparan cukup keras menghantam pintu. Membuat Jantungku berdetak sangat kencang. Untuk sepersekian detik aku hanya bisa mematung, tidak tahu apa yang harus diperbuat.
Perlahan sekali, aku mengguncang-guncang tubuh Mas Endro agar ia segera bangun. Suamiku itu kaget dengan guncangan yang ternyata cukup keras itu.
"Ada apa sih, Ris! Ini masih jam 2 malam, lho. Mas, masih mengantuk."
"Tadi ada yang melempar pintu, Mas. Keras sekali!"
Sambil mengucek mata, Mas Endro turun dari tempat tidur. Sepertinya hendak memeriksa pintu depan. Aku beringsut membuntuti seraya memegang ujung kaos Mas Endro,
"Mas, hati-hati!" aku mengingatkan suamiku.
Dia hanya tersenyum sambil terus berjalan menuju jendela. Lampu di ruang tamu masih tetap mati. Sengaja tidak dihidupkan agar tidak terlihat dari luar.
Di depan jendela, kami berusaha mengintip siapa yang iseng malam-malam mengedor pintu rumah kami. Kakiku seketika gemetar saat melihat siapa yang tengah berdiri di depan pagar. Mbak Lastri! Tapi penampilannya benar-benar berubah. Rambut berantakan, wajahnya pun penuh bopeng, tidak cantik seperti yang kukenal.
"Mas ...," desisku lirih. Takut kedengaran perempuan itu.
"Tidak apa-apa. Tidak usah takut. Dia tidak akan berani masuk!"
Penjelasan Mas Endro sedikit mengurangi rasa takutku. Bagaimana pun, ini pengalaman yang mengerikan bagiku.
Aku tidak pernah menyangka, perempuan seperti Mbak Lastri bisa berpenampilan mengerikan seperti itu.
"Mas, apa yang terjadi dengan Mbak Lastri?" tanyaku ingin tahu.
"Sepertinya dia sedang menuntut ilmu hitam, yang membuatnya untuk tetap cantik dan muda."
Aku tertegun mendengar penuturan Mas Endro. Benarkah itu? Tidak pernah terbayang olehku.
"Apa Mbak Lastri bukan penduduk asli kampung kita, Mas?"tanyaku lagi. Benar-benar penasaran.
Mas Endro terdiam sejenak. Kemudian ia menceritakan seluruh kisah hidup Mbak Lastri. Di mana dulu dia dan keluarganya disingkirkan warga karena dianggap keluarga dukun yang berbahaya. Bisa menyantet dan menyebabkan banyak orang celaka.
Beruntung akhirnya Mbak Lastri bisa selamat dari amukan warga, meski kondisi tubuhnya dalam keadaan luka parah. Dia ditampung di salah satu warga yang merasa kasihan. Setelah beberapa waktu, Mbak Lastri ikut warga itu ke kota dan baru kembali kurang lebih 2 atau 3 tahun yang lalu.
Saat pulang kondisi fisiknya sudah berubah menjadi lebih cantik. Penampilannya pun tidak mencerminkan kalau dia adalah anak seorang dukun yang pernah diamuk massa.
Warga juga sudah melupakan peristiwa itu dan menerima kedatangan Mbak Lastri kembali. Tapi anehnya, setelah kepulangan Mbak Lastri, banyak perempuan hamil di sekitar kampung tewas dengan keadaan mengenaskan. Bayi yang dikandung pun ikut raib.
Aku tidak mampu bergerak, usai mendengar penjelasan Mas Endro. Sementara di luar Mbak Lastri seperti menggila, bolak-balik. Wajahnya menjadi semakin beringas. Tangannya mencoba pintu pagar. Tapi segera ditarik kembali.
Keputusasaan melanda dirinya kini. Kulit wajah mulus itu kini semakin menjijikkan. Penuh bekas luka. Membuat perutku tiba-tiba terasa mual.
Mas Endro memejamkan mata, seperti membaca sesuatu. Mataku tak berkedip memandang kejadian di luar. Tampak Mbak Lastri kian gencar membuka pintu pagar. Matanya semakin memerah, seperti biji saga. Kuku tajam mulai tersembul, membuat ia tampak seperti makhluk yang bersekutu dengan iblis.
Dadaku berdegup kencang. Ternyata ilmu Mbak Lastri lumayan tinggi. Dia berhasil melewati pintu pagar. Beruntung bunyi lantunan ayat suci Al-Quran dari musholla segera menghentikan langkahnya.
Tidak terasa subuh sudah menjelang. Hampir 2 jam lamanya Mbak Lastri bergumul, mencoba masuk. Sambil berteriak histeris, perempuan itu berlari menerjam rinai yang baru turun.
Perempuan yang dilanda dendam kesumat, menjadikan dirinya alat pemuas iblis. Memanfaatkan rasa sakit hatinya, sehingga rela mencari tumbal untuk sebuah keserakahan. Itu yang kudengar dari Mas Endro.
Aku semakin tercenung, menyaksikan peristiwa itu. Sementara semakin banyak warga mulai lewat menuju musholla. Sebentar lagi waktu subuh akan tiba, aku dan Mas Endro juga bersiap-siap melaksanakan sholat.
Pagi harinya banyak tetangga tidak menyadari drama yang terjadi tengah malam tadi. Semua seperti tersihir, terlelap dalam tidur. Bahkan teriakan histeris Mbak Lastri pun tidak terdengar. Mereka hanya sibuk kasak-kusuk mempertanyakan kebenaran cerita pada Mas Endro. Sementara keberadaan Mbak Lastri tidak ada yang tahu. Ia seperti lenyap di telan bumi.
Beberapa hari kemudian dari beberapa kerabat jauhnya diperoleh informasi kalau Mbak Lastri telah ditemukan tewas dalam keadaan mengerikan. Tubuhnya penuh luka cabikan, seperti terkena goresan benda-benda tajam. Akhirnya ia menjadi tumbal atas persekutuannya dengan iblis, akibat tidak bisa menyediakan tumbal berupa perempuan hamil.
Penuh rasa syukur, aku memandang langit yang mulai terang. Matahari telah lama berada di singgasananya. Panas teriknya telah menyusup ke seluruh penjuru, bersama ketenangan yang kini mengalir.
Aku tidak lagi diteror peristiwa misterius itu. Bahkan proses persalinan pun berjalan lancar. Satu hal yang membuatku bertambah yakin adalah bahwa Allah akan menjaga seluruh hamba-hamba-Nya yang tetap percaya dan berlindung pada-Nya.
Udara pagi menerpa lembut kulit tubuhku. Membuat buah cinta kami tergolek pulas. Kelahiran yang telah lama ditunggu akhirnya tiba jua. Meski pernah dilanda teror menakutkan. Aku bisa melewatinya dan berhasil lolos dari tumbal Mbak Lastri.
Curup, 12 Oktober 2019
Sumber foto: pixabay.com
https://pixabay.com/id/photos/fantas...gurun-2925212/
Diubah oleh uliyatis 05-02-2020 16:35
ardian76 dan 99 lainnya memberi reputasi
100
30.1K
421
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
uliyatis
#128
Tatapan Dingin Arista

Sumber foto : picabay.com
Bunyi sambaran petir yang begitu keras , mengakibatkan Arista tersentak. Aku memandang gadis itu dengan seksama. Memeriksa setiap inci, dari ujung kepala sampai kaki. Dia memandangku, dingin dan tajam.
Aku bergidik, tapi tidak berniat meninggalkannya. Pesan ibu Arista beberapa bulan yang lalu, membuat kakiku tidak beranjak sejengkal pun. Dia masih tetap duduk di dekat jendela yang terletak di sudut kamar, tanpa ekspresi. Hujan sudah mulai turun kini.
“Kamu tidak apa-apa, Ista?” Aku membelai kepalanya dengan penuh kasih. Perempuan yang harus menghabiskan seluruh waktunya untuk melakukan berbagai terapi. Memulihkan depresi mental yang dialaminya.
Di menggeleng. Lemah. Wajahnya terlihat agak pucat.
Aku menarik napas lega. Ingatanku kembali ke masa empat bulan yang lalu. Di mana Arista ditemukan sedang memegang sebilah belati di samping mayat seseorang yang tidak dikenal. Masih terbayang dalam lipatan memoriku, senyuman aneh dari bibirnya, saat mendengar cerita Mama Arista. Sebuah senyum kepuasan, menghiasi muka dingin Arista, sontak membuat bulu kudukku seketika tegak.
Jujur, ada sedikit perasaan takut menyelinap di dalam dada. Perubahan mental gadis berusia 17 tahun itu tidak dapat diprediksi. Ada kalanya dia bisa bersikap sangat baik. Seperti tidak memiliki beban. Namun, ada kalanya dengan wajah sadis dia menghabisi seseorang yang entah dia kenal dari mana.
Mama Arista selalu berusaha membawanya ke seorang psikiater. Dengan harapan bisa meringankan penderitaan yang sebenarnya tidak diinginkannya. Itu yang selalu diocehkan saat bisa berkomunikasi denganku
“Mbak, Ista mengantuk!”
Aku memandang iba. Gadis sebelia dia harus tersekap di ruangan serba putih, dengan penjagaan ketat. Seorang pembunuh berdarah dingin. Gelar yang ditujukan untuknya.
“Ya, sudah. Kamu tidur saja dulu,” ujarku sembari memapahnya ke tempat tidur. Mungkin obat anti depresi yang baru saja diberikan sudah bereaksi.
Gadis itu kemudian memejamkan mata, tertidur. Sementara itu ingatanku melayang saat pertama kali bertemu dirinya di bangsal rumah sakit. Dia terlihat begitu lugu. Bukan seperti seorang pembunuh layaknya.
Dia memakai baju sedikit longgar, terlihat kontras dengan tubuh kurusnya. Siapa pun pasti tidak akan menyangka dia telah membunuh kurang lebih 10 orang dengan kurun waktu kurang dari satu tahun. Dan itu baru diketahui setelah ibunya memergoki dia sedang membunuh sesesorang yang baru dikenal .
Sungguh mengerikan. Dia mengubur seluruh jasad yang berhasil dibunuh dalam lobang yang digali di bawah tempat tidur. Tidak bisa dibayangkan, kalau anak seuisia Arista sudah bisa memikirkan hal-hal yang jauh dari nalar.
Begitu tega dia membunuh si korban. Tanpa motif sama sekali. Semua terjadi begitu saja. Dan dia mengabadikan wajah setiap korban dalam sebuah kamera, yang disembunyikan di dalam liang itu.
Berbagai ekspresi bisa dilihat dari sana. Semua dipotret oleh gadis itu sendiri. Benar-benar mengerikan. Keterangan ini bisa kuperoleh berdasarkan pengangkuan Arista, ketika berada di bawah pengaruh hipnotis seoerang hipnoterapis di Rumah Sakit ini.
Arista, dulu dikenal sebagai pribadi yang menyenangkan. Sedari kanak-kanak sampai berusia 15 tahun dia melakukan segala aktivitaas dengan normal. Pergi sekolah, belajar bersama bahkan bermain dengan teman-teman dengan sebayanya pun semuanya normal. Itu yang kelihatan di mata orang tua maupun orang-orang terdekatnya.
Dia kelihatan jarang menampilkan ekspresi yang mainstream. Semuanya terukur dan terkendali. Hanya saat memasuki usia 16 tahun. Ia mulai sedikit menarik diri. Perkembangan teknologi yang pesat, membuat Arista cenderung lebih banyak berada di rumah, bermain dengan teman-teman maya di gadgetnya.
Dia mulai jarang keluar rumah. Apalagi saat itu orang tuanya harus berpisah karena perbedaan prinsip. Mungkin hal itu juga sebagai pemicu munculnya kepribadiaan lain dalam dirinya. Itu yang dikatakan salah satu dokter yang pernah merawatnya.
“Awalnya, aku berkenalan dengan seseorang di media social, baik itu di facebook, instagram atau twitter,” ujarnya waktu itu.
“Tipe seperti apa yang dicari, Ista?” tanyaku.
Dia tidak mengatakan secara spesifik tipe orang yang akan dijadikannya korban. Yang penting orang itu mau diajak kenalan dan main ke rumah. Itu saja.
“Berapa lama prosesnya, Ista?” tanyaku selanjutnya.
“Nggak lama, kok, Mbak. Paling Cuma 2 mingguan. Sudah itu, aku minta dia untuk main ke rumah, saat ibu tidak ada di rumah,” ungkapnya.
Aku hanya mampu terdiam. Menahan nafpas, menunggu cerita selanjutnya.
“Lumayan butuh waktu juga sih, membujuk mereka agar mau main ke rumah. Untuk cowok yang tipenya malu-malu, cukup susah, Mbak. Karena mereka nggak mau sembarangan tatap muka.”
Dia melanjutkan kembali cerita yang tertunda tadi. Sementara aku masih menahan napas, takut membayangkan peristiwa itu. Pekerjaan sebagai perawat di rumah sakit jiwa, terkadang harus lebih banyak meluangkan waktu untuk memperhatikan si pasien
Apa harus laki-laki semua korbannya?” Aku mulai mengulik-penaasaran.
“Acak aja, Mbak. Kebetulan semua korban yang kepilih adalah laki-laki. Pernah ada satu kali, perempuan, tapi keburu mama pulang, jadi urung.”
Aku semakin terperangah mendengar penjelasannya. Arista bukan anak yang bodoh. Di sekolah pun dia selalu berpredikat juara. Jadi, apa yang salah dengan anak ini? Dari rangkaian cerita yang bisa ia jelaskan dengan teratur, menandakan dia memang memiliki kelainan kepribadian.
Benar-benar mengerikan. Bagaimana dengan mata tetap terbuka, dia menghabisi korban, dengan sebuah belati. Kemudian memutilasi dan menguburnya di lantai bawah tempat tidurnya. Sangat sulit dibayangkan. Gadis seusia Arista mampu melakukannya.
Aku memandang wajah cantiknya tengah tertidur lelap. Gadis ini beruntung masih boleh mendapat perawatan di sini, karena usianya yang masih remaja. Siapa pun pasti tidak akan menyangka kalau dia memiliki penyakit kelainan ganda. Penyakit yang terjadi karena trauma di masa kecil. Itu ucapan dokter yang menangani kasus Arista.
Beberapa hal, ada kejadian yang dilupakan Arista, termasuk alasan untuk membunuh semua korban-korbannya. Dia hanya mengatakan kalau melakukan kejahatan itu begitu saja. Tidak perlu alasan khusus.
Papa dan mamanya tidak bisa berbuat banyak. Selain menyerahkan Arista ke kepolisian. Kejahatan ini tidak mungkin dibiarkan berlarut-larut. Korban yang akan jatuh pasti lebih banyak lagi. Sudah cukup banyak korban yang telah dibunuh Arista.
Mungkin dengan penanganan yang tepat di Rumah Sakit, bisa menekan munculnya pribadi lain yang tidak dikehendaki. Yang menguasai seluruh tubuh dan pikiran Arista. Penyebab Arista dengan tega, membunuh semua korban.
Bisa jadi itu juga disebabkan pengaruh makhluk astral yang mendompleng kekalutan pikiran Arista. Apalagi perilakunya terkadang tidak logis. Bahkan cenderung berubah-ubah-labil.
Jeritan mama Arista masih terbayang jelas di kepalaku, sesaat Arista di masukkan ke dalam ruangan khusus di Rumah Sakit Jiwa ini. Air mata perempuan berusia kurang lebih 43 tahun itu terus menetes. Meski, wajah putrinya tanpa ekspresi menatap dari dalam ruangan.
Dulu, sewaktu kecil. papa Arista memang sangat keras dan disiplin mendidik buah hati mereka. Mungkin saja, Arista kecil belum sanggup menerima perlakuan kasar dari ayahnya. Ia selalu berlari sembunyi di gudang belakang usai dimarahi dan dipukul. Bahkan bisa berjam-jam berada di sana, sampai mama Arista mencari dan menenangkan ia.
Pantas saja , menurut pengakuan mamanya, Arista selalu menangis usai melakukan pembunuhan itu. Perasaan bersalah itu selalu muncul dan membuat ia tersiksa. Tapi, entah mengapa, ketika pribadi yang satunya muncul, dia merasa apa yang dilakukan adalah benar.
Sangat membingungkan memang, buat orang-orang sepertiku. Meski, aku seorang perawat. Tetap saja tidak mengerti mengapa hal ini bisa terjadi. Hanya saja untuk menghadapi orang-orang seperti Arista memang diperlukan perlakuan khusus.
Arista masih tertidur, dan sesekali masih sering mengigau tentang peristiwa pembunuhan sadis itu. Dia berkali-kali meronta, seperti melawan sesuatu di alam bawah sadarnya. Tampak sekali ada sisi gelap dalam pribadi labilnya. Sesuatu yang mendominai alam pikiran bawah sadarnya.
Walaupun masih terus digali oleh dokter spesialis kejiwaan, hingga kini penyebab timbulnya penyakit yang diderita Arista, belum diketahui. Mereka masih mereka-reka diagnosis paling tepat.
“Jangan …! Jangan …!” igauan Arista terdengar lagi. Kali ini intensitasnya meningkat.
“Aku sudah muak! Tidak mau lagi membunuh!” Kembali terdengar igauan Arista.
Sedikit ragu-aku mendekati Arista. Matanya masih terpejam. Sementara tangan dan kaki menerjang udara. Seperti ingin mengusir sesuatu.
Seketika aku tersentak. Sekelebat bayangan hitam tiba-tiba keluar dari tubuh Arista. Bayangan itu memiliki wajah menyeramkan dengan postur tubuh raksasa.
Aku segera membuang pandangan-tidak ingin menatap netranya yang menatap marah ke arahku. Hawa dingin segera menyeruak dari tubuh hitamnya-memenuhi seluruh ruangan.
Beberapa detik aku tak mampu bersuara-terkejut menerima kedatangan makhuk tersebut. Lutut begitu lemas, sementara keringat dingin mulai mengucur. Makhluk hitam itu masih terus melototiku-seolah tidak suka kehadiranku.
Perlahan-badan kugeser mendekati Arista-takut ada sesuatu akan terjadi padanya. Syukurnya, gadis itu masih terbaring-tidur.
“Siapa kau?” Memberanikan diri bertanya-meski rasa takut masih mengintil.
“Aku adalah penguasa gadis ini!” Ada kemarahan terungkap dari ucapannya.
“Sebaiknya enyah saja dari tubuhnya. Jangan mengganggu. Alam kita berbeda!” hardikku memberanikan diri.
Terdengar tawa mengerikan memenuhi rangan. Tampak beberapa gigi runcing terlihat di deretan gigi makhluk itu. Makhlk itu bukannya takut malahan tertawa mengejek.
Aku pun memegang tubuh Arista-mencoba membangunkan dia. Berkali-kali aku mengguncang tubuhnya dengan keras keras agar segera bangun dan melawan kehadiran makhluk mengerikan iitu.
“Sudahlah!Menyerah saja. Gadis ini sudah ditakdirkan menjadi pelayanku-membunuh orang-orang dengan kejam”.
Refleks aku bergerak membisikkan ayat kursi ke telinga Arista, berharap agar gadis itunsegera terbangun. Namun, ternyata tindakanku semakin membuat bayangan itu murka. Mengakibatkan tubuhku terdorong, menjauh dari Arista.
Hawa dingin tiba-tiba saja menyelimuti ruangan. Seringai puas terlihat di wajah makhluk itu. Aku pun terus berusaha membaca doa yang melekat dalam otak-menepis pengaruh negatif bayangan hitam itu.
Wajah beringas penuh kemarahan membuat makhluk itu kian menyeramkan. Rasa takut kutepis agar makhluk itu tidak mampu mengusikku lebih jauh.
Samar, aku melihat Arista mulai bangun. Alhamdulilah, syukurku dalam hati. Sementara makhluk gaib itu semakin nyalang menatapku, sebelum akhirnya memudar-lenyap dari pandangan.
Arista sudah benar-benar bangun. Ia terlihat bingung. Rambut ikal sebahu yang biasa diikat itu terlihat kusut. Matanya pun masih merah, efek dari bangun tidur.
“Gimana tidurmu, Ista? Nyenyak?”
Dia menggeleng saat menjawab pertanyaanku.
“Ista capek, Mbak. Nggak bisa tidur pulas,” ujarnya kemudian.
“Ista, udah bisa salat?”
Beberapa saat, Arista mematung. Tidak mampu menjawab pertanyaanku. Ada rasa bimbang terpancar dari manik matanya.
“Bisa, Mbak. Ista, udah lama nggak salat!” ungkap gadis itu jujur.
Aku lalu mengajak Arista belajar salat lagi untuk menetralisir pengaruh negatif makhluk tadi. Meski awalnya ragu, akhirnya Arista mau juga salat.
Aku benar-benar terenyuh-haru melihat Arista mulai salat. Semoga saja ini awal yang baik buat ia-agar bisa terlepas dari pengaruh makhluk astral itu. Sehingga bisa sembuh dan menapak perjalanan hidup.
Memang ada perubahan yang terlihat semenjak Arista mulai salat dan belajar mengaji. Dia terlihat lebih tenang dan tidak mudah mengamuk lagi. Bahkan ia mengutarakan ingin melanjutkan pendidikannya lagi.
Namun, proses hukum masih terus berjalan. Itu yang membuat Arista sering menangis sendiri. Merasa gagal-tidak punya harapan. Menjadi pembunuh berdarah dingin bukanlah impian dan kehendaknya.
Namun, buat gadis seusia Arista yang masih labil menapak kehidupan. Sangat diperlukan pendampingan orang terdekat agar mentalnya bisa stabil,sehingga tidak melakukan kesalahan yang sama. Bisa terbebas dari beban rasa bersalah. Lebih bisa menerima kenyataan.
Aku hanya bisa menangis, ketika Arista dipindahkan dari rumah sakit jiwa ketika kondisi mentalnya mulai membaik. Dia harus merasakan dinginnya sel penjara. Sedingin dia saat mengekskusi korban-korbannya terdahulu. Menjadi algojo-menghabisi banyak nyawa tanpa rasa takut.
Semenjak saat itu, aku tidak pernah lagi mendengar khabar Arista. Terakhir kali, aku mendengar dari seorang teman yang bekerja di tempat Arista di penjara anak-menjalani hukuman. Ia tak lagi sering menjerit atau meronta ketika sedang tidur. Tatapannya pun mulai hangat, tak lagi sedingin es.
Aku yakin, gadis itu pasti akan bisa menjalani kehidupannya sekarang. Bisa terlepas dari pengaruh makhluk astral yang mendompleng kepribadiannya yang lemah dan lebih tabah menjalani kehidupan di balik jeruji besi.
Diubah oleh uliyatis 09-12-2019 19:03
theorganic.f702 dan 11 lainnya memberi reputasi
12
Tutup