Kaskus

Story

tiawittamiAvatar border
TS
tiawittami
BADAI SEBELUM PELANGI
BADAI SEBELUM PELANGI

1.Murid Baru


Namaku Zerina. Zerina Mia Hartalisya. Kepribadianku berubah sejak penghianatan itu terjadi. Ketika orang-orang yang selalu bersamaku, menjalani hari-hari bersamaku bahkan suka duka selalu bersamaku menghancurkan semuanya.

Ketika pacarmu yang sudah sangat manis denganmu dan sahabatmu yang selalu mendukungmu ternyata hanya berpura-pura baik padamu. Sakit bukan? Kemudian mereka bersama dan meninggalkanmu. Bagaimana rasanya? Sakit saja, kah? Atau ada perasaan lain?

Tidak hanya itu yang terjadi padaku, mereka bahkan merusak nama baikku, membuatku semakin tidak bisa bergerak, tidak ada yang percaya padaku. Mereka yang lain jadi takut padaku.

Namaku bukan lagi Zerina. Aku orang gila, yang gilanya bisa kambuh kapan saja. Orang-orang yang mendekatiku hanya ingin mengambil kesempatan tanpa kutahu apa tujuannya. Yang pasti mereka hanya menguntungkan diri mereka sendiri.

Astaga, kejam sekali hidup ini. Aku harus apa? Mati, kah? Atau terus menjalaninya? Kira-kira apa yang akan kudapat jika aku terus menjalani hidup. Ketulusan, kah? Aah tidak, ketulusan itu semu. Walau aku sangat ingin bertemu dengannya.

***

Kukira setelah aku lulus dan masuk ke sekolah baru semua itu akan lenyap, tapi ternyata tidak. Orang-orang bodoh itu terus mengingatnya bahkan mereka menyebarkan semuanya di sini. Tak mengapa, aku telah terbiasa dengan semua ini, bahkan jika aku harus seperti ini sampai akhir hidupku. Semua pikiran mereka dan semua yang mereka katakan, biarlah, aku terlalu lelah untuk peduli.

Aku suka duniaku, tak ada yang harus kusembunyikan sekarang. Aku tak perlu berpura-pura untuk mendapatkan yang aku inginkan, karena aku tak lagi menginginkannya.

Teman...

Makhluk apa itu? Aku tidak ingin mereka lagi. Mereka semua hidup dalam kepalsuan. Canda tawa itu akan terasa pahit jika kau tau akhirnya. Tak ada ketulusan di sini, semuanya berjalan karena kemauan masing-masing dari orang-orang itu. Aku tak pernah melihat ketulusan, mungkin dia semu, seperti apa dia? Aku jadi ingin bertemu dengannya.

***

Seperti biasa, aku menghabiskan waktu istirahat dengan duduk di atas rumput yang berseberangan dengan lapangan. Tempat ini nyaman, aku bisa bersandar sekaligus merasakan keteduhan pohon rindang ini. Berkali-kali aku melihat orang lewat yang memandangku aneh karena memilih duduk di sini, sedangkan banyak bangku taman yang disediakan sekolah untuk murid-muridnya, abaikan saja.

Kupasang earphone dan memutar lagu yang belakangan ini sering kudengarkan. Walau aku tak tau arti dari lagunya, tapi aku suka. Alunan nadanya membuat ketenanganku di atas level biasanya. Aku tetap berada di sini, sampai istirahat selesai.

Koridor kelas masih lumayan ramai oleh siswa-siswi yang ngobrol dan tertawa, padahal bel masuk sudah berbunyi. Seharusnya tadi aku menunggu beberapa menit setelah bel bunyi, baru berjalan masuk ke kelas, untuk menghindari perhatian mereka yang dari tadi melihatku sambil berbisik dengan teman masing-masing.

Abaikan ini Zerina, mereka hanya orang-orang bodoh yang tidak pandai memilih cerita.

Aku berhenti melangkah ketika sampai di depan pintu kelas, seorang perempuan yang sangat aku kenal itu menghalangi pintu masuk. Kutatap matanya dengan harapan agar dia tidak menghalangi jalanku, dia menatapku balik.

"Apa liat-liat!" katanya dengan suara yang bisa didengar siapa saja yang ada di situ.

"Minggir. Aku mau lewat." pintaku.

"Oo, mau lewat. Silahkan." Salsa menggeser tubuhnya memberiku jalan, dia tak lepas dari menatapku, membuatku tersandung kakinya karena aku pun tak lepas dari manatapnya balik.

Dia membuatku tersungkur di atas lantai dan sekarang aku jadi bahan tertawaan anak-anak di kelasku dan beberapa anak yang melihat dari pintu kelas. Aku marah, apalagi ketika dia menginjak earphone dan hpku yang juga ikut tersungkur bersamaku.

"Ah, sorry, gue gak liat. Sini gue bantu." Salsa mengulurkan tangannya padaku saat anak-anak itu memusatkan perhatiannya pada kami.

Dasar! Pandai sekali dia berpura-pura, aku tak bisa menahan diriku untuk memukul perempuan itu. Kuambil hp yang barusan dia injak dan kupakai untuk memukul kepalanya. Aku tak peduli jika hp ini rusak, yang penting kepala orang ini harus diberi pelajaran.

Salsa berteriak sambil menghalangi gerakanku lagi sampai akhirnya teman-teman bodohnya itu menghentikanku dan mendorongku menjauh dari Salsa.

"Lo gila, ya! Mukulin kepala orang!" teriak Icha sambil menatapku tajam.

"Lo gak papa, Sa?" Salsa menggelengkan kepalanya atas pertanyaan Dwi, "Gak waras!" teriaknya lagi padaku.

Mereka pergi setelah berhasil membuatku terlihat seperti penjahat sekarang. Anak-anak di kelasku pun tak ada yang berani bicara padaku. Mereka semua menghindar dan memberiku jalan menuju kursiku.

Aku kembali teringat bagaimana dulu aku memukul kepala Ana dengan penggaris besi hingga membuatnya berdarah. Aku tak tahu bagaimana jadinya jika anak-anak kelas ini menyaksikan itu, mungkin mereka akan menemui wali kelas dan bilang jika mereka ingin pindah kelas, tak ingin sekelas denganku. Tapi percayalah, kejadian itu bukan sepenuhnya salahku.

Aku duduk dan merapihkan buku pelajaran yang tadi belum sempat kubereskan karena aku biasa keluar duluan saat bel istirahat bunyi. Ya, itu ada alasannya, aku menghindari keramaian.

"Ternyata bener, ya. Gilanya bisa kambuh kapan aja."

"Sssstt."

Aku mendengar bisikan itu. Mereka melepaskan pandangannya dariku saat aku menatap ke arah mereka tajam. Aku jadi kesal, harusnya mereka bertanya dulu apa yang terjadi, bukan bicara dibelakangku.

Mulut-mulut itu memang sudah termakan gosip receh, mereka hanya mendengar cerita dari satu pihak dan langsung membenciku, mereka langsung menganggapku benaran gila hingga tak ada yang percaya padaku. Aku mengembuskan napas.

Tenang Zerina, kau tidak perlu kesal dan mencaci mereka. Mereka akan lebih menganggapmu gila jika kau lakukan itu.

***

Setelah melewati waktu yang sulit di sekolah hari ini, aku berniat mengunjungi tempat yang sudah lama tak kukunjungi.

Langkahku terhenti, kupandangi pohon seri yang sudah termakan usia itu. Tumbuh di halaman belakang rumah tua yang tidak dihuni, walaupun begitu pohon ini tetap tumbuh dan berbuah. Aku ingat, waktu kecil aku sering kemari, bermain bersama Ana, memanjat pohon ini untuk mengambil buah kecil bewarna merah yang rasanya sangat aku suka. Manis.

Ugh!

Aku mengusir memori itu, rasanya sakit jika menyadari yang terjadi sekarang. Kulepas tas punggung yang kukenakan dan menjatuhkannya ke atas rumput liar di situ. Dengan agak susah aku memanjat pohon, hingga akhirnya aku bisa duduk santai di dahannya sambil menikmati buahnya.

"Hm, seperti ini rasanya kehidupan remaja. Aku jadi ingin menjadi bocah lagi, tak peduli sedekil apa aku dulu. Aku mau bahagia tanpa merasakan sakitnya penghianatan."

Kumakan buah terakhir yang kudapat, lalu berniat mencari lagi. Sepertinya sudah habis, tidak, aku masih melihat satu di ujung dahan. Aku sudah hampir mendapatkannya, tapi seseorang menggagalkanku.

"Hei!" Suara itu mengejutkanku, hingga membuat kakiku kaget dan melesat dari dahan pohon.

"Aaaakh!"

Aku jatuh hingga membuat dengkul dan lenganku tergores patahan ranting-ranting kecil yang bertumpuk di situ.

"Kamu gak papa?" tanya orang yang membuatku terkejut.

Kutepis tangannya yang ingin menyentuhku. Tanpa menjawab pertanyaannya, aku langsung mengambil tas dan buru-buru pergi dari situ.

Jarak rumahku tidak jauh dari tempat itu dan aku sudah berada di rumah sekarang, membersihkan luka dengan alkohol. Untung saja dahan yang kupanjat tadi tidak tinggi dan aku tidak cidera parah. Kalau bukan karena pria tadi, aku mungkin tidak akan jatuh. Kenapa dia bisa ada di sana tiba-tiba.

"Huuh, dasar, harusnya orang itu menangkapku, tega sekali dia." Aku membuang kapas bekas lukaku ke dalam bak sampah.

"Kenapa kamu berharap? Memangnya kamu siapa? Kamu hanyalah orang gila yang gilanya bisa kambuh kapan saja." Aku menyalahi diriku sendiri di depan cermin wastafel.

Aku mengembus napas panjang setelah menyadari perbuatanku. Aku tidak boleh menghina diriku karena orang-orang menghinaku. Aku harus meyakini diriku, bukan meyakini ucapan mereka. Perasaanku mulai lagi, sesuatu yang membuatku tidak percaya diri adalah jika diriku mulai menghinaku. Aku selalu berusaha agar tidak seperti itu.

"Please.. I am not crazy.."

"I am not crazy.."

"I am not crazy.."

Suaraku hampir berbisik dan menjadi berbisik pada kalimat terakhir. Aku bangkit dan berdiri dari ringkukkanku, mengambil pil yang hampir menjadi makananku setiap hari. Aku sudah berusaha menghindarinya, tapi dia selalu saja memanggilku untuk memakannya.

Satu pil berhasil masuk ke mulutku. Pahit. Kuluruskan kakiku di atas kasur dan memejamkan mata, berusaha untuk melupakan hari ini, hingga aku terlelap.

***

Hari ini seperti biasa, jam istirahat di sekolah aku duduk di atas rumput di bawah pohon rindang yang biasa aku tempati.

Hari ini aku membawa headphone dan hp dengan layar retak-retak karena insiden kemarin. Tak masalah, setidaknya hp ini masih mengizinkanku mendengarkan lagu-lagunya.

Kudengar hari ini berita yang sedang hangat dibicarakan oleh cewek-cewek penggosip itu adalah masuknya murid baru. Pastinya karena murid baru itu cowok dan bisa dibilang ganteng menurut mereka. Kalau tidak seperti itu gak mungkin jadi berita hangat.

Mungkin aku satu-satunya wanita yang tidak peduli. Lagian untuk apa? Jika murid baru itu tau tentang diriku, dia juga pasti tidak akan mau berteman denganku.

Aku mengangkat buku bacaanku hingga menutupi wajah, sesuatu di kejauhan sana seolah mengganggu perasaanku. Anak-anak cowok itu pasti sedang membicarakanku. Lalu, aku merasakan kehadiran seseorang di depanku, sedang berdiri menghadapku. Aku menurunkan sedikit buku bacaan dan melihat ke arahnya. Dia melihatku, dengan cepat aku kembali mengangkat buku itu menutupi wajah.

"Hei." Dengan tangan kanannya dia menurunkan buku bacaan yang menutupi wajahku.

Sepertinya aku pernah melihatnya, dia orang yang membuatku jatuh dari pohon kemarin.

"Kamu cewek yang kemarin, kan?"

Aku tak menjawab dan yang terpenting yang harus kalian tau ternyata dia murid barunya.

"Arken." Dia menjulurkan tangan kanannya dan tersenyum padaku untuk berkenalan.

Aku telah berusaha untuk menerimanya, tapi kurasa itu percuma dan akan sia-sia. Dia akan membenciku dan menjauhiku, atau mungkin sekarang dia hanya mempermainkanku dan menjadikanku bahan lelucon karena kuyakin dia ada bersama rombongan cowok itu tadi.

Teett... Teett... Teett...

Akhirnya bel masuk berbunyi, aku berdiri dari duduk dan berjalan meninggalkannya di situ tanpa bicara apapun. Kudengar rombongan cowok di sana tertawa melihat Arken, cowok yang barusan memperkenalkan namanya padaku. Bukannya sudah kubilang, mereka hanya menjadikanku bahan lelucon. Apa itu yang disebut teman? Bukankah aku beruntung karena tidak memiliki teman seperti mereka? Yah, kurasa aku beruntung.

Bersambung


Index
2. Arken
3. Berteman
4. Psikis
5. Hariku
6. Masalahku
7. Wanita Bahagia
8. Wanita Bahagia 2
9. Pentas Seni
10. Pentas Seni 2
11. Memori
12. Reuni
13. Fungsi Hati
14. Hari Terakhir
15. Ana
16. Perasaan Rindu
17. Kematian Ana
18. Teror
Diubah oleh tiawittami 14-01-2020 19:21
someshitnessAvatar border
NadarNadzAvatar border
nona212Avatar border
nona212 dan 16 lainnya memberi reputasi
17
7.7K
90
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.7KThread52.7KAnggota
Tampilkan semua post
tiawittamiAvatar border
TS
tiawittami
#73
13. Fungsi Hati
Nanda sudah turun dan pulang ke rumahnya, hanya tersisa aku dan Arken sekarang. Dari tadi aku menyandarkan kepalaku di kaca mobil dan mengarahkan pandangan keluar. Pohon-pohon yang berjajar di pinggir jalan itu terlihat seperti sedang berlari mendekat, tapi tak pernah sampai.

"Lin...?"

Entah siapa yang Arken panggil dengan sebutan 'Lin', tapi hanya ada aku di sini. Harusnya aku senang karena dia memanggilku, tapi tak tahu kenapa aku masih sedih.

"Jangan melamun, nanti kesambet, loh," katanya.

Memangnya makhluk halus mana yang sudi merasukiku. Melihatku saja mungkin makhluk-makhluk itu sudah ilfil dan tak mau deket-deket.

Aku bukannya marah. Justru aku merasa bersalah karena merusak acara reuninya. Harusnya dia bisa lebih lama ngobrol dan ketemu teman-temannya, juga menikmati makan-makannya, dan canda tawanya, terus temu kangennya. Yah, ini salahku, harusnya aku tak ikut.

Hingga akhirnya kami sampai di depan rumahku. "Kamu gak mau ketemu bunda dulu?"

Aku menggeleng, padahal aku ingin. Tapi, kupikir lagi, kalau bertemu bunda pun aku mau bilang apa. Lagian ini juga salahku.

"Bener?"

Kutatap balas matanya yang menatapku, seolah aku menjawabnya dengan tatapan yakin, dan aku pun keluar dari situ. Arken ikut keluar dan menjegatku. "Eh, orang belum dijawab, geh, malah langsung pergi aja." Dia menahan kedua bahuku dari depan. Aku berhenti dan menahan sesuatu yang dari tadi tertahan.

"Zerina...?"

Lalu yang tertahan itu akhirnya tak lagi bisa kutahan. Aku mengusap air mataku yang mengalir membasahi pipi. Tak lagi aku memikirkan malu karena nangis seperti ini, seperti anak kecil yang ditinggal ibunya di pusat perbelanjaan. Dia mengangkat wajahku, membuatku justru tambah nangis karena melihat wajahnya, jiwa yang cengeng itu kembali.

Suaraku yang terdengar seperti anak-anak itu membuatnya panik. Dari tadi juga aku memegangi mataku agar tak kelihatan olehnya. Aku tak bisa menahannya. Gimana?

"Eh, Zerlin, jangan nangis, dong." Dia menarik tanganku yang menutupi mata. "Gak malu, diliat anak tetangga nanti, masa udah gede nangis."

Bukannya berhenti, dia malah buat aku makin sedih. Aku paling tak bisa kalau nangis terus diajak ngobrol, apalagi digituin. Bukannya berhenti malah makin nangis dan makin sedih. Lebih baik aku tak bicara sama sekali dengan siapa pun dari pada begini jadinya.

"Eeh, sstt, stt, Zerlin, Zerinaa aku bingung, nih." Arken panik karena aku tak bisa menahan suara tangisku.

Aku menenggelamkan wajah di bahunya, malu jika dia tetap melihat muka cengeng ini. Dia mengelus-elus rambutku dan menuntun untuk duduk di depan gerbang rumahku.

Aku mengusap wajahku yang penuh dengan air mata. Baju dia pun jadi basah gara-gara aku. Dia mengusap wajahku juga. "Udah, dong. Nanti aku nangis juga, nih...."

"Jangaaaaan, hiks... hngee!" aku mengusap mataku lagi dengan punggung tangan karena mendengar ucapannya.

"Eh, iya, iya, iya, aku gak nangis, gak nangis, nggak, Zerlin. Aku gak nangis," katanya panik sambil memegang wajahku. "Udah, diem, ya. Jangan nangis lagi, kutinggal nanti."

Aku sudah ingin menangis lagi, kali ini dengan suara Cumiakkan.

"Eh, Iya, iya, nggak, becanda. Aku bercanda, Zerliiin...." Dia membenamkan wajahku ke dadanya ketika melihat wajahku yang ingin menangis lagi dan membuat suara tangis itu.

Dia tertawa untuk detik berikutnya. Bisa-bisanya dia menertawakanku saat ini. Dia kira aku bercanda dengan tangis itu. Aku serius.

Dia mengangkat wajahku. "Ya udah, sekarang kamu mau apa?"

Aku menggeleng, tak ingin apa-apa. Aku kan, cuma mau minta maaf sebenarnya, tapi kalau aku bicara lagi, bisa-bisa kata-katanya keluar bersamaan dengan suara tangis itu lagi. Lebih baik kalian diam jika aku menangis. Titik.

Arken mengelus rambutku. "Ya udah masuk, udah malem, yuk." Dia berdiri dan mengulurkan tangannya padaku, mengajakku untuk berdiri juga. Dibukanya gerbang rumahku dan aku dituntun sampai pintu. "Langsung tidur, ya," katanya.

Aku mengangguk.

"Nggak, lah. Cuci tangan, cuci kaki, terus ganti baju, baru tidur," kata Arken lagi, mengganti ucapannya yang tadi. Aku tergelitik untuk tersenyum. Dia mengusap rambutku, tersenyum, dan beranjak pulang. "Ya udah, ya."

Aku masuk setelah Arken menghilang dari depan gerbang.

Begitulah aku yang sebenarnya, cengeng. Dulu aku seperti itu, tapi setelah semuanya pergi, aku selalu melewati hari-hari buruk. Di mana aku hanya bisa diam, mengingat, dan menangis, tanpa siapa pun. Hanya ada aku dan diriku.

Hingga akhirnya aku mengajari diriku untuk melupakannya, walau kutahu itu tak akan bisa. Butuh waktu lama untukku agar bisa melawan ambisiku, agar aku tak terus-menerus terjebak, agar aku sadar di mana posisiku. Makanya aku melawan orang-orang jahat itu, dengan segala cara yang aku bisa. Takkan kubiarkan siapa saja menyakitiku.

Sekarang aku telah lahir kembali, bersama jiwa-jiwa suci bak malaikat yang mengantarku ke permukaan, menemaniku hingga tak ada lagi aku yang sendiri, juga mewarnai hidupku yang sebelumnya hanya abu-abu. Aku berharap sekarang agar semua yang menjadi milikku, akan tetap untukku. Selamanya.

***

Hari-hari berlalu, berganti menjadi bulan, kemudian berganti menjadi tahun, meninggalkan jauh segala hal yang pernah kulewati. Namun, tak sedikit pun terlupa dalam ingatanku. Aku naik kelas dua SMA sekarang, Arken juga, itu pasti, rasanya seperti cepat sekali, ya. Padahal kalau kuingat, semuanya seperti berjalan sangat singkat, perasaan baru kemarin.

"Zerina."

Aku terkejut dengan suara panggilan itu. Kuhentikan langkah dan memastikan, benarkah itu suara Salsa. Sudi sekali dia memanggilku saat ini.

"Iya?" jawabku.

Masih dengan angkuhnya dia menyodorkan sebuah amplop berwarna pink dengan plastik bening menyelimutinya. Aku tahu itu undangan untuk acara sweet seventeen-nya. Hari ini anak-anak sekolah pada sibuk minta dia agar mengundang mereka.

"Yakin mau ngundang aku?" tanyaku memastikan.

Dia melingkarkan bola matanya dan mengembus napas pendek. "Tadinya gue emang gak akan ngundang elo, tapi karena Arken gak mau dateng kalo gak ada elo. Jadi, gue undang," katanya dengan bola mata yang kurasa mau keluar dari tempatnya.

Aku tersenyum geli mendengarnya. Aku sudah tau tentang itu, Arken sudah memberi tahuku. Salsa benar-benar, ya, ingin sekali Arken datang. Padahal banyak juga anak laki-laki di sekolah yang tergila-gila padanya, tapi dia, ya, seperti itulah.

Aku menggodanya, "Hm, kalau aku gak mau dateng, gimana?"

Sudah kutebak, tatapan itu pasti yang tergambar, dia kesal. "Please, deh! Gak usah sok jual mahal. Gue udah nyia-nyiain satu undangan berharga yang harusnya bukan buat lo, tau!" katanya.

"Hm, liat nanti aja, deh." Aku belum bosan melihat kekesalannya. Agak lucu, sih, kalau didengar. Iya, kan? Membuatku semakin ingin buat dia kesal.

Salsa menarik tanganku dan meletekkan undangannya di tanganku. "Awas lo kalo gak dateng!" katanya dengan tatapan menyeramkan, mungkin. Dia cabut dengan kedua temannya. Aku tertawa puas sambil melanjutkan jalanku.

"Hei,"

Aku duduk di depan Airi. "Kok, lama?" tanyanya.

"Iya, tadi ketemu Salsa di jalan."

"Kenapa lagi dia?"

"Kali ini gak kenapa-kenapa, kok. Dia malah ngasih aku undangan." Aku menunjukkan undangannya. "Kamu diundang?"

Airi tersenyum dan menggeleng.

"Dia juga ngundang aku cuma karena Arken, kok. Katanya Arken gak mau dateng kalo gak ada aku," jelasku tak kuasa melihat Airi.

"Jadi, kamu dateng?" tanyanya.

Aku berpikir sejenak. "Mungkin."

Dia melanjutkan makannya dan aku memesan semangkuk bakso. Arken ke mana, ya, tumben dia tak kemari. Belakangan ini kami sering makan bertiga, aku, Arken, dan Airi, terkadang juga ramean dengan AFGAN.

Aku jadi akrab dengan Airi. Dia orangnya ramah, aku suka. Dia juga pengertian, terkadang dia menawarkanku bantuan, seperti: menaruhkan bukuku di lokerku, menjadi titipan jajan jika aku tidak ingin ke kantin, meminjamkan hpnya ketika aku ingin menghubungi seseorang. Hm, kurasa aku harus beli HP baru, sudah lama sekali aku tidak memegang HP.

Drrrtt ddrrtt ddrrtt

Airi menjawab panggilangnya, "Halo,"

"..."

"iya, kenapa?"

"..."

"Oh, bisa." Airi memberikan hpnya padaku. "Arken," katanya.

Aku menerima HP-nya dan melekatkannya di telingaku. "Halo."

"Lin, udah makan?"

"Iya, ini lagi makan, kamu di mana?"

"Aku ikut ke SMAN 9. Kamu makan sama Airi baik-baik, ya, hari ini."

"Baik, lah, masa buruk-buruk."

Dia tertawa, "Yaudah, ya, sampai nanti."

"Btw, kamu ngapain di san--"

Tut...

"Dasar Arken, belum selesai udah dimatiin." Aku memberikan HP Airi kembali.

"Arken di mana?"

"Di SMAN 9, katanya."

"Oh, dia ikut acara pembukaan untuk pertukaran budaya pelajar, ya?" tanya Airi.

Dia bertanya padaku, sedangkan aku saja tidak tahu. "Pertukaran budaya? Maksudnya?"

"Tadi, guru BK manggilin anak-anak yang diajukkan buat ikut beasiswa pertukaran budaya ke luar negeri," jelasnya.

"Serius?" Aku sedikit shok mendengarnya.

"Iya."

"Jadi Arken bakal ikut?" tanyaku agak panik.

"Hm, mungkin. Tapi, itu ada tesnya buat lolos seleksi."

"Kok, aku gak tau, ya," kataku.

"Kan, udah aku kasih tau."

Aku melanjutkan makananku dan membuang segala pikiran negatif yang merasuk dalam otakku. Btw, sejak kapan aku punya otak?

***

Waktu pulang sekolah tiba. Aku tidak melihat Arken di kelasnya, kurasa dia belum kembali. "Airi." Kupanggil dia yang baru saja keluar dari kelas.

"Iya?"

"Arken belum balik, ya?"

"Belum, mungkin sebentar lagi, kamu tunggu aja."

"Iya. Kamu udah mau pulang?"

"Iya, aku duluan, ya."

Aku mengangguk dan membiarkannya pulang duluan siang ini. Aku menunggu Arken di bangku taman yang teduh karena tertutup bayangan pohon. Cukup lama dan aku tidak bisa menghubunginya. Hingga hampir satu jam aku duduk di sini.

Setelah kupikir lagi, sebaiknya aku pulang sendiri saja, mungkin dia agak lama. Tapi, bagaimana jika dia ke sini dan aku malah sudah pulang? Lebih baik aku menunggunya sebentar lagi.

Untuk waktu yang lama dia tak juga datang. Aku memutuskan untuk pulang sendiri. Aku berjalan keluar sekolah menuju halte bus dan menunggu di sana. Bus juga lama sekali tak datang-datang.

"Hei, orang jahat."

Aku sangat mengenal suara itu, kuarahkan pandanganku ke sumber suara. "Nanda, kamu ngapain di sini?"

"Arken mana?" tanyanya.

"Hm, dia di SMAN 9."

"Oh, harusnya aku ke sana saja tadi." Dia ingin pergi lagi dengan motornya.

"Kamu mau ke mana?"

"Bukan urusanmu." Dia pergi lagi.

Huh, dia kemari nyariin Arken, mau ngapain? Bikin penasaran saja. Ah, tidak-tidak, kata bunda tidak boleh berpikir negatif.

Siang berganti sore, sore berganti malam, aku belum juga melihat Arken. Aku tidak ke rumahnya hari ini, kukira dia akan ke rumahku, tapi tak juga kemari. Sepertinya aku benar-benar harus membeli HP agar bisa menghubunginya kapan saja. Kenapa aku baru terpikir sekarang, ya.

Aku duduk di sofa dan menghidupkan TV, menonton film apa saja yang bisa kutonton.

Oh, iya, Chimy mana, ya.

"Chimy."

Aku mengelilingi rumah mencari Chimy. Ke mana dia, perasaan tadi baru saja kuberi dia makan, sekarang sudah menghilang dan meninggalkan kotak makannya yang tak habis. Chimy, kamu harus diberi nasihat. Seenaknya saja makan tidak dihabiskan.

"Chimy. Pus pus."

Meong

Aku melihatnya yang sedang tidur di bawah tangga, di sini dia rupanya. Aku mendekat dan mengelus kepalanya. "Hei, kamarmu di mana?" tanyaku. Dia menggeliat karena elusan tanganku di bulu halusnya.

"Kasihan, ngantuk, ya." Aku menggendongnya dan membawanya ke sofa untuk menemaniku nonton TV. "Besok makannya harus diabisin, loh. Awas kalo gak, aku tinggalin." Aku tertawa dengan ucapanku sendiri. Aku mengikuti gaya Arken bicara. Arken senang sekali menggodaku dengan menakut-nakuti, padahal dia sendiri takut kecoa. Giliran kuberi dia kecoa, dia langsung berkata, "Bercanda, hehe." Memang dasar anak satu itu.

Aku mengelus-elus tubuh Chimy, pandanganku ke depan, tapi tak fokus pada TV. Tiba-tiba saja aku teringat mama. Dia apa kabar, ya? Sudah lama sekali dia tidak pulang. Apa mereka sudah pisah? Papa tidak pernah cerita padaku. Aku sedikit merindukannya. Aku tak tahu apa yang terjadi pada mereka berdua, mereka benar-benar tak pernah merindukanku.

Bersambung..

Link membaca lengkap cerita Badai Sebelum Pelangi https://my.w.tt/z894ixGE61
mmuji1575
medina12
jiyanq
jiyanq dan 2 lainnya memberi reputasi
3
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.