- Beranda
- Stories from the Heart
Kacamata Si Anak Indigo (E. Praktek Lapangan)
...
TS
kingmaestro1
Kacamata Si Anak Indigo (E. Praktek Lapangan)
Mungkin kita tak menyadari bahwa di sekeliling kita ada makhluk yang hidup berdampingan dengan kita. Dan kadang mungkin juga kita tak menyadari bahwa kita dan mereka hanya terpisah oleh batas yang tipis, setipis benang.
Bisakah kita berinteraksi dengan mereka? Bisakkah kita berteman dengan mereka?. Di thread ini ane akan menceritakan bagaimana seorang anak manusia berinterkasi dengan mereka.
Cerita ini berdasarkan pengalaman ane pribadi, di dalam penulisan thread ini tidak ada unsur paksaan untuk percaya atau tidak, thread ini ane tulis hanya untuk berbagi pengalaman semata.
INDEX
Prolog
Part 1
Part 2
Part 3
Part 4
Part 5
Part 6
Part 7
Part 8
Part 9
Part 10
Part 11
Part 12
Part 13
Part 14
Part 15
Part 16
Part 17
Part 18
Part 19
Part 20
Part 21
Part 22
Part 23
Part 24
Part 25
Part 26
Part 27
Part 28Part 29
30
Bisakah kita berinteraksi dengan mereka? Bisakkah kita berteman dengan mereka?. Di thread ini ane akan menceritakan bagaimana seorang anak manusia berinterkasi dengan mereka.
Cerita ini berdasarkan pengalaman ane pribadi, di dalam penulisan thread ini tidak ada unsur paksaan untuk percaya atau tidak, thread ini ane tulis hanya untuk berbagi pengalaman semata.
INDEX
Prolog
Part 1
Part 2
Part 3
Part 4
Part 5
Part 6
Part 7
Part 8
Part 9
Part 10
Part 11
Part 12
Part 13
Part 14
Part 15
Part 16
Part 17
Part 18
Part 19
Part 20
Part 21
Part 22
Part 23
Part 24
Part 25
Part 26
Part 27
Part 28Part 29
30
Diubah oleh kingmaestro1 27-09-2021 10:31
bebyzha dan 51 lainnya memberi reputasi
50
60.8K
630
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
kingmaestro1
#18
Part 1
Selasa, 27 September 2011, adalah hari pertama gue berada di daerah tempat gue melaksanakan praktek lapangan, di kampus gue praktek lapangan ini lebih bebas dalam menentukan tempat dan menentukan kelompok. Karena kebijakan inilah yang ngebuat gue harus kembali kumpul ama Clara, Radith, Eva, Sintia, Andri, Oky dan Opy, dan kami memilih lokasi di luar pulau.
Kami yang berbeda jurusan dan fakultas, tentunya kaga berada di satu instansi semuanya terpencar kecuali gue dan Radith, tapi kami memilih untuk menyewa rumah yang sama sebagai tempat tinggal untuk empat bulan ke depan. Gue yang memiliki mata yang lain dari yang lain, langsung ngeliat mereka yang kaga bisa di liat ama mata biasa.Kota di kepulauan ini seperti ada kota di dalam kota.
Hal yang pertama yang gue rasain dari sejak ban motor gue mijak di tugu selamat datang di kota ini adalah ramenya suasana kota ini bukan karena manusianya melainkan karena penghuni tak kasat matanya. Mungkin gansist semua bertanya-tanya kenapa gue dan yang lain bawa motor sedangkan tempat kami melaksanakan praktek lapangan berada di luar pulau. Sebenarnya pulau yang gue ceritain di atas tadi bukan seperti pulau Jawa, pulau Kalimantan dan lain sebagainya.
Pulau yang gue ceritain di thread ini jika di lihat di peta berada dekat ama pulau tempat gue berkuliah, sangking dekatnya pulau ini bahkan sering di kira masih bagian dari pulau tempat gue kuliah. Di kota ini penduduk tak kasat matanya tidaklah seperti di desa tempat gue kkn, di kota ini penduduk tak kasat matanya membaur bersama manusia, jika mata kaga teliti ngeliat maka bakalan susah banget ngebedain antara manusia dan bukan manusia apalagi jika mereka sedang menyamar.
Rumah itu terdiri dari dua lantai bercat biru muda, halaman rumah itu juga bisa di bilang luas. Ada taman kecil menghiasi halaman itu, kolam ikan hias menambah manis taman itu. Di lantai dua terdapat balkon yang menghadap ke arah matahari terbenam. Rumah itu memang gue yang milih, alasan gue karena gue suka arah balkonnya. Rumah itu kami sewa dengan harga 3 juta untuk empat bulan.
Harga cukup murah di kota ini, gue sempat menaruh curiga ama harga dan keadaan rumah itu. Gue ngerasa harga tiga juta terlalu murah untuk rumah yang bisa di bilang memiliki ukuran yang cukup besar. Di bagian dalam, rumah ini memiliki empat kamar di lantai bawah dan empat kamar di lantai atas, serta kamar mandi 2 di masing-masing lantainya. Tapi gue kaga mau lama-lama curiga karna gue berpendapat gue bakalan segera tau kenapa rumah ini punya harga sewa yang murah.
Setelah menata semua barang bawaan di kamar masing-masing, gue dan yang lain berkumpul di ruang tengah untuk ngebahas gimana seharusnya untuk besok karena besok kami belum bakal mulai untuk praktek lapangan. Jadwal untuk memulai praktek lapangan itu masih tiga hari yang akan datang. Kami sengaja datang lebih awal untuk mempelajari keadaan kota itu. Akhirnya kami memutuskan untuk berbenah di rumah aja dulu, hari berikutnya baru akan mengelilingi kota ini.
Hari menjelang siang, perut juga mulai minta diisi, karena ini adalah hari pertama maka kami memilih untuk beli makanan jadi. Hari itu berlalu dengan keadaan normal tanpa ada gangguan apapun.
Kami yang berbeda jurusan dan fakultas, tentunya kaga berada di satu instansi semuanya terpencar kecuali gue dan Radith, tapi kami memilih untuk menyewa rumah yang sama sebagai tempat tinggal untuk empat bulan ke depan. Gue yang memiliki mata yang lain dari yang lain, langsung ngeliat mereka yang kaga bisa di liat ama mata biasa.Kota di kepulauan ini seperti ada kota di dalam kota.
Hal yang pertama yang gue rasain dari sejak ban motor gue mijak di tugu selamat datang di kota ini adalah ramenya suasana kota ini bukan karena manusianya melainkan karena penghuni tak kasat matanya. Mungkin gansist semua bertanya-tanya kenapa gue dan yang lain bawa motor sedangkan tempat kami melaksanakan praktek lapangan berada di luar pulau. Sebenarnya pulau yang gue ceritain di atas tadi bukan seperti pulau Jawa, pulau Kalimantan dan lain sebagainya.
Pulau yang gue ceritain di thread ini jika di lihat di peta berada dekat ama pulau tempat gue berkuliah, sangking dekatnya pulau ini bahkan sering di kira masih bagian dari pulau tempat gue kuliah. Di kota ini penduduk tak kasat matanya tidaklah seperti di desa tempat gue kkn, di kota ini penduduk tak kasat matanya membaur bersama manusia, jika mata kaga teliti ngeliat maka bakalan susah banget ngebedain antara manusia dan bukan manusia apalagi jika mereka sedang menyamar.
Rumah itu terdiri dari dua lantai bercat biru muda, halaman rumah itu juga bisa di bilang luas. Ada taman kecil menghiasi halaman itu, kolam ikan hias menambah manis taman itu. Di lantai dua terdapat balkon yang menghadap ke arah matahari terbenam. Rumah itu memang gue yang milih, alasan gue karena gue suka arah balkonnya. Rumah itu kami sewa dengan harga 3 juta untuk empat bulan.
Harga cukup murah di kota ini, gue sempat menaruh curiga ama harga dan keadaan rumah itu. Gue ngerasa harga tiga juta terlalu murah untuk rumah yang bisa di bilang memiliki ukuran yang cukup besar. Di bagian dalam, rumah ini memiliki empat kamar di lantai bawah dan empat kamar di lantai atas, serta kamar mandi 2 di masing-masing lantainya. Tapi gue kaga mau lama-lama curiga karna gue berpendapat gue bakalan segera tau kenapa rumah ini punya harga sewa yang murah.
Setelah menata semua barang bawaan di kamar masing-masing, gue dan yang lain berkumpul di ruang tengah untuk ngebahas gimana seharusnya untuk besok karena besok kami belum bakal mulai untuk praktek lapangan. Jadwal untuk memulai praktek lapangan itu masih tiga hari yang akan datang. Kami sengaja datang lebih awal untuk mempelajari keadaan kota itu. Akhirnya kami memutuskan untuk berbenah di rumah aja dulu, hari berikutnya baru akan mengelilingi kota ini.
Hari menjelang siang, perut juga mulai minta diisi, karena ini adalah hari pertama maka kami memilih untuk beli makanan jadi. Hari itu berlalu dengan keadaan normal tanpa ada gangguan apapun.
hendra024 dan 29 lainnya memberi reputasi
30
Tutup