- Beranda
- Stories from the Heart
Jejak Seribu Rindu
...
TS
bekticahyopurno
Jejak Seribu Rindu
Cerita Bersambung Romance

Menyakitkan! mengapa bibirmu begitu mudah mengurai kata cinta? Sebuah cinta yang bersumber dari ketidak pastian, menyeretku terombang-ambing dalam bimbang. Siapa tahu, setelah bertemu denganku, kamu akan menetapkan bahwa aku, hanya aku memang layak menjadi bidadari surgamu. Ini perjalanku menemuimu .... Kekasih.
Tamara menarik nafas dalam-dalam, berkali-kali, memenuhkan rongga kosong dalam dada, hingga detak jantungnya berangsur normal. Ia bertemu seseorang di sebuah perjalanan menuju Jakarta. Seperti pertemuan dua orang asing pada umumnya, saling melempar senyum, lalu selesai begitu saja.
Selebihnya yang terdengar hanya deru mesin 'Burung Raksa' yang sudah mulai terbang dari Bandar Udara Kualanamu menuju Bandar Udara Soekarno-Hatta. Perjalanan mulai membosankan, perempuan berkulit seputih kapas itu mulai merasa jengah.
"Makan, Mbak?" kata lelaki yang duduk di sebelahnya basa-basi.
"Ya silahlkan," balas Tamara lirih.
Ia kembali menatap jauh ke luar jendela, memandang kosong awan putih menjulang di angkasa. Sedang pria itu, nampak malu-malu menelan setiap suap makanannya.
"Ke Jakarta juga?"
"Em, eh.. iya. He.. he..." Gugup. Bukan karena pertanyaanya. Hanya saja Tamara terlalu takut apa yang dilamunkan, diketahui oleh pria asing itu. Lelaki yang sama sekali tidak di kenalnya.
"Mengunjugi keluarga, atau...?"
"Mengunjungi keluarga." Tamara membuka ransel yang ia dekap. Selanjutnya mengeluarkan gadget, pura-pura sibuk mensrcol layar datar dipermukaan. Berharap lelaki di sebelahnya itu segera mengerti bahwa ia sedang tidak ingin diajak bicara.
"Perjalanan masih jauh, Mbak!" kata pria asing itu lebih pada bicara sendiri. Karena Tamara sudah kembali membuang tatapannya jauh ke luar jendela pesawat yang tertutup. Lalu suasanya kembali hening, terlihat beberapa penumpang mulai tertidur. Namun tidak pada Tamara yang pikiranya mulai kacau, antara bahagia atau sedih? Berkecamuk, mengaduk aduk perasaan.
Dalam kecemasan hanyalah sunyi, entah dari mana semua berawal, ketika jendela sudah menyuguhkan lukisan bergerak, Tamara mulai menyadari kepalanya terkulai di pundak lelaki asing itu. Ia segera menarik kepala dan tubuhnya untuk kembali tegak. Bersandar pada bantaran kursi pesawat.
"Maaf." Tamara tertunduk malu. Atau mungkin justru bahagia? Entahlah.
Pria bermata sorot tajam itu diam tak bergeming, hanya sedikit melempar senyum, lalu menyodorkan sebotol minuman. Tamara yang terbiasa dehidrasi saat tertidur, tidak menolak botol yang masih tersegel itu. Mungkin memang butuh aqua? Biar tidak asal tidur di pundak orang tak dikenal.
"Tak tega rasanya membangunkanmu, maaf..."
Tamara hanya terdiam membisu, lidahnya kelu, mungkin dalam hatinya meruntuki kebodohanya. Bagaimana mungkin ia bisa tidur dibahu lelaki itu? Sedangkan perjalananya ini hendak menemuli lelaki yang telah mampu membuatnya menjadi gila, menyesal, bayanganya sekelebat melesat cepat, semakin cepat, semakin jelas akan tatapan manisnya.
"Maafkan aku tidak membangunkanmu. Aku tidak bermaksut jahat atau buruk terhadapmu," imbunya lagi lelaki itu mengulangi untuk meminta maaf.
"Sudahlah, lupakan saja."
"Ok. Mbak baik-baik saja'kan?"
Lagi dan lagi, Tamara tidak menjawab, mungkin sebuah perasaan ganjil memenuhi dadanya. Atau mungkin kepalanya terasa berat? Memikul rindu yang semakin serat dan dalam dada yang terkoyak. Bagaimana mungkin Tamara bisa bercerita? Sedangkan ia hanyalah lelaki asing yang baru saja bertemu dalam perjalanan itu.
Mendapat pertanyaan itu, ingatanya mulai tercebur pada pesan-pesan Whatshapatau inbox selama beberapa bulan sebelumnya pada lelaki yang akan ditemuinya itu. Sebuah pesan-pesan romantis yang selalu Tamara tunggu saat sebelum memejamkan mata, sekaligus yang membuat hatinya sekarat oleh cupit rayuan gombalnya hanya pemberi harapan palsu saja.

Prolog
Menyakitkan! mengapa bibirmu begitu mudah mengurai kata cinta? Sebuah cinta yang bersumber dari ketidak pastian, menyeretku terombang-ambing dalam bimbang. Siapa tahu, setelah bertemu denganku, kamu akan menetapkan bahwa aku, hanya aku memang layak menjadi bidadari surgamu. Ini perjalanku menemuimu .... Kekasih.
~•°♡°•~
Tamara menarik nafas dalam-dalam, berkali-kali, memenuhkan rongga kosong dalam dada, hingga detak jantungnya berangsur normal. Ia bertemu seseorang di sebuah perjalanan menuju Jakarta. Seperti pertemuan dua orang asing pada umumnya, saling melempar senyum, lalu selesai begitu saja.
Selebihnya yang terdengar hanya deru mesin 'Burung Raksa' yang sudah mulai terbang dari Bandar Udara Kualanamu menuju Bandar Udara Soekarno-Hatta. Perjalanan mulai membosankan, perempuan berkulit seputih kapas itu mulai merasa jengah.
"Makan, Mbak?" kata lelaki yang duduk di sebelahnya basa-basi.
"Ya silahlkan," balas Tamara lirih.
Ia kembali menatap jauh ke luar jendela, memandang kosong awan putih menjulang di angkasa. Sedang pria itu, nampak malu-malu menelan setiap suap makanannya.
"Ke Jakarta juga?"
"Em, eh.. iya. He.. he..." Gugup. Bukan karena pertanyaanya. Hanya saja Tamara terlalu takut apa yang dilamunkan, diketahui oleh pria asing itu. Lelaki yang sama sekali tidak di kenalnya.
"Mengunjugi keluarga, atau...?"
"Mengunjungi keluarga." Tamara membuka ransel yang ia dekap. Selanjutnya mengeluarkan gadget, pura-pura sibuk mensrcol layar datar dipermukaan. Berharap lelaki di sebelahnya itu segera mengerti bahwa ia sedang tidak ingin diajak bicara.
Quote:
"Perjalanan masih jauh, Mbak!" kata pria asing itu lebih pada bicara sendiri. Karena Tamara sudah kembali membuang tatapannya jauh ke luar jendela pesawat yang tertutup. Lalu suasanya kembali hening, terlihat beberapa penumpang mulai tertidur. Namun tidak pada Tamara yang pikiranya mulai kacau, antara bahagia atau sedih? Berkecamuk, mengaduk aduk perasaan.
Spoiler for Hati Perempuan:
Dalam kecemasan hanyalah sunyi, entah dari mana semua berawal, ketika jendela sudah menyuguhkan lukisan bergerak, Tamara mulai menyadari kepalanya terkulai di pundak lelaki asing itu. Ia segera menarik kepala dan tubuhnya untuk kembali tegak. Bersandar pada bantaran kursi pesawat.
"Maaf." Tamara tertunduk malu. Atau mungkin justru bahagia? Entahlah.
Pria bermata sorot tajam itu diam tak bergeming, hanya sedikit melempar senyum, lalu menyodorkan sebotol minuman. Tamara yang terbiasa dehidrasi saat tertidur, tidak menolak botol yang masih tersegel itu. Mungkin memang butuh aqua? Biar tidak asal tidur di pundak orang tak dikenal.
"Tak tega rasanya membangunkanmu, maaf..."
Tamara hanya terdiam membisu, lidahnya kelu, mungkin dalam hatinya meruntuki kebodohanya. Bagaimana mungkin ia bisa tidur dibahu lelaki itu? Sedangkan perjalananya ini hendak menemuli lelaki yang telah mampu membuatnya menjadi gila, menyesal, bayanganya sekelebat melesat cepat, semakin cepat, semakin jelas akan tatapan manisnya.
"Maafkan aku tidak membangunkanmu. Aku tidak bermaksut jahat atau buruk terhadapmu," imbunya lagi lelaki itu mengulangi untuk meminta maaf.
"Sudahlah, lupakan saja."
"Ok. Mbak baik-baik saja'kan?"
Lagi dan lagi, Tamara tidak menjawab, mungkin sebuah perasaan ganjil memenuhi dadanya. Atau mungkin kepalanya terasa berat? Memikul rindu yang semakin serat dan dalam dada yang terkoyak. Bagaimana mungkin Tamara bisa bercerita? Sedangkan ia hanyalah lelaki asing yang baru saja bertemu dalam perjalanan itu.
Mendapat pertanyaan itu, ingatanya mulai tercebur pada pesan-pesan Whatshapatau inbox selama beberapa bulan sebelumnya pada lelaki yang akan ditemuinya itu. Sebuah pesan-pesan romantis yang selalu Tamara tunggu saat sebelum memejamkan mata, sekaligus yang membuat hatinya sekarat oleh cupit rayuan gombalnya hanya pemberi harapan palsu saja.
Quote:
Sista dan Agan Kepoin Juga Cerita Lainnya Disini :
Spoiler for Baca Selengkapnya :
Diubah oleh bekticahyopurno 28-11-2019 01:06
NoMaLz dan 33 lainnya memberi reputasi
34
9.8K
117
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
bekticahyopurno
#51
[JSR ] Pilihan yang Bikin Jengah
Jejak Seribu Rindu: Bagian 3

"Aku sudah minta ijin menikah lagi. Awalnya Ahya yang mengijinkan. Tapi seperti kamu tau, hantinya masih labil. Ia memberikan ijin setelah umur seratus tahun. Mas tidak tau harus berkata apa? "
Rasanya Tamara sudah tidak sanggup berbicara dengannya lagi. Sesak tak hanya meresapi dadanya, terang-terangan menceburkannya ke dalam kubangan air keruh yang membuat sulit untuk bernafas.
"Mas akan berusaha meyakinnya. Hanya untuk saat ini, Mas benar-benar dilembah putus asa. Aku tidak sanggup kehilangan Ahya, juga tidak mampu kehilangan Adek. "
Darah Tamara mendidih, wajahnya bagai dicambuk ribuan cemeti berapi. Kali ini Tamara benar-benar sudah tidak sanggup berbicara dengan lelaki itu lagi. Tak mampu membendung sesak yang serta-merta menenggelamkannya dalam kekecewaan, sakit hanya tidak berdarah.
Segera Tamara sudahi percakapan lewat telepon itu begitu saja. Ia kesulitan memecahkan rasa sakit dalam tangis. Air mata yang biasanya begitu mudah untuk dilelehkan, saat itu justru membeku. Menjadi butiran batu, memenuhi mata, dada, tidak terkendali.
Mendadak Tamara ingat prosa-prosanya dulu :
"Tahukah kau apa yang membuatku sempurna? Adalah saat aku menyukai semua hal tentangmu. Terlebih saat kamu cemburu. Saat seperti itu kamu sungguh sangat mempesona dan Mempora-porandakan akal waras dalam minda.
Ingin rasanya memeluk kuat erat-erat. Mencecapi keningmu dengan dekapan hangat.
Menghitung pucuk-pucuk rambutmu adalah hal termanja dari jatuh cinta. Menyadari kita memang harus memperjuangkan rindu agar tidak tumbuh lesu hati membeku."
Tamara tersenyum lebar: "Lantas apakah cintanya padaku tulus?" tanyanya. Entah mengapa baru kali ini Tamara merasa dihargai sebagai wanita, merasa dicintai sepenuh hati.
Hari-hari setelahnya Tamara selalu bermimpi bertemu dengannya. Menggodanya saat ia sedang asyik menulis atau memarahinya saat ia lupa makan karena sibuk bekerja. Setelahnya mereka bisa berbagi cerita manja dengan hanya satu tema berlama-lama, ya hanya Tamara dan dia.
Berkali-kali Tamara mengucapkan syukur karena bisa mendampingi lelaki yang selalu ia cintai dari dalam hati.
Pria itu mencintai Ahya, tentu Tamara tahu karena memang istri pertamanya. Ini bukan berarti Tamara tidak suka. Tentu cinta Ahya dan Tamara sangat berbeda. Siapa tau, setelah mereka bertemu dengannya, Ahya akan memberikan ijin dan ia menetapkan Tamara bagian dari hidupnya.
Lelah atau bodoh? Ini perjalan Tamara dalam rangka menemuinya di Jakarta.
Bahkan Tamara rela susah-payah demi cintanya, lantas kenapa yang ia dapatkan hanya lelah saja?
Jika cinta yang kita yakini layak untuk diperjuangkan, maka perjuangankanlah dan disini Tamara berada. Dalam memperjuangkan cintanya, yang entah bisa tersampaikan atau tidak. Tamara hanya tidak ingin menyesal nantinya.
"Sudah sampai, Bandung. Mbak gak turun?"
"Ya, silahkan duluan," balasnya malas.
"Kenalkan, aku Arief. Asli Bandung. Tapi berdomisili di Dago Bandung," katanya mengenalkan diri sambil mengulurkan tangannya.
Meski sedikit malas, Tamara mengulurkan tangan juga. "Tamara," jawabnya singkat. Kota Bandung? Ah tujuannya ke Jakarta.
"Sudah berapa kali ke Bandung?" tanyanya lagi.
"Ini petama kali."
"Mbak dijemput?"
Tamara menggelengkan kepala. Perih. Tidak seorangpun yang tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Aku bisa mengantar, Mbak. Aku hafal betul jalanan di kota ini. Bahkan, jalan-jalan tikus yang orang tidak tahu, aku tahu."
Tamara diam tidak menjawab.
"Apa aku terlihat seperti orang jahat? Sampai-sampai Mbak terlihat takut seperti itu? Aku hanya menawarkan bantuan. Itupun jika Mbak mahu," imbuhnya. Kali ini tertawa.
"Bukan itu!" balasku melempar sedikit senyum.
"Lantas?"
"Aku sudah ada yang jemput. Maaf dan terimakasih atas tawarannya."
Tamara berdiri, bersiap-siap untuk turun.
"Jadi sudah ada yang jemput? Ya udah ini kartu namaku. Jika Mbak ada kesulitan, jangan sungkan hubungi ya," ucapnya memberikan selembar kartu. Kemudian kami berpisah begitu saja.
Baru saja wanita cantik itu merasa lega dari introgasi Arief yang menyebalkan, gadgetnya berdering. Segera Tamara angkat telepon.
Kepalanya bagai dihantam godam, lalu hancur berkeping-keping. Bagaimana mungkin Rama bisa bicara padanya seperti itu, sedangkan ia tidak menjemputnya di Malaysia? Tamara 'lah yang mendatanginya ke Indonesia.
Laki-laki bernama lengkap Rama Surya Dirandra Hadiningrat itu memang plin-plan.
Apa yang akan terjadi?
Next
Back to INDEKS

"Aku sudah minta ijin menikah lagi. Awalnya Ahya yang mengijinkan. Tapi seperti kamu tau, hantinya masih labil. Ia memberikan ijin setelah umur seratus tahun. Mas tidak tau harus berkata apa? "
Rasanya Tamara sudah tidak sanggup berbicara dengannya lagi. Sesak tak hanya meresapi dadanya, terang-terangan menceburkannya ke dalam kubangan air keruh yang membuat sulit untuk bernafas.
"Mas akan berusaha meyakinnya. Hanya untuk saat ini, Mas benar-benar dilembah putus asa. Aku tidak sanggup kehilangan Ahya, juga tidak mampu kehilangan Adek. "
Darah Tamara mendidih, wajahnya bagai dicambuk ribuan cemeti berapi. Kali ini Tamara benar-benar sudah tidak sanggup berbicara dengan lelaki itu lagi. Tak mampu membendung sesak yang serta-merta menenggelamkannya dalam kekecewaan, sakit hanya tidak berdarah.
Segera Tamara sudahi percakapan lewat telepon itu begitu saja. Ia kesulitan memecahkan rasa sakit dalam tangis. Air mata yang biasanya begitu mudah untuk dilelehkan, saat itu justru membeku. Menjadi butiran batu, memenuhi mata, dada, tidak terkendali.
Mendadak Tamara ingat prosa-prosanya dulu :
"Tahukah kau apa yang membuatku sempurna? Adalah saat aku menyukai semua hal tentangmu. Terlebih saat kamu cemburu. Saat seperti itu kamu sungguh sangat mempesona dan Mempora-porandakan akal waras dalam minda.
Ingin rasanya memeluk kuat erat-erat. Mencecapi keningmu dengan dekapan hangat.
Menghitung pucuk-pucuk rambutmu adalah hal termanja dari jatuh cinta. Menyadari kita memang harus memperjuangkan rindu agar tidak tumbuh lesu hati membeku."
Tamara tersenyum lebar: "Lantas apakah cintanya padaku tulus?" tanyanya. Entah mengapa baru kali ini Tamara merasa dihargai sebagai wanita, merasa dicintai sepenuh hati.
Hari-hari setelahnya Tamara selalu bermimpi bertemu dengannya. Menggodanya saat ia sedang asyik menulis atau memarahinya saat ia lupa makan karena sibuk bekerja. Setelahnya mereka bisa berbagi cerita manja dengan hanya satu tema berlama-lama, ya hanya Tamara dan dia.
Berkali-kali Tamara mengucapkan syukur karena bisa mendampingi lelaki yang selalu ia cintai dari dalam hati.
Pria itu mencintai Ahya, tentu Tamara tahu karena memang istri pertamanya. Ini bukan berarti Tamara tidak suka. Tentu cinta Ahya dan Tamara sangat berbeda. Siapa tau, setelah mereka bertemu dengannya, Ahya akan memberikan ijin dan ia menetapkan Tamara bagian dari hidupnya.
Lelah atau bodoh? Ini perjalan Tamara dalam rangka menemuinya di Jakarta.
~ •♡•~
Bahkan Tamara rela susah-payah demi cintanya, lantas kenapa yang ia dapatkan hanya lelah saja?
Jika cinta yang kita yakini layak untuk diperjuangkan, maka perjuangankanlah dan disini Tamara berada. Dalam memperjuangkan cintanya, yang entah bisa tersampaikan atau tidak. Tamara hanya tidak ingin menyesal nantinya.
"Sudah sampai, Bandung. Mbak gak turun?"
"Ya, silahkan duluan," balasnya malas.
"Kenalkan, aku Arief. Asli Bandung. Tapi berdomisili di Dago Bandung," katanya mengenalkan diri sambil mengulurkan tangannya.
Meski sedikit malas, Tamara mengulurkan tangan juga. "Tamara," jawabnya singkat. Kota Bandung? Ah tujuannya ke Jakarta.
"Sudah berapa kali ke Bandung?" tanyanya lagi.
"Ini petama kali."
"Mbak dijemput?"
Tamara menggelengkan kepala. Perih. Tidak seorangpun yang tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Aku bisa mengantar, Mbak. Aku hafal betul jalanan di kota ini. Bahkan, jalan-jalan tikus yang orang tidak tahu, aku tahu."
Tamara diam tidak menjawab.
"Apa aku terlihat seperti orang jahat? Sampai-sampai Mbak terlihat takut seperti itu? Aku hanya menawarkan bantuan. Itupun jika Mbak mahu," imbuhnya. Kali ini tertawa.
"Bukan itu!" balasku melempar sedikit senyum.
"Lantas?"
"Aku sudah ada yang jemput. Maaf dan terimakasih atas tawarannya."
Tamara berdiri, bersiap-siap untuk turun.
"Jadi sudah ada yang jemput? Ya udah ini kartu namaku. Jika Mbak ada kesulitan, jangan sungkan hubungi ya," ucapnya memberikan selembar kartu. Kemudian kami berpisah begitu saja.
Baru saja wanita cantik itu merasa lega dari introgasi Arief yang menyebalkan, gadgetnya berdering. Segera Tamara angkat telepon.
Quote:
Kepalanya bagai dihantam godam, lalu hancur berkeping-keping. Bagaimana mungkin Rama bisa bicara padanya seperti itu, sedangkan ia tidak menjemputnya di Malaysia? Tamara 'lah yang mendatanginya ke Indonesia.
Laki-laki bernama lengkap Rama Surya Dirandra Hadiningrat itu memang plin-plan.
Apa yang akan terjadi?
Next
Back to INDEKS
Diubah oleh bekticahyopurno 10-01-2020 11:18
makola dan 10 lainnya memberi reputasi
11
Tutup