- Beranda
- Stories from the Heart
Saat Cinta Terhempas
...
TS
Indriaandrian
Saat Cinta Terhempas

Awal Kisah
Melihatnya tersenyum dengan mata berkaca-kaca terasa seperti torehan sembilu menyayat hatiku, perih.
Ini harusnya hari yang bahagia tapi takdir memisahkanku dari cintaku, menyakiti dan menghempaskannya begitu saja, menghancurkan semua harapanku. Apa yang lebih buruk dari ini?
Andai waktu bisa terulang, mungkinkah aku bisa bertahan ataukah atau kembali menyerah pada keadaan?
**
Tiga tahun lalu
Malam itu Arman mengajakku ke kampung sebelah, kerumah gadis yang ditaksirnya.
“Temenin ane, Do. Ane mau nembak Santi malam ini,” pintanya memelas.
“Lah lu enak nembak cewek, gua ngapain ngikut jadi obat nyamuk?” sahutku malas.
“ Tar malam ada pasar malam di sana Do, ente nongkrong sono pas ane kerumah Santi, temen kita banyak kok yang ke pasar malam sana,” bujuk Arman.
“Lagian ane butuh ente Do, kalo misal diterima ane takut ngga fokus di jalan,” sambungnya lagi.
“Kalau ngga diterima gimana?” tanyaku penasaran.
“Kalo itu ane lebih butuh ente Do, ane pasti lemes kalo ditolak nah ane butuh ente buat nggendong ane pulang,” jawabnya lugas.
“ Ogah!” seruku sambil berlalu.
**
Baru jam 7 malam saat kami tiba di kampung sebelah, jalan tampak ramai karena adanya pasar malam dekat rumah Santi. Niat hati langsung pergi setelah mengantar Arman, tapi sesosok gadis di sebelah Santi membuat langkah gua terhenti, gelak tawanya lepas membuatku tertarik.
Penampilannya sederhana rambut panjangnya hanya dikuncir biasa sangat simple, tanpa make up tebal seperti Santi, bahkan bibirnyapun tak memakai lipstik.
Namun senyumnya sangat manis.
Semula hanya penasaran dan ingin melihat dari dekat, tapi kemudian gua sungguh terpikat.
Diandra namanya, tetangga Santi. Sikapnya santun dan pendiam, tersipu malu dengan semburat merah dipipinya saat mata kami bertemu. Cantik sekali.
Sejak hari itu, aku jadi rajin mengantar Arman kerumah Santi, menunggu bertemu Diandra, melihat senyum dan binar matanya. Ahh, sepertinya aku jatuh cinta.
Hubungan Arman dan Santi masih maju mundur, justru aku dan Diandra makin dekat.
Luar biasa rasanya saat beberapa waktu kemudian dia mengangguk saat kutembak, gua bahagia. Meski di sudut hati ada rasa ragu yang menggumpal. Aku sadar diri, hanya anak seorang supir, kerja di toko kelontong bahkan SMA pun ngga selesai, sementara Diandra dari keluarga terpandang di kampungnya. Apa kami sepadan?
Jujur aku ngga yakin, tapi rasanya bahagia saat bersamanya.
Hari-hari berlalu dengan kisah indah kami. Diandra sangat ramah, dia sangat mudah disukai bahkan keluargaku menyayanginya, adik, kakak bahkan emak bapak suka ikutan ngobrol kalo dia datang. Sementara keluarganya, aku masih ragu untuk bertemu.
Berkali-kali Diandra memintaku datang kerumahnya tapi berbagai alasan ku buat, aku ragu.
Hingga suatu hari
“ Do, papah minta aku buat nerusin kuliah,” katanya pelan.
Tapi terdengar bagai sentakan tajam yang menusuk hati.
“ 3 atau 4 tahun Do,” lanjutnya.
“ Lama sekali Di, jarak kita akan semakin lebar,” ucapku kelu.
Dia akan jadi sarjana, dan gua hanya begini? Apa kata dunia!Teriakanku bergema dalam dada.
“ Di, kita lari aja yuk,” pintaku sementara dia tersentak dan menatapku dengan terkejut.
“Kita pergi ketempat abang di Sumatra kita menikah di sana, jadilah istriku, Diandra." lanjutku yakin.
“Aku menginginkanmu Di, tapi keluargamu ngga mungkin setuju. Hanya ini satu-satunya cara agar orangtuamu merestui kita atau ... kita melakukan "itu,” bujukku selembut mungkin.
Entah apa yang merasukiku, otak ini terasa beku, hanya terpikir bagaimana mempertahankan gadisku.
Sementara Diandra terpaku dengan mata berkaca-kaca, lalu ...
next
Diubah oleh Indriaandrian 02-12-2019 11:25
nona212 dan 38 lainnya memberi reputasi
37
6.8K
87
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•5Anggota
Tampilkan semua post
TS
Indriaandrian
#12
Cinta Pertama

Pov Diandra
"Tuhan tolong, matikan perasaanku, tegakkan langkahku, biarkan aku bertemu dengannya."
**
Tiga tahun lalu
Dasar Santi, tukang ngibul. Katanya mau ngajak ke pasar malam eh malah ketemuan sama Arman, sebel." kesal banget rasanya saat Santi bilang nunggu Arman. Sebagai teman yang baik okelah, lagian Arman tuh baik banget, nyambung kalo ngobrol. Santi aja yang jual mahal.
" Trima ajalah San, Arman tuh kayaknya serius beneran suka sama kamu," ujarku pada Santi.
" saya mah belum yakin Di, masih dilema antara Arman atau Rudi?" Kata Santi sambil memasang wajah galau.
"Dasar labil!" Seruku sambil tergelak.
"Eh itu Arman datang, aku pulang ya San," ucapku sambil berdiri saat melihat kedatangan Arman. Tapi Santi menarik tanganku dan memaksaku duduk menemaninya.
Terpaksa aku duduk lagi.
Eh, tapi siapa yang bersama Arman? Kenapa menatapku begitu?ah kenapa pula mukaku jadi panas dan jantung bergetar gini?
Berbeda dengan Arman yang kurus dan berambut keriting. Temannya berbadan tinggi besar dengan rambut tebal dan lurus.
Tatapannya lembut tapi tajam menghujam, membuatku tak sanggup bertemu mata dengannya.
Namanya Edo, anaknya tegas dan menyenangkan. Obrolan kami jadi makin seru dengan celetukannya. Tapi entah kenapa aku ngga bisa berhenti tersipu di depannya, matanya seolah tak berhenti menatapku.
Tuhan, kenapa hatiku terasa terbang?.
Malam ini aku hampir ngga bisa tidur, seperti ada kepakan sayap di perutku, memenuhi kepala dengan seraut wajah itu, Edo.
Santi dan Arman makin sering bertemu dan mereka selalu mengajak kami berdua, aku dan Edo.
Sebenarnya aneh, mereka yang pedekate tapi justru aku dan Edo yang makin dekat. Lebih lucu lagi, kami jadian duluan. Arman sewot luar biasa saat tau kami jadian.
"Brengsek ente Do, ane merasa ditikung kalo gini," omelnya kesal.
"Enak aja nikung, bukan cewe lu yang gue tembak!" Seru Edo.
" Tapi ngeselin Do, kalian bukannya ngebantu ane jadian ama Santi malah asyik pacaran sendiri," keluh Amran lagi.
" itu mah derita lu," goda Edo sambil menarik tanganku berlalu meninggalkan Amran.
Edo sangat lembut, dan perhatian dia juga tak sungkan mengenalkanku pada keluarga besarnya, keluarganya sangat ramah. Bahkan aku akhirnya berteman akrab dengan Mila sepupunya, dia kebetulan tinggal satu blok dengan rumah Edo. Kami sering bertemu di rumah Mila, tiap ada yang bertanya Edo dengan tegas mengatakan kalo aku adalah calon istrinya.
Mungkin kami masih terlalu muda, Tapi ini adalah cinta pertama yang ku harap jadi bisa cinta terakhirku. Membayangkan bersama dalam ikatan sah, rasanya ini akan jadi kisah cinta yang sempurna. Seperti dalam tiap film dan buku.
Cinta pada pandangan pertama adalah cinta sejati yang sebenarnya.
Kami makin dekat, makin besar cinta yang terasa, menghabiskan banyak waktu bersama. Berbagi cerita bahkan berbagi mimpi tentang masa depan kami, sebuah rumah kecil dan anak-anak mungil di dalamnya. Semuanya sempurna, kecuali satu. Dia belum pernah bertemu keluargaku.
"Do, kapan bisa main kerumah, sekali-kali jemput donk. Arman aja sering ke rumah Santi. Masa Aku ngga pernah si datengin," keluhku.
"Aku pasti datang Di, akan ada waktunya aku kerumah trus langsung ngelamar," ucapnya sambil mengacak rambutku.
Ahh, aku kembali melayang.
Harapanku menjadi sangat besar, berharap dia tiba-tiba datang, bertemu keluargaku, mengenalkan dirinya, memberiku bukti kesungguhannya. Tapi tiap ketukan dan bel pintu, bukan dirinya, tak pernah dirinya. Meski kami rutin bertemu, tapi tak pernah di rumahku.
Hingga suatu hari, papah memintaku kembali kuliah. Setidaknya 3 sampai 4 tahun untuk kuliah, ngga mungkin nolak permintaan papah. Aku harus bicara sama Edo.

Siang itu kami pergi ke pantai, bejalan di sepanjang pinggiran pantai yang teduh sambil bercakap-cakap.
"Do, Papah memintaku meneruskan kuliah." Pelan aku berucap.
Edo tampak tersentak dan menghentikan langkahnya.
"3 atau 4 tahun Do, ngga papa khan," sambungku.
Tanpa menoleh dia berkata lirih."Lama sekali Di, Jarak kita akan semakin lebar."
"Kenapa?" Tanyaku heran.
"Apa keluargamu bisa menerimaku, anak seorang supir, karyawan toko kecil, kamu kuliah dan aku?" Ucapnya sambil menerawang. " ijasahpun tak ada, apa kata bapakmu nanti," sambungnya lemah.
Melihatnya tampak rapuh dan sedih rasanya hatiku ikut tersayat. Namun akupun tak rela bapakku dipersalahkan.
"Setidaknya cobalah dulu, orangtuaku ngga sepicik itu Do. Ada aku yang bakal meyakinkan mereka,apapun yang terjadi aku akan bertahan demi kamu," sahutku sambil menggenggam tangannya.
“ Di, kita lari aja yuk." Kalimat yang tiba-tiba dikeluarkannya bena-benar tidak kuduga.
“Kita pergi ketempat abang di Sumatra, kita menikah di sana, jadilah istriku,Diandra." lanjutnya.
Aku tercekat, lamaran macam apa ini?
“Aku menginginkanmu Di, tapi keluargamu ngga mungkin setuju. Hanya ini satu-satunya cara agar orangtuamu merestui kita atau ... kita melakukan "itu." Ucapannya kemudian terdengar bagai slow motion di telingaku.
Ide gila apalagi ini?.
Belum habis terkejutku dengan permintaan jadi istrinya, dia kembali mengejutkanku dengan permintaan absurd lainnya.
Rasanya seolah ribuan lebah berdengung di kepalaku.
Aku menginginkannya, ingin jadi istrinya, semur hidup bersama, dalam susah dan senangnya, tapi apa sejauh itu jarak kami hingga dia berpikir sejauh itu, aku harus bagaimana Tuhan?
next
Diubah oleh Indriaandrian 09-10-2020 12:25
syafira87 dan 4 lainnya memberi reputasi
5