- Beranda
- Stories from the Heart
BADAI SEBELUM PELANGI
...
TS
tiawittami
BADAI SEBELUM PELANGI

1.Murid Baru
Namaku Zerina. Zerina Mia Hartalisya. Kepribadianku berubah sejak penghianatan itu terjadi. Ketika orang-orang yang selalu bersamaku, menjalani hari-hari bersamaku bahkan suka duka selalu bersamaku menghancurkan semuanya.
Ketika pacarmu yang sudah sangat manis denganmu dan sahabatmu yang selalu mendukungmu ternyata hanya berpura-pura baik padamu. Sakit bukan? Kemudian mereka bersama dan meninggalkanmu. Bagaimana rasanya? Sakit saja, kah? Atau ada perasaan lain?
Tidak hanya itu yang terjadi padaku, mereka bahkan merusak nama baikku, membuatku semakin tidak bisa bergerak, tidak ada yang percaya padaku. Mereka yang lain jadi takut padaku.
Namaku bukan lagi Zerina. Aku orang gila, yang gilanya bisa kambuh kapan saja. Orang-orang yang mendekatiku hanya ingin mengambil kesempatan tanpa kutahu apa tujuannya. Yang pasti mereka hanya menguntungkan diri mereka sendiri.
Astaga, kejam sekali hidup ini. Aku harus apa? Mati, kah? Atau terus menjalaninya? Kira-kira apa yang akan kudapat jika aku terus menjalani hidup. Ketulusan, kah? Aah tidak, ketulusan itu semu. Walau aku sangat ingin bertemu dengannya.
***
Kukira setelah aku lulus dan masuk ke sekolah baru semua itu akan lenyap, tapi ternyata tidak. Orang-orang bodoh itu terus mengingatnya bahkan mereka menyebarkan semuanya di sini. Tak mengapa, aku telah terbiasa dengan semua ini, bahkan jika aku harus seperti ini sampai akhir hidupku. Semua pikiran mereka dan semua yang mereka katakan, biarlah, aku terlalu lelah untuk peduli.
Aku suka duniaku, tak ada yang harus kusembunyikan sekarang. Aku tak perlu berpura-pura untuk mendapatkan yang aku inginkan, karena aku tak lagi menginginkannya.
Teman...
Makhluk apa itu? Aku tidak ingin mereka lagi. Mereka semua hidup dalam kepalsuan. Canda tawa itu akan terasa pahit jika kau tau akhirnya. Tak ada ketulusan di sini, semuanya berjalan karena kemauan masing-masing dari orang-orang itu. Aku tak pernah melihat ketulusan, mungkin dia semu, seperti apa dia? Aku jadi ingin bertemu dengannya.
***
Seperti biasa, aku menghabiskan waktu istirahat dengan duduk di atas rumput yang berseberangan dengan lapangan. Tempat ini nyaman, aku bisa bersandar sekaligus merasakan keteduhan pohon rindang ini. Berkali-kali aku melihat orang lewat yang memandangku aneh karena memilih duduk di sini, sedangkan banyak bangku taman yang disediakan sekolah untuk murid-muridnya, abaikan saja.
Kupasang earphone dan memutar lagu yang belakangan ini sering kudengarkan. Walau aku tak tau arti dari lagunya, tapi aku suka. Alunan nadanya membuat ketenanganku di atas level biasanya. Aku tetap berada di sini, sampai istirahat selesai.
Koridor kelas masih lumayan ramai oleh siswa-siswi yang ngobrol dan tertawa, padahal bel masuk sudah berbunyi. Seharusnya tadi aku menunggu beberapa menit setelah bel bunyi, baru berjalan masuk ke kelas, untuk menghindari perhatian mereka yang dari tadi melihatku sambil berbisik dengan teman masing-masing.
Abaikan ini Zerina, mereka hanya orang-orang bodoh yang tidak pandai memilih cerita.
Aku berhenti melangkah ketika sampai di depan pintu kelas, seorang perempuan yang sangat aku kenal itu menghalangi pintu masuk. Kutatap matanya dengan harapan agar dia tidak menghalangi jalanku, dia menatapku balik.
"Apa liat-liat!" katanya dengan suara yang bisa didengar siapa saja yang ada di situ.
"Minggir. Aku mau lewat." pintaku.
"Oo, mau lewat. Silahkan." Salsa menggeser tubuhnya memberiku jalan, dia tak lepas dari menatapku, membuatku tersandung kakinya karena aku pun tak lepas dari manatapnya balik.
Dia membuatku tersungkur di atas lantai dan sekarang aku jadi bahan tertawaan anak-anak di kelasku dan beberapa anak yang melihat dari pintu kelas. Aku marah, apalagi ketika dia menginjak earphone dan hpku yang juga ikut tersungkur bersamaku.
"Ah, sorry, gue gak liat. Sini gue bantu." Salsa mengulurkan tangannya padaku saat anak-anak itu memusatkan perhatiannya pada kami.
Dasar! Pandai sekali dia berpura-pura, aku tak bisa menahan diriku untuk memukul perempuan itu. Kuambil hp yang barusan dia injak dan kupakai untuk memukul kepalanya. Aku tak peduli jika hp ini rusak, yang penting kepala orang ini harus diberi pelajaran.
Salsa berteriak sambil menghalangi gerakanku lagi sampai akhirnya teman-teman bodohnya itu menghentikanku dan mendorongku menjauh dari Salsa.
"Lo gila, ya! Mukulin kepala orang!" teriak Icha sambil menatapku tajam.
"Lo gak papa, Sa?" Salsa menggelengkan kepalanya atas pertanyaan Dwi, "Gak waras!" teriaknya lagi padaku.
Mereka pergi setelah berhasil membuatku terlihat seperti penjahat sekarang. Anak-anak di kelasku pun tak ada yang berani bicara padaku. Mereka semua menghindar dan memberiku jalan menuju kursiku.
Aku kembali teringat bagaimana dulu aku memukul kepala Ana dengan penggaris besi hingga membuatnya berdarah. Aku tak tahu bagaimana jadinya jika anak-anak kelas ini menyaksikan itu, mungkin mereka akan menemui wali kelas dan bilang jika mereka ingin pindah kelas, tak ingin sekelas denganku. Tapi percayalah, kejadian itu bukan sepenuhnya salahku.
Aku duduk dan merapihkan buku pelajaran yang tadi belum sempat kubereskan karena aku biasa keluar duluan saat bel istirahat bunyi. Ya, itu ada alasannya, aku menghindari keramaian.
"Ternyata bener, ya. Gilanya bisa kambuh kapan aja."
"Sssstt."
Aku mendengar bisikan itu. Mereka melepaskan pandangannya dariku saat aku menatap ke arah mereka tajam. Aku jadi kesal, harusnya mereka bertanya dulu apa yang terjadi, bukan bicara dibelakangku.
Mulut-mulut itu memang sudah termakan gosip receh, mereka hanya mendengar cerita dari satu pihak dan langsung membenciku, mereka langsung menganggapku benaran gila hingga tak ada yang percaya padaku. Aku mengembuskan napas.
Tenang Zerina, kau tidak perlu kesal dan mencaci mereka. Mereka akan lebih menganggapmu gila jika kau lakukan itu.
***
Setelah melewati waktu yang sulit di sekolah hari ini, aku berniat mengunjungi tempat yang sudah lama tak kukunjungi.
Langkahku terhenti, kupandangi pohon seri yang sudah termakan usia itu. Tumbuh di halaman belakang rumah tua yang tidak dihuni, walaupun begitu pohon ini tetap tumbuh dan berbuah. Aku ingat, waktu kecil aku sering kemari, bermain bersama Ana, memanjat pohon ini untuk mengambil buah kecil bewarna merah yang rasanya sangat aku suka. Manis.
Ugh!
Aku mengusir memori itu, rasanya sakit jika menyadari yang terjadi sekarang. Kulepas tas punggung yang kukenakan dan menjatuhkannya ke atas rumput liar di situ. Dengan agak susah aku memanjat pohon, hingga akhirnya aku bisa duduk santai di dahannya sambil menikmati buahnya.
"Hm, seperti ini rasanya kehidupan remaja. Aku jadi ingin menjadi bocah lagi, tak peduli sedekil apa aku dulu. Aku mau bahagia tanpa merasakan sakitnya penghianatan."
Kumakan buah terakhir yang kudapat, lalu berniat mencari lagi. Sepertinya sudah habis, tidak, aku masih melihat satu di ujung dahan. Aku sudah hampir mendapatkannya, tapi seseorang menggagalkanku.
"Hei!" Suara itu mengejutkanku, hingga membuat kakiku kaget dan melesat dari dahan pohon.
"Aaaakh!"
Aku jatuh hingga membuat dengkul dan lenganku tergores patahan ranting-ranting kecil yang bertumpuk di situ.
"Kamu gak papa?" tanya orang yang membuatku terkejut.
Kutepis tangannya yang ingin menyentuhku. Tanpa menjawab pertanyaannya, aku langsung mengambil tas dan buru-buru pergi dari situ.
Jarak rumahku tidak jauh dari tempat itu dan aku sudah berada di rumah sekarang, membersihkan luka dengan alkohol. Untung saja dahan yang kupanjat tadi tidak tinggi dan aku tidak cidera parah. Kalau bukan karena pria tadi, aku mungkin tidak akan jatuh. Kenapa dia bisa ada di sana tiba-tiba.
"Huuh, dasar, harusnya orang itu menangkapku, tega sekali dia." Aku membuang kapas bekas lukaku ke dalam bak sampah.
"Kenapa kamu berharap? Memangnya kamu siapa? Kamu hanyalah orang gila yang gilanya bisa kambuh kapan saja." Aku menyalahi diriku sendiri di depan cermin wastafel.
Aku mengembus napas panjang setelah menyadari perbuatanku. Aku tidak boleh menghina diriku karena orang-orang menghinaku. Aku harus meyakini diriku, bukan meyakini ucapan mereka. Perasaanku mulai lagi, sesuatu yang membuatku tidak percaya diri adalah jika diriku mulai menghinaku. Aku selalu berusaha agar tidak seperti itu.
"Please.. I am not crazy.."
"I am not crazy.."
"I am not crazy.."
Suaraku hampir berbisik dan menjadi berbisik pada kalimat terakhir. Aku bangkit dan berdiri dari ringkukkanku, mengambil pil yang hampir menjadi makananku setiap hari. Aku sudah berusaha menghindarinya, tapi dia selalu saja memanggilku untuk memakannya.
Satu pil berhasil masuk ke mulutku. Pahit. Kuluruskan kakiku di atas kasur dan memejamkan mata, berusaha untuk melupakan hari ini, hingga aku terlelap.
***
Hari ini seperti biasa, jam istirahat di sekolah aku duduk di atas rumput di bawah pohon rindang yang biasa aku tempati.
Hari ini aku membawa headphone dan hp dengan layar retak-retak karena insiden kemarin. Tak masalah, setidaknya hp ini masih mengizinkanku mendengarkan lagu-lagunya.
Kudengar hari ini berita yang sedang hangat dibicarakan oleh cewek-cewek penggosip itu adalah masuknya murid baru. Pastinya karena murid baru itu cowok dan bisa dibilang ganteng menurut mereka. Kalau tidak seperti itu gak mungkin jadi berita hangat.
Mungkin aku satu-satunya wanita yang tidak peduli. Lagian untuk apa? Jika murid baru itu tau tentang diriku, dia juga pasti tidak akan mau berteman denganku.
Aku mengangkat buku bacaanku hingga menutupi wajah, sesuatu di kejauhan sana seolah mengganggu perasaanku. Anak-anak cowok itu pasti sedang membicarakanku. Lalu, aku merasakan kehadiran seseorang di depanku, sedang berdiri menghadapku. Aku menurunkan sedikit buku bacaan dan melihat ke arahnya. Dia melihatku, dengan cepat aku kembali mengangkat buku itu menutupi wajah.
"Hei." Dengan tangan kanannya dia menurunkan buku bacaan yang menutupi wajahku.
Sepertinya aku pernah melihatnya, dia orang yang membuatku jatuh dari pohon kemarin.
"Kamu cewek yang kemarin, kan?"
Aku tak menjawab dan yang terpenting yang harus kalian tau ternyata dia murid barunya.
"Arken." Dia menjulurkan tangan kanannya dan tersenyum padaku untuk berkenalan.
Aku telah berusaha untuk menerimanya, tapi kurasa itu percuma dan akan sia-sia. Dia akan membenciku dan menjauhiku, atau mungkin sekarang dia hanya mempermainkanku dan menjadikanku bahan lelucon karena kuyakin dia ada bersama rombongan cowok itu tadi.
Teett... Teett... Teett...
Akhirnya bel masuk berbunyi, aku berdiri dari duduk dan berjalan meninggalkannya di situ tanpa bicara apapun. Kudengar rombongan cowok di sana tertawa melihat Arken, cowok yang barusan memperkenalkan namanya padaku. Bukannya sudah kubilang, mereka hanya menjadikanku bahan lelucon. Apa itu yang disebut teman? Bukankah aku beruntung karena tidak memiliki teman seperti mereka? Yah, kurasa aku beruntung.
Bersambung
Index
2. Arken
3. Berteman
4. Psikis
5. Hariku
6. Masalahku
7. Wanita Bahagia
8. Wanita Bahagia 2
9. Pentas Seni
10. Pentas Seni 2
11. Memori
12. Reuni
13. Fungsi Hati
14. Hari Terakhir
15. Ana
16. Perasaan Rindu
17. Kematian Ana
18. Teror
Diubah oleh tiawittami 14-01-2020 19:21
nona212 dan 16 lainnya memberi reputasi
17
7.8K
90
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
tiawittami
#43
7. Wanita Bahagia
Setelah hari itu, bunda mengajakku untuk tinggal sementara di rumahnya. Awalnya aku ragu, tapi bunda meyakiniku dan membuatku sangat ingin ikut dengannya.
Untuk beberapa hari aku tinggal di sana. Aku tidur bersama bunda, tak jarang kami jalan-jalan, menghabiskan waktu untuk shoping berdua setelah aku pulang sekolah. Oh iya, satu lagi yang aku tau, ternyata Ayah Arken seorang TNI yang sedang bertugas di luar kota, makanya bunda menyuruhku untuk tidur dengannya.
Usia bunda yang kurasa masih terbilang muda ternyata sangat cocok untukku, aku merasa seperti dia adalah temanku, aku juga merasa kalau dia ibuku, ibu kandungku. Ah, tidak, aku tidak boleh merebutnya dari Arken. Aku jadi sangat dekat sekali dengan bunda daripada Arken, aku lebih sering menghabiskan waktu dengan bunda. Hingga suatu hari Arken protes padaku.
"Aku marah sama bunda," kata Arken saat aku dengannya sedang duduk di bawah pohon dekat rumahnya.
"Kenapa?"
"Dia ngambil kamu dari aku." Dia menjawab dengan raut tertekuk, aku lucu melihatnya. "Yang kenal sama kamu duluan kan aku, bukan bunda," katanya lagi. Aku tertawa mendengar pengakuannya.
"Gak lucu." Dia cemberu. "Sekarang kamu jujur, lebih suka main sama aku apa sama Bunda?" Dia bertanya serius.
"Sama Bunda, dong," kataku sekalian meledek Arken. Dia menatapku tajam untuk beberapa detik, lalu pura-pura menangis. Aku tertawa sangat keras. Dia membuat ekspresinya terlihat sangat lucu, walau kutahu itu hanya dibuat-buat.
"Jahat, hweeee," katanya dengan suara tangis abal-abal.
"Kamu lucu." Aku tertawa puas sekali menyaksikan wajah Arken, dia pintar sekali berakting. Dia berhenti dan tersenyum melihatku.
Dia menepuk-nepuk pundakku. "Udah-udah nanti perutmu sakit," katanya karena aku sulit sekali berhenti tertawa. "Aku mau ngajak kamu joging nanti sore," katanya lagi.
"Yah, tapi bunda mau ngajak aku foto-foto di puncak," kataku, membuat Arken memasang wajah kesalnya. Untuk menit berikutnya dia bangkit dan pergi meninggalkanku.
Aku menahan kakinya yang ingin melangkah lagi sambil tertawa sangat puas. "Arken, aku bercanda, aku bercanda, hahahaha," ucapku tak bisa berhenti dari tawa itu. Wajahnya kembali cemberut, dia melihatku sedikit kesal lalu berjongkok dan mencubit pipiku geram.
"Arrghh, harus diberi pelajaran."
Tawaku masih saja terdengar hingga Arken menghentikan gerakannya. "Udah, yuk." Dia bangkit sambil mengangkat tanganku.
Aku masih dalam jongkokku. "Ke mana?"
"Kantor polisi," katanya. Aku mengernyitkan dahi. "Jalan-jalan, loh, Zerlin," jelasnya.
"Namaku!" protesku tak terima.
"Zerlin?" ledeknya mengulangi kata itu.
Aku tak suka nama itu 'Zerlin'. Yang kutahu itu adalah nama obat golongan anti-depresan yang pernah kuminum. Aku sangat ingat nama obat itu. Aku marah, aku tak mau bangun.
"Ayuk, bangun. Mau bangun apa kugendong?" Aku tak meladeninya, kubuang pandangan darinya. Lalu dia beneran mengangkat tubuhku.
"Yaa! Arken, nanti jatoh, turun, turun, turun, iya iya aku bangun, aku jalan, aku jalan," kataku panik. Gimana gak panik, dia mengangkatku dengan posisiku tadi yang sedang berjongkok, ada-ada saja. Aku mengaitkan tanganku ke pundaknya, takut jatuh. "Arken, kakiku keram." Dia malah tertawa, lalu menurunkanku.
Kami sampai di depan rumahnya, bukannya dia bilang tadi mau jalan-jalan?
"Katanya mau jalan-jalan?" Aku menagih ucapannya tadi.
"Iya, tapi gak jalan kaki, nanti capek. Tunggu sini," kata dia, aku nurut saja. Dia masuk ke dalam dan mengeluarkan sepeda. "Kita naik ini," ucap Arken sambil menaiki sepeda itu.
"Terus aku?"
"Kamu pake punya Bunda, tuh." Arken menunjuk sepeda perempuan dengan sangke menggantung di depannya. Aku maju dan melihat sepeda dalam lorong kecil itu.
"Ayuk." Aku terdiam di tempatku. "Kenapa? Kamu gak bisa ngeluarinnya?" tanya Arken yang sudah siap meluncur dengan sepedanya.
"Aku gak bisa bawa sepeda...." kataku pelan sambil nunduk, aku malu.
"Serius? Pfftt, hahahaha." Dia tertawa. "Serius kamu gak bisa bawa sepeda?" tanyanya lagi dengan tawa yang terdengar sangat bahagia itu.
Aku mendekati sepedanya. "Arken... jangan naik sepeda," keluhku sambil mengguncang sepedanya agar dia turun. "Aku gak bisa bawa sepeda," rengekku.
"Tapi aku mau naik sepeda," katanya.
"Jangaaan...." Kugoncang lagi sepedanya itu, memaksanya untuk turun sekarang juga.
"Yaudah yaudah, kita naik sepeda bunda aja." Dia turun dari sepedanya dan mengeluarkan sepeda dengan sangke yang menggantung di depannya. "Kamu naik di belakang, aku bonceng," katanya. Aku tersenyum menunjukkan deretan gigiku, lalu naik di boncengan belakang dengan posisi duduk miring karena aku pakai androk selutut.
"Pegangan."
"Gini?" tanyaku sambil memegang pundaknya.
Dia mengambil tanganku di pundaknya lalu memindahkan pegangan itu ke pinggangnya. "Gini," katanya, aku nurut. "Siap?" tanyanya sebelum kami jalan.
"Siaaaaaaaap!" kataku semangat.
Arken menggoes sepeda itu mengelilingi komplek. Aku menikmati silir angin yang menerpa wajahku. Ternyata seru ya, tak peduli sepanas apa siang ini, aku sangat menikmati perjalanannya. Baru kali ini aku merasakan serunya naik sepeda, aku tidak pernah merasakan kebahagiaan seperti ini sebelumnya, rasanya bahagia sekali.
"Kamu gak kepanasan?" tanya Arken
"Nggak," jawabku, padahal matahari siang bisa dibilang panas sekali, tapi tidak berasa bagiku untuk saat-saat seperti ini.
"Aku kepanasan," kata Arken. "Kita berenti dulu ya," pintanya. Kurasa dia juga sudah mulai letih mengayuh sepedanya, terbukti dengan kayuhannya yang semakin melambat.
"Iya," kataku.
Kami berhenti di bawah pohon, di pinggir embung yang letaknya di ujung komplek. Arken memarkirkan sepedanya lalu berbaring di atas rumput dengan bayangan pohon yang membuat kami dapat berteduh. Aku duduk di sebelahnya.
Arken mengatur napasnya yang sedikit terengah, kulihat wajahnya yang memerah sebab panasnya terik matahari siang itu. "Kamu capek ya?" tanyaku sambil mengipas wajahnya menggunakan tanganku.
Dia membuka matanya yang tadi terpejam. "Kamu kira aku sate?" Dilihatnya tanganku yang mengipas-ngipas wajahnya. Aku tertawa kecil. "Makasih," katanya lagi sambil memejamkan mata.
Kuusap keringat di dahinya, dia tak bergeming. Kuperhatikan dia, manis sekali. Dia seperti malaikat bagiku, aku sangat beruntung bertemu dengannya. Akhirnya yang aku tunggu datang. Terimakasih untuk hadiah ini, aku suka, sangat suka.
Sudah hampir satu jam kami di sini, Arken belum membuka matanya. Dia tertidur ya? Kasihan sekali, dia pasti kelelahan. Aku menunggunya bangun tanpa membangunkannya, hingga dua jam berlalu.
"Dia beneran tidur, kan? Arken...."
Entah kenapa tiba-tiba saja aku merasa takut, kubangunkan dia. "Arken bangun." Dia tidak bangun, kuperhatikan napasnya, normal, tapi kenapa dia tidak mau bangun. "Arken...." Kugoyangkan tubuhnya. "Bangun!" Untuk detik berikutnya kuperhatikan perutnya tidak naik-turun. "Arken?" Dia lemas.
"Arken!! Bangun!" Aku teriak hampir menangis karena pikiranku yang mengira dia tak bernapas. Aku memaksanya bangun, tapi dia tak mau bangun, hingga aku menangis sungguhan.
Lalu dia membuka matanya dan tertawa terbahak-bahak. Aku jadi merasa konyol dengan air mata yang masih tersisa di wajahku. Aku memukulnya kesal sekali. Dia duduk dan berusaha menahan tawanya karena aku tak berhenti memukulnya geram.
"Nggak lucu, iih," kataku sambil mengusap wajahku.
"Itu lucu banget, Zerina. Hei, hei, kamu kira aku kenapa? Kamu khawatir sama aku," katanya disela-sela tawanya sambil memegang kedua pipiku.
"Tadi kamu itu gak napas!" bentakku.
Dia nambah tertawa. "Aku napas, loh. Nih, aku bernapas nih, iya, kan." Dia menunjukkan napasnya dalam-dalam.
Aku jadi merasa konyol sekali, dia malah tertawa bahagia sekali. Padahal aku sudah sangat takut kehilangannya, pikiranku terlalu was-was, hatiku cemas, aku begitu takut, membuatku jadi terlihat sangat konyol. Biar saja, aku terlalu takut kehilangan orang yang kusayang untuk kedua kalinya.
"Utututu, udah-udah, aku bercanda. Jangan sedih gitu, dong." Dia mengusap wajahku.
"Aku cuma takut," kataku.
"Tidak, tidak, tidak ada yang perlu kamu takut, oke?" katanya. Aku nunduk. "Kamu gak perlu takut, tidak ada yang harus ditakuti, oke?" Dia mengangkat wajahku. "Oke, gak, nih?" katanya sekali lagi. Aku menganggukkan kepala mengerti.
"Nah, sekarang kita pulang, yuk. Nanti sore main lagi," kata Arken.
"Emangnya kamu gak capek?" tanyaku.
"Kamu capek?"
Aku menggeleng.
"Kalau kamu aja gak capek, kenapa aku capek. Yaudah, yuk."
Kami pulang ke rumah Arken. Selama perjalanan pulang itu dia mengajakku bernyanyi, tapi aku tidak pandai bernyanyi. Jadi, aku hanya mendengarkannya.
"Kan kusayangi kau... Sampai akhir duniaaaa 🎶 kan kujadikan... Kamu wanitaaa, paling bahagia di seluruh duniaaa 🎶 karena kamulah, satu-satunyaaa..."
Aku mendengarkannya, dia semangat sekali. "Suara kamu bagus!" kataku sambil teriak.
"Suara kamu juga."
"Tapi aku kan, gak nyanyi."
"Tapi aku kan, bisa denger suara hati kamu," katanya di antara semilir angin yang menemani kami. Aku tertawa mendengarnya.
Sisa hari di siang itu kami habiskan waktu untuk bermain catur sambil menonton TV. Aku sudah katakan padanya jika aku tidak bisa main catur, tapi dia memaksa. Katanya jalanin aja bidak-bidak catur itu. Namun, ketika aku menjalankannya, dia malah tertawa sambil memakan bidak caturku.
"Kok, dimakan lagi!" protesku.
"Iyalah, makanya jangan jalan ke sini," katanya.
"Gantian, aku juga makan ini." Aku menjalankan pionku lurus dan memakan salah satu bidak caturnya. Dia mengelak.
"Loh, gak bisa, dong. Masa makannya lurus, gak bisa itu," protesnya. Aku sudah mengambil satu bidak caturnya itu. "Balikin lagi!" perintahnya.
"Gak mau, udah kumakan," ucapku.
"Gak bisa, Zer, itu jalannya salah."
"Terserah."
"Kamu gak bisa makan raja, kalo yang ini tadi baru bisa," katanya sambil menunjuk seekor kuda yang tadinya berdiri disamping raja.
"Nggak. Aku maunya yang ini," kataku menyembunyikan bidak catur itu. Dia melihatku pasrah.
Lalu bunda datang dan duduk di samping kami. "Seru banget, siapa yang menang?" tanya bunda melihat papan catur kami, Arken melihat bunda lesu. Aku tidak tahu kenapa.
"Wah, akhirnya ya. Arken bisa dikalahkan juga. Kamu hebat!" seru bunda sambil melihat ke arahku.
Aku tak menyangka. "Iya bunda?" tanyaku.
"Bunda aja gak pernah menang main sama dia," kata bunda lagi.
"Zerina licik, Nda. Masa makannya lurus," protes Arken.
"Kamu juga, tadi makannya lurus," balasku pada Arken.
"Ya, tapi, kan, aku makannya pake menteri," kata Arken sambil menunjuk salah satu bidak caturnya yang memang bentuknya lebih tinggi dari pionku.
"Sama aja," kataku memaksa.
"Bedaaaa," katanya.
"Iyatah, Bunda?" tanyaku pada Bunda.
"Sama, kok," kata bunda sambil menepuk pundaku. Aku mencibir ke Arken, dia memasang wajah pasrah.
"Iya, deh, kamu menang," kata Arken.
"Yeay!"
Sesuai perjanjian kami tadi, yang kalah dihukum. "Bunda, hukuman apa yang cocok untuk Arken?" tanyaku.
"Hm, apa ya?" Bunda berpikir. "Oh, iya Bunda tau."
Kami pun berjalan ke belakang, Bunda menyuruh Arken mengambil sesuatu di gudang. "Bunda, janganlah buat malu," ucap Arken terlihat memohon.
"Biar kamu bisa melawan takutmu," kata Bunda memberi semangat.
"Emangnya ada apa, Bunda?" Aku belum mengerti apa yang dilakukan mereka.
"Kamu tunggu aja ya," kata Bunda. "Cepat, Arken. Ambil barangnya," suruh bunda pada Arken.
"Bunda jahat," keluh Arken.
Bunda tertawa bahagia sekali. Arken mulai melangkah masuk ke dalam gudang dan mengambil penyedot debu di dalam. Dia berlari ke luar setelah mendapatkan apa yang dicarinya. Arken mengganjal pintu gudang itu dengan tubuhnya. "Nih, nih, yang Nda cari." Dia memberikan penyedot debunya pada bunda dan berlari meninggalkan kami di situ.
Aku penasaran, ada apa di dalam? Kudorong pintu yang belum tertutup rapat itu, tidak ada apa-apa. Lalu kulihat seekor kecoa yang berjalan keluar dari gudang itu. Bunda masih tertawa melihat Arken yang lari terbirit-birit dari sini, dia terlihat bahagia sekali.
"Aduuuh... Arken, Arken." Bunda menggelengkan kepalanya dan mencoba berhenti dari tawanya.
"Arken takut kecoa ya, Nda?" tanyaku memastikan setelah melihat apa yang terjadi barusan. Bunda menganggukkan kepalanya semangat.
"Serius, Nda?" tanyaku tak menyangka.
"Iya, jadi Arken itu gak berani sama kecoa."
Kami berjalan meninggalkan tempat itu sambil bunda bercerita tentang Arken. "Semenjak Arken tahu kalau kecoa itu masih bisa hidup walaupun kepalanya sudah hilang, dia jadi gak berani. Apalagi waktu itu dia lihat kecoa terbalik dan kakinya masih goyang-goyang padahal kepalanya udah gak ada. Dia langsung gak berani ngambil sepatu rodanya yang disimpan di gudang."
Aku tertawa kecil mendengar penjelasan bunda. Namun, setelah kupikir lagi, ternyata mengerikan juga ya.
Bersambung..
Untuk beberapa hari aku tinggal di sana. Aku tidur bersama bunda, tak jarang kami jalan-jalan, menghabiskan waktu untuk shoping berdua setelah aku pulang sekolah. Oh iya, satu lagi yang aku tau, ternyata Ayah Arken seorang TNI yang sedang bertugas di luar kota, makanya bunda menyuruhku untuk tidur dengannya.
Usia bunda yang kurasa masih terbilang muda ternyata sangat cocok untukku, aku merasa seperti dia adalah temanku, aku juga merasa kalau dia ibuku, ibu kandungku. Ah, tidak, aku tidak boleh merebutnya dari Arken. Aku jadi sangat dekat sekali dengan bunda daripada Arken, aku lebih sering menghabiskan waktu dengan bunda. Hingga suatu hari Arken protes padaku.
"Aku marah sama bunda," kata Arken saat aku dengannya sedang duduk di bawah pohon dekat rumahnya.
"Kenapa?"
"Dia ngambil kamu dari aku." Dia menjawab dengan raut tertekuk, aku lucu melihatnya. "Yang kenal sama kamu duluan kan aku, bukan bunda," katanya lagi. Aku tertawa mendengar pengakuannya.
"Gak lucu." Dia cemberu. "Sekarang kamu jujur, lebih suka main sama aku apa sama Bunda?" Dia bertanya serius.
"Sama Bunda, dong," kataku sekalian meledek Arken. Dia menatapku tajam untuk beberapa detik, lalu pura-pura menangis. Aku tertawa sangat keras. Dia membuat ekspresinya terlihat sangat lucu, walau kutahu itu hanya dibuat-buat.
"Jahat, hweeee," katanya dengan suara tangis abal-abal.
"Kamu lucu." Aku tertawa puas sekali menyaksikan wajah Arken, dia pintar sekali berakting. Dia berhenti dan tersenyum melihatku.
Dia menepuk-nepuk pundakku. "Udah-udah nanti perutmu sakit," katanya karena aku sulit sekali berhenti tertawa. "Aku mau ngajak kamu joging nanti sore," katanya lagi.
"Yah, tapi bunda mau ngajak aku foto-foto di puncak," kataku, membuat Arken memasang wajah kesalnya. Untuk menit berikutnya dia bangkit dan pergi meninggalkanku.
Aku menahan kakinya yang ingin melangkah lagi sambil tertawa sangat puas. "Arken, aku bercanda, aku bercanda, hahahaha," ucapku tak bisa berhenti dari tawa itu. Wajahnya kembali cemberut, dia melihatku sedikit kesal lalu berjongkok dan mencubit pipiku geram.
"Arrghh, harus diberi pelajaran."
Tawaku masih saja terdengar hingga Arken menghentikan gerakannya. "Udah, yuk." Dia bangkit sambil mengangkat tanganku.
Aku masih dalam jongkokku. "Ke mana?"
"Kantor polisi," katanya. Aku mengernyitkan dahi. "Jalan-jalan, loh, Zerlin," jelasnya.
"Namaku!" protesku tak terima.
"Zerlin?" ledeknya mengulangi kata itu.
Aku tak suka nama itu 'Zerlin'. Yang kutahu itu adalah nama obat golongan anti-depresan yang pernah kuminum. Aku sangat ingat nama obat itu. Aku marah, aku tak mau bangun.
"Ayuk, bangun. Mau bangun apa kugendong?" Aku tak meladeninya, kubuang pandangan darinya. Lalu dia beneran mengangkat tubuhku.
"Yaa! Arken, nanti jatoh, turun, turun, turun, iya iya aku bangun, aku jalan, aku jalan," kataku panik. Gimana gak panik, dia mengangkatku dengan posisiku tadi yang sedang berjongkok, ada-ada saja. Aku mengaitkan tanganku ke pundaknya, takut jatuh. "Arken, kakiku keram." Dia malah tertawa, lalu menurunkanku.
Kami sampai di depan rumahnya, bukannya dia bilang tadi mau jalan-jalan?
"Katanya mau jalan-jalan?" Aku menagih ucapannya tadi.
"Iya, tapi gak jalan kaki, nanti capek. Tunggu sini," kata dia, aku nurut saja. Dia masuk ke dalam dan mengeluarkan sepeda. "Kita naik ini," ucap Arken sambil menaiki sepeda itu.
"Terus aku?"
"Kamu pake punya Bunda, tuh." Arken menunjuk sepeda perempuan dengan sangke menggantung di depannya. Aku maju dan melihat sepeda dalam lorong kecil itu.
"Ayuk." Aku terdiam di tempatku. "Kenapa? Kamu gak bisa ngeluarinnya?" tanya Arken yang sudah siap meluncur dengan sepedanya.
"Aku gak bisa bawa sepeda...." kataku pelan sambil nunduk, aku malu.
"Serius? Pfftt, hahahaha." Dia tertawa. "Serius kamu gak bisa bawa sepeda?" tanyanya lagi dengan tawa yang terdengar sangat bahagia itu.
Aku mendekati sepedanya. "Arken... jangan naik sepeda," keluhku sambil mengguncang sepedanya agar dia turun. "Aku gak bisa bawa sepeda," rengekku.
"Tapi aku mau naik sepeda," katanya.
"Jangaaan...." Kugoncang lagi sepedanya itu, memaksanya untuk turun sekarang juga.
"Yaudah yaudah, kita naik sepeda bunda aja." Dia turun dari sepedanya dan mengeluarkan sepeda dengan sangke yang menggantung di depannya. "Kamu naik di belakang, aku bonceng," katanya. Aku tersenyum menunjukkan deretan gigiku, lalu naik di boncengan belakang dengan posisi duduk miring karena aku pakai androk selutut.
"Pegangan."
"Gini?" tanyaku sambil memegang pundaknya.
Dia mengambil tanganku di pundaknya lalu memindahkan pegangan itu ke pinggangnya. "Gini," katanya, aku nurut. "Siap?" tanyanya sebelum kami jalan.
"Siaaaaaaaap!" kataku semangat.
Arken menggoes sepeda itu mengelilingi komplek. Aku menikmati silir angin yang menerpa wajahku. Ternyata seru ya, tak peduli sepanas apa siang ini, aku sangat menikmati perjalanannya. Baru kali ini aku merasakan serunya naik sepeda, aku tidak pernah merasakan kebahagiaan seperti ini sebelumnya, rasanya bahagia sekali.
"Kamu gak kepanasan?" tanya Arken
"Nggak," jawabku, padahal matahari siang bisa dibilang panas sekali, tapi tidak berasa bagiku untuk saat-saat seperti ini.
"Aku kepanasan," kata Arken. "Kita berenti dulu ya," pintanya. Kurasa dia juga sudah mulai letih mengayuh sepedanya, terbukti dengan kayuhannya yang semakin melambat.
"Iya," kataku.
Kami berhenti di bawah pohon, di pinggir embung yang letaknya di ujung komplek. Arken memarkirkan sepedanya lalu berbaring di atas rumput dengan bayangan pohon yang membuat kami dapat berteduh. Aku duduk di sebelahnya.
Arken mengatur napasnya yang sedikit terengah, kulihat wajahnya yang memerah sebab panasnya terik matahari siang itu. "Kamu capek ya?" tanyaku sambil mengipas wajahnya menggunakan tanganku.
Dia membuka matanya yang tadi terpejam. "Kamu kira aku sate?" Dilihatnya tanganku yang mengipas-ngipas wajahnya. Aku tertawa kecil. "Makasih," katanya lagi sambil memejamkan mata.
Kuusap keringat di dahinya, dia tak bergeming. Kuperhatikan dia, manis sekali. Dia seperti malaikat bagiku, aku sangat beruntung bertemu dengannya. Akhirnya yang aku tunggu datang. Terimakasih untuk hadiah ini, aku suka, sangat suka.
Sudah hampir satu jam kami di sini, Arken belum membuka matanya. Dia tertidur ya? Kasihan sekali, dia pasti kelelahan. Aku menunggunya bangun tanpa membangunkannya, hingga dua jam berlalu.
"Dia beneran tidur, kan? Arken...."
Entah kenapa tiba-tiba saja aku merasa takut, kubangunkan dia. "Arken bangun." Dia tidak bangun, kuperhatikan napasnya, normal, tapi kenapa dia tidak mau bangun. "Arken...." Kugoyangkan tubuhnya. "Bangun!" Untuk detik berikutnya kuperhatikan perutnya tidak naik-turun. "Arken?" Dia lemas.
"Arken!! Bangun!" Aku teriak hampir menangis karena pikiranku yang mengira dia tak bernapas. Aku memaksanya bangun, tapi dia tak mau bangun, hingga aku menangis sungguhan.
Lalu dia membuka matanya dan tertawa terbahak-bahak. Aku jadi merasa konyol dengan air mata yang masih tersisa di wajahku. Aku memukulnya kesal sekali. Dia duduk dan berusaha menahan tawanya karena aku tak berhenti memukulnya geram.
"Nggak lucu, iih," kataku sambil mengusap wajahku.
"Itu lucu banget, Zerina. Hei, hei, kamu kira aku kenapa? Kamu khawatir sama aku," katanya disela-sela tawanya sambil memegang kedua pipiku.
"Tadi kamu itu gak napas!" bentakku.
Dia nambah tertawa. "Aku napas, loh. Nih, aku bernapas nih, iya, kan." Dia menunjukkan napasnya dalam-dalam.
Aku jadi merasa konyol sekali, dia malah tertawa bahagia sekali. Padahal aku sudah sangat takut kehilangannya, pikiranku terlalu was-was, hatiku cemas, aku begitu takut, membuatku jadi terlihat sangat konyol. Biar saja, aku terlalu takut kehilangan orang yang kusayang untuk kedua kalinya.
"Utututu, udah-udah, aku bercanda. Jangan sedih gitu, dong." Dia mengusap wajahku.
"Aku cuma takut," kataku.
"Tidak, tidak, tidak ada yang perlu kamu takut, oke?" katanya. Aku nunduk. "Kamu gak perlu takut, tidak ada yang harus ditakuti, oke?" Dia mengangkat wajahku. "Oke, gak, nih?" katanya sekali lagi. Aku menganggukkan kepala mengerti.
"Nah, sekarang kita pulang, yuk. Nanti sore main lagi," kata Arken.
"Emangnya kamu gak capek?" tanyaku.
"Kamu capek?"
Aku menggeleng.
"Kalau kamu aja gak capek, kenapa aku capek. Yaudah, yuk."
Kami pulang ke rumah Arken. Selama perjalanan pulang itu dia mengajakku bernyanyi, tapi aku tidak pandai bernyanyi. Jadi, aku hanya mendengarkannya.
"Kan kusayangi kau... Sampai akhir duniaaaa 🎶 kan kujadikan... Kamu wanitaaa, paling bahagia di seluruh duniaaa 🎶 karena kamulah, satu-satunyaaa..."
Aku mendengarkannya, dia semangat sekali. "Suara kamu bagus!" kataku sambil teriak.
"Suara kamu juga."
"Tapi aku kan, gak nyanyi."
"Tapi aku kan, bisa denger suara hati kamu," katanya di antara semilir angin yang menemani kami. Aku tertawa mendengarnya.
Sisa hari di siang itu kami habiskan waktu untuk bermain catur sambil menonton TV. Aku sudah katakan padanya jika aku tidak bisa main catur, tapi dia memaksa. Katanya jalanin aja bidak-bidak catur itu. Namun, ketika aku menjalankannya, dia malah tertawa sambil memakan bidak caturku.
"Kok, dimakan lagi!" protesku.
"Iyalah, makanya jangan jalan ke sini," katanya.
"Gantian, aku juga makan ini." Aku menjalankan pionku lurus dan memakan salah satu bidak caturnya. Dia mengelak.
"Loh, gak bisa, dong. Masa makannya lurus, gak bisa itu," protesnya. Aku sudah mengambil satu bidak caturnya itu. "Balikin lagi!" perintahnya.
"Gak mau, udah kumakan," ucapku.
"Gak bisa, Zer, itu jalannya salah."
"Terserah."
"Kamu gak bisa makan raja, kalo yang ini tadi baru bisa," katanya sambil menunjuk seekor kuda yang tadinya berdiri disamping raja.
"Nggak. Aku maunya yang ini," kataku menyembunyikan bidak catur itu. Dia melihatku pasrah.
Lalu bunda datang dan duduk di samping kami. "Seru banget, siapa yang menang?" tanya bunda melihat papan catur kami, Arken melihat bunda lesu. Aku tidak tahu kenapa.
"Wah, akhirnya ya. Arken bisa dikalahkan juga. Kamu hebat!" seru bunda sambil melihat ke arahku.
Aku tak menyangka. "Iya bunda?" tanyaku.
"Bunda aja gak pernah menang main sama dia," kata bunda lagi.
"Zerina licik, Nda. Masa makannya lurus," protes Arken.
"Kamu juga, tadi makannya lurus," balasku pada Arken.
"Ya, tapi, kan, aku makannya pake menteri," kata Arken sambil menunjuk salah satu bidak caturnya yang memang bentuknya lebih tinggi dari pionku.
"Sama aja," kataku memaksa.
"Bedaaaa," katanya.
"Iyatah, Bunda?" tanyaku pada Bunda.
"Sama, kok," kata bunda sambil menepuk pundaku. Aku mencibir ke Arken, dia memasang wajah pasrah.
"Iya, deh, kamu menang," kata Arken.
"Yeay!"
Sesuai perjanjian kami tadi, yang kalah dihukum. "Bunda, hukuman apa yang cocok untuk Arken?" tanyaku.
"Hm, apa ya?" Bunda berpikir. "Oh, iya Bunda tau."
Kami pun berjalan ke belakang, Bunda menyuruh Arken mengambil sesuatu di gudang. "Bunda, janganlah buat malu," ucap Arken terlihat memohon.
"Biar kamu bisa melawan takutmu," kata Bunda memberi semangat.
"Emangnya ada apa, Bunda?" Aku belum mengerti apa yang dilakukan mereka.
"Kamu tunggu aja ya," kata Bunda. "Cepat, Arken. Ambil barangnya," suruh bunda pada Arken.
"Bunda jahat," keluh Arken.
Bunda tertawa bahagia sekali. Arken mulai melangkah masuk ke dalam gudang dan mengambil penyedot debu di dalam. Dia berlari ke luar setelah mendapatkan apa yang dicarinya. Arken mengganjal pintu gudang itu dengan tubuhnya. "Nih, nih, yang Nda cari." Dia memberikan penyedot debunya pada bunda dan berlari meninggalkan kami di situ.
Aku penasaran, ada apa di dalam? Kudorong pintu yang belum tertutup rapat itu, tidak ada apa-apa. Lalu kulihat seekor kecoa yang berjalan keluar dari gudang itu. Bunda masih tertawa melihat Arken yang lari terbirit-birit dari sini, dia terlihat bahagia sekali.
"Aduuuh... Arken, Arken." Bunda menggelengkan kepalanya dan mencoba berhenti dari tawanya.
"Arken takut kecoa ya, Nda?" tanyaku memastikan setelah melihat apa yang terjadi barusan. Bunda menganggukkan kepalanya semangat.
"Serius, Nda?" tanyaku tak menyangka.
"Iya, jadi Arken itu gak berani sama kecoa."
Kami berjalan meninggalkan tempat itu sambil bunda bercerita tentang Arken. "Semenjak Arken tahu kalau kecoa itu masih bisa hidup walaupun kepalanya sudah hilang, dia jadi gak berani. Apalagi waktu itu dia lihat kecoa terbalik dan kakinya masih goyang-goyang padahal kepalanya udah gak ada. Dia langsung gak berani ngambil sepatu rodanya yang disimpan di gudang."
Aku tertawa kecil mendengar penjelasan bunda. Namun, setelah kupikir lagi, ternyata mengerikan juga ya.
Bersambung..
jiyanq dan medina12 memberi reputasi
2