- Beranda
- The Lounge
[SKENARIO FILM PENDEK] Obrolan Dua 'Malaikat'
...
TS
rezaagustin
[SKENARIO FILM PENDEK] Obrolan Dua 'Malaikat'
![[SKENARIO FILM PENDEK] Obrolan Dua 'Malaikat'](https://s.kaskus.id/images/2019/11/27/10564164_201911271158340844.jpg)
Skenario: Obrolan Dua 'Malaikat'
Premis:
Dua 'orang malaikat' saling menjelekkan manusia karena membuat mereka kesusahan, walau sebenarnya mereka ini bukanlah 'malaikat', hanya pasien rumah sakit jiwa.
Sinopsis:
'Malaikat Roqib' mengeluh pada 'Malaikat Atid' karena sering menganggur, tak ada pekerjaan. Sedangkan 'Malaikat Atid' protes karena banyak manusia melakukan dosa sehingga tugasnya makin menggunung. Di saat mereka sedang menjelekkan manusia, tiba-tiba saja seorang perawat datang dan menyuruh keduanya tenang. Ia bilang, mereka dipanggil 'Tuhan' untuk mengambil gaji. Saat keduanya pergi, tukang kebun yang baru bekerja bertanya pada suster mengapa mereka seperti itu. Suster menjawab bahwa mereka korban politik. 'Malaikat Atid' stres karena jagoannya kalah dan tidak mendapat apa pun dari jagoannya walaupun sudah menjual rumah demi membantu kampanye. Sedangkan 'Malaikat Roqib' depresi karena jagoannya tak memberikan tempat di pemerintahan seperti yang dijanjikan jagoannya yang menang.
SCENE 1. EKT. Taman yang memiliki bangku panjang (Sore)
FADE IN
Cast: 'Malaikat Atid' dan tukang kebun
Camera: ESTABLISH: Memperlihatkan taman yang memiliki sebuah bangku dan beberapa tanaman hias yang rimbun. 'Malaikat Atid' sedang beristirahat setelah kerja dengan suasana sore di atas bangku, sedangkan tukang kebun sedang menyiangi rumput di belakang bangku.
SCENE 2. EKT. Taman yang memiliki bangku panjang (Sore)
Cast: 'Malaikat Atid ', 'Malaikat Roqib', dan tukang kebun
Camera: ESTABLISH: memperlihatkan taman, 'Malaikat Atid', Tukang Kebun, dan 'Malaikat Roqib' yang baru masuk. 'Malaikat Roqib' menepuk pundak 'Malaikat Atid'. 'Malaikat Atid' terkejut.
'Malaikat Atid': Kamu kenapa ngagetin?! Bisa copot jantungku!
'Malaikat Roqib': Lha, emangnya kita butuh jantung?
'Malaikat Atid': Iya juga, ya (menggosok belakang kepala)
'Malaikat Roqib': Loh, ngapain di sini?
'Malaikat Atid': Aku mau istirahat dulu sebelum ketemu 'Tuhan'. Pokoknya aku mau cuti!
'Malaikat Roqib': Lha kamu masih ada kerjaan. Aku nyaris gak ada kerjaan. Kayak orang nganggur. Lihat ini buku catatan aku sampai tipis kayak uang seribuan (Menunjukkan buku tipisnya)
BIG CLOSE UP: memperlihatkan buku catatan tipis yang kurang dari lima puluh halaman
'Malaikat Atid': Enak banget, lihat nih punyaku yang sampai dimasukkin karung. Itu cuma satu orang tahu! (Menunjuk tas di sampingnya)
BIG CLOSE UP: memperlihatkan tas yang penuh buku, salah satu bukunya jatuh karena tas terlalu penuh
'Malaikat Roqib': Kamu enak banyak kerjaan, daripada aku selalu diam, nganggur, makan gaji buta.
'Malaikat Atid': Lah, nganggur gak nganggur gajinya sama. Aku yang kerja jungkir balik kayak akrobat gajinya sama kayak kamu yang leha-leha.
'Malaikat Roqib': Salah manusia sih! Mereka makin seenaknya sendiri, mulut udah gak bisa dikontrol. Sukanya hujat ini itu, kayak dunia itu punya mereka, semuanya dihujat, orang berbuat baik dihujat, orang buat salah apa lagi, orang diam aja dihujat, orang aktif dihujat, mau punya calon pemimpin bukannya saling adu keunggulan, malah adu kejelekan. Mau mereka apa, sih? Sekarang jari mereka juga pada lincah, jadinya ke mana-mana nyebar fitnah, tafsiran gak ada dasarnya, opini yang menggiring, menyebar hal-hal buruk! Aduh, sampe males urusan sama mereka.
'Malaikat Atid': Yah, namanya aja manusia. Tempatnya luput dan salah, 'kan? Ternyata kamu juga lebih hafal orang-orang bikin dosa daripada yang buat baik. Kayak gak pernah dididik sejak kecil.
'Malaikat Roqib': Anak yang durhaka sama orangtuanya juga banyak, kok. Udah masuk daftar hitam semua! Jarang banget nyatat kebaikan anak ke orangtuanya.
'Malaikat Atid': Ya, semua manusia itu durhaka sama ibunya. Alam. Mereka semua durhaka sama ibu paling besar yang udah kasih mereka tempat berteduh dan menyediakan kebutuhan mereka. Saling menebang pohon, mencemari laut dengan limbah, buang sampah sembarangan, pokoknya banyak banget deh! Sampe bukunya gak muat lagi.
'Malaikat Roqib': Nah itu, mereka makin merusak aja. Giliran ada yang mau merawat alam malah diejek. Udah durhaka sama alam, giliran ada yang mau benerin malah diejek. Udah gila semua mereka!
'Malaikat Atid': Tapi ada satu lagi orang-orang yang dosanya bikin puyeng, bikin gumoh. Mereka memanfaatkan semuanya buat keuntungan sendiri dan golongan aja. Kayak impian anak-anak muda, agama, bencana, kepintaran, idih, pokoknya jijik!
'Malaikat Roqib': Kayaknya enakan nyatat amal baik aja, ya. Masih bisa santai-santai, tapi gaji sama.
'Malaikat Atid': Jadi kamu gak mau bantuin nih? Padahal kamu juga kayaknya bisa bantuin.
'Malaikat Roqib': Gak apa-apa, deh. Ambil aja semuanya sendiri.
SCENE 3. EKT. Taman yang memiliki bangku panjang (Sore)
Cast: 'Malaikat Atid', 'Malaikat Roqib', tukang kebun, dan suster.
Camera: ESTABLISH: Memperlihatkan keseluruhan taman dengan bangku. Tukang kebun mengamati dua malaikat yang saling bercakap-cakap. Seorang suster masuk.
Suster: Selamat sore Tuan Malaikat. Hayo ini sudah jam berapa?
'Malaikat Atid': Jam setengah enam, Sus. Ada apa?
'Malaikat Roqib': Apa sekarang waktunya terima gaji?
Suster: Iya, betul sekali Tuan-Tuan Malaikat. Silakan pergi duluan, ya. 'Tuhan' sudah menunggu.
Para 'malaikat' pergi. Tiba-tiba saja tukang kebun memanggil suster.
Tukang Kebun: Mbak Suster, boleh tanya mereka itu kenapa? Saya kan baru kerja di sini dua hari, jadi enggak kenal.
Suster: Oh, mereka. Mereka itu timses orang yang mencalonkan diri jadi DPRD, Pak.
Tukang Kebun: Oalah, kok mereka bisa jadi begitu? (sembari menunjukkan isyarat otak miring)
Suster: Yang katanya mencatat amal buruk itu maunya disebut 'Malaikat Atid', Pak. Dia depresi karena udah jual rumah dan tanah, jagoannya tetap kalah. Dan, dia sama sekali gak dihargai sama jagoannya yang kalah itu. Istrinya minggat bersama anak-anak, makanya dia begitu.
Tukang Kebun: Terus yang satunya?
Suster: Kalau yang itu maunya disebut 'Malaikat Roqib', Pak. Jagoannya menang, sih. Tapi jagoannya itu ingkar janji, katanya mau dipekerjakan di pemerintahan, ternyata gak. Padahal dia udah kuliah sampai luar negeri, hutang juga sama rekannya orang luar. Hutang dolar lagi, gimana gak depresi?
Tukang Kebun: Itulah kenapa kita harusnya gak boleh terlalu fanatik. Siapa tahu nanti kita dikhianati juga.
Suster: Nah itu, mereka juga bukan nabi atau Yang Maha Kuasa itu sendiri. Mari, Pak.
Tukang Kebun: Iya, Mbak.
SOUND: suara burung
FADE OUT
sebelahblog dan 2 lainnya memberi reputasi
3
925
4
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
The Lounge
1.3MThread•105KAnggota
Tampilkan semua post
TS
rezaagustin
#1
[SKENARIO FILM PENDEK] Obrolan Dua 'Malaikat'

Skenario: Obrolan Dua 'Malaikat'
Premis:
Dua 'orang malaikat' saling menjelekkan manusia karena membuat mereka kesusahan, walau sebenarnya mereka ini bukanlah 'malaikat', hanya pasien rumah sakit jiwa.
Sinopsis:
'Malaikat Roqib' mengeluh pada 'Malaikat Atid' karena sering menganggur, tak ada pekerjaan. Sedangkan 'Malaikat Atid' protes karena banyak manusia melakukan dosa sehingga tugasnya makin menggunung. Di saat mereka sedang menjelekkan manusia, tiba-tiba saja seorang perawat datang dan menyuruh keduanya tenang. Ia bilang, mereka dipanggil 'Tuhan' untuk mengambil gaji. Saat keduanya pergi, tukang kebun yang baru bekerja bertanya pada suster mengapa mereka seperti itu. Suster menjawab bahwa mereka korban politik. 'Malaikat Atid' stres karena jagoannya kalah dan tidak mendapat apa pun dari jagoannya walaupun sudah menjual rumah demi membantu kampanye. Sedangkan 'Malaikat Roqib' depresi karena jagoannya tak memberikan tempat di pemerintahan seperti yang dijanjikan jagoannya yang menang.
SCENE 1. EKT. Taman yang memiliki bangku panjang (Sore)
FADE IN
Cast: 'Malaikat Atid' dan tukang kebun
Camera: ESTABLISH: Memperlihatkan taman yang memiliki sebuah bangku dan beberapa tanaman hias yang rimbun. 'Malaikat Atid' sedang beristirahat setelah kerja dengan suasana sore di atas bangku, sedangkan tukang kebun sedang menyiangi rumput di belakang bangku.
SCENE 2. EKT. Taman yang memiliki bangku panjang (Sore)
Cast: 'Malaikat Atid ', 'Malaikat Roqib', dan tukang kebun
Camera: ESTABLISH: memperlihatkan taman, 'Malaikat Atid', Tukang Kebun, dan 'Malaikat Roqib' yang baru masuk. 'Malaikat Roqib' menepuk pundak 'Malaikat Atid'. 'Malaikat Atid' terkejut.
'Malaikat Atid': Kamu kenapa ngagetin?! Bisa copot jantungku!
'Malaikat Roqib': Lha, emangnya kita butuh jantung?
'Malaikat Atid': Iya juga, ya (menggosok belakang kepala)
'Malaikat Roqib': Loh, ngapain di sini?
'Malaikat Atid': Aku mau istirahat dulu sebelum ketemu 'Tuhan'. Pokoknya aku mau cuti!
'Malaikat Roqib': Lha kamu masih ada kerjaan. Aku nyaris gak ada kerjaan. Kayak orang nganggur. Lihat ini buku catatan aku sampai tipis kayak uang seribuan (Menunjukkan buku tipisnya)
BIG CLOSE UP: memperlihatkan buku catatan tipis yang kurang dari lima puluh halaman
'Malaikat Atid': Enak banget, lihat nih punyaku yang sampai dimasukkin karung. Itu cuma satu orang tahu! (Menunjuk tas di sampingnya)
BIG CLOSE UP: memperlihatkan tas yang penuh buku, salah satu bukunya jatuh karena tas terlalu penuh
'Malaikat Roqib': Kamu enak banyak kerjaan, daripada aku selalu diam, nganggur, makan gaji buta.
'Malaikat Atid': Lah, nganggur gak nganggur gajinya sama. Aku yang kerja jungkir balik kayak akrobat gajinya sama kayak kamu yang leha-leha.
'Malaikat Roqib': Salah manusia sih! Mereka makin seenaknya sendiri, mulut udah gak bisa dikontrol. Sukanya hujat ini itu, kayak dunia itu punya mereka, semuanya dihujat, orang berbuat baik dihujat, orang buat salah apa lagi, orang diam aja dihujat, orang aktif dihujat, mau punya calon pemimpin bukannya saling adu keunggulan, malah adu kejelekan. Mau mereka apa, sih? Sekarang jari mereka juga pada lincah, jadinya ke mana-mana nyebar fitnah, tafsiran gak ada dasarnya, opini yang menggiring, menyebar hal-hal buruk! Aduh, sampe males urusan sama mereka.
'Malaikat Atid': Yah, namanya aja manusia. Tempatnya luput dan salah, 'kan? Ternyata kamu juga lebih hafal orang-orang bikin dosa daripada yang buat baik. Kayak gak pernah dididik sejak kecil.
'Malaikat Roqib': Anak yang durhaka sama orangtuanya juga banyak, kok. Udah masuk daftar hitam semua! Jarang banget nyatat kebaikan anak ke orangtuanya.
'Malaikat Atid': Ya, semua manusia itu durhaka sama ibunya. Alam. Mereka semua durhaka sama ibu paling besar yang udah kasih mereka tempat berteduh dan menyediakan kebutuhan mereka. Saling menebang pohon, mencemari laut dengan limbah, buang sampah sembarangan, pokoknya banyak banget deh! Sampe bukunya gak muat lagi.
'Malaikat Roqib': Nah itu, mereka makin merusak aja. Giliran ada yang mau merawat alam malah diejek. Udah durhaka sama alam, giliran ada yang mau benerin malah diejek. Udah gila semua mereka!
'Malaikat Atid': Tapi ada satu lagi orang-orang yang dosanya bikin puyeng, bikin gumoh. Mereka memanfaatkan semuanya buat keuntungan sendiri dan golongan aja. Kayak impian anak-anak muda, agama, bencana, kepintaran, idih, pokoknya jijik!
'Malaikat Roqib': Kayaknya enakan nyatat amal baik aja, ya. Masih bisa santai-santai, tapi gaji sama.
'Malaikat Atid': Jadi kamu gak mau bantuin nih? Padahal kamu juga kayaknya bisa bantuin.
'Malaikat Roqib': Gak apa-apa, deh. Ambil aja semuanya sendiri.
SCENE 3. EKT. Taman yang memiliki bangku panjang (Sore)
Cast: 'Malaikat Atid', 'Malaikat Roqib', tukang kebun, dan suster.
Camera: ESTABLISH: Memperlihatkan keseluruhan taman dengan bangku. Tukang kebun mengamati dua malaikat yang saling bercakap-cakap. Seorang suster masuk.
Suster: Selamat sore Tuan Malaikat. Hayo ini sudah jam berapa?
'Malaikat Atid': Jam setengah enam, Sus. Ada apa?
'Malaikat Roqib': Apa sekarang waktunya terima gaji?
Suster: Iya, betul sekali Tuan-Tuan Malaikat. Silakan pergi duluan, ya. 'Tuhan' sudah menunggu.
Para 'malaikat' pergi. Tiba-tiba saja tukang kebun memanggil suster.
Tukang Kebun: Mbak Suster, boleh tanya mereka itu kenapa? Saya kan baru kerja di sini dua hari, jadi enggak kenal.
Suster: Oh, mereka. Mereka itu timses orang yang mencalonkan diri jadi DPRD, Pak.
Tukang Kebun: Oalah, kok mereka bisa jadi begitu? (sembari menunjukkan isyarat otak miring)
Suster: Yang katanya mencatat amal buruk itu maunya disebut 'Malaikat Atid', Pak. Dia depresi karena udah jual rumah dan tanah, jagoannya tetap kalah. Dan, dia sama sekali gak dihargai sama jagoannya yang kalah itu. Istrinya minggat bersama anak-anak, makanya dia begitu.
Tukang Kebun: Terus yang satunya?
Suster: Kalau yang itu maunya disebut 'Malaikat Roqib', Pak. Jagoannya menang, sih. Tapi jagoannya itu ingkar janji, katanya mau dipekerjakan di pemerintahan, ternyata gak. Padahal dia udah kuliah sampai luar negeri, hutang juga sama rekannya orang luar. Hutang dolar lagi, gimana gak depresi?
Tukang Kebun: Itulah kenapa kita harusnya gak boleh terlalu fanatik. Siapa tahu nanti kita dikhianati juga.
Suster: Nah itu, mereka juga bukan nabi atau Yang Maha Kuasa itu sendiri. Mari, Pak.
Tukang Kebun: Iya, Mbak.
SOUND: suara burung
FADE OUT
0