Kaskus

Story

yanagi92055Avatar border
TS
yanagi92055
Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] - SEASON 2
Selamat Datang di Thread Gue 


Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] - SEASON 2

Trit Kedua ini adalah lanjutan dari Trit Pertama gue yang berjudul Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] - SEASON 1 . Trit ini akan menceritakan lanjutan pengalaman gue mencari muara cinta gue. Setelah lika liku perjalanan mencari cinta gue yang berakhir secara tragis bagi gue pada masa kuliah, kali ini gue mencoba menceritakan perjalanan cinta gue ketika mulai menapaki karir di dunia kerja. Semoga Gansis sekalian bisa terhibur ya


TERIMA KASIH BANYAK ATAS ATENSI DAN APRESIASI GANSIS READER TRIT GUE. SEBUAH KEBAHAGIAAN BUAT GUE JIKA HASIL KARYA GUE MENDAPATKAN APRESIASI YANG LUAR BIASA SEPERTI INI DARI GANSIS SEMUANYA.


AKAN ADA SEDIKIT PERUBAHAN GAYA BAHASA YA GANSIS, DARI YANG AWALNYA MEMAKAI ANE DI TRIT PERTAMA, SEKARANG AKAN MEMAKAI GUE, KARENA KEBETULAN GUE NYAMANNYA BEGITU TERNYATA. MOHON MAAF KALAU ADA YANG KURANG NYAMAN DENGAN BAHASA SEPERTI ITU YA GANSIS


SO DITUNGGU YA UPDATENYA GANSIS, SEMOGA PADA TETAP SUKA YA DI TRIT LANJUTAN INI. TERIMA KASIH BANYAK


Spoiler for INDEX SEASON 2:


Spoiler for Anata:


Spoiler for MULUSTRASI SEASON 2:


Spoiler for Peraturan:


Quote:


Quote:


Quote:

Quote:

Diubah oleh yanagi92055 08-09-2020 10:31
al.galauwiAvatar border
nacity.ts586Avatar border
ezzasukeAvatar border
ezzasuke dan 79 lainnya memberi reputasi
78
295.5K
4.2K
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread53.4KAnggota
Tampilkan semua post
yanagi92055Avatar border
TS
yanagi92055
#3017
Mesti Dikurangi Satu
Di akhir tahun, nama Nindy selalu menghiasi chat di HP gue. Ternyata anaknya asyik banget. jauh berbeda dengan Dewi dan Uun. Nindy masih lebih baik walaupun masih nggak sebaik komunikasi gue dengan Dee. Tapi Nindy ini selalu punya cara untuk mencairkan suasana ketika obrolan kami udah mulai membosankan. Gue cukup nyaman dengan dia. Apalagi dari segi fisik, dia lebih baik juga daripada Dewi dan Uun. Nindy ini teman sekelas Dewi. Jarak usianya berbeda tujuh tahun dengan gue. Dia juga masih semester tiga ketika kami mulai banyak mengobrol.

Quote:


Chat dengan Dewi dan Uun ini sudah mulai gue kurangi. Gue mulai berkonsentrasi dengan Nindy aja. Tapi ya gitu, tetap aja biar kata asyik juga dia masih belum memenuhi segala kriteria yang gue mau. Masih nggak lebih dari 50% pemenuhan kriterianya. Gue saat itu mulai ngurangin lagi kriterianya, yaitu hobi dan musik.

Awalnya gue mau yang jadi sama gue itu musiknya seleranya sama, tapi karena hal ini sangat sulit, makanya ini harus di eliminasi. Hobi juga. Gue senang sepakbola, gulat bebas WWE, menulis unek-unek ataupun tulisan-tulisan blog lainnya, berbicara masalah politik, konspirasi, logika berpikir dan segala macam lainnya. Itu akhirnya gue kurangin juga. Akhirnya yang paling mendekati itu ya Nindy doang, Dewi sama Uun nggak masuk sama sekali.

Pada suatu sabtu, Anis yang juga udah lama nggak kontak gue, mendadak kontak gue. Dia katanya mau kasih kejutan buat Dee. Walaupun ultahnya masih lama, tapi dia mau kasih hadiah. Katanya pengobat rindu. Yaudah kala itu gue yang datang kerumah Anis di kota. Gue nggak bawa kendaraan karena mau naik mobil dia aja.

Quote:


Gue meluncur ke rumah Anis dan sampai disana sekitar jam satu siang. Lalu gue menekan bel rumahnya. Anis keluar tapi malah belum ngapa-ngapain. Kayak baru bangun tidur.

“Lah lo nggak siap-siap Nis?” kata gue.

“Santai aja Ja. haha.” Kata Anis.

“Ntar malah kena macet Nis.”

“Kan lo yang nyetir Ja. hehehe.”

“Yee, makanya, gue males macet.”

“Yaudah sebentar gue mandi dulu ya.”

“Betewe, rumah lo sepi bener Nis? Bokap kemana?”

“Hmm.. Ja. bokap udah nggak ada.”

“Wah? Innalillahi. Kapan Nis? Aduh sori gue nggak tau Nis.”

“Iya nggak apa-apa kok Ja.”

“Terus lo sama siapa ini dirumah?”

“Gue selalu sendiri Ja.”

“Pantesan lo suka telponin gue ya. Hahaha.”

“Haha iya gitu deh.”

“Aman kan tapi Nis?”

“Aman sih komplek ini sejauh ini.”

“Yaudah sana buruan mandi.”

“Tungguin yak.”

“Beres udah. Hehe.”

Anis mandi lumayan cepet buat ukuran cewek. Nggak sampai 10 menitan dia mandi. Nah ini dia baru nggak nyusahin yang nunggu kan. Haha.
Saat keluar dan handukan doang, Anis ini sangat menggoda. Tapi ya gue santai aja. Udah pernah liat juga kan.

Sekitar 20 menitan dia dandan, dan kemudian dia keluar dari kamarnya dan gue melihat dia lebih oke dari sebelum-sebelumnya. Mungkin karena dia udah kerja juga kali ya.

“Udah siap Nis?”

“Ayo Ja.”

Gue mengeluarkan mobilnya dari garasinya dan kami pun berangkat. Tapi belum juga keluar dari komplek tiba-tiba mobil mati. Ternyata akinya bermasalah.

“Ada jumperga?”

“Hah? Apaan tuh Ja?”

“Waduh nggak ngerti ya. Haha. Yaudah sebentar.”

Gue mulai membuka bagasi belakang mobil sedannya. Ternyata ada jumper berwarna merah. Sekarang tinggal cari mobil pendonor nih.

“Bisa nggak Nis minta tolong tetangga lo?”

“Oke sebentar ya Ja.”

Ternyata ada yang bersedia. Nggak butuh waktu lama mobil sudah menyala kembali dan sepertinya mobil ini butuh aki baru. Untungnya perjalanan kami nggak terlalu jauh. Dan nggak lama kami tiba di mall yang dituju.

Anis mencuri-curi kesempatan untuk memegang lengan gue. Gue yang awalnya menolak lama-lama kalah juga. Soalnya kasian juga nanti disangkain lagi berantem. Haha.

Setelah mendapatkan sebuah kado untuk Dee, Anis menuliskan kata-kata yang sesuai dengan ucapan-ucapan standar ulang tahun ya.

“Kita makan dulu yuk Ja?”

“Disini aja nggak usah pindah mall ya Nis.”

“Iya boleh.”

Kami memilih restoran nusantara yang ada di mall tersebut. Kami memilih menu yang ada disana dan kemudian menentukan makanan minumannya.

“Lo tu kerja dimana sih Nis sekarang?” kata gue.

“Gue didaerah deket kantor lo Ja. Hehe.”

“Hah? Masa? Kantor apaan?”

“Kantor pengembangan benih pertanian dan perkebunan gitu. Hehe.”

“Lah nggak nyambung sama jurusan lo ya. Haha.”

“ya sama kan Ja, lo juga gitu. Hehe.”

“Haha iya juga sih.”

Makanan kami pun datang dan sambil makan kami juga mengobrol santai. Gue udah lama nggak ngobrol santai gini sama Anis. Biasanya Cuma telpon, itu juga sebentar doang biasanya. Kasihan banget sebenarnya dia ini. Ditinggal bapak ibunya di umurnya yang masih sangat muda waktu itu.

Makanya kadangkala gue kalau nolak ajakan dia itu suka nggak tega. Apalagi dia ini punya semacam senjata mirip dengan Ara, ekspresi melasnya dapet banget buat meluluhkan hati. Haha.

“Ja kalau lo LDR gitu, kenapa masih mau bertahan sih? Bukannya berat? Dee suka cerita tau ke gue, kalau hubungan kalian ini udah mulai hambar banget.”

“Karena kami saling cinta Nis. Susah untuk dilepas gitu aja. Apalagi kami udah ngejalanin suka duka barengan selama bertahun-tahun, jadinya ya nggak segampang itu.”

“iya sih. Gue juga sama cowok gue begitu. Pasang surutnya berasa banget ya.”

Gue curiga Anis lagi mancing gue buat nyeritain keluhan gue terhadap Dee nih. Dia nggak akan terus terang sama Dee, tapi ini bisa jadi senjata rahasia dia buat nikung Dee. Permainan Anis udah ketebak banget sama gue.

Pada akhirnya gue nggak ngeluarin unek-unek apapun tentang kejelekan atau keluhan tentang Dee ke Anis. Mudah-mudahan aman deh.
Kami pulang dan sampai dirumah Anis sekitar jam 20.00 malam. Anis sekuat tenaga menahan gue untuk jangan pulang dulu.

Please Ja, temenin gue dulu ya. Sekali ini aja.”

“Gue tau lo mau apa Nis. Hehe.”

“Sekali aja, terakhir ya Ja. Abis itu gue nggak akan ganggu-ganggu lagi hubungan kalian.”

“Bukannya selama ini Dee nggak tau?”

“Hmm. Sebenarnya Dee tau Ja. Emang gue yang salah. Gue belain lo kok waktu itu. Makanya dia agak bete sama gue beberapa lama. Jadinya gue mau kasih kejutan ini biar persahabatan gue nggak rusak lagi sama dia Ja.”

“Gila lo ya. Kok bisa sampe tau.”

“Dee nggak nyalahin lo, malah dia muji-muji lo kok. Katanya dia beruntung banget punya cowok kayak lo.”

“Makasih. Tapi kali ini beneran ya Nis, terakhir. Gue nggak mau persahabatan kalian rusak beneran kali ini.”

Lalu gue dan Anis terlibat dalam pertarungan hebat yang sangat dinikmati Anis. Tapi tidak dengan gue. Gue udah nggak nyaman banget dengan keadaan kayak gini. Walaupun pada akhirnya gue bisa menyelesaikan pertarungan dengan Anis sebanyak 6 ronde. Kebanyakan permainan dikendalikan oleh Anis, makanya gue nggak terlalu capek. Hehe.

“Makasih ya Ja. Ini nggak akan gue lupain.” Katanya sambil mengecup bibir gue.

“Sama-sama Nis.” Kata gue sambil tersenyum kecut.

Anis terlihat sangat sumringah. Tapi hari itu adalah hari terakhir gue melihatnya. Gue selalu menghindarinya karena malas banget sama sifatnya yang suka maksa itu. Bagi sebagian orang, maksa untuk urusan penyaluran hasrat terkesan asyik ya, tapi bagi gue itu nggak enak sama sekali.

--

Tepat dimalam pergantian tahun, gue memutuskan untuk nggak kemana-mana. Dirumah aja. Gue pulang kerumah Mama. Disana juga ada Dania yang sekarang bekerja di sebuah Bank BUMN. Kalau dia jelas emang jurusannya akuntansi perbankan, jadi wajar aja kalau kerja dibank.
Tapi gue agak terganggu dengan hubungan Dania dengan pacarnya yang bernama Hary. Mereka sekali waktu terlihat saling menyayangi. Tapi dilain waktu bisa berantem nggak karuan, bahkan satu waktu gue pernah melihat helm yang di pakai oleh Dania dibanting oleh Dania sendiri sampai pecah dibagian kaca penutup karena ribut besar dengan Hary. Didepan rumah. Bikin malu aja ini kan.

Gue udah coba memperingatkannya agar tidak usah lebay kalau pacaran. Tapi yang bersangkutan sangat keras kepala, sampai akhirnya gue sempat mendudukkan mereka berdua didepan gue dan Mama. Semacam disidang. Gue bersikap netral karena kadang kala adik gue ada di posisi yang salah, dan gue nggak mau membiasakan yang salah harus dibela karena ada faktor-faktor tertentu.

Usai selesai berurusan dengan Dania dan cowoknya, gue masuk kedalam kamar gue. Dee sudah menunggu di belahan Indonesia barat sana.

“Sayaaang……aku kangen.”

“Aku juga yank. Kamu gimana kabarnya?”

“Baik Zi. Cuma kayaknya kamu udah mulai bosan ya dengerin cerita aku?”

“Hmm kadang bosan sih. Hehe. Apalagi cerita tentang si pitak itu.”

“Haha kok kamu tau Zi aku mau cerita tentang dia lagi?”

“Iyalah kan sumber masalah kamu itu dikantor ya dia. Aku belum pernah ketemu dia, tapi kok aku bisa ikutan nggak suka ya sama dia. Haha.
Cewek emang deh kalo cerita bisa langsung ada unsur hasutan terselubung ya.”

“Hehe. Ya gitu lah yank. Aku bingung. Hampir setiap waktu aku disalahin terus. Tapi untungnya semenjak kamu ajarin aku untuk speak up dan nanya solusinya apa, dia mulai agak anteng dikit yank.”

“Terus kamu diajarin sama dia mengenai solusinya?”

“Iya yank. Aku diajarin private, ada beberapa teman juga yang ikutan. Kan harusnya gitu ya, biar pada pinter anak buahnya.”

“Iyalah. Kalau nggak begitu ya nggak maju-maju stafnya dia. Dan ujung-ujungnya dia sendiri yang stres kan.”

“Hehe iya yank. Eh, yank. Makasih ya buat kirimannya. Aku suka banget loh.”

“Ha? Eeh..iya iya sama-sama yank.”

“Kamu selalu ingat aku suka banget sama coklat cadburr*, eh sekarang kamu bawain satu paket parsel. Ni liat aku buka ya, nanti aku makan.”
Dee memperlihatkan sebatang coklat dibungkus plastik biru yang terkenal itu. Ini yang beli Anis. Tapi kenapa makasihnya ke gue?

“Anis bilang kamu mau kasih surprise. Eh ternyata ini. Terus makasih juga buat bingkai pigura yang ada foto kita berduanya ya. Kapan lagi kan kita foto berdua pakai toga gitu yank? Hehe.”

“Haha iya dong, kan kita sama-sama lulusan dari satu tempat, jadinya ya harus ada momen kayak gitu. Jarang kan ada pasangan beda angkatan fotonya sama-sama bertoga? Hehehe.”

“Hehe iya sih yank. Jarang.”

Dan semakin malam, gue mulai mengunci pintu karena Dee mulai menggoda gue.

“Yank kamu nggak kangen ini?”

Tiba-tiba Dee menyodorkan gunung kembar sebelah kirinya yang dia buka kearah kamera.

“Hmmm.. Astagfirullah, mantap! Aku kangen sayang. Mau dong. Hehehe.”

Selanjutnya, gue pasang recorder yang nggak terlihat. Tujuannya ya buat kenang-kenangan. Padahal awalnya Cuma video call, lah ternyata Dee malah kepingin Video Call plus plus. Hahaha.

Gue mengomando Dee untuk melakukan semua yang gue mau. Dari mulai membuka bra dan kemudian memakai kaosnya lagi. Membuka celana pendeknya dan merentangkan kedua kakinya lebar-lebar dan mengarahkannya ke kamera. Dan finalnya ya memasukkan tiga jarinya kedalam lubang surganya, sampai ada tanda-tanda banjir bandang.

Ini pertama kalinya gue melakukan video call seperti ini. Mana yang ngajakin Dee lagi, bukan gue yang mulai. Haha. Seru juga ternyata apa yang disebut VCS ini.

Nggak kerasa udah tiga jam lebih kami video call. Semenjak Dee pindah, gue nggak pernah sekangen ini sebelumnya dengannya. Biasanya hanya telpon dan video call biasa yang basi banget bahasannya. Makanya gue mungkin akan atur perjalanan dinas gue kedaerah sumatera bagian barat itu.

Akhirnya pergantian tahun pun terlewati. Gue dan Dee merasa sangat senang bahwa kami telah beberapa kali melewati pergantian tahun bersama, hanya aja yang paling belakangan terjadi tanpa kebersamaan kami secara fisik. Hanya melihat satu sama lain dari layar laptop masing-masing.

--

Ditahun yang baru ini, kedekatan gue dengan Nindy semakin tak tertahankan. Walaupun gue nggak pernah sekalipun mengunjunginya, tapi menurut gue dari semua cewek yang ada sekarang, dialah yang paling pas. Nindy juga memberitahukan bulan depan ada upgrading himpunan yang mengundang alumni.

Gue sih selama nggak bentrok dan weekend, bisa-bisa aja. Karena konsep upgrading angkatan gue dan ssbelum-sebelumnya itu kan mengakrabkan diri dengan adik-adik kelas yang mengurus himpunan saat itu. Jadinya pasti seru-seruan. Mungkin gue juga akan melakukan scanning, kali aja ada adik-adik kelas yang bisa gue jadikan pendamping. Hehehe.

NINDY CALL

Quote:


sampeuk
hendra024
itkgid
itkgid dan 30 lainnya memberi reputasi
31
Tutup
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.