Kaskus

Story

deadtreeAvatar border
TS
deadtree
🚫 Let Me Tell You a Story (Konten Dewasa) 🚫
Halo,

sengaja aku buat akun baru untuk nulis cerita ini. Bukan karena apa-apa, aku gak mau ada yang tau siapa aku dan orang-orang yang akan kuceritakan disini. Sengaja juga gak daftar kreator, ahaha karena tujuanku nulis cuma pengen ngeluarin uneg-uneg yang aku simpen selama ini.

Cerita ini gak ada bagus-bagusnya, gak ada romantis-romantisnya, isinya cuma aku dan semua cobaan hidup yang kutelan sendiri dan akhirnya juga harus bangkit sendiri.

Quote:


Oke, aku mulai ya....

- Chapter 1 - Adik Ibuku
- Chapter 2 - Puber & Foto Mesum
- Chapter 3 - Kata Ibu, Aku Aib
- Chapter 4 - Aku dan Kakak Part 1
- Chapter 5 - Aku dan Kakak Part 2
- Chapter 6 - Ayah & Ibu
- Chapter 7 - Awal Mula Jatuhnya Aku Part 1
- Chapter 8 - Awal Mula Jatuhnya Aku Part 2
- Chapter 9 - Duniaku Abu-abu Part 1
- Chapter 10 - Duniaku Abu-abu Part 2
- Chapter 11 - Duniaku Abu-abu Part 3
- Chapter 12 - Babak Baru
- Chapter 13 - Sama Saja
- Chapter 14 - Mas Ibra
- Chapter 15 - Berawal Dari Twitter
- Chapter 16 - Aku Ini Murahan
- Chapter 17 - Gelap
- Chapter 18 - Duniaku Hancur
- Chapter 19 - Tuhan
- Chapter 20 - Kusut
- Chapter 21 - Selalu Begini Berulang-ulang
- Chapter 22 - Mulai Dari Nol
- Chapter 23 - Gereja dan Ustadz
- Chapter 24 - Kambing Hitam
- Chapter 25 - Cinta Yang Salah
- Chapter 26 - Selembar Perselingkuhan
- Chapter 27 - Tunas


SIDE STORY:
1 - Major Depressive Disorder
2 - Adara Putra [Part 1]

Prolog:

Namaku Kamila, saat ini umurku hampir 28 tahun. Berkeluarga? belum. Ingin berkeluarga? Ya, mungkin. Aku bekerja sebagai karyawan swasta di sebuah perusahaan Jakarta. Sejak umur 17 tahun, aku tinggal sendiri di kota ini. Tanpa satupun anggota keluarga atau kerabat jauh. Tak ada yang kukenal saat pertama kali aku menginjakkan kakiku di sini 10 tahun lalu, tepatnya di bulan Agustus 2009.

Aku lahir dan besar di sebuah desa, berseberangan dari tempatku tinggal. Jauh dan butuh sekitar 24 jam perjalanan darat dan laut. Sekarang sudah bisa dilewati transportasi udara, walau tetap harus memakan waktu 6 jam jika ditotal untuk tiba di desaku. Desa terpencil yang tampak tenang, tak ada masalah namun tetap dengan stigma buruk di masyarakat Indonesia. Banyak yang bilang desaku ini sarangnya ilmu hitam dengan orang-orang berhati jahat yang tak segan-segan menelan bulat-bulat manusia lainnya. Well, tak sepenuhnya benar, seingatku aku belum pernah makan daging manusia. 

Aku ini tak cantik, tak manis, tak menarik perhatian, seingatku seperti itu. Dari kecil aku dibesarkan oleh orangtua yang keras mendidikku, tumbuh besar bersama hutan, teriknya matahari dan gersangnya tanah desa. Aku ini kumal, hitam legam, tak ada anggun-anggunnya. Masa kecilku kuhabiskan bermain layangan, menerobos hutan mengumpulkan sayuran, mendaki gunung mengumpulkan buah-buahan, bermain di pantai mengumpulkan kerang dan merebusnya untuk makanan dan entah kenapa aku waktu kecil selalu jadi korban pelecehan.

Ch.1: Adik Ibuku
Ingatanku sedikit samar, mungkin waktu itu aku masih kelas 1 sekolah dasar dan di momen kumpul keluarga yang aku lupa untuk acara apa.
Seperti biasanya, rumah orangtuaku selalu menjadi tempat berkumpulnya keluarga besar setiap diadakannya hajatan keluarga. Mungkin karena Ibuku sedang sukses-suksesnya saat itu, anak kedua dari 8 bersaudara, dan rumah keluargaku termasuk yang paling luas dan memungkinkan untuk digunakan sebagai tempat hajatan keluarga mulai dari pernikahan sampai sekedar pengajian.
Sore itu, Ibu dan adik-adiknya sedang sibuk di halaman belakang yang cukup luas. Mereka mempersiapkan hidangan untuk hajatan esok paginya (Di desaku memang terbiasa selalu memasak sendiri untuk hajatan). Saat itu, hanya aku dan kakak laki-lakiku cucu di keluarga besar ini karena memang Ibuku anak kedua dan anak pertama a.k.a Kakaknya Ibu belum memiliki keturunan seingatku. Aku asik bermain dengan kakakku di ruang tengah, ditemani oleh adik Ibu yang paling bungsu, namanya Om Yuda. Om Yuda umurnya tidak berbeda jauh dari kakakku, hanya berbeda sekitar 6-7 tahunan.
Selayaknya anak-anak, aku bermain bersama kakak hanya menggunakan celana pendek dan kaos dalaman tanpa lengan karena memang cuaca juga sedang panas-panasnya saat itu. Saat kakakku sibuk dengan robot-robotannya, Om Yuda memanggilku.

"Dik, adik.. Sini"
Dia menarik kursi kayu di pojok ruangan dan menaruhnya di tengah ruangan. Saat itu di ruang tengah hanya ada kami bertiga dan kakakku acuh, asik dengan mainannya.

"Kenapa om?", tanyaku.

Om Yuda yang kemudian duduk di kursi kayu dan tersenyum menatapku tajam. Dia memegang lenganku dan berkata:
"Coba, buka celanamu deh"

Aku yang saat itu masih bodoh dan belum mengerti betul perkara organ intim yang boleh dan tidak boleh dilihat lawan jenis dengan polosnya langsung menuruti Om Yuda.
Om Yuda saat itu menatap kemaluanku dengan tatapan tajam sejurus kemudian membuka celana dan mengeluarkan kemaluannya. Dia kembali menatap mataku tajam.

"Untuk membuktikan kalau kita keluarga, Om harus nempelin ini ke tempat pipismu dik. Ok?", tangan kirinya yang masih memegang lenganku terasa dingin dan sedikit gemetar. Aku hanya mengangguk menuruti perkataan Om Yuda, lagi-lagi dengan polosnya.
Kegiatan menjijikkan itu tak berlangsung lama, aku juga tak memperhatikan apa yang dia lakukan karena aku masih sibuk memainkan boneka yang ada di genggamanku. Tak sampai 2 menit sepertinya, Om Yuda melepaskan kemaluannya yang menempel di area pubisku dan aku reflek melirik ke arah kemaluanku. Ada cairan putih di sana yang dengan cepat langsung diseka oleh Om Yuda. 
 "Apa itu Om?", tanyaku.
"Itu cat putih, tadi om tuang untuk menguatkan hubungan keluarga kita. Udah, pake celananya lagi. Jangan cerita-cerita, nanti kamu dimakan setan", ancamnya serius.

Pelecehan pertama, yang tak pernah kusadari sampai beberapa tahun terakhir. Terkubur dan terlupakan begitu saja mungkin karena saat itu aku terlalu kecil untuk mengerti dan mengingat hal tak bermoral itu.


Ch.2: Puber & Foto Mesum
Bertahun-tahun berlalu, banyak yang kulalui. Pelecehan-pelecehan minor yang tak perlu kujelaskan di sini, selain karena kisahnya hanya seputar catcall, dipegang, dll, aku juga sudah mulai lupa kisah-kisah ini.
Kita akan lanjut ke kisah saat aku masuk SMA ya.

Dulu, waktu aku masih bayi, Ibuku sudah pindah ke rumah baru yang dibangun di atas tanah sawah milik almarhum kakekku. Rumah itu cukup besar hingga bisa menampung Ibu, Ayah, Kakak, Aku, 1 Adik perempuan Ibu, 2 Adik laki-laki Ayah, dan 1 kerabat jauh Ibu (laki-laki). Ibu dan Ayah saat itu menyekolahkan mereka sampai semuanya lulus SMA, dengan kondisi keuangan Ayah yang juga pas-pasan. Adik-adik Ibu dan Ayah sukses dan bekerja, mereka juga sangat amat sayang padaku. Berbeda dengan kerabat jauh Ibu yang memutuskan untuk menjadi buruh bangunan saja saat itu. Ibu tidak melarang sama-sekali, malah mendukung dan membantunya.
Sebut saja si kerabat Ibu ini Om Sapri. Om Sapri ini baik orangnya, merawatku dari lahir sampai aku umur 4 tahun sebelum akhirnya memutuskan berkeluarga dan pindah ke rumahnya sendiri. Aku dianggap seperti anak sendiri oleh Om Sapri, dan aku menganggap beliau seperti Ayahku sendiri.
Tak ada yang berarti, semua berjalan baik-baik saja saat itu. Setiap Ibu ingin merenovasi rumah, membetulkan genteng atau sekedar mempercantik rumah, Om Sapri selalu menawarkan membantu Ibu. Aku juga senang, bisa bertemu Om Sapri lebih sering dan bisa dimanjakan Om Sapri saat itu. Hal ini berlangsung terus sampai Ibuku memutuskan membuka bisnisnya sendiri saat aku masuk SMP, Ibu makin jarang di rumah. Bahkan seringkali aku tidak bertemu Ibu seharian. Bangun tidur, Ibu sudah berangkat kerja begitupun Ayah. Pulang sekolah, rumah sepi, kakakku sibuk les. Mereka baru akan pulang saat aku dan kakak sudah tertidur pulas di kamar masing-masing.
Kesepianku ini berlanjut sampai aku duduk di bangku SMA, sama saja tanpa orangtua. Ibu dan Ayah jadi semakin sering marah-marah hanya karena perkara sepele. Aku jadi semakin malas jika mereka ada di rumah, aku jadi semakin menikmati kesendirianku.

Siang itu sepulang sekolah, aku langsung masuk rumah, mengunci kamar, menyalakan pendingin ruangan dan menjatuhkan diri di atas kasurku yang empuk. Beperapa hari belakangan Ibu meminta tolong Om Sapri untuk memasang plafon di ruang tamu bersama dengan tukang-tukang lain. Tapi setibanya aku di rumah, aku tak melihat Om Sapri dan teman-temannya, mungkin sedang istirahat siang. (FYI, posisi ruang tamuku ada di sebelah kiri kamarku, di depan kamarku ruang tengah, di sebelah kananku kamar kakak, dan di depan kamar kakak adalah ruang keluarga).
Cuaca siang itu sungguh terik, badanku rasanya penuh dengan keringat tapi rasanya malas sekali berganti pakaian. Aku hanya melepas rok dan membuka beberapa kancing baju bagian atas. Tiduran hanya dengan underwear, bra dan kemeja sekolah yang terbuka sana-sini. 'Ah tak ada yang liat, aku di kamar sendirian. Lagipula, pintu juga sudah kukunci', fikirku. FYI, sejak aku puber di kelas 3 SMP (maaf) bagian payudaraku tumbuh dengan cepat dan saat aku menginjak kelas 1 SMA, payudaraku sudah termasuk sangat besar untuk anak sekolah seusiaku (kalau tidak salah sudah cup C saat itu, sekarang cup D).

Aku masih asik tenggelam dengan novel teenlit yang kubeli beberapa hari lalu saat  tiba-tiba aku melihat sekelebat cahaya putih di ventilasi atas pintu kamarku (di desaku, setiap pintu dan jendela dilengkapi ventilasi berukuran sekitar 60x100cm di bagian atas agar memudahkan udara segar keluar masuk ruangan). Kuperhatikan bagian ventilasi yang mulai berdebu itu namun tak ada yang mencurigakan, aku kembali melanjutkan membaca novelku sambil sesekali melirik ke arah ventilasi.

2 menit berlalu, aku seperti mendengar bunyi-bunyian di depan pintu kamarku. Seperti bunyi gesekan ke pintu kamar. Jantungku mulai berdegup kencang, di rumah sedang tak ada siapa-siapa seingatku. Lalu siapa yang sedang berdiri di depan pintu kamarku? Kulihat di celah bagian bawah pintu, nampak bayangan orang yang berdiri mondar-mandir namun tak ada suara hanya dengusan nafasnya yang terdengar sedikit berat. Aku semakin panik, saat itu aku hanya bisa memikirkan maling yang masuk rumah karena beberapa tahun lalu rumahku juga kemalingan dan malingnya membawa pisau hampir menyerangku yang baru saja tiba di rumah saat itu.

Selang beberapa detik diantara kepanikanku, tiba-tiba cahaya putih itu kembali muncul di ventilasi kamar. Kali ini diiringi dengan bunyi 'ckrekkk' berkali-kali, yang menyadarkanku kalau itu ternyata flash kamera. Aku semakin panik, ada orang memotretku dari luar, dan sialnya posisiku saat itu setengah telanjang. "MAMPUS", gumamku dalam hati. Aku gemetaran, tak tau harus berbuat apa. Badanku kaku, aku hanya bisa pura-pura tak tau apa yang terjadi saat itu. Tapi tak dapat dipungkiri, aku sudah mau hampir menangis berharap orang itu cepat-cepat pergi. Namun disela-sela ketakutanku, tiba-tiba aku mendengar suara,

"Ngapain Mas Sapri? Ventilasinya rusak?", tanya orang itu. Aku tak mendengar sahutan dari orang yang tengah berdiri di depan pintu kamarku.

'Anj***********ng', umpatku lirih. Orang yang daritadi memotretku ternyata Om Sapri. Mau apa dia dengan foto-fotoku? Apa dia lupa kalau aku ini anak dari saudara yang sudah membesarkannya? Kenapa dia malah bertindak tidak senonoh seperti ini?

Banyak pertanyaan yang berputar-putar dalam kepalaku, tanpa kusadari aku mulai menangis tersedu-sedu di dalam kamar tanpa berani keluar. Sampai malam tiba dan kakak serta papaku pulang, aku masih belum berani keluar kamar.

Papa mengetuk-ngetuk pintu kamarku bertanya kenapa aku mengurung diri. Aku takut, tapi kupaksakan keluar. Kubuka pintu kamar perlahan, masih dengan sedikit terisak. Papa kebingungan melihatku yang amburadul dengan rambut acak-acakan dan mata yang sembab.

"Kenapa dik?", tanya Papaku.

"Gak kenapa-kenapa pa, cuma banyak PR adik capek", sahutku masih dengan sedikit bergetar.

Papa mengelus kepalaku pelan dan memelukku. Dia menyuruhku untuk segera mandi, berganti pakaian dan mengajakku makan malam. Sepanjang makan malam, aku diam membisu. Tak ada sepatah kata yang berani kukeluarkan.

Beberapa hari setelah itu, aku sudah kembali ceria. Aku tak lagi memikirkan apa yang terjadi, yah namanya anak sekolah. Seperti biasa, pukul 14.00 aku langsung bergegas pulang ke rumah untuk melanjutkan novel teenlit yang belum selesai kubaca. Di rumah juga sepi, hanya ada aku dan beberapa tukang. Tak lama setelah aku pulang, kakakku juga pulang dari sekolahnya. Dia langsung lari ke ruang keluarga dan bermain game konsolnya yang baru dibeli beberapa hari lalu. Kubiarkan sajalah, fikirku. 

Aku langsung masuk ke kamar, mengambil handuk dan menuju kamar mandi. Hari ini terlalu panas dan aku terlalu gerah untuk langsung baca novel, karena itu kuputuskan untuk mandi dan makan siang dahulu.

Kamar mandiku terletak di belakang ruang keluarga, di area dapur bersih menuju ke dapur kotor dan di depan kamar mandi terdapat lorong selebar 2 meter yang cukup gelap jika tidak dinyalakan lampu. Ditengah-tengah aktifitas mandiku yang berisik karena aku juga bersenandung, lagi-lagi aku terkejut dengan cahaya putih yang muncul sekelebat di atas ventilasi pintu kamar mandiku. Aku langsung panik, "Anj*ng, aku telanjang loh ini! Om Sapri gak kapok-kapok!", umpatku dalam hati. Dengan cepat aku bersembunyi di pojok belakang pintu kamar mandi agar dia tak bisa memotretku dari sela ventilasi. Bunyi kamera itu masih terus kudengar sekitar 3-4 kali selama aku bersembunyi dan kemudian hening, tak ada suara apa-apa. Dan sesaat Om Sapri memanggilku, "Dik? Kamu di kamar mandi? Om baru mau pipis nih. Masih lama gak?", tanyanya menyelidik.

Tak ada kata yang keluar dari mulutku, aku diam tak berani bersuara. Om Sapri kembali memanggil, "Dik? Kamu gausah takut Om cuma nanya", timpalnya lagi.

'Hah? Takut? Apa-apaan sih? Apa maksudnya? Kenapa dia malah jadi seperti om-om cabul yang mau merudapaksaku?', aku masih tak bersuara sama sekali, hanya bisa menangis dalam diam dan ketakutanku. Jantungku berdegub kencang sekali dengan ketakutanku diapa-apakan dan tanpa kusadari sudah 1 jam aku mengurung diri di dalam kamar mandi sampai kakakku menggedor-gedor kamar mandi dengan paniknya, "Dik? Dik??!!! Kamu pingsan? Mandi kok gak kelar-kelar? Dikkk????".

"Iya kak, aku cuma lagi gosok-gosok kaki", sahutku lega. Kakakku ternyata masih ada di luar.

"Yaudah cepetan mandinya, kita makan siang. Kakak laper", jawabnya.

"Iya kak, ini udah kok".

Aku tak berani menatap Om Sapri setelah itu, aku juga tak berani menceritakan pada siapa-siapa perkara hal ini. Beberapa bulan berlalu semenjak itu, tak ada lagi teror foto-foto itu, aku fikir masalah sudah selesai. Mungkin aku yang terlalu panik.

Tapi ternyata? Belum, belum selesai. Masih ada yang akan terjadi di depanku....

AKAN ADA KELANJUTANNYA, PANJANG GAN HAHA.

AKU AKAN CURHAT BERKALA, KARENA SAMBIL KERJA.
NAMANYA JUGA CURHAT :").

MOHON MASUKANNYA KALAU ADA KEKURANGAN, TRIMS.

 



Diubah oleh deadtree 20-12-2019 10:59
qisatriaAvatar border
pencarilendi170Avatar border
jamalfirmans282Avatar border
jamalfirmans282 dan 61 lainnya memberi reputasi
60
131.7K
630
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.9KThread54.2KAnggota
Tampilkan semua post
deadtreeAvatar border
TS
deadtree
#424
Intermezzo: Aku baru mau nulis langsung nangis, ehehe. Padahal lagi seneng-senengnya ngurus pindahan dan masih hangatnya pernikahan. Gara-gara dengerin lagunya Judika - Jikalau Kau Cinta tapi versinya Betrand Peto. Kerasanya aku kok selalu merendahkan diriku demi cari kebahagiaan yang bahkan aku tau itu gak ada di orang-orang yang aku perjuangkan. Hehe

Chapter 26 - Selembar Perselingkuhan

Herri: "Aku gak mau kamu selingkuh, tapi kalau kamu mau having sex sama Ibra aku izinin asal aku ada di ruangan itu bareng kalian."
Aku: "Hah??!! Kamu rela aku gituan sama cowok lain???"
Herri: "Soalnya aku suka s*nge tiap ngebayangin kalian gituan"
Aku: "Udah gila!!"


Pagi-pagi buta aku sudah bersiap ke Bandara Soekarno Hatta, hari itu aku akan mudik sebentar untuk merayakan Idul Fitri bersama Mama dan Papa. Yang buat aku bahagia, Herri ikut bersamaku. Sebenarnya sudah dari dulu aku merengek memintanya untuk ikut pulang dan bertemu dengan orangtuaku, tapi Herri berargumen kalau dia harus menabung dulu. Entah, sudah 3 tahun hubungan kami dan tak ada sepeserpun uang yang ditabungnya untuk ikut aku pulang sampai pada akhirnya aku menjual motorku satu-satunya untuk membiayainya pulang dan Mama Papaku setuju untuk membiayai tiket kembalinya Herri ke Jakarta. Jika kalian tanya seberapa loyal aku pada orang yang kucintai, sepertinya hanya nyawaku yang belum kuberikan padanya. Aku sudah berkorban hati, waktu, sabar, uang dan nyawa anak kandungnya untuk memuaskan ego Herri dan aku selalu masih kurang baginya.

Di ruang tunggu bandara, Ibu Herri sempat mengirimi Herri pesan dan Herri tertawa terbahak-bahak. Aku yang ingin tahu langsung ditunjuki Herri pesan singkat itu yang berbunyi "Sing ngati-ati ya Mas anak Ibu sayang, disana kan hutan belantara. Kamu nanti temenan sama monyet, rumahnya kan di hutan ya pasti tetangganya orang hutan. Hihihi"
Aku tak tertawa sama sekali, sudah sering aku dikata-katai karena dari kampung. Tapi entah kenapa kali ini omongan Ibu mudah sekali menembus pertahanan sabarku. Herri yang sadar raut mukaku berubah langsung menimpali, "Ya elah, becanda itu Ibu. Jangan baper jadi cewek, aku gak suka!". Hiyaaaa, mantap! Aku yang salah karena tersinggung. Tapi sekali lagi kutelan bulat-bulat dan aku sibuk dengan instagramku.
Setibanya di kampung, Papa menjemputku dan kami langsung menuju rumah. Mama sangat senang kala itu melihatku membawa lelaki yang sekian lama kupacari. Mama menyiapkan banyak sekali makanan dan Herri nampak mudah berbaur dengan keluargaku. Keluarga besarku juga dengan ramah menerima Herri di sana. Semua nampak baik-baik saja sampai keesokan harinya (Hari pertama Idul Fitri), pagi-pagi sekali Herri ditelepon Ibunya dan diminta untuk kembali ke Surabaya secepatnya karena Eyang Kakungnya meninggal dunia. Herri shock bukan main dan akhirnya dia pulang ke Surabaya siang harinya setelah kami semua kalang kabut mencari tiket penerbangan hari itu.
Mama, Papa dan keluarga besarku menyukai Herri dan cerita padaku kalau Herri anak baik. Tapi keluarga besarku menentang keras hubungan kami berdua dan memberikan ultimatum kalau Herri harus masuk ke agamaku kalau tetap memaksakan untuk bersatu.

---- SKIP YA GAN, sisanya cuma cerita lebaran dan kembalinya aku ke Jakarta. Ga ada masalah apa-apa disini----

2 bulan berlalu, aku yang sedang bekerja tiba-tiba dikejutkan oleh kabar meninggalnya Eyang Putri Herri saat itu. Kesedihan ditinggal sang suami menjadi alasan kepergian eyang sepertinya. Aku dan Herri akhirnya bertolak ke Surabaya sore itu untuk menghadiri prosesi pemakaman. Sedih sekali hatiku saat itu karena selama 3 tahun ini Eyang Putri lumayan membelaku dan tidak berperilaku jahat. Prosesi pemakaman berlangsung haru esok harinya, Eyang Putri dimakamkan tepat di sebelah makam suaminya. Disela-sela prosesi pemakaman itu, Ibu sempat berbincang padaku "Kamu beneran serius kan sama Herri? Ibu sayang banget ee sama kamu. Anakku, calon mantuku"
Satu kalimat yang langsung menghancurkan pertahananku untuk tidak lagi percaya dan menguatkan hati untuk memilih. Aku luluh lantak dan langsung merasa sejuta harapan kini ada di depan mataku. Aku langsung memeluk Ibu saat itu dan semua berjalan baik-baik saja setelahnya. Herri tetap sayang padaku seperti biasa meski kadang-kadang bisa jadi sangat cuek dan dengan mudah membentakku hanya karena perkara sepele.
1 bulan berlalu, hari itu hari ulang tahun Ibu. Aku mengiriminya pesan setelah sekitar 2 minggu dia tidak menghubungiku sama sekali. Aku mengiriminya pesan panjang lebar mendoakan yang terbaik di usianya yang sekarang dan tak disangka respon Ibu hanya "Terima kasih. Saya senang ". Tak pernah dia menyebut dirinya dengan kata 'Saya' yang berujung beberapa hari kemudian dia memblokir nomor whatsappku. Aku tak tahu bagian mana lagi aku berbuat salah padanya, Herri juga tak mengerti kenapa Ibu kembali marah padaku dan akhirnya dengan berat hati aku kembali menurut pada Herri untuk disembunyikan sampai Ibu tenang dan Herri bisa menyatukan kami kembali.
Aku sempat bertanya pada Herri soal kapan kami akan menikah, Herri hanya diam dan bilang "urusan ini aja belum kelar". Aku sempat emosi dan melontarkan kalimat yang mungkin membuatnya marah padaku, "Aku wanita, punya batas sabarnya. Aku udah korbankan banyak hal, hanya ngurus Ibumu aja kamu gak sanggup? Aku harus gimana lagi Mas!!! Aku gak bisa nunggu kamu terus-terusan sampai tua tanpa kejelasan. Kamu janji sama aku apaa? APA!!!!"

Tapi lagi-lagi, Herri dengan jurus pamungkasnya diam seribu bahasa agar aku capek sendiri marah padanya. Berbulan-bulan berlalu, Herri masih menyembunyikanku. Di hari ulang tahunnya aku sempat memberinya kado sepatu kesukaannya yang kubeli dengan uang tabunganku, dan dengan berondongan pertanyaan yang berujung dengan Herri bilang kalau selama ini dia cerita ke Ibu bahwa aku sekarang hanya berteman dengan Herri. Dia cerita ke Ibu kalau aku membelikan kado untuknya, mungkin untuk memperbaiki namaku ke Ibunya. Tapi saat Ibunya bertanya aku sedang sendiri atau dekat dengan orang, Herri dengan bodohnya bilang aku sedang dekat dengan mantanku yang bahkan aku tidak dekat dengan siapa-siapa. Lagi-lagi aku marah besar pada Herri, dan lagi-lagi berujung dengan Herri yang diam seribu bahasa.
Hari ulang tahunku tiba, Herri tak memberiku apa-apa saat itu. Katanya tak ada uang, aku juga tak berharap apa-apa karena aku tau dia. Setelah surprise dari teman-teman kantorku yang heboh, aku tak berharap Herri memberiku sesuatu. Dia ingat saja sudah cukup buatku. Tapi malamnya, Herri menyiapkan beberapa tumpuk cheesecake kesukaanku dan menyelipkan lilin angka ulangtahunku ke 26. Aku meniup lilin dan mengucapkan terima kasih sudah memberiku surprise kecil yang berarti besar buatku.
Herri bilang dia juga punya surprise lain yang ternyata telepon dari Ibu. Ibu mengucapkan selamat ulang tahun dengan nada sayangnya seperti biasa, dan bilang dia rindu padaku tapi takut menghubungiku takut aku masih marah karena dia yang mendiamkanku beberapa bulan lalu. Aku hanya iyakan semua omongannya. Dia juga titipkan pesan kalau adik-adiknya Herri titip salam padaku.

Malam itu kulewati dengan bahagia karena semuanya berjalan baik di hari ulang tahunku. Malam itu, aku tidur bersama dengan Herri. Cepat sekali dia pulas malam itu, aku yang malah tidak bisa tidur karena terlalu senang banyak kejutan hari ini.
Tiba tiba handphone Herri berdering, karena nyala layarnya mengganggu aku ambil handphonenya dan berniat kumatikan. Tak sengaja kubaca notifikasi pesan Telegram yang masuk, Parah lo Herri, cewek lo mau dikemanain kalo lo pacarin Ginta. Hahaha"

DEGG! Jantungku mendadak berdegup kencang, tanganku gemetaran. Kulirik Herri masih tertidur pulas, aku langsung tanpa fikir panjang membuka pesan itu dan mengetik nama Ginta di kolom search. Banyak bagian pesan yang membicarakan Ginta, dan ada pula pesan dari Ginta diantaranya.

Kubuka pesan dari Ginta, kulihat foto profilnya. Cantik, putih tinggi semampai dengan rambut pendek. Aku belum membaca pesan itu, dan langsung search nama Ginta di google. Muncul ribuan berita, foto, akun tentangnya. Seorang pramugari di maskapai kelas atas dan ternyata punya koneksi orang-orang berpengaruh di Indonesia. Hatiku sakit rasanya, minder langsung merasuki kepalaku. Aku yang tak ada apa-apanya ini, ditambah sudah pernah aborsi jelas akan kalah. Herri jelas akan memilih wanita cantik ini dibanding aku, pantas saja dia acuh dan seolah-olah lupa dengan rencana kami berdua.

Aku kembali ke handphone Herri, kubuka pesan dari Ginta.
Ginta: "Iya Mas, itu rosarionya dari Mama"
Herri: "Wah bagus ya, kamu biasa ke gereja di mana?"
Ginta: "Tergantung lagi tugas dimana Mas"
Herri: Kapan-kapan bisalah Gereja bareng, aku ke Gereja sendirian terus nih. Sedih emoticon-Frown"
Ginta: "Iya kapan-kapan ya Mas"


Aku tak sanggup baca chat-chat sebelumnya antara mereka. Hanya saja aku iseng membaca obrolan tentang Ginta antara Herri dan teman-temannya. Dengan santainya Herri cerita kalau dia bernafsu sekali melihat Ginta saat main tenis dan senang sekali melihat wanita cantik dan indah seperti Ginta. Herri berharap setelah putus denganku, dia bisa langsung memacari Ginta. Herri bilang kalau gak tau aja rasanya jadi dia yang pacaran beda agama, dan ingin sekali dapat wanita cantik dan seagama dengannya. Herri sudah mengenal Ginta beberapa minggu sebelum ulang tahun Ibu. Berarti mereka sudah saling kenal 5 bulanan ini di belakangku.

Semalaman aku tidak bisa tidur memikirkan apa yang terjadi saat ini. Aku menyalahkan diriku sendiri kenapa tidak secantik Ginta, kenapa bukan pramugari, kenapa bukan anak orang kaya dan kenapa bukan katolik dari lahir. Aku mau menangis tapi entah kenapa tak bisa. Paginya aku berangkat ke kantor tanpa menyinggung soal Ginta. Aku meminta Herri menjemputku sepulang kerja, dan di motor aku mencoba memancingnya soal Ginta. Herri yang mengerti maksudku, langsung tertawa terbahak-bahak di perjalanan.

Herri: "Bodho!"
Aku: "Aku nanya mas"
Herri: "Aku tu kagum, lagian wajar kali engas sama cewe cantik"
Aku: "Oh, aku tapi gak suka"
Herri: "Lha aku apa marah kamu ceritain Ibra terus?"
Aku: "Itu kamu yang minta mas!!"
Herri: "Udahlah, kamu sama Ginta tuh jauhhhh. Ngapain cemburuan, aku cuma temenan. Gak usah drama deh, norak!"


Di lampu merah, aku turun dari motor dan menyodorkan helmku padanya. Aku berjalan meninggalkan Herri. Tak sedikitpun aku menoleh kebelakang. Aku menangis sejadi-jadinya di jalanan malam itu, aku tak tahu harus kemana dan cerita ke siapa. Aku tak mungkin pulang ke kost karena aku pasti akan bertemu dengan Herri lagi. Teleponku berdering tanpa henti, aku tak niat mengeceknya. Aku langsung memberhentikan taksi dan minta pulang ke rumah. Di rumah, Herri ternyata sudah menungguku. Aku langsung masuk ke kamar dan Herri mengamuk menendang-nendang pintu berharap aku mau menemuinya. Aku tak sedikitpun bergeming, sampai 2 jam berlalu tak ada lagi gedoran itu di pintu. Hanya isak tangis yang terdengar. Aku panik dan langsung berlari ke pintu, benar saja Herri terduduk berlutut di depan kamarku sambil menangis. Matanya bengkak, 2 jam itu sepertinya dia menangis tak berhenti minta dibukakan pintu. Dia memeluk betisku dan menangis meminta maaf, dia meminta maaf berkali-kali dan memohon agar aku tak meninggalkannya. Aku hanya diam mematung sambil menahan sakit di dadaku karena lagi-lagi benteng pertahananku dihancurkannya.

(Bersambung)
Diubah oleh deadtree 26-11-2019 16:23
valbo
nomorelies
itkgid
itkgid dan 18 lainnya memberi reputasi
19
Tutup
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.