- Beranda
- Stories from the Heart
Jangan Panggil Aku Ibu
...
TS
shirazy02
Jangan Panggil Aku Ibu

(Warning : 21+ akan ada tindak kekerasan dalam cerita, namun sarat moral, mengantarkan banyak kejutan tak terduga di dalamnya)
part 2
part 3
part 4
part 5
part 6
part 7
part 8
part 9
part 10
part 11
part 12
Part 13
Part 14
Part 15
Part 16
part 1
Suara carut-marut beberapa ayam jantan yang berkokok, mulai menyadarkanku dari lelapnya tidur. Membuatku beranjak segera membuka jendela kamar. Terlihat seberkas cahaya matahari mulai menampakkan sinarnya dari ufuk timur. Tak tertinggal suara merdunya burung-burung dari balik dedaunan yang tengah bersenandung.
Seharusnya suasana pagi yang dingin nan sejuk ini menambah nikmat tersendiri untukku, namun nyatanya, sangat berbeda dengan suasana hatiku.
Kutengok jam dinding dari balik tirai. Jam 05.30. Baru sadar bahwa hanya dua jam saja aku mampu tertidur?
Dengan mata yang masih terasa berat, kulangkahkan kakiku keluar kamar. Mematikan lampu tengah dan teras yang masih menyala. Lalu membuka bilik-bilik jendela, terakhir membuka pintu utama.
Haidar masih saja bergelut dengan mimpinya. Kubiarkan ia terlelap tidur. Masih penasaran ke-diam-annya semalam. Tumben ia tak rewel, tak seperti biasanya.....
Sementara, Mas Agus ... entah kemana ia. Gelas berisi teh di atas meja masih tak tersentuh sama sekali. Sepertinya ia tak pulang lagi.
Kutarik nafas panjang, lalu menghembuskannya perlahan seiring penatnya kepala yang kurasakan.
Sudah tiga hari ini, Mas Agus tak pulang. Membuatku khawatir dan berpikir yang macam-macam. Uang yang ia beri padaku sepekan yang lalu sudah menipis. Aku semakin dibuat pusing karena tak ada lagi orang yang bisa kutoleh disini.
"He, Wati! Jangan ngutang lagi, ya! Boleh ngutang, tapi, lunasin dulu tunggakannya! Jebol anakku kalau dirimu ngutang mulu."
Dari warung seberang jalan, Mak Minah berteriak kencang sembari mengacungkan sapu halamannya itu padaku.
Aku langsung membalikkan badan, pergi dari ruang tamu dengan langkah cepat menuju kembali ke kamar. Tak terasa air mata mulai menitik. Betapa malunya aku sebagai perempuan diteriaki seperti itu disaat banyak para tetangga belanja di warungnya.
Bagaimana aku bisa melunasi hutang, sementara uang yang kukantongi sekarang saja tersisa hanya enam ribu rupiah.
Kuseka air mataku yang kian mengucur, lalu mengalihkan pandangan kembali menatap Haidar yang masih terlelap.
Oh, Tuhan ... aku tak sanggup lagi.
Mas Agus, kamu dimana?
Lagi-lagi air mataku menitik.
Belum usai kesedihanku, pagi-pagi sekali Bu Rina datang. Ia marah, menyuruhku segera meninggalkan rumah. Kami memang menunggak biaya sewa lima bulan, dan aku tahu Mas Agus sudah berusaha untuk itu. Tapi, bagaimana lagi ... penghasilannya sebagai kuli angkut di pasar hanya cukup untuk menutup hutang yang lain dan makan seadanya.
Tak mau terus bersitegang, lantas kutegaskan pada Bu Rina jika Mas Agus sudah tiga hari ini tak pulang. Namun, sudah tak ada lagi rasa iba terpancar dari raut wajahnya.
"Saya sudah lima bulan bersabar, Wati. Suamimu tak juga memberi uang yang dijanjikan meski sekedar menyicil. Saya ini sudah tidak punya suami. Beda dengan kamu. Masih untung kamu ada yang menafkahi. Harapan saya cuma di rumah ini. Kalau kamu tak bisa membantu perekonomian saya, silahkan kamu pergi! Saya sudah cukup menunggu. Saya ini juga dalam keadaan butuh!"
Ucapan Bu Rina lantang terdengar, membuat dadaku sesak seolah tak mampu lagi berkata.
Tiba-tiba, Haidar menangis kencang dari dalam kamarnya. Aku yang kaget, segera berlari melihat apa yang terjadi. Bayi delapan bulanku mendadak memelototkan kedua mata. Tangisannya terhenti, dan tangannya menggenggam erat, lurus kencang.
"Bu ... Bu Rina! Tolong!" Aku berteriak histeris sambil menggendong Haidar. Saking paniknya, aku berjalan mondar-mandir tak jelas di dalam kamar, mencoba menyusuinya. Tetap ia tak berekspresi.
"Kenapa, Wati?" Bu Rina yang baru menghampiri, tampak khawatir memandangku.
"Haidar! Coba lihat, Bu! Ini Haidar kenapa? Ia juga tak mau menyusu," pekikku sambil membawa Haidar mendekat pada Bu Rina.
"A-ayo ke puskesmas saja, Wat!"
Akhirnya, aku dibonceng Bu Rina pergi dengan motornya.
Kepalaku terasa penuh, sementara tanganku terus menutupi Haidar dengan selimut. Matanya masih saja membulat, membuatku semakin menangis karena cemasnya. Kucoba menyusuinya, memaksanya. Tetap saja bibirnya mengatup tak berekspresi.
Ya ampun, Mas Agus ... cepat pulang, Maaaasss!
Tak kuasa aku menahan kesedihan yang teramat sangat kali ini.
Sesampainya di puskesmas, kusuruh para petugas cepat membawa Haidar masuk untuk diperiksa. Sementara Bu Rina ada di loket antrian.
"Tolong banget, Mas! Tolong anak saya!" Aku tak sanggup berkata lagi saking bingungnya.
Selagi Haidar diperiksa, tiba-tiba, aku dikagetkan lagi dengan Bu Rina yang datang sambil menyenggol pundakku.
"Wati, kamu ada KIS gak?" tanyanya.
"Apa itu, Bu?"
"Aduuuhh, kalau ngomongmu begitu, kayaknya kamu nggak punya. Kamu minta tolong ke kelurahan, deh! Aku juga tak ada duit buat bayar nanti."
"La-lalu? Haidar bagaimana, Bu?"
"Sudahlah! Ada petugasnya, kan? Ayo!"
Tanpa banyak pertimbangan lagi, aku pun menurut apa kata Bu Rina. Pergi bersamanya menuju ke kelurahan.
Setelah lama berkutat di dalam kantor kelurahan, akhirnya kudapatkan secarik surat dari sana, sebagai pengantar sementara selagi kartu KIS belum ada. Tak menunggu waktu lagi, segera kami kembali berangkat ke puskesmas.
Bu Rina langsung menuju loket, sementara aku bergegas menuju tempat dimana Haidar diperiksa.
Namun, pemandangan yang ada lebih mengagetkanku.
Haidar terbujur kaku, dengan tali perban melilit di sekitar dagu ke kepalanya.
Kurasakan kepalaku semakin pening, pandanganku seketika kabur.
****
Sudah tujuh hari kepergian anakku, Haidar. Namun ingatan tentangnya masih membekas. Saat wajah lucunya menangis, saat bayi menggemaskan itu tersenyum, semua itu masih terkenang jelas dalam ingatan.
Kuputuskan menutup kenangan tentangnya. Agar tak lagi ada tangis terbendung. Aku sudah capek, pikiranku sudah kalut.
Lalu, aku berdiri, mulai berkemas. Baju-bajunya, karpet tidurnya, nipple mainannya, sepatu dan kaos kakinya, semua kujadikan satu pada sebuah kotak kardus besar. Lalu, kotak kardus itu kusimpan di atas lemari pakaian.
Saat itu juga, tiba-tiba suamiku datang. Ia berteriak dari luar memanggilku.
Segera aku berlari untuk memastikan, apa benar itu dia?
Ya ... memang benar. Ia datang dengan pemandangan yang nampak janggal. Ditangannya mendekap bayi dalam gendongan, lengkap beserta tas besar yang ia kalungkan menyamping ketubuhnya.
"Haidar! Lihat, Ayah bawa adek buat Haidar! Rumah bakalan rame ini." Ia berseru sambil masuk ke dalam rumah.
Aku hanya tercengang menatapnya dari balik tirai ruang tengah.
Laki-laki itu tampak sumringah dengan bayi yang ia gendong. Sekilas ia melirikku, lalu bertanya lagi, "Mana anak kita Haidar, Bu? Aku punya berita baik. Ibu pasti senang!"
Aku masih tak percaya dengan apa yang diucapnya barusan. Hanya bisa terdiam dengan mata lurus ke depan.
Anak siapa itu? Kemana ia pergi selama ini?
(bersambung)
Diubah oleh shirazy02 07-02-2020 19:33
manik.01 dan 32 lainnya memberi reputasi
33
21.7K
242
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
shirazy02
#38
Jangan Panggil Aku Ibu (part 5)
Aku masih tak bergerak dari posisi. Duduk bersilang kaki di kursi rotan sedari dua puluh menit yang lalu. Sesekali melihat ke jalanan, lalu kembali berpaling ke posisi semula. Sementara otakku terus berpikir, pelajaran apa yang harus kuberikan pada Tomi agar tak sekali-sekali berani membangkang.
Kemudian kubungkukkan badanku, memperhatikan sapu penebah yang kuletakkan di kolong meja, sambil terus menggumam, "kapan pulangnya anak ini ...."
Kucoba melihat lagi ke ujung jalanan melalui bilik jendela di belakangku. Sepi ... hanya terlihat sebuah mobil yang akan melintas. Sementara sosok bocah itu tak nampak jua dari kejauhan.
Kemana sih, dia?
"Hiiiiihhhh!" Aku menggeram kesal. Napasku memburu tampak tak sabar. Sepertinya ia sudah berfirasat jika aku akan membukulinya tanpa ampun, lantas ia pergi entah kemana.
Hiiiiihh, awas saja jika ia pulang nanti.
Beberapa makian batin sontak buyar kala decitan suara mobil terdengar jelas di telinga, seperti dari depan rumah.
Kaget dan penasaran, lantas kucoba memutar badan sambil membungkuk kecil dari bilik jendela. Rasa panik seketika sirna kala melihat bocah itu turun dari mobil bersama dua orang berpakaian cokelat seperti seorang guru.
"Benar ini rumah Tomi?"
Kutangkap suara salah seorang diantaranya pada si Tomi.
Perasaan cemas mendadak kembali tak karuan, ketika derap langkah mereka mulai menuju kemari. Lantas aku berpaling melihat ruang tamu ....
Sapu penebah itu masih di kolong meja. Cepat-cepat kuambil, melemparkannya ke kolong kursi. Lalu menoleh kesana-kemari, barangkali ada sesuatu yang berantakan, merusak pemandangan.
Tok, tok, tok.
Bunyi sebuah ketukan mulai mendebarkan jantung. Kutegakkan badan sembari mengibas kecil pakaian yang kukenakan. Lantas kuhampiri pintu, membukanya perlahan.
"Eeeh, Tomi ...." Aku tersenyum seraya merengkuh badan Tomi, membawanya padaku.
"Kok tumben, sih, diantar Bu Guru?" tanyaku lagi.
Kedua guru itu tersenyum, lalu salah seorang di antaranya menjawab, "maaf, Bu ... Tomi pulangnya kali ini telat."
Tak ada yang bisa kuucapkan, selain memberikan senyum pada mereka.
Kami berdiri sepuluh detik di ambang pintu dalam diam. Kupikir mereka akan segera berpamitan pergi, sehingga aku dengan puas bisa memberi pelajaran pada bocah ini. Namun, kenapa tak pamit-pamit juga?
Perasaanku kini kembali cemas. Mungkinkah ada sesuatu yang akan diadukan padaku?
"Ehm, maaf, Bu. Saya ingin berbicara mengenai Tomi," ucap seorang guru berjilbab cokelat, yang membuatku menelan ludah kemudian.
"Oh, iya, Bu. Silahkan masuk! Sampai lupa mau mempersilahkan masuk," seruku gelagapan campur tak enak hati.
Kugiring Tomi masuk lebih dulu, agar kemudian diikuti oleh dua guru tadi.
"Maaf, Bu. Sebentar. Biar Tomi ganti baju dulu." Kuulaskan sedikit senyum dari bibirku yang kering, sambil menggiring tubuh Tomi ke ruang tengah. Kucubit-cubit bagian tulang belikat Tomi, agar segera masuk ke dalam kamar menuruti perintahku.
Sampai di kamar, langsung saja kuhempaskan tubuhnya ke kasur. Mengambil satu setel baju, yang kemudian kulemparkan kasar, tepat ke mukanya. Kulangkahkan kakiku menghampirinya, menarik paksa seragamnya sambil berujar, "cepat pakai!"
Bocah itu menurut. Segera mengenakan baju yang kumaksud. Mataku tak lepas memandangnya penuh rasa jengkel. Lalu kucubit kedua pipinya agar mengarah padaku.
"Eh, Tomi. Kenapa gurumu kemari? Ada apa, haaah? Kau bikin ulah, ya? Ayo, jawab!" makiku lirih sambil berganti mencubiti sekujur tubuh Tomi.
Ia mengerang kesakitan. Kudekap mulutnya agar tak bersuara.
Sambil melepas sepatunya, ia berkata pelan, "Bu Anjar dan Bu Nita mau mengajakku lomba membaca puisi, Bi ...."
"Benar, begitu?" Kupelototkan kedua mata padanya, agar tak coba ia macam-macam padaku.
Tomi mengangguk dengan kedua mata berkunang.
"Kalau begitu, ayo keluar! Singkirkan tanganmu, jangan dielus-elus begitu!" Kutarik tangannya agar kembali tak mengelus bagian tubuhnya yang sakit itu.
Tanpa menunggu lagi, kugiring ia keluar dari kamar. Pergi ke ruang tamu menemui kedua Guru tersebut.
"Maaf, Bu, udah menunggu ... he he he. Ini si Tomi kalau nyari baju ganti suka lama. Biasaaaa ... kalau nggak pilih sendiri, gak pernah cocok," ujarku dengan menyimpulkan senyum paksa.
Kududukkan Tomi di salah satu kursi, sementara aku berdiri tepat di sampingnya.
Kedua Guru bernama Anjar dan Nita itu menatapku dengan ekspresi tak biasa, nampak heran. Kemudian keduanya bersamaan menatap Tomi, membuatku sedikit tak nyaman dan banyak menduga-duga 'dengarkah mereka tentang obrolanku dan Tomi barusan'?
Sekilas kualihkan pandanganku pada Tomi. Wajahnya menunduk seakan lesu. Memang tak seceria di awal, kini lebih tampak murung dan menyebalkan dilihat.
Dasar anak b*d*h! Memalukan saja, batinku kesal.
"Ehm ... jadi mau membahas apa ya, Bu?" Kucoba membuka percakapan, setelah keadaan berubah hening.
Seorang Guru berjilbab kuning dengan sengaja menyenggol rekan sejawatnya, membuat sang Guru berjilbab cokelat terperanjat dan salah tingkah.
"Oh, eh, iya ... perkenalkan nama saya Anjar, guru pengajar Tomi." Ia mengulurkan tangannya padaku. Kemudian aku membalas menjabatnya.
"Ini Bu Nita, Guru kelas lain, yang kebetulan saya pinta untuk mengajar Tomi membaca puisi," lanjutnya lagi, yang kemudian rekannya itu mengulurkan tangannya padaku.
Aku kembali tersenyum, sambil menjabat uluran tangan guru berjilbab kuning itu.
"Jadi, begini ... karena Tomi anak yang cepat tanggap dan berani, saya memilihnya sebagai perwakilan dari kelas satu, lomba membaca puisi tingkat provinsi. Saya mau memberitahukan, bahwa setiap pulang sekolah, Tomi akan dilatih membaca puisi oleh Bu Nita. Nah, berhubung Tomi pulang sekolah selalu jalan kaki, maka kami memutuskan mulai besok Bu Nita sepulang sekolah langsung ke sini untuk mengajar. Kan, kasihan ... jika ia harus pulang kepanasan, mana jarak sekolah lumayan jauh untuk anak seusianya. Ya, kan, Bu?" ucap Bu Anjar sambil menoleh pada Bu Nita yang berada di sampingnya.
"Ya, Bu. Sekalian nanti pulang, Tomi saya antar," balas Bu Nita lirih.
Aku menundukkan pandangan. Diam sejenak.
Mana mungkin orang ini setiap hari ke rumah, bisa tekor aku kalau tiap hari menjamu makanan dan minuman untuknya. Buat beli lauk saja udah susah, batinku.
"Ehm ... anu, Bu. Nggak pa pa, deh, pulang kepanasan. Ngajarnya di sekolah saja. Tomi anaknya kuat panas, kok. Ya kan, Tom?" Kupandang Tomi sambil mencubit sedikit punggungnya.
Bocah itu menyeringai, kemudian menganggukkan kepalanya kecil.
Sementara kedua guru di depanku nampak saling berpandangan bingung.
"Ehm, bukannya kenapa-kenapa, sih ... saya kadang di sawah sampe sore, Bu. Tak enak nanti kalau tak bisa menjamu dan menemani, he he ...."
"Walah, Bu. Tak usah repot-repot. Saya ikhlas, tak minta jamuan, kok. Tak usah ditemani juga tak apa," balas Bu Nita kalem.
Glek! Aku menelan ludah, semakin bingung mencari alasan. Di lain sisi, malas jika harus melihat orang lain rame berdiskusi di rumahku. Bikin kepala makin judek melihat keadaan.
Tak berselang lama, tiba-tiba Sari dan anaknya datang.
"Lho, ada Bu Guru ...." Tangan Sari kemudian menjabat tangan kedua guru itu.
"Pantes, Tomi saya suruh segera ke rumah, tak juga datang. Eh, ternyata ada Bu Guru," ucapnya lagi sambil tertawa.
Huuuh, semakin membuatku sebal.
"Ya sudah, Bu. Saya pamit pulang dulu, cuma itu saja yang saya sampaikan." Bu Anjar beranjak, menyalamiku sambil mengajak Bu Nita pergi. Bu Nita pun segera berdiri, sambil berpesan, "sudah tak perlu repot-repot, Bu. Santai saja sama saya."
Aku tersenyum kecil. Pergi mengantarkan keduanya sampai depan.
Selepas mobil melaju, kembali aku masuk ke dalam rumah. Sengaja kupasang wajah ketus agar Sari dan anaknya segera pergi dari sini.
"Ayo, Tomi. Cepat makan! Habis makan, bantu Bibi nyuci," perintahku sambil ngeloyor masuk ke dalam. Tak kupedulikan Sari yang masih berdiri di ruang tamu dengan anaknya.
"Eh, Mbak Wat ... anak kecil disuruh nyuci, sih? Kan, kasihan ...." Suara Sari mulai menggoyahkan rasa cuekku.
Kemudian aku keluar dari dapur, menghampirinya.
"Itulah kalau kau kasihan sama anak kecil. Jadinya seperti anakmu! Sekolah bodoh, bikin puisi saja nggak bisa. Akibat dirimu yang terlalu memanjakan," tukasku lantang.
Wajah Sari terkejut, kemudian berucap, "astagfirullah hal'adzim ....."
"Lihat, Tomi! Pinter segala-galanya, sampe gurunya ngajak lomba sepropinsi saking pinternya. Itulah hebatnya anak pekerja keras. Anak tahu diri. Bukannya anak ngalem, yang kalo nggak bisa dikit, trus mewek. Bisanya mewek, dikit-dikit mewek. Hiiiihhhh," cibirku bergidik,sambil bertolak pergi. Kutarik tangan Tomi bersamaku, meninggalkannya yang masih di ruang tamu.
Aku menuruni parit, menggenggam tangan Tomi turun bersamaku. Sepertinya orang itu sudah pergi. Benar! Kulihat bayangannya keluar dari rumah, naik ke motor bututnya yang jelek. Matanya melihatku yang tengah membawa bak cucian menuju kali kecil. Kemudian ia berteriak, "heeee, perempuan sinting! Moga-moga aja Tomi nggak ketularan sinting diasuh orang sepertimu."
Aku tersenyum lucu mendengarnya.
Bicaralah suka-suka kau, mana kupeduli, gumamku.
Kuletakkan bak cucian ke tepi kali, sambil terus tersenyum puas dalam hati.
"Eh, Tomi," panggilku.
"Ya, Bi."
"Sayang nggak, sama Bibi?"
Bocah itu diam, memandangku sejenak, lalu menganggukkan kepala.
"Denger! Kalo sayang Bibi, jangan dekati anaknya si Sari lagi. Mengerti? Suka sebel lihat orang sok macam dia. Paham kamu?"
Tomi hanya diam. Membuatku semakin tak puas.
"Paham, nggak?" Kujitak kepalanya saking kesalnya.
Ia mengaduh, lantas mengangguk kecil.
Kemudian aku kembali berpesan sambil menyodorkan sebuah panci padanya, "dengar! Kau nyuci beras saja di sana. Biar Bibi yang nyuci pakaian. Kalau lapar, cari murbei dulu buat ganjal perut! Selesai nyuci beras, ganti wadahnya ke tempat magic com. Kasih air dari gentong setengah gayung. Trus, tekan tombol ke bawah. Paham?"
Ia kembali mengangguk, kemudian melangkahkan kakinya menuju pancuran air jernih yang mengaliri terasering.
Aku menghela napas melihatnya.
Hilang sudah keinginanku untuk memberi pelajaran Tomi habis-habisan. Dia anak yang bisa diandalkan.
Ah, bisa memaki Sari di depan mata saja sudah suatu kepuasan tersendiri. Kenapa harus kulampiaskan pada Tomi?
Aku mengambil duduk pada bebatuan. Sambil merendam beberapa pakaian ke air kali. Tiba-tiba saja .....
"Aduuuh! Bi ... Bibi ... tolooooong!"
Spontan, aku beranjak. Melihat ke arah dimana Tomi tadinya berjalan.
Ya, ampuuunn ... Tomiiiiii!!!
Mataku membelalak melihat apa yang terjadi.
(bersambung)
Kemudian kubungkukkan badanku, memperhatikan sapu penebah yang kuletakkan di kolong meja, sambil terus menggumam, "kapan pulangnya anak ini ...."
Kucoba melihat lagi ke ujung jalanan melalui bilik jendela di belakangku. Sepi ... hanya terlihat sebuah mobil yang akan melintas. Sementara sosok bocah itu tak nampak jua dari kejauhan.
Kemana sih, dia?
"Hiiiiihhhh!" Aku menggeram kesal. Napasku memburu tampak tak sabar. Sepertinya ia sudah berfirasat jika aku akan membukulinya tanpa ampun, lantas ia pergi entah kemana.
Hiiiiihh, awas saja jika ia pulang nanti.
Beberapa makian batin sontak buyar kala decitan suara mobil terdengar jelas di telinga, seperti dari depan rumah.
Kaget dan penasaran, lantas kucoba memutar badan sambil membungkuk kecil dari bilik jendela. Rasa panik seketika sirna kala melihat bocah itu turun dari mobil bersama dua orang berpakaian cokelat seperti seorang guru.
"Benar ini rumah Tomi?"
Kutangkap suara salah seorang diantaranya pada si Tomi.
Perasaan cemas mendadak kembali tak karuan, ketika derap langkah mereka mulai menuju kemari. Lantas aku berpaling melihat ruang tamu ....
Sapu penebah itu masih di kolong meja. Cepat-cepat kuambil, melemparkannya ke kolong kursi. Lalu menoleh kesana-kemari, barangkali ada sesuatu yang berantakan, merusak pemandangan.
Tok, tok, tok.
Bunyi sebuah ketukan mulai mendebarkan jantung. Kutegakkan badan sembari mengibas kecil pakaian yang kukenakan. Lantas kuhampiri pintu, membukanya perlahan.
"Eeeh, Tomi ...." Aku tersenyum seraya merengkuh badan Tomi, membawanya padaku.
"Kok tumben, sih, diantar Bu Guru?" tanyaku lagi.
Kedua guru itu tersenyum, lalu salah seorang di antaranya menjawab, "maaf, Bu ... Tomi pulangnya kali ini telat."
Tak ada yang bisa kuucapkan, selain memberikan senyum pada mereka.
Kami berdiri sepuluh detik di ambang pintu dalam diam. Kupikir mereka akan segera berpamitan pergi, sehingga aku dengan puas bisa memberi pelajaran pada bocah ini. Namun, kenapa tak pamit-pamit juga?
Perasaanku kini kembali cemas. Mungkinkah ada sesuatu yang akan diadukan padaku?
"Ehm, maaf, Bu. Saya ingin berbicara mengenai Tomi," ucap seorang guru berjilbab cokelat, yang membuatku menelan ludah kemudian.
"Oh, iya, Bu. Silahkan masuk! Sampai lupa mau mempersilahkan masuk," seruku gelagapan campur tak enak hati.
Kugiring Tomi masuk lebih dulu, agar kemudian diikuti oleh dua guru tadi.
"Maaf, Bu. Sebentar. Biar Tomi ganti baju dulu." Kuulaskan sedikit senyum dari bibirku yang kering, sambil menggiring tubuh Tomi ke ruang tengah. Kucubit-cubit bagian tulang belikat Tomi, agar segera masuk ke dalam kamar menuruti perintahku.
Sampai di kamar, langsung saja kuhempaskan tubuhnya ke kasur. Mengambil satu setel baju, yang kemudian kulemparkan kasar, tepat ke mukanya. Kulangkahkan kakiku menghampirinya, menarik paksa seragamnya sambil berujar, "cepat pakai!"
Bocah itu menurut. Segera mengenakan baju yang kumaksud. Mataku tak lepas memandangnya penuh rasa jengkel. Lalu kucubit kedua pipinya agar mengarah padaku.
"Eh, Tomi. Kenapa gurumu kemari? Ada apa, haaah? Kau bikin ulah, ya? Ayo, jawab!" makiku lirih sambil berganti mencubiti sekujur tubuh Tomi.
Ia mengerang kesakitan. Kudekap mulutnya agar tak bersuara.
Sambil melepas sepatunya, ia berkata pelan, "Bu Anjar dan Bu Nita mau mengajakku lomba membaca puisi, Bi ...."
"Benar, begitu?" Kupelototkan kedua mata padanya, agar tak coba ia macam-macam padaku.
Tomi mengangguk dengan kedua mata berkunang.
"Kalau begitu, ayo keluar! Singkirkan tanganmu, jangan dielus-elus begitu!" Kutarik tangannya agar kembali tak mengelus bagian tubuhnya yang sakit itu.
Tanpa menunggu lagi, kugiring ia keluar dari kamar. Pergi ke ruang tamu menemui kedua Guru tersebut.
"Maaf, Bu, udah menunggu ... he he he. Ini si Tomi kalau nyari baju ganti suka lama. Biasaaaa ... kalau nggak pilih sendiri, gak pernah cocok," ujarku dengan menyimpulkan senyum paksa.
Kududukkan Tomi di salah satu kursi, sementara aku berdiri tepat di sampingnya.
Kedua Guru bernama Anjar dan Nita itu menatapku dengan ekspresi tak biasa, nampak heran. Kemudian keduanya bersamaan menatap Tomi, membuatku sedikit tak nyaman dan banyak menduga-duga 'dengarkah mereka tentang obrolanku dan Tomi barusan'?
Sekilas kualihkan pandanganku pada Tomi. Wajahnya menunduk seakan lesu. Memang tak seceria di awal, kini lebih tampak murung dan menyebalkan dilihat.
Dasar anak b*d*h! Memalukan saja, batinku kesal.
"Ehm ... jadi mau membahas apa ya, Bu?" Kucoba membuka percakapan, setelah keadaan berubah hening.
Seorang Guru berjilbab kuning dengan sengaja menyenggol rekan sejawatnya, membuat sang Guru berjilbab cokelat terperanjat dan salah tingkah.
"Oh, eh, iya ... perkenalkan nama saya Anjar, guru pengajar Tomi." Ia mengulurkan tangannya padaku. Kemudian aku membalas menjabatnya.
"Ini Bu Nita, Guru kelas lain, yang kebetulan saya pinta untuk mengajar Tomi membaca puisi," lanjutnya lagi, yang kemudian rekannya itu mengulurkan tangannya padaku.
Aku kembali tersenyum, sambil menjabat uluran tangan guru berjilbab kuning itu.
"Jadi, begini ... karena Tomi anak yang cepat tanggap dan berani, saya memilihnya sebagai perwakilan dari kelas satu, lomba membaca puisi tingkat provinsi. Saya mau memberitahukan, bahwa setiap pulang sekolah, Tomi akan dilatih membaca puisi oleh Bu Nita. Nah, berhubung Tomi pulang sekolah selalu jalan kaki, maka kami memutuskan mulai besok Bu Nita sepulang sekolah langsung ke sini untuk mengajar. Kan, kasihan ... jika ia harus pulang kepanasan, mana jarak sekolah lumayan jauh untuk anak seusianya. Ya, kan, Bu?" ucap Bu Anjar sambil menoleh pada Bu Nita yang berada di sampingnya.
"Ya, Bu. Sekalian nanti pulang, Tomi saya antar," balas Bu Nita lirih.
Aku menundukkan pandangan. Diam sejenak.
Mana mungkin orang ini setiap hari ke rumah, bisa tekor aku kalau tiap hari menjamu makanan dan minuman untuknya. Buat beli lauk saja udah susah, batinku.
"Ehm ... anu, Bu. Nggak pa pa, deh, pulang kepanasan. Ngajarnya di sekolah saja. Tomi anaknya kuat panas, kok. Ya kan, Tom?" Kupandang Tomi sambil mencubit sedikit punggungnya.
Bocah itu menyeringai, kemudian menganggukkan kepalanya kecil.
Sementara kedua guru di depanku nampak saling berpandangan bingung.
"Ehm, bukannya kenapa-kenapa, sih ... saya kadang di sawah sampe sore, Bu. Tak enak nanti kalau tak bisa menjamu dan menemani, he he ...."
"Walah, Bu. Tak usah repot-repot. Saya ikhlas, tak minta jamuan, kok. Tak usah ditemani juga tak apa," balas Bu Nita kalem.
Glek! Aku menelan ludah, semakin bingung mencari alasan. Di lain sisi, malas jika harus melihat orang lain rame berdiskusi di rumahku. Bikin kepala makin judek melihat keadaan.
Tak berselang lama, tiba-tiba Sari dan anaknya datang.
"Lho, ada Bu Guru ...." Tangan Sari kemudian menjabat tangan kedua guru itu.
"Pantes, Tomi saya suruh segera ke rumah, tak juga datang. Eh, ternyata ada Bu Guru," ucapnya lagi sambil tertawa.
Huuuh, semakin membuatku sebal.
"Ya sudah, Bu. Saya pamit pulang dulu, cuma itu saja yang saya sampaikan." Bu Anjar beranjak, menyalamiku sambil mengajak Bu Nita pergi. Bu Nita pun segera berdiri, sambil berpesan, "sudah tak perlu repot-repot, Bu. Santai saja sama saya."
Aku tersenyum kecil. Pergi mengantarkan keduanya sampai depan.
Selepas mobil melaju, kembali aku masuk ke dalam rumah. Sengaja kupasang wajah ketus agar Sari dan anaknya segera pergi dari sini.
"Ayo, Tomi. Cepat makan! Habis makan, bantu Bibi nyuci," perintahku sambil ngeloyor masuk ke dalam. Tak kupedulikan Sari yang masih berdiri di ruang tamu dengan anaknya.
"Eh, Mbak Wat ... anak kecil disuruh nyuci, sih? Kan, kasihan ...." Suara Sari mulai menggoyahkan rasa cuekku.
Kemudian aku keluar dari dapur, menghampirinya.
"Itulah kalau kau kasihan sama anak kecil. Jadinya seperti anakmu! Sekolah bodoh, bikin puisi saja nggak bisa. Akibat dirimu yang terlalu memanjakan," tukasku lantang.
Wajah Sari terkejut, kemudian berucap, "astagfirullah hal'adzim ....."
"Lihat, Tomi! Pinter segala-galanya, sampe gurunya ngajak lomba sepropinsi saking pinternya. Itulah hebatnya anak pekerja keras. Anak tahu diri. Bukannya anak ngalem, yang kalo nggak bisa dikit, trus mewek. Bisanya mewek, dikit-dikit mewek. Hiiiihhhh," cibirku bergidik,sambil bertolak pergi. Kutarik tangan Tomi bersamaku, meninggalkannya yang masih di ruang tamu.
Aku menuruni parit, menggenggam tangan Tomi turun bersamaku. Sepertinya orang itu sudah pergi. Benar! Kulihat bayangannya keluar dari rumah, naik ke motor bututnya yang jelek. Matanya melihatku yang tengah membawa bak cucian menuju kali kecil. Kemudian ia berteriak, "heeee, perempuan sinting! Moga-moga aja Tomi nggak ketularan sinting diasuh orang sepertimu."
Aku tersenyum lucu mendengarnya.
Bicaralah suka-suka kau, mana kupeduli, gumamku.
Kuletakkan bak cucian ke tepi kali, sambil terus tersenyum puas dalam hati.
"Eh, Tomi," panggilku.
"Ya, Bi."
"Sayang nggak, sama Bibi?"
Bocah itu diam, memandangku sejenak, lalu menganggukkan kepala.
"Denger! Kalo sayang Bibi, jangan dekati anaknya si Sari lagi. Mengerti? Suka sebel lihat orang sok macam dia. Paham kamu?"
Tomi hanya diam. Membuatku semakin tak puas.
"Paham, nggak?" Kujitak kepalanya saking kesalnya.
Ia mengaduh, lantas mengangguk kecil.
Kemudian aku kembali berpesan sambil menyodorkan sebuah panci padanya, "dengar! Kau nyuci beras saja di sana. Biar Bibi yang nyuci pakaian. Kalau lapar, cari murbei dulu buat ganjal perut! Selesai nyuci beras, ganti wadahnya ke tempat magic com. Kasih air dari gentong setengah gayung. Trus, tekan tombol ke bawah. Paham?"
Ia kembali mengangguk, kemudian melangkahkan kakinya menuju pancuran air jernih yang mengaliri terasering.
Aku menghela napas melihatnya.
Hilang sudah keinginanku untuk memberi pelajaran Tomi habis-habisan. Dia anak yang bisa diandalkan.
Ah, bisa memaki Sari di depan mata saja sudah suatu kepuasan tersendiri. Kenapa harus kulampiaskan pada Tomi?
Aku mengambil duduk pada bebatuan. Sambil merendam beberapa pakaian ke air kali. Tiba-tiba saja .....
"Aduuuh! Bi ... Bibi ... tolooooong!"
Spontan, aku beranjak. Melihat ke arah dimana Tomi tadinya berjalan.
Ya, ampuuunn ... Tomiiiiii!!!
Mataku membelalak melihat apa yang terjadi.
(bersambung)
oceu dan 7 lainnya memberi reputasi
8