- Beranda
- Stories from the Heart
SURYA Dikala SENJA (Horor, Komedi)
...
TS
ayahnyabinbun
SURYA Dikala SENJA (Horor, Komedi)

Assalamualaikum semua.
Ini hanya goresan tinta imajinasi seorang lelaki tua yang telat menemukan hasratnya dalam hal menulis.
No Junk.
No Spam.
Pokoknya ikuti Rules dari Kaskus ya.
Cerita ini murni Fiksi, jadi kalau ada kesamaan nama tokoh dan tempat mohon di maklumi.
Terakhir.
Selamat menikmati bacaan ringan ini.
Spoiler for Prolog:
-Jakarta-
UGD RS di jakarta.
"Bagaimana istri saya sus!? " tanya seorang pria kepada suster yang baru saja keluar dari ruang UGD.
"Maaf pak masih kritis saya tidak bisa memberitahu lebih rinci kondisi istri bapak, itu wewenang dokter," jawab suster cepat kemudian dia berlalu meninggalkan lelaki itu.
Lelaki itu pun bersandar di tembok rumah sakit, raut mukanya terlihat lemas dan pucat kedua tangannya gemetar tatkala menutup wajahnya.
"Maafkan aku Naura, hiks, maafkan aku, " gumam lelaki itu sambil terisak menangis tersedu-sedu.
Seberkas cahaya membentuk sosok manusia berjongkok di depan lelaki itu, "jangan menangis sayang, ini memang sudah waktuku, jaga anak kita ya, dia ganteng seperti kamu, cup. " seru sesosok cahaya tersebut sambil mencium kening sang lelaki, dan cahaya itu pun berlalu bersama sesosok laki-laki berjubah putih yang menemaninya.
Lelaki itu mengangguk lesu sambil tersenyum tipis, melihat ruh istrinya menghilang menuju ufuk matahari dikala senja.
"Krieeek" suara pintu UGD terbuka, keluar seorang dokter dan beberapa suster menggendong seorang bayi.
"Pak Bagas, bayi bapak kami bersihkan dulu di ruang bayi ya pak, dokter ingin bicara dengan bapak," jawab suster dengan lemah lembut ke lelaki itu.
Lelaki itu pun berdiri, berjalan pelan menuju dokter yang menundukkan kepala di depan lelaki itu, gurat penyesalan terlihat dari wajah sang dokter.
"Sudah tidak apa-apa dok, saya sudah tahu, sehebat apapun anda tidak bisa melawan takdir, " jawab lelaki itu sambil menepuk pundak sang dokter.
"Ba-bagaimana bapak bisa tahu!? " jawab dokter dengan rona kebingungan.
Lelaki itu kemudian berlalu menuju ruangan bayi, langkah demi langkah terasa berat, tangisan tak terbendung dari kedua matanya, lelaki itu memukul-mukul dadanya agar menyisakan kelegaan saat ia bernafas.
"OOOEeeeK...OOOEEEEK...OOOEEEK," seketika tangis bayi memecah kesunyian lorong rumah sakit, lelaki itu mempercepat langkah demi langkahnya, terlihat seorang bayi sedang di gendong suster, menangis dengan kencangnya.
"Silakan pak di gendong anaknya, sudah saya bersihkan dedek bayinya," jawab suster ke lelaki itu.
Sang lelaki menerima si bayi dari tangan suster, menggendong dengan penuh kehati-hatian, sang bayi yang tadi menangis kencang seketika terdiam di pelukan lembut sang ayah.
"Mau di beri nama siapa pak bayinya?" tanya suster.
"Surya, Surya dikala senja. " jawab bapak Bagas lirih.
Spoiler for Chapter 1 : sang Surya:
Jakarta, 2018.
"TENG!! TENG!! TENG!!" bunyi bel terdengar hingga ujung jalan setapak depan sebuah sekolah, segerombolan anak tunggang langgang berlarian menuju gerbang sekolah tersebut.
Pak Kusni penjaga sekolah, merangkap satpam, merangkap manusia terlihat mendorong gerbang dengan kepayahan, faktor usia seperti menggerogoti tenaganya yang dulu seperti kuda jantan, nafasnya terdengar mengebu-gebu seperti pemain film erotis tahun 80an, padahal gerbang sekolahnya hanya ada satu, bayangkan bila sekolah ini memiliki 7 gerbang layaknya pintu neraka, mungkin senin beliau sudah di kebumikan.
Dari ufuk timur terdengar suara dengan lantang.
"HEI KUSNI!!! HENTIKAN!!! GUA MASIH MAU SEKOLAH KUSNI!!!"
Remaja itu berlari bersama gerombolan murid yang telat bagai babi hutan.
Pak Kusni yang sedang mendorong gerbang terdiam sesaat, lalu melihat asal suara tersebut, matanya melotot melihat remaja tersebut berlari seperti maling BH yang dikejar warga, dengan sisa tenaga tuanya di dorong gerbang itu dengan tergesa-gesa,
"bocah sialan itu tak boleh masuk..! TIDAK BOLEH MASUK..! YOU SHALL NOT PASS..!" gumam lelaki tua itu sambil mengutip kata-kata Gandalf Lord Of The Ring.
"SIALAN KAU KUSNI! GUA TIDAK AKAN KALAH DENGAN TUA BANGKA MACAM KAU KUSNI!!" teriak lagi remaja itu dengan lantang, langkah kakinya semakin kencang ia sampai lupa resleting celananya masih menganga memberikan sensasi cooling breeze di sekujur pangkal pahanya.
Mendengar itu Kusni geram, ia semakin menggebu-gebu mendorong gerbang, akan tetapi, "KREEK!!" suara tulang bergeser bersua, teriakan tertahan mengema di kalbu Kusni.
"AAARRRGGHH!! AMPUN GUSTI!! PINGGANGKU!!" sakit encok strata tiga Kusni kambuh, tubuh kusni tertahan gerbang, tanpa adanya gerbang mungkin tubuh Kusni akan tersungkur ke tanah, ada hubungan simbiosis mutualisme yang ironis antara Kusni dan gerbang.
"Pagi beh, kambuh?! AHAAY!" ejek remaja itu ke pak Kusni sambil berlenggang menuju kelas.
Sakit, malu, vertigo menjadi satu, itulah yang di rasakan Kusni sekarang, melihat murid itu berlalu membuat matanya berkaca-kaca seutas kata terucap dari bibir Kusni.
"Dasar bocah KAMPRET!!" Kusni tertahan mematung sambil menggenggam gerbang sekolah yang masih seperempat terbuka.
Kelas 2-A sudah di penuhi manusia-manusia unggulan, datang setiap pagi untuk mencari ilmu, bersiap-siap menatap masa depan dengan penuh harapan cemerlang, di belakang dua insan lelaki saling bercakap.
"Cok, film bokep yang kemaren elu kirim crash, kirim lagi dong bro," celoteh Bambang ke Ucok di baris belakang.
"BAH!! Handphone kau saza yang zadul Bams, buktinya zalan-zalan zaja tuh di hp ku, makanya beli hape zangan di pasar malam lai," jawab Ucok dengan logat medannya yang kental, sungguh percakapan yang menginspirasi kaum muda mudi INDONESIA.
"Eh eh eh, guru guru guru!" riuh anak-anak kelas 2-a, sesosok lelaki tinggi, atletis nan tampan terlihat di depan pintu, kemudian berlalu, berganti menjadi lelaki pendek, tambun dengan kepala botak di tengah layaknya lapangan bola, sekilas adegan tadi seperti iklan L-men yang gagal.
Pak Hartono masuk ke dalam kelas, melihat sekeliling kelas sambil menyapa.
"Pagi anak-anak!!", sapa pak Hartono.
"PAGI PAK GURUUU!!" Jawab murid-murid dengan serentak dan kompak.
Tiba-tiba seorang anak berdiri di depan pintu kelas, wajahnya terlihat kecapaian dan pucat.
"Yaaah! Telat!" ujar anak itu, pak Hartono menelisik dengan teliti anak yang terlambat itu, kemudian berujar "hei kamu! Berani kamu telat di jam saya! Kesini kamu!" perintah pak Hartono dengan galaknya, anak itu pun maju dengan perlahan, kepalanya menunduk malu tidak bisa menatap pak Hartono, "Push up 25 kali! Jikalau tidak sanggup silakan keluar kelas saya!!" ujar pak Hartono dengan tegas, ketika anak itu mengambil ancang-ancang untuk melakukan push up, sesosok mahkluk mengintip dari balik jendela di barisan pojok kanan belakang, matanya nanar namun tajam melihat situasi kelas.
"oke situasi aman," ujarnya dengan percaya diri, dengan mode silent ia menyelundupkan tasnya dari balik jendela menuju bangku belajar, lalu ia merangsek masuk dari celah jendela, bak ular kadut dengan licinnya ia masuk melewati celah lumayan sempit itu, setengah badannya sudah masuk ke dalam ruang kelas, tangan kirinya menyentuh meja kemudian ia mendorong sisa tubuhnya melalui tembok menggunakan tangan kanan, dengan sangat cepat dan tanpa satu makhluk pun mengetahui ia sudah masuk ke dalam kelas, dengan posisi menungging di atas meja, misi pun berhasil, ia turun dari meja kemudian menikmati pemandangan Budi yang sedang push up.
"Budi, terima kasih ya, tanpa elu sebagai pengalih perhatian gua ngak bisa sampai di dalam kelas, Budi, kamu, numero uno," gumam pria itu di dalam hati.
Iya, pria itu tidak lain dan tidak bukan adalah Surya, anak dari bapak Bagas prakasa yang kalian liat kisah pilunya di prolog, anak ini tumbuh besar menjadi sosok lelaki tampan, pintar dan soleh, itu hanya menurut penuturan bapaknya sendiri.
Push up Budi sudah berada di angka 23 kali, keringat bercucuran dari kening sampai badan Budi, bahkan sampai muncul bercak basah di daerah selangkangannya, pergelangan tangannya mulai goyah, lututnya bergetar 4,5 skala richter, tubuh yang di rancang untuk main warnet seharian itu tidak mampu menerima push up lebih dari 20 kali.
"Pak, sudah ya pak, saya sudah tidak sanggup," nego Budi ke pak Hartono.
Pak Hartono sedikit terenyuh melihat Budi yang kecapaian, "aduh, kasihan kamu nak, ya sudah … tambah lima lagi push upnya, biar genap jadi 30," tutur pak Hartono dengan melepas topeng kesedihannya, mata Budi nanar namun kosong menatap lantai, terlihat raut penyesalan teramat sangat dari wajah Budi.
Pak Hartono mulai menuju meja ia mengambil daftar absensi lalu mulai mengabsen satu per satu muridnya, dimulai dari Ani, Deni dan seterusnya, murid-murid saling bersahutan saat nama mereka disebut pak Hartono, ketika mulut pak Hartono menyebut nama Surya, "HADIR PAK..!" sahut seseorang pemuda dari belakang dengan lantang.
Seisi kelas kaget, terperanga sambil menganga melihat Surya sudah di dalam kelas, pertanyaan dan praduga berkecamuk di hati mereka.
"Bagaimana ia bisa masuk!?"
"Sejak kapan ia ada di kelas?!"
"Kenapa aku ada di kelas ini!!" gumam Ari yang seharusnya masuk kelas 2-d.
semua perhatian itu berbanding terbalik dengan kondisi Budi yang tanpa perhatian satupun dari teman-temannya.
"Sakit, banget, tapi tak berdarah, sungguh biadab temen-temen gua, kata mereka kita teman sejati, selalu di hati, HILIH KINTHIL!!" ujar Budi di dalam hati kesal dengan teman-temannya.
Pelajaran berjalan setelah sesi absensi, pak Hartono mulai menjelaskan di depan kelas, suasana hening terasa, murid-murid mulai mendengarkan dengan seksama, kecuali Surya yang sedang terlelap di mejanya, posisinya yang berada paling belakang dan di tutupi Bambang yang jangkung dan Ucok yang bulat menjadikan tempat duduknya seperti vila di puncak, tempat paling nyaman untuk beristirahat.
"TOK TOK TOK TOK" bunyi ketukan pintu memecah keheningan kelas, pak Zul sang kepala sekolah sedang berdiri dengan seorang gadis cantik nan manis di sebelahnya, "pagi pak, maaf ganggu kelasnya, ini ada murid baru kelas 2-a," ujar pak Zul, "oh iya pak, silakan neng masuk, perkenalkan diri dulu sama teman yang lain," jawab pak Hartono sambil mempersilakan gadis itu masuk.
Sesosok gadis manis memakai hijab putih berjalan perlahan menuju depan kelas, wajah manisnya terlihat malu-malu ketika bertatap muka dengan murid-murid kelas 2-A, "pagi semua, nama aku Naura kelana subhi, panggil saja Naura," jawab Naura sambil tersenyum simpul memperlihatkan lesung pipinya, seketika itu juga rentetan panah asmara menusuk hati para lelaki di kelas 2-A, kecuali Surya yang sedang berkelana di pulau kapuk dan para murid perempuan yang menunjukkan ekspresi tersaingi secara jasmani dan rohani.
"kamu duduk di belakang ya nak Naura, soalnya bangku yang kosong cuman ada di sebelah sana, " ujar pak Hartono sambil menunjuk bangku disebelah Surya.
Naura pun berjalan menuju bangkunya, diiringi tatapan nakal murid laki-laki di kelas itu, ia kemudian duduk sambil mulai mengeluarkan peralatan belajarnya.
Bambang dan Ucok yang duduk di depan Naura pun sontak membalikkan badan untuk berkenalan.
"Hai Naura, namanya cantik secantik orangnya," puji Bambang dengan gaya sok coolnya.
"hei Naura, cantik kali kau, nanti pulang ku antar pakai motor ninja ku mau tak?" goda Ucok sambil menyisir jambul khatulistiwa miliknya.
Melihat gelagat kedua lelaki di depannya naura langsung ilfeel stadium akhir, didalam hatinya ia berteriak "TIDAAAAAAK..!" akan tetapi Naura hanya membalas dengan senyum malu tapi palsu ke kedua orang utan itu.
"ikh amit-amit jabang bayi, masa hari pertama di sekolah baru gua udah di godain cowok alay macem keset kayak gini, Ya tuhan salah apa hambamu ini, " ketus Naura di dalam hati.
"Jangan di anggap serius, mereka cuman bercanda."
"DEG...!!"
Rona wajah Naura terlihat terkejut, sebuah telepati terkirim langsung menuju fikirannya, ia mencari sumber telepati itu, dan matanya tertuju pada punggung lelaki teman sebangkunya, Surya.
Spoiler for Index:
PART 1
CHAPTER 1
CHAPTER 2
CHAPTER 3
CHAPTER 4
CHAPTER 5
CHAPTER 6
CHAPTER 7
CHAPTER 8
CHAPTER 9
CHAPTER 10
CHAPTER 11
CHAPTER 12
CHAPTER 13
CHAPTER 14
CHAPTER 15
CHAPTER 16
CHAPTER 17
CHAPTER 18
CHAPTER 19
CHAPTER 20
CHAPTER 21
CHAPTER 22
CHAPTER 23
CHAPTER 24
CHAPTER 25
CHAPTER 26
CHAPTER 27
CHAPTER 28
CHAPTER 29
CHAPTER 30
PART 2
CHAPTER 2.1
CHAPTER 2.2
CHAPTER 2.3
CHAPTER 2.4
CHAPTER 2.5
CHAPTER 2.6
CHAPTER 2.7
CHAPTER 2.8
CHAPTER 2.9
CHAPTER 2.10
CHAPTER 2.11
CHAPTER 2.12
CHAPTER 2.13
CHAPTER 2.14
CHAPTER 2.15
CHAPTER 2.16
CHAPTER 2.17
CHAPTER 2.18
CHAPTER 2.19
CHAPTER 2.20
CHAPTER 2.21
CHAPTER 2.22
CHAPTER 2.23
CHAPTER 2.24
CHAPTER 2.25
CHAPTER 2.26
CHAPTER 2.27
CHAPTER 2.28
CHAPTER 2.29
Diubah oleh ayahnyabinbun 29-05-2022 00:42
namakuve dan 116 lainnya memberi reputasi
115
161.4K
Kutip
916
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
ayahnyabinbun
#574
Chapter 2.17
Spoiler for Dynamic duo:
Cahaya mentari pagi bersinar dengan cerahnya, semilir angin sepai sepoi berdesir diantara hamparan lapang rerumputan yang terhampar bagai permadani luas.
Ditengah hamparan rerumputan tersebut Devan berdiri terdiam dan terpana melihat pemandangan didepan mata seakan ia tidak dapat melukiskannya dengan kata-kata, Naura gadis berjilbab putih yang sedang dipuja dirinya kala itu sedang terduduk dihadapannya sembari tersenyum manja.
"A'a Devan sini, tidur dipangkuan Naura," seru Naura lembut menatap Devan dengan tatapan teduh.
Bagai anjing gila yang sedang bahagia Devan tersenyum setengah menyeringai sembari mengangguk-angguk dan perlahan berjalan kearah gadis tersebut.
"Na-naura kamu kok disini? Luna mana?" tanya Devan sembari merebahkan kepalanya dipangkuan Naura.
"Kamu bicara apa sih? Kita kan sedang kencan, masa bawa wanita lain … emh … Naura kangen sama a'a Devan," seru Naura mengalihkan pembicaraan sembari tersenyum manis.
"Hehehehehe … jadi malu … ta-tapi tunggu sebentar … ini bukan mimpi kan ya?" tanya Devan memastikan sembari melihat sekeliling.
Dengan tersenyum manis Naura menatap Devan sembari mencubit pelan hidung mancung Devan, "menurut a'a Devan memang ini hanya sebuah mimpi?" tanya Naura dengan nada manis nan manja disisipi kedipan nakal.
"Maunya sih bukan mimpi, ta-ta-ta…" suara Devan terbata-bata disaat wajah manis Naura dihadapannya sekejap berubah wujud menjadi wajah Saka sahabatnya yang sedang murka dengan cubitan di hidung mancungnya yang semakin terasa.
"BANGUN SETAAAAN!!!" maki Saka yang tiba-tiba berhijab.
Sekejap kilat Devan membuka kedua kelopak matanya, sebuah jari kaki tengah menjepit hidup mancung miliknya hingga ia tidak bisa bernafas lega.
Devan segera berusaha menggeliat menepis jepitan jari kaki Saka di hidungnya, "PUAAAH!!!" teriak Devan berusaha bernafas.
"Akhirnya bangun juga si anj…" belum selesai Saka berucap Devan segera merajuk kesal.
"Kampret lu nyet!! Udah jempol kaki bau ikan asin!" kesal Devan kala itu.
Saka tersenyum puas melihat sahabatnya terbangun dengan kesal, "ya mau gimana lagi Dev, gua udah teriak-teriak elu enggak bangun-bangun juga, ya terpaksa pake jempol ajaib," seru Saka sembari menunjukkan kedua jempol kakinya.
"Ajaib pala lu! urgh … ini dimana?" tanya Devan sambil melihat sekeliling.
"Hmfh … sepertinya ruang bawah tanah, disaat kita bertarung dengan Arga pasukannya berhasil membius kita dan mengurung kita disini," seru Saka sambil menggoyang-goyangkan tangannya berusaha membuka ikatan tali tambang di pergelangan tangannya.
"Naura dan Luna bagaimana ya?" tanya Devan yang ikut berusaha membuka ikatan di tangannya.
"Entahlah … semoga saja mereka bisa kabur dan segera kembali ke markas utama, lagipula misi kita sudah gagal," jawab Saka.
Devan menundukkan kepala seraya menggigit satu kancing di pakaian miliknya, ia menggigit suatu benda dan melempar kearah Saka, dengan cepat Saka meraih benda tersebut dengan kakinya dan mendorong benda itu kebelakang hingga tangannya yang terikat meraihnya.
"Bisa enggak?" tanya Devan menatap Saka.
"Sebentar … agak susah posisi gua," jelas Saka.
-Sreg-
-Sreg-
-Sreg-
Bunyi tali dipergelangan tangan Saka terpotong, dengan cepat ia membuka ikatan yang membelit pergelangan tangannya dengan pisau lipat kecil yang diberikan oleh Devan.
"Mantul!! Sekarang buka iketan gua," suruh Devan.
"Bilang apa dulu?"
"Aiissh … kagak bisa lain waktu bercandanya?!" cebik Devan kesal.
Saka hanya terdiam sembari memain-mainkan pisau lipat kecil itu dihadapan Devan.
"Hufh … Saka ganteng … bukain ikatan Devan dong," seru Devan setengah hati.
"Tolongnya mana?"
"Sumpah ya Ka elu nyebelin banget!!" cebik Devan kembali.
"T.o.l.o.n.g S.a.k.a G.a.n.t.e.n.g," eja Saka sembari menatap Devan yang kesal setengah mati.
"Tolong Saka ganteng … udah puas lu!!" seru Devan sambil menahan kesal dihatinya.
Dengan tersenyum puas Saka segera menuju kebelakang Devan dan memotong tali yang mengikat sahabatnya tersebut.
"Fiuh … sekarang apa?" tanya Devan.
Saka berdiri dan melangkah kearah pintu besi tua yang mengurung mereka di ruangan sempit tersebut, Saka melihat pintu tersebut dan memastikan tidak ada celah sedikitpun untuk melihat keluar.
"Gila tebel banget ini pintu," seru Saka sembari menyentuh pintu besi tersebut.
Devan melangkah kedepan dan ikut menyentuh pintu besi tersebut dan perlahan ia menempelkan telinga di dinginnya besi tua tersebut.
"Kedengeran?" tanya Saka.
"Ssst … diam … dua mahluk … semakin mendekat kesini," seru Devan sembari menatap Saka dengan senyum miring yang terukir dibibirnya.
Saka mengangguk mengerti akan rencana Devan. Devan berdiri disebelah pintu sedangkan Saka berdiri lima langkah didepan pintu besi sembari merapal mantra.
-DUNG-
-DUNG-
-DUNG-
Devan beberapa kali mengetuk pintu besi dan kemudian bersembunyi kembali, sementara dua jin hitam didepan mereka menghentikan langkah dan saling bertukar pandang kemudian perlahan mendekat kearah pintu besi.
-Klang-
Pintu besi tua itu terbuka, dua jin hitam kaget tidak percaya melihat sosok didepan mereka. Seketika sebuah tangan besar berwarna hijau tua menggapai dua jin hitam tersebut dan memasukkan mereka langsung kedalam ruang tahanan.
-Bagh-
-Bugh-
-Bagh-
-Bugh-
-Bugh-
Pukulan demi pukulan silih berganti bersua dari balik ruang tahanan, tidak beberapa lama kepala Devan melongo dari balik pintu besi dan melihat kekanan kekiri menatap sepanjang lorong ruang bawah tanah tersebut, setelah dirasa aman ia keluar dengan Saka mengekor dibelakangnya.
"Kemana nih? Kanan apa kiri?" tanya Saka.
"Kanan, dua jin hitam tadi datang dari arah sana," seru Devan sembari menutup rapat pintu besi tempat mereka tadi terperangkap dan menguncinya dengan kumpulan kunci yang ia dapatkan dari kedua jin hitam.
Devan dan Saka pun berlari kearah kanan mengikuti lorong panjang penjara bawah tanah tersebut hingga langkah mereka perlahan terhenti karena melihat sebuah pemandangan mengerikan yang mereka saksikan di sepanjang lorong yang Devan dan Saka lalui. Di sepanjang lorong tersebut terdapat sel-sel tahanan yang dipenuhi dengan jin-jin kera yang kurus kering, mereka adalah para rakyat Pujakerana yang ditahan semenjak Gundara berkuasa, beberapa kera terlihat sakit dan ada beberapa yang sudah tertutupi kain lusuh karena sudah meregang nyawa. Beberapa jin kera yang masih hidup riuh ramai meminta kedua manusia itu untuk membebaskan mereka.
Devan hendak menuju ke salah satu pintu sel untuk membebaskan jin-jin kera tersebut namun Saka meraih lengan Devan dan menghentikan langkahnya.
"Bukan waktunya, prioritas kita adalah melarikan diri dari sini, menemukan Luna dan melapor kepusat, mereka hanya akan menjadi beban," seru Saka sembari menatap Devan.
Devan berfikir sejenak, "Hmfh … baiklah," dengan berat hati Devan memalingkan wajah dari sel-sel tersebut sembari kembali berjalan hingga menuju sebuah pintu besar diujung lorong.
Devan membuka sedikit pintu tersebut dan mengintip keluar untuk melihat keadaan, di depan pintu tersebut terlihat ramai para prajurit jin hitam berlalu lalang.
"Sial sepertinya ini penjara sekaligus barak untuk prajurit … banyak banget jin hitam diluar," kesal Devan yang kembali menutup perlahan pintu tersebut.
"Sekarang bagaimana Dev?" tanya Saka.
"Hmfh … entahlah gua juga…"
-BOOOOM-
Suara ledakan besar terdengar dari arah depan diikuti gempa dahsyat yang mengguncang tanah yang mereka pijaki.
"Aiissh!! apaan lagi ini!?" bisik Devan sembari berpegangan di dinding lorong.
Saka segera maju kearah pintu depan dan kembali membuka pintu itu dengan perlahan, ia melihat para jin hitam berlarian tunggang langgang dari ruangan menuju ke pintu keluar.
"Sepertinya mereka semua pergi Dev," seru Saka yang tengah mengintip.
Devan ikut maju kedepan dan mengintip dari sela pintu, "sepertinya dewi fortuna berpihak sama kita," seru Devan dengan senyum miring terukir di bibirnya.
Devan berdiri kemudian berbalik arah dan berjalan kembali kedalam ruang tahanan.
"Woi pe'a! Pintu keluarnya disini!" seru Saka didepan pintu.
Tanpa menatap Saka Devan bersua, "entah apa yang terjadi di luar sana gua mau balik ketempat para tahanan tadi, apapun yang terjadi gua harus membebaskan mereka," serunya sembari berjalan pasti.
Saka hanya bisa tersenyum tipis menatap punggung sahabatnya tersebut dan mengekor dibelakang Devan.
"Kadang gua enggak ngerti sama kecintaan elu sama mahluk-mahluk ini Dev," runtuk Saka kepada sahabatnya tersebut yang hanya dibalas senyum tipis.
Sepanjang lorong Devan dan Saka membuka satu persatu pintu sel dengan kunci yang ia bawa dan membebaskan para tawanan, mereka mendapat ribuan ucapan terima kasih dari para jin-jin kera Pujakerana, tak memakan waktu lama Devan dan Saka sudah kembali kearah pintu keluar dengan ratusan jin-jin kera berbondong-bondong mengekor dibelakang mereka.
-KRieeeek-
Pintu besar itu terbuka, terlihat ruangan penjaga yang kosong melompong ditinggal para jin hitam, Devan dan Saka melangkah perlahan menuju ketengah ruangan, tiba-tiba …
-BUM-
Seekor jin kera besar berbulu merah melompat kemudian jatuh didepan Devan dan Saka membuat mereka melompat mundur dengan penuh siaga.
"Arga …" seru Devan menatap kera merah didepan dirinya.
"Hmfh … sudah gua duga ini semua enggak akan mudah," timpal Saka dingin.
Arga menatap kedua manusia didepannya dengan tatapan kosong dan seketika, "GROOAAAAR!!!" gelegar suara Arga memenuhi ruangan menyentak setiap mahluk yang berada disana.
Devan dan Saka bersiap, mereka memasang kuda-kuda dengan memusatkan energi sukma milik mereka, cahaya biru muda berkilatan dari tubuh Devan sedangkan manik mata kanan Saka berubah hijau dengan energi sukma hijau pekat merembes keluar dari tubuhnya.
"BHUTA!!" teriak Saka memanggil jin bhuto ijo yang tersegel didalam dirinya, sekejap energi hijau itu berubah bentuk menjadi bhuto ijo yang setengah badannya melayang di belakang tubuh Saka.
Percikan listrik terlihat menjilat dari tubuh Devan, dengan perlahan Devan menutup kedua kelopak matanya sambil ia bergumam pelan, "Rudra … tolong bimbing tubuh fana ini."
Devan melangkah kearah Arga sedangkan Arga yang tengah dikendalikan ilmu gendam melihat Devan sebagai sebuah ancaman. Arga kembali melompat tinggi dengan kepalan tangan siap menghantam tubuh Devan.
-BUM-
Asap mengepul dengan sebuah tangan tengah memukul tanah kosong didepan Arga. Devan dengan gampangnya melangkah kesamping menghindari pukulan tersebut. Arga mengangkat tangannya dan hendak memukul Devan kembali, namun secepat kilat Devan merunduk dan menghindari kembali serangan cepat Arga, tiap pukulan yang membabi buta itu dilancarkan Arga menuju dirinya namun semua serangan itu dapat dihindari seakan-akan semua gerakan Arga terbaca dengan mudah walau dengan menutup matanya.
-BUGH-
Sebuah pukulan dari kepalan tangan bhuto ijo mendarat telak di tubuh Arga disaat ia sibuk menyerang Devan.
-BRUGH-
"HURRAAH!!" teriak Saka penuh semangat setelah berhasil memukul Arga hingga tubuh kera merah itu terpelanting hingga menabrak dinding tembok.
Namun sekejap mata Arga berdiri kembali dan keluar dari reruntuhan dinding tanpa sedikitpun tanda terluka.
"ROOOOAAR!!!" auman Arga kembali menggelegar didalam ruangan luas tersebut sembari memukul-mukul dada bidangnya.
"Cih … ini semua tidak akan selesai jika begini terus," decih Devan kepada Saka.
"Apa saranmu?" tanya Saka.
"Keluarkan Bhalira, aku akan membuat Arga sibuk untuk sementara."
Saka mengangguk mengerti dan mulai merapal mantra, seketika Bhuta menyusut dan kembali meresap kedalam tubuh Saka, manik mata kanan Saka mulai berganti warna menjadi biru tua dan seketika energi sukma berwarna biru mulai merembes keluar tubuhnya dan mulai mengepul membentuk jin hitam bermata biru, tubuhnya tinggi dan kurus dengan sulur-sulur hitam melilit tubuhnya bagai perban.
-Bzzt-
-Bzzt-
-Bzzt-
-Bzzt-
Energi sukma Devan mulai menggila dengan jilatan energi biru muda berpijar dengan liar dari jemari tangan kanannya dan menyelimuti bagai sebuah cakar serigala. Dengan seribu langkah Devan berlalu menuju Arga masih menutup kedua matanya, sementara diujung sana Arga memasang kuda-kuda dengan kedua kepal tangan siap menerima tiap serangan yang akan datang.
-BLAR-
-BASH-
-BASH-
-DHUAR!!-
Gerakan Devan begitu cepat bagai kilatan petir yang menyambar langit malam sehingga membuat tubuh besar Arga sukar untuk menghindari serangan cakar tangan kanan pemuda tersebut, perlahan tubuh besarnya semakin melambat dan tercelkat, walau tidak menciptakan luka ditubuhnya energi sukma Devan seakan menyetrum Arga sampai terasa kedalam tulang.
"SAKA!! SEKARANG!!" Teriak Devan dari arah depan.
Saka yang berada dibelakang Devan mengangguk mengerti dan merapal mantra. Seketika Bhalira mengangkat kedua tangannya dan mengayunkannya kearah depan, sejurus kemudian Bhalira menghempaskan sulur-sulur hitam miliknya kearah Arga, sulur-sulur milik Bhalira menjerat Arga hingga jin kera itu tidak dapat bergerak dengan leluasa.
Devan melompat kebelakang dan mulai kembali merapal mantra dan seketika tangan kanan Devan mengeluarkan energi sukma berwarna biru muda bagai kilatan tombak petir, "TOMBAK RUDRA!!!" teriak Devan sembari melempar tombak petir kearah Arga.
-Wusssh-
-BLAAR!!-
Tombak melesat dan meledak mengenai telak Arga, tubuh kera merah itu tersengat energi Devan hingga terhempas kebelakang dan tersungkur jatuh tidak sadarkan diri, melihat lawannya jatuh Devan segera berlari kedepan dan melompat keatas tubuh Arga, ia menaruh telapak tangan diatas kening Arga dan kembali merapal mantra, seketika ilmu gendam yang tengah menguasai pikiran Arga hancur dan melebur.
Para penduduk pujakerana tercelkat melihat kedua manusia didepan mereka dengan tatapan tidak percaya, mereka takjub dengan kenyataan jendral paling kuat di pujakerana dapat di kalahkan dengan kerjasama mereka berdua. Perlahan para penduduk pujakerana mendekat untuk melihat lebih dekat keadaan jendral mereka.
"Kalian tenanglah, dia hanya tidak sadarkan diri, aku sudah meminimalisir untuk tidak melukai tubuhnya," jelas Devan.
Para jin kera bernafas lega kemudian merawat sang jendral bersama-sama.
-BRAAAAK-
Bunyi pintu terbuka dengan paksa dari arah depan, langkah-langkah kaki panjang terdengar oleh kedua telinga Devan dan Saka, dengan sigap mereka segera memasang kuda-kuda bersiap menghadapi siapapun yang akan masuk kedalam barak tersebut.
Secara tiba-tiba segerombolan jin-jin hitam merangsek masuk kedalam barak, mereka berlari kencang kearah depan namun ada yang janggal … seluruh rona wajah mereka terlihat ketakutan.
Devan dan Saka sudah siap dengan kuda-kuda mereka, walau tenaga mereka telah terkuras karena pertarungan mereka sudah siap bertarung kembali.
"AAAAAAAAAA!!" teriak para jin-jin hitam, mereka berlari menuju kearah Devan dan saka akan tetapi sesuatu yang janggal terjadi. Para jin hitam berlari menghindari dan memutari Devan dan Saka kemudian melewati para jin-jin kera dari sisi-sisi samping, mereka berlari tunggang langgang menuju pintu penjara bawah tanah dan berusaha masuk kedalam penjara dengan berdesak-desakan.
Melihat pemandangan barusan Devan dan Saka saling bertukar pandang.
"Dev …"
"Plis jangan tanya gua Ka, gua juga bingung," jelas Devan yang di balas anggukan Saka.
Samar-samar dari balik pintu tercipta siluet tiga manusia dan seekor jin kera yang tengah berdiri didepan mereka.
"Jadi ini tempatnya putri?" tanya manusia yang terlihat paling tua diantara mereka.
"Iya tuan, ini barak sekaligus penjara tempat para penduduk dikurung dan disiksa," timpal sang jin kera dengan suara lembutnya.
"Kalian!!!" pekik Devan dan Saka.
#bersambung
Ditengah hamparan rerumputan tersebut Devan berdiri terdiam dan terpana melihat pemandangan didepan mata seakan ia tidak dapat melukiskannya dengan kata-kata, Naura gadis berjilbab putih yang sedang dipuja dirinya kala itu sedang terduduk dihadapannya sembari tersenyum manja.
"A'a Devan sini, tidur dipangkuan Naura," seru Naura lembut menatap Devan dengan tatapan teduh.
Bagai anjing gila yang sedang bahagia Devan tersenyum setengah menyeringai sembari mengangguk-angguk dan perlahan berjalan kearah gadis tersebut.
"Na-naura kamu kok disini? Luna mana?" tanya Devan sembari merebahkan kepalanya dipangkuan Naura.
"Kamu bicara apa sih? Kita kan sedang kencan, masa bawa wanita lain … emh … Naura kangen sama a'a Devan," seru Naura mengalihkan pembicaraan sembari tersenyum manis.
"Hehehehehe … jadi malu … ta-tapi tunggu sebentar … ini bukan mimpi kan ya?" tanya Devan memastikan sembari melihat sekeliling.
Dengan tersenyum manis Naura menatap Devan sembari mencubit pelan hidung mancung Devan, "menurut a'a Devan memang ini hanya sebuah mimpi?" tanya Naura dengan nada manis nan manja disisipi kedipan nakal.
"Maunya sih bukan mimpi, ta-ta-ta…" suara Devan terbata-bata disaat wajah manis Naura dihadapannya sekejap berubah wujud menjadi wajah Saka sahabatnya yang sedang murka dengan cubitan di hidung mancungnya yang semakin terasa.
"BANGUN SETAAAAN!!!" maki Saka yang tiba-tiba berhijab.
Sekejap kilat Devan membuka kedua kelopak matanya, sebuah jari kaki tengah menjepit hidup mancung miliknya hingga ia tidak bisa bernafas lega.
Devan segera berusaha menggeliat menepis jepitan jari kaki Saka di hidungnya, "PUAAAH!!!" teriak Devan berusaha bernafas.
"Akhirnya bangun juga si anj…" belum selesai Saka berucap Devan segera merajuk kesal.
"Kampret lu nyet!! Udah jempol kaki bau ikan asin!" kesal Devan kala itu.
Saka tersenyum puas melihat sahabatnya terbangun dengan kesal, "ya mau gimana lagi Dev, gua udah teriak-teriak elu enggak bangun-bangun juga, ya terpaksa pake jempol ajaib," seru Saka sembari menunjukkan kedua jempol kakinya.
"Ajaib pala lu! urgh … ini dimana?" tanya Devan sambil melihat sekeliling.
"Hmfh … sepertinya ruang bawah tanah, disaat kita bertarung dengan Arga pasukannya berhasil membius kita dan mengurung kita disini," seru Saka sambil menggoyang-goyangkan tangannya berusaha membuka ikatan tali tambang di pergelangan tangannya.
"Naura dan Luna bagaimana ya?" tanya Devan yang ikut berusaha membuka ikatan di tangannya.
"Entahlah … semoga saja mereka bisa kabur dan segera kembali ke markas utama, lagipula misi kita sudah gagal," jawab Saka.
Devan menundukkan kepala seraya menggigit satu kancing di pakaian miliknya, ia menggigit suatu benda dan melempar kearah Saka, dengan cepat Saka meraih benda tersebut dengan kakinya dan mendorong benda itu kebelakang hingga tangannya yang terikat meraihnya.
"Bisa enggak?" tanya Devan menatap Saka.
"Sebentar … agak susah posisi gua," jelas Saka.
-Sreg-
-Sreg-
-Sreg-
Bunyi tali dipergelangan tangan Saka terpotong, dengan cepat ia membuka ikatan yang membelit pergelangan tangannya dengan pisau lipat kecil yang diberikan oleh Devan.
"Mantul!! Sekarang buka iketan gua," suruh Devan.
"Bilang apa dulu?"
"Aiissh … kagak bisa lain waktu bercandanya?!" cebik Devan kesal.
Saka hanya terdiam sembari memain-mainkan pisau lipat kecil itu dihadapan Devan.
"Hufh … Saka ganteng … bukain ikatan Devan dong," seru Devan setengah hati.
"Tolongnya mana?"
"Sumpah ya Ka elu nyebelin banget!!" cebik Devan kembali.
"T.o.l.o.n.g S.a.k.a G.a.n.t.e.n.g," eja Saka sembari menatap Devan yang kesal setengah mati.
"Tolong Saka ganteng … udah puas lu!!" seru Devan sambil menahan kesal dihatinya.
Dengan tersenyum puas Saka segera menuju kebelakang Devan dan memotong tali yang mengikat sahabatnya tersebut.
"Fiuh … sekarang apa?" tanya Devan.
Saka berdiri dan melangkah kearah pintu besi tua yang mengurung mereka di ruangan sempit tersebut, Saka melihat pintu tersebut dan memastikan tidak ada celah sedikitpun untuk melihat keluar.
"Gila tebel banget ini pintu," seru Saka sembari menyentuh pintu besi tersebut.
Devan melangkah kedepan dan ikut menyentuh pintu besi tersebut dan perlahan ia menempelkan telinga di dinginnya besi tua tersebut.
"Kedengeran?" tanya Saka.
"Ssst … diam … dua mahluk … semakin mendekat kesini," seru Devan sembari menatap Saka dengan senyum miring yang terukir dibibirnya.
Saka mengangguk mengerti akan rencana Devan. Devan berdiri disebelah pintu sedangkan Saka berdiri lima langkah didepan pintu besi sembari merapal mantra.
-DUNG-
-DUNG-
-DUNG-
Devan beberapa kali mengetuk pintu besi dan kemudian bersembunyi kembali, sementara dua jin hitam didepan mereka menghentikan langkah dan saling bertukar pandang kemudian perlahan mendekat kearah pintu besi.
-Klang-
Pintu besi tua itu terbuka, dua jin hitam kaget tidak percaya melihat sosok didepan mereka. Seketika sebuah tangan besar berwarna hijau tua menggapai dua jin hitam tersebut dan memasukkan mereka langsung kedalam ruang tahanan.
-Bagh-
-Bugh-
-Bagh-
-Bugh-
-Bugh-
Pukulan demi pukulan silih berganti bersua dari balik ruang tahanan, tidak beberapa lama kepala Devan melongo dari balik pintu besi dan melihat kekanan kekiri menatap sepanjang lorong ruang bawah tanah tersebut, setelah dirasa aman ia keluar dengan Saka mengekor dibelakangnya.
"Kemana nih? Kanan apa kiri?" tanya Saka.
"Kanan, dua jin hitam tadi datang dari arah sana," seru Devan sembari menutup rapat pintu besi tempat mereka tadi terperangkap dan menguncinya dengan kumpulan kunci yang ia dapatkan dari kedua jin hitam.
Devan dan Saka pun berlari kearah kanan mengikuti lorong panjang penjara bawah tanah tersebut hingga langkah mereka perlahan terhenti karena melihat sebuah pemandangan mengerikan yang mereka saksikan di sepanjang lorong yang Devan dan Saka lalui. Di sepanjang lorong tersebut terdapat sel-sel tahanan yang dipenuhi dengan jin-jin kera yang kurus kering, mereka adalah para rakyat Pujakerana yang ditahan semenjak Gundara berkuasa, beberapa kera terlihat sakit dan ada beberapa yang sudah tertutupi kain lusuh karena sudah meregang nyawa. Beberapa jin kera yang masih hidup riuh ramai meminta kedua manusia itu untuk membebaskan mereka.
Devan hendak menuju ke salah satu pintu sel untuk membebaskan jin-jin kera tersebut namun Saka meraih lengan Devan dan menghentikan langkahnya.
"Bukan waktunya, prioritas kita adalah melarikan diri dari sini, menemukan Luna dan melapor kepusat, mereka hanya akan menjadi beban," seru Saka sembari menatap Devan.
Devan berfikir sejenak, "Hmfh … baiklah," dengan berat hati Devan memalingkan wajah dari sel-sel tersebut sembari kembali berjalan hingga menuju sebuah pintu besar diujung lorong.
Devan membuka sedikit pintu tersebut dan mengintip keluar untuk melihat keadaan, di depan pintu tersebut terlihat ramai para prajurit jin hitam berlalu lalang.
"Sial sepertinya ini penjara sekaligus barak untuk prajurit … banyak banget jin hitam diluar," kesal Devan yang kembali menutup perlahan pintu tersebut.
"Sekarang bagaimana Dev?" tanya Saka.
"Hmfh … entahlah gua juga…"
-BOOOOM-
Suara ledakan besar terdengar dari arah depan diikuti gempa dahsyat yang mengguncang tanah yang mereka pijaki.
"Aiissh!! apaan lagi ini!?" bisik Devan sembari berpegangan di dinding lorong.
Saka segera maju kearah pintu depan dan kembali membuka pintu itu dengan perlahan, ia melihat para jin hitam berlarian tunggang langgang dari ruangan menuju ke pintu keluar.
"Sepertinya mereka semua pergi Dev," seru Saka yang tengah mengintip.
Devan ikut maju kedepan dan mengintip dari sela pintu, "sepertinya dewi fortuna berpihak sama kita," seru Devan dengan senyum miring terukir di bibirnya.
Devan berdiri kemudian berbalik arah dan berjalan kembali kedalam ruang tahanan.
"Woi pe'a! Pintu keluarnya disini!" seru Saka didepan pintu.
Tanpa menatap Saka Devan bersua, "entah apa yang terjadi di luar sana gua mau balik ketempat para tahanan tadi, apapun yang terjadi gua harus membebaskan mereka," serunya sembari berjalan pasti.
Saka hanya bisa tersenyum tipis menatap punggung sahabatnya tersebut dan mengekor dibelakang Devan.
"Kadang gua enggak ngerti sama kecintaan elu sama mahluk-mahluk ini Dev," runtuk Saka kepada sahabatnya tersebut yang hanya dibalas senyum tipis.
Sepanjang lorong Devan dan Saka membuka satu persatu pintu sel dengan kunci yang ia bawa dan membebaskan para tawanan, mereka mendapat ribuan ucapan terima kasih dari para jin-jin kera Pujakerana, tak memakan waktu lama Devan dan Saka sudah kembali kearah pintu keluar dengan ratusan jin-jin kera berbondong-bondong mengekor dibelakang mereka.
-KRieeeek-
Pintu besar itu terbuka, terlihat ruangan penjaga yang kosong melompong ditinggal para jin hitam, Devan dan Saka melangkah perlahan menuju ketengah ruangan, tiba-tiba …
-BUM-
Seekor jin kera besar berbulu merah melompat kemudian jatuh didepan Devan dan Saka membuat mereka melompat mundur dengan penuh siaga.
"Arga …" seru Devan menatap kera merah didepan dirinya.
"Hmfh … sudah gua duga ini semua enggak akan mudah," timpal Saka dingin.
Arga menatap kedua manusia didepannya dengan tatapan kosong dan seketika, "GROOAAAAR!!!" gelegar suara Arga memenuhi ruangan menyentak setiap mahluk yang berada disana.
Devan dan Saka bersiap, mereka memasang kuda-kuda dengan memusatkan energi sukma milik mereka, cahaya biru muda berkilatan dari tubuh Devan sedangkan manik mata kanan Saka berubah hijau dengan energi sukma hijau pekat merembes keluar dari tubuhnya.
"BHUTA!!" teriak Saka memanggil jin bhuto ijo yang tersegel didalam dirinya, sekejap energi hijau itu berubah bentuk menjadi bhuto ijo yang setengah badannya melayang di belakang tubuh Saka.
Percikan listrik terlihat menjilat dari tubuh Devan, dengan perlahan Devan menutup kedua kelopak matanya sambil ia bergumam pelan, "Rudra … tolong bimbing tubuh fana ini."
Devan melangkah kearah Arga sedangkan Arga yang tengah dikendalikan ilmu gendam melihat Devan sebagai sebuah ancaman. Arga kembali melompat tinggi dengan kepalan tangan siap menghantam tubuh Devan.
-BUM-
Asap mengepul dengan sebuah tangan tengah memukul tanah kosong didepan Arga. Devan dengan gampangnya melangkah kesamping menghindari pukulan tersebut. Arga mengangkat tangannya dan hendak memukul Devan kembali, namun secepat kilat Devan merunduk dan menghindari kembali serangan cepat Arga, tiap pukulan yang membabi buta itu dilancarkan Arga menuju dirinya namun semua serangan itu dapat dihindari seakan-akan semua gerakan Arga terbaca dengan mudah walau dengan menutup matanya.
-BUGH-
Sebuah pukulan dari kepalan tangan bhuto ijo mendarat telak di tubuh Arga disaat ia sibuk menyerang Devan.
-BRUGH-
"HURRAAH!!" teriak Saka penuh semangat setelah berhasil memukul Arga hingga tubuh kera merah itu terpelanting hingga menabrak dinding tembok.
Namun sekejap mata Arga berdiri kembali dan keluar dari reruntuhan dinding tanpa sedikitpun tanda terluka.
"ROOOOAAR!!!" auman Arga kembali menggelegar didalam ruangan luas tersebut sembari memukul-mukul dada bidangnya.
"Cih … ini semua tidak akan selesai jika begini terus," decih Devan kepada Saka.
"Apa saranmu?" tanya Saka.
"Keluarkan Bhalira, aku akan membuat Arga sibuk untuk sementara."
Saka mengangguk mengerti dan mulai merapal mantra, seketika Bhuta menyusut dan kembali meresap kedalam tubuh Saka, manik mata kanan Saka mulai berganti warna menjadi biru tua dan seketika energi sukma berwarna biru mulai merembes keluar tubuhnya dan mulai mengepul membentuk jin hitam bermata biru, tubuhnya tinggi dan kurus dengan sulur-sulur hitam melilit tubuhnya bagai perban.
-Bzzt-
-Bzzt-
-Bzzt-
-Bzzt-
Energi sukma Devan mulai menggila dengan jilatan energi biru muda berpijar dengan liar dari jemari tangan kanannya dan menyelimuti bagai sebuah cakar serigala. Dengan seribu langkah Devan berlalu menuju Arga masih menutup kedua matanya, sementara diujung sana Arga memasang kuda-kuda dengan kedua kepal tangan siap menerima tiap serangan yang akan datang.
-BLAR-
-BASH-
-BASH-
-DHUAR!!-
Gerakan Devan begitu cepat bagai kilatan petir yang menyambar langit malam sehingga membuat tubuh besar Arga sukar untuk menghindari serangan cakar tangan kanan pemuda tersebut, perlahan tubuh besarnya semakin melambat dan tercelkat, walau tidak menciptakan luka ditubuhnya energi sukma Devan seakan menyetrum Arga sampai terasa kedalam tulang.
"SAKA!! SEKARANG!!" Teriak Devan dari arah depan.
Saka yang berada dibelakang Devan mengangguk mengerti dan merapal mantra. Seketika Bhalira mengangkat kedua tangannya dan mengayunkannya kearah depan, sejurus kemudian Bhalira menghempaskan sulur-sulur hitam miliknya kearah Arga, sulur-sulur milik Bhalira menjerat Arga hingga jin kera itu tidak dapat bergerak dengan leluasa.
Devan melompat kebelakang dan mulai kembali merapal mantra dan seketika tangan kanan Devan mengeluarkan energi sukma berwarna biru muda bagai kilatan tombak petir, "TOMBAK RUDRA!!!" teriak Devan sembari melempar tombak petir kearah Arga.
-Wusssh-
-BLAAR!!-
Tombak melesat dan meledak mengenai telak Arga, tubuh kera merah itu tersengat energi Devan hingga terhempas kebelakang dan tersungkur jatuh tidak sadarkan diri, melihat lawannya jatuh Devan segera berlari kedepan dan melompat keatas tubuh Arga, ia menaruh telapak tangan diatas kening Arga dan kembali merapal mantra, seketika ilmu gendam yang tengah menguasai pikiran Arga hancur dan melebur.
Para penduduk pujakerana tercelkat melihat kedua manusia didepan mereka dengan tatapan tidak percaya, mereka takjub dengan kenyataan jendral paling kuat di pujakerana dapat di kalahkan dengan kerjasama mereka berdua. Perlahan para penduduk pujakerana mendekat untuk melihat lebih dekat keadaan jendral mereka.
"Kalian tenanglah, dia hanya tidak sadarkan diri, aku sudah meminimalisir untuk tidak melukai tubuhnya," jelas Devan.
Para jin kera bernafas lega kemudian merawat sang jendral bersama-sama.
-BRAAAAK-
Bunyi pintu terbuka dengan paksa dari arah depan, langkah-langkah kaki panjang terdengar oleh kedua telinga Devan dan Saka, dengan sigap mereka segera memasang kuda-kuda bersiap menghadapi siapapun yang akan masuk kedalam barak tersebut.
Secara tiba-tiba segerombolan jin-jin hitam merangsek masuk kedalam barak, mereka berlari kencang kearah depan namun ada yang janggal … seluruh rona wajah mereka terlihat ketakutan.
Devan dan Saka sudah siap dengan kuda-kuda mereka, walau tenaga mereka telah terkuras karena pertarungan mereka sudah siap bertarung kembali.
"AAAAAAAAAA!!" teriak para jin-jin hitam, mereka berlari menuju kearah Devan dan saka akan tetapi sesuatu yang janggal terjadi. Para jin hitam berlari menghindari dan memutari Devan dan Saka kemudian melewati para jin-jin kera dari sisi-sisi samping, mereka berlari tunggang langgang menuju pintu penjara bawah tanah dan berusaha masuk kedalam penjara dengan berdesak-desakan.
Melihat pemandangan barusan Devan dan Saka saling bertukar pandang.
"Dev …"
"Plis jangan tanya gua Ka, gua juga bingung," jelas Devan yang di balas anggukan Saka.
Samar-samar dari balik pintu tercipta siluet tiga manusia dan seekor jin kera yang tengah berdiri didepan mereka.
"Jadi ini tempatnya putri?" tanya manusia yang terlihat paling tua diantara mereka.
"Iya tuan, ini barak sekaligus penjara tempat para penduduk dikurung dan disiksa," timpal sang jin kera dengan suara lembutnya.
"Kalian!!!" pekik Devan dan Saka.
#bersambung
ariefdias dan 20 lainnya memberi reputasi
21
Kutip
Balas
Tutup