- Beranda
- Stories from the Heart
Tempra Knight
...
TS
ayahnyabinbun
Tempra Knight

Hai para kaskuser..
Ayahbinbun balik lagi dengan cerita baru, yang pastinya beda dari cerita-cerita yang berseliweran di sini..
Semoga para pembaca bisa menikmati cerita petualangan ini bersama om..

No Junk.
No Spam.
Pokoknya ikuti Rules dari Kaskus ya.
Cerita ini murni Fiksi, jadi kalau ada kesamaan nama tokoh dan tempat mohon di maklumi.
Terakhir.
Selamat menikmati bacaan ringan ini.
Spoiler for index:
Diubah oleh ayahnyabinbun 10-12-2019 19:47
nona212 dan 5 lainnya memberi reputasi
6
2K
Kutip
21
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
ayahnyabinbun
#7
Chapter 3
Spoiler for seratus prajurit:
Celcius berlari dan terus berlari, ia tak menghiraukan babi liar hasil buruannya yang ia tinggalkan begitu saja, sekarang yang ada di fikirannya hanya fokus untuk melewati segala rintangan untuk sampai kearah goa, dahan demi dahan dilompati agar bisa sampai kearah auman naga yang tadi terdengar oleh kedua telinganya, perlahan kumpulan kabut putih mulai terbentuk melingkupi tubuh Celcius dan kedua matanya mulai membentuk manik mata naga.
"Bertahanlah paman, aku segera menyelamatkanmu," gumam Celcius yang semakin tertutupi kabut putih.
Sementara di atas dahan pohon paling tinggi Reamur menyaksikan penyergapan sang naga hijau oleh para prajurit kerajaan, mereka berhasil menjerat sang naga dengan jaring khusus yang diperuntukan untuk melawan bangsa naga, jaring tersebut menekan energi magi sehingga naga tidak bisa mengeluarkan jilatan apinya, ratusan panah telah menancap di tubuh dan sayap sang naga hijau, sorak sorai para prajurit kerajaan dan beberapa prajurit bayaran terdengar dari bawah sana, mereka tengah merayakan kemenangan karena telah menaklukkan seekor naga yang terkenal akan kekuatannya yang melegenda.
"Cih … seratus prajurit melawan satu naga yang sedang terluka parah, dilihat darimanapun ini pertarungan yang tidak seimbang," decih Reamur masih mengawasi pergerakan para prajurit yang mulai mengendurkan pengawasannya.
Para prajurit yang mengejar hadiah mulai mengeluarkan belati untuk menguliti sang naga dan mengambil semua bagian dari tubuh naga tersebut, di pasar yang legal kuku dan taring naga masih bisa di perjual belikan secara bebas dengan harga tinggi namun di pasar gelap harga bagian tubuh terlarang entah itu hati, jantung bahkan darah bisa menghasilkan rupia yang amat banyak, di saat mereka hendak mendekati sang naga dari arah timur sebuah kepulan kabut putih mulai menggulung dan menutupi para prajurit kerajaan begitu juga prajurit bayaran.
"AAARRRGGHHH!"
"UUUGHHH!!"
"SIAPA DISANA!? AAARGGGHH!"
"SEMUA BERSIAGA!! INI PENYERGAPAN!!"
Para prajurit panik dengan kabut putih yang tiba-tiba datang tanpa peringatan, kabut putih tersebut disusul dengan penyerangan yang sangat cepat oleh seseorang, mahluk itu menyerang dengan sangat cepat dan tanpa mengeluarkan suara sehingga para prajurit tak bisa mendeteksi keberadaan mahkluk yang menyerang mereka terlebih kepulan kabut pekat menutupi pandangan mereka.
Dari atas pohon Reamur masih mengamati yang terjadi di bawah sana, teriakan kesakitan dan minta tolong menggaung dari arah kabut tersebut, ia berusaha melihat mahluk yang menyerang para prajurit namun pandangannya tertutupi kabut tebal.
"Hhmm … aku harus waspada," gumam Reamur sembari menggenggam pedangnya.
Selang beberapa menit tidak ada suara teriakan lagi dari bawah sana, sunyi dan hening yang terasa namun Reamur tidak menurunkan kewaspadaannya karena mahkluk yang menyerang para prajurit belum terlihat wujudnya, tiba-tiba.
-Srek-srek-srek-
Dari arah samping Celcius muncul dengan kepalan tangan siap menghajar sisi samping tubuh Reamur.
-CLANG-
Dengan cepat Reamur menangkis pukulan itu dengan bilah pedangnya Reamur bertubruk dengan pukulan Celcius, tubuh Reamur terpental jauh dan jatuh ke sebuah kubangan air bercampur lumpur di bawah pohon.
"Urgh sial kuat sekali dia," gerutu Reamur sembari bangkit dari tempat ia terjatuh.
Celcius melompat kearah Reamur dan menatap Reamur tajam, "apa engkau salah satu prajurit yang menyergap naga hijau itu?!" tanya Celcius geram.
Reamur menatap wajah Celcius, "matanya … pupil matanya berbeda dari pertama aku bertemu dengan lelaki ini, pupilnya seperti pupil naga," gumam Reamur dalam hati.
"JAWAB!!" Teriak Celcius sembari menyiapkan kuda-kuda untuk segera menyerang.
"Apa engkau melihat ada bercak darah di pedangku?" tanya Reamur sembari merogoh kantung obat yang terletak di pinggangnya, "ini ambillah," seru Reamur sambil melempar sebuah botol elixir kepada Celcius.
"Cepat suruh naga itu meminumnya, ramuan elixir akan memulihkan luka secara drastis dalam waktu singkat akan tetapi itu jika belum terlambat, niscaya ia pasti akan selamat," perintah Reamur pada Celcius.
Dengan sedikit ragu ia berlari cepat kearah goa, Celcius segera beranjak pergi menuju sang naga hijau yang sedang kritis sedangkan Reamur berjalan perlahan mengekor mengikuti langkah Celcius, di sepanjang jalan mayat-mayat para prajurit kerajaan dan prajurit bayaran bergelimpangan tubuh mereka terkoyak dengan bekas cakaran seperti serangan seekor binatang buas.
"Seratus prajurit ditumbangkannya begitu saja dan mengerikannya ia hanya memerlukan beberapa menit, dia seorang tempra akan tetapi mata tadi … tidak salah lagi itu adalah mata seorang naga, sebenarnya mahkluk apa dia," gumam Reamur sambil masih berjalan menuju sang naga dan Celcius yang tengah berargumen satu sama lain.
"Anda harus meminum ini paman! Mengapa anda bersikeras untuk memilih mati disini!" pekik Celcius penuh amarah.
"Ratuku sudah mati, aku sudah tidak pantas hidup lagi bocah, simpan ramuan manusia itu kembali, engkau lebih membutuhkannya di perjalanan pulang dibanding aku," kata sang naga lemah pada Celcius di depannya.
"Aku akan membalaskan dendam ini paman, aku bersumpah, walaupun engkau membenciku sedari aku bayi aku tetap akan membalaskan dendam untukmu," lirih Celcius sembari bersimpuh di depan sang naga.
"Hehehehe … bocah bodoh, tidak aku sangka di akhir hidupku malah engkau yang perhatian pada naga tua ini," lirih sang naga hijau pelan, "ada sesuatu yang harus aku beritahukan kepadamu bocah … engkau bukanlah seorang naga," pungkasnya.
"Jangan bercanda paman, aku seorang naga putra dari Ezra sang ratu naga langit pewaris kuasa langit, bila aku bukan naga tidak mungkin aku bisa menggunakan kuasa langit yang diturunkan ibu padaku," seru balik Celcius.
"Lalu kemana sayapmu?" tanya sang naga
"K-kalau itu …" Celcius tidak dapat berkata-kata mendengar pertanyaan sang naga hijau.
"Kau adalah seorang tempra, dasar bocah bodoh … para pengendali anomali cuaca, itu mengapa kau bisa mengendalikan awan dan membentuk kabut, kau jelas-jelas berbeda dari kami para naga, ibumu menyuruh kami semua untuk diam dan membiarkanmu percaya bahwa kau adalah naga."
"Ta-tapi mengapa begitu?!! Setelah semua yang telah terjadi mengapa anda memberi tahuku sekarang paman!!" pekik Celcius.
"Karena aku membenci diriku setiap melihatmu bocah, dahulu aku telah membantai kaummu dan setiap aku melihatmu aku merasa bersalah bahkan namaku diambil dari tempat pembantaian kaummu, Eragis sang jendral naga penakluk Eragia."
Celcius terdiam menatap wajah Eragis yang terlihat semakin lemah.
"Sebelum kau menuntut balas kepada perdana menteri wyvern pergilah ke gunung Eragia, disitu kau akan menemukan kebenaran sesungguhnya tentang jatidirimu."
Celcius masih terdiam mendengarkan kata-kata Eragis yang semakin lemah.
"Dan satu hal lagi … ini permintaan terakhirku padamu," seru Eragis.
"Apa paman?"
"Tolong bunuh aku dengan tanganmu," pinta Eragis.
"Ti-tidak! Aku tidak bisa melakukan itu!"
"Aku mohon, mengetahui bahwa yang membunuhku adalah bangsa tempra akan membuatku lebih tenang di alam sana," jawab Eragis.
"Hiks … tidak … aku tidak bisa paman … hiks," tangis Celcius pecah mendengar permintaan terakhir Eragis.
"Maaf memotong tali kasih yang sangat mengharukan ini tapi bisakah kalian menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi disini?" tanya Reamur yang tiba-tiba muncul diantara Eragis dan Celcius.
Mata Eragis mendelik disaat melihat kedatangan Reamur, "KAU!! Tidak salah lagi!! Pedang itu!!" Eragis bangkit dengan seluruh tenaga yang tersisa, luka-luka di tubuhnya semakin parah mengeluarkan darah karena pergerakan tersebut.
Reamur melangkah mundur mendapati sang naga hijau sedang terbangun untuk menyerang dirinya, ia mengambil pedang besar miliknya dan bersiap untuk segala kemungkinan.
"Paman ada apa? Hei kau! Reamur! siapa kau sebenarnya!?" tanya Celcius bersiap-siap dengan kuda-kuda miliknya untuk menyerang Reamur.
"Hei! Aku juga tidak tahu apa-apa disini, naga hijau ini yang tiba-tiba ingin menyerangku!" seru Reamur penuh siaga.
"Pedang itu … tidak salah lagi itu adalah pedang krona, apakah kau juga seorang tempra wahai bocah berambut jagung?" tanya Eragis menatap Reamur lekat-lekat.
"Kalau iya memangnya kenapa? hah! Aku tidak akan pernah takut untuk melawan kalian berdua dan satu lagi ini pirang! Blonde! Lagi hits di perkotaan! bukan rambut jagung!!" tantang Reamur kesal, ia bersiaga dengan pedang besarnya.
Eragis sang naga hijau terduduk, "Gyahahahaha!!! tak kusangka ramalan orang itu terbukti di depan mataku sendiri," seru Eragis sambil tertawa menahan sakit di seluruh tubuhnya.
"Hei bocah bodoh," panggil Eragis pada Celcius.
"I-iya paman ada apa?"
"Berikan aku elixir itu, aku akan menunda jadwal kematianku," pinta Eragis, Celcius akhirnya meneteskan semua ramuan elixir pada lidah naga hijau itu dan seketika seluruh luka-luka dan pendarahan yang terjadi pada tubuh Eragis menguap dan menutup secara perlahan.
Setelah seluruh luka Eragis menutup cahaya hijau berpendar dari seluruh tubuh sang naga hijau tersebut, seekor naga yang besar itu berubah wujud menjadi sesosok manusia dengan baju zirah bertahtakan batu zamrud di dadanya.
"Kalian berdua mendekatlah," pinta Eragis pada Reamur dan Celcius.
Celcius segera mendekat menuju Eragis yang sudah mengecil seukuran lelaki dewasa tersebut sedangkan Reamur mendekat namun masih bersiaga dengan pedang besarnya.
"Hei rambut jagung mendekatlah, aku tidak akan menyerangmu, justru aku akan membantu memberikan tujuan hidup yang baru bagimu," seru Eragis pada Reamur.
"Apa maksudmu? Tujuan apa?" tanya Reamur.
"Ini tentang orang yang mewariskan pedang legendaris itu padamu, ini tentang seseorang yang mirip denganmu."
Reamur terdiam kemudian ia menyarungkan kembali pedang besar miliknya di punggung, ia berjalan selangkah demi selangkah menuju sang naga hijau tersebut.
"Ceritakanlah … aku mendengarkan."
Bersambung..
0
Kutip
Balas