- Beranda
- Stories from the Heart
Jangan Panggil Aku Ibu
...
TS
shirazy02
Jangan Panggil Aku Ibu

(Warning : 21+ akan ada tindak kekerasan dalam cerita, namun sarat moral, mengantarkan banyak kejutan tak terduga di dalamnya)
part 2
part 3
part 4
part 5
part 6
part 7
part 8
part 9
part 10
part 11
part 12
Part 13
Part 14
Part 15
Part 16
part 1
Suara carut-marut beberapa ayam jantan yang berkokok, mulai menyadarkanku dari lelapnya tidur. Membuatku beranjak segera membuka jendela kamar. Terlihat seberkas cahaya matahari mulai menampakkan sinarnya dari ufuk timur. Tak tertinggal suara merdunya burung-burung dari balik dedaunan yang tengah bersenandung.
Seharusnya suasana pagi yang dingin nan sejuk ini menambah nikmat tersendiri untukku, namun nyatanya, sangat berbeda dengan suasana hatiku.
Kutengok jam dinding dari balik tirai. Jam 05.30. Baru sadar bahwa hanya dua jam saja aku mampu tertidur?
Dengan mata yang masih terasa berat, kulangkahkan kakiku keluar kamar. Mematikan lampu tengah dan teras yang masih menyala. Lalu membuka bilik-bilik jendela, terakhir membuka pintu utama.
Haidar masih saja bergelut dengan mimpinya. Kubiarkan ia terlelap tidur. Masih penasaran ke-diam-annya semalam. Tumben ia tak rewel, tak seperti biasanya.....
Sementara, Mas Agus ... entah kemana ia. Gelas berisi teh di atas meja masih tak tersentuh sama sekali. Sepertinya ia tak pulang lagi.
Kutarik nafas panjang, lalu menghembuskannya perlahan seiring penatnya kepala yang kurasakan.
Sudah tiga hari ini, Mas Agus tak pulang. Membuatku khawatir dan berpikir yang macam-macam. Uang yang ia beri padaku sepekan yang lalu sudah menipis. Aku semakin dibuat pusing karena tak ada lagi orang yang bisa kutoleh disini.
"He, Wati! Jangan ngutang lagi, ya! Boleh ngutang, tapi, lunasin dulu tunggakannya! Jebol anakku kalau dirimu ngutang mulu."
Dari warung seberang jalan, Mak Minah berteriak kencang sembari mengacungkan sapu halamannya itu padaku.
Aku langsung membalikkan badan, pergi dari ruang tamu dengan langkah cepat menuju kembali ke kamar. Tak terasa air mata mulai menitik. Betapa malunya aku sebagai perempuan diteriaki seperti itu disaat banyak para tetangga belanja di warungnya.
Bagaimana aku bisa melunasi hutang, sementara uang yang kukantongi sekarang saja tersisa hanya enam ribu rupiah.
Kuseka air mataku yang kian mengucur, lalu mengalihkan pandangan kembali menatap Haidar yang masih terlelap.
Oh, Tuhan ... aku tak sanggup lagi.
Mas Agus, kamu dimana?
Lagi-lagi air mataku menitik.
Belum usai kesedihanku, pagi-pagi sekali Bu Rina datang. Ia marah, menyuruhku segera meninggalkan rumah. Kami memang menunggak biaya sewa lima bulan, dan aku tahu Mas Agus sudah berusaha untuk itu. Tapi, bagaimana lagi ... penghasilannya sebagai kuli angkut di pasar hanya cukup untuk menutup hutang yang lain dan makan seadanya.
Tak mau terus bersitegang, lantas kutegaskan pada Bu Rina jika Mas Agus sudah tiga hari ini tak pulang. Namun, sudah tak ada lagi rasa iba terpancar dari raut wajahnya.
"Saya sudah lima bulan bersabar, Wati. Suamimu tak juga memberi uang yang dijanjikan meski sekedar menyicil. Saya ini sudah tidak punya suami. Beda dengan kamu. Masih untung kamu ada yang menafkahi. Harapan saya cuma di rumah ini. Kalau kamu tak bisa membantu perekonomian saya, silahkan kamu pergi! Saya sudah cukup menunggu. Saya ini juga dalam keadaan butuh!"
Ucapan Bu Rina lantang terdengar, membuat dadaku sesak seolah tak mampu lagi berkata.
Tiba-tiba, Haidar menangis kencang dari dalam kamarnya. Aku yang kaget, segera berlari melihat apa yang terjadi. Bayi delapan bulanku mendadak memelototkan kedua mata. Tangisannya terhenti, dan tangannya menggenggam erat, lurus kencang.
"Bu ... Bu Rina! Tolong!" Aku berteriak histeris sambil menggendong Haidar. Saking paniknya, aku berjalan mondar-mandir tak jelas di dalam kamar, mencoba menyusuinya. Tetap ia tak berekspresi.
"Kenapa, Wati?" Bu Rina yang baru menghampiri, tampak khawatir memandangku.
"Haidar! Coba lihat, Bu! Ini Haidar kenapa? Ia juga tak mau menyusu," pekikku sambil membawa Haidar mendekat pada Bu Rina.
"A-ayo ke puskesmas saja, Wat!"
Akhirnya, aku dibonceng Bu Rina pergi dengan motornya.
Kepalaku terasa penuh, sementara tanganku terus menutupi Haidar dengan selimut. Matanya masih saja membulat, membuatku semakin menangis karena cemasnya. Kucoba menyusuinya, memaksanya. Tetap saja bibirnya mengatup tak berekspresi.
Ya ampun, Mas Agus ... cepat pulang, Maaaasss!
Tak kuasa aku menahan kesedihan yang teramat sangat kali ini.
Sesampainya di puskesmas, kusuruh para petugas cepat membawa Haidar masuk untuk diperiksa. Sementara Bu Rina ada di loket antrian.
"Tolong banget, Mas! Tolong anak saya!" Aku tak sanggup berkata lagi saking bingungnya.
Selagi Haidar diperiksa, tiba-tiba, aku dikagetkan lagi dengan Bu Rina yang datang sambil menyenggol pundakku.
"Wati, kamu ada KIS gak?" tanyanya.
"Apa itu, Bu?"
"Aduuuhh, kalau ngomongmu begitu, kayaknya kamu nggak punya. Kamu minta tolong ke kelurahan, deh! Aku juga tak ada duit buat bayar nanti."
"La-lalu? Haidar bagaimana, Bu?"
"Sudahlah! Ada petugasnya, kan? Ayo!"
Tanpa banyak pertimbangan lagi, aku pun menurut apa kata Bu Rina. Pergi bersamanya menuju ke kelurahan.
Setelah lama berkutat di dalam kantor kelurahan, akhirnya kudapatkan secarik surat dari sana, sebagai pengantar sementara selagi kartu KIS belum ada. Tak menunggu waktu lagi, segera kami kembali berangkat ke puskesmas.
Bu Rina langsung menuju loket, sementara aku bergegas menuju tempat dimana Haidar diperiksa.
Namun, pemandangan yang ada lebih mengagetkanku.
Haidar terbujur kaku, dengan tali perban melilit di sekitar dagu ke kepalanya.
Kurasakan kepalaku semakin pening, pandanganku seketika kabur.
****
Sudah tujuh hari kepergian anakku, Haidar. Namun ingatan tentangnya masih membekas. Saat wajah lucunya menangis, saat bayi menggemaskan itu tersenyum, semua itu masih terkenang jelas dalam ingatan.
Kuputuskan menutup kenangan tentangnya. Agar tak lagi ada tangis terbendung. Aku sudah capek, pikiranku sudah kalut.
Lalu, aku berdiri, mulai berkemas. Baju-bajunya, karpet tidurnya, nipple mainannya, sepatu dan kaos kakinya, semua kujadikan satu pada sebuah kotak kardus besar. Lalu, kotak kardus itu kusimpan di atas lemari pakaian.
Saat itu juga, tiba-tiba suamiku datang. Ia berteriak dari luar memanggilku.
Segera aku berlari untuk memastikan, apa benar itu dia?
Ya ... memang benar. Ia datang dengan pemandangan yang nampak janggal. Ditangannya mendekap bayi dalam gendongan, lengkap beserta tas besar yang ia kalungkan menyamping ketubuhnya.
"Haidar! Lihat, Ayah bawa adek buat Haidar! Rumah bakalan rame ini." Ia berseru sambil masuk ke dalam rumah.
Aku hanya tercengang menatapnya dari balik tirai ruang tengah.
Laki-laki itu tampak sumringah dengan bayi yang ia gendong. Sekilas ia melirikku, lalu bertanya lagi, "Mana anak kita Haidar, Bu? Aku punya berita baik. Ibu pasti senang!"
Aku masih tak percaya dengan apa yang diucapnya barusan. Hanya bisa terdiam dengan mata lurus ke depan.
Anak siapa itu? Kemana ia pergi selama ini?
(bersambung)
Diubah oleh shirazy02 07-02-2020 19:33
manik.01 dan 32 lainnya memberi reputasi
33
21.7K
242
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
shirazy02
#8
Jangan Panggil Aku Ibu (part 2)
Pagi ini, masih dengan menggendong bayinya, Mas Agus berjalan tergesa menuju Puskesmas. Sementara aku melangkah santai dibelakangnya.
Ia masih penasaran rupanya, dan ingin mencari kejelasan. Namun, langkahnya terhenti kemudian. Ia berpaling padaku, bertanya 'dimana' dengan tak mengeluarkan suara sedikit pun.
Kuhela nafas panjang, lalu menunjukkan sebuah ruangan yang berada pas di depannya sekarang. Kubiarkan ia masuk sendiri kesana, sementara aku menunggunya di balik pagar masuk Puskesmas.
Percuma! Untuk apa kemari hanya sekedar bertanya? Jawaban yang didapat tetap tak akan membawa Haidarku pulang. Malah bayi lain yang datang! Sama sekali malas aku menoleh padanya.
"Kita harus bertanya kesana, Bu! Siapa tahu Haidar sengaja didiamkan setelah tahu ibu pergi dengan Bu Rina, apa lagi saat tahu kalian ribut tentang administrasi. Kasus seperti ini sering terjadi pada orang yang gak mampu seperti kita," ucapnya sepuluh menit yang lalu, saat masih di dalam rumah.
Lalu, untuk apa kalau hanya jawaban yang kita terima kemudian? Tetap saja Haidar-ku sudah pergi! Menuntut pun hanya bisa bagi orang yang mampu. Semuanya butuh uang! Bukannya yang terlambat justru dia? Terlambat sadar tanggung jawabnya!
Kutendang pelan kerikil kecil yang tampak dikakiku. Menyandarkan punggung pada tembok pembatas. Menunggu suamiku yang entah sedang protes, atau sedang apa sekarang.
Tak lama berselang, Mas Agus keluar. Ia berhenti kala melihatku di depan pagar. Wajahnya terlihat lesu, sementara anak digendongannya terus menangis.
"Apa katanya?" tanyaku.
Mas Agus tak menjawab. Ia malah melepaskan gendongannya, menyodorkan anak itu padaku. "ASImu masih lancar, Bu? Aku lupa tak buat susu dulu tadi. Tolong, susui dia!"
Mataku melotot garang mendengar balasan dari mulutnya. Apa yang tadi kutanyakan, sangat tak cocok dengan ucapan yang terlontar barusan.
"Cepatlah!" Nada tingginya seakan memaksaku untuk melakukan apa yang dia minta.
Aku masih tak percaya. Ia lebih mengkhawatirkan bayi ini, ketimbang anaknya yang baru saja mati?
Nafasku memburu kesal, diiringi dentaman jantung yang begitu kencang, seakan menolak keras untuk mendengarkan perintah dari mulut suamiku.
Dan lagi ... ia membentak kedua kali dengan wajah memerah ketus, saat aku lebih memilih diam tanpa ekspresi.
Dengan terpaksa, akhirnya kuambil juga bayi itu dari tangannya. Membuka satu kancing bajuku, dan duduk menepi.
Sementara Mas Agus melangkahkan kakinya menuju pinggir jalan,menunggu angkot jurusan alamat kami, datang.
Masih tak habis pikir ... bagaimana bisa dia secuek ini menanggapi perasaanku sekarang? Seolah kehilangan seorang anak, hasil dari darah dagingnya, adalah suatu hal yang biasa sekali.
Tak terasa air mata mulai menetes.
****
Angkot berwarna merah yang kami tumpangi berhenti. Aku turun lebih dulu, masih dengan menggendong bayi si*l*n itu. Kemudian, disusul suamiku dari belakang. Mas Agus turun sambil mengomel tak karuan pada si Supir. Gara-gara tak mendengar ucapannya, kita harus menempuh perjalanan cukup jauh untuk pulang.
Setelah membayar dan mendapat kembalian, Mas Agus sesaat menghela nafas. Ia kemudian melangkahkan kakinya sambil menggandengku.
"Kita yang sabar ya, Bu." Lirih ia membisikkan kalimat itu ditelingaku, sepanjang perjalanan kami menuju rumah.
"Sesuai yang dikatakan bidan yang jaga waktu itu ... otot-otot disekujur tubuh Haidar menegang. Itu bukan kejang biasa. Kejang apa tadi namanya ... ah, lupa! Intinya memang terlambat mendapat pertolongan," lanjutnya lagi sembari mengalihkan tangannya melingkar ke lenganku, mengusapkannya naik-turun.
Bah! Tak kujawab bicaranya sepatah pun. Yang ada, bibirku kini bergetar, mataku samar mengkristal, dan hatiku hancur tak karuan mengingat kematian anakku yang mendadak.
Kami terus berjalan lurus, dan sebentar lagi sampai rumah.
Brrrrmmm.....
Brrrrrrmmmmmm......
Suara nyaring knalpot dari bengkel yang tak jauh dari rumah, seolah membungkam telingaku dari desas-desus gunjingan para tetangga yang kini tengah berkerumun. Tak dari sebelah, tak juga dari seberang jalan. Mereka semua sama saling berbisik dan menoleh padaku. Wajahku jadi memerah menahan malu, karena pasti pikiran mereka sudah menduga yang tidak-tidak.
Kupercepat langkah kakiku masuk ke dalam rumah, meninggalkan Mas Agus yang masih santai berjalan melenggang.
Tampaknya, Mak Minah sedang menyeberang. Kupastikan kali ini tujuannya ke rumahku. Entah karena penasaran dengan bayi ini, atau karena ingin menagih hutang, yang kujanjikan kubayar setelah Mas Agus pulang.
Kusibak tirai ruang tamu, mengintip Mak Minah yang menghentikan langkah suamiku. Kubuka sedikit jendela depan, mencari celah untuk menangkap suara yang ada.
"Bayi siapa, Gus, yang dibawa si Wati? Jangan bicara kalau kau mengambilnya lagi dari dalam kubur, karena istrimu sedang stress." Suara Mak Minah terdengar kasar mengalahkan bentakan Mas Agus tadi pagi.
Entah apa yang dijawab Mas Agus, tak tampak jelas kutangkap dipendengaran. Namun jelas dan nyata, mataku kemudian melihat dirinya mengambil segepok uang, lantas menyerahkannya beberapa lembar pada wanita tua yang tengah mengunyah susur itu.
Rasa penasaran kemudian membawaku kembali ke luar rumah. Disaat yang sama, Mas Agus sudah berdiri di depan mata. Sementara Mak Minah kulihat sudah ditepi jalan, siap-siap untuk menyeberang.
"Mas, kulihat barusan ... kau pegang uang banyak sekali. Uang siapa?" Akhirnya, mulutku terbuka juga setelah dari pagi membisu karena malas untuk berkata.
Suamiku diam. Kemudian menyerobot masuk ke dalam, melewatiku begitu saja. Aku masih penasaran, lantas kuikuti kemana langkahnya.
Mas Agus duduk di kursi ruang tamu. Tubuhnya lalu disandarkan pada jantung kursi. Diam lagi.
"Mas!" Kucoba menegur kembali.
Kali ini Mas Agus menoleh padaku, mendekati sambil menempelkan jari telunjuknya ke bibir. "Jangan keras-keras, nanti anak ini bangun!" pesannya lirih.
Ia lalu pergi ke kamar, masih kuikuti lagi dari belakang.
"Kau kemanakan, Bu ... baju-baju Haidar?" tanyanya.
Aku semakin nyengir menatapnya.
Kenapa, sih, setiap kali kuajak bicara selalu jawabannya tak pernah nyambung? Sepertinya isi otaknya kali ini hanyalah memusingkan prahara bayi yang tak jelas asal-usulnya.
Dengan perasaan kesal dan emosi, kulepaskan gendongan, meletakkan bayi itu ke atas kasur.
"Jangan menyuruhku untuk merawat anak ini ya, Mas? Kalau itu akhirnya yang kau perintahkan, dari awal aku tegaskan untuk menolak!" Kutinggikan nada suaraku pada lelaki yang sudah tiga tahun menikahiku itu.
Bluk!
Tanpa banyak bicara, Mas Agus melemparkan segepok uang ke lantai.
"Itu bayaranmu merawat anak ini. Pelankan nada bicaramu! Aku capek. Biarkan anak itu nyenyak tidur!"
Ha? Apa maksudnya? Lagi-lagi aku menyeringai.
"Kau hanya emosi karena kepergian Haidar, Bu. Sadarlah, anak kita mati itu sudah digariskan. Lagian hidup kita sudah susah, ingin mengangkat derajat saja sulit. Masih untung Tuhan menyelamatkan kita, lalu memberi kita hiburan pengganti. Dapat bayaran lagi!"
Kali ini, mantab sudah emosi yang terkumpul dalam benakku. Bisa-bisanya Mas Agus menganggap kematian Haidar adalah cara Tuhan menyelamatkannya?
Gemuruh dalam dada semakin berkecamuk, seiring dengan ribuan umpatan dibatinku yang seolah berteriak tak terima melihat keadaan.
"Kalau seperti itu yang ada dipikirkanmu, tak masalah. Belikan ia susu formula, dan jangan memintaku menyusuinya lagi!"
Seusai bicara begitu, langsung kulangkahkan kakiku pergi dari kamar.
Tak sanggup. Tak sanggup aku rasanya seperti ini!
Kuhempaskan tubuhku pada kasur lantai di ruang tengah. Melampiaskan kekesalan dengan menangis sepuas-puasnya. Jiwaku seakan remuk, dan dadaku sudah tak kuat lagi merasakan.
'Aku tak pulang karena ikut supir buah di pasar, ikut jadi kernet.'
'Aku menemukan perempuan itu lima hari setelahnya. Ia kabur dari rumah, keadaan hamil besar. Saat itu ia merintih kesakitan, lalu minta tolong padaku dengan memberiku imbalan.'
'Aku membantunya membawa ke bidan. Dua hari menunggunya disana. Tapi kemudian ia pergi. Ia tinggalkan bayinya beserta perlengkapannya di dalam tas. Ada sepucuk surat juga.'
Perkataan demi perkataan yang dilontarkan Mas Agus semalam sempat membuatku tak percaya begitu saja. Karena kupikir, mana mau ia membawa bayi itu sementara kehidupan kami saja seperti ini?
Awalnya kuduga itu anak hasil perselingkuhannya, karena itu lah aku memutuskan diam darinya. Menyingkir kala sang suami sibuk merawat si bayi yang diberi nama Tomi itu.
Tapi, dari pecahan uang seratus ribuan setebal itu, baru lah aku bisa memastikan jika cerita Mas Agus kemarin benar adanya.
Kuseka kedua pelupuk mataku, lalu membenamkan muka ke bantal kecil didepanku.
Tapi, tak seharusnya seperti ini. Tak semestinya ia berkata bahwa kematian Haidar sudah selayaknya! Dia lebih menyukai anak pembawa uang itu daripada anak kandungnya sendiri. Bahkan sepertinya, ia tak menyesali kepergian Haidar sedikitpun!
Ya, Tuhan ... aku berharap agar segera lenyap saja ke dasar bumi, daripada nantinya dibuat susah merawat bayi yang bukan darah dagingku sendiri.
Aku masih tak ikhlas!
(bersambung)
Ia masih penasaran rupanya, dan ingin mencari kejelasan. Namun, langkahnya terhenti kemudian. Ia berpaling padaku, bertanya 'dimana' dengan tak mengeluarkan suara sedikit pun.
Kuhela nafas panjang, lalu menunjukkan sebuah ruangan yang berada pas di depannya sekarang. Kubiarkan ia masuk sendiri kesana, sementara aku menunggunya di balik pagar masuk Puskesmas.
Percuma! Untuk apa kemari hanya sekedar bertanya? Jawaban yang didapat tetap tak akan membawa Haidarku pulang. Malah bayi lain yang datang! Sama sekali malas aku menoleh padanya.
"Kita harus bertanya kesana, Bu! Siapa tahu Haidar sengaja didiamkan setelah tahu ibu pergi dengan Bu Rina, apa lagi saat tahu kalian ribut tentang administrasi. Kasus seperti ini sering terjadi pada orang yang gak mampu seperti kita," ucapnya sepuluh menit yang lalu, saat masih di dalam rumah.
Lalu, untuk apa kalau hanya jawaban yang kita terima kemudian? Tetap saja Haidar-ku sudah pergi! Menuntut pun hanya bisa bagi orang yang mampu. Semuanya butuh uang! Bukannya yang terlambat justru dia? Terlambat sadar tanggung jawabnya!
Kutendang pelan kerikil kecil yang tampak dikakiku. Menyandarkan punggung pada tembok pembatas. Menunggu suamiku yang entah sedang protes, atau sedang apa sekarang.
Tak lama berselang, Mas Agus keluar. Ia berhenti kala melihatku di depan pagar. Wajahnya terlihat lesu, sementara anak digendongannya terus menangis.
"Apa katanya?" tanyaku.
Mas Agus tak menjawab. Ia malah melepaskan gendongannya, menyodorkan anak itu padaku. "ASImu masih lancar, Bu? Aku lupa tak buat susu dulu tadi. Tolong, susui dia!"
Mataku melotot garang mendengar balasan dari mulutnya. Apa yang tadi kutanyakan, sangat tak cocok dengan ucapan yang terlontar barusan.
"Cepatlah!" Nada tingginya seakan memaksaku untuk melakukan apa yang dia minta.
Aku masih tak percaya. Ia lebih mengkhawatirkan bayi ini, ketimbang anaknya yang baru saja mati?
Nafasku memburu kesal, diiringi dentaman jantung yang begitu kencang, seakan menolak keras untuk mendengarkan perintah dari mulut suamiku.
Dan lagi ... ia membentak kedua kali dengan wajah memerah ketus, saat aku lebih memilih diam tanpa ekspresi.
Dengan terpaksa, akhirnya kuambil juga bayi itu dari tangannya. Membuka satu kancing bajuku, dan duduk menepi.
Sementara Mas Agus melangkahkan kakinya menuju pinggir jalan,menunggu angkot jurusan alamat kami, datang.
Masih tak habis pikir ... bagaimana bisa dia secuek ini menanggapi perasaanku sekarang? Seolah kehilangan seorang anak, hasil dari darah dagingnya, adalah suatu hal yang biasa sekali.
Tak terasa air mata mulai menetes.
****
Angkot berwarna merah yang kami tumpangi berhenti. Aku turun lebih dulu, masih dengan menggendong bayi si*l*n itu. Kemudian, disusul suamiku dari belakang. Mas Agus turun sambil mengomel tak karuan pada si Supir. Gara-gara tak mendengar ucapannya, kita harus menempuh perjalanan cukup jauh untuk pulang.
Setelah membayar dan mendapat kembalian, Mas Agus sesaat menghela nafas. Ia kemudian melangkahkan kakinya sambil menggandengku.
"Kita yang sabar ya, Bu." Lirih ia membisikkan kalimat itu ditelingaku, sepanjang perjalanan kami menuju rumah.
"Sesuai yang dikatakan bidan yang jaga waktu itu ... otot-otot disekujur tubuh Haidar menegang. Itu bukan kejang biasa. Kejang apa tadi namanya ... ah, lupa! Intinya memang terlambat mendapat pertolongan," lanjutnya lagi sembari mengalihkan tangannya melingkar ke lenganku, mengusapkannya naik-turun.
Bah! Tak kujawab bicaranya sepatah pun. Yang ada, bibirku kini bergetar, mataku samar mengkristal, dan hatiku hancur tak karuan mengingat kematian anakku yang mendadak.
Kami terus berjalan lurus, dan sebentar lagi sampai rumah.
Brrrrmmm.....
Brrrrrrmmmmmm......
Suara nyaring knalpot dari bengkel yang tak jauh dari rumah, seolah membungkam telingaku dari desas-desus gunjingan para tetangga yang kini tengah berkerumun. Tak dari sebelah, tak juga dari seberang jalan. Mereka semua sama saling berbisik dan menoleh padaku. Wajahku jadi memerah menahan malu, karena pasti pikiran mereka sudah menduga yang tidak-tidak.
Kupercepat langkah kakiku masuk ke dalam rumah, meninggalkan Mas Agus yang masih santai berjalan melenggang.
Tampaknya, Mak Minah sedang menyeberang. Kupastikan kali ini tujuannya ke rumahku. Entah karena penasaran dengan bayi ini, atau karena ingin menagih hutang, yang kujanjikan kubayar setelah Mas Agus pulang.
Kusibak tirai ruang tamu, mengintip Mak Minah yang menghentikan langkah suamiku. Kubuka sedikit jendela depan, mencari celah untuk menangkap suara yang ada.
"Bayi siapa, Gus, yang dibawa si Wati? Jangan bicara kalau kau mengambilnya lagi dari dalam kubur, karena istrimu sedang stress." Suara Mak Minah terdengar kasar mengalahkan bentakan Mas Agus tadi pagi.
Entah apa yang dijawab Mas Agus, tak tampak jelas kutangkap dipendengaran. Namun jelas dan nyata, mataku kemudian melihat dirinya mengambil segepok uang, lantas menyerahkannya beberapa lembar pada wanita tua yang tengah mengunyah susur itu.
Rasa penasaran kemudian membawaku kembali ke luar rumah. Disaat yang sama, Mas Agus sudah berdiri di depan mata. Sementara Mak Minah kulihat sudah ditepi jalan, siap-siap untuk menyeberang.
"Mas, kulihat barusan ... kau pegang uang banyak sekali. Uang siapa?" Akhirnya, mulutku terbuka juga setelah dari pagi membisu karena malas untuk berkata.
Suamiku diam. Kemudian menyerobot masuk ke dalam, melewatiku begitu saja. Aku masih penasaran, lantas kuikuti kemana langkahnya.
Mas Agus duduk di kursi ruang tamu. Tubuhnya lalu disandarkan pada jantung kursi. Diam lagi.
"Mas!" Kucoba menegur kembali.
Kali ini Mas Agus menoleh padaku, mendekati sambil menempelkan jari telunjuknya ke bibir. "Jangan keras-keras, nanti anak ini bangun!" pesannya lirih.
Ia lalu pergi ke kamar, masih kuikuti lagi dari belakang.
"Kau kemanakan, Bu ... baju-baju Haidar?" tanyanya.
Aku semakin nyengir menatapnya.
Kenapa, sih, setiap kali kuajak bicara selalu jawabannya tak pernah nyambung? Sepertinya isi otaknya kali ini hanyalah memusingkan prahara bayi yang tak jelas asal-usulnya.
Dengan perasaan kesal dan emosi, kulepaskan gendongan, meletakkan bayi itu ke atas kasur.
"Jangan menyuruhku untuk merawat anak ini ya, Mas? Kalau itu akhirnya yang kau perintahkan, dari awal aku tegaskan untuk menolak!" Kutinggikan nada suaraku pada lelaki yang sudah tiga tahun menikahiku itu.
Bluk!
Tanpa banyak bicara, Mas Agus melemparkan segepok uang ke lantai.
"Itu bayaranmu merawat anak ini. Pelankan nada bicaramu! Aku capek. Biarkan anak itu nyenyak tidur!"
Ha? Apa maksudnya? Lagi-lagi aku menyeringai.
"Kau hanya emosi karena kepergian Haidar, Bu. Sadarlah, anak kita mati itu sudah digariskan. Lagian hidup kita sudah susah, ingin mengangkat derajat saja sulit. Masih untung Tuhan menyelamatkan kita, lalu memberi kita hiburan pengganti. Dapat bayaran lagi!"
Kali ini, mantab sudah emosi yang terkumpul dalam benakku. Bisa-bisanya Mas Agus menganggap kematian Haidar adalah cara Tuhan menyelamatkannya?
Gemuruh dalam dada semakin berkecamuk, seiring dengan ribuan umpatan dibatinku yang seolah berteriak tak terima melihat keadaan.
"Kalau seperti itu yang ada dipikirkanmu, tak masalah. Belikan ia susu formula, dan jangan memintaku menyusuinya lagi!"
Seusai bicara begitu, langsung kulangkahkan kakiku pergi dari kamar.
Tak sanggup. Tak sanggup aku rasanya seperti ini!
Kuhempaskan tubuhku pada kasur lantai di ruang tengah. Melampiaskan kekesalan dengan menangis sepuas-puasnya. Jiwaku seakan remuk, dan dadaku sudah tak kuat lagi merasakan.
'Aku tak pulang karena ikut supir buah di pasar, ikut jadi kernet.'
'Aku menemukan perempuan itu lima hari setelahnya. Ia kabur dari rumah, keadaan hamil besar. Saat itu ia merintih kesakitan, lalu minta tolong padaku dengan memberiku imbalan.'
'Aku membantunya membawa ke bidan. Dua hari menunggunya disana. Tapi kemudian ia pergi. Ia tinggalkan bayinya beserta perlengkapannya di dalam tas. Ada sepucuk surat juga.'
Perkataan demi perkataan yang dilontarkan Mas Agus semalam sempat membuatku tak percaya begitu saja. Karena kupikir, mana mau ia membawa bayi itu sementara kehidupan kami saja seperti ini?
Awalnya kuduga itu anak hasil perselingkuhannya, karena itu lah aku memutuskan diam darinya. Menyingkir kala sang suami sibuk merawat si bayi yang diberi nama Tomi itu.
Tapi, dari pecahan uang seratus ribuan setebal itu, baru lah aku bisa memastikan jika cerita Mas Agus kemarin benar adanya.
Kuseka kedua pelupuk mataku, lalu membenamkan muka ke bantal kecil didepanku.
Tapi, tak seharusnya seperti ini. Tak semestinya ia berkata bahwa kematian Haidar sudah selayaknya! Dia lebih menyukai anak pembawa uang itu daripada anak kandungnya sendiri. Bahkan sepertinya, ia tak menyesali kepergian Haidar sedikitpun!
Ya, Tuhan ... aku berharap agar segera lenyap saja ke dasar bumi, daripada nantinya dibuat susah merawat bayi yang bukan darah dagingku sendiri.
Aku masih tak ikhlas!
(bersambung)
i4munited dan 9 lainnya memberi reputasi
10
Tutup