- Beranda
- Stories from the Heart
Tempra Knight
...
TS
ayahnyabinbun
Tempra Knight

Hai para kaskuser..
Ayahbinbun balik lagi dengan cerita baru, yang pastinya beda dari cerita-cerita yang berseliweran di sini..
Semoga para pembaca bisa menikmati cerita petualangan ini bersama om..

No Junk.
No Spam.
Pokoknya ikuti Rules dari Kaskus ya.
Cerita ini murni Fiksi, jadi kalau ada kesamaan nama tokoh dan tempat mohon di maklumi.
Terakhir.
Selamat menikmati bacaan ringan ini.
Spoiler for index:
Diubah oleh ayahnyabinbun 10-12-2019 19:47
nona212 dan 5 lainnya memberi reputasi
6
2K
Kutip
21
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
ayahnyabinbun
#3
Chapter 2
Spoiler for sang kesatria:
Celcius terus berlari membopong kotak daging hasil "meminjam" dari tukang daging di kota, dahan demi dahan pohon beringin di lompati layaknya seekor kera, burung-burung kecil terbang menemani langkah demi langkahnya hingga dia sampai di sebuah mulut goa, goa yang cukup besar untuk menyembunyikan seekor naga hijau yang tengah terluka di dadanya.
"Paman aku datang membawa makanan, maaf aku hanya bisa membawa sedikit lain kali aku akan berburu untuk mendapatkan daging yang lebih banyak," seru Celcius pada sang naga.
"Grrrrrr!" geram sang naga hijau menahan sakit di dadanya.
"Bertahanlah paman jangan banyak bergerak nanti luka di dadamu terbuka kembali, aku akan pergi sebentar untuk mencari tanaman obat dan sekantung air untuk engkau minum."
Sang naga menatap Celcius lekat-lekat kemudian membuang muka ke arah lain.
"Maaf jika engkau harus menerima kenyataan bahwa aku yang harus merawatmu di keadaan seperti ini, cepatlah sembuh agar kita bisa kembali ke istana dan merebut kekuasaan dari para penghianat," seru Celcius, ia segera beranjak dari tempatnya berpijak dan mulai beranjak keluar dari bibir goa mencari tanaman obat di dalam hutan.
Sementara itu di kota Gulan Reamur sedang berada di sebuah kedai tempat makan pinggir jalan, ia sedang lahap makan menghabiskan piring ketiganya.
"HUAAAAH KENYAAANG...! Terima kasih akan makanannya ya paman," seru Reamur sambil berdiri dan mulai beranjak pergi.
"HEI! tunggu bocah sial! Bayar dulu makananmu!" seru sang pemilik kedai.
Dengan langkah seribu Reamur dengan cepat meninggalkan kedai tersebut, "maafkan aku paman!! aku akan membayarnya setelah kembali dari hutan bringin!!" ujarnya sembari kembali berlari, selesai kabur ia menuju toko obat dan ramuan diujung jalan.
"Permisi," serunya di bibir pintu sembari melirik kedalam toko.
"Selamat data ... akh kamu lagi, ada apa sekarang?! Jangan bilang kau akan berhutang kembali! Disini bukan badan amal Rea." seru penjaga toko dengan nada kesal.
"Maafkan aku Mia, aku akan membayar ramuan kemarin setelah kembali dari hutan bringin, tolonglah aku Mia cantik," mohon Reamur sambil tersenyum manis.
Dengan pipi yang memerah Mia mengambil beberapa ramuan obat di nakas tokonya, "kau butuh apa?"
"Elixir 1, ramuan merah 5 dan ramuan hijau 5, oh dan jangan lupa antidot 2," seru Reamur.
"Tidak perlu ramuan biru?" tanya Mia.
"Aku kesatria Mia bukan penyihir yang membutuhkan ramuan biru untuk mengisi magi mereka," jelas Reamur.
"Ini pesananmu dan berhati-hatilah … desas desusnya disana ada sebuah masalah kerajaan, aku mendengar seekor naga terlihat jatuh di hutan Bringin dan kata para penjaga mereka baru saja mengejar pencuri dan menghilang di hutan Bringin."
"Hehe kau terlalu khawatir Mia, tunggu ... kau menghawatirkan aku sekali sepertinya," Reamur memicingkan matanya menatap Mia lekat-lekat.
Wajah Mia bersemu merah ditatap langsung oleh Reamur seperti itu, "dasar bodoh! Kau harus tetap hidup untuk bisa membayar hutang-hutangmu!" cebik Mia sembari menyilangkan tangan di dada.
"Baik-baik … aku pergi dulu ya, hihi," senyum Rea sembari meninggalkan toko obat.
Sedangkan Mia hanya bisa menatap punggung pemuda itu sembari tersenyum tipis.
Dari toko obat Reamur berjalan menuju papan pengumuman yang berada di tengah balai kota, di papan pengumuman banyak tercantum daftar permintaan pekerjaan dari kerajaan maupun dari masyarakat sekitar untuk mendapatkan barang tertentu yang berada di alam liar.
"Hmmm … mari kita lihat, pekerjaan apa yang menghasilkan banyak uang ya, menangkap malta, hmmm tidak-tidak itu terlalu mudah, mengumpulkan tanaman merah seratus buah, urgh aku bukan petani, hmmmm," sedang asik menatap papan sebuah tulisan mengalihkan perhatian Reamur, "membunuh naga yang berada di hutan Bringin, hadiah dua juta rupi dengan membawakan bukti taring atau kuku naga tersebut, perintah langsung kerajaan, hmmm ... menarik, semua hutangku dapat terlunasi dan masih ada sisa untuk pergi dari kota ini," gumam Reamur pelan.
Perlahan Reamur meninggalkan papan pengumuman dan beranjak pergi menuju gerbang kota, di depan gerbang tengah riuh berkumpul para prajurit kerajaan bersenjatakan lengkap dan beberapa prajurit bayaran, Reamur mendatangi salah satu prajurit dan mulai bertanya.
"Sssttt … hei kau, ada apa ini ramai sekali?" tanya Reamur pada salah satu prajurit.
"Apa kau tidak membaca berita? Ratu Ezra meninggal dibunuh dan para wyvern mengkudeta istana naga," jelasnya.
"Lalu apa hubungannya dengan para prajurit berkumpul disini?"
"Menurut informasi pembunuh ratu Ezra melarikan diri ke hutan Bringin, para penjaga bilang dia sempat mencuri daging dari kota sebelum kembali ke dalam hutan, sudah ya, kapten menyuruh kami berbaris."
"Oh iya, terima kasih atas informasinya."
Para prajurit kerajaan dan beberapa prajurit bayaran berbaris dan berjalan serentak menuju hutan Bringin, sedangkan Reamur dengan santai mengekor di belakang barisan mereka.
"Hhmmm, bocah itu pembunuh ratu naga, sulit di percaya, lebih baik aku tanyakan sendiri pada dirinya bila nanti bertemu," gumam Reamur sendiri dalam hati.
Setelah setengah jalan mengekor para prajurit Reamur berbelok dan melewati rute lain untuk menuju hutan Bringin, "bisa mati konyol aku bila mengikuti mereka, dengan pasukan sebanyak itu bisa menarik perhatian monster besar apalagi hutan Bringin terkenal dengan para monsternya yang suka menyergap musuh, cara paling aman adalah berjalan diantara dahan pohon dan selalu waspada dengan pergerakan," Reamur melompat pada sebuah dahan pohon dan mulai memasuki hutan Bringin dari sisi lain hutan.
Di dalam hutan Celcius sedang berjongkok di pinggir sungai, ia sedang mengisi kantong air miliknya, di kantong lain sudah terkumpul beberapa tanaman obat dan beberapa berry untuk mengganjal perutnya yang mulai kelaparan kembali.
"Huuft … sudah seharian aku hanya makan buah-buahan di hutan ini, aku memang tidak cocok menjadi vegetarian," gerutunya sendiri.
-srek-
-srek-
-srek-
Sebuah bunyi di semak-semak membuat Celcius menjadi semakin waspada, ia berdiri dan mengikat kantong air di celananya bersiap-siap untuk segala macam kemungkinan.
Tiba-tiba…
Seekor babi hutan raksasa muncul dari balik semak-semak, hewan itu berlari menuju arah Celcius hendak menyerangnya.
-BRUUGH-
Babi hutan yang besarnya lima kali tubuh manusia normal tersebut menyeruduk dan menabrak bebatuan, Celcius berhasil menghindar dari terjangan sang babi hutan tersebut.
"Sungguh suatu keberuntungan! Seekor babi datang tanpa perlu aku pasang perangkap, hehe … denganmu paman pasti akan cepat pulih dan kami akan bisa kembali ke istana naga," seru Celcius dengan tatapan membunuh kearah sang babi hutan.
Babi hutan itu menggelengkan kepalanya dan sejurus kemudian berlari kembali hendak menyeruduk Celcius, dengan sigap Celsius memasang kuda-kuda, tangan kanannya mulai memanas merubah warna kulit Celcius menjadi jingga, saat sang babi hutan berlari diatas sungai Celsius memukul kearah bawah memanaskan aliran air sungai di depannya.
"LEDAKAN UAP GEYSER!"
-BOOM!!-
Air di bawah tubuh sang babi hutan meledak menjulang tinggi menghempaskan babi hutan itu kearah atas dan -BUUGH- sang babi hutan terjatuh di daerah bebatuan dengan posisi kepala terlebih dulu yang menyentuh tanah.
Celsius masih bersiaga kalau-kalau sang babi hutan bergerak kembali, setelah merasa aman ia perlahan menuju ke arah sang babi, ia menendang-nendang kecil babi itu memeriksa apakah sang babi masih hidup atau sudah mati, setelah dirasakan sudah aman Celsius mengambil sebuah belati kecil yang berada di pinggangnya, saat hendak ingin menusuk leher sang babi.
-ROOOOAAAAR!!-
Sebuah auman keras menggelegar dari arah goa dimana sang naga hijau berada, "paman!!" Celcius segera berlari menuju asal suara meninggalkan bangkai babi hutan yang hendak ia akan kuliti.
Bersambung..
Bregez memberi reputasi
1
Kutip
Balas