Kaskus

Story

dissymmon08Avatar border
TS
dissymmon08
AKHIR PENANTIANKU (JILID IV) [18+] [TRUE STORY]
SELAMAT DATANG AGAN SISTA


Halo! emoticon-Hai

Gue ucapkan terima kasih yang teramat sangat terhadap dukungan dan apresiasi agan sista untuk tulisan gue di JILID IIIsebelumnya. Setelah merenung dan mencoba membuka kembali memori lama gue, akhirnya gue mendapatkan khilal gue. Sekarang gue udah siap untuk menulis kelanjutannya, yaitu JILID IV!

Kali ini gue masih menceritakan tentang kisah cinta gue, yang pada cerita sebelumnya masih berkutat di Kampus. Gue yang di kisah kali ini sedang mendekati akhir perjuangan di Kampus pun akan menjalani tahap baru, dimana gue akan bertemu dengan dunia kerja dan dunia nyata. Bakalan banyak konflik di diri gue ini, ketika gue yang tengah mencari jati diri ini dihadapkan dengan kenyataan bahwa hidup itu benar-benar penuh lika liku. Saat kita salah memilih jalan, ga ada putar balik, kita harus terus menjalani dan menghadapinya seraya mencari solusi terbaik atas pilihan kita itu. Dan kesabaran menjadi kunci utama segalanya, buat gue.

Masih dengan gaya menulis gue yang penuh strong language, absurd-nya hidup gue, kebodohan gue dalam memilih keputusan, pengalaman hidup lain, dan beberapa kali akan nyempil ++-nya, jadi gue masih ga akan melepas rating 18+ di cerita gue kali ini. Mungkin akan ada beberapa penyesuaian penggunaan bahasa atau panggilan yang gue lakuin di sini, demi kenyamanan bersama. Semoga ga merusak ciri khas gue dalam menulis! Amiiin.

Dan gue berharap semoga agan sista tetap suka dan betah mantengin thread ane ini sampe selesai! emoticon-Peluk

Oh iya, kalau misalnya agan sista belum baca cerita di JILID III atau mau refresh kembali cerita saat itu, monggo mampir ke LINK INI.


AKHIR PENANTIANKU (JILID IV) [18+] [TRUE STORY]


Spoiler for INDEX:


Spoiler for MULUSTRASI:


HT @ STORY

AKHIR PENANTIANKU (JILID IV) [18+] [TRUE STORY]

Alhamdulillah berkat supportdari agan sista, thread ane ini jadi HT! emoticon-Malu
Terima kasih banyak ane ucapin buat agan sista yang udah setia nunggu update-an cerita-cerita ane.
Semoga tulisan ane bisa terus lebih baik dan bisa menyajikan cerita lebih seru buat dibaca agan sista!

emoticon-Peluk emoticon-2 Jempol emoticon-Kiss


Spoiler for PERATURAN:


Quote:
Diubah oleh dissymmon08 30-12-2019 07:57
pulaukapokAvatar border
bukhoriganAvatar border
ezzasukeAvatar border
ezzasuke dan 49 lainnya memberi reputasi
50
134.5K
1.6K
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.8KAnggota
Tampilkan semua post
dissymmon08Avatar border
TS
dissymmon08
#154
KISAH TENTANG F: BARISAN SAKIT HATI (PART 05)


Sejak pertemuan gue di rumah Dwi itu, gue menghindar dari seluruh Crocodile, evenitu Dwi. Gue duduk sendiri di depan kalau lagi di dalam kelas. Gue ngurus penelitian gue sendiri, tanpa Lidya. Gue pulang pergi kuliah sendiri, tanpa dibonceng Depi, Sinta, dan Bimo. Gue juga udah mulai jarang nongol di grup Facebook kami. Gue bukan berniat untuk ngejauhin mereka, gue cuman kecewa aja mereka lebih percaya omongan orang lain dibandingkan sahabat mereka sendiri.

Kalo pamrih diperbolehkan, rasanya gue ingin bertanya ke mereka ‘Apa gue pernah memperlakukan kalian seperti itu ketika kalian semua dijauhin sama semua orang?’. Tapi gue ga mau ungkit-ungkit masa lalu. Ga penting juga.

Dan gue pun agak ngurangin intensitas gue dengan Bang Firzy.

Gue yakin, dia sadar itu. Gue butuh dikuatin banget saat ini kalo pilihan gue ini bukan keputusan yang salah. Gue bimbang. Gue berpikir, mungkin kedepannya gue tinggal ngerasain akibat-akibat-akibat teruuus dari pilihan gue ini. Akibat negatif pastinya. Ga ada kebahagiaan di dalamnya. Gue udah berpikir hal yang negatif aja di hubungan ini.

Rasanya gue pengen ceritain semuanya sama Bang Firzy. Tapi saat itu gue takut dia ga sebijak gue nyikapin gosip-gosip itu.

Quote:


Gue pun langsung matiin laptop gue dan tiduran di kasur. Tepat sebelum gue terlelap, ada sms masuk ke handphonegue. Gue bisa nebak siapa yang sms gue sebelum waktu Subuh gini. Siapa lagi kalo bukan Bang Firzy?

Quote:


“Mungkin ini yang mesti dilewati ketika kita lagi kasih kesempatan untuk buka hati ke orang lain kali ya?” tanya gue dalam hati.


XOXOXO


Bang Firzy memutuskan ketemu gue di salah satu mallbesar di tengah Kota. Sepulang kelas terakhir gue, gue naik angkutan umum ke sana. Soalnya saat itu belum ada angkutan ojek online maupun taksi online. Untuk sampai ke mall tersebut, gue harus ganti tiga kali angkutan umum dan ngabisin waktu kurang lebih satu sampai dua jam. Bahkan kalo misalnya jalanan lagi super kacau banget, bisa sampe tiga jam!

Untungnya kali ini jalanan lagi bersahabat. Mungkin karena gue keluar Kampus di waktu yang tepat. Jadi, perjalanan gue untuk sampai ke mall hanya sekitar satu jam lebih dikit.

Tumben banget Bang Firzy minta ketemuan di Kota. Apa dia udah males ke Kampus sampe dia ga mau ketemu di Kampus aja? Atau mungkin dia lelah pulang pergi ke Kampus makanya dia minta kita ketemuan di Kota aja? Entahlah.

Gue pribadi ga masalah berangkat ke Kota sendirian tanpa dijemput. Dalam hubungan kan mesti ada kata ‘saling’. Dalam kasus ini ya ‘saling berjuang’. Kalo Bang Firzy aja mau berjuang dateng ke Kampus buat nemuin gue, gue pun harus mau berjuang nyamperin dia dimanapun dia minta. Hubungan harus bersifat simbiosis mutualisme, biar ga ada salah satu pihak yang dirugikan.

“Gelangnya udah lama banget ga gue pake ini… Entah keliatan alay apa ga ini gelang gue pake pas mau ketemuan sama Firzy… Mudah-mudahan dia ga ilfeel deh sama gue.” kata gue dalam hati sambil ngeliatin gelang yang ada di pergelangan tangan kiri gue.

Gelang ini adalah gelang kebanggaan gue yang gue beli saat gue duduk di bangku Sekolah Dasar dulu ketika gue ada study tour ke salah satu gunung di Jawa Barat. Sebut saja Gunung A. Gelangnya unik, bahkan langka buat nemuin gelang kayak begini lagi dimanapun, menurut gue saat itu. Makanya gue memutuskan untuk beli gelang ini, walopun berakhir gue diledekin oleh temen-temen gue karena gue beli gelang yang berbeda dengan mereka. Jadi deh gue jarang make gelang ini. Baru kali ini gue berani make gelang ini lagi.

Quote:


Quote:


Udah hampir 15 menit gue berdiri di lobi depan mall. Sms gue tak kunjung dibales Bang Firzy. Dia pun ga keliatan dimana-mana di sekitaran lobi yang semakin sore semakin ramai pengunjung. “Hmm. Bang Firzy kan naik motor, berarti dia pasti masuknya dari pintu di lantai LG. Berarti mungkin dia lagi muter-muter di dalem atau di lobi belakang deket parkiran mobil?” tanya gue dalam hati. Gue jalan masuk ke dalam malldan mengarah ke lobi belakang.

Tepat sebelum gue masuk jauh ke dalam mall, gue ngeliat orang yang gue kenal tepat ada dihadapan gue dengan jarak kurang lebih 10meter dari gue. Dia berdiri dengan kemeja kerja yang digulung, topi dan kacamata sebagai ciri khas dia, serta segala barang berwarna hitam yang melekat di tubuhnya dari atas sampai ke bawah seperti jam tangan, tas, dan earphone. Ga lupa, dia pakai sneaker untuk menunjukkan jiwa muda dia mungkin. Hehehe.

“Zy…”

“Udah kuduga… Mau aku ga bales sms kamu sekalipun, kamu pasti bisa nemuin aku. Aku juga pasti bisa nemuin kamu, walopun kamu ga ngabarin kamu ada dimana…” kata Bang Firzy ketika udah berdiri tepat di hadapan gue.

“Apa sih kamu? Sok puitis banget ngomong begitu. Hahaha.” Oke, dia yang dari kemaren jadi alesan gue bimbang. Tapi belum sampe 1 jam gue ketemu dia, dia udah bisa bikin gue ketawa lagi.

Dia ngegandeng tangan gue untuk jalan random di dalam mall. “Anak kosan biasanya pasti kelaperan. Muka kamu ini seakan ngejerit bilang ‘Ayo ajak gue makan enak, bangs*t!’ begitu. Hahaha.”

“Ga pake bangs*t juga kali! Hahaha.”

“Mau makan dimana? Kamu yang pilih deh…”

“Hmm. Aku jarang ke mall ini sih akhir-akhir ini… Aku juga bingung mau makan dimana. Takutnya ada tenant yang baru. Mau nraktir aku makan enak kan?”

“Iyeee, atur ajeee… Perlu aku kipas-kipas ga uang yang aku bawa sekarang buat bukti kalo tinggal milih makanan apapun? Hahaha.”

“Kagak perlu juga, Nj*r. Hahaha.”

“Biasanya nih, cewek-cewek yang aku ajak jalan pasti bilang abis ini ‘Terserah kamu aja…’ tapi pas aku pilihin tempat, mereka ga mau dengan jutaan alesan kenapa mereka ga mau. Dan pas aku suruh nentuin tempat sendiri, mereka bilang lagi ‘Terserah kamu aja…’. Halah terserah tytyd!”

“Hahaha. Terserah rocky dong? Suruh aja rocky nentuin makan dimane.”

“Kalo rocky yang nentuin mah bukan nentuin tempat makan, malah tempat nginep, yank. Hahaha.”

“Bangs*t! Hahaha. Santai, sama aku mah ga akan begitu. Kalo aku dibolehin milih mah nanti aku yang nentuin makan dimana. Dikasih makan gratisan kok jaim, apalagi kalo dibayarin. Nolak rejeki namanya. Hihihi. Yaudah ke Hokben dulu aja yak?”

“Lha? Jauh-jauh dari Kampus makannya masa bekel? Bento kan artinya bekel bukan?”

“Lha? Emang aku bilang makannya Hokben doangan? Aku bilang ‘Ke Hokben dulu aja yak’ yang berarti setelah Hokben bisa pindah ke tempat lain lagi. Hahaha.”

“Bangs*t. Gue diporotin anak setan!”

Gue ngelirik dia sinis dari balik kacamata gue. “Cowok mana sih yang manggil pacar sendiri make panggilan anak setan?”

“Ya cowoknya Emilya! Hahaha. Ayo ah kebanyakan cincong!” Bang Firzy narik tangan kanan gue ke arah Hokben yang masih satu lantai dengan lobi.

Karena Bang Firzy sok tajir dan kegantengan di depan Mbak-Mbak yang melayani kami selama di antrian, gue pun akhirnya pesen menu-menu mahal mereka. Padahal ada paket hemat yang biasa gue beli selama ini, dia malah maksa gue beli menu mahal di sana. Daripada nanti ribut ga penting kayak di reality show cinta-cintaan dan gue dianggep cewek munafik, gue nurut aja pesen makanan itu. Dilalahnya Bang Firzy malah pesen menu yang sama kayak gue.

“Lu kok bloon sih? Kenapa pesen menu yang sama kayak gue?” tanya gue sambil jalan ke arah salah satu meja yang kosong di sana.

“Lha? Kenapa emangnya? Soalnya kok kayaknya enak liat makanan lu. Lu kan kalo makan diabisin semua sendiri. Daripada gue minta karena ngiler sama menu lu, mendingan gue pesen yang sama.”

“Dih, kan ada menu yang mirip kayak begini cuman beda di dagingnya aja. Ada daging sapi sama daging ayam. Kenapa ga pilih itu aja, biar bisa tukeran…” kata gue. Gue duduk di bangku yang kami pilih.

“Oh iya yak.” Bang Firzy ngeliat lagi menu yang ada di display. “Beda dagingnya doangan bangs*t.”

“Lu ga pernah pesen menu sendiri apa lu ga pernah makan di sini sih?”

“Gue ga pernah pesen menu sendiri… Biasanya dipesenin sama nyokap atau cewek gue dan itu pun entah apa yang dipesen, kebanyakan terserahnya terus diserahin deh ke rekomendasi Mbak-nya. Jadi gue ga tau beda-beda menunya kayak gimana.”

“Bloon.” kata gue.

“Dan baru kali ini cewek gue manggil gue bloon begini. Anj*ng emang! Hahaha.”

Bang Firzy ngeliatin gue sambil senyum. “Kalo lebih nyaman ngomong begini kayak begini misalnya lagi ketemu, jangan dipaksain mesti jadi apa yang aku minta ya, yank… Pengen kita senyaman pas belum pacaran dulu.”

“Iya… Maaf ya kalo keliatan ga terbiasa begitu.”

“Dan gue selalu kangen becanda plus ketawa-ketawa sama lu begini… Semua rasa ini tuh cuman bisa gue dapetin kalo kita ketemu. Makanya gue selalu ngerasa candu buat ketemu sama lu…”

“Candu candu, lu kata gue lem aibon bikin candu? Hahaha.” Gue ngelirik makanan gue. Ini pertama kalinya gue sama dia makan di mall berduaan begini. Gue pengen dokumentasiin semua momen bersama kami sebagai kenangan. Siapa tau suatu saat nanti bisa dikenang lagi. “Foto makanannya dong…”

“Tolong fotoin makanannya dong…” kata Bang Firzy bersamaan dengan gue ketika gue bilang mau foto makanannya.

“LU KENAPA MAU FOTO??? KENAPA IKUT-IKUTAN GUE???”

“LHA? GUE EMANG MAU FOTO, SOALNYA BUAT KENANG-KENANGAN!”

“GUE JUGA BUAT KENANG-KENANGAN! EVEN ISI PIKIRAN GUE LU BACA YAK! LU DIEM-DIEM DUKUN SANTET NIH BISA BACA PIKIRAN GUE!”

“Dih! Hahaha. Gue dikata dukun santet? Mending gue nyantet artis biar jadi pacar gue daripada gue nyantet lu!”

“Yaudah sonoh pacaran aja sama artis!”

“Masalahnya gue bukan dukun santet dan gue ga mau sama artis, jadi gue maunya pacaran sama lu. Hahaha.”

“Gue suka foto makanan----” kata kami kembali diucapkan bersamaan.

“Sumpah bacooot! Jangan ikutin gue bangs*t! Hahaha.” Kali ini gue langsung ngerebut handphone dia dan foto makanan kami. Saat itu emang food photography belum se-booming saat ini. Teknik foto gue pun masih standar. Yang penting bisa dikenang lah ya.

Sejak saat itu, kami berjanji bakalan selalu bikin kenangan di tiap pertemuan unik kami. Terutama kalo kamu lagi jalan-jalan begini.

“Abis ini mau kemana lagi emang?” tanya Bang Firzy.

“Lu ga mau langsung pulang? Emang ga cape?”

“Cape sih biasa aja, gue udah biasa perjalanan jauh begini tiap kali survey kerjaan kok. Tapi urusan gue di sini belom selesai… Makanya gue mau selesein dulu.”

“Oh yaudah, janjian dimana emang? Bilang kek dari tadi. Tau gitu makannya kan lebih cepet.” kata gue sambil numpuk tempat makan yang kami. Gue dan Bang Firzy ternyata udah punya kebiasaan numpuk tempat makan yang kami makan biar mudah dibersihin Mbak atau Masnya sejak awal kami ketemu. Thanks udah bikin gue inget lagi, Zy.

“Janjian di mall ini. Sama cewek…”

Gue terdiam dan natap mata dia. “Cewek? Siapa?”

“Emilya.”

“Ada cewek yang namanya Emilya lagi selain gue?”

“Menurut lu?”

“Emilya Contessa?”

“Nj*ng. Ya lu, Mi! Masa gue nemuin Emilya Contessa??? Hadoooh!” Bang Firzy nimpuk gue make tisu bekas dia pake.

“Gue kira lu mau nemuin siapa lagi. Hahaha. Kan ini udah ketemu, terus mau nyelesein apaan?”

“Nanti aja, pindah ke tempat baru dulu kita. Mau kemana lagi? Masih laper kan lu?”

“Nj*ng. Dikira gue perutnya segede apaan, makan segini ga kenyang.”

“Udeh jujur aja. Indomie aja makan dua, masih pake nasi sama minum susu. Segini mah nyentil lambung lu doangan. Hahaha.”

“HAHAHAsyuuuu! Di atas ada Lotteria, kesonoh yuk?”

“Nah kan. Bener kata gue. Hahaha. Gue ga pernah rugi kalo bayarin cewek tapi makannya selalu abis kayak lu… Bokap gue ngajarin jangan pernah perhitungan untuk urusan makanan, apalagi buat orang tersayang kita… Cewek-cewek lain mah udah minta makanan juga terserah, eh udah gitu makan ga pernah abis. Gue mau bayarin juga suka ga ikhlas kadang tuh. Giliran ketemu lu, makan apapun juga diabisin. Bikin gue nagih pengen nraktir lu teh. Seneng liat lu makannya banyak terus ga jaim.” kata dia sambil ngegandeng tangan kanan gue ke arah Lotteria yang ada di lantai paling atas mall ini.

Ngomongin orang yang papasan sama kita atau nge-ghibah itu udah jadi kebiasaan kami sejak kami ketemu dulu. Chemistry untuk kayak begini tuh langsung terjalin dan kami nikmatin banget. Chemistry yang paling kami banggain, ngata-ngatain orang. Mulai dari ‘Anj*ng, babi aer begitu kenapa lakiknya ganteng bener bangs*t! Gue yakin, si lakiknya pengeretan, yang biayain bininye…’ sampe ke ‘Coba liat arah jam 9, tebak coba nomor BH-nya itu cewek kira-kira berapa’. Se-ga penting itu obrolan kami. Hahaha.

Sesampainya di Lotteria, kami pesen makanan. Well, hanya gue yang pesen makanan. Bang Firzy ga pesen apapun. Dia masih segitu kenyangnya makan di Hokben sebelumnya. Dia cuman beli minuman. Tapi dia bayar semuanya, sambil sok tajir dan kegantengan ya tetep. Ga pernah dia lupa kok itu mah. Terus melekat dalam hati dan pikiran kayaknya. Hahaha.

Kami duduk di bangku paling pojok, bukan untuk mesum kok. Tapi agar kami bisa punya privasi untuk ngomongin orang dengan sudut pandang lebih luas. Dan lebihnya, biar Bang Firzy pun bisa lebih leluasa nanya-nanya ke gue tentang urusan ‘penyelesaian masalah’ yang saat itu entah apa maksud dia.

“Mau ngomongin apaan?”

“Lu makan dulu aja… Gue ngecek kerjaan dulu, barusan aja email.” kata dia. Gue pun langsung makan makanan gue, ga enak bikin dia nunggu kelamaan. Apalagi dia harus pulang ke Jakarta. Tapi biasanya sih dia kalo malem begini dan lagi di Kota, pasti pulang ke rumah orangtua dia. Atau ga ya dia nginep di hotel. Pilihan terakhir, maksa nginep di kosan gue. Entahlah. Suka-suka dia. Sing penting angkutan umum ke Kampus masih ada, gue masih aman. Hahaha.

Kurang lebih 15 menit gue abisin makanan gue. Bang Firzy masih anteng ngecek kerjaan di handphone-nya yang dia geletakin di atas meja. Sesekali dia ngebuka berkas yang dia ambil dari dalam tas dia. Entah dia ini lagi sok sibuk atau dia emang beneran masih sibuk.

kaskus-image


Dia kalo lagi make kemeja kerja kurang lebih gayanya begini, suka banget digulung sampe di bawah sikut dan bajunya dimasukin rapih gitu. Tapi tergantung bajunya sih, kalo agak gede dia ga masukin kemejanya ke dalem celananya. Saat gue ngeliat dia baca berkas kerjaan dia, gaya dia kayak Song Jong Ki di sini. Kalo gantengnya mah JAUH LAH ANJ*NG! NYAHAHAHAHA.

Gue jalan ke wastafel untuk cuci tangan gue. Gue agak gulung sedikit baju gue biar ga kena air, sehingga nunjukin gelang kebanggaan gue. Gue senyum ngeliat gelang gue itu. “Ah gue pamerin ke dia ah…” kata gue dalam hati.

Gue kembali lagi ke dia. Tapi kali ini dia udah ngerapihin berkas yang dia buka tadi. “Eh yank--- Sebentar…” Bang Firzy yang ngeliat gue baru dateng di hadapan dia pun terdiam mendadak. Dia nunjuk gelang yang ada di pergelangan tangan kiri gue. “LU KOK PUNYA GELANG ITU?!?!” kata Bang Firzy agak keras sampe bikin orang-orang yang ada di meja sekitar kita nengok ke arah kita.

Gue auto lari ke arah dia dan nutup mulut dia. Gue nengok ke arah orang-orang dengan ekspresi ‘Hapunten, orang gila ini banyak bacot’. “Lu apa-apaan sih? Berisik tau!”

Bang Firzy nunjukin pergelangan tangan kiri dia yang gue liat sekilas cuman jam tangan aja. Kemudian dia geser jam tangan dia. Dan di sana lah apa yang dia maksud.

BANG FIRZY MAKE GELANG YANG SAMA KAYAK YANG GUE PAKE.

Gelang yang sama kayak gelang kebanggaan gue yang selama ini gue pamerin ke orang-orang karena jarang yang punya dan SEKARANG DIPAKE SAMA COWOK YANG BARU PACARAN SAMA GUE BELOM GENAP SATU BULAN??? Bahkan kami pun baru ketemu beberapa bulan yang lalu. Sedangkan gelang ini udah gue punya sejak gue SD!

Gue duduk di samping dia. “Lu beli gelang ini kapan???”

“Pas gue SMA kalo ga salah. Tahun 2002 atau 2003 kayaknya.”

“Dimana?”

“Gunung A…”

Gue nutup mata dan ngurut kepala-gue-yang-sama-sekali-ga-pusing-tapi-entah-kenapa-pengen-banget-gue-urut. “Zy… Gue beli gelang ini di Gunung A juga, pas gue study tourSD. Gue lupa tahun kapan.”

“Kalo jarak umur kita 6 tahun, berarti pas gue SMA, lu kan masih SD! Berarti bener, kita beli di lokasi yang sama. Apa kita beli di waktu yang sama juga???” Bang Firzy menggenggam kedua tangan gue. “Yank… Masa kita udah ketemu dari Tahun 2002 atau 2003 sih??? Yank, kenapa kamu baru muncul sekarang???”

Jujur, saat itu gue mau nangis karena terharu. KEBETULAN APA LAGI SEKARANG? Tahun 2002 atau 2003 lho! 10 atau 11 tahun yang lalu kita memutuskan beli gelang yang sama??? Mungkin kalo kalian denger cerita ini biasa. Ratusan juta orang di Indonesia bisa beli gelang yang sama di waktu yang sama juga. Tapi kalian harus liat gelang yang kami beli saat itu yaitu gelang yang terbuat dari rantai sepeda. Dan se-inget, saat itu ga banyak orang berpikiran yang sama beli gelang yang sama kayak gue. Mungkin jarang atau mungkin ga banyak cewek memutuskan beli yang kayak begini. Lebih wow-nya lagi, kita kepikiran make gelang ini di waktu bersamaan hari itu tanpa janjian. Karena Bang Firzy ga pernah make gelang ini sebelumnya selama kita ketemu, termasuk gue.

Kami pun mengabadikan momen saat itu. Takkan kami lupakan. Gelang kebanggaan gue yang selama ini gue rasa cuman gue yang punya sendiri ternyata nemuin pasangannya, gelang milik Bang Firzy. Semuanya tanpa rekayasa.
Diubah oleh dissymmon08 28-11-2019 19:58
singgihwahyu
namikazeminati
itkgid
itkgid dan 22 lainnya memberi reputasi
23
Tutup
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.