- Beranda
- Stories from the Heart
AKHIR PENANTIANKU (JILID IV) [18+] [TRUE STORY]
...
TS
dissymmon08
AKHIR PENANTIANKU (JILID IV) [18+] [TRUE STORY]
SELAMAT DATANG AGAN SISTA
Halo! 
Gue ucapkan terima kasih yang teramat sangat terhadap dukungan dan apresiasi agan sista untuk tulisan gue di JILID IIIsebelumnya. Setelah merenung dan mencoba membuka kembali memori lama gue, akhirnya gue mendapatkan khilal gue. Sekarang gue udah siap untuk menulis kelanjutannya, yaitu JILID IV!
Kali ini gue masih menceritakan tentang kisah cinta gue, yang pada cerita sebelumnya masih berkutat di Kampus. Gue yang di kisah kali ini sedang mendekati akhir perjuangan di Kampus pun akan menjalani tahap baru, dimana gue akan bertemu dengan dunia kerja dan dunia nyata. Bakalan banyak konflik di diri gue ini, ketika gue yang tengah mencari jati diri ini dihadapkan dengan kenyataan bahwa hidup itu benar-benar penuh lika liku. Saat kita salah memilih jalan, ga ada putar balik, kita harus terus menjalani dan menghadapinya seraya mencari solusi terbaik atas pilihan kita itu. Dan kesabaran menjadi kunci utama segalanya, buat gue.
Masih dengan gaya menulis gue yang penuh strong language, absurd-nya hidup gue, kebodohan gue dalam memilih keputusan, pengalaman hidup lain, dan beberapa kali akan nyempil ++-nya, jadi gue masih ga akan melepas rating 18+ di cerita gue kali ini. Mungkin akan ada beberapa penyesuaian penggunaan bahasa atau panggilan yang gue lakuin di sini, demi kenyamanan bersama. Semoga ga merusak ciri khas gue dalam menulis! Amiiin.
Dan gue berharap semoga agan sista tetap suka dan betah mantengin thread ane ini sampe selesai!
Oh iya, kalau misalnya agan sista belum baca cerita di JILID III atau mau refresh kembali cerita saat itu, monggo mampir ke LINK INI.

Gue ucapkan terima kasih yang teramat sangat terhadap dukungan dan apresiasi agan sista untuk tulisan gue di JILID IIIsebelumnya. Setelah merenung dan mencoba membuka kembali memori lama gue, akhirnya gue mendapatkan khilal gue. Sekarang gue udah siap untuk menulis kelanjutannya, yaitu JILID IV!
Kali ini gue masih menceritakan tentang kisah cinta gue, yang pada cerita sebelumnya masih berkutat di Kampus. Gue yang di kisah kali ini sedang mendekati akhir perjuangan di Kampus pun akan menjalani tahap baru, dimana gue akan bertemu dengan dunia kerja dan dunia nyata. Bakalan banyak konflik di diri gue ini, ketika gue yang tengah mencari jati diri ini dihadapkan dengan kenyataan bahwa hidup itu benar-benar penuh lika liku. Saat kita salah memilih jalan, ga ada putar balik, kita harus terus menjalani dan menghadapinya seraya mencari solusi terbaik atas pilihan kita itu. Dan kesabaran menjadi kunci utama segalanya, buat gue.
Masih dengan gaya menulis gue yang penuh strong language, absurd-nya hidup gue, kebodohan gue dalam memilih keputusan, pengalaman hidup lain, dan beberapa kali akan nyempil ++-nya, jadi gue masih ga akan melepas rating 18+ di cerita gue kali ini. Mungkin akan ada beberapa penyesuaian penggunaan bahasa atau panggilan yang gue lakuin di sini, demi kenyamanan bersama. Semoga ga merusak ciri khas gue dalam menulis! Amiiin.
Dan gue berharap semoga agan sista tetap suka dan betah mantengin thread ane ini sampe selesai!

Oh iya, kalau misalnya agan sista belum baca cerita di JILID III atau mau refresh kembali cerita saat itu, monggo mampir ke LINK INI.
![AKHIR PENANTIANKU (JILID IV) [18+] [TRUE STORY]](https://s.kaskus.id/images/2019/11/15/10712020_20191115112915.jpg)
Spoiler for INDEX:
Spoiler for MULUSTRASI:
HT @ STORY
Alhamdulillah berkat supportdari agan sista, thread ane ini jadi HT!
Terima kasih banyak ane ucapin buat agan sista yang udah setia nunggu update-an cerita-cerita ane.
Semoga tulisan ane bisa terus lebih baik dan bisa menyajikan cerita lebih seru buat dibaca agan sista!

Spoiler for PERATURAN:
Quote:
Diubah oleh dissymmon08 30-12-2019 07:57
ezzasuke dan 49 lainnya memberi reputasi
50
134.8K
1.6K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
dissymmon08
#106
KISAH TENTANG F: BARISAN SAKIT HATI (PART 04)
Gue ketiduran di meja belajar. Laptop gue masih nyala. Winampgue masih nyala. Skripsi gue masih terbuka dan chat Bang Firzy belum gue bales lagi di Yahoo Messenger. Gue liat jam dinding gue, udah hampir jam 4 pagi.
Dan ada sms dari Bang Firzy, pasti.
Baru juga beberapa hari jadian. Kami udah ribut cuman perkara gue ketiduran. Ini udah jadi bahasan banget buat Bang Firzy sejak gue sama dia saling kenal. Kalo gue ngilang, abis itu dia pasti bombardir gue dengan banyak sms atau chat. Dan baru kali ini dia bener-bener marah karena itu. Biasanya cuman banyak chataja.
Ada sms lain juga dari Lusi.
Gue ga kaget dengan cerita Lusi ini. Kayaknya emang sulit banget buat dapet sponsor untuk membiayai keberangkatan mahasiswa. Apalagi kami ga bisa menawarkan hal lebih selain jurnal yang nantinya akan dibukukan dari konferensi internasional itu untuk kepentingan pengetahuan. Makanya kami cuma bisa berharap dari civitas Kampus, yang ternyata pun tanpa ada dukungan.
Jujur, saat itu gue nyesek banget pas tau bener-bener ga dapet dukungan. Tapi gue ga bisa nunjukin kekecewaan gue itu ke Lusi. Dia harus diberi semangat. Dia harus kembali bangkit dan ngejar mimpi dia.
Gue simpen handphonegue di meja belajar. Gue cek laptop gue. Bang Firzy udah offline, baik Yahoo Messenger ataupun Facebook. Entah sejak jam berapa. Gue pun me-refresh Home akun Facebook gue untuk tau apa ada berita menarik selama gue ketiduran semalaman.
Dan gue kaget.
Gue ngeliat status temen sekelas gue saat kami di tingkat satu.
“Jepang?” Gue pun klik akun Facebooktemen gue itu. Di sana gue melihat dia memajang poster konferensi internasional yang sama dengan konferensi yang meloloskan jurnal kami. “Mereka bahkan didampingi oleh dosen mereka? Sedangkan kami? Hanya bertiga dan ga ada bantuan sama sekali?”
Gue jauh lebih nyesek ngeliat ini dibandingin didiemin sama Fani dulu.
Rasanya gue pengen banget membenci temen gue itu, tapi dia ga salah. Dia mencoba mendapat dukungan dari orang-orang yang dia kenal, sama kayak yang kami lakuin di sini. Tapi bedanya? Nasib dia lebih baik. Jalan kami ga semulus dia. Bahkan jalan kami menuju konferensi itu tidak dilanjutkan kembali.
Sedih? Ga usah ditanya.
Kecewa? Banget.
Marah? Menurut lu?
Dosen gue dan dosen Maida sama-sama civitas di Kampus yang sama. Begitu pula dengan Akademik di Fakultas dan Jurusan kami. Tapi kenapa mereka ga bisa mendukung kami sebagaimana Maida? Apa karena kami bertiga bukan termasuk dari keluarga yang terpandang seperti Maida? Atau karena ya seperti apa yang Pak Abner bilang, uangnya hanya digunakan untuk kepentingan dosen aja? Entahlah, gue males mikirin ini lebih lanjut. Apalagi kalo Bang Firzy tau saat itu, entah dia bakalan ngamuk kayak gimana.
“Dwi, kenapa tumben banget aku disuruh mampir ke kosan sendirian begini? Sampe Lidya ga boleh ikut?” tanya gue ke Dwi. Seperti biasa, gue duduk di kasur Dwi.
Sejak berita dari Lusi menjelang Subuh waktu itu, gue udah ga pernah bahas lagi tentang ini ke Lusi maupun Iwan. Mereka bahkan bersikap biasa aja di Kampus ketika ketemu, walopun gue sadar, mereka pun masih nyesek dengan keadaan ini. Tapi karena mereka berusaha bangkit dan mengembalikan kepercayaan ke Kampus ini, kami memutuskan untuk kembali menjalani hari-hari seperti biasa di Kampus dengan segala aktivitasnya.
Dan gue ga pernah kasih tau Crocodile tentang hal ini.
Masalah cowok aja diributin, apalagi masalah gue ikut konferensi internasional tanpa mereka?
Sepulang kuliah sore ini, gue yang lagi jalan ke arah parkiran bareng Bimo mendadak dipanggil oleh Dwi. Biasanya Dwi lagi sibuk sama Iwan di Kampus sampe malem. Entah mereka ngapain suka sibuk berdua. Kali ini Dwi minta gue pulang bareng sama dia dan mampir ke kosannya, berdua doang. Ya Dwi kan orangnya lempeng-lempeng aja. Susah mau suudzon sama orang kayak Dwi ini. Hahaha. Jadi gue nurut aja pulang berdua sama dia dan ninggalin Bimo.
Tapi dari kami sampe di kosan Dwi, Dwi malah sibuk maen handphoneterus. Gue didiemin dan malah cuman disodorin cemilan yang ada di kamarnya.
“Dwi? Siapa sih yang lagi diajak smsan? Aku dianggurin nih… Ga mau dicolek-colek apa?”
Dwi nengok ke arah gue. Dia ngelempar handphone-nya tepat di perut gue. “Jijik dengernya!” Gue ketawa ngakak ngeliat ekspresi jijik dia ke gue.
Kring. Kring. Kring.
Handphone Dwi yang lagi dipegang sama gue mendadak bunyi.
“Wulan?” tanya gue dalem hati. “Dia kayaknya tadi udah cabut duluan bareng Maul entah kemana. Kenapa mendadak nelpon Dwi? Kok gue curiga gue dijebak di sini?”
“Mi, sini handphoneaku…” Dwi buru-buru ngerebut handphone dia dari tangan gue. Tapi Dwi ga angkat teleponnya, dia malah narik gue ke luar kamar dan jalan ke arah ruang tamu dia.
Dwi membuka pintu depan kosan dia dan di sana berdiri Wulan sama Maul. “Kalian ngapain nyusulin kesini? Ini ada apaan sih?” tanya gue.
“Mi, duduk dulu ya… Kita mau ngomong sesuatu.” kata Wulan sambil duduk di sofa ruang tamu kosan Dwi. “Ul… Sini duduk di samping gue. Pintunya dibuka ya, peraturan di sini.” tambah Wulan.
Gue liat Maul full diem aja. “Dia sama sekali ga ngeliat mata gue. Dia ga pernah begini biasanya. Pasti ada sesuatu.” kata gue dalem hati.
Maul ngeluarin handphone dari kantong dia. Handphone itu bukan handphone Maul. Gue apal banget handphone masing-masing anak di kelas, karena mereka sering minta bantuan gue buat benerin handphone atau sosial media mereka. Dan gue amat sangat yakin, itu bukan handphone Maul. Kecuali Maul mau beli handphone second yang kondisinya udah lecet sana sini.
Kami berempat duduk dalam diam selama Maul ngebuka handphone yang saat itu dia pegang. Kemudian setelah dia menemukan sesuatu yang dia cari di handphone itu. Maul menyerahkan handphone itu ke gue. “Mi, tolong liat sms yang masuk di handphone ini…”
Gue pun ambil handphone itu. Gue merhatiin Maul, Dwi, dan Wulan sebelum ngeliat handphone itu. Ekspresi mereka ga kebaca sama gue. Perhatian mereka full ke arah handphone yang gue pegang. Gue pun ngeliat isi handphone itu.
Di sana deretan sms masuk dari orang yang sangat gue kenal, Bang Firzy.
Entah berapa banyak sms masuk di handphone itu dari Bang Firzy yang si empunya simpan kontaknya dengan nama ‘Bang Ija 2004’. Siapa lagi kalo bukan pacar gue saat itu?
Gue liat waktu kirim smsnya yang udah cukup lawas, sebelum gue bertemu dengan Bang Firzy. Tapi ada beberapa kali sms ketika gue hampir ketemu dengan Bang Firzy di Jak-Japan Matsuri. Dan ada beberapa sms ketika Bang Firzy sedang pendekatan ke gue. Tapi setelah kami pacaran, hanya ada satu dua kali sms terbaru dari Bang Firzy.
Entah maksud mereka apa. Entah mereka mau nuduh Bang Firzy selingkuh atau ga. Entah mereka mau ngebuktiin kalo kekhawatiran mereka bener selama ini.
“Oke, sms dari Bang Ija… Terus kenapa?”
“Buka coba beberapa sms masuk dari Bang Ija itu…” kata Wulan.
Gue pun ngebuka beberapa sms sesuai dengan permintaan Wulan. Di situ gue tau, ini handphone punya Nindy, adik kelas kami angkatan Tahun 2011. Tepat satu tahun di bawah gue. Di sana banyak sms masuk dari Bang Firzy yang kayaknya diskusi tentang isu di berita maupun kabar di Kampus. Ga lupa ada beberapa kali mereka bercanda dan ada modus dari Nindy ke Bang Firzy maupun sebaliknya.
Ga jarang juga ada beberapa sms Bang Firzy yang isinya standar cowok kalo lagi pendekatan : ‘Lu dimana?’, ‘Lu udah makan apa belum?’, ‘Jangan lupa Sholat’, ‘Ati-ati di jalan ya’ dan banyak sms template lainnya. Modusnya pun berbeda dengan cara Bang Firzy modusin gue dulu. Di sini Bang Firzy cuman bilang kayak ‘Kangen ya ga disms gue?’ atau ‘Nagih ya pengen ketemu gue?’.
Tapi semua sms itu terlihat biasa aja sama gue. Secara mereka kenal lebih dulu daripada gue. Mungkin mereka udah deket dan sempet jalan beberapa kali? Entahlah. Bang Firzy sampe sekarang belum pernah cerita apapun tentang masa lalu dia dengan seluruh cewe-cewe dia. Gue ga mau diungkit masa lalu gue, maka gue pun ga mau ungkit masa lalu dia. Kecuali dia dengan ikhlas mau cerita ke gue.
Emang rada nyesek sih baca semua sms ini. Kalo Bang Firzy murni serius sama gue, kenapa masih juga sms Nindy ketika kami udah pacaran? Entah Nindy udah apus beberapa sms dari Bang Firzy ketika kami udah pacaran apa ga. Gue bahkan ga berani baca sms-sms terbaru dari Bang Firzy itu.
“Ini handphone Nindy? Kenapa ada di lu Maul?” tanya gue sambil meletakkan handphone itu di meja tamu kosan Dwi.
“Mi, ini Nindy sendiri yang kasih handphone dia ke kami… Dia pengen ngasih tau kalo Bang Ija itu ga seperti yang lu kira. Bang Ija itu sejahat itu. Dia bahkan masih ngehubungin Nindy ketika udah pacaran sama lu. Bang Ija itu ga pernah ngelepas Nindy seutuhnya…”
“Dan Nindy saat ini bahkan katanya juga lagi ada masalah sama Dewi, temen sekelasnya karena mereka berdua ternyata MASIH disms sama Bang Ija juga. Liat cara sms-an mereka. Modus dan pendekatan gitu bukan? Bahkan Dewi manggil Bang Ija dengan panggilan Zizi…”
“Ul, kok lu tau Dewi manggil Bang Ija make nama Zizi? Mana handphone-nya Dewi? Sini gue mau liat.”
“Dewi ga mau kasih handphone dia ke gue. Dia cerita, nunjukin isi sms dia. Udah gitu doang.”
Gue duduk bersandar ke sofa. Gue nutup muka gue. “Terus kalian lebih percaya ade kelas ini? Dengan Nindy dan Dewi rela ngasih tunjuk sms bahkan Nindy pinjemin handphone dia ke kalian, kalian ga ngerasa aneh gitu?”
“Ini usaha mereka buat nyadarin lu, Mi. Biar lu ga jadi target permainan Bang Ija. Biar mereka berdua yang tersakiti kalo Bang Ija punya niat begitu, lu jangan. Mereka peduli sama lu, Mi.”
Dwi ikut nimbrung. “Nindy pesen ke aku… ‘Kak Emi pasti diperlakukan sama dengan Bang Ija, kayak aku dan Dewi. Terus apa spesialnya Kak Emi? Aku sama Dewi aja jadinya rebutan Bang Ija ini sampe akhirnya pertemanan kami renggang, aku ga mau Kak Emi jadi salah satu permainan Bang Ija. Bang Ija mungkin cuma iseng ke Kak Emi’…”
“Bang Ija memperlakukan gue berbeda daripada mereka…” Gue natap mereka satu per satu.
“Ya karena berbeda, makanya lu cuman main-main, berbeda dengan mereka yang lebih serius tapi jadi pilihan Bang Ija itu sendiri.” kata Wulan menegaskan.
Sakit lho denger kalimat itu keluar dari bibir sahabat lu sendiri. “Gue pacar Bang Ija, mereka bukan. Masa kesimpulannya malah Bang Ija itu main-main sama gue dan serius ke mereka??? LAGIAN GIMANA MEREKA BISA TAU GUE UDAH PACARAN SAMA BANG IJA SIH? ANJ*NG!” Gue udah ga bisa nahan emosi gue lagi saat itu.
“Sabar, Mi… Mereka tau karena entah gimana ceritanya berita kalian pacaran itu nyebar bahkan sampe ke Dosen. Semua orang kaget dengan berita ini, bahkan ga sedikit yang kecewa sama lu, Mi. Lu ngerusak hubungan Bang Ija sama Kak Dee. Dan sekarang lu ga mau sadar juga ketika Bang Ija lagi ngejar-ngejar Nindy sama Dewi. Lu banyak nyakitin cewek…”
“KOK BANGS*T BANGET? KENAPA JADI MALAH GUE YANG NYAKITIN SEMUA CEWEK ITU??? TERUS KENAPA KAK DEE JUGA NGERASA DIRUSAK HUBUNGANNYA SAMA GUE??? KENAPA GA SAMA MEREKA BERDUA AJA!!!”
Dwi pindah duduk di samping gue. Dwi ngerangkul gue buat nenangin gue. “Sabar, Mi… Sabar.”
“Kak Dee katanya kalopun HARUS nyerahin Bang Ija, dia lebih rela nyerahin Bang Ija ini buat Nindy atau Dewi, bukan Emi. Karena Emi ngerusak hubungan dia sedangkan Nindy dan Dewi itu pilihan Bang Ija, sama sekali ga ngerusak hubungan.” jelas Maul.
“Apaan sih nyerah-nyerahin begitu???" Gue ngeliatin Maul. "Terus Kak Dee berarti udah putus kan?”
“Ya ga tau… Dia cuman bilang KALOPUN HARUS NYERAHIN, DIA LEBIH RELA NYERAHIN BUAT NINDY ATAU DEWI, BUKAN EMI… Kan tadi gue bilang gitu. Berarti mereka masih ada hubungan…”
Gue ngelirik Maul sinis. “Lu tau darimana? Emang bisa ngehubungin Kak Dee?” tanya gue.
“Dewi yang cerita----”
BRAKKK!!!
Gue mukul meja ruang tamu Dwi. “KALIAN SEMUA PERCAYA DARI OMONGAN ADE KELAS??? DAN KALIAN SAMA SEKALI GA PERCAYA SAMA GUE??? TEMEN KALIAN??? GUE SEHINA APA SIH GUE DI MATA KALIAN? APA GUE CUMAN BOLEH DAPET COWO SEBRENGSEK BOTOL KECAP DAN GUE GA BOLEH DAPETIN COWO YANG SEHOBI SAMA GUE???” Gue berdiri di depan mereka.
“Nindy, Dewi, dan kami peduli sama lu, Mi… Biarin mereka aja yang digituin sama Bang Ija, jangan lu. Biarin mereka yang nyelesein sama Kak Dee, jangan lu.”
“HALAH ANJ*NG!” Gue jalan ke kamar buat ambil tas gue. Gue banting pintu kamar Dwi dan jalan ke arah ruang tamu lagi. Mereka sama sekali ga merubah posisi duduk mereka.
“Mi… Sini kita omongin dulu. Lu jangan pergi dalam keadaan emosi begitu.” kata Wulan, narik tangan gue.
“Lan, Dwi, Maul, pernah ga kalian mikirin gimana perasaan kalian kalo lagi di posisi gue? Menurut lu gimana perasaan gue ketika kalian ngebeberin itu semua tentang pacar kalian? Coba kita switch posisi kita. Kalian pikirin, menurut lu apa yang gue rasain sekarang?” kata gue sambil ngelepas tangan Wulan dan jalan ke arah pintu depan. “Gue bakalan ngomongin ini ke Bang Ija. Tenang aja… Makasih buat semua kepedulian kalian. Salam buat Kak Dee, Nindy, dan Dewi. Sampein maaf gue ke mereka kalo mereka ga sengaja tersakiti sama gue…”
Dan ada sms dari Bang Firzy, pasti.
Quote:
Baru juga beberapa hari jadian. Kami udah ribut cuman perkara gue ketiduran. Ini udah jadi bahasan banget buat Bang Firzy sejak gue sama dia saling kenal. Kalo gue ngilang, abis itu dia pasti bombardir gue dengan banyak sms atau chat. Dan baru kali ini dia bener-bener marah karena itu. Biasanya cuman banyak chataja.
Ada sms lain juga dari Lusi.
Quote:
Quote:
Gue ga kaget dengan cerita Lusi ini. Kayaknya emang sulit banget buat dapet sponsor untuk membiayai keberangkatan mahasiswa. Apalagi kami ga bisa menawarkan hal lebih selain jurnal yang nantinya akan dibukukan dari konferensi internasional itu untuk kepentingan pengetahuan. Makanya kami cuma bisa berharap dari civitas Kampus, yang ternyata pun tanpa ada dukungan.
Jujur, saat itu gue nyesek banget pas tau bener-bener ga dapet dukungan. Tapi gue ga bisa nunjukin kekecewaan gue itu ke Lusi. Dia harus diberi semangat. Dia harus kembali bangkit dan ngejar mimpi dia.
Quote:
Gue simpen handphonegue di meja belajar. Gue cek laptop gue. Bang Firzy udah offline, baik Yahoo Messenger ataupun Facebook. Entah sejak jam berapa. Gue pun me-refresh Home akun Facebook gue untuk tau apa ada berita menarik selama gue ketiduran semalaman.
Dan gue kaget.
Gue ngeliat status temen sekelas gue saat kami di tingkat satu.
Quote:
“Jepang?” Gue pun klik akun Facebooktemen gue itu. Di sana gue melihat dia memajang poster konferensi internasional yang sama dengan konferensi yang meloloskan jurnal kami. “Mereka bahkan didampingi oleh dosen mereka? Sedangkan kami? Hanya bertiga dan ga ada bantuan sama sekali?”
Gue jauh lebih nyesek ngeliat ini dibandingin didiemin sama Fani dulu.
Rasanya gue pengen banget membenci temen gue itu, tapi dia ga salah. Dia mencoba mendapat dukungan dari orang-orang yang dia kenal, sama kayak yang kami lakuin di sini. Tapi bedanya? Nasib dia lebih baik. Jalan kami ga semulus dia. Bahkan jalan kami menuju konferensi itu tidak dilanjutkan kembali.
Sedih? Ga usah ditanya.
Kecewa? Banget.
Marah? Menurut lu?
Dosen gue dan dosen Maida sama-sama civitas di Kampus yang sama. Begitu pula dengan Akademik di Fakultas dan Jurusan kami. Tapi kenapa mereka ga bisa mendukung kami sebagaimana Maida? Apa karena kami bertiga bukan termasuk dari keluarga yang terpandang seperti Maida? Atau karena ya seperti apa yang Pak Abner bilang, uangnya hanya digunakan untuk kepentingan dosen aja? Entahlah, gue males mikirin ini lebih lanjut. Apalagi kalo Bang Firzy tau saat itu, entah dia bakalan ngamuk kayak gimana.
XOXOXO
“Dwi, kenapa tumben banget aku disuruh mampir ke kosan sendirian begini? Sampe Lidya ga boleh ikut?” tanya gue ke Dwi. Seperti biasa, gue duduk di kasur Dwi.
Sejak berita dari Lusi menjelang Subuh waktu itu, gue udah ga pernah bahas lagi tentang ini ke Lusi maupun Iwan. Mereka bahkan bersikap biasa aja di Kampus ketika ketemu, walopun gue sadar, mereka pun masih nyesek dengan keadaan ini. Tapi karena mereka berusaha bangkit dan mengembalikan kepercayaan ke Kampus ini, kami memutuskan untuk kembali menjalani hari-hari seperti biasa di Kampus dengan segala aktivitasnya.
Dan gue ga pernah kasih tau Crocodile tentang hal ini.
Masalah cowok aja diributin, apalagi masalah gue ikut konferensi internasional tanpa mereka?
Sepulang kuliah sore ini, gue yang lagi jalan ke arah parkiran bareng Bimo mendadak dipanggil oleh Dwi. Biasanya Dwi lagi sibuk sama Iwan di Kampus sampe malem. Entah mereka ngapain suka sibuk berdua. Kali ini Dwi minta gue pulang bareng sama dia dan mampir ke kosannya, berdua doang. Ya Dwi kan orangnya lempeng-lempeng aja. Susah mau suudzon sama orang kayak Dwi ini. Hahaha. Jadi gue nurut aja pulang berdua sama dia dan ninggalin Bimo.
Tapi dari kami sampe di kosan Dwi, Dwi malah sibuk maen handphoneterus. Gue didiemin dan malah cuman disodorin cemilan yang ada di kamarnya.
“Dwi? Siapa sih yang lagi diajak smsan? Aku dianggurin nih… Ga mau dicolek-colek apa?”
Dwi nengok ke arah gue. Dia ngelempar handphone-nya tepat di perut gue. “Jijik dengernya!” Gue ketawa ngakak ngeliat ekspresi jijik dia ke gue.
Kring. Kring. Kring.
Handphone Dwi yang lagi dipegang sama gue mendadak bunyi.
Quote:
“Wulan?” tanya gue dalem hati. “Dia kayaknya tadi udah cabut duluan bareng Maul entah kemana. Kenapa mendadak nelpon Dwi? Kok gue curiga gue dijebak di sini?”
“Mi, sini handphoneaku…” Dwi buru-buru ngerebut handphone dia dari tangan gue. Tapi Dwi ga angkat teleponnya, dia malah narik gue ke luar kamar dan jalan ke arah ruang tamu dia.
Dwi membuka pintu depan kosan dia dan di sana berdiri Wulan sama Maul. “Kalian ngapain nyusulin kesini? Ini ada apaan sih?” tanya gue.
“Mi, duduk dulu ya… Kita mau ngomong sesuatu.” kata Wulan sambil duduk di sofa ruang tamu kosan Dwi. “Ul… Sini duduk di samping gue. Pintunya dibuka ya, peraturan di sini.” tambah Wulan.
Gue liat Maul full diem aja. “Dia sama sekali ga ngeliat mata gue. Dia ga pernah begini biasanya. Pasti ada sesuatu.” kata gue dalem hati.
Maul ngeluarin handphone dari kantong dia. Handphone itu bukan handphone Maul. Gue apal banget handphone masing-masing anak di kelas, karena mereka sering minta bantuan gue buat benerin handphone atau sosial media mereka. Dan gue amat sangat yakin, itu bukan handphone Maul. Kecuali Maul mau beli handphone second yang kondisinya udah lecet sana sini.
Kami berempat duduk dalam diam selama Maul ngebuka handphone yang saat itu dia pegang. Kemudian setelah dia menemukan sesuatu yang dia cari di handphone itu. Maul menyerahkan handphone itu ke gue. “Mi, tolong liat sms yang masuk di handphone ini…”
Gue pun ambil handphone itu. Gue merhatiin Maul, Dwi, dan Wulan sebelum ngeliat handphone itu. Ekspresi mereka ga kebaca sama gue. Perhatian mereka full ke arah handphone yang gue pegang. Gue pun ngeliat isi handphone itu.
Di sana deretan sms masuk dari orang yang sangat gue kenal, Bang Firzy.
Entah berapa banyak sms masuk di handphone itu dari Bang Firzy yang si empunya simpan kontaknya dengan nama ‘Bang Ija 2004’. Siapa lagi kalo bukan pacar gue saat itu?
Gue liat waktu kirim smsnya yang udah cukup lawas, sebelum gue bertemu dengan Bang Firzy. Tapi ada beberapa kali sms ketika gue hampir ketemu dengan Bang Firzy di Jak-Japan Matsuri. Dan ada beberapa sms ketika Bang Firzy sedang pendekatan ke gue. Tapi setelah kami pacaran, hanya ada satu dua kali sms terbaru dari Bang Firzy.
Entah maksud mereka apa. Entah mereka mau nuduh Bang Firzy selingkuh atau ga. Entah mereka mau ngebuktiin kalo kekhawatiran mereka bener selama ini.
“Oke, sms dari Bang Ija… Terus kenapa?”
“Buka coba beberapa sms masuk dari Bang Ija itu…” kata Wulan.
Gue pun ngebuka beberapa sms sesuai dengan permintaan Wulan. Di situ gue tau, ini handphone punya Nindy, adik kelas kami angkatan Tahun 2011. Tepat satu tahun di bawah gue. Di sana banyak sms masuk dari Bang Firzy yang kayaknya diskusi tentang isu di berita maupun kabar di Kampus. Ga lupa ada beberapa kali mereka bercanda dan ada modus dari Nindy ke Bang Firzy maupun sebaliknya.
Ga jarang juga ada beberapa sms Bang Firzy yang isinya standar cowok kalo lagi pendekatan : ‘Lu dimana?’, ‘Lu udah makan apa belum?’, ‘Jangan lupa Sholat’, ‘Ati-ati di jalan ya’ dan banyak sms template lainnya. Modusnya pun berbeda dengan cara Bang Firzy modusin gue dulu. Di sini Bang Firzy cuman bilang kayak ‘Kangen ya ga disms gue?’ atau ‘Nagih ya pengen ketemu gue?’.
Tapi semua sms itu terlihat biasa aja sama gue. Secara mereka kenal lebih dulu daripada gue. Mungkin mereka udah deket dan sempet jalan beberapa kali? Entahlah. Bang Firzy sampe sekarang belum pernah cerita apapun tentang masa lalu dia dengan seluruh cewe-cewe dia. Gue ga mau diungkit masa lalu gue, maka gue pun ga mau ungkit masa lalu dia. Kecuali dia dengan ikhlas mau cerita ke gue.
Emang rada nyesek sih baca semua sms ini. Kalo Bang Firzy murni serius sama gue, kenapa masih juga sms Nindy ketika kami udah pacaran? Entah Nindy udah apus beberapa sms dari Bang Firzy ketika kami udah pacaran apa ga. Gue bahkan ga berani baca sms-sms terbaru dari Bang Firzy itu.
“Ini handphone Nindy? Kenapa ada di lu Maul?” tanya gue sambil meletakkan handphone itu di meja tamu kosan Dwi.
“Mi, ini Nindy sendiri yang kasih handphone dia ke kami… Dia pengen ngasih tau kalo Bang Ija itu ga seperti yang lu kira. Bang Ija itu sejahat itu. Dia bahkan masih ngehubungin Nindy ketika udah pacaran sama lu. Bang Ija itu ga pernah ngelepas Nindy seutuhnya…”
“Dan Nindy saat ini bahkan katanya juga lagi ada masalah sama Dewi, temen sekelasnya karena mereka berdua ternyata MASIH disms sama Bang Ija juga. Liat cara sms-an mereka. Modus dan pendekatan gitu bukan? Bahkan Dewi manggil Bang Ija dengan panggilan Zizi…”
“Ul, kok lu tau Dewi manggil Bang Ija make nama Zizi? Mana handphone-nya Dewi? Sini gue mau liat.”
“Dewi ga mau kasih handphone dia ke gue. Dia cerita, nunjukin isi sms dia. Udah gitu doang.”
Gue duduk bersandar ke sofa. Gue nutup muka gue. “Terus kalian lebih percaya ade kelas ini? Dengan Nindy dan Dewi rela ngasih tunjuk sms bahkan Nindy pinjemin handphone dia ke kalian, kalian ga ngerasa aneh gitu?”
“Ini usaha mereka buat nyadarin lu, Mi. Biar lu ga jadi target permainan Bang Ija. Biar mereka berdua yang tersakiti kalo Bang Ija punya niat begitu, lu jangan. Mereka peduli sama lu, Mi.”
Dwi ikut nimbrung. “Nindy pesen ke aku… ‘Kak Emi pasti diperlakukan sama dengan Bang Ija, kayak aku dan Dewi. Terus apa spesialnya Kak Emi? Aku sama Dewi aja jadinya rebutan Bang Ija ini sampe akhirnya pertemanan kami renggang, aku ga mau Kak Emi jadi salah satu permainan Bang Ija. Bang Ija mungkin cuma iseng ke Kak Emi’…”
“Bang Ija memperlakukan gue berbeda daripada mereka…” Gue natap mereka satu per satu.
“Ya karena berbeda, makanya lu cuman main-main, berbeda dengan mereka yang lebih serius tapi jadi pilihan Bang Ija itu sendiri.” kata Wulan menegaskan.
Sakit lho denger kalimat itu keluar dari bibir sahabat lu sendiri. “Gue pacar Bang Ija, mereka bukan. Masa kesimpulannya malah Bang Ija itu main-main sama gue dan serius ke mereka??? LAGIAN GIMANA MEREKA BISA TAU GUE UDAH PACARAN SAMA BANG IJA SIH? ANJ*NG!” Gue udah ga bisa nahan emosi gue lagi saat itu.
“Sabar, Mi… Mereka tau karena entah gimana ceritanya berita kalian pacaran itu nyebar bahkan sampe ke Dosen. Semua orang kaget dengan berita ini, bahkan ga sedikit yang kecewa sama lu, Mi. Lu ngerusak hubungan Bang Ija sama Kak Dee. Dan sekarang lu ga mau sadar juga ketika Bang Ija lagi ngejar-ngejar Nindy sama Dewi. Lu banyak nyakitin cewek…”
“KOK BANGS*T BANGET? KENAPA JADI MALAH GUE YANG NYAKITIN SEMUA CEWEK ITU??? TERUS KENAPA KAK DEE JUGA NGERASA DIRUSAK HUBUNGANNYA SAMA GUE??? KENAPA GA SAMA MEREKA BERDUA AJA!!!”
Dwi pindah duduk di samping gue. Dwi ngerangkul gue buat nenangin gue. “Sabar, Mi… Sabar.”
“Kak Dee katanya kalopun HARUS nyerahin Bang Ija, dia lebih rela nyerahin Bang Ija ini buat Nindy atau Dewi, bukan Emi. Karena Emi ngerusak hubungan dia sedangkan Nindy dan Dewi itu pilihan Bang Ija, sama sekali ga ngerusak hubungan.” jelas Maul.
“Apaan sih nyerah-nyerahin begitu???" Gue ngeliatin Maul. "Terus Kak Dee berarti udah putus kan?”
“Ya ga tau… Dia cuman bilang KALOPUN HARUS NYERAHIN, DIA LEBIH RELA NYERAHIN BUAT NINDY ATAU DEWI, BUKAN EMI… Kan tadi gue bilang gitu. Berarti mereka masih ada hubungan…”
Gue ngelirik Maul sinis. “Lu tau darimana? Emang bisa ngehubungin Kak Dee?” tanya gue.
“Dewi yang cerita----”
BRAKKK!!!
Gue mukul meja ruang tamu Dwi. “KALIAN SEMUA PERCAYA DARI OMONGAN ADE KELAS??? DAN KALIAN SAMA SEKALI GA PERCAYA SAMA GUE??? TEMEN KALIAN??? GUE SEHINA APA SIH GUE DI MATA KALIAN? APA GUE CUMAN BOLEH DAPET COWO SEBRENGSEK BOTOL KECAP DAN GUE GA BOLEH DAPETIN COWO YANG SEHOBI SAMA GUE???” Gue berdiri di depan mereka.
“Nindy, Dewi, dan kami peduli sama lu, Mi… Biarin mereka aja yang digituin sama Bang Ija, jangan lu. Biarin mereka yang nyelesein sama Kak Dee, jangan lu.”
“HALAH ANJ*NG!” Gue jalan ke kamar buat ambil tas gue. Gue banting pintu kamar Dwi dan jalan ke arah ruang tamu lagi. Mereka sama sekali ga merubah posisi duduk mereka.
“Mi… Sini kita omongin dulu. Lu jangan pergi dalam keadaan emosi begitu.” kata Wulan, narik tangan gue.
“Lan, Dwi, Maul, pernah ga kalian mikirin gimana perasaan kalian kalo lagi di posisi gue? Menurut lu gimana perasaan gue ketika kalian ngebeberin itu semua tentang pacar kalian? Coba kita switch posisi kita. Kalian pikirin, menurut lu apa yang gue rasain sekarang?” kata gue sambil ngelepas tangan Wulan dan jalan ke arah pintu depan. “Gue bakalan ngomongin ini ke Bang Ija. Tenang aja… Makasih buat semua kepedulian kalian. Salam buat Kak Dee, Nindy, dan Dewi. Sampein maaf gue ke mereka kalo mereka ga sengaja tersakiti sama gue…”
itkgid dan 23 lainnya memberi reputasi
24
![AKHIR PENANTIANKU (JILID IV) [18+] [TRUE STORY]](https://s.kaskus.id/images/2019/10/10/10712020_20191010014133.jpg)

dan 
