- Beranda
- Stories from the Heart
Tempra Knight
...
TS
ayahnyabinbun
Tempra Knight

Hai para kaskuser..
Ayahbinbun balik lagi dengan cerita baru, yang pastinya beda dari cerita-cerita yang berseliweran di sini..
Semoga para pembaca bisa menikmati cerita petualangan ini bersama om..

No Junk.
No Spam.
Pokoknya ikuti Rules dari Kaskus ya.
Cerita ini murni Fiksi, jadi kalau ada kesamaan nama tokoh dan tempat mohon di maklumi.
Terakhir.
Selamat menikmati bacaan ringan ini.
Spoiler for index:
Diubah oleh ayahnyabinbun 10-12-2019 19:47
nona212 dan 5 lainnya memberi reputasi
6
2K
Kutip
21
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
ayahnyabinbun
#2
Chapter 1
Spoiler for Sang kesatria:
Kota Port de gulan, kota pelabuhan di semenanjung Bastan, semilir angin laut berhembus teduh ditemani desiran ombak yang memecah kerasnya karang, para nelayan tengah sibuk mengangkut hasil laut dengan gerobak kayu dari kapal tongkang menuju pelelangan ikan yang berada tidak jauh dari pelabuhan. Dari sebuah kapal seorang lelaki dengan pedang besar di punggungnya turun dari salah satu kapal nelayan, lelaki itu menatap sang nahkoda kapal seraya berkata, "kapten James terima kasih atas tumpangannya ya, hihi."
"Iya, sama-sama, aku juga terbantu karena ada dirimu Rea, setiap membawa kau cuaca seakan bersahabat dan para monster di laut seperti enggan mendekati kapalku ini, kau bagai jimat sakti untuk keselamatan nelayan seperti kami," jawab pak James sang nahkoda salah satu kapal nelayan.
"Hehe, sialan kau, aku ini disamakan dengan jimat, baiklah … aku pergi dulu, jika kau butuh bantuan lagi kirim merpati tua milikmu untuk mengirimkan pesan padaku."
"Iya pasti, hati-hati pada perjalananmu kali ini, usahakan kau tidak mati, hehe," seru kapten James.
"Tenang kapten, butuh seekor iblis untuk membunuhku, bye," jelas sang pemuda sembari berjalan menjauhi kapal.
Pemuda itupun melenggang pergi dari pelabuhan menuju kearah pasar utama port de gulan, suasana pasar berganti menjadi suasana perumahan penduduk, banyak mata menatap pemuda itu dengan kagum terutama untuk para gadis, mereka berbisik-bisik malu saat sang pemuda melewati mereka, pemuda itu bernama Reamur, Reamur oriza seorang prajurit bayaran yang sekarang menetap di Port de gulan, pemuda dengan mata biru dan rambut pirang itu telah menetap di kota pelabuhan ini kurang lebih selama sebulan.
-Kruuuuk-
"Urgh … aku lapar, di kapal aku hanya memakan ikan mentah saja sepanjang perjalanan, aku harus makan sesuatu yang mengenyangkan sebelum pergi ke hutan Bringin," gumam Reamur dalam hati.
-BRAAK-
"HEI PENCURI!! BERHENTI!!" teriak seorang penjual daging yang tengah menggenggam golok daging di tangannya.
"Aku bukan pencuri! Aku hanya meminjam daging ini paman, nanti aku kembalikan," balas seorang lelaki yang tengah berlari tergesa-gesa melewati Rea.
Sang penjual daging menghampiri Rea dengan nafas terengah-engah, "Rea, untunglah kau disini, aku mohon kejar pencuri itu, dia mengambil stok daging premium milikku," seru sang penjual daging.
"Huft," desal Rea, "dengar ya paman itu bukan uru …"
"Jika kau menangkap dia akan aku hapus daftar hutang milikmu!" potong paman penjual daging.
"OOOOSSSHHH...! BAIKLAH! HEI PENCURI KEMBALI KAU!" Teriak Rea dengan penuh semangat sembari berlari mengejar sang lelaki tadi.
Rea mengejar pemuda tersebut hingga sampai ke depan pintu gerbang kota, di depan mereka sedang berjaga dua prajurit berbaju zirah penjaga gerbang kota.
"HEI PENJAGA! TANGKAP LELAKI ITU! DIA PENCURI!" teriak Rea pada kedua penjaga gerbang.
Mendengar peringatan dari Rea para penjaga bersiap menghadang sang pemuda akan tetapi, sang pencuri berlari diantara dua penjaga kemudian berteriak, "STEAM STRIKE!!" dua pukulan bersarang di perut para penjaga membuat mereka seketika terjerembab dan tak sadarkan diri dibuatnya, pukulan yang sangat cepat bahkan mata telanjang tidak akan bisa melihat asal pukulan tersebut.
"Serangan itu … tidak mungkin," gumam Rea menatap kejadian di depannya.
Sang pemuda tetap berlari keluar gerbang menuju arah hutan Bringin di belakangnya Reamur mengejar dengan tersengal-sengal.
-hosh-
-hosh-
-hosh-
"Sial padahal dia berlari sambil membopong kotak daging tapi aku tidak akan kalah, sepertinya daerah ini sepi aku akan mengejarnya sekarang."
Kaki Reamur berubah warna menjadi jingga dan mengeluarkan kepulan asap putih, "Steam dash," dalam sekali hentakan kaki Reamur melesat hampir menyusul sang pencuri akan tetapi sesaat sebelum ia menggapai kotak daging sang pencuri berbalik arah dan menendang perut Reamur.
-Bugh-
Reamur terpental kesamping, "Argh!! sial, bagaimana dia tahu keberadaanku, aku tidak boleh menganggap remeh lawanku kali ini."
Sang pencuri daging berdiri tegak sembari memasang kuda-kuda tanda siap untuk bertarung.
"Sebelum kita mulai boleh aku tahu siapa namamu?" tanya Reamur sembari melepaskan ikatan pedang besar miliknya.
"Kalahkan aku dulu, baru aku akan beritahu siapa namaku, HIAAT!!"
Sang pencuri melaju kedepan kearah Reamur sebuah kepalan siap memukul kepala Reamur dengan telak.
-Brak-
Akan tetapi dengan cepat Reamur dapat menangkis pukulan tersebut dengan bilah pedangnya yang besar, "xixixixi, boleh juga pukulanmu," seru Reamur.
Sang pencuri tersenyum, "reflekmu juga sangat bagus, kau kesatria yang hebat, dengan pedang sebesar itu kau bisa menangkis pukulan ku dengan cepat dan tepat," serunya kagum.
"Engkau naif ingin melawan seorang kesatria bersenjatakan pedang dengan hanya tangan kosong seperti itu, aku tidak ingin melukaimu serahkan daging itu dan pergilah," seru Rea dengan nada bicara mengiba.
Sang pencuri memasang kuda-kuda sejurus kemudian "STEAM PUNCH!!" ia memukul udara kosong dan melancarkan pukulan jarak jauh kearah Reamur.
-Bugh-
Reamur menangkis kembali serangan sang pencuri dengan bilah pedangnya, "Cih, benar dugaanku kau seorang tempra, engkau memanfaatkan tekanan udara panas untuk melancarkan serangan, sudah lama sekali aku tidak melihat tempra disekitaran Bastan, aku kira mereka sudah punah."
"Tempra? Apa itu tempra? Aku tidak mengerti yang engkau bicarakan," tanya sang pencuri.
Di saat mereka bertarung puluhan prajurit penjaga kota Gulan tengah berlari menuju tempat Reamur dan pencuri itu berada.
"Cih, maaf aku harus pergi karena para pengganggu sudah datang, lain kali kita bertarung lagi ya? Bye," pungkas sang pencuri sambil hendak mengambil kotak daging hasil curiannya.
Reamur mengambil ancang-ancang, "siapa bilang kau boleh lari, HIIAAT!" Reamur berlari kemudian melompat kearah sang pencuri, sebuah tebasan pedang besar milik Reamur siap membelah apapun di depannya.
"MIRAGE!!" teriak sang pencuri sambil menerima tebasan telak di bahunya, pedang Reamur dengan cepat membelah tangan sang pencuri.
"Maaf aku harus melakukan ini … ugh tidak mungkin!!" sang pencuri yang telah terkena tebasan pedang Reamur tiba-tiba membias menjadi kepulan asap putih.
"Hei … kau menyerang apa?"
Dari samping kanan Reamur sang pencuri telah bersiap dengan kuda-kudanya, "STEAM PUNCH!!"
-BUGGHH-
Reamur terpental terkena telak pukulan uap milik sang pencuri, "Uhuk-uhuk! Terima kasih untuk dagingnya," seru Reamur yang tengah terjatuh di rerumputan dengan kotak daging di genggamannya.
"Hmfh … Celcius."
"Huh?" seru Reamur bingung.
"Namaku Celcius, Celcius dragan, siapa namamu kesatria?" tanya Celcius.
"Reamur, Reamur oriza, kau bisa memanggilku Rea," jawab Reamur sembari mulai berdiri kembali.
"Rea, bolehkah aku meminta daging itu kembali? Temanku sedang sekarat di dalam hutan dan dia hanya bisa memakan daging, aku berjanji akan menggantinya nanti," pinta Celcius mengiba kepada Reamur.
Reamur menatap kotak daging yang di genggamnya kemudian melemparnya kearah Celcius, "ini ambillah, ini upah supaya kau diam ke orang-orang bahwa kau telah memukulku hingga terjatuh ke tanah."
"Te-terima kasih banyak Rea, aku tidak akan lupa jasamu ini," seru Celcius sembari memeluk kotak daging tersebut.
"Sudah-sudah … pergilah sana, aku akan mengecoh para penjaga supaya tidak mengejarmu lagi."
Celcius tersenyum sembari berlari kembali menuju ke arah hutan Bringin.
Reamur menatap punggung Celcius yang kian menjauh berlari dengan kencangnya, "Seorang tempra yang tidak mengetahui dirinya adalah tempra, siapa sebenarnya dirimu Celcius? Tapi tidak apa-apa, yang lebih penting akhirnya aku menemukan tempra selain diriku," gumam Reamur di dalam hati.
Bersambung..
0
Kutip
Balas