- Beranda
- Stories from the Heart
Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] - SEASON 2
...
TS
yanagi92055
Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] - SEASON 2
Selamat Datang di Thread Gue
![Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] - SEASON 2](https://s.kaskus.id/images/2019/10/17/10668384_20191017013511.jpeg)
Trit Kedua ini adalah lanjutan dari Trit Pertama gue yang berjudul Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] - SEASON 1 . Trit ini akan menceritakan lanjutan pengalaman gue mencari muara cinta gue. Setelah lika liku perjalanan mencari cinta gue yang berakhir secara tragis bagi gue pada masa kuliah, kali ini gue mencoba menceritakan perjalanan cinta gue ketika mulai menapaki karir di dunia kerja. Semoga Gansis sekalian bisa terhibur ya
TERIMA KASIH BANYAK ATAS ATENSI DAN APRESIASI GANSIS READER TRIT GUE. SEBUAH KEBAHAGIAAN BUAT GUE JIKA HASIL KARYA GUE MENDAPATKAN APRESIASI YANG LUAR BIASA SEPERTI INI DARI GANSIS SEMUANYA.
AKAN ADA SEDIKIT PERUBAHAN GAYA BAHASA YA GANSIS, DARI YANG AWALNYA MEMAKAI ANE DI TRIT PERTAMA, SEKARANG AKAN MEMAKAI GUE, KARENA KEBETULAN GUE NYAMANNYA BEGITU TERNYATA. MOHON MAAF KALAU ADA YANG KURANG NYAMAN DENGAN BAHASA SEPERTI ITU YA GANSIS
SO DITUNGGU YA UPDATENYA GANSIS, SEMOGA PADA TETAP SUKA YA DI TRIT LANJUTAN INI. TERIMA KASIH BANYAK
Spoiler for INDEX SEASON 2:
Spoiler for Anata:
Spoiler for MULUSTRASI SEASON 2:
Spoiler for Peraturan:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Diubah oleh yanagi92055 08-09-2020 10:31
ezzasuke dan 79 lainnya memberi reputasi
78
293.9K
4.2K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
yanagi92055
#2242
Berkah Manggung
Panggungan gue diakhir tahun di kota tempat gue, Zalina, Keket, Sofi, Harmi, Anin, Dee, Anis, Mirna, Dwina dan Rinda menuntut ilmu akhirnya datang juga. Ara memutuskan untuk benar-benar lepas dari band ini. Dia menetap di Jogja saat itu dan mau mencari kerja disana. Ara sudah wisuda seminggu sebelum acara ini. Jadilah kami jalan tanpa Ara. Yang kebanyakan ngurus selama disana adalah gue, ditemani oleh Dwina.
Oh iya, sekilas tentang Dwina ya. Anak ini tingginya sama persis kayak gue, jadi lebih tinggi dari Keket dikit. Beberapa kali gue ngerasa kayak minder gitu kalau jalan disebelah dia. Dianya sih pede-pede aja. Susah deh ini anak dapet pacar, karena dilingkungan kampus gue kan cowoknya pada pendek-pendek. Mungkin keberatan otak jadi ambles ya pertumbuhannya. Haha. Dia memakai kerudung yang cukup lebar kala itu, sehingga ketika gue jalan sama dia udah kayak orang soleh beneran gue. Yang kalau kata anak-anak dikampus gue itu, cintaku tertambat dimasjid. Nah itu lah. Haha. Padahal mah kelakuan si Dwina ini gokil-gokil juga, Cuma pakaiannya aja yang begitu. Kulitnya standar putihnya kayak Dee, hidungnya nggak mancung, tapi nggak pesek juga, sedang lah.
Dwina ini asli dari Jawa Timur. Salah satu kota disana, Kota J. dirumahnya dia cukup religius, pun dikampus. Apalagi dilingkungan kampus gue kan banyak anak-anak religius yang keterima disana, jadi aura positif itu terbawa dikehidupan Dwina sehari-hari.
“Aku sebenernya nggak terlalu suka yang ketat gitu kak aturannya.”
“Oh iya? Lo kan dulu sempet jadi santri bukan?”
“Iya justru itu. Sekarang aku mau coba hidup lebih bebas gitu, melihat dunia dari kacamata yang lebih besar, bukan kacamata kuda kayak yang
ditanamkan mindsetnya oleh orangtuaku. Banyak larangan tapi nggak dikasih alasan kenapa dilarang.”
“Iya sih, makanya ada beberapa yang akhirnya telat ya bandelnya. Hahaha.”
“Iya itu kamu tau kak. Hehehe.”
“Kalo gue mah yang normal-normal aja, nggak usah overdosis, nanti takutnya malah mabuk. Jadinya malah merugikan banyak orang lain. Kita ini kan bangsa yang majemuk, jadi nggak boleh egois, bener nggak?”
“Haha setuju banget sama pemikiran kamu kak.”
Sepotong percakapan gue dengannya pada saat kami lagi jalan-jalan ke kota. Kemana Dee? Dia lagi sibuk aja mempersiapkan tes-tes selanjutnya untuk persaingan dunia kerja, biar katanya nggak kecewa lagi. Gue pun hanya janjian dikota nggak harus gue datang ke kampus. Dwina pun menyanggupinya, jadi kami janjian dikota.
Dwina yang seangkatan dengan Dee belum lulus, tapi sudah dalam tahap akhir penyusunan skripsinya. Ada beberapa kali gue membantunya, karena kebetulan ada irisan antara skripsi gue dan skripsinya. Jadi gue masih ada ngertinya juga. Pak Ferdinan juga merupakan dosen tamu mata kuliahnya, walaupun kami berbeda fakultas, gue di fakultas C, sedangkan Dwina di fakultas E.
Dwina juga yang menemani gue untuk mengurus persiapan manggung di Radio Kota ini. Dwina menemani gue untuk technical meeting dengan pihak penyelenggara acara. Disana pun datang pengisi acara lainnya, dari unsur band, dance cover, cosplay dan juga yang nanti akan buka stand dagangan, baik itu makanan maupun suvenir atau mainan. Kebetulan banget ketua penyelenggaranya itu adalah Refan.
Refan udah gue kenal baik dari jaman dulu banget, karena sering sepanggung bareng, gue manggung dia adalah MC nya. Haha. Refan juga punya band dan dia bermain sebagai gitaris di bandnya. Band dia udah cukup punya nama di komunitas jepangan di kota ini.
Sementara band gue karena namanya baru pada nggak ngeh, tapi begitu melihat personilnya barulah pada ngeh. Perubahan tampilan di band gue yang jadi lebih simpel (minim dandan) kalau manggung juga cukup membuat pangling sebenarnya.
Technical meeting dilaksanakan di kantor Radio Kota yang mana juga akan menjadi lokasi tempat manggungnya, yang juga tempat Refan bekerja sebagai penyiar. Konten salah satu Radio ini adalah memutar lagu-lagu jepang populer dan nggak populer pada jumat malam sehabis isya. Tentunya dipandu oleh si Refan ini.
“Kok anak-anaknya kelakuannya pada aneh gini ya? Ini anak bandnya?”
“Bukaan. Haha. Itu yang suka pada cosplay, biasanya pecinta kartun jepang atau anime, dan suka baca komik juga. Ya emang nggak semua yang begitu hobinya pasti jadi aneh gitu kelakuannya sih, Cuma kenapa anak-anak ini kelakuannya aneh, ya mungkin karena mereka terlalu
banyak berkhayal tentang karakter-karakter yang ada dikomik itu.”
“Hooo ngono yo. Aneh bener deh itu haha. Tapi lucu kalo kelamaan diliatin ya.”
“Begitulah, biarin aja mereka berimajinasi. Mereka punya keasikannya sendiri dalam menikmati hobi. Hehe.”
“Kamu berarti dari dulu kenyang dong ngeliat orang-orang kayak gini?”
“Ya kenyang Win. Haha.”
“Tapi nggak ketularan ya kamu kak? Haha.”
“Nggak sih alhamdulillah, gue tetep normal. Haha. Dulu aja rambut gue gondromg-gondrong gitu. Terus di bikin-bikin harajuku gitu lah. Haha.”
“Oh iya? Kamu pernah gondrong kak? Ada fotonya nggak?”
“Goleki wae neng Facebook ku Win. Haha.”
“Haha, yowes ngko tak goleki. Pasti lucu deh. Hehe.”
“Sekarang juga lucu kali Win.”
“Sekarang lebih bersih pastinya. Kan udah kerja. Udah bisa beli sabun cuci muka sendiri kan? Hahaha.”
“Haha buset, kalo itu gue juga pake dari dulu kali. Gue nggak kluwus-kluwus gitu juga waktu kuliah kali Win.”
Selesai dari technical meeting, gue berkenalan dengan beberapa teman baru yang juga ikutan manggung di acara ini nanti. Anak-anak band dan juga ada dance cover. Tapi ternyata entah karena dunia sempit atau bagaimana, salah satu member dance cover yang datang belakangan adalah orang yang gue kenal.
Dinar. Gue udah lama banget ga liat dia. Makin bongsor aja dia. Untuk ukuran anak SMA dia termasuk tinggi. Hampir setinggi gue. Maklum lah juga ya, dia sama kayak Keket, turunan bule. Bapaknya yang bule. Bule kroasia atau serbia gue nggak terlalu paham.
“Yaaah, Ija. Ketemu lagi kita. Hahaha.”
“Haha Dinar. Gile ye dunia sempit banget. Apa kabar lo?”
“kayaknya kota ini deh yang komunitasnya sempit. Hahaha. Kabar baik Ja. Ini siapa?” kata Dinar menunjuk Dwina.
“Ini temen gue Din, kenalin ini Dwina.” Kata gue memperkenalkan Dwina ke Dinar.
Lalu mereka saling berjabat tangan dan mengobrol singkat, karena gue tau si Dinar nggak nyaman dengan cara berpakaian Dwina yang tertutup sementara dia terbuka banget, pakai celana hotpants serta kaos yang ngetat banget dibadan. Haha.
“Lo masih lama Ja disini?”
“Gue baru mau balik nih. Lo mau kemana abis ini emang?”
“Gue baru mau ajak lo nongkrong. Didepan sana aja.” Katanya menunjuk sebuah restoran.
“Haha lain kali aja kali ya Din. Kasian ini anak dicariin emaknya.” Kata gue becanda menunjuk ke Dwina.
“Hahaha masa udah gede dicariin emaknya aja?” kata Dinar.
“Haha dia ini emang suka ada-ada aja lah ngomongnya Din.” Kata Dwina sambil mencbit pinggang gue.
“Aaw sakit juga ya lo nyubitnya.”
“Haha so sweet amat kalian. Jadi pingin juga gue Ja. Haha.”
“Haha sana sama cowok lo dong Din.” Kata gue.
“Gue masih single kok Ja. Haha. Yaudah gue cabut dulu ya. Anak-anak yang lain udah nunggu disana. Sampe ketemu hari minggu ya. Eh iya, request dong Ja.”
“Yakin single lo? Haha. Eh mau request apaan Din?”
“Single dan Happy kok. hehe. Itu kalo bisa, boleh ga bawain the GazettE?”
“Haha tau-tauan lo GazettE. Belum tau sih Din, tapi coba gue tanya sama yang lain, soalnya waktu latian kita sempit banget kan.”
“Iya gue sering main kerumah temen gue, surga banget dia tuh. Band-band visual kei lengkap banget dia. Seneng deh gue.”
“Seriusan lengkap? Wah boleh tuh. Haha. Kenalin dong.”
“Haha ntar deh. Gue males sama cowoknya soalnya.”
“Kenapa cowoknya emang?”
“Dia suka sama gue dan ngejar-ngejar gue gitu Ja. Lah gue kan nggak enak sama temen gue itu. Dan gue juga nggak suka sama cowoknya. Freak. Haha.”
“Haha ribet ye. Yaudah deh nanti-nanti aja. Ntar gue kenalan sama ceweknya, cowoknya malah nonjok gue lagi hahaha.”
“Nah justru itu. Kalo mau lo add aja facebooknya dia.”
“Apaan namanya?”
“Erika Shinobu apa ya. Tau agak panjang gitu deh.”
“Alaaah pasti alay ini. Haha. Udah deh males gue. Yaudah gue minta dari lo aja ya nanti.”
“Gampang Ja. Ntar atur aja ketemuannya ya. Rumah orangtua gue kan disini, tapi gue suka bolak balik Jakarta kok.”
“Sampe kemanapun juga gue kejar kok demi materi band vkei terbaru. Hahaha.”
“Bukan demi gue Ja? Hahaha.”
“Sekalian deh Din. Haha.”
“Haha yaudah gue cabut dulu ya.”
“Kayaknya dia suka sama kamu deh kak.” Kata Dwina.
“Haha dia temen gue udah lama kenal. Emang anaknya suka becandaan gitu.”
“Emang iya ya? Aku rasa nggak deh.”
“Sok tau lo Win. Haha. Yuk kita pulang.”
--
Semakin siang semakin ramai pengunjung. Dan ternyata apa yang terjadi di panggungan gue sebelumnya terjadi lagi disini. Gue melihat fenomena para pengunjung yang lebih berminat untuk melihat cosplay apalagi yang kostumnya agak kebuka gitu, plus dandannya jadi loli-loli gitu kan, dan tentu aja dance cover. Itulah sebabnya band porsinya hanya sedikit di acara itu.
Kebanyakan penikmat band memakai baju gelap atau hitam. Mungkin karena tau band gue yang mau manggung kali ya. Eh ternyata band lain juga ada yang manggung bawain lagu-lagunya Mucc, itu band rock jepang juga, selain itu ada juga band utama di acara itu yang biasa bawain lagu-lagunya Tokyo Jihen.
“Dee kamu lapar nggak?” tanya gue.
“Aku mau takoyaki disitu yank. Kayaknya enak. Hehe.” Katanya.
“Yaudah ambil aja uangnya didompet aku ya. Ntar kamu jajan aja, aku ke backstage dulu ya.”
“Oke yank.”
Dee gue ajak dan dia tetep nggak bisa mingle atau berbaur dengan teman-teman band gue. Entah kenapa. Gue udah ajak, tapi tetep aja nggak mau dianya. Mungkin dianya nggak pede kali ya. Haha. Bodo amat lah.
Didepan pintu backstage ternyata ada Dinar nyariin gue.
“Ja, ada Dinar nih.” Ujar Drian.
“Hai Din. Lo udah manggung?” kata gue.
“Belom sih Ja. Gue sekitar jam 3 sore. Lo jam berapa?”
“Setengah empatan kayaknya sih.”
“Wah nggak beda jauh dong? Haha.”
“Haha iya.”
“Gue nggak diajak ngomong nih Din? Hehehe.” Kata Drian.
“Haha eh iya ada Drian juga ya.”
Lalu Drian dan Dinar melanjutkan obrolannya. Sementara gue keluar lagi mencari dimana Dee. Setelah agak lama gue cari, ternyata dia sedang adu mulut (lagi) dengan Keket. kali ini gue nggak akan melerai mereka. Biarin aja gue pingin tau juga bagaimana Dee memperjuangkan gue. Karena menurut gue selama ini agak nggak imbang hubungan gue dengan Dee. Selalu aja gue yang mengalah. Gue yang selalu harus mengikuti kemauannya. Bahkan kadang memaksa walaupun dalam keadaan yang nggak mungkin sekalipun.
Ya selama ini dari mulai Zalina sampai Dee, gue nggak pernah bisa menjadi diri gue sendiri. Gue hampir nggak pernah leluasa ngomong sesuai dengan apa yang mau gue omongin. Kayak ngomong kasar spontan itu, gue nggak bisa. Emosi yang tertahan itu selalu menjadi makanan sehari-hari buat gue, dan menurut gue emang kadang bagus, tapi nggak baik juga kan kalau misalnya ditahan-tahan kayak gitu.
Nyimpen bokep aja mesti ngumpet-ngumpet juga kan. Haha. Dan paling malesnya itu, diskusi masalah hal-hal terutama politik atau ekonomi mereka nggak terlalu nyambung. Apalagi hobi. Ini adalah perbedaan terbesar yang bikin gue nggak bisa bebas berekspresi. Semua nggak ada yang senang lagu metal, atau bahkan lagu jepang. Tapi yaudahlah, mungkin kalau pacaran sama orang cantik mesti kayak gini kali. Hehe. Jalanin aja dulu.
Waktu gue manggung pun tiba dan nggak lupa kami berdoa terlebih dahulu. Dee udah selesai konfrontasi dengan Keket yang mungkin pulang atau melihat dari kejauhan dan gue bodo amat sebenarnya. Dee mendokumentasikan kegiatan kami dari mulai backstage sampai akhirnya kami turun panggung lagi. Kami sukses membawakan 5 lagu, empat lagu cover dan satu lagu sendiri. Band gue nggak bisa realisasiin permintaan Dinar, karena emang waktunya nggak cukup buat latihan lagi. Selesai turun panggung, Dinar yang udah nunggu disamping panggung pun tersenyum cerah kepada gue, bukan Drian. Tapi gue tau Drian ini suka sama Dinar.
“Ja, nanti gue numpang di backstage lo ya, kan steril tuh dari pengunjung.”
“Oke aja sih Din. Tapi kenapa emang?”
“Yang gue ceritain kemarin Ja. Cowoknya temen gue, namanya Fandi, dia ada disini. Tadi juga ikutan headbang kok pas lo manggung. Kayaknya dia seneng sama band coveran lo tuh. Dia juga diawal dateng tadi sempet nyapa gue, padahal segitunya dia dateng bareng ceweknya Ja. gue males banget ngeladenin dia, sok iye banget gayanya. Hahaha.”
“Haha, sok iye tapi lo merhatiin amat sampe tau dia ikutan headbang juga. Hahahhaa. Hati-hati tikungan tajam ini mah.”
“Nggak lah Ja, temen gue si Erika itu anaknya baik banget. Gue aja kalau dirumah dia suka nginep juga tau Ja. pokoknya sebagai penggemar visual kei lo bakalan ngerasa nemu surga deh. Apalagi the GazettE tuh. Haha.”
“Lakiknya sok ganteng kali yak. Hahaha.”
“Iya emang, sok kegantengan. Dulu Erika pernah cerita ke gue, dia mau jadi vokalis band. Udah punya band tapi latian doang, manggungnya nggak. Hahaha. Kasian banget ya.”
“Belum beruntung aja kali itu mah. Naaah, kan, lo aja sampe inget tuh dia punya band, nggak pernah manggung. Hmmm…….”
“Apaan sih Ja. hahaha. Nggak akan Ja. kalaupun iya mending gue sama lo aja atau sama Drian daripada sama si Fandi itu.”
“Hahaha. Banyak alasan aja lo Din. Yaudah sama Drian aja sana. Gue kan udah punya cewek Din.”
“Tapi nggak ada yang larang juga kalo udah punya cewek terus bertemen sama cewek lain kan?”
“Ya nggak ada juga sih. Hahaha.”
Obrolan kami kemudian berlanjut dengan bergabungnya Drian. Lalu gue mundur perlahan dan Drian sekarang giliran Drian dapat kesempatan banyak buat ngobrol sama Dinar.
Drian itu mencari orang yang tipenya itu kayak Dinar, yang tinggi semampai, non hijab, mukanya cantik pastinya, dan maunya pintar. Sebenarnya untuk selera cewek, gue dan Drian memiliki banyak kemiripan. Bedanya gue fleksibel, sedangkan Drian selalu maunya standar tinggi. Nggak ngaca dia udah bisa apa aja, atau punya modal seberapa kuat untuk mendapatkan cewek impiannya. Haha.
Modal ini bukanlah uang, karena Drian itu adalah anak terlanjur kaya tapi sederhana banget, humble. Modal disini lebih ke sifat, pembawaan, sikap terhadap cewek, wawasan, dan mungkin sisi humor. Sebesar apa dia memiliki hal-hal tersebut yang membuat cewek bisa tertarik dan stay disampingnya.
Tampang? Beuh, Drian adalah jualan utama di Band ini seperti yang udah diceritakan dulu. Tajir? Pasti. Pinter? Yah, jangan ditanyain lagi. Haha. Tapi yaitu, dia adalah sosok yang diem-diem bae. Mungkin karena trauma perceraian orang tuanya ketika dia kecil membuatnya menjadi anak yang seperti itu. Walaupun kalau udah dekat mah sama aja sama gue sebenarnya kelakuannya, bocor juga. Dia punya mantan juga yang cakep-cakep. Tapi karena dia saat ini pingin banget sama Dinar, ya gue mempersilakan. Toh gue udah ada cewek juga. Hubungan dia dengan Ifa LO kami waktu manggung di Jogja juga udah kandas.
“Lo kasih peluang Drian lah Ja.” kata Arko.
“Lah gue mah santai. Hahaha.” Kata gue.
“Iya, tapi kayaknya si Dinar lebih memilih suka sama lo.”
“Yah kalo itu sih tergantung hoki Ko.”
“Iya emang, tapi lo nya juga jangan ngasih peluang buat si Dinar dong.”
“Kan gue Cuma ngobrol-ngobrol biasa Ko.”
“Eh bangs*t, lo tu ngobrol-ngobrol biasa aja bisa bikin cewek langsung suka. Kan lo pelajarin ilmunya dari gue, Cuma nilai plusnya, tampang lo lebih oke dari gue, jadinya lebih mempermudah pekerjaan.”
“Yaelah gue kagak jualan tampang juga kali Ko. Drian jauh jauh lebih oke dari gue secara fisik dan isi dompet Ko. Harusnya dia yang lebih bisa buat dapetin siapa aja dong?”
“Iya, tapi kenapa cewek maunya pada ke lo? ya karena cara ngomong lo dan cara lo memperlakukan cewek Ja.”
“Haha, mungkin karena gue emang gini kali yak.”
“Kurangin. Elah gobl*k bener. Hahaha.”
“Iya iya, tapi kalo ntar gue kurangin, misalnya si Dinar tetep lari ke gue gimana?”
“Ya itu si Driannya gobl*k berarti. Bahasan obrolannya basi. Hahaha.”
“Nah kan. Itu mugkin yang bedain gue sama cowok lain, terlepas dari keadaan luar gue Ko.”
“Haha ya emang iya dodol.”
Setelah dari panggungan itu, gue jadi lebih dekat dengan Dinar. Dinar sering memulai percakapan dengan memulai chat. Ya gue sih santai aja, toh juga obrolannya nggak pernah menjurus kearah-arah yang kepingin dipacarin atau apa. Toh si Dinar juga tau gue udah punya cewek. Dia sempat gue kenalin sama Dee waktu dipanggungan kemarin itu.
Hubungan gue dengan Mirna dan Dwina pun berjalan lancar, Anin juga lancar, Anis apalagi, Feni, Nurul dan Ara aja yang agak berkurang. Kalau Ara karena dia udah ada cowok. Jadi gue sampai diakhir taun itu meladeni chat dari lima orang cewek selain Dee, dan aktif. Yang tiga orang sesekali aja. No problemo juga sebenarnya, yang penting bisa diatur dan nggak salah kirim. Hehe. toh dari kesemuanya, yang utama dan prioritas gue selalu Dee dan Cuma Dee seorang.
Oh iya, sekilas tentang Dwina ya. Anak ini tingginya sama persis kayak gue, jadi lebih tinggi dari Keket dikit. Beberapa kali gue ngerasa kayak minder gitu kalau jalan disebelah dia. Dianya sih pede-pede aja. Susah deh ini anak dapet pacar, karena dilingkungan kampus gue kan cowoknya pada pendek-pendek. Mungkin keberatan otak jadi ambles ya pertumbuhannya. Haha. Dia memakai kerudung yang cukup lebar kala itu, sehingga ketika gue jalan sama dia udah kayak orang soleh beneran gue. Yang kalau kata anak-anak dikampus gue itu, cintaku tertambat dimasjid. Nah itu lah. Haha. Padahal mah kelakuan si Dwina ini gokil-gokil juga, Cuma pakaiannya aja yang begitu. Kulitnya standar putihnya kayak Dee, hidungnya nggak mancung, tapi nggak pesek juga, sedang lah.
Dwina ini asli dari Jawa Timur. Salah satu kota disana, Kota J. dirumahnya dia cukup religius, pun dikampus. Apalagi dilingkungan kampus gue kan banyak anak-anak religius yang keterima disana, jadi aura positif itu terbawa dikehidupan Dwina sehari-hari.
“Aku sebenernya nggak terlalu suka yang ketat gitu kak aturannya.”
“Oh iya? Lo kan dulu sempet jadi santri bukan?”
“Iya justru itu. Sekarang aku mau coba hidup lebih bebas gitu, melihat dunia dari kacamata yang lebih besar, bukan kacamata kuda kayak yang
ditanamkan mindsetnya oleh orangtuaku. Banyak larangan tapi nggak dikasih alasan kenapa dilarang.”
“Iya sih, makanya ada beberapa yang akhirnya telat ya bandelnya. Hahaha.”
“Iya itu kamu tau kak. Hehehe.”
“Kalo gue mah yang normal-normal aja, nggak usah overdosis, nanti takutnya malah mabuk. Jadinya malah merugikan banyak orang lain. Kita ini kan bangsa yang majemuk, jadi nggak boleh egois, bener nggak?”
“Haha setuju banget sama pemikiran kamu kak.”
Sepotong percakapan gue dengannya pada saat kami lagi jalan-jalan ke kota. Kemana Dee? Dia lagi sibuk aja mempersiapkan tes-tes selanjutnya untuk persaingan dunia kerja, biar katanya nggak kecewa lagi. Gue pun hanya janjian dikota nggak harus gue datang ke kampus. Dwina pun menyanggupinya, jadi kami janjian dikota.
Dwina yang seangkatan dengan Dee belum lulus, tapi sudah dalam tahap akhir penyusunan skripsinya. Ada beberapa kali gue membantunya, karena kebetulan ada irisan antara skripsi gue dan skripsinya. Jadi gue masih ada ngertinya juga. Pak Ferdinan juga merupakan dosen tamu mata kuliahnya, walaupun kami berbeda fakultas, gue di fakultas C, sedangkan Dwina di fakultas E.
Dwina juga yang menemani gue untuk mengurus persiapan manggung di Radio Kota ini. Dwina menemani gue untuk technical meeting dengan pihak penyelenggara acara. Disana pun datang pengisi acara lainnya, dari unsur band, dance cover, cosplay dan juga yang nanti akan buka stand dagangan, baik itu makanan maupun suvenir atau mainan. Kebetulan banget ketua penyelenggaranya itu adalah Refan.
Refan udah gue kenal baik dari jaman dulu banget, karena sering sepanggung bareng, gue manggung dia adalah MC nya. Haha. Refan juga punya band dan dia bermain sebagai gitaris di bandnya. Band dia udah cukup punya nama di komunitas jepangan di kota ini.
Sementara band gue karena namanya baru pada nggak ngeh, tapi begitu melihat personilnya barulah pada ngeh. Perubahan tampilan di band gue yang jadi lebih simpel (minim dandan) kalau manggung juga cukup membuat pangling sebenarnya.
Technical meeting dilaksanakan di kantor Radio Kota yang mana juga akan menjadi lokasi tempat manggungnya, yang juga tempat Refan bekerja sebagai penyiar. Konten salah satu Radio ini adalah memutar lagu-lagu jepang populer dan nggak populer pada jumat malam sehabis isya. Tentunya dipandu oleh si Refan ini.
“Kok anak-anaknya kelakuannya pada aneh gini ya? Ini anak bandnya?”
“Bukaan. Haha. Itu yang suka pada cosplay, biasanya pecinta kartun jepang atau anime, dan suka baca komik juga. Ya emang nggak semua yang begitu hobinya pasti jadi aneh gitu kelakuannya sih, Cuma kenapa anak-anak ini kelakuannya aneh, ya mungkin karena mereka terlalu
banyak berkhayal tentang karakter-karakter yang ada dikomik itu.”
“Hooo ngono yo. Aneh bener deh itu haha. Tapi lucu kalo kelamaan diliatin ya.”
“Begitulah, biarin aja mereka berimajinasi. Mereka punya keasikannya sendiri dalam menikmati hobi. Hehe.”
“Kamu berarti dari dulu kenyang dong ngeliat orang-orang kayak gini?”
“Ya kenyang Win. Haha.”
“Tapi nggak ketularan ya kamu kak? Haha.”
“Nggak sih alhamdulillah, gue tetep normal. Haha. Dulu aja rambut gue gondromg-gondrong gitu. Terus di bikin-bikin harajuku gitu lah. Haha.”
“Oh iya? Kamu pernah gondrong kak? Ada fotonya nggak?”
“Goleki wae neng Facebook ku Win. Haha.”
“Haha, yowes ngko tak goleki. Pasti lucu deh. Hehe.”
“Sekarang juga lucu kali Win.”
“Sekarang lebih bersih pastinya. Kan udah kerja. Udah bisa beli sabun cuci muka sendiri kan? Hahaha.”
“Haha buset, kalo itu gue juga pake dari dulu kali. Gue nggak kluwus-kluwus gitu juga waktu kuliah kali Win.”
Selesai dari technical meeting, gue berkenalan dengan beberapa teman baru yang juga ikutan manggung di acara ini nanti. Anak-anak band dan juga ada dance cover. Tapi ternyata entah karena dunia sempit atau bagaimana, salah satu member dance cover yang datang belakangan adalah orang yang gue kenal.
Dinar. Gue udah lama banget ga liat dia. Makin bongsor aja dia. Untuk ukuran anak SMA dia termasuk tinggi. Hampir setinggi gue. Maklum lah juga ya, dia sama kayak Keket, turunan bule. Bapaknya yang bule. Bule kroasia atau serbia gue nggak terlalu paham.
“Yaaah, Ija. Ketemu lagi kita. Hahaha.”
“Haha Dinar. Gile ye dunia sempit banget. Apa kabar lo?”
“kayaknya kota ini deh yang komunitasnya sempit. Hahaha. Kabar baik Ja. Ini siapa?” kata Dinar menunjuk Dwina.
“Ini temen gue Din, kenalin ini Dwina.” Kata gue memperkenalkan Dwina ke Dinar.
Lalu mereka saling berjabat tangan dan mengobrol singkat, karena gue tau si Dinar nggak nyaman dengan cara berpakaian Dwina yang tertutup sementara dia terbuka banget, pakai celana hotpants serta kaos yang ngetat banget dibadan. Haha.
“Lo masih lama Ja disini?”
“Gue baru mau balik nih. Lo mau kemana abis ini emang?”
“Gue baru mau ajak lo nongkrong. Didepan sana aja.” Katanya menunjuk sebuah restoran.
“Haha lain kali aja kali ya Din. Kasian ini anak dicariin emaknya.” Kata gue becanda menunjuk ke Dwina.
“Hahaha masa udah gede dicariin emaknya aja?” kata Dinar.
“Haha dia ini emang suka ada-ada aja lah ngomongnya Din.” Kata Dwina sambil mencbit pinggang gue.
“Aaw sakit juga ya lo nyubitnya.”
“Haha so sweet amat kalian. Jadi pingin juga gue Ja. Haha.”
“Haha sana sama cowok lo dong Din.” Kata gue.
“Gue masih single kok Ja. Haha. Yaudah gue cabut dulu ya. Anak-anak yang lain udah nunggu disana. Sampe ketemu hari minggu ya. Eh iya, request dong Ja.”
“Yakin single lo? Haha. Eh mau request apaan Din?”
“Single dan Happy kok. hehe. Itu kalo bisa, boleh ga bawain the GazettE?”
“Haha tau-tauan lo GazettE. Belum tau sih Din, tapi coba gue tanya sama yang lain, soalnya waktu latian kita sempit banget kan.”
“Iya gue sering main kerumah temen gue, surga banget dia tuh. Band-band visual kei lengkap banget dia. Seneng deh gue.”
“Seriusan lengkap? Wah boleh tuh. Haha. Kenalin dong.”
“Haha ntar deh. Gue males sama cowoknya soalnya.”
“Kenapa cowoknya emang?”
“Dia suka sama gue dan ngejar-ngejar gue gitu Ja. Lah gue kan nggak enak sama temen gue itu. Dan gue juga nggak suka sama cowoknya. Freak. Haha.”
“Haha ribet ye. Yaudah deh nanti-nanti aja. Ntar gue kenalan sama ceweknya, cowoknya malah nonjok gue lagi hahaha.”
“Nah justru itu. Kalo mau lo add aja facebooknya dia.”
“Apaan namanya?”
“Erika Shinobu apa ya. Tau agak panjang gitu deh.”
“Alaaah pasti alay ini. Haha. Udah deh males gue. Yaudah gue minta dari lo aja ya nanti.”
“Gampang Ja. Ntar atur aja ketemuannya ya. Rumah orangtua gue kan disini, tapi gue suka bolak balik Jakarta kok.”
“Sampe kemanapun juga gue kejar kok demi materi band vkei terbaru. Hahaha.”
“Bukan demi gue Ja? Hahaha.”
“Sekalian deh Din. Haha.”
“Haha yaudah gue cabut dulu ya.”
“Kayaknya dia suka sama kamu deh kak.” Kata Dwina.
“Haha dia temen gue udah lama kenal. Emang anaknya suka becandaan gitu.”
“Emang iya ya? Aku rasa nggak deh.”
“Sok tau lo Win. Haha. Yuk kita pulang.”
--
Semakin siang semakin ramai pengunjung. Dan ternyata apa yang terjadi di panggungan gue sebelumnya terjadi lagi disini. Gue melihat fenomena para pengunjung yang lebih berminat untuk melihat cosplay apalagi yang kostumnya agak kebuka gitu, plus dandannya jadi loli-loli gitu kan, dan tentu aja dance cover. Itulah sebabnya band porsinya hanya sedikit di acara itu.
Kebanyakan penikmat band memakai baju gelap atau hitam. Mungkin karena tau band gue yang mau manggung kali ya. Eh ternyata band lain juga ada yang manggung bawain lagu-lagunya Mucc, itu band rock jepang juga, selain itu ada juga band utama di acara itu yang biasa bawain lagu-lagunya Tokyo Jihen.
“Dee kamu lapar nggak?” tanya gue.
“Aku mau takoyaki disitu yank. Kayaknya enak. Hehe.” Katanya.
“Yaudah ambil aja uangnya didompet aku ya. Ntar kamu jajan aja, aku ke backstage dulu ya.”
“Oke yank.”
Dee gue ajak dan dia tetep nggak bisa mingle atau berbaur dengan teman-teman band gue. Entah kenapa. Gue udah ajak, tapi tetep aja nggak mau dianya. Mungkin dianya nggak pede kali ya. Haha. Bodo amat lah.
Didepan pintu backstage ternyata ada Dinar nyariin gue.
“Ja, ada Dinar nih.” Ujar Drian.
“Hai Din. Lo udah manggung?” kata gue.
“Belom sih Ja. Gue sekitar jam 3 sore. Lo jam berapa?”
“Setengah empatan kayaknya sih.”
“Wah nggak beda jauh dong? Haha.”
“Haha iya.”
“Gue nggak diajak ngomong nih Din? Hehehe.” Kata Drian.
“Haha eh iya ada Drian juga ya.”
Lalu Drian dan Dinar melanjutkan obrolannya. Sementara gue keluar lagi mencari dimana Dee. Setelah agak lama gue cari, ternyata dia sedang adu mulut (lagi) dengan Keket. kali ini gue nggak akan melerai mereka. Biarin aja gue pingin tau juga bagaimana Dee memperjuangkan gue. Karena menurut gue selama ini agak nggak imbang hubungan gue dengan Dee. Selalu aja gue yang mengalah. Gue yang selalu harus mengikuti kemauannya. Bahkan kadang memaksa walaupun dalam keadaan yang nggak mungkin sekalipun.
Ya selama ini dari mulai Zalina sampai Dee, gue nggak pernah bisa menjadi diri gue sendiri. Gue hampir nggak pernah leluasa ngomong sesuai dengan apa yang mau gue omongin. Kayak ngomong kasar spontan itu, gue nggak bisa. Emosi yang tertahan itu selalu menjadi makanan sehari-hari buat gue, dan menurut gue emang kadang bagus, tapi nggak baik juga kan kalau misalnya ditahan-tahan kayak gitu.
Nyimpen bokep aja mesti ngumpet-ngumpet juga kan. Haha. Dan paling malesnya itu, diskusi masalah hal-hal terutama politik atau ekonomi mereka nggak terlalu nyambung. Apalagi hobi. Ini adalah perbedaan terbesar yang bikin gue nggak bisa bebas berekspresi. Semua nggak ada yang senang lagu metal, atau bahkan lagu jepang. Tapi yaudahlah, mungkin kalau pacaran sama orang cantik mesti kayak gini kali. Hehe. Jalanin aja dulu.
Waktu gue manggung pun tiba dan nggak lupa kami berdoa terlebih dahulu. Dee udah selesai konfrontasi dengan Keket yang mungkin pulang atau melihat dari kejauhan dan gue bodo amat sebenarnya. Dee mendokumentasikan kegiatan kami dari mulai backstage sampai akhirnya kami turun panggung lagi. Kami sukses membawakan 5 lagu, empat lagu cover dan satu lagu sendiri. Band gue nggak bisa realisasiin permintaan Dinar, karena emang waktunya nggak cukup buat latihan lagi. Selesai turun panggung, Dinar yang udah nunggu disamping panggung pun tersenyum cerah kepada gue, bukan Drian. Tapi gue tau Drian ini suka sama Dinar.
“Ja, nanti gue numpang di backstage lo ya, kan steril tuh dari pengunjung.”
“Oke aja sih Din. Tapi kenapa emang?”
“Yang gue ceritain kemarin Ja. Cowoknya temen gue, namanya Fandi, dia ada disini. Tadi juga ikutan headbang kok pas lo manggung. Kayaknya dia seneng sama band coveran lo tuh. Dia juga diawal dateng tadi sempet nyapa gue, padahal segitunya dia dateng bareng ceweknya Ja. gue males banget ngeladenin dia, sok iye banget gayanya. Hahaha.”
“Haha, sok iye tapi lo merhatiin amat sampe tau dia ikutan headbang juga. Hahahhaa. Hati-hati tikungan tajam ini mah.”
“Nggak lah Ja, temen gue si Erika itu anaknya baik banget. Gue aja kalau dirumah dia suka nginep juga tau Ja. pokoknya sebagai penggemar visual kei lo bakalan ngerasa nemu surga deh. Apalagi the GazettE tuh. Haha.”
“Lakiknya sok ganteng kali yak. Hahaha.”
“Iya emang, sok kegantengan. Dulu Erika pernah cerita ke gue, dia mau jadi vokalis band. Udah punya band tapi latian doang, manggungnya nggak. Hahaha. Kasian banget ya.”
“Belum beruntung aja kali itu mah. Naaah, kan, lo aja sampe inget tuh dia punya band, nggak pernah manggung. Hmmm…….”
“Apaan sih Ja. hahaha. Nggak akan Ja. kalaupun iya mending gue sama lo aja atau sama Drian daripada sama si Fandi itu.”
“Hahaha. Banyak alasan aja lo Din. Yaudah sama Drian aja sana. Gue kan udah punya cewek Din.”
“Tapi nggak ada yang larang juga kalo udah punya cewek terus bertemen sama cewek lain kan?”
“Ya nggak ada juga sih. Hahaha.”
Obrolan kami kemudian berlanjut dengan bergabungnya Drian. Lalu gue mundur perlahan dan Drian sekarang giliran Drian dapat kesempatan banyak buat ngobrol sama Dinar.
Drian itu mencari orang yang tipenya itu kayak Dinar, yang tinggi semampai, non hijab, mukanya cantik pastinya, dan maunya pintar. Sebenarnya untuk selera cewek, gue dan Drian memiliki banyak kemiripan. Bedanya gue fleksibel, sedangkan Drian selalu maunya standar tinggi. Nggak ngaca dia udah bisa apa aja, atau punya modal seberapa kuat untuk mendapatkan cewek impiannya. Haha.
Modal ini bukanlah uang, karena Drian itu adalah anak terlanjur kaya tapi sederhana banget, humble. Modal disini lebih ke sifat, pembawaan, sikap terhadap cewek, wawasan, dan mungkin sisi humor. Sebesar apa dia memiliki hal-hal tersebut yang membuat cewek bisa tertarik dan stay disampingnya.
Tampang? Beuh, Drian adalah jualan utama di Band ini seperti yang udah diceritakan dulu. Tajir? Pasti. Pinter? Yah, jangan ditanyain lagi. Haha. Tapi yaitu, dia adalah sosok yang diem-diem bae. Mungkin karena trauma perceraian orang tuanya ketika dia kecil membuatnya menjadi anak yang seperti itu. Walaupun kalau udah dekat mah sama aja sama gue sebenarnya kelakuannya, bocor juga. Dia punya mantan juga yang cakep-cakep. Tapi karena dia saat ini pingin banget sama Dinar, ya gue mempersilakan. Toh gue udah ada cewek juga. Hubungan dia dengan Ifa LO kami waktu manggung di Jogja juga udah kandas.
“Lo kasih peluang Drian lah Ja.” kata Arko.
“Lah gue mah santai. Hahaha.” Kata gue.
“Iya, tapi kayaknya si Dinar lebih memilih suka sama lo.”
“Yah kalo itu sih tergantung hoki Ko.”
“Iya emang, tapi lo nya juga jangan ngasih peluang buat si Dinar dong.”
“Kan gue Cuma ngobrol-ngobrol biasa Ko.”
“Eh bangs*t, lo tu ngobrol-ngobrol biasa aja bisa bikin cewek langsung suka. Kan lo pelajarin ilmunya dari gue, Cuma nilai plusnya, tampang lo lebih oke dari gue, jadinya lebih mempermudah pekerjaan.”
“Yaelah gue kagak jualan tampang juga kali Ko. Drian jauh jauh lebih oke dari gue secara fisik dan isi dompet Ko. Harusnya dia yang lebih bisa buat dapetin siapa aja dong?”
“Iya, tapi kenapa cewek maunya pada ke lo? ya karena cara ngomong lo dan cara lo memperlakukan cewek Ja.”
“Haha, mungkin karena gue emang gini kali yak.”
“Kurangin. Elah gobl*k bener. Hahaha.”
“Iya iya, tapi kalo ntar gue kurangin, misalnya si Dinar tetep lari ke gue gimana?”
“Ya itu si Driannya gobl*k berarti. Bahasan obrolannya basi. Hahaha.”
“Nah kan. Itu mugkin yang bedain gue sama cowok lain, terlepas dari keadaan luar gue Ko.”
“Haha ya emang iya dodol.”
Setelah dari panggungan itu, gue jadi lebih dekat dengan Dinar. Dinar sering memulai percakapan dengan memulai chat. Ya gue sih santai aja, toh juga obrolannya nggak pernah menjurus kearah-arah yang kepingin dipacarin atau apa. Toh si Dinar juga tau gue udah punya cewek. Dia sempat gue kenalin sama Dee waktu dipanggungan kemarin itu.
Hubungan gue dengan Mirna dan Dwina pun berjalan lancar, Anin juga lancar, Anis apalagi, Feni, Nurul dan Ara aja yang agak berkurang. Kalau Ara karena dia udah ada cowok. Jadi gue sampai diakhir taun itu meladeni chat dari lima orang cewek selain Dee, dan aktif. Yang tiga orang sesekali aja. No problemo juga sebenarnya, yang penting bisa diatur dan nggak salah kirim. Hehe. toh dari kesemuanya, yang utama dan prioritas gue selalu Dee dan Cuma Dee seorang.
Diubah oleh yanagi92055 15-11-2019 01:57
itkgid dan 28 lainnya memberi reputasi
29
Tutup
![Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] - SEASON 2](https://s.kaskus.id/images/2019/10/14/10668384_20191014114347.jpg)
![Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] - SEASON 2](https://s.kaskus.id/images/2019/11/11/10668384_20191111104352.png)
Mulustrasi Dwina, 98,66% mirip, tapi Dwina tinggi kurus langsing
Mulustrasi Rinda, 85% mirip cewek ini, baik badan maupun mukanya
Mulustrasi Dinar, 99,17% mirip, tapi Dinar tinggi semampai dan matanya lebih lebar
serta apresiasi cendol

) Sungguh Tuhan sangat baik pada gue dengan mengirimkan informasi melalui orang ini.